Home » Aqidah » Studi Kritis Tentang Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Sikap Pergerakan Islam Modern Terhadapnya (6)

Studi Kritis Tentang Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Sikap Pergerakan Islam Modern Terhadapnya (6)

oleh : Prof. DR. Nashir bin Abdul Kariem al-’Aql

Meliputi:
1. Beberapa Efek Buruk Yang Timbul Akibat Kelemahan Berpegang Kepada Aqidah Salaf
2. Beberapa Renungan Dan Harapan Seputar Aqidah Dan Dakwah



1. Beberapa Efek Buruk Yang Timbul Akibat Dari Lemahnya Sebahagian Pergerakan Dakwah Di Dalam Berpegang Kepada Aqidah Salaf

Di antara buah dari keteledoran sebahagian Kelompok-kelompok Pergerakan Islam terhadap masalah Aqidah, atau menjauhnya dari Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah terperosoknya Kelompok-Kelompok Pergerakan tersebut ke dalam sejumlah pelanggaran dan berbagai kesalahan. Maksudnya adalah pelanggaran-pelanggaran dan kesalahan-kesalahan umum yang sudah menjamur di kalangan kelompok-kelompok pergerakan da’wah dan di kalangan para da’i. Secara global dan singkat penulis paparkan sebagai berikut:

  • Di antara kesalahan yang paling fatal yang terjadi pada kelompok-kelompok pergerakan dan para da’i adalah ketidakpedulian terhadap aspek tauhid, atau kurang perhatian terhadapnya, baik dalam tataran pengetahuan, keyakinan maupun dalam tataran praktis, terutama terhadap tauhid uluhiyah dan ibadah.Padahal aspek tauhid ini mempunyai bagian yang sangat urgen (penting) di dalam al-Qur’an dan Sunnah, di dalam prinsip-prinsip dasar agama dan da’wah para nabi dan ulama pembaharu (mushlihin) sehingga tauhid harus dan wajib dijadikan sebagai target utama dan tujuan yang paling besar bagi seorang da’i atau suatu gerakan da’wah manapun, apapun alasan berdirinya gerakan itu, kapan dan dimana saja. Pada pembahasan terdahulu telah penulis uraikan tentang kedudukan dakwah tauhid secara umun dan dakwah kepada tauhid ibadah dan uluhiyah secara khusus. Maka tidak syak lagi bahwasanya tauhid ibadah dan uluhiyah adalah merupakan tujuan utama dari penciptaan jin dan manusia, sebagaimana firman Allah :

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah hanya kepada-Ku”. (adz-Dzariyat: 56)

    Dan tauhid ini pula yang merupakan sasaran awal perintah dan qadha Allah Subhaanahu Wata’ala, sebagaimana difirmankan-Nya:

    وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

    “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah:5)

    وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ

    “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia..”. (al-Isra’: 23)

    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

    “Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu jualah kami memohon pertolongan”.(Al-Fatihah: 5)

    Allah Subhaanahu Wata’ala telah menjelaskan bahwasanya Dia mengutus semua para Rasul-Nya dengan misi tauhid ini, sebagaimana firman-Nya:

    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut”. (al-Nahl: 36)

    Dari masalah di atas muncul pula perkara yang lain yang sangat berbahaya dan dilupakan oleh kebanyakan gerakan dakwah saat ini, yaitu terperangkapnya kebanyakan kaum muslimin di dalam perbuatan yang bertentangan dengan tauhid atau mengurangi dan merusaknya. Di antara perbuatan dan keyakinan yang bertentangan dengan tauhid yang dilakukan oleh sebahagian orang yang mengaku sebagai penganut Islam adalah berdo’a kepada selain Allah, meminta kekuatan dan memohon keselamatan kepada selain Allah, berkurban (menyembelih, tumbal) dan bernadzar kepada selain Allah, mempercayai para dukun, perbuatan (kesyirikan) yang dilakukan di pekuburan dan terhadap para tokoh kaum sufi (yang dianggap wali. Pen) dan perbuatan-perbuatan lainnya yang tidak tersembunyi dari pengetahuan para da’i.

    Di antara hal yang bertentangan dengan tauhid dan mencemarkannya adalah membudayanya berbagai bid’ah dan khurafat, seperti peringatan maulid Nabi, mengusap-ngusap kuburan, manusia (yang dianggap wali), batu, pohon-pohon besar, bersumpah tidak dengan nama Allah, dan banyak lagi lainnya.

    Semua itu dan hal-hal lainnya yang merupakan pencemaran tauhid adalah merupakan wabah yang bersarang di dalam tubuh umat Islam yang harus diobati terlebih dahulu sebelum mengobati penyakit-penyakit yang lain, seperti penyakit moral, sosial, politik, ekonomi dan pemikiran. Sebab penyakit aqidah adalah penyakit hati, penyakit yang sangat berat dan merupakan penyakit utama yang menimbulkan berbagai penyakit lainnya, seperti penyimpangan moral dll. Dan ia adalah penyakit segala bangsa dari semenjak dahulu hingga kini.

    Penyakit yang satu ini, sekalipun sangat berbahaya dan mewabah serta sangat jelas sekali, namun tidak mendapat perhatian yang layak dari kebanyakan gerakan dakwah.

    Catatan:

    Ketika penulis berkata: “Wajib memperhatikan masalah tauhid terlebih dahulu, memerangi berbagai bid’ah dan segala bentuk perbuatan kesyirikan” itu tidak berarti para da’i melupakan aspek-aspek yang lain yang dapat merealisasikan maslahat, menutup rapat sumber keburukan, menanggulangi berbagai penyimpangan sosial, moral, pemikiran, politik dan ekonomi yang begitu berat, sulit dan rumit. Sesungguhnya yang penulis maksud adalah bahwa seorang da’i itu wajib memperhatikan segala sesuatu yang menyangkut Islam dan kaum muslimin, sekecil apapun bentuknya. Dan kalau ia mengabaikan sebagian saja, maka ia tercela sesuai dengan kelalaiannya di dalam hal apa yang ia mampu untuk melakukannya. Inilah konsekuensi amar ma’ruf dan nahi munkar dan ishlah (perbaikan) yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

    Maka perhatian seorang da’i yang reformis, apalagi gerakan-gerakan dakwah kolektif harus mempunyai karakter syumul (universal), menyeluruh di dalam melakukan ishlah, namun tetap memperhatikan prioritas, memulai dakwah sesuai dengan apa yang didahulukan oleh Allah dan oleh semua para Rasul-Nya serta apa yang didahulukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam secara khusus yaitu tauhid. Maka hendaknya seorang da’i memulai da’wahnya dari masalah yang lebih esensial dan lebih besar bahayanya, yaitu kesyirikan, bid’ah dan kerusakan aqidah, dan di dalam waktu yang bersamaan juga ia berupaya melakukan perbaikan pada sektor yang lain dan mencegah segala sesuatu yang menjadi sumber kerusakan.

    Di sana ada hal lain yang dilupakan oleh kebanyakan orang, yaitu bahwasanya kebaikan kondisi kehidupan manusia dan moral mereka itu sangat tertaut dengan kebaikan dan kemurnian aqidah mereka, sebagaimana Allah tegaskan: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (al-A’raf: 96).

    Iman dan taqwa itu keduanya tidak akan dapat direalisasikan kecuali dengan aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, sebab diterimanya amal-amal shalih yang wajib dan yang sunnat, seperti shalat, zakat, puasa, haji, do’a, berbuat baik kepada sesama, kebajikan, kejujuran, menjaga kesucian diri dan silaturrahmi, semua itu dan amalan-amalan lainnya sangat tergantung kepada kemurnian aqidah dan ketulusan di dalam ber-ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) serta ikhlas semata-mata karena Allah Subhaanahu Wata’ala dan amalan itu benar-benar merupakan amal yang benar yang berdasar kepada perintah Allah Subhaanahu Wata’ala dan Rasul-Nya.

    Dan yang memprihatinkan adalah adanya sebahagian gerakan dakwah tidak hanya meremehkan kewajiban besar ini dan mengenyampingkannya, yakni masalah pembersihan aqidah kaum muslimin dan ibadah-ibadah mereka (dari kesyirikan dan bid’ah. Pen). Bahkan mereka mengejek orang yang melakukan hal itu dan memandang metode seperti itu mandul, berasal dari fikiran picik dan pandangan sempit! Dan kadang-kadang mereka mengklaim bahwa cara seperti itu adalah merupakan perhatian kepada hal yang tidak esensial! Tuduhan seperti ini biasanya diarahkan kepada gerakan-gerakan dakwah sunnah, seperti Gerakan Ansharus Sunnah, Salafiyyin dan Ahlulhadits yang memfokuskan dakwahnya kepada pemurnian umat Islam dari berbagai bid’ah dan khurafat dan berkonsentrasi di dalam membenahi dan meluruskan aqidah. Ya, adakalanya pada gerakan-gerakan Dakwah Sunnah itu terdapat beberapa kelemahan dan kekeliruan di dalam menggunakan pendekatan da’wahnya. Adapun masalah perhatian mereka kepada aqidah dan ibadah serta upaya yang mereka lakukan di dalam memerangi bid’ah adalah suatu nilai benar bagi mereka yang pantas dipuji dan mendapat acungan jempol. Bahkan, perhatian gerakan Dakwah Sunnah kepada masalah aqidah dan upaya mereka memerangi kesyirikan dan bid’ah mempertegas ungkapan bahwa gerakan-gerakan seperti itulah yang merupakan dakwah yang berafiliasi kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Tha’ifah Manshurah dan Golongan yang Selamat, karena sifat dan cirinya lebih banyak ada pada mereka dari pada kelompok-kelompok dakwah yang lain.

  • Di antara kesalahan yang dilakukan oleh kebanyakan gerakan dan kelompok da’wah yang disebabkan kurangnya hubungan mereka dengan manhajus salafis shalih (metode da’wah Ahlus Sunnah) adalah kurang perhatian kepada ilmu syar’i, baik belajar ataupun mengajarkannya. Kesalahan fatal ini terdapat pada mayoritas harakat Islamiyah (pergerakan dakwah Islam) kontemporer selain gerakan salafiyah. Mereka secara umum tidak memberikan perhatian yang cukup kepada masalah ini, bahkan jarang anda temukan ulama-ulama ahli yang menguasai ilmu syar’i pada gerakan-gerakan tersebut. Dan ada kalanya terdapat jarak pemisah antara gerakan-gerakan Da’wah Islam itu dengan para ulama pakar ilmu syar’i. Sebabnya adalah bahwa para ulama, terutama ulama pakar ilmu syari’ah itu lebih unggul dalam ilmu syar’i daripada para pengikut gerakan-gerakan dakwah dan mereka tidak menemukan pendekatan yang tepat untuk bisa menimba ilmu dari para ulama itu.Dan hal lain yang menyedihkan adalah adanya pemikiran dan sikap taharrur (menjauh dan melepaskan diri) dari berbagai disiplin ilmu ushul (dasar) dan disiplin ilmu syar’i lainnya, seperti ilmu hadits, aqidah, ushulul fiqh dan fiqh dengan dalih perlu adanya tajdid (pembaharuan). Pemikiran ini merembak dan menimbulkan pengaruh negatif pada kebanyakan para da’i saat ini yang diperparah dengan kebodohan mereka terhadap nilai ilmu-ilmu syar’i yang merupakan sandaran Dinul Islam.

    Sungguh penulis sangat merasa prihatin dan sedih, sebagaimana halnya setiap muslim karena harus mengatakan atau mengemukakan kenyataan ini! Namun karena kewajiban memberikan nasihat maka harus saya katakan, bahwa jika kita perhatikan realitas kebanyakan gerakan-gerakan dakwah yang ada dan realitas para da’inya, niscaya kita dapatkan mereka adalah orang-orang yang dangkal pengetahuannya dalam ilmu syar’i, tidak menguasai nash-nash al-Qur’an dan hadits dan tidak mempunyai bekal kultur para pendahulu kita (as-salafus shalih), baik dalam hal membaca, menghafal, menghayati, mempelajari ataupun mengamalkannya. Dan sebagai akibatnya adalah penyimpangan aqidah, prinsip-prinsip agama, hukum dan sikap serta kelemahan di dalam berpegang kepada petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah. Kalau saja mereka mematuhi firman Allah:

    وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

    “Tidak sepatutnya bagi orang-orang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (At-Taubah: 122)

    Penulis tegaskan, kalau sekiranya gerakan-gerakan dakwah kontemporer ini mempersiapkan beberapa orang darinya untuk mengambil spesialisasi ilmu agama dan mendalaminya, niscaya hal itu mempunyai pengaruh yang sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah bersabda:

    مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ.

    “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Dia menjadikannya faqih di dalam agama”. (Shahih Bukhari, hadits no. 7312)

  • Kesalahan lain adalah fanatisme golongan, kelompok dan lupa diri. Ciri ini –sungguh sangat disayangkan- merupakan ciri yang dominan pada kebanyakan kelompok dan pergerakan dakwah ishlahiyah (pembaruan) kontemporer. Setiap kelompok bangga dengan apa yang ada pada dirinya, setiap kelompok merasa dirinyalah yang lebih berhak diikuti dan yang lebih pantas memimpin ummat!! Kelompoknyalah yang mempunyai kemampuan untuk memecahkan berbagai problematika umat ini. Bahkan di antara kelompok pergerakan itu ada yang melihat orang yang di luar kelompoknya, dari kalangan kaum muslimin atau dari gerakan dakwah lainnya itu kurang atau tidak memiliki kepantasan, pemikiran dan pengetahuan terhadap berbagai mashlahat, atau mereka dianggapnya remeh dan memprihatinkan.Bahkan, boleh jadi sebagian Gerakan Da’wah itu ada yang mengklaim dirinya sebagai “Jama’atul Muslimin”, atau mengklaim bahwa dirinyalah yang lebih pantas mendapat julukan itu!!

    Lupa diri yang menyelimuti sebahagian Gerakan Dakwah itu telah menyeret mereka kepada sikap meremehkan ilmu-ilmu syar’i dan para ulama pakar di dalam ilmu syari’at yang bukan dari kalangan mereka. Para ulama ahli itu kadang dituduh lalai, picik dan berpikiran sempit, karena tidak mengarungi Gerakan Da’wah, atau karena mereka memperhatikan masalah inkarul munkarat secara awal, bahkan barangkali karena mereka langsung pergi kepada para penguasa untuk memberi nasihat atau lainnya. Tidakkah itu semua merupakan ghurur (sikap lupa diri) yang mematikan dan kebodohan terhadap manhaj (cara) para ulama salaf (di dalam berdakwah)!?

  • Bahaya besar akibat dari kebodohan terhadap manhaj salaf itu adalah perpecahan dan perselisihan. Yang demikian ini –sungguh sangat menyedihkan- adalah merupakan ciri yang paling menonjol di dalam Harakat Dakwah yang ada saat ini.Allah Subhaanahu Wata’ala telah mencela ciri itu, seraya berfirman: “Dan berpeganglah kamu semua kepada tali(agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai”. (Ali Imran: 103); dan Dia juga berfirman: ”Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.” (Ali Imran: 105)’ dan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu (Muhammad) terhadap mereka.” (al-An’am: 159).

    Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun melarang ciri atau sifat tersebut seraya bersabda:

    وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ اخْتَلَفُوْا فَهَلَكُوْا.

    “Dan janganlah kamu berselisih, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah berselisih, maka dari itu mereka binasa.” (Shahih Bukhari, hadits no. 2410).

    Sekalipun sedemikian kerasnya larangan agama tentang sifat atau ciri di atas (perpecahan), namun banyak Kelompok Pergerakan Dakwah dan para da’i kontemporer yang terjerumus di dalamnya, padahal sangat dibutuhkan persatuan dan kesatuan di atas kebenaran dan di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Gerakan-gerakan Dakwah yang ada saat ini masih tercerai-berai manhaj (metode), pendekatan, aktivitas dan tujuan-tujuannya. Ia pun mengakui perbedaan ini dan makin memperuncing perbedaan tersebut. Bahkan (perpecahan dan perbedaan) itu terjadi pada kelompok-kelompok Dakwah yang manhaj-nya sama atau mirip, ia cenderung eksklusif, suka bercerai-berai dan selalu mencari-cari perpecahan dalam realita keberadaannya, hal yang mengindikasikan bahwa problem yang sebenarnya adalah para tokoh dan hawa nafsu mereka, yang penyebab utamanya adalah lemahnya hubungan mereka dengan al-Qur’an, Sunnah dan atsar dan dengan manhaj para ulama salaf, (ini yang dominan), fanatik kelompok, hizbiyah dan sikap superior yang kemudian diperparah dengan tidak komitmen kepada Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menegaskan kewajiban bersatu di dalam kebenaran, berpegang teguh kepada agama Allah, yang dengannya perselisihan dan percerai-beraian di dalam agama dapat tersingkirkan.

    Penulis tidak menuntut kepada Kelompok-kelompok Pergerakan Da’wah dan juga kepada para da’i untuk tetap berpegang kepada apa yang ada pada masing-masing, yaitu perbedaan aqidah dan menempuh jalan (manhaj) kaum salaf, karena ini adalah talfiq (inkonsistensi) yang kami tidak pernah menyerukan kepadanya, namun yang penulis tuntut dan harapkan kepada semua adalah bersatu menuju al-haq (kebenaran), sedangkan kebenaran itu sendiri sudah sangat jelas di dalan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta warisan (kultur) para ulama salaf kita.

2. Beberapa Renungan Seputar Dakwah dan Aqidah

Setelah kajian singkat seputar beberapa masalah aqidah dan dakwah serta beberapa hal lainnya, ada beberapa renungan dan catatan pada diri penulis, yang sebahagiannya telah disebutkan, namun masih ada keinginan dari penulis untuk menjelaskannya lebih jauh dari itu, dan sebahagian lagi belum tersentuh sama sekali. Di antara renungan dan catatan yang ingin penulis utarakan itu adalah:

Pertama: Kelompok-kelompok dakwah dan pergerakan-pergerakan Islam kontemporer dan kebanyakan da’i yang ada di berbagai belahan bumi saat ini secara umum adalah merupakan kelompok paling utama dari kaum muslimin berdasarkan kondisi mereka yang ada saat ini. (Tentunya selain kelompok-kelompok sesat yang menyempal dari Islam, seperti Ahmadiyah, Qadyanism, Babism, Baha’ism, Baharah, Bariliwism, golongan Syi’ah rafidhah, kebatinan, Sufism ekstrem, Isma’ilism dan lain-lain).

Kelompok-kelompok dakwah reformis dan gerakan-gerakan dakwah Islam saat ini pantas dipuji atas keberadaannya menghembuskan denyut nadi dakwah ilallah, membela agama-Nya, perhatian terhadap problematika kaum muslimin dan mengibarkan panji Islam. Setiap kelompok atau gerakan da’wah itu tentu mempunyai kebaikan, kelebihan dan manfaat sesuai dengan kadar kualitas, visi dan misi masing-masing, sekalipun dalam hal itu terdapat perbedaan yang menonjol, namun yang tidak dapat kita ragukan adalah bahwa kebanyakan gerakan-gerakan da’wah itu mengumandangkan kebaikan dan perbaikan, sekalipun harus kita sadari bahwa mereka tidak ada yang ma’shum dari kesalahan dan kekeliruan. Sebaliknya, ia sangat rentan terperosok kepada kesalahan dan kritikan, nasihat (teguran), evaluasi, diluruskan dan berintrospeksi diri, karena ia telah memposisikan dirinya di dalam tugas agung, yaitu berda’wah ke jalan Allah.

Sesungguhnya musibah kaum muslimin dan penyimpangan mereka secara umum lebih besar dan lebih berbahaya daripada apa yang ada pada para da’i, namun (harus kita ingat) bahwa para da’i adalah anutan (teladan), mereka adalah pemimpin yang tidak berdusta kepada rakyatnya dan tidak bisa dimaafkan bila melakukan kesalahan besar.

Penulis mengutarakan hal di atas berulang-ulang agar tidak difahami bahwa penulis tidak menghiraukan hak-hak gerakan-gerakan dakwah yang ada, atau bahwa keabsenan gerakan-gerakan dakwah itu lebih baik dari pada kehadirannya. Sama sekali penulis tidak beranggapan demikian!! Organisasi-organisasi atau kelompok-kelompok da’wah itu, sekalipun kadang-kadang mempunyai beberapa kelemahan, kekurangan dan penyimpangan namun tetap mempunyai kebaikan dan manfa’at. Maka hendaknya gerakan dan kelompok dakwah itu selalu menghindar dari sikap ta’asshub (fanatik buta) dan berupaya semaksimal mungkin untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta petunjuk as-salafus shalih. Dengan cara begitu, insya Allah ia akan makin baik dan berhasil, dan kebaikan ummat akan ada padanya.

Kedua: Berdasarkan apa yang telah penulis dengar dan baca dari sekian banyak pemerhati permasalahan aqidah dan dakwah, penulis menemukan satu kesalahan besar yang dilakukan oleh kebanyakan orang mengenai persepsi seputar da’wah dan masa depan Islam dan kaum muslimin, yaitu ketika mereka membicarakan tentang bagaimana seharusnya kaum muslimin, bagaimana semestinya pergerakan-pergerakan Islam dan kelompok-kelompok dakwah, dan ketika mereka membicarakan tentang manhaj, metode yang paling unggul dan lebih tepat untuk mengeluarkan kaum muslimin dari keterpurukan, kehinaan, kebodohan dan jauhnya mereka dari agamanya?!

Kesalahan itu tercermin di dalam sikap yang diambil oleh sebahagian orang, terutama para da’i, para pemikir dan kelompok-kelompok pergerakan, yaitu bersikukuh pada klaim bahwa kemuliaan dan kemenangan kaum muslimin itu tidak akan bisa diraih kecuali dengan pendekatan (uslub) yang ditawarkan oleh pemikir atau oleh kelompok dakwah itu!

Maka di antara mereka ada yang berkata, bahwa mencapai kekuasaan dan mendirikan Daulah Islamiyah itulah solusi awal.

Ada pula yang berkata, bahwa power atau kekuatanlah yang merupakan jalan satu-satunya untuk bisa mengembalikan kaum muslimin ini kepada agamanya!

Ada pula yang berpendapat bahwa kemajuan kebudayaan adalah jalan satu-satunya!

Ada lagi yang berpendapat bahwa perkumpulan-perkumpulan hizbiyah (partai, kelompok) atau yang serupa dengannya adalah cara yang niscaya, bukan yang lainnya!
Ada pula yang berpendirian bahwa perbaikan individu adalah jalan yang paling baik, bukan jalan lainnya!! Dan banyak lagi pendapat dan pemikiran lain yang ada di lapangan!

Penulis sama sekali tidak mempunyai sanggahan atas sekedar penawaran sistem, pandangan dan mempraktekkannya dengan lapang dada bagi orang yang menganutnya. Akan tetapi sanggahan dan penolakan penulis adalah terhadap orang yang membatasi metode, memastikannya dan menjadikannya sebagai sebuah keyakinan lalu membuat hukum-hukum syar’i atasnya dan aturan-aturan da’wah, menyalahkan metode selain metodenya dan menolaknya, dan menjadikan pemikirannya sebagai barometer, dan siapa saja yang menyimpang dari metode yang ia miliki itu salah atau dianggap (sebagai rintangan da’wah dan reformasi yang sedang ia kembangkan). Semua itu telah menyebabkan terbentuknya fanatisme kelompok (hizbiyah) dan perpecahan di dalam barisan da’wah.

Hal itu sangat tampak secara jelas dari banyaknya pemikiran, kelompok dan kritikan-kritikan terhadap berbagai gerakan dakwah dan para da’i yang dilakukan oleh sebagian mereka terhadap sebahagian yang lain, dan juga dari kritikan orang lain terhadap para da’i.

Menurut penulis, sesungguhnya masalah pendekatan yang paling ideal di dalam berda’wah dan melakukan ishlah adalah merupakan masalah ijtihadiyah yang harus tetap mematuhi nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah serta manhajus Salafis shalih di dalam melakukan ishlah dan da’wah, jihad dan amar ma’ruf nahi munkar. Pendekatan dan sarana itu bisa berbeda, masing-masing sesuai dengan kondisi setempat, namun tetap di dalam batas-batas yang diperbolehkan oleh syari’at agama.

Ada masalah lain, yaitu bahwasanya masalah masa depan dakwah serta masalah masa depan Islam dan umat Islam adalah merupakan masalah ghaib, tiada yang dapat mengetahuinya selain Allah; dan Allah Subhaanahu Wata’ala bisa saja telah mempersiapkan kebaikannya bagi ummat ini dengan cara yang tidak pernah dibayangkan oleh seseorang, meskipun kita telah berusaha semaksimal mungkin membuat prediksi-prediksinya.

Bisa saja Allah membangkitkan seorang pemimpin pembaharu bagi ummat Islam ini yang dapat menyatukan mereka, merapatkan barisannya, memperbaharui agamanya dan membela sunnah dan ahlinya, sebagaimana telah dijanjikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melalui sabdanya:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَبْعَثُ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا.

“Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi ummat ini orang yang akan memperbaharui agamanya pada tiap pengujung seratus tahun.” (HR.Abu Daud, hadits no. 4291; dan dinilai shahih oleh Al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, hadits no. 1870).

* Boleh jadi kemenangan dan kebaikan ummat ini diberikan melalui seorang penguasa atau sebuah negara yang shalih, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menginformasikan melalui hadits shahihnya, seraya bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengokohkan agama ini dengan seorang yang durjana.” (HR. Bukhari, hadits no. 3062, dan Muslim, hadits no. 111).

* Boleh jadi Allah akan membangkitkan beberapa kaum lain yang membawa misi da’wah yang lebih baik dan lebih pantas hingga dapat menyatukan Ummat Islam ini di atas petunjuk dan kebenaran.

* Bisa juga terjadi beberapa peristiwa besar yang membuat ummat Islam ini kembali kepada al-haq dan berpegang kepada agama, berpegang teguh kepada al-Qur’an, Sunnah dan manhaj para ulama salaf. Dan boleh jadi kemenangan datang dari Allah Subhaanahu Wata’ala dengan cara yang belum pernah terdetik di dalam hati manusia.

* Dan boleh jadi Allah membuat keputusan dengan rontoknya kebudayaan Barat Kapitalis, sebagaimana rontoknya Komunisme tanpa harus melalui susah payah, lalu dengan itu manusia kembali kepada Islam.

Semua hipothesa-hipothesa tersebut sah-sah saja, baik dalam takaran rasio maupun syari’at, dan sudah banyak contoh-contohnya di dalam sejarah Islam, baik di masa lalu maupun di masa kini. Lalu apa gunanya mempertentangkan masalah ghaib yang merupakan bagian dari taqdir Allah yang hanya Dia semata yang mengetahuinya?

Menurut penulis, setiap muslim wajib menghargai pendapat orang lain selagi di dalam batas-batas syari’at dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, sekalipun prasarana dan metode-metode ijtihadnya beragam selagi masih diperbolehkan ijtihad dan khilaf padanya.

Kemudian, sesungguhnya perbedaan tempat di mana kaum muslimin berada, perbedaan kondisi, masyarakat dan kondisi geografis dan politik itu kadang mengharuskan adanya keragaman pendekatan dan metode ijtihad. Maka hendaknya kita dapat saling memahami di dalam batasan-batasan ini. Namun, hal yang menyalahi nash-nash agama, hukum syara’ dan aqidah yang benar serta prinsip-prinsip agama yang telah menjadi pegangan generasi salaf, maka wajib dihindari dan kembali kepada yang hak bersama siapapun ia dan di manapun hak itu berada.

Ketiga: Penulis memperhatikan kebanyakan gerakan dakwah dan para aktivis da’wah kontemporer lebih banyak mencurahkan perhatiannya untuk mendiagnosa dan menanggulangi fenomena penyimpangan, kerusakan moral yang ada pada kaum muslimin. Tentu saja perbuatan seperti itu sangat terpuji, bahkan memang seharusnya demikian. Akan tetapi penulis tetap tidak dapat membenarkan mereka, atau kebanyakan mereka di kala mereka menutup mata dari kerusakan yang lebih besar dan lebih berbahaya, yaitu kerusakan yang sudah tidak diragukan lagi sebagai penyebab utama dari dekadensi moral dan kerusakan sosial, kekacauan dan kebodohan, keterbelakangan dan segala jenis kerusakan. Yaitu kerusakan yang terjadi pada aqidah kaum muslimin, baik dalam tataran teoritis maupun dalam tataran praktis, yang tercermin pada: kebodohan terhadap prinsip-prinsip dasar ajaran Islam dan terperangkap di dalam berbagai keyakinan sesat, perbuatan-perbuatan syirik dan bid’ah, seperti berbagai bid’ah di pekuburan, mengkultuskan individu yang masih hidup dan yang sudah mati dan pengkultusan terhadap apa yang mereka anggap wali qutub dan wali ghauts.[1] Juga seperti bid’ah-bid’ah berbagai tarikat sufi, bid’ah pada peninggalan-peninggalan bersejarah, pohon, batu-batuan dan persembahan berbagai ibadah (pengabdian) kepada selain Allah Subhaanahu Wata’ala dan banyak lagi yang lain yang tidak asing bagi orang-orang yang mempunyai akal dan ilmu pengetahuan.

Kesalahan ini juga tampak dan tercermin pada para da’i (aktivis da’wah) itu sendiri yang terletak pada kelalaian kebanyakan mereka terhadap ushuluddin (prinsip-prinsip dasar ajaran Islam) dan kewajiban-kewajiban Islam, atau porsi perhatian mereka kepadanya lebih sedikit dari yang seharusnya, padahal ia merupakan kunci segala kebaikan dan keshalihan, dan juga merupakan penutup rapat bagi keburukan dan kebinasaan, seperti shalat, zakat, puasa, haji, jihad, beramar ma’ruf dan nahi munkar, hanya beribadah kepada Allah semata, memberantas kesyirikan, bid’ah dengan segala sarananya serta prinsip-prinsip ajaran Islam lainnya.

Jika memperhatikan nash-nash Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam niscaya kita akan temui bahwa perhatian kepada masalah yang prinsip-prinsip (ushuluddin) menunjukkan bahwa yang demikian itulah yang seharusnya merupakan kewajiban pertama di dalam berda’wah, dan hanya dengannyalah keshalihan dan kebaikan kondisi mereka akan tercapai, dan dengannya pulalah mereka dapat mencegah diri dari kerusakan dan kemunkaran. Dan terhadap pengertian seperti inilah Allah Subhaanahu Wata’ala mengarahkan kita kepada penegakan shalat yang merupakan pilar yang agung. Allah menjelaskan bahwa menegakkan shalat dapat mencegah kekejian dan kemunkaran, seraya berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Tegakkanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah yang keji dan yang munkar”. (al-’Ankabut: 45)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah menjelaskan bahwa beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan kemusyrikan (penyekutuan terhadap Allah) dan mendirikan rukun Islam itulah Islam yang diridhai Allah dan yang diperintahkan-Nya. Ini adalah suatu isyarat bahwa apabila seseorang melakukan hal-hal tersebut niscaya permasalahannya akan menjadi baik.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah disebutkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah didatangi oleh seseorang, seraya berkata: Ya Rasulallah, apa Islam itu? Beliau menjawab: Islam adalah engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan-Nya, menegakkan shalat wajib, membayar zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadhan….”. (HR. Muslim, Hadits no. 9)

Juga ada kisah seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah, shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Islam, kemudian menyebutkan: “Shalat, shaum, zakat dan haji.” Maka si lelaki itu berkata: “Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan benar, aku tidak akan menambahinya dan tidak akan menguranginya”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Jika ia benar, niscaya masuk surga”. (HR Muslim, hadits no. 12)

(Keniscayaan masuk surga yang dipastikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) itu karena sudah menjadi pengetahuan yang pasti bahwa siapa yang melakukan perkara-perkara agung tadi sesuai dengan tata cara yang diperintahkan Allah disertai kepatuhan yang tulus kepada-Nya, maka seluruh perihalnya akan menjadi baik dan Allah akan membimbingnya menuju jalan-jalan kebajikan, kebaikan dan kebahagiaan serta surga dan keridhaan dari Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآَمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ

“Dan orang-orang yang beriman, beramal shalih dan beriman pula kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan itulah yang hak dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (Muhammad: 2)

Ini sama sekali tidak berarti bahwa penulis menganggap remeh masalah memerangi kerusakan dan penyimpangan moral. Sama sekali tidak! Masalah mencegah kehancuran ini merupakan salah satu prinsip dasar agama yang agung. Yang penulis kehendaki adalah kita wajib memulai (dakwah) dengan apa yang Allah dan para Rasul-Nya mulai, sesuai skala prioritas, kita berikan pada setiap perkara akan haknya sebagaimana Allah ajarkan, karena Islam itulah kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, sedang iman itu mempunyai lebih dari tujuh puluh cabang. Maka penulis tegaskan, bahwa hak Allah itu lebih utama (prioritas) dan kemudian hal-hal lain diatur secara rapi sebagaimana diajarkan di dalam Islam.

Masalah mengesakan Allah Subhaanahu Wata’ala kepada-Nya, patuh kepada Rasul-Nya dan mengamalkan ajarannya serta membuang jauh syirik dan thaghut adalah merupakan prinsip dasar yang sangat besar, lalu berikutnya menegakkan kewajiban-kewajiban yang lain, seperti shalat, zakat, puasa dan haji adalah prinsip yang agung pula. Kemudian berjihad fisabilillah dan beramar ma’ruf nahi munkar juga merupakan prinsip dasar yang agung. Setelah itu, mencegah kerusakan di muka bumi dan mengajak manusia berpegang kepada keutamaan-keutamaan adalah prinsip dasar yang agung pula. Semua prinsip-prinsip dasar ini harus kita perhatikan.

Namun, prinsip dasar yang pertama itulah yang paling tinggi dan paling besar dan dialah al-’urwatul wutsqa (ikatan yang kuat), sebagaimana Allah firmankan:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا

“Barangsiapa yang kafir terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus”. (al-Baqarah: 256)

Penulis juga tidak beranggapan bahwa gerakan-gerakan da’wah saat ini tidak memperhatikan perkara yang sangat besar ini, akan tetapi penulis ingin katakan dengan penuh percaya diri, realita pun menjadi saksi, bahwa kebanyakan gerakan-gerakan da’wah saat ini tidak memberikan hak (yang semestinya diberikan kepada masalah yang satu ini) dan tidak merasa bahwa masalah (aqidah, tauhid) adalah merupakan perkara yang teragung dan terpenting, dan bahwasanya penyimpangan darinya adalah merupakan penyebab utama dari segala penyimpangan dan kesesatan.

Di muka Penulis telah mengisyaratkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika memerangi kaum kafirin di dalam menegakkan agama Allah adalah memerangi mereka atas prinsip: “Kesaksian bahwasanya tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah (beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan penyekutuan terhadap-Nya) dan kesaksian bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa bulan Ramadhan…. dst., karena prinsip-prinsip dasar ini bila ditunaikan haknya oleh umat manusia, sebagaimana diajarkan oleh Allah, maka hati mereka menjadi baik, amal dan prihal mereka pun demikian pula. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meremehkan aspek-aspek yang lain dari masalah hukum, etika dan akhlak, namun semua itu datang setelah prinsip-prinsip dasar, karena merupakan hal yang berikutnya dan dibangun di atasnya, bukan malah sebaliknya.

Ringkasan topik ini adalah bahwa baiknya kondisi kaum muslimin dan upaya menyelamatkan mereka dari kebodohan, kerusakan, penyimpangan dan keterbelakangan sangat tergantung kepada kelurusan aqidahnya, keistiqamahannya kepada dienullah, beribadah dan bertaqwa hanya kepada-Nya semata, patuh kepada-Nya dan mengikuti ajaran Rasul-Nya. Inilah manhaj (jalan yang ditempuh) oleh para Rasul, manhaj al-Qur’an dan Sunnah, manhaj para pembaharu yang mendapat petunjuk. Sungguh gerakan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab itu belum jauh dari kita! Adapun berpalingnya sebahagian da’i terhadap masalah ini dan curahan perhatian mereka kepada masalah sekunder, maka itu tak ubahnya bagaikan pengobatan terhadap luka di kepala yang terputus.

Keempat: Di sana ada kesalahan lain atau pandangan yang keliru yang dilakukan oleh sebahagian kritikus yang selalu memantau perjalanan Pergerakan Da’wah Kontemporer. Kesalahan atau pandangan yang keliru itu adalah penilaian mereka terhadap keberhasilan suatu harakah dakwah atau kegagalannya dengan jumlah pengikutnya atau karena ia tersebar luas karena gaungnya tersebar luas di permukaan, karena kemenangan politik, karena banyaknya hasil karya tulisnya, karena ia mengumandangkan syi’ar-syi’ar Islam dan seruan-seruannya untuk menerapkan syari’at Islam, memerangi nasionalisme dan isme-isme lainnya. Semuanya itu adalah hal yang baik dan berguna, akan tetapi semua itu, menurut hemat penulis, merupakan cara atau jalan yang tidak sejalan dengan kaidah-kaidah Islam dan prinsip-prinsipnya. Sesungguhnya yang menjadi sandaran atau barometer di dalam evaluasi kami terhadap gerakan dakwah apapun, baik yang di lakukan oleh individu ataupun oleh suatu harakah, kelompok, negara ataupun lainnya adalah sejalan atau tidaknya gerakan da’wah itu dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk di dalamnya aqidah yang benar, manhaj yang lurus secara syar’i serta mematuhi petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam masalah hukum, sunnah-sunnah, etika dan lain-lainnya, meniti petunjuk para generasi salafus shalih dan menggali ilmu syar’i. Adapun di luar itu semua, maka hanyalah sekedar syi’ar belaka, sebagaimana syi’ar-syi’ar buatan (palsu) yang digulirkan ke permukaan.

Hal yang membenarkan analisa penulis ini adalah bahwasanya da’wah atau seruan kepada akhlaq karimah, kepada perbaikan, kebangkitan dan kemajuan, dan kepada mencari solusi problematika kaum muslimin di bawah naungan syari’at Islam, begitu pula mengibarkan syi’ar-syi’ar Islam di segala aspek kehidupan, semua itu adalah merupakan bagian semua orang, tidak satupun yang mengunggulinya dari kalangan para da’i dan berbagai pergerakan dakwah Islam yang ada di berbagai belahan dunia Islam. Lihat saja kelompok Rawafidh (Syi’ah), mereka juga mengibarkan syi’ar islami. Neo Mu’tazilah (kelompok liberal), para pengikut Hasan Turabi, kaum pembaharu dan juga kelompok modernis mengibarkan syi’ar-syi’ar islami ini juga. Qadyanism, Baha’ism, Babism, kelompok kebatinan, kaum sufi radikal dan para ahli bid’ah pun, semuanya mengibarkan simbol-simbol dan syi’ar-syi’ar Islam. Bahkan pengibarkan syi’ar Islam itu telah berobah menjadi komoditi yang selalu ditawarkan, sampai kaum nasionalis dan sosialis, bahkan komunis, kadang-kadang melakukan hal yang sama, Freemasonri dan berbagai intelijen internasional dengan segala bentuknya turut memainkan perannya di balik semua itu.

Maka pastikanlah bahwa yang menjadi jaminan dan barometer adalah al-Qur’an dan Sunnah serta jalan yang telah dititi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya serta para tokoh ulama yang mengikuti jejak mereka.

Jadi, masalahnya adalah bukan sekedar masalah syi’ar atau simbol yang dikibarkan, atau emosi yang dibangkitkan, atau berbagai ungkapan manis yang menghiasi, ataupun lainnya. Yang menjadi sandaran dan ukuran adalah realisasi pengabdian dan ibadah hanya kepada Allah semata dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal manhaj, aqidah dan prilaku.

Maka masalah ini masih memerlukan suatu renungan kembali dan introspeksi diri dari para aktifis pergerakan/ da’wah Islam, sebab masalahnya sangat serius sementara amanat yang diemban sangat berat dan jalan yang lurus itu sangat jelas lagi gamblang.

Segala puji bagi Allah.
Semoga Allah memberi taufiq-Nya kepada penulis dan segenap kaum muslimin menuju kecintaan dan keridhaan-Nya; dan menjauhkan kita semua dari jalan kesesatan.
Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia ini dan kebajikan di akhirat (kelak) dan lindungilah kami dari siksa api neraka.
Ya Tuhan kami, hapuskanlah dosa-dosa kami dan bagi saudara-saudara kami yang telah mendahului kami di dalam beriman, dan jangan Engkau jadikan rasa benci di dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.
Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada nabi kami, Nabi Muhammad, keluarga dan para shahabatnya serta segenap pengikutnya hingga hari Kiamat kelak. Dan jadikanlah kami bersama mereka di atas kebenaran dengan berkat rahmat dan taufiq-Mu, ya Allah.
Maha Suci Allah Tuhan pemilik keagungan dari apa yang mereka katakan. Semoga kesejahteraan atas segenap para rasul.
Segala puji hanyalah milik Allah Tuhan semesta Alam.

Ditulis oleh:
NASHIR BIN ABDUL KARIM AL-’AQL
Guru Besar ‘Aqidah dan Aliran-aliran Kontemporer
Pada Fakultas Ushuluddin – Riyadh.

Catatan Kaki:

[1] Khurafat wali qutub dan wali ghauts adalah merupakan kebobrokan kaum sufi yang mereka nisbatkan kepada Islam. Mereka beranggapan bahwa para wali qutub dan wali ghauts itu mempunyai kekuasaan mengurus dan mengatur jagad raya dan menentukan taqdir segenap makhluq. Untuk mengetahui lebih lanjut silahkan merujuk kepada kitab “al-Fikr ash Shufi”, karya Abdurrahman Abdul Khaliq, hal. 219-245.

Check Also

window-crying

Filsafat Ilmu Islami: Manusia Bisa Tahu Yang Benar

  Oleh: Dr. Syamsuddin Arif (Peneliti Insists) Manusia normal pada hakikatnya dapat mengetahui kebenaran dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *