Thursday , 31 July 2014
Breaking News
You are here: Home » Belajar Islam » Featured » Kitabul Jaami’ Hadits 1 (Bag 2) Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain
Kitabul Jaami’ Hadits 1 (Bag 2) Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain

Kitabul Jaami’ Hadits 1 (Bag 2) Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain

 

Penjelasan Hadits:

Hadits ini menjelaskan hak-hak sesama kaum muslimin. Masing-masing hak ini, hukumnya beragam. Ada yang hukumnya wajib dan ada juga yang sunnah.

Berikut ini, keenam hak-hak yang disebutkan dalam hadits tersebut:

 

  1. Menebarkan salam. Perbuatan ini termasuk dalam perilaku yang akan semakin mempererat kecintaan kita terhadap sesama muslim, sebagaimana yang telah juga disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam,

لا تَدْخُلُون الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أوَلاَ أدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أفْشُوا السَّلامَ بينكم

 “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Ketahuilah, maukah kalian aku tunjukkan pada sebuah amalan yang jika kalian mengerjakannya, kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian” (HR. Muslim, no. 54).

Para ulama sepakat bahwa mengawali mengucapkan salam hukumnya adalah sunnah (dianjurkan). Adapun menjawab salam, maka hukumnya adalah wajib. (Tafsir al Qurthubi 5/297-304, Fathul Baari 11/2, 12-14, Ashalul Madaarik 3/351-353 dan Syarhul Minhaaj 4/215).

Jika yang diberi salam itu jamaah (beberapa orang), maka hukumnya fardlu kifayah. Maka jika sudah ada salah satu yang menjawab, kewajiban ini gugur dari yang lain. Jika semuanya ikut menjawab maka semuanya turut melaksanakan kewajiaban ini, baik menjawab salamnya ini dilaksanakan bersama-sama atau bergantian. Jika semuanya tidak mau menjawab salam, maka semuanya berdosa. (Al Mawsu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyah, 11/314).

Mengucapkan salam di sini dilakukan dengan menggunakan salam yang kita kenal dalam Islam, yaitu “Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh” (atau cukup dengan “Assalamu’alaikum”) bukan dengan selamat pagi, selamat siang atau selamat sore. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa menjawab ucapan selamat selain dengan ucapan salam itu tidak wajib. Baik ungkapan selamat tersebut disampaikan secara lisan, dengan isyarat jari, telapak tangan atau kepala. (Raudlatuth Thaalibin 10/233, Mughnil Muhtaaj 4/214, Nihayatul Muhtaaj 8/48, al Inshaaf 4/233 dan al Adzkaar Imam Nawawi 234).

Lafadz salam yang sempurna adalah “Assalaamu’alaikum” atau Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh. Dengan menggunakan bentuk isim ma’rifat “Assalaaamu” bukan Salaamun. Juga menggunakan bentuk jamak “’alaikum”. Baik yang diberi salam itu satu orang atau jamaah beberapa orang. Inilah yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf shaleh. Meskipun menggunakan ungkapan “Salaamun ’alaikum” juga boleh tetapi “Assalaamu’alaikum” lebih utama.  (Al Mawsu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyah, 25/157-158).

Menjawab ucapan salam bukan dengan Wa’alaikumussalaam, menurut kebanyakan  ulama, tidak menggugurkan kewajiban. Karena Allah Ta’aala telah berfirman:

{وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا}

“Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (penghormatan itu yang sepadan) dengannya.” (QS. An Nisaa’: 86)

Dalam ayat tersebut jelas ditegaskan keharusan menjawab dengan yang sama atau sepadan. Jadi tidak cukup dengan jawaban lain selain salam. (Al Fawaakih ad Dawaani 2/423, Al Jumal ‘Ala Syarhil Minhaaj 5/188 dan Tafsir Ibnu Katsir 2/351)

Dalam al Mawsu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyah dijelaskan tentang salam kepada lawan jenis, yang ringkasnya dapat disimpulkan sebagai berikut: Ucapan salam sesama wanita dianjurkan sebagaimana ucapan salam sesama laki-laki. Demikian pula menjawab salam sesama wanita hukumnya sama dengan menjawab salam sesama laki-laki. Sedangkan memberi salam dari laki-laki kepada wanita, maka bisa dibagi menjadi 2 keadaan:

  1. Jika wanita tersebut adalah istri, ibu atau mahram lainnya, maka hukumnya sunnah dan fihak wanita wajib menjawab salam tersebut.  Bahkan seorang laki-laki dianjurkan memberi salam kepada keluarga dan penghuni rumahnya.
  2. Jika wanita tersebut bukan mahramnya, maka ada dua kemungkinan:
  •  Jika wanita tersebut sudah berusia lanjut, maka memberi salam tersebut hukumnya sunnah dan wanita tersebut berkewajiban menjawab salam.
  • Jika wanita tersebut masih muda dan dikhawatirkan menimbulkan fitnah baik bagi fihak laki-laki atau fihak wanita, maka ada 2 pendapat di kalangan ulama:
  1. Makruh menurut ulama Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah.
  2. Ulama Hanafiyyah mengatakan bahwa menjawab salamnya cukup di dalam hati. Jika ada seorang wanita memberi salam kepada laki-laki, maka dijawab di dalam hati. Demikian pula sebaliknya. Jika yang memberi salam adalah laki-laki, maka fihak wanita menjawab di dalam hati. Sedangkan ulama Syafi’iyah mengharamkan menjawab salam kepada laki-laki.

Sedangkan salamnya seorang laki-laki kepada kaum wanita dalam jumlah banyak, dibolehkan. Demikian pula salamnya beberapa laki-laki kepada satu orang wanita juga dibolehkan jika aman dari fitnah. Dalil yang menjadi dasar bolehnya seorang laki-laki member salam kepada kaum wanita dalam jumlah banyak, adalah hadits Asma binti Yazid radliyallahu ‘anha, beliau berkata: “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melewati beberapa wanita kemudian beliau member salam kepada kami.” (HR Abu Daud 5/383 dan Tirmidzi 5/58 dan Ibnu Majah, no 3701. Imam Tirmidzi menghasankan hadits ini).

Dalam Shahih Bukhari, Imam Bukhari membuat judul bab: Taslim al-Rijaal ‘alaal-Nisaa’ wa al-Nisaa’ ‘ala al-Rijaal (Bab salamnya kaum laki-laki kepada kaum wanita dan kaum wanita kepada kaum laki-laki). Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani dalam Fathul Baari (11/33) mengomentari bab tersebut dengan mengatakan: “Imam al-Bukhari mengisyaratkan dalam bab ini pada bantahan riwayat yang dikeluarkan oleh Abdurrazaq dari Ma’mar, dari Yahya bin Abi Katsir yang berisi makruhnya kaum lelaki mengucapkan salam kepada kaum wanita dan sebaliknya. Riawayat ini statusnya maqthu’ (riwayatnya berhenti sampai pada tabi’in) dan mu’dhal. Kemudian Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa maksud dari bolehnya ini (kaum lelaki mengucapkan salam kepada kaum wanita dan sebaliknya) ketika aman dari fitnah. Ibnul Hajar rahimahullah juga menukil ucapan Ibnu Bathal dari al-Muhallab, “Salamnya kaum lelaki kepada kaum wanita (bukan mahram) dan kaum wanita kepada kaum lelaki hukumnya boleh boleh, apabila aman dari fitnah.”

 

 

 

 

http://www.belajarislam.com/hadis-1-kitabul-jaami-2/

860 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

shared on wplocker.com