<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ustadz Ridwan Hamidi</title>
	<atom:link href="http://ustadzridwan.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzridwan.com</link>
	<description>رضوان حامدي الإندونيسي</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 May 2013 01:15:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Jangan Loncati Budaya Baca Dan Tulis</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/jangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/jangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 May 2013 01:15:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2750</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Written by Muhammad Agung Bramantya &#160; Bacalah dengan nama Rabb-mu yang Maha Menciptakan (*) &#160; Ikatlah ilmu dengan tulisan (**) &#160; Sahabat belajarIslam, &#160; Ketahuilah, fase-fase kebudayaan setiap insan dan bangsa hingga kini secara lengkap harus meliputi fase budaya lisan, baca, tulis, audio-visual, multimedia dan cyber. Kesemua tahapan budaya tersebut harus terlampaui berurut dan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Written by <a href="http://bramantya.wordpress.com/">Muhammad Agung Bramantya</a></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>Bacalah dengan nama Rabb-mu yang Maha Menciptakan (*)</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>Ikatlah ilmu dengan tulisan (**)</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sahabat belajarIslam,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketahuilah, fase-fase kebudayaan setiap insan dan bangsa hingga kini secara lengkap harus meliputi fase budaya lisan, baca, tulis, audio-visual, multimedia dan cyber. Kesemua tahapan budaya tersebut harus terlampaui berurut dan utuh jika ingin menjadi manusia unggul, umat kebanggaan dan bangsa gemilang. Urutan yang linier dan utuh inilah yang hilang dari bangsa kita. Setelah sukses berbusa-busa bersitegang urat leher dengan budaya lisan (ngomong, ngobrol, debat, diskusi, ceramah, kuliah, ngrumpi) tiba-tiba langsung meloncat ke budaya audio-visual dan multimedia (teve, film, musik, dlsb) lalu kini termehek-mehek dengan budaya cyber.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cobalah tengok masyarakat/bangsa yang dikatakan maju dan sukses saat ini (secara materi/duniawi), mereka pasti sangat kental dengan budaya baca dan tulis. Contohnya Negara Jepang dan sebagian Negara maju di Eropa (Jerman, Perancis, dll), masyarakatnya selalu mengisi hari dan waktu luang mereka dengan membaca, baik saat antri di loket, di perjalanan KA, bus atau pesawat, menunggu di lobi, menunggu datangnya kendaraan umum, di loby, jeda kuliah, dan semua waktu mereka hampir terisi dengan kegiatan membaca. Lalu tulisan, sekian banyak karya ilmiah dan non-ilmiah mereka berjibun di media-media tulisan lokal maupun internasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beda dengan kita, cobalah tengok ditempat-tempat seperti yang dicontohkan diatas. Apa yang mereka lakukan? Ngobrol (budaya lisan), nonton tv atau denger musik (budaya audio-visual, multimedia) bahkan asyik memainkan gadget berinternet (budaya cyber –yg paling-paling cuma chatting, FB, FS dan semisalnya-). Sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada yang membaca apalagi menulis artikel.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahkan budaya cyber di bangsa kita dengan seabrek gadget canggih sebagai pelengkapnya cukup merisaukan. Bangsa yang “dinilai hampir gagal” ini cukup fantastis dalam membukukan penjualan gadget semisal blackberry dan mobile-phone lainnya, konon menempati rangking ke-empat dunia. Sehingga bangsa ini dengan penduduk berjibun menjadi bangsa “tester” bagi produk baru. Dan status sebagai bangsa “pangsa pasar“ inilah yang selalu ingin dipertahankan para produsen dan bisnis-man itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sahabat belajarIslam,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Itulah keprihatinan kita, jika kemudian mengaca pada umat Islamnya, lebih ngenes lagi. Tradisi belajar tholabul-ilmi-syar’i yang kental dengan membaca dan menulis seakan hilang ditelan jaman. Cukup sulit kita menemui tulisan berwawasan Islam as-shahih lahir dari pena-pena muslimin anak bangsa kita. Tebaran pandangan kita keseharian juga sulit terantuk pada sosok muslim yang gemar membaca bacaan Islami. Padahal Islam yang mulia sudah mewanti-wanti pentingnya membaca dan menulis dalam tradisi keilmuan dan keseharian. Kutipan Firman Allah dan Sabda Rasulullah diawal tulisan diatas sangat cukup sebagai alasan (dalil). Bahkan “bacalah” adalah wahyu pertama yang sampai ke junjungan Nabi shalallahu’alaihi wa sallam. Silakan merujuk pada buku tafsir yang terkenal semisal Ibnu Katsir dalam mentafsirkannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Faktanya, Islam pernah gemilang dan bercahaya menaungi sepertiga bola dunia. Peradaban umat Islam kala itu sangat kental dengan bacaan, tulisan dan pembelajaran. Ulama sekelas Ibnu Jarir at Thabari menulis rata-rata 14 halaman per harinya jika ditinjau dari seluruh umur beliau. Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah segudang yang sampai ke tangan kita, belum yang hilang/tidak ketemu. Ulama terkenal dari keempat madzhab dikenal tidak “omong doang”, tapi dikenal dengan buku dan karya tulis mereka yang monumental. Bahkan Al Qur’an Kalamullah dan Hadits yang mulia sampai ke pelukan kita saat ini melalui media tulisan. Konon sebagian ulama besar Islam sampai hilang atau berkurang penglihatannya karena saking banyaknya membaca.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitulah peran strategis budaya membaca dan menulis. Ianya tidak akan terpisah dari kemajuan suatu zaman, keunggulan seorang insan. Membaca dan menulis adalah sunnatullah yang mengiringi keberhasilan umat. Artikel ringkas ini hanyalah mengingatkan kita…ya…saya dan anda untuk melecutkan semangat membaca dan menulis. Mungkin kita sudah membaca (lha ini sedang membaca artikel ini) dan menulis. Tapi level membaca dan menulis kita masih sangat sangat rendah. Mau bukti? Hayo… berapa halaman bacaan yang sudah kita baca, berapa halaman tulisan karya/catatan kita, ditotal terus dibagi dengan jumlah hari kita hidup. Saya masih ragu hasilnya lebih dari 1 halaman, terutama soal tulisan…terbukti?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu apa guna sebuah ayat suci dan sebuah hadits mulia tersebut diatas? Berlalu tanpa bekas dan atsar di diri kita? Tidak, hal itu tidak boleh terjadi. Mulailah kecanduan membaca, insyaAllah bermanfaat. Mulailah gandrung menulis, insyaAllah tidak rugi. Semoga kecanduan baca dan kegandrungan menulis anda menular kepada orang di dekat anda, dan terus menjalar ke masyarakat bangsa kita hingga Allah turunkan berkah diatasnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selamat membaca dan menulis…</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(*) Qur’an surat Al Alaq: 1</p>
<p>(**) Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu ‘ Abdil Barr dalam al-Jaami’ (1/306, no. 395), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallanhu’anhu. Lihat takhrij lengkapnya dalam kitab Silsilah ash-Shahiihah (no. 2026) dan Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 4434)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.belajarislam.com/jangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis/</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fjangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis%2F&amp;title=Jangan%20Loncati%20Budaya%20Baca%20Dan%20Tulis" id="wpa2a_2"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/jangan-loncati-budaya-baca-dan-tulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitabul Jaami’ Hadits 2 (Bag 3): Melihat Kepada yang Lebih Rendah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-2-bag-3-melihat-kepada-yang-lebih-rendah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-2-bag-3-melihat-kepada-yang-lebih-rendah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 May 2013 06:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kitabul Jaami' dari Bulughul Maram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2725</guid>
		<description><![CDATA[Bagian Kedua Dari Hadits: Sedangkan dalam urusan ketaatan dan taqarrub kepada Allah, maka hendaklah seseorang melihat orang-orang yang berada di atas mereka dan menumbuhkan kesadaran bahwa dirinya masih banyak diliputi dengan berbagai kekurangan serta merasa iri melihat orang-orang yang telah melebihi dirinya. Sehingga memotivasi dirinya untuk sungguh-sungguh berlomba menyaingi mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Bagian Kedua Dari Hadits:</p>
<p>Sedangkan dalam urusan ketaatan dan taqarrub kepada Allah, maka hendaklah seseorang melihat orang-orang yang berada di atas mereka dan menumbuhkan kesadaran bahwa dirinya masih banyak diliputi dengan berbagai kekurangan serta merasa iri melihat orang-orang yang telah melebihi dirinya. Sehingga memotivasi dirinya untuk sungguh-sungguh berlomba menyaingi mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ</p>
<p>“Bergegaslah kalian menuju ampunan dari Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang diperuntukkan kepada orang-orang yang bertakwa.” (QS Aali Imraan [3]: 133).</p>
<p>Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala menegaskan:</p>
<p>أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ</p>
<p>“Mereka itu berlomba-lomba untuk meraih kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera mengerjakannya.” (QS. Al Mu’minuun [23]: 61).</p>
<p>Allah Ta’ala juga mengingatkan kita dengan firman-Nya:</p>
<p>وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ</p>
<p>“..dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthaffifiin [83]: 26).</p>
<p>Dalam hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:</p>
<p>المُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، واسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ.</p>
<p>”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada mukmin yang lemah, sedangkan pada masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah kamu mencapai sesuatu yang bermanfaat bagimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu merasa tak berdaya”. (HR. Muslim, no. 2664).</p>
<p>Dalam Shahih Bukhari (no. 6122) dan Shahih Muslim (no. 2823), dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:</p>
<p>حُفَّتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ</p>
<p>“Surga itu diliputi oleh hal-hal yang dibenci (oleh hawa nafsu) sedangkan neraka itu diliputi oleh (hal-hal yang disenangi) syahwat.”</p>
<p>Semua yang telah dijelaskan dalam hadits di atas, dilakukan dengan tujuan agar tidak meremehkan dan menganggap sedikit karunia yang telah Allah berikan pada dirinya, yang bisa mendatangkan kemurkaan Allah. Kalau melihat orang yang lebih rendah, maka menjadikan dirinya bersyukur, tawadlu’ dan memuji Allah. (At Taysiir Bi Syarhi al Jaami’ ash Shaghiir karya Imam al Munaawi 1/773 dan Tuhfatul Ahwadzi, 7/182).</p>
<p>Imam Ibnu Rajab al Hambali menyebutkan beberapa atsar dari para imam salafush shaleh terkait dengan hal ini. Kami ambilkan tiga ungkapan tersebut. Mudah-mudahan bisa memberi motivasi kita untuk semangat beramal kebajikan.</p>
<p>Imam Hasan Al Bashri mengatakan:</p>
<p>إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يُنَافِسُكَ فِي الدُّنْيَا فَنَافِسْهُ فِي الآخِرَةِ</p>
<p>“Jika engkau lihat seseorang mengunggulimu dalam urusan dunia, maka unggulilah dia dalam urusan akhirat.”</p>
<p>Wuhaib bin Al Ward mengatakan:</p>
<p>إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ لاَ يَسْبِقَكَ إِلَى اللهِ أَحَدٌ فَافْعَلْ</p>
<p>“Jika kamu mampu untuk tidak ada seorangpun yang mengunggulimu dalam perlombaan menggapai (ridla) Allah, maka lakukanlah.”</p>
<p>Sebagian ulama salaf mengatakan:</p>
<p>لَوْ أَنَّ رَجُلاً سَمِعَ بِأَحَدٍ أَطْوَع للهِ مِنْهُ كَانَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يحزنه ذلِكَ</p>
<p>“Apabila seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat kepada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena hal tersebut.” (Latho-if Ma’arif, hal. 268).</p>
<p>Selesai. Walhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush-shalihaat</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fkitabul-jaami-hadits-2-bag-3-melihat-kepada-yang-lebih-rendah%2F&amp;title=Kitabul%20Jaami%E2%80%99%20Hadits%202%20%28Bag%203%29%3A%20Melihat%20Kepada%20yang%20Lebih%20Rendah" id="wpa2a_4"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-2-bag-3-melihat-kepada-yang-lebih-rendah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitabul Jaami’ Hadits 2 (Bag 2): Melihat Kepada yang Lebih Rendah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-2-bag-2-melihat-kepada-yang-lebih-rendah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-2-bag-2-melihat-kepada-yang-lebih-rendah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 May 2013 03:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kitabul Jaami' dari Bulughul Maram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2721</guid>
		<description><![CDATA[Penjelasan Hadits: Kandungan Hadits ini, bisa kita bagi penjelasannya menjadi dua bagian. Penjelasan Bagian Pertama Dari Hadits: Ketenangan hati tidak akan diperoleh kecuali dengan membaguskan pandangan dan menumbuhkan rasa qana’ah terhadap apapun yang telah Allah bagikan bagi seorang hamba. Maka apabila seseorang telah mampu untuk membuat hatinya menjadi qana’ah dan meresapi serta menghayati segala curahan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Penjelasan Hadits:</p>
<p>Kandungan Hadits ini, bisa kita bagi penjelasannya menjadi dua bagian.</p>
<p>Penjelasan Bagian Pertama Dari Hadits:</p>
<p>Ketenangan hati tidak akan diperoleh kecuali dengan membaguskan pandangan dan menumbuhkan rasa qana’ah terhadap apapun yang telah Allah bagikan bagi seorang hamba. Maka apabila seseorang telah mampu untuk membuat hatinya menjadi qana’ah dan meresapi serta menghayati segala curahan nikmat dari Allah Ta’ala, tatkala itulah ketenangan hati dan perasaan ridla terhadap segala yang diberikan Allah akan terwujud. Kala itu, iapun tidak akan merasa rakus terhadap siapa saja yang Allah beri kelebihan kepada mereka dari perkara-perkara keduniaan dan di kala itu pandangannyapun tidak akan semata-mata tertuju kepada orang-orang yang berada di atasnya menurut ukuran dunia. (Tawdliihul Ahkaam, 7/287).</p>
<p>Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam membimbing umatnya menuju jalan qana’ah dan mununjukkan prinsip-prinsip ridla terhadap segala karunia Allah. Maka beliau memerintahkan mereka untuk melihat orang-orang yang berada di bawah mereka dalam urusan dunia. Karena sebenarnya, setiap hamba, bagaimanapun miskinnya dan apapun sakit yang diderita, tetap saja akan melihat orang-orang yang berada di bawah mereka. Sakit apapun yang dialami, akan menemukan orang yang kondisi penyakitnya lebih parah. Oleh sebab itu, jika mereka merenungi dengan seksama hakekat karunia Allah, maka ia akan mengetahui betapa besarnya karunia Allah Ta’ala kepada mereka. Pandangan yang bijak terhadap ajaran mulia ini akan menjadikan jiwa seseorang menjadi tenang, hatinya bahagia, imannya bertambah, syukurnya kepada Allah meningkat, kesabarannya terhadap ujian yang ditimpakan Allah atas mereka juga meningkat. Semuanya dilakukan hanya karena mengharap pahala di sisi Allah. (Tawdliihul Ahkaam, 7/287-288).</p>
<p>Kata “Fahuwa ajdaru an laa tazdaruu ni’matallaahi ‘alaikum” (karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian -ed) dalam hadits ini, merupakan ‘illat (sebab) perintah dan larangan yang ada dalam hadits ini. (Subulus Salaam, 3/151).</p>
<p>Al Munaawi rahimahullah menjelaskan hadits ini dalam Kitab Faidlul Qodir Syarah (penjelasan kitab) al Jaami’ ash Shoghir (hadits no. 2742): “Apabila seseorang melihat orang di atasnya dalam (urusan) dunia, maka dia akan berambisi mengejarnya, meremehkan nikmat-nikmat Allah yang ada pada dirinya dan dia berambisi untuk mendapatkan yang lebih agara bisa menyainginya atau mendekatinya. Cara mengobati penyakit semacam ini, hendaklah seseorang melihat orang yang berada di bawahnya (dalam masalah harta dan dunia). Dengan melihat yang di bawah, seseorang akan bersyukur terhadap nikmat, tawadlu’ dan memuji Allah.” (Faidlul Qodiir, 3/77).</p>
<p>Terkait daya tarik dunia (materi), Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah mengingatkan kita dengan sabdanya,</p>
<p>لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ</p>
<p>“Sekiranya anak cucu Adam memiliki dua lembah harta niscaya dia tetap masih menginginkan lembah yang ketiga. Sekali-kali tidak akan penuh mulut anak cucu Adam kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat bagi orang yang bertaubat.” (HR. Bukhari, no. 6436 dan Muslim, no. 1048).</p>
<p>Maksud dari ‘orang yang lebih rendah’ di hadits ini adalah dalam urusan dunia. Melihat orang yang diberi ujian sakit. Kemudian membandingkan dengan dirinya yang diberikan kesehatan sebagai modal utama dari berbagai nikmat. Melihat orang yang memiliki kekurangan pada fisiknya, seperti buta, tuli atau bisu. Lalu membandingkan dengan dirinya yang terbebas dari berbagai cacat yang menggelisahkan tersebut. Melihat orang yang diberi ujian dengan kenikmatan dunia, sibuk mengumpulkan berbagai kekayaan dunia tapi tidak mau mengeluarkan kewajiban yang harus ditunaikan. Lalu membandingkan dengan dirinya yang diberi karunia dengan tidak banyak menumpuk harta, tidak disibukkan dengan berbagai urusan harta baik di dunia dan akhirat. Kemudian melihat orang yang diberi ujian kemiskinan yang mencekik atau hutang yang melilit, lalu melihat nikmat yang diterima dengan diselamatkan dari ujian banyak harta atau sebaliknya disertai ketenangan batin dengan berbagai nikmat yang telah Allah berikan padanya. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang diberi ujian dengan kebaikan atau keburukan melainkan pasti akan melihat ada orang yang lebih berat ujiannya. Hal ini menjadikannya lebih tenang dan mensyukuri berbagai nikmat yang ada karena melihat yang lain yang mendapatkan ujian. (Subulus Salaam, 3/151).</p>
<p>المُسْتَوْرِد بن شَدَّاد رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” واللهِ مَا الدُّنْيَا في الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ أُصْبُعَهُ في اليَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ!”</p>
<p>Al Mustaurid bin syadad radliyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ”Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akhirat, melainkan seperti seorang yang memasukan jarinya ke dalam lautan luas, maka perhatikanlah apa yang tersisa” (HR. Muslim, no. 2858).</p>
<p>Nasehat yang sama dengan isi hadits ini, juga pernah disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada shahabat Abu Dzar al Ghifari radliyallahu ‘anhu.</p>
<p>عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي وَأَمَرَنِي أَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أَسْأَلَ أَحَدًا شَيْئًا وَأَمَرَنِي أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أَخَافَ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ وَأَمَرَنِي أَنْ أُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهُنَّ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ</p>
<p>Abu Dzar radliyallahu ‘anhu berkata “Kekasihku Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh perkara padaku: [1] Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, [2] Beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam urusan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku, [3] Beliau memerintahkanku agar menyambung silaturahim meski berusaha menjauh, [4] Beliau memerintahkanku agar tidak meminta apapun kepada seseorang, [5] Beliau memerintahkanku agar berbicara yang benar (al haq) meski terasa pahit [6] Beliau memerintahkanku agar tidak takut celaan orang yang mencela saat memperjuangkan agama Allah, [7] Beliau memerintahkanku agar memperbanyak mengucapkan “Laa hawla walaa quwwata illaa billaah”, karena itu adalah kekayaan yang terpendam di bawah Arsy.”</p>
<p>(HR. Ahmad, 5/159 dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam takhrij Musnad Imam Ahmad dan Syaikh Al Albani dalam Silsilah al Ahaadits ash Shahihah, no. 2166).</p>
<p>Orang yang merenungkan keadaan dirinya lalu mencermati berbagai kelebihan yang dimilikinya, pasti akan menemukan bahwa nikmat-nikmat Allah ta’aalaa begitu melimpah. Terutama nikmat iman, al Qur’an, ilmu, sunnah, kemudian waktu senggang, kesehatan, rasa aman dan lainnya. (Mukhtashar Minhaajil Qoshidin)</p>
<p>‘Aun bin Abdillaah menuturkan: “Dulu saya duduk (bergaul) dengan orang-orang kaya. Saya merasa sedih. Saya melihat pakaian yang lebih baik dari pakaian yang saya kenakan. Saya melihat kendaraan yang lebih baik dari kendaraan yang saya tunggangi. Kemudian saya bergaul dengan orang-orang miskin, barulah saya merasa tenang.” (Ihyaa ‘Uluumiddiin, 2/235).</p>
<p>Kalau kita selalu melihat ke atas dalam urusan dunia, kita merasa terus berada di bawah. Kalau lihat orang kaya kita merasa miskin. Kalau lihat yang ganteng kita merasa jelek. Akhirnya jadi tidak bersyukur. Tapi bila kita biasa melihat saudara-saudara kita yang ditimpa kesulitan, kemiskinan, penyakit, kita bisa bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan pada kita.</p>
<p>bersambung…</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fkitabul-jaami-hadits-2-bag-2-melihat-kepada-yang-lebih-rendah%2F&amp;title=Kitabul%20Jaami%E2%80%99%20Hadits%202%20%28Bag%202%29%3A%20Melihat%20Kepada%20yang%20Lebih%20Rendah" id="wpa2a_6"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-2-bag-2-melihat-kepada-yang-lebih-rendah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitabul Jaami’ Hadits 2 (Bag 1): Melihat Kepada yang Lebih Rendah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-2-bag-1-melihat-kepada-yang-lebih-rendah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-2-bag-1-melihat-kepada-yang-lebih-rendah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 May 2013 06:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kitabul Jaami' dari Bulughul Maram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2714</guid>
		<description><![CDATA[وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Abu Hurairah radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Lihatlah orang yang berada di bawah kalian [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.</p>
<p>Dari Abu Hurairah radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.&#8221; (Muttafaq ‘Alaihi).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Takhrij Hadits:</strong><br />
Hadits dengan redaksi seperti yang disebutkan oleh Imam Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani ini, adalah redaksi hadits yang terdapat di Shahih Muslim no. 2963. Sedangkan yang terdapat di Shahih Bukhari, Kitab ar Riqooq, Bab Liyan-zhur ilaa man huwa asfala minhu walaa yanzhur ilaa man huwa fawqohu, no. 6490 dan Shahih Muslim, Kitab az Zuhd wa ar Roqo-iq, Bab no. 2963 dengan lafadz yang sama adalah dengan redaksi sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;">إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ</p>
<p style="text-align: center;">“Jika salah seorang diantara kalian melihat kepada orang diberikan kelebihan harta dan penampilan lahiriah, maka hendaklah ia melihat orang yang berada di bawahnya.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kedudukan Hadits ini:</strong><br />
Hadits ini merupakan salah satu hadits penting dalam agama yang mulia ini.<br />
Hadits ini adalah obat dari berbagai penyakit, seperti hasad (iri, dengki) dan sejenisnya. (Tathriiz Riyadlish Shalihin, hal. 316).<br />
Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullaah menjelaskan hadits di atas, “Ini merupakan hadits yang mengumpulkan berbagai kebaikan. Karena bila seorang hamba melihat orang yang di atasnya dalam kebaikan, ia menuntut jiwanya untuk ikut bergabung dengan orang yang dilihatnya tersebut. Ia pun mengecilkan keadaannya ketika itu, sehingga ia bersungguh-sungguh untuk menambah kebaikan. Bila dalam perkara dunianya ia melihat kepada orang yang di bawahnya, akan tampak baginya nikmat Allah Ta’aalaa yang terlimpah padanya, maka mendorong jiwanya bersyukur. Inilah makna ucapan Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam di atas. Bila seseorang tidak melakukan anjuran Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tersebut maka keadaannya jadi sebaliknya. Ia terkagum-kagum dengan amalannya sehingga ia malas menambah kebaikan. Ia membelalakkan kedua matanya pada dunia dan berambisi untuk menambahnya. Nikmat Allah Ta’aalaa yang diperolehnya pun diremehkan dan tidak ditunaikan haknya.” (Ikmaalul Mu’lim bi Fawaa’id Muslim, 8/515).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fkitabul-jaami-hadits-2-bag-1-melihat-kepada-yang-lebih-rendah%2F&amp;title=Kitabul%20Jaami%E2%80%99%20Hadits%202%20%28Bag%201%29%3A%20Melihat%20Kepada%20yang%20Lebih%20Rendah" id="wpa2a_8"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-2-bag-1-melihat-kepada-yang-lebih-rendah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitabul Jaami’ Hadits 1 (Bag 7) Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-7-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-7-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Mar 2013 18:39:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kitabul Jaami' dari Bulughul Maram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2694</guid>
		<description><![CDATA[Lanjutan Penjelasan Hadits 1 Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain &#160; 6.       Mengiringi jenazahnya. Mengiringi jenazah hukumnya sunnah. (ad Dur al Muhtaar 1/833, asy Syarh al Kabiir 1/418, al Muhadzdzab 1/136, Mughnil Muhtaaj 1/367, al Majmu’ 5/286 dan al Mughni 2/473). Hal ini berdasarkan hadits al Baraa’ bin ‘Azib radhiyallaahu &#8216;anhu, beliau berkata: أَمَرَنَا رَسُولُ [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Lanjutan Penjelasan Hadits 1 Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>6.       <b>Mengiringi jenazahnya. </b></p>
<p>Mengiringi jenazah hukumnya sunnah. (ad Dur al Muhtaar 1/833, asy Syarh al Kabiir 1/418, al Muhadzdzab 1/136, Mughnil Muhtaaj 1/367, al Majmu’ 5/286 dan al Mughni 2/473).</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits al Baraa’ bin ‘Azib <em>radhiyallaahu &#8216;an</em>hu, beliau berkata:</p>
<p dir="RTL">أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بسبع ، ونهانا عن سبع : أمَرَنَا بعيَادَة المَرِيض ، وَاتِّبَاعِ الجَنَازَةِ</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> memerintahkan kami dengan tujuh hal dan melarang kami dari tujuh perkara. Beliau memerintahkan kami untuk menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah.. (HR. Bukhari, no. 1239 dan Muslim, no. 2066).</p>
<p>Dalam Shahih Bukhari (1325) dan Muslim (945), dari Abu Hurairah <em>radhiyallaahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> menjelaskan keutamaan mengiringi jenazah:</p>
<p dir="RTL">مَنْ شَهِدَ اَلْجِنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ&#8221;. قِيلَ: وَمَا اَلْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ: &#8220;مِثْلُ اَلْجَبَلَيْنِ اَلْعَظِيمَيْنِ.</p>
<p>“Siapa yang menghadiri jenazah hingga jenazah tersebut dishalatkan maka baginya pahal satu qirath. Siapa yang menghadirinya sampai proses pemakaman, maka baginya dua qirath”. Kemudian ditanyakan: “Apakah yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab: “Seperti dua gunung besar.”</p>
<p>Dalam riwayat di Shahih Muslim (2/653) disebutkan: sampai jenazah diletakkan di liang lahat.</p>
<p>Menurut riwayat Bukhari (47) pula dari hadits Abu Hurairah <em>radhiyallaahu &#8216;anhu</em>:</p>
<p dir="RTL">مَنْ تَبِعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا, وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيُفْرَغَ مِنْ دَفْنِهَا فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطَيْنِ, كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ. وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا، ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أنْ تُدْفَنَ ، فَإنَّهُ يَرْجِعُ بِقيرَاطٍ</p>
<p>&#8220;Barangsiapa mengikuti jenazah seorang muslim karena iman dan mengharapkan pahala, ia bersamanya sampai disholatkan dan selesai pemakamannya, maka sesungguhnya ia pulang dengan dua qirath, tiap qirath seperti gunung Uhud. Siapa yang menyalatkan kemudian pulang sebelum dimakamkan maka sesungguhnya ia pulang dengan satu qirath.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.belajarislam.com/hadis-1-kitabul-jaami-3/</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fkitabul-jaami-hadits-1-bag-7-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain%2F&amp;title=Kitabul%20Jaami%E2%80%99%20Hadits%201%20%28Bag%207%29%20Hak%20Muslim%20Atas%20Muslim%20Yang%20Lain" id="wpa2a_10"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-7-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitabul Jaami’ Hadits 1 (Bag 6) Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-6-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-6-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Mar 2013 18:35:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kitabul Jaami' dari Bulughul Maram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2691</guid>
		<description><![CDATA[Lanjutan Penjelasan Hadits 1 Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain &#160; &#160; &#160; 5.       Menjenguk orang sakit. &#160; Ada beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan menjenguk orang yang sakit, antara lain: a. Dari Tsauban radhiyallaahu &#8216;anhu, Rasulullah Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَزَلْ فِى خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ &#8220;Barang siapa yang menjenguk orang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Lanjutan Penjelasan Hadits 1 Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>5.       <b>Menjenguk orang sakit.</b></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan menjenguk orang yang sakit, antara lain:</p>
<p><strong>a</strong><strong>. </strong>Dari Tsauban <em>radhiyallaahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p dir="RTL">مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَزَلْ فِى خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ<strong></strong></p>
<p>&#8220;<em>Barang siapa yang menjenguk orang sakit, ia berada dalam kebun surga sampai ia kembali.</em>&#8221;  (HR. Muslim, no. 2568).</p>
<p><strong>b.</strong><strong> </strong>Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallaahu &#8216;anhu</em> berkata: “Saya mendengar Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p align="right">مَا مِنْ مُسْلِم يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوة إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِي، وَإنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبحَ ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ في الْجَنَّةِ<strong></strong></p>
<p>&#8220;<em>Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya di pagi hari kecuali ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga sore hari. Dan jika menjenguknya di sore hari, ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga pagi, dan baginya satu kebun di surga.</em>&#8221; (HR. Tirmidzi, no. 969. Beliau mengatakan hadits ini hasan gharib).</p>
<p><strong>c.</strong><strong> </strong>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallaahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p dir="RTL">مَنْ عَادَ مَرِيضًا نَادَى مُنَادٍ مِنْ السَّمَاءِ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنْ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا<strong></strong></p>
<p>&#8220;<em>Siapa yang menjenguk orang sakit, maka ada yang menyeru dari langit: “Mudah-mudahan kehidupanmua menjadi baik, langkahmu juga baik dan engkau berhak menempati satu tempat di surga.</em>&#8221; (HR. Tirmidzi no. 2008, Ibnu Majah no. 1443. Ibnu Hibban menshahihkannya sebagaimana yang disebutkan Ibnul Hajar dalam Fathul Baari. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi dan Shahih Sunan Ibnu Majah).</p>
<p><strong>d.</strong><strong> </strong>Dari Jabir bin Abdillah <em>radhiyallaahu &#8216;anhu</em>, ia berkata: Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL">مَنْ عَادَ مَرِيضًا، لَمْ يَزَلْ يَخُوضُ فِي الرَّحْمَةِ حَتَّى يَجْلِسَ، فَإِذَا جَلَسَ اغْتَمَسَ فِيهَا</p>
<p>&#8220;<em>Siapa yang menjenguk orang sakit, ia terus dalam naungan rahmat sehingga duduk. Maka apabila ia duduk, ia tenggelam ke dalamnya.</em>&#8221; (HR. Ahmad 3/304. Dishahihkan Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 2504)</p>
<p><strong>e.</strong><strong> </strong>Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu &#8216;Anhu</em>, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> bersabda, &#8220;Siapa di antara kalian yang berpuasa di pagi ini?&#8221; Abu Bakar menjawab, &#8220;Saya.&#8221; Beliau bertanya, &#8220;Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit hari ini?&#8221; Abu Bakar menjawab, &#8220;Saya.&#8221; Beliau bertanya lagi, &#8220;Siapa di antara kalian yang telah menghadiri jenazah di pagi ini?&#8221; Abu Bakar menjawab, &#8220;Saya.&#8221; Beliau bertanya lagi, &#8220;Siapa di antara kalian yang telah memberi makan orang miskin di pagi ini? Abu Bakar menjawab, &#8220;Saya&#8221;. Kemudian Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> bersabda, &#8220;Tidaklah semua ini terkumpul dalam diri seseorang kecuali pasti ia masuk surga.&#8221; (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 88)</p>
<p>Dalam Shahih Bukhari (5743) dan Muslim (2191), dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha, Nabi <em>Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> pernah menjenguk salah seorang keluarganya. Beliau mengusap bagian tubuh dari orang yang sakit dengan tangan kanannya, seraya berdoa:</p>
<p dir="RTL">اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أذْهِب البَأسَ، اشْفِ أنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفاؤكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقماً</p>
<p>“Ya Allah, Rabb sekalian manusia, hilangkanlah penderitaannya, sembuhkanlah ia karena sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan yang berasal dari-Mu. Kesembuhan yang tidak lagi meninggalkan penyakit.”</p>
<p>Dalam riwayat lain dari Anas bin Malik <em>radhiyallaahu &#8216;anhu</em>, di Shahih Bukhari (5742), diriwayatkan dengan lafadz yang sedikit berbeda:</p>
<p dir="RTL">اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، <span style="text-decoration: underline;">مُذْهِبَ</span> البَأسِ، اشْفِ أنْتَ الشَّافِي، لاَ شَافِيَ إِلاَّ أنْتَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقماً</p>
<p>“Ya Allah, Rabb sekalian manusia, Yang Menghilangkan penderitaan, sembuhkanlah ia karena sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada yagn menyembuhkan melainkan Engkau. Kesembuhan yang tidak lagi meninggalkan penyakit.”</p>
<p>Banyak hikmah yang terdapat dalam ibadah ini, antara lain adalah, akan menguatkan tali persaudaraan dan menguatkan perasaannya dan membuatnya begitu berarti di mata saudara-saudaranya.</p>
<p>Nabi <em>Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> tidak hanya menganjurkan kaum muslimin untuk menjenguk orang sakit. Beliau sendiri memberi teladan langsung. Beliau menjenguk orang sakit, menghiburnya, mendoakannya, dan meringankan beban-bebannya. Shahabat Utsman bin ‘Affan <em>Radhiyallaahu &#8216;Anhu</em> berkata: &#8220;Demi Allah, sungguh kami sering menemani Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> dalam safar maupun muqim. Beliau menjenguk yang sakit di antara kami, mengantarkan jenazah orang yang meninggal diantara kami, berperang bersama kami dan membantu kami dengan yang sedikit dan banyak.&#8221; (HR. Ahmad)</p>
<p>Banyak riwayat yang menunjukkan Nabi <em>Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> menjenguk sebagian sahabatnya yang sakit. Dalam Shahih Bukhari, beliau pernah menjenguk seorang anak Yahudi yang masih kecil, lalu mengajaknya masuk Islam sehingga ia menjadi seorang Muslim.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.belajarislam.com/hadis-1-kitabul-jaami-3/</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fkitabul-jaami-hadits-1-bag-6-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain%2F&amp;title=Kitabul%20Jaami%E2%80%99%20Hadits%201%20%28Bag%206%29%20Hak%20Muslim%20Atas%20Muslim%20Yang%20Lain" id="wpa2a_12"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-6-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitabul Jaami’ Hadits 1 (Bag 5) Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-5-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-5-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Mar 2013 18:32:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kitabul Jaami' dari Bulughul Maram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2689</guid>
		<description><![CDATA[Lanjutan Penjelasan Hadits 1 Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain &#160; &#160; 4.       Mendoakan ketika bersin lalu mengucapkan hamdalah. Yaitu dengan mengucapkan “yarhamukallahu” setelah saudara kita bersin dan mengucapkan hamdalah (alhamdulillah). Ia pun juga disyariatkan ketika mendengar ada yang mendoakannya untuk membalas dengan doa, “yahdikumullah wa yushlihu baalakum”. Tata cara tersebut dijelaskan dalam hadits Abu [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Lanjutan Penjelasan Hadits 1 Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>4.       <b>Mendoakan ketika bersin lalu mengucapkan hamdalah. </b></p>
<p>Yaitu dengan mengucapkan “<i>yarhamukallahu</i>”<i> </i>setelah saudara kita bersin dan mengucapkan hamdalah (<i>alhamdulillah</i>). Ia pun juga disyariatkan ketika mendengar ada yang mendoakannya untuk membalas dengan doa, “<i>yahdikumullah wa yushlihu baalakum</i>”.</p>
<p>Tata cara tersebut dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassallam:</p>
<p dir="RTL">إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ يَرْحَمُكَ اَللَّهُ، فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اَللَّهُ، فَلْيَقُلْ: يَهْدِيكُمُ اَللَّهُ, وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ</p>
<p>&#8220;Apabila salah seorang di antara kalian bersin, maka ucapkanlah “alhamdulillah”, dan hendaknya saudaranya mengucapkan untuknya “yarhamukallaah”. Apabila ia mengucapkan kepadanya “yarhamukallaah”, hendaklah ia (orang yang bersin) mengucapkan “yahdii kumullaah wa yushlihu baalakum”. (artinya: Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki hatimu).&#8221; (HR. Bukhari 6224).</p>
<p>Penjelasan lebih lanjut hadits ini, insya Allah akan dibahas dalam hadits ke 10 pada kitabul Jaami’ dari Bulughul Maraam ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.belajarislam.com/hadis-1-kitabul-jaami-3/</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fkitabul-jaami-hadits-1-bag-5-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain%2F&amp;title=Kitabul%20Jaami%E2%80%99%20Hadits%201%20%28Bag%205%29%20Hak%20Muslim%20Atas%20Muslim%20Yang%20Lain" id="wpa2a_14"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-5-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitabul Jaami’ Hadits 1 (Bag 4) Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-4-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-4-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Mar 2013 18:26:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kitabul Jaami' dari Bulughul Maram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2685</guid>
		<description><![CDATA[Lanjutan Penjelasan Hadits 1 Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain &#160; &#160; &#160; 3.       Memberikan nasehat. &#160; Kita wajib memberi nasihat yang baik kepada saudara kita bila yang bersangkutan memintanya. Tidak boleh mempermainkan mereka saat mereka membutuhkan nasehat, apalagi membohongi karena hal itu termasuk pengkhianatan baginya. Dalam hadits di Shahih Bukhari (No. 57) dan Muslim [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Lanjutan Penjelasan Hadits 1 Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>3.       <b>Memberikan nasehat.</b></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kita wajib memberi nasihat yang baik kepada saudara kita bila yang bersangkutan memintanya. Tidak boleh mempermainkan mereka saat mereka membutuhkan nasehat, apalagi membohongi karena hal itu termasuk pengkhianatan baginya.</p>
<p>Dalam hadits di Shahih Bukhari (No. 57) dan Muslim (No. 45) dari Hadits Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan:</p>
<p dir="RTL">بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ</p>
<p>“Saya telah membai’at Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassallam untuk tetap menegakkan shalat, mengeluarkan zakat dan memberi nasehat kepada setiap muslim.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Shahabat Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassallam tbersabda:</p>
<p dir="RTL" align="center">لاَ يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأخِيهِ مَا يُحِبُّ لنَفْسِهِ</p>
<p>“Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri.”  (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45).</p>
<p>Imam al Khaththabi menjelaskan bahwa nasehat artinya  menginginkan kebaikan untuk orang yang diberi nasehat. (Syarh Syifa, 3/602).</p>
<p>Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassallam menegaskan pentingnya nasehat ini dalam sabda-nya:</p>
<p dir="RTL">اَلدِّينُ اَلنَّصِيحَةُ&#8221;. قُلْنَا: لِمَنْ يَا رَسُولَ اَللَّهِ? قَالَ:&#8221; لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ اَلْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ.</p>
<p>“Agama itu adalah nasehat”. Kami tanyakan: “Kepada siapa, wahai Rasulullah?” Beliau jawab: “Kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para imam kaum muslimin dan khalayak kaum muslimin.” (HR. Muslim, no. 55 dari shahabat Tamim ad Daari radliyallahu ‘anhu).</p>
<p>Imam Bukhari membuat judul bab di akhir kitab Iman dalam shahih Bukhari, untuk karena pentingnya hadits ini dan menjadi inti ajaran Islam. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam al ‘Aini dalam bukunya ‘Umdatul Qoori (2/358).</p>
<p>Maksud dari memberi nasehat kepada khalayak kaum muslimin adalah memberikan arahan pada kemaslahatan dunia dan akhirat mereka, menolong mereka, menutup aib (kejelekan) mereka, menolak mudlarat yang bisa menimpa mereka, memberi manfaat bagi mereka, mengajak mereka berbuat sayang dan ikhlas, menghormati yang tua di kalangan mereka, berlaku lemah lembut dengan yang lebih muda, menasehat mereka, tidak menipu dan berlaku hasad kepada mereka, mencintai mereka seperti mencintai dirinya sendiri, membenci semua yang mereka benci jika terjadi pada dirinya. (Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi 1/397, Fathul Baari 1/138, Asy Syarhush Shaghiir 4/742, Tawdliihul Ahkaam, 7/284 dan Dalilul Faalihiin lithuruqi Riyadlish Shaalihiin 1/459).</p>
<p>Memberi nasehat itu hukumnya fardlu kifayah. Jika sudah ada yang mengerjakan dalam kadar yang cukup maka kewajiban tersebut gugur bagi yang lain. Memberi nasehat harus dikerjakan sesuai kadar kemampuan seseorang. (Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi 1/399, Subulus Salaam 4/211 dan Tawdliihul Ahkaam, 7/284).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.belajarislam.com/hadis-1-kitabul-jaami-3/</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fkitabul-jaami-hadits-1-bag-4-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain%2F&amp;title=Kitabul%20Jaami%E2%80%99%20Hadits%201%20%28Bag%204%29%20Hak%20Muslim%20Atas%20Muslim%20Yang%20Lain" id="wpa2a_16"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-4-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitabul Jaami’ Hadits 1 (Bag 3) Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-3-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-3-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Mar 2013 18:23:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kitabul Jaami' dari Bulughul Maram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2679</guid>
		<description><![CDATA[Lanjutan Penjelasan Hadits 1 Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain: &#160; &#160; 2.  Memenuhi undangan. Memenuhi undangan sesama kaum muslimin sangat dianjurkan. Baik undangan pernikahan atau undangan kegiatan mubah lainnya. Allah Subahaanahu Wa Ta’aalaa telah berfirman: وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا “Tetapi jika kamu dipanggil maka masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Lanjutan Penjelasan Hadits 1 Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.  <b>Memenuhi undangan.</b></p>
<p>Memenuhi undangan sesama kaum muslimin sangat dianjurkan. Baik undangan pernikahan atau undangan kegiatan mubah lainnya.</p>
<p>Allah Subahaanahu Wa Ta’aalaa telah berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا</p>
<p><em>“Tetapi jika kamu dipanggil maka masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu”</em> (QS. Al Ahzaab: 53).</p>
<p>Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (No. 3740), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:</p>
<p dir="RTL">إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُجِبْ عُرْسًا كَانَ أَوْ نَحْوَهُ</p>
<p>“Bila salah seorang diantara kalian mengundang saudaranya, maka hendaklah ia memenuhi undangan tersebut. Baik undangan tersebut berupa walimah urs (resepsi pernikahan) atau yang sejenisnya.”</p>
<p>Dalam lafadz yang lain di Shahih Bukhari (No. 5174) dan Muslim (No. 1429) disebutkan,</p>
<p dir="RTL">إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا</p>
<p>“Apabila salah seorang diantara kalian diundang untuk menghadiri walimatul urs (resepsi pernikahan), maka hendaklah ia menghadirinya.”</p>
<p>Sedangkan  hadits yang berisi ancaman bahwa yang tidak menghadiri undangan telah durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya, adalah hadits dla’if (lemah) yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud (No. 3743), yang redaksinya:</p>
<p dir="RTL">&#8220;مَنْ دُعِيَ فَلَمْ يُجِبْ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ&#8221;</p>
<p>“Siapa yang diundang kemudian tidak memenuhinya, maka sungguh ia telah duhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya.”</p>
<p>Menghadiri walimatul ‘urs hukumnya wajib ain (fardlu ‘ain) bagi setiap yang diundang. (Jawaahir al Ikliil 1/325, Mughnil Muhtaaj 3/244,  al Mughni karya Ibnu Qudamah 7/1, Syarhus Sunnah karya Imam al Baghawi 9/132 dan Subulus Salaam 3/325).</p>
<p>Untuk udangan selain walimah, maka hukum menghadirinya sunnah. Tidak wajib. (Al Mughni 7/11, Hasyiyah al Qolyuubi 3/295, Al Fataawa al Hindiyah,5/343, Asy Syarh al Kabiir ma’a Haasyiyah ad Dasuuqiy 2/337).</p>
<p>Jika undangan tersebut berasal dari orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan fasik, maka ulama hanafiyah menegaskan bahwa undangan tersebut tidak dipenuhi. Supaya yang bersangkutan tahu bahwa yang diundang tidak rela dengan perbuatan fasiknya. Demikian pula undangan dari orang yang mayoritas hartanya berasal dari sumber haram. Kecuali jika yang bersangkutan tidak memberitahukan bahwa hartanya bersumber dari penghasilan yang halal. (Al Fataawa al Hindiyah,5/343).</p>
<p>Diantara hikmahnya adalah dapat menyenangkan hati yang mengundang. Namun apabila dalam acara undangan tersebut terdapat hal-hal yang melanggar ketentuan syariat dan kita tidak bisa mengubahnya, maka kita tidak berkewajiban untuk mendatanginya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.belajarislam.com/hadis-1-kitabul-jaami-2/</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fkitabul-jaami-hadits-1-bag-3-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain%2F&amp;title=Kitabul%20Jaami%E2%80%99%20Hadits%201%20%28Bag%203%29%20Hak%20Muslim%20Atas%20Muslim%20Yang%20Lain" id="wpa2a_18"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-3-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitabul Jaami&#8217; Hadits 1 (Bag 2) Hak Muslim Atas Muslim Yang Lain</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-2-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-2-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 01:02:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kitabul Jaami' dari Bulughul Maram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2665</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Penjelasan Hadits: Hadits ini menjelaskan hak-hak sesama kaum muslimin. Masing-masing hak ini, hukumnya beragam. Ada yang hukumnya wajib dan ada juga yang sunnah. Berikut ini, keenam hak-hak yang disebutkan dalam hadits tersebut: &#160; Menebarkan salam. Perbuatan ini termasuk dalam perilaku yang akan semakin mempererat kecintaan kita terhadap sesama muslim, sebagaimana yang telah juga disabdakan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<h4><span style="text-decoration: underline;">Penjelasan Hadits:</span></h4>
<p>Hadits ini menjelaskan hak-hak sesama kaum muslimin. Masing-masing hak ini, hukumnya beragam. Ada yang hukumnya wajib dan ada juga yang sunnah.</p>
<p>Berikut ini, keenam hak-hak yang disebutkan dalam hadits tersebut:</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><b>Menebarkan salam.</b> Perbuatan ini termasuk dalam perilaku yang akan semakin mempererat kecintaan kita terhadap sesama muslim, sebagaimana yang telah juga disabdakan oleh Nabi <i>shalallahu ‘alaihi wassalam, </i></li>
</ol>
<p dir="RTL">لا تَدْخُلُون الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أوَلاَ أدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أفْشُوا السَّلامَ بينكم</p>
<p> “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Ketahuilah, maukah kalian aku tunjukkan pada sebuah amalan yang jika kalian mengerjakannya, kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian” (HR. Muslim, no. 54).</p>
<p>Para ulama sepakat bahwa mengawali mengucapkan salam hukumnya adalah sunnah (dianjurkan). Adapun menjawab salam, maka hukumnya adalah wajib. (Tafsir al Qurthubi 5/297-304, Fathul Baari 11/2, 12-14, Ashalul Madaarik 3/351-353 dan Syarhul Minhaaj 4/215).</p>
<p>Jika yang diberi salam itu jamaah (beberapa orang), maka hukumnya fardlu kifayah. Maka jika sudah ada salah satu yang menjawab, kewajiban ini gugur dari yang lain. Jika semuanya ikut menjawab maka semuanya turut melaksanakan kewajiaban ini, baik menjawab salamnya ini dilaksanakan bersama-sama atau bergantian. Jika semuanya tidak mau menjawab salam, maka semuanya berdosa. (Al Mawsu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyah, 11/314).</p>
<p>Mengucapkan salam di sini dilakukan dengan menggunakan salam yang kita kenal dalam Islam, yaitu “<i>Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh” </i>(atau cukup dengan <i>“Assalamu’alaikum”</i>) bukan dengan selamat pagi, selamat siang atau selamat sore. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa menjawab ucapan selamat selain dengan ucapan salam itu tidak wajib. Baik ungkapan selamat tersebut disampaikan secara lisan, dengan isyarat jari, telapak tangan atau kepala. (Raudlatuth Thaalibin 10/233, Mughnil Muhtaaj 4/214, Nihayatul Muhtaaj 8/48, al Inshaaf 4/233 dan al Adzkaar Imam Nawawi 234).</p>
<p>Lafadz salam yang sempurna adalah “Assalaamu’alaikum” atau Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh. Dengan menggunakan bentuk isim ma’rifat “Assalaaamu” bukan Salaamun. Juga menggunakan bentuk jamak “’alaikum”. Baik yang diberi salam itu satu orang atau jamaah beberapa orang. Inilah yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf shaleh. Meskipun menggunakan ungkapan “Salaamun ’alaikum” juga boleh tetapi “Assalaamu’alaikum” lebih utama.  (Al Mawsu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyah, 25/157-158).</p>
<p>Menjawab ucapan salam bukan dengan Wa’alaikumussalaam, menurut kebanyakan  ulama, tidak menggugurkan kewajiban. Karena Allah Ta’aala telah berfirman:</p>
<p dir="RTL">{وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا}</p>
<p><em>“Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (penghormatan itu yang sepadan) dengannya.”</em> (QS. An Nisaa’: 86)</p>
<p>Dalam ayat tersebut jelas ditegaskan keharusan menjawab dengan yang sama atau sepadan. Jadi tidak cukup dengan jawaban lain selain salam. (Al Fawaakih ad Dawaani 2/423, Al Jumal ‘Ala Syarhil Minhaaj 5/188 dan Tafsir Ibnu Katsir 2/351)</p>
<p>Dalam al Mawsu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyah dijelaskan tentang salam kepada lawan jenis, yang ringkasnya dapat disimpulkan sebagai berikut: Ucapan salam sesama wanita dianjurkan sebagaimana ucapan salam sesama laki-laki. Demikian pula menjawab salam sesama wanita hukumnya sama dengan menjawab salam sesama laki-laki. Sedangkan memberi salam dari laki-laki kepada wanita, maka bisa dibagi menjadi 2 keadaan:</p>
<ol>
<li>Jika wanita tersebut adalah <em>istri, ibu atau mahram</em> lainnya, maka hukumnya sunnah dan fihak wanita wajib menjawab salam tersebut.  Bahkan seorang laki-laki dianjurkan memberi salam kepada keluarga dan penghuni rumahnya.</li>
<li>Jika wanita tersebut <em>bukan mahramnya</em>, maka ada dua kemungkinan:</li>
</ol>
<ul>
<li> Jika wanita tersebut sudah <em>berusia lanjut</em>, maka memberi salam tersebut hukumnya sunnah dan wanita tersebut berkewajiban menjawab salam.</li>
</ul>
<ul>
<li>Jika wanita tersebut <em>masih muda dan dikhawatirkan menimbulkan fitnah</em> baik bagi fihak laki-laki atau fihak wanita, maka ada 2 pendapat di kalangan ulama:</li>
</ul>
<ol>
<li>Makruh menurut ulama Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah.</li>
<li>Ulama Hanafiyyah mengatakan bahwa menjawab salamnya cukup di dalam hati. Jika ada seorang wanita memberi salam kepada laki-laki, maka dijawab di dalam hati. Demikian pula sebaliknya. Jika yang memberi salam adalah laki-laki, maka fihak wanita menjawab di dalam hati. Sedangkan ulama Syafi’iyah mengharamkan menjawab salam kepada laki-laki.</li>
</ol>
<p>Sedangkan salamnya seorang laki-laki kepada kaum wanita dalam jumlah banyak, dibolehkan. Demikian pula salamnya beberapa laki-laki kepada satu orang wanita juga dibolehkan jika aman dari fitnah. Dalil yang menjadi dasar bolehnya seorang laki-laki member salam kepada kaum wanita dalam jumlah banyak, adalah hadits Asma binti Yazid radliyallahu ‘anha, beliau berkata: “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melewati beberapa wanita kemudian beliau member salam kepada kami.” (HR Abu Daud 5/383 dan Tirmidzi 5/58 dan Ibnu Majah, no 3701. Imam Tirmidzi menghasankan hadits ini).</p>
<p>Dalam Shahih Bukhari, Imam Bukhari membuat judul bab: <em>Taslim al-Rijaal ‘alaal-Nisaa’ wa al-Nisaa’ ‘ala al-Rijaal</em> (Bab salamnya kaum laki-laki kepada kaum wanita dan kaum wanita kepada kaum laki-laki). Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani dalam <em>Fathul Baari</em> (11/33) mengomentari bab tersebut dengan mengatakan: “Imam al-Bukhari mengisyaratkan dalam bab ini pada bantahan riwayat yang dikeluarkan oleh Abdurrazaq dari Ma’mar, dari Yahya bin Abi Katsir yang berisi makruhnya kaum lelaki mengucapkan salam kepada kaum wanita dan sebaliknya. Riawayat ini statusnya maqthu’ (riwayatnya berhenti sampai pada tabi’in) dan mu’dhal. Kemudian Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa maksud dari bolehnya ini (kaum lelaki mengucapkan salam kepada kaum wanita dan sebaliknya) ketika aman dari fitnah. Ibnul Hajar <em>rahimahullah</em> juga menukil ucapan Ibnu Bathal dari al-Muhallab, “Salamnya kaum lelaki kepada kaum wanita (bukan mahram) dan kaum wanita kepada kaum lelaki hukumnya boleh boleh, apabila aman dari fitnah.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.belajarislam.com/hadis-1-kitabul-jaami-2/</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fkitabul-jaami-hadits-1-bag-2-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain%2F&amp;title=Kitabul%20Jaami%E2%80%99%20Hadits%201%20%28Bag%202%29%20Hak%20Muslim%20Atas%20Muslim%20Yang%20Lain" id="wpa2a_20"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/kitabul-jaami-hadits-1-bag-2-hak-muslim-atas-muslim-yang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
