<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ustadz Ridwan Hamidi</title>
	<atom:link href="http://ustadzridwan.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzridwan.com</link>
	<description>رضوان حامدي الإندونيسي</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Sep 2010 11:32:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>DERAJAT HADITS KEUTAMAAN BERGEMBIRA MENYAMBUT BULAN RAMADHAN</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/944/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/944/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 17:44:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[bergembira]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[derajat]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Menyambut]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=944</guid>
		<description><![CDATA[SOAL: assalamu alaikum.. ana mau tanyakan tentang hadist  ”kegembiraan seseorang menanti bulan ramadhan adalah surga” apa shahih sukran jazakumullahu khairan (Abdul Mun’im)
JAWAB: Wa’alaikum salam warahmatullah, teks hadits yang antum sebutkan belum kami dapatkan dalam buku-buku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SOAL</strong>: assalamu alaikum.. ana mau tanyakan tentang hadist  ”<em>kegembiraan seseorang menanti bulan ramadhan adalah surga</em>” apa shahih sukran jazakumullahu khairan (Abdul Mun’im)</p>
<p><strong>JAWAB:</strong> Wa’alaikum salam warahmatullah, teks hadits yang antum sebutkan belum kami dapatkan dalam buku-buku hadits mu’tabar  namun ada sebuah hadits yang semakna dan cukup populer di sebagian masyarakat kita yang berbunyi :</p>
<p dir="rtl">مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ</p>
<p><em>“Barangsiapa yang bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan niscaya Allah mengharamkan jasadnya dari neraka”</em></p>
<p><strong>Takhrij</strong> : Hadits ini disebutkan oleh Al Khubawi (penulis kitab Durratun Nashihin) dalam kitabnya tanpa menyebutkan sanad dan sumbernya.</p>
<p><span id="more-944"></span></p>
<p>Perlu kami ingatkan bahwa sebagian buku-buku yang menjadi pegangan masyarakat kita banyak memuat hadits-hadits lemah dan palsu; diantara kitab-kitab tersebut adalah Ihya’ Ulumiddin yang mana hadits-haditsnya telah ditakhrij olrh Imam Al ‘Iraqi, kitab Irsyad Al ‘Ibad oleh Zainuddin Al Malaibari,   kitab Tanbihul Ghafilin oleh Abu Layts As Samarqandi dan kitab Durratun Nashihin oleh Al Khubawi. Kitab yang terakhir ini telah diteliti oleh Ustadz DR. Ahmad Lutfi Fathulloh, MA pada disertasi doktor beliau dalam bidang hadits di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Dalam disertasi tersebut beliau menyimpulkan bahwa kitab Durratun Nashihin sangat banyak memuat hadits-hadits lemah, palsu bahkan yang tidak memiliki asal sama sekali.</p>
<p>Untuk hadits di atas beliau menghukuminya sebagai hadits maudhu’/palsu. Beliau menjelaskan, “<em>Melihat lafaz dan kandungan hadits ini, ia mempunyai ciri-ciri hadits palsu, yaitu satu amalan kecil yang menjanjikan pahala yang begitu besar. Alasan kedua adalah hadits ini tidak dijumpai dalam kitab-kitab hadits yang mu’tabar, termasuk dalam kitab-kitab yang mengandung hadits-hadits dha’if, maka hadits ini dapat digolongkan sebagaimana yang dikenali dalam istilah ilmu hadits dengan <strong>la yu’raf lahu ashlun</strong> atau <strong>la ashla lahu</strong> (tidak diketahui sumber asalnya), ini akan menyebabkan hadits itu dihukumi palsu. Oleh karena itu, hadits ini adalah palsu karena sebab di atas.”</em> (lihat buku : Hadits-hadits Lemah dan Palsu dalam Kitab Durratun Nashihin oleh DR. Ahmad Lutfi Fathullah,  halaman 75)</p>
<p><strong>Kesimpulan </strong>: Hadits yang antum tanyakan tidak didapatkan dalam buku-buku hadits yang mu’tabar oleh karena itu tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah shallallohu alaihi wasallam hingga kita mendapatkan sanadnya yang diriwayatkan dengan derajat shohih atau hasan. Namun demikian tidak berarti seorang muslim tidak dianjurkan bergembira dengan kedatangan bulan suci Ramadhan, bahkan sudah sepatutnya Ramadhan yang merupakan keutamaan dan rahmat yang Allah datangkan kepada kita disambut dengan kesyukuran dan penuh suka cita yang dibuktikan dengan memperbanyak amal sholeh di dalamnya. Allah Azza wa Jalla berfirman (artinya), <em>Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. </em>(QS. Yunus ayat 58), <strong>Wallohu a’lam bish shawab wahuwa waliyyut taufiq.</strong></p>
<p>http://markazassunnah.wordpress.com/2009/08/22/derajat-hadits-keutamaan-bergembira-menyambut-bulan-ramadhan/</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/944/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits 14 Kitab Shaum dari Shahih Bukhari</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/hadits-14-kitab-shaum-dari-shahih-bukhari/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/hadits-14-kitab-shaum-dari-shahih-bukhari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 17:31:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Shaum-Shahih Bukhari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=942</guid>
		<description><![CDATA[حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ<br />
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi&#8217;b telah menceritakan kepada kami Sa&#8217;id Al Maqburiy dari bapaknya dari Abu Hurairah radliallahu &#8216;anhu berkata; Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan keji dan berbuat keji, Allah tidak butuh orang itu meninggalkan makan dan minumnya&#8221;.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/hadits-14-kitab-shaum-dari-shahih-bukhari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGUAK TABIR LAILATUL QADAR</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/menguak-tabir-lailatul-qadar/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/menguak-tabir-lailatul-qadar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 17:23:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ramadlan]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul]]></category>
		<category><![CDATA[MENGUAK]]></category>
		<category><![CDATA[QADA]]></category>
		<category><![CDATA[tabir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=937</guid>
		<description><![CDATA[MENGUAK TABIR LAILATUL QADAR


 
I. Muqaddimah
Diantara hikmah dalam penciptaan Allah Azza wa Jalla adalah Dia memilih diantara ciptaan-Nya siapa yang dikehendaki lalu mengutamakannya atas sebagian yang lain. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><a title="MENGUAK TABIR LAILATUL QADR" href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/">MENGUAK TABIR LAILATUL QAD</a>AR</strong></h2>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>I. Muqaddimah</strong></p>
<p>Diantara hikmah dalam penciptaan Allah Azza wa Jalla adalah Dia memilih diantara ciptaan-Nya siapa yang dikehendaki lalu mengutamakannya atas sebagian yang lain. Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p>وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ</p>
<p><em>Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. </em>(QS. Al Qashash: 68)</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan ayat tersebut dengan perkataannya: <em>“Yang dimaksud dengan al ikhtiyar adalah pemilihan dan penyeleksian jadi maknanya memilih setelah menciptakan”</em> <a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftn1">(1)</a></p>
<p>Diantara bukti dan dalil adanya <em>ikhtiyar</em> (pemilihan) diantara sekian banyak makhluk adalah Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutamakan surga Firdaus dari seluruh jenis surga yang ada, Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil merupakan tiga malaikat yang paling utama dari sekian banyak malaikat, Para <em>ulul azmi</em> lebih utama dari para nabi dan rasul yang lain, Para sahabat dipilih untuk menjadi generasi yang terbaik dan diantara sahabat ada yang lebih afdhal dari yang selainnya, Ummat ini dipilih untuk menjadi ummat yang paling afdhal dibandingkan ummat-ummat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala mengutamakan sebagian tempat dan negeri dibandingkan tempat-tempat yang lain dan yang paling afdhal adalah negeri Haram (Tanah Mekkah), termasuk dalam hal ini adalah Allah subhanahu wa ta’ala memilih dan mengutamakan sebagian waktu dari yang lainnya; dimana hari yang terbaik di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dalam setahun adalah hari raya kurban, bulan yang terbaik adalah bulan Ramadhan dan malam yang terbaik adalah <em>lailatul qadr </em>yang<em> </em>lebih utama dari 1000 bulan.</p>
<p><span id="more-937"></span></p>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang yang mana afdhal sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah atau sepuluh akhir bulan Ramadhan ? Pendapat yang dipilih oleh Imam Ibnul Qayyim adalah jika dipandang waktu paginya maka sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih afdhal karena di dalamnya terdapat hari <em>tarwiyah</em>, hari Arafah dan hari raya kurban. Adapun jika dilihat waktu malamnya maka sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih afdhal karena padanya terdapat <em>lailatul qadr</em>.<a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftn2">(2)</a></p>
<p><strong>II.  Makna Lailatul Qadr</strong></p>
<p>Al Qadr dalam bahasa Arab dan sesuai pemakaiannya dalam Al Quran memiliki beberapa makna, antara lain:</p>
<ol>
<li>Keagungan dan kemuliaan,      sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:</li>
</ol>
<p>وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ<strong>… </strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya …”</em>(QS. Al An&#8217;am: 91 dan Az Zumar: 67, lihat juga QS. Al Hajj:74)</p>
<p>Dengan demikian makna <em>lailatul qadr</em> adalah malam yang agung dan mulia, makna ini ditunjukkan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al Qadr:</p>
<p>لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ</p>
<p><em>Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan </em>(QS. Al Qadr: 3)</p>
<p>Dan ini ditunjukkan juga dengan bentuk pertanyaan yang menunjukkan keutamaannya:</p>
<p>وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ</p>
<p><em>Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?</em> (QS. Al Qadr: 2)</p>
<p>Malam tersebut mulia karena pada saat itu turun kitab yang termulia yang dibawa oleh malaikat yang memiliki kemuliaan dan diturunkan kepada Nabi dan ummat yang termulia. Kemuliaan ini berlaku juga bagi pelaku kebaikan pada malam itu maksudnya siapa yang melakukan ketaatan pada malam tersebut menjadi mulia dan agung karena amalan pada malam tersebut lebih banyak pahalanya dan lebih besar peluangnya untuk diterima</p>
<p>b.  Sempit; makna ini banyak digunakan dalam Al Quran sebagaimana yang ditunjukkan dalam beberapa firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini:</p>
<p>اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ<strong> </strong><strong> </strong></p>
<p><em>Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendakinya</em> (QS. Ar Ra&#8217;ad: 26)</p>
<p>إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا<strong> </strong></p>
<p><em>Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.</em> (QS. Al Isra’: 30)</p>
<p>وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ<strong> </strong></p>
<p><em>Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu. berkata: &#8220;Aduhai. benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)&#8221;.</em> (QS. Al Qashash: 82)</p>
<p>اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ</p>
<p><em>Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</em> (QS. Al Ankabut: 62)</p>
<p>أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ</p>
<p><em>Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. </em>(QS. Ar Ruum: 37)</p>
<p>قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ<strong> </strong></p>
<p><em>Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui&#8221;. </em>(QS. Saba’: 36)</p>
<p>قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ <strong> </strong></p>
<p><em>Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)&#8221;. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya. </em>(QS. Saba’: 39)</p>
<p>أَوَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ</p>
<p><em>Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman. </em>(QS. Az Zumar: 52)</p>
<p>لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ</p>
<p><em>Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. </em>(QS. Asy Syuro: 12)</p>
<p>وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا ءَاتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا ءَاتَاهَا</p>
<p><em>Dan orang yang sempit/terbatas rezkinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. </em>(QS. Ath Thalaq: 7)</p>
<p>Dengan demikian salah satu makna <em>lailatul qadr</em> adalah malam yang sempit; malam tersebut disebut sebagai malam yang sempit karena bumi pada malam tersebut menjadi penuh sesak disebabkan banyaknya malaikat yang turun pada malam tersebut</p>
<p>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ:    إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ أَوْ تَاسِعَةٍ وَعِشْرِينَ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الْأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى (رواه أحمد (</p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda tentang lailatul qadr,<em> “Sesungguhnya lailatul qadr pada malam dua puluh tujuh atau dua puluh sembilan, sesungguhnya jumlah malaikat pada malam itu di bumi lebih banyak dari jumlah batu kerikil” </em>(HR. Ahmad dan dinyatakan hasan oleh Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no 2205)</p>
<p>Diantara pengertian sempit adalah ilmu tentang malam tersebut disempitkan (dibatasi) sehingga tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya secara pasti</p>
<ol>
<li>Menjelaskan dan menetapkan      ukuran serta kadar sesuatu,</li>
</ol>
<p>sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:</p>
<p>] الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ <span style="text-decoration: underline;">فَقَدَّرَهُ    تَقْدِيرًا </span>[</p>
<p><em>yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan <span style="text-decoration: underline;">Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya</span>. </em>(QS. Al Furqan: 2)</p>
<p>Dalam ayat yang lain,</p>
<p>] وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا <span style="text-decoration: underline;">وَقَدَّرَ</span> فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ [</p>
<p><em>Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan <span style="text-decoration: underline;">Dia menentukan padanya kadar</span> makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. </em>(QS. Fushshilat: 10)</p>
<p>Malam tersebut dinamakan malam penetapan dan keputusan karena padanya Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan apa yang akan terjadi pada tahun tersebut hingga tahun berikutnya berupa hujan, rezki, hidup, mati, dan hal-hal yang penting lainnya.</p>
<p>Makna ini yang dipilih oleh banyak ahli tafsir dari kalangan salaf diantaranya ; Abdullah bin Abbas, Hasan Al Bashri, Mujahid, Said bin Jubair dan Qatadah <em>rahimahumullohu jami'an wa radhiya 'anhum</em>.</p>
<p>Makna ini dijelaskan dalam firman Allah di surat Ad Dukhân:</p>
<p>﴿ حم(1)وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ(2)إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ(3)فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ﴾</p>
<p><em>Haa Miim. Demi Kitab (Al Qur'an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi (lailatul qadr) dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. <span style="text-decoration: underline;">Pada malam itu ditetapkan segala urusan yang penuh hikmah</span> </em>(QS. Ad Dukhaan: 1-4)</p>
<p>Firman Allah subhanahu wa ta’ala:</p>
<p>]  تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ [</p>
<p><em>Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan</em> (QS. Al Qadr: 4)</p>
<p><strong>III. Keutamaan Lailatul Qadr</strong></p>
<p>Keutamaan <em>lailatul qadr</em> dapat diketahui dari beberapa dalil baik dari  Al Quran maupun As Sunnah, diantara keutamaan tersebut:</p>
<ol>
<li>Malam tersebut adalah malam      diturunkannya Al Quran yang merupakan petunjuk bagi manusia dan sebab      kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat, Allah subhanahu wa ta’ala      berfirman (artinya):</li>
</ol>
<p>إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Quran) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” </em>(QS. Ad Dukhan: 3)</p>
<p>إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ</p>
<p><em>Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan</em>. (QS. AL Qadar: 1)</p>
<ol>
<li>Malam tersebut lebih baik dari      seribu bulan, maka barangsiapa yang beribadah pada malam tersebut itu      lebih baik dari orang yang beribadah 1000 bulan (83 tahun 4 bulan) Hal ini      juga menunjukkan keutamaan ummat ini dibandingkan ummat sebelum mereka      karena walaupun mereka juga berpuasa sebagaimana kita namun mereka tidak      mendapatkan keutamaan seperti ini.</li>
</ol>
<p>Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya), “<em>Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan.</em> (QS. Al Qadr ayat: 3)</p>
<p>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ] أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ ف…فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ [</p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda, “<em>Telah datang pada kalian bulan yang berberkah…pada bulan itu terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang dihalangi dari kebaikan malam itu maka dia adalah seorang yang terhalangi dari kebaikan</em>” (HR. Nasai dan dinyatakan shohih oleh Albani)</p>
<ol>
<li>Seseorang yang mendapatkan      lailatul qadr dan beribadah padanya akan diampunkan dosa-dosanya yang      telah lampau</li>
</ol>
<p>Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه(</p>
<p><em>“Barangsiapa yang beribadah pada lailatul qadr karena iman dan mengharapkan pahala maka niscaya akan diampunkan dosanya yang telah lampau”</em>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<ol>
<li>Para malaikat dan Jibril turun      pada malam tersebut sehingga penduduk bumi mendapat kemulian dan      penghormatan yang besar dari para tamu yang agung karena mereka tidaklah      turun melainkan datang dengan berbagai kebaikan, berkah dan rahmat dari atas      langit.</li>
</ol>
<p>Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya<strong>),</strong></p>
<p>تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ</p>
<p>“<em>Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.</em>” (QS. Al Qadar: 4)</p>
<ol>
<li>Malam tersebut adalah malam      yang penuh kesejahteraan dan hal itu berlangsung hingga terbit fajar</li>
</ol>
<p>Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya),</p>
<p>سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p>“<em>Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” </em>(QS. Al Qadar: 5)</p>
<p>Qatadah bin Di’amah As Sadusi rahimahullah berkata, “Malam itu keseluruhannya adalah kebaikan tidak terdapat keburukan padanya hingga terbit fajar” (Tafsir Ibnu Katsir)</p>
<ol>
<li>Rasulullah shallallohu alaihi      wasallam memperbanyak ibadah dan beri'tikaf untuk mendapatkan kemuliaan      malamnya (lihat pembahasan ‘Bagaimana menghidupkan malam itu’)</li>
<li>Allah Azza wa Jalla menurunkan      satu surat khusus yaitu surat Al Qadar untuk menjelaskan hakikat dan      keutamaannya dan surat tersebut terus dibaca hingga hari kiamat.</li>
</ol>
<p><strong>IV. Waktu Lailatul Qadr</strong></p>
<p>عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى رَجُلَانِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى فُلَانٌ وَفُلَانٌ فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ (رواه البخاري(</p>
<p>Dari Ubadah bin Shomit radhiyallohu anhu berkata, Nabi shallallohu alaihi wasallam keluar (menemui kami) untuk memberitahukan tentang lailatul qadr lalu ada dua orang dari kaum muslimin yang bertengkar maka beliau bersabda, “Aku keluar (menemui kalian) untuk memberitahu tentang lailatul qadr akan tetapi ada dua orang yang bertengkar meka diangkatlah ilmu tentang waktu lailatul qadr semoga itu lebih baik bagi kalian maka barangsiapa yang mencarinya maka carilah di malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima” (HR. Bukhari)</p>
<p>Dari hadits di atas dipahami bahwa malam tersebut adalah malam yang misteri tidak diketahui secara pasti kapan datangnya, oleh karena itu para Ulama kita telah berbeda pendapat tentang waktu malam yang mulia tersebut. Al Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata: "<em>Para ulama berbeda pendapat dalam masalah penentuan waktu lailatul qadr dengan perbedaan yang sangat banyak; jumlah pendapat yang sampai pada kami dalam masalah tersebut lebih dari 40 pendapat, Banyaknya pendapat ini sama dengan perbedaan mereka tentang penentuan waktu yang afdhol untuk berdoa pada hari Jum'at. Kedua waktu ini dirahasiakan agar para hamba Allah bersungguh-sungguh untuk mencarinya</em>".<a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftn3">[1]</a> Kemudian beliau menyebutkan sebanyak 46 pendapat dengan dalil masing-masing lalu beliau menyimpulkan: “<em>Pendapat yang rojih dari sekian banyak pendapat tersebut adalah lailatul qadr terjadi pada malam-malam yang ganjil di sepuluh terakhir di bulan Ramadhon dan berpindah setiap tahunnya sebagaimana dipahami dari hadits-hadits yang menyebutkan masalah ini namun malam yang paling diharapkan adalah malam-malam ganjil dan diantara malam-malam yang ganjil paling rojih menurut madzhab Syafi’iyyah malam kedua puluh satu atau malam kedua puluh tiga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said dan Abdullah bin Unais. Adapun jumhur ulama memilih malam kedua puluh tujuh</em>.”<a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftn4">[2]</a></p>
<p>Dalam beberapa hadits telah disebutkan perintah untuk mencari lailatul qadr, diantaranya:</p>
<p>عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَقُولُ:  ] تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ  [  )متفق عليه واللفظ للبخاري (</p>
<p>Dari Aisyah <em>radhiyallohu anha</em> berkata: Adalah Rasulullah shallalohu alaihi wasallam beri'tikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda: "<em>Carilah lailatul qadr di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan</em>" [ HR. Bukhari dan Muslim, lafal hadits ini sesuai riwayat Imam Bukhari (no. 2020) ]</p>
<p>Dalam riwayat yang lain dari Bukhari (no. 2017) lebih dikhususkan pada malam-malam ganjil:</p>
<p>عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ] تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ[</p>
<p>Dari Aisyah <em>radhiyallohu anha</em> bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda: "<em>Carilah lailatul qadr di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan</em>"</p>
<p>Dalam riwayat yang lain lebih dikhususkan pada tujuh malam terakhir:</p>
<p>عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ] أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ [</p>
<p>Dari Ibnu Umar <em>radhiyallohu anhuma </em>bahwa beberapa sahabat Nabi shallallohu alaihi wasallam melihat dalam mimpinya bahwa lailatul qadr terjadi pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan, lalu Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda: "<em>Saya memandang mimpi kalian telah sepakat di tujuh malam terakhir (bulan Ramadhan), maka barangsiapa yang mencari (ingin mengintai) lailatul qadr hendaknya dia mencari di tujuh akhir bulan Ramadhan</em>" (HR. Bukhari dan Muslim, redaksi hadits ini menurut riwayat Muslim)</p>
<p>Kemudian Ibnu Katsir menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat apakah lailatul qadar juga terdapat pada ummat terdahulu atau khusus pada ummat ini. Jumhur ulama mengatakan khusus pada ummat ini, bahkan Al Khoththobi menukil bahwa pendapat tersebut adalah ijma ulama. Adapun Ibnu Katsir beliau mengatakan berlaku secara umum untuk seluruh ummat<a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftn5">[3]</a>. Kemudian mereka berbeda pandapat apakah berpindah setiap tahunnya? Jumhur ulama mengatakan berpindah sedangkan Syafi’i mengatakan tidak.</p>
<p><strong>V. Tanda-Tanda Lailatul Qadr</strong></p>
<p>Para ulama berselisih pendapat tentang tanda-tanda lailatul qadr, apakah ada suatu tanda yang nampak bagi orang yang diberikan taufik untuk mendapatkan malam mulia tersebut atau tidak?</p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Telah datang beberapa dalil yang menyebutkan tanda-tanda lailatul qadr namun kebanyakannya tidak nampak kecuali setelah lailatul qadr berlalu”</em> <a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftn6">[4]</a></p>
<p>Maksud dari perkataan beliau adalah kebanyakan dalil yang menyebutkan tanda lailatul qadr adalah tanda yang baru nampak pada pagi harinya, pada saat itulah banyak diantara hamba-hamba Allah yang menyesal mengapa tidak bersungguh memanfaatkan malam harinya dengan beribadah.</p>
<p>Diantara dalil-dalil tersebut:</p>
<p>عن أَبي الْمُنْذِرِ أبي بن كعب صلى الله عليه وسلم قال:  أخبرنا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بآية ليلة القدر: تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيحَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةِ مِثْلَ الطَّسْتِ لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ حَتَّى تَرْتَفِعَ  (رواه مسلم و أبو داود وغيرهنا واللفظ لأبي داود(</p>
<p>Dari Abul Mundzir Ubay bin Ka&#8217;ab radhiyallohu anhu berkata: Rasulullah shallallohu alaihi wasallam mengabarkan kepada kami tanda lailatul qadr: &#8220;<em>Matahari terbit pada pagi hari dari malam lailatul qadr seperti bentuk baskom, tidak memiliki sinar yang menyengat hingga matahari tersebut meninggi</em>&#8221; (HR. Muslim dan Abu Daud serta selainnya, lafal ini adalah redaksi Abu Daud)</p>
<p>عن بن اعباس عن النبي صلى الله عليه وسلم في ليلة القدر: ليلة طلقة لا حارة ولا باردة تصبح الشمس يومها حمراء ضعيفة  (رواه أبو داود الطيالسي وابن خزيمة , واللفظ له(</p>
<p>Dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallohu alaihi wasallam, tentang lailatul qadr: &#8220;<em>Malam yang ramah, tidak panas dan tidak dingin, pagi harinya matahari terbit kemerah-merahan dan sinarnya lemah (tidak menyengat)</em> (HR. Abu Daud Ath Thoyalisi dan Ibnu Khuzaimah, redaksi hadits ini sesuai dengan riwayat beliau)</p>
<p>Sebagian menyebutkan tanda-tanda tersebut diantaranya:</p>
<p>a. Dia melihat seluruh makhluk sujud kepada Allah azza wa Jalla</p>
<p>b. Cahaya menerangi seluruh tempat hingga ke tempat-tempat yang selama ini gelap</p>
<p>c. Dia mendengar sapaan dan ucapan salam dari para malaikat</p>
<p>d. Doanya dikabulkan</p>
<p>e.  Air laut menjadi tawar</p>
<p>Namun tanda-tanda ini tidak didukung oleh dalil namun mungkin saja pernah terjadi kepada sebagian hamba Allah yang mendapatkan lailatul qadr. Imam Thabari berpendapat bahwa kesemua tanda tersebut bukanlah suatu keharusan, dalam artian bahwa bukanlah merupakan syarat bagi orang yang mendapatkan lailatul qadr harus melihat atau mendengar sesuatu</p>
<p>Kemudian para ulama juga berselisih pendapat apakah pahala lailatul qadr didapatkan oleh orang yang beribadah pada malam tersebut walaupun dia tidak mengetahui bahwa itu adalah lailatul qadr ?</p>
<p>Imam Thabari, Ibnul Arabi Al Maliki serta beberapa ulama lainnya mengatakan tetap mendapat pahalanya walaupun tidak mengetahui bahwa itu adalah malam lailatul qadr, adapun Jumhur ulama mereka mengatakan harus diketahuinya, berdasarkan riwayat:</p>
<p>] مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَيُوَافِقُهَا -أُرَاهُ قَالَ- إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ[</p>
<p><em>"Barangsiapa yang shalat (untuk mendapatkan) lailatul qadr karena iman dan mengharapkan pahala lalu dia mendapatkannya niscaya akan diampuni baginya”</em> (HR. Muslim no 760)<em> </em></p>
<p>Imam Nawawi mengatakan makna فَيُوَافِقُهَا adalah dia mengetahui bahwa malam itu adalah lailatul qadr, pendapat ini juga ditarjihkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar</p>
<p>Pendapat ini juga dikuatkan oleh hadits Aisyah <em>radhiyallohu ‘anha</em> yang terkenal</p>
<p>عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو ؟ قَالَ: تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي</p>
<p>Dari Aisyah beliau bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimana menurutmu jika saya mendapatkan <em>lailatul qadr</em> doa apa yang harus aku ucapkan ? Beliau shallallohu alaihi wasallam menjawab, Katakanlah “<em>Allahumma Innaka ‘Afuwwun Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu’annii</em>”(=Ya Allah Engkau Maha Pemaaf, menyukai pemaafan maka maafkanlah aku)” (HR. Ibnu Majah no. 3850)</p>
<p><strong>VI. Bagaimana Menghidupkan Malam Tersebut ?</strong></p>
<p>a. Bermujahadah dalam melaksanakan ibadah-ibadah yang dianjurkan terutama shalat tarawih</p>
<p>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p><em>“Barangsiapa yang beribadah pada malam lailatul qadr karena iman dan ikhlas maka diampunkan dosanya yang telah lampau” </em>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Rasulullah shallallohu alaihi wasallam merupakan teladan yang terbaik dalam hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh Aisyah <em>radhiyallohu 'anha</em>:</p>
<p>كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ (متفق عليه(</p>
<p><em>"Adalah Nabi </em>shallallohu alaihi wasallam<em> jika telah masuk sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan beliau mengencangkan sarungnya<a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftn7">[5]</a>, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya (istri-istrinya)</em>” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dalam hadits yang lain Aisyah <em>radhiyallohu ‘anha</em> mengatakan:</p>
<p>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ (رواه مسلم(</p>
<p><em>“Adalah Rasulullah </em>shallallohu alaihi wasallam<em> bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan dengan kesungguhan yang tidak pernah dilakukannya seperti itu di hari-hari yang lain” </em>(HR. Muslim)</p>
<p>b. Beri’tikaf ; inilah cara yang ditempuh oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam untuk mendapatkan malam yang mulia tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:</p>
<p>إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوَّلَ مِنْ رَمَضَانَ ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ اْلأَوْسَطَ … فَقَالَ: إِنِّي اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِي إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ …</p>
<p><em>Bahwasanya Nabi </em>shallallohu alaihi wasallam<em> beri’tikaf di sepuluh awal bulan Ramadhan, kemudian beliau beri’tikaf di sepuluh pertengahan, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya saya telah beri’tikaf sepuluh awal (bulan Ramadhan) (untuk) mencari malam Lailatul Qadr kemudian saya beri’tikaf sepuluh pertengahan kemudian saya didatangi (malaikat) lalu dikatakan kepadaku: Sesungguhnya malam Lailatul Qadr itu di sepuluh akhir (bulan Ramadhan), <strong>karenanya siapa di antara kalian yang mau beri’tikaf, maka hendaknya dia beri’tikaf!</strong> Maka beri’tikaflah manusia (para sahabat) beserta beliau …”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>c. Berhias berupa mandi dan semacamnya</p>
<p>Sebagaimana yang dianjurkan oleh Anas bin Malik radhiyallohu anhu dan Zirr bin Hubaisy radhiyallohu anhu. Salah seorang tabi’in yang mulia Ibrahim An Nakha-i mandi pada setiap malamnya dalam sepuluh terakhir bulan Ramadhan.</p>
<p>Imam Muhammad bin Jarir Ath Thobari mengatakan: “Adalah para salaf menganjurkan untuk mandi pada setiap malamnya dalam sepuluh terakhir bulan Ramadhan</p>
<p>d.  Memakai pakaian yang terbaik dan berparfum</p>
<p>Salah seorang tabi’in yang terkenal Ayyub As Sikhtiyani pada malam yang beliau harapkan terjadinya lailatul qadr beliau mandi, memakai parfum dan memakai sepasang pakaiannya yang baru.</p>
<ol>
<li>Memperbanyak doa, terutama doa      yang diajarkan oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam kepada istri      beliau Aisyah <em>radhiyallohu anha</em> sebagaimana yang disebutkan dalam      hadits:</li>
</ol>
<p>عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو قَالَ تَقُولِينَ: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي  )رواه ابن ماجه(</p>
<p>Dari Aisyah bahwa beliau bertanya: &#8220;Wahai Rasulullah bagaimana menurutmu jika saya mendapat lailatul qadr, doa apa yang harus saya ucapkan ? Beliau bersabda: Katakanlah: <em>Allahumma innaka &#8216;afuwwun tuhibbul &#8216;afwa fa&#8217;fu &#8216;annii</em> (<em> “Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf menyukai pemaafan maka maafkanlah kami”)</em> (HR. Ibnu Majah no 3850) <a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftn8">[6]</a></p>
<p>Doa ini merupakan salah satu bentuk <em>jawami’ kalim</em> dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, ada beberapa fikih yang penting di dalamnya:</p>
<p>1. Bertawassul dengan nama Allah ( ( العفو  yang sesuai dengan kebutuhan dan permintaan, hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:</p>
<p>] وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا [</p>
<p><em>Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu …</em>(QS. Al A'raaf: 180)</p>
<p>2. Memulai doa dengan puji-pujian yang sesuai dengan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla yang mulia ( تحب العفو ),</p>
<p>3. Memohon kepada Allah berupa Al ‘Afw yang mengumpulkan kebaikan dunia dan akhirat; al ‘afw di dunia berupa kesehatan badan dan keselematan dari perbuatan bid’ah. Al ‘Afw di akhirat berupa keselamatan dari siksa akhirat.</p>
<p><strong>Wallohu Ta’ala A’lam</strong></p>
<hr size="1" /><a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftnref1">(1)</a> Zâdul Ma'âd (1/40)</p>
<p><a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftnref2">(2)</a> Zâdul Ma'âd (1/57)</p>
<p><a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftnref3">[1]</a> Fathul Bari (4/333)</p>
<p><a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftnref4">[2]</a> Ibid (4/338)</p>
<p><a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftnref5">[3]</a> Tafsir Ibnu Katsir (4/565)</p>
<p><a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftnref6">[4]</a> Fathul Bari (4/330)</p>
<p><a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftnref7">[5]</a> Maksudnya tidak menggauli lagi istrinya untuk konsentrasi beribadah</p>
<p><a href="http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/#_ftnref8">[6]</a> Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Tirmidzi (no. 3513) dengan tambahan lafal: “<em>Allahumma innaka ‘afuwwun <span style="text-decoration: underline;">karimun</span></em> … “. Namun tambahan lafal ini dilemahkan oleh sebagian ulama, lihat: Tash-hihud Du’a (hal. 510) karya DR. Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid</p>
<p>Sumber: http://markazassunnah.wordpress.com/2009/09/13/menguak-tabir-lailatul-qadr/</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/menguak-tabir-lailatul-qadar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketahuan tak Puasa, 58 Muslim Ditangkap</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/ketahuan-tak-puasa-58-muslim-ditangkap/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/ketahuan-tak-puasa-58-muslim-ditangkap/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 16:24:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Ditangkap]]></category>
		<category><![CDATA[Ketahuan]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[tak Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=933</guid>
		<description><![CDATA[REPUBLIKA.CO.ID, KUCHING&#8211;Kementerian Agama Islam Malaysia, JAIS, menangkap 58 Muslim yang diketahui tidak menghormati Ramadhan. Angka ini terbilang meningkat dibanding tahun lalu. Asisten Kementerian Agama Islam, Datuk Daud Abdul Rahman mengungkapkan kekecewaannya terhadap penangkapan itu. Menurut ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>REPUBLIKA.CO.ID, KUCHING&#8211;Kementerian Agama Islam Malaysia, JAIS, menangkap 58 Muslim yang diketahui tidak menghormati Ramadhan. Angka ini terbilang meningkat dibanding tahun lalu. Asisten Kementerian Agama Islam, Datuk Daud Abdul Rahman mengungkapkan kekecewaannya terhadap penangkapan itu. Menurut dia, penangkapan itu merupakan pukulan berat bagi umat Islam Malaysia.</p>
<p><span id="more-933"></span>&#8220;Sayangnya kami hanya menangkap 58 orang kemarin Jum&#8217;at. Jumlah ini meningkat dibanding tahun lalu ketika kami berhasil menangkap 51 orang,&#8221; ungkapnya seperti dikutip Harian Borneo Post versi online, Senin (30/8). Kata Rahman, penangkapan itu seharusnya tidak terjadi. Karena itu, pihaknya bakal memberikan hukuman keras terhadap siapa saja yang mengganggu jalannya ibadah puasa.</p>
<p>Hukuman yang dimaksud Rahman adalah denda sebesar 1.000 ringgit dan pidana penjara selama 6 bulan. &#8220;Hukuman ini tidak hanya berlaku bagi warga Malaysia tetapi juga warga Brunei dan Indonesia. Petugas kami akan terus melakukan inspeksi tanpa menyebut detail spesifik,&#8221; kata dia.</p>
<p>Sementara itu, Daud, Ketua Tabung Baitulmal Sarawak mengungkap organisasinya telah mengalokasikan dana sekitar 2 juta ringgit untuk fakir miskin yang kemudian didistribusikan setiap tahun. &#8220;Dana ini ditujukan kepada orang miskin. Hal yang terpenting adalah Baitul Mal telah menganggarkan dana 20 juta ringgit untuk dialokasikan di bidang poendidikan. Diharapkan nilainya bakal terus meningkat,&#8221; kata dia.</p>
<p>http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/berita-ramadhan/10/08/31/132679-ketahuan-tak-puasa-58-muslim-ditangkap</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/ketahuan-tak-puasa-58-muslim-ditangkap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FIDYAH DI DALAM PUASA</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/fidyah-di-dalam-puasa/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/fidyah-di-dalam-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 22:58:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Ramadlan]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=929</guid>
		<description><![CDATA[FIDYAH DI DALAM PUASA
Oleh Ustadz Abu Sulaiman Aris Sugiyantoro
Allah telah menurunkan kewajiban puasa kepada NabiNya yang mulia pada tahun kedua Hijriyah. Puasa pertama kali diwajibkan dengan takhyir (bersifat pilihan). Barangsiapa yang mau, maka dia berpuasa. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>FIDYAH DI DALAM PUASA</p>
<p>Oleh Ustadz Abu Sulaiman Aris Sugiyantoro</p>
<p>Allah telah menurunkan kewajiban puasa kepada NabiNya yang mulia pada tahun kedua Hijriyah. Puasa pertama kali diwajibkan dengan takhyir (bersifat pilihan). Barangsiapa yang mau, maka dia berpuasa. Dan barangsiapa yang berkehendak, maka dia tidak berpuasa, akan tetapi dia membayar fidyah. Kemudian hukum tersebut dihapus, dan bagi seluruh orang beriman yang menjumpai bulan Ramadhan diperintahkan untuk berpuasa.</p>
<p>Pada zaman sekarang ini, ada sebagian orang yang beranggapan, bahwa seseorang boleh tidak berpuasa meskipun sama sekali tidak ada udzur, asalkan dia mengganti dengan membayar fidyah. Jelas hal ini tidak dibenarkan dalam agama kita.<br />
<span id="more-929"></span><br />
Untuk memperjelas tentang fidyah, dalam tulisan ini akan kami uraikan beberapa hal berkaitan dengan fidyah tersebut. Semoga Allah memberikan taufikNya kepada kita untuk ilmu yang bermanfa&#8217;at, serta amal shalih yang Dia ridhai.</p>
<p>A. DEFINISI FIDYAH<br />
Fidyah (فدية) atau fidaa (فدى) atau fida` (فداء) adalah satu makna. Yang artinya, apabila dia memberikan tebusan kepada seseorang, maka orang tersebut akan menyelamatkannya [1].</p>
<p>Di dalam kitab-kitab fiqih, fidyah, dikenal dengan istilah &#8220;ith&#8217;am&#8221;, yang artinya memberi makan. Adapun fidyah yang akan kita bahas di sini ialah, sesuatu yang harus diberikan kepada orang miskin, berupa makanan, sebagai pengganti karena dia meninggalkan puasa.</p>
<p>B. TAFSIR AYAT TENTANG FIDYAH<br />
Allah telah menyebutkan tentang fidyah dalam KitabNya Yang Mulia. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةُ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرُُ لَّهُ وَأَن تَصُومُوا خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ</p>
<p>&#8220;Beberapa hari yang telah ditentukan, maka barangsiapa di antara kalian yang sakit atau dalam bepergian, wajib baginya untuk mengganti pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang mampu berpuasa (tapi tidak mengerjakannya), untuk membayar fidyah dengan memberi makan kepada seorang miskin. Barangsiapa yang berbuat baik ketika membayar fidyah (kepada miskin yang lain) maka itu lebih baik baginya, dan apabila kalian berpuasa itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui&#8221;. [Al Baqarah : 184].</p>
<p>Ulama telah berbeda pendapat dalam hal firman Allah :</p>
<p>وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةُ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>&#8220;(Dan wajib bagi orang mampu berpuasa (tapi tidak mengerjakannya), maka dia membayar fidyah dengan memberi makan kepada seorang miskin)&#8221;.</p>
<p>Apakah ayat ini muhkamah atau mansukhah? Jumhur ulama berpendapat, bahwa ayat ini merupakan rukhshah ketika pertama kali diwajibkan puasa, karena puasa telah memberatkan mereka. Dahulu, orang yang telah memberikan makan kepada seorang miskin, maka dia tidak berpuasa pada hari itu, meskipun dia mampu mengerjakannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Salamah bin Akwa`, kemudian ayat ini telah dimansukh dengan firman Allah:</p>
<p>فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ</p>
<p>&#8220;(Maka barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan bulan Ramadhan, maka hendaklah dia berpuasa -Al Baqarah ayat 185-)&#8221;.</p>
<p>Telah diriwayatkan dari sebagian ahli ilmu, bahwa ayat di atas tidak dimansukh, akan tetapi sebagai rukhshah, khususnya untuk orang-orang tua dan orang yang lemah, apabila mereka tidak mampu mengerjakan puasa kecuali dengan susah payah. Makna ini sesuai dengan bacaan tasydid, yakni يطوقونه . Artinya, bagi orang yang merasa berat untuk mengerjakannya. [2]</p>
<p>Dari &#8216;Atha, sesungguhnya dia mendengar Ibnu Abbas membaca ayat:</p>
<p>وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةُ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>Tentang ayat ini, Ibnu Abbas berkata: &#8220;Ayat ini tidaklah dimansukh. Yang dimaksud ialah orang tua laki-laki dan wanita, yang keduanya tidak mampu untuk berpuasa, maka ia memberi makan untuk satu hari kepada satu orang miskin&#8221;. [Dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam kitab Tafsir]. [3]</p>
<p>Berkata Syaikh Abdur Rahman As Sa&#8217;di di dalam tafsirnya: &#8220;Dan ada pendapat yang lain, bahwa ayat :</p>
<p>وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةُ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>Maksudnya mereka yang merasa terbebani dengan puasa dan memberatkan mereka, sehingga tidak mampu mengerjakannya, seperti seorang yang sudah tua; maka dia membayar fidyah untuk setiap hari memberi makan kepada satu orang miskin. Dan ini adalah pendapat yang benar&#8221;.[4]</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin berkata: &#8220;Penafsiran Ibnu Abbas dalam ayat ini menunjukkan kedalaman fikihnya, karena cara pengambilan dalil dari ayat ini; bahwa Allah menjadikan fidyah sebagai pengganti dari puasa bagi orang yang mampu untuk berpuasa, jika dia mau maka dia berpuasa; dan jika tidak, maka dia berbuka dan membayar fidyah. Kemudian hukum ini dihapus, sehingga diwajibkan bagi setiap orang untuk berpuasa. Maka ketika seseorang tidak mampu untuk berpuasa, yang wajib baginya adalah penggantinya, yaitu fidyah&#8221;.[5]</p>
<p>C. ORANG-ORANG YANG DIWAJIBKAN UNTUK MEMBAYAR FIDYAH<br />
1. Orang yang tua (jompo) laki-laki dan wanita yang merasa berat apabila berpuasa. Maka ia diperbolehkan untuk berbuka, dan wajib bagi mereka untuk memberi makan setiap hari kepada satu orang miskin. Ini merupakan pendapat Ali, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Anas, Sa&#8217;id bin Jubair, Abu Hanifah, Ats Tsauri dan Auza&#8217;i.[6]</p>
<p>2. Orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya. Seperti penyakit yang menahun atau penyakit ganas, seperti kanker dan yang semisalnya.</p>
<p>Telah gugur kewajiban untuk berpuasa dari dua kelompok ini, berdasarkan dua hal. Pertama, karena mereka tidak mampu untuk mengerjakannya. Kedua, apa yang telah diriwayatkan dari Ibnu &#8216;Abbas dalam menafsirkan ayat fidyah seperti yang telah dijelaskan di muka.</p>
<p>Masalah : Apabila orang sakit yang tidak diharapkan sembuh ini, setelah dia membayar fidyah kemudian Allah menakdirkannya sembuh kembali, apa yang harus dia lakukan?</p>
<p>Jawab : Tidak wajib baginya untuk mengqadha puasa yang telah ia tinggalkan, karena kewajiban baginya ketika itu adalah membayar fidyah, sedangkan dia telah melaksanakannya. Oleh karena itu, dia telah terbebas dari kewajibannya, sehingga menjadi gugur kewajibannya untuk berpuasa.[7]</p>
<p>Ada beberapa orang yang diperselisihkan oleh para ulama, apakah mereka membayar fidyah atau tidak. Mereka, di antaranya ialah :</p>
<p>1. Wanita Hamil Dan Wanita Yang Menyusui.</p>
<p>Bagi wanita hamil dan wanita yang menyusui dibolehkan untuk berbuka. Karena jika wanita hamil berpuasa, pada umumnya akan memberatkan dirinya dan kandungannya. Demikian pula wanita yang menyusui, jika dia berpuasa, maka akan berkurang air susunya sehingga bisa mengganggu perkembangan anaknya.</p>
<p>Dalam hal apakah wajib bagi mereka untuk mengqadha` dan membayar fidyah?<br />
Dalam permasalahan ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahlul ilmi.</p>
<p>Pendapat Pertama : Wajib bagi mereka untuk mengqadha` dan membayar fidyah. Pada pendapat ini pun terdapat perincian. Apabila wanita hamil dan menyusui khawatir akan dirinya saja, maka dia hanya wajib untuk mengqadha` tanpa membayar fidyah. Dan apabila mereka takut terhadap janin atau anaknya, maka dia wajib untuk mengqadha` dan membayar fidyah.</p>
<p>Dalil dari pendapat ini ialah surat Al Baqarah ayat 185, yaitu tentang keumuman orang yang sakit, bahwasanya mereka diperintahkan untuk mengqadha` puasa ketika mereka mampu pada hari yang lain. Sedangkan dalil tentang wajibnya membayar fidyah, ialah perkataan Ibnu Abbas:</p>
<p>اَلْمُرْضِعُ وَالْحُبْلَى إذَا خَافَـتَا عَلىَ أوْلَادِهِمَا أفْطَرَتاَ وَأَطْعَمَتَا</p>
<p>&#8220;Wanita menyusui dan wanita hamil, jika takut terhadap anak-anaknya, maka keduanya berbuka dan memberi makan&#8221;. [HR Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa'ul Ghalil, 4/18].</p>
<p>Makna yang semisal dengan ini, telah diriwayatkan juga dari Ibnu Umar; dan atsar ini juga dishahihkan Syaikh Al Albani di dalam Irwa&#8217;.</p>
<p>Ibnu Qudamah berkata,&#8221;Apabila keduanya khawatir akan dirinya saja, maka dia berbuka, dan hanya wajib untuk mengqadha`. Dalam masalah ini, kami tidak mengetahui adanya khilaf di antara ahlul ilmi, karena keduanya seperti orang sakit yang takut akan dirinya. Namun, jika keduanya takut terhadap anaknya, maka dia berbuka dan wajib untuk mengqadha` dan memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari. Inilah yang diriwayatkan dari Ibnu &#8216;Umar dan yang mashur dari madzhab Syafi&#8217;i. [8]</p>
<p>Pendapat Kedua : Tidak wajib bagi mereka untuk mengqadha&#8217;, akan tetapi wajib untuk membayar fidyah. Ini adalah pendapat Ishaq bin Rahawaih.</p>
<p>Dalil dari pendapat ini ialah hadits Anas:</p>
<p>إنَّ اللهَ وَضَعَ الصِّـيامَ عَنِ الْحُبْلَى وَ الْمُرْضِعِ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah menggugurkan puasa dari wanita hamil dan wanita yang menyusui&#8221;. [HR Al Khamsah].</p>
<p>Dan dengan mengambil dari perkataan Ibnu Abbas, bahwa wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anaknya, maka dia berbuka dan memberi makan. Sedangkan Ibnu Abbas tidak menyebutkan untuk mengqadha&#8217;, namun hanya menyebutkan untuk memberi makan.[*]</p>
<p>Pendapat Ketiga : Wajib bagi mereka untuk mengqadha&#8217; saja.<br />
Dengan dalil, bahwa keduanya seperti keadaan orang yang sakit dan seorang yang bepergian. Pendapat ini menyatakan, Ibnu Abbas tidak menyebutkan untuk mengqadha&#8217;, karena hal itu sudah maklum, sehingga tidak perlu untuk disebutkan. Adapun hadits &#8220;Sesungguhnya Allah menggugurkan puasa dari orang yang hamil dan menyusui&#8221;, maka yang dimaksud ialah, bahwa Allah menggugurkan kewajiban untuk berpuasa, akan tetapi wajib bagi mereka untuk mengqadha&#8217;. Pendapat ini merupakan madzhab Abu Hanifah. Juga pendapat Al Hasan Al Bashri dan Ibrahim An Nakha&#8217;i. Keduanya berkata tentang wanita yang menyusui dan hamil, jika takut terhadap dirinya atau anaknya, maka keduanya berbuka dan mengqadha&#8217; (dikeluarkan oleh Al Bukhari dalam Shahih-nya).</p>
<p>Menurut Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin, pendapat inilah yang paling kuat [9]. Beliau (Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin) mengatakan, seorang wanita, jika dia menyusui atau hamil dan khawatir terhadap dirinya atau anaknya apabila berpuasa, maka dia berbuka, berdasarkan hadits Anas bin Malik Al Ka&#8217;bi, dia berkata, Rasulullah telah bersabda:</p>
<p>إِنَّ الهَs وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنْ الْحُبِْلَى وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah telah menggugurkan dari musafir setengah shalat, dan dari musafir dan wanita hamil atau menyusui (dalam hal, Red) puasa&#8221;. [HR Al Khamsah, dan ini lafadz Ibnu Majah. Hadits ini shahih], akan tetapi wajib baginya untuk mengqadha&#8217; dari hari yang dia tinggalkan ketika hal itu mudah baginya dan telah hilang rasa takut, seperti orang sakit yang telah sembuh.[10]</p>
<p>Pendapat ini, juga merupakan fatwa dari Lajnah Daimah, sebagaimana akan  kami kutip nash fatwa tersebut dibawah ini.</p>
<p>Pertanyaan Yang Ditujukan Kepada Lajnah Daimah.<br />
Soal : Wanita hamil atau wanita yang menyusui, jika khawatir terhadap dirinya atau terhadap anaknya pada bulan Ramadhan dan dia berbuka, apakah yang wajib baginya? Apakah dia berbuka dan membayar fidyah dan mengqadha&#8217;? Atau apakah dia berbuka dan mengqadha&#8217;, tetapi tidak membayar fidyah? Atau berbuka dan membayar fidyah dan tidak mengqadha&#8217;? Manakah yang paling benar di antara tiga hal ini?</p>
<p>Jawab : Apabila wanita hamil, dia khawatir terhadap dirinya atau janin yang dikandungnya jika berpuasa pada bulan Ramadhan, maka dia berbuka, dan wajib baginya untuk mengqadha&#8217; saja. Kondisinya dalam hal ini, seperti orang yang tidak mampu untuk berpuasa, atau dia khawatir adanya madharat bagi dirinya jika berpuasa. Allah berfirman:</p>
<p>فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya untuk mengganti dari hari-hari yang lain&#8221;.</p>
<p>Demikian pula seorang wanita yang menyusui, jika khawatir terhadap dirinya ketika menyusui anaknya pada bulan Ramadhan, atau khawatir terhadap anaknya jika dia berpuasa, sehingga dia tidak mampu untuk menyusuinya, maka dia berbuka dan wajib baginya untuk mengqadha&#8217; saja. Dan semoga Allah memberikan taufiq.[11]</p>
<p>2. Orang Yang Mempunyai Kewajiban Untuk Mengqadha&#8217; Puasa, Akan Tetapi Dia Tidak Mengerjakannya Tanpa Udzur Hingga Ramadhan Berikutnya.</p>
<p>Pendapat Yang Pertama : Wajib baginya untuk mengqadha&#8217; dan membayar fidyah. Hal ini merupakan pendapat jumhur (Malik, Syafi&#8217;i, dan Ahmad). Bahkan menurut madzhab Syafi&#8217;i, wajib baginya untuk membayar fidyah dari jumlah ramadhan-ramadhan yang dia lewati (yakni jika dia belum mengqadha&#8217; puasa hingga dua Ramadhan berikutnya, maka wajib baginya fidyah dua kali).</p>
<p>Dalil dari pendapat ini adalah:<br />
Hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memerintahkan untuk memberi makan dan mengqadha&#8217; bagi orang yang mengakhirkan hingga Ramadhan berikutnya. (HR Ad Daraquthni dan Al Baihaqi). Akan tetapi, hadits ini dha&#8217;if, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.</p>
<p>Ibnu Abbas dan Abu Hurairah meriwayatkan tentang orang yang mengakhirkan qadha&#8217; hingga datang Ramadhan berikutnya, mereka mengatakan, agar (orang tersebut, Red) memberi makan untuk setiap hari kepada seorang miskin.[12]</p>
<p>Pendapat Kedua : Tidak wajib baginya membayar fidyah, akan tetapi dia berdosa, sebab mengakhirkan dalam mengqadha&#8217; puasanya. Ini merupakan madzhab Abu Hanifah, dan merupakan pendapat Al Hasan dan Ibrahim An Nakha&#8217;i. Karena hal itu merupakan puasa wajib, ketika dia mengakhirkannya, maka tidak wajib membayar denda berupa fidyah, seperti dia mengakhirkan ibadah yang harus dikerjakan sekarang atau menunda nadzarnya.[13]</p>
<p>Berkata Imam Asy Syaukani: &#8220;Maka yang dhahir (pendapat yang kuat) adalah tidak wajib (untuk membayar fidyah)&#8221;. [14]</p>
<p>Berkata Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin: &#8220;Adapun atsar yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah, mungkin bisa kita bawa hukumnya menjadi sunnah, sehingga tidak wajib untuk membayar fidyah. Sehingga, pendapat yang benar dalam masalah ini (ialah), tidak wajib baginya kecuali untuk berpuasa, meskipun dia berdosa karena mengakhirkan dalam menngqadha&#8221;. [15]</p>
<p>Hal ini (berlaku, Red) bagi orang yang mengakhirkan tanpa udzur. Berarti, (bagi) orang yang mengakhirkan mengqadha&#8217; hingga Ramadhan berikutnya karena udzur, seperti karena sakit atau bepergian, atau waktu yang sangat sempit, maka tidak wajib juga untuk membayar fidyah.</p>
<p>Masalah : Apabila ada orang yang mengalami sakit pada bulan Ramadhan, maka dalam masalah ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan.</p>
<p>Pertama : Jika penyakitnya termasuk yang diharapkan untuk sembuh, maka boleh baginya untuk tidak berpuasa hingga dirinya sembuh. Apabila sakitnya berlanjut kemudian dia mati, maka tidak wajib untuk membayar fidyah. Karena kewajibannya adalah mengqadha&#8217;, kemudian mati sebelum mengerjakannya.</p>
<p>Kedua : Jika penyakitnya termasuk yang diharapkan untuk sembuh, dan dia tidak berpuasa kemudian dia terbebas dari penyakit itu, namun kemudian mati sebelum mengqadha&#8217;nya, maka diperintahkan untuk dibayarkan fidyah dari hari yang dia tinggalkan, diambilkan dari hartanya. Sebab pada asalnya, dirinya mampu untuk mengqadha&#8217;, tetapi karena dia mengakhirkannya hingga mati, maka dibayarkan untuknya fidyah.</p>
<p>Ketiga : Jika penyakitnya termasuk yang tidak diharapkan untuk sembuh, maka kewajiban baginya untuk membayar fidyah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.[16]</p>
<p>D. JENIS DAN KADAR DARI FIDYAH.<br />
Tidak disebutkan di dalam nash Al Qur`an atau As Sunnah tentang kadar dan jenis fidyah yang harus dikeluarkan. Sesuatu yang tidak ditentukan oleh nash maka kita kembalikan kepada &#8216;urf (kebiasaan yang lazim). Oleh karena itu, dikatakan sah dalam membayar fidyah, apabila kita sudah memberikan makan kepada seorang miskin, baik berupa makan siang atau makan malam, ataupun memberikan kepada mereka bahan makanan sehingga mereka memilikinya.</p>
<p>Pendapat Ulama Tentang Kadar Dan Jenis Fidyah.<br />
Berkata Imam An Nawawi: &#8220;(Pendapat pertama), kadar (fidyah) ialah satu mud dari makanan untuk setiap hari. Jenisnya, seperti jenis makanan pada zakat fithrah. Maka yang dijadikan pedoman ialah keumuman makanan penduduk di negerinya. Demikian ini pendapat yang paling kuat. Dan ada pendapat yang kedua, yaitu mengeluarkan seperti makanan yang biasa dia makan setiap hari. Dan pendapat yang ketiga, diperbolehkan untuk memilih di antara jenis makanan yang ada&#8221;.</p>
<p>Imam An Nawawi juga berkata: &#8220;Tidak sah apabila membayar fidyah dengan tepung, sawiq (tepung yang sangat halus), atau biji-bijian yang sudah rusak, atau (tidak sah) jika membayar fidyah dengan nilainya (uang, Pen.), dan tidak sah juga (membayar fidyah) dengan yang lainnya, sebagaimana yang telah dijelaskan.</p>
<p>Fidyah tersebut dibayarkan hanya kepada orang fakir dan miskin. Setiap satu mud terpisah dari satu mud yang lainnya. Maka boleh memberikan beberapa mud dari satu orang dan dari fidyah satu bulan untuk seorang faqir saja&#8221;. [17]</p>
<p>Ukuran Satu Mud.<br />
Satu mud adalah seperempat sha&#8217;. Dan sha&#8217; yang dimaksud ialah sha&#8217; nabawi, yaitu sha&#8217;-nya Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Satu sha&#8217; nabawi sebanding dengan 480 (empat ratus delapan puluh) mitsqal dari biji gandum yang bagus. Satu mitsqal, sama dengan 4,25 gram. Jadi 480 mitsqal seimbang dengan 2040 gram. Berarti satu mud adalah 510 gram. [18]</p>
<p>Menurut pendapat Syaikh Abdullah Al Bassam, satu sha&#8217; nabawi adalah empat mud. Satu mud, sama dengan 625 gram, karena satu sha&#8217; nabawi sama dengan 3000 gram. [19]</p>
<p>Berdasarkan ukuran yang telah disebutkan, maka kita bisa memperkirakan bahwa satu mud dari biji gandum bekisar antara 510 hingga 625 gram. Para ulama telah menjelaskan, fidyah dari selain biji gandum, seperti beras, jagung dan yang lainnya adalah setengah sha&#8217; (dua mud). Dan kita kembali kepada ayat, bahwa orang yang melebihkan di dalam memberi makan kepada orang miskin, yaitu dengan memberikan kepada orang miskin lainnya, maka itu adalah lebih baik baginya.</p>
<p>E. BAGAIMANA CARA MEMBAYAR FIDYAH<br />
Cara membayar fidyah bisa dilakukan dengan dua hal.</p>
<p>Pertama : Memasak atau membuat makanan, kemudian memanggil orang-orang miskin sejumlah hari-hari yang dia tidak berpuasa, sebagaimana hal ini dikerjakan oleh sahabat Anas bin Malik ketika beliau tua.</p>
<p>Disebutkan dari Anas bin Malik, bahwasanya beliau lemah dan tidak mampu untuk berpuasa pada satu tahun. Maka beliau membuatkan satu piring besar dari tsarid (roti). Kemudian beliau memanggil tigapuluh orang miskin, dan mempersilahkan mereka makan hingga kenyang. (Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa&#8217;ul Ghalil).</p>
<p>Kedua : Memberikan kepada orang miskin berupa makanan yang belum dimasak. Para ulama berkata: &#8220;Dengan satu mud dari burr (biji gandum), atau setengah sha&#8217; dari selainnya. Akan tetapi, sebaiknya diberikan sesuatu untuk dijadikan sebagai lauknya dari daging, atau selainnya, sehingga sempurna pengamalan terhadap firman Allah yang telah disebutkan&#8221;.</p>
<p>f. WAKTU MEMBAYAR FIDYAH.<br />
Adapun waktu membayar fidyah terdapat pilihan. Jika dia mau, maka membayar fidyah untuk seorang miskin pada hari itu juga. Atau jika dia berkehendak, maka mengakhirkan hingga hari terakhir dari bulan Ramadhan sebagaimana dikerjakan sahabat Anas ketika beliau tua. Dan tidak boleh mendahulukan fidyah sebelum Ramadhan, karena hal itu seperti mendahulukan puasa Ramadhan pada bulan Sya&#8217;ban.</p>
<p>Wallahu Ta&#8217;ala A&#8217;lam.</p>
<p>Maraji`:<br />
1. Al Majmu&#8217; Syarh Al Muhadz-dzab, Imam An Nawawi. Cet. Maktabah Al Irsyad, Jeddah.<br />
2. Al Mughni, Imam Ibnu Qudamah, Cet. Maktabah Ar Riyadh Al Haditsah, Riyadh, Tahun 1402 H.<br />
3. Mukhtar Ash Shihah, Imam Muhammad Ar Razi, Cet. Maktabah Lubnan, Tahun 1989.<br />
4. Asy Syarhul Mumti&#8217;, Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin. Cet. Maktabah Asaam, Riyadh, Tahun 1416 H.<br />
5. Nailul Authar, Imam Asy Syaukani, Cet. Dar Al Kalim Ath Thayyib, Beirut, Tahun1419 H.<br />
6. Nailul Maram, Allamah Shiddiq Hasan Khan, Cet. Ramadi, Dammam, Tahun 1418 H.<br />
7. Irwa&#8217;ul Ghalil, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cet. Kedua Al Maktab Al Islami, Tahun1405 H.<br />
8. Fat-hul Bari, Al Hafizh Ibnu Hajar. Cet. Dar Al Ma&#8217;rifah, Beirut.<br />
9. Fatawa Islamiyah, Jama&#8217;: Muhammad Al Musnid. Cet Dar Al Wathan, dan kitab-kitab lainnya.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07-08/Tahun IX/1426/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821] http://www.almanhaj.or.id/content/2807/slash/0</p>
<p>_______<br />
Footnote<br />
[1]. Lihat Mukhtar Ash Shihah, Imam Muhammad Ar Razi. Cet. Maktabah Lubnan, hlm. 435.<br />
[2]. Lihat Nailul Maram Min Tafsiir Ayatil ahkam, Allamah Shiddiq Khan, hlm. 90-91.<br />
[3]. Fathul Bari (8/135).<br />
[4]. Lihat Tafsir As Sa&#8217;di, hlm. 69<br />
[5]. Asy Syarhul Mumti&#8217;, (6/334).<br />
[6]. Lihat Al Mughni (3/141).<br />
[*]. Dalam majalah As-Sunnah Edisi 06/IX/1426H/2205M halaman 45, Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid dan Syaikh Salim bin Id al-Hilali merajihkan pendapat yang kedua ini. -redaksi). Lihat : http://www.almanhaj.or.id/content/2798/slash/0<br />
[7]. Lihat Asy Syarhul Mumti&#8217; (6/453).<br />
[8]. Lihat Al Mughni (3/139).<br />
[9]. Syarhul Mumti&#8217;, 363.<br />
[10]. Majalisu Syahri Ramadhan, hlm. 45<br />
[11]. Fatawa Islamiyah (2/148).<br />
[12]. Lihat Nailul Authar (3/175).<br />
[13]. Lihat Al Mughni (3/145).<br />
[14]. Nailul Authar (3/177).<br />
[15]. Syarhul Mumti&#8217; (6/451).<br />
[16]. Lihat Syarhul Mumti&#8217; (6/452-453).<br />
[17]. Al Majmu&#8217; Syarh Al Muhadz-dzab (6/420).<br />
[18]. Majalisu Syahri Ramadhan, 162 dan Syarhul Mumti&#8217; (6/176).<br />
[19]. Taudhih Al Ahkam (3/178).</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/fidyah-di-dalam-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bab I&#8217;tikaf</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/bab-itikaf/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/bab-itikaf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 20:31:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Ramadlan]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[i'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[keluar]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Mu’takif]]></category>
		<category><![CDATA[seribu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=837</guid>
		<description><![CDATA[Bab I&#8217;tikaf
Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
I‘tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan adalah termasuk amalan sunnah yang sangat dianjurkan, karena mencari kebaikan dan demi mendapatkan Lailatul Qadr.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bab I&#8217;tikaf</p>
<p>Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</p>
<p>I‘tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan adalah termasuk amalan sunnah yang sangat dianjurkan, karena mencari kebaikan dan demi mendapatkan Lailatul Qadr.</p>
<p>Allah SWT berfirman, <em>“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat, terutama malaikat Jibril dan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.</em>&#8220;(Al-Qadr: 5).</p>
<p>Dari Aisyah r.a. berkata, adalah Rasulullah saw. beri’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari Ramadhan, dan beliau bersabda, <em>“Carilah lailatul qadr pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan.&#8221; </em>(Shahih: Mukhtashar Bukhari no: 987, Fathul Bari IV: 259 no: 2020, Tirmidzi II: 144 no: 789).</p>
<p><span id="more-837"></span></p>
<p>Dari (Aisyah) r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, <em>“Carilah lailatul qadr pada (malam) yang ganjil di sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan!” </em>(Muttafaqun’alaih : Fathul Bari IV: 259 no: 2017, dan Muslim II: 628 no: 1169).</p>
<p>Adalah Rasulullah saw. sangat menganjurkan dan amat menekankan shalat malam di malam lailatul qadr, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits dari Abu Hurairah r.a. Nabi saw. bersabda, <em>“Barangsiapa yang shalat malam di malam lailatul qadr karena iman dan mengharapkan pahala di sisi Tuhannya, niscaya diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.”</em> (Muttafaqun’alaih : Fathul Bari IV: 255 no: 2014, Muslim I: 523 no: 760 ‘Aunul Ma’bud IV: 146 no: Nasa’i IV: 157).</p>
<p>I’tikaf harus dilaksanakan di masjid, berdasar firman Allah SWT, <em>“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, padahal kamu sedang beri’tikaf dalam masjid.” </em>(Al-Baqarah: 187).</p>
<p>Dan, karena Rasulullah saw. senantiasa beri’tikaf di masjid.</p>
<p>Dianjurkan bagi mu’takif (orang yang i’tikaf) agar menyibukkan diri dengan berbagai keta’atan keapda Allah, seperti shalat, tilawatul (membaca) Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istiqhfar, shalawat, do’a, kajian ilmu, dan semisalnya.</p>
<p>Mu’takif, dianggap makruh menyibukkan dirinya dengan perkataan atau perbuatan yang tidak berguna, sebagaimana ia dipandang makruh juga menahan diri tidak berbicara karena menyangka bahwa yang demikian itu termasuk dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. (Fiqhus Sunnah: 404 dengan sedikit perubahan).</p>
<p>Mu’takif, diperbolehkan keluar dari tempat i’tikafnya  manakala ada hajat yang harus dilakukan, sebagaimana ia dibolehkan menyisir dan menggundul rambutnya, memotong kukunya dan membersihkan badannya.</p>
<p>I’tikaf akan menjadi batal karena sang mu’takif keluar dari masjid tanpa ada hajat atau karena jima’ (menggauli isterinya).</p>
<p>Sumber:  <em>Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil  ‘Aziz</em>, atau <em>Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah,</em> ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalaf,<em> </em>terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 414 – 418.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/bab-itikaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits 13 Kitab Shaum dari Shahih Bukhari</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/hadits-13-kitab-shaum-dari-shahih-bukhari-2/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/hadits-13-kitab-shaum-dari-shahih-bukhari-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 17:16:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Shaum-Shahih Bukhari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=917</guid>
		<description><![CDATA[حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ<br />
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma&#8217;il telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa&#8217;ad telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syihab dari &#8216;Ubaidallah bin &#8216;Uqbah bahwa Ibnu &#8216;Abbas radliallahu &#8216;anhuma berkata: &#8220;Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan dalam segala kebaikan. Dan kedermawanan Beliau yang paling baik adalah saat bulan Ramadhan ketika Jibril alaihissalam datang menemui Beliau. Dan Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur&#8217;an) hingga Al Qur&#8217;an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Apabila Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau, maka Beliau adalah orang yang paling dermawan dalam segala kebaikan melebihi lembutnya angin yang berhembus.&#8221;</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/hadits-13-kitab-shaum-dari-shahih-bukhari-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits 12 Kitab Shaum dari Shahih Bukhari</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/hadits-12-kitab-shaum-dari-shahih-bukhari/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/hadits-12-kitab-shaum-dari-shahih-bukhari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 15:05:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Shaum-Shahih Bukhari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=914</guid>
		<description><![CDATA[حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ<br />
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepada kami Yahya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu &#8216;anhu dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar (mengisi dengan ibadah) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu, dan barangsiapa yang melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu&#8221;.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/hadits-12-kitab-shaum-dari-shahih-bukhari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits 11 Kitab Shaum dari Shahih Bukhari</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/hadits-11-kitab-shaum-dari-shahih-bukhari/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/hadits-11-kitab-shaum-dari-shahih-bukhari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 15:01:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Ramadlan]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Shaum-Shahih Bukhari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=912</guid>
		<description><![CDATA[حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ<br />
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ<br />
وَقَالَ غَيْرُهُ عَنْ اللَّيْثِ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ وَيُونُسُ لِهِلَالِ رَمَضَانَ</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada saya Al Laits dari &#8216;Uqail dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya Salim bin &#8216;Abdullah bin &#8216;Umar bahwa Ibnu&#8217;Umar radliallahu &#8216;anhuma berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8220;Jika kamu melihatnya (hilal) maka berpuasalah dan jika kamu melihatnya lagi maka berbukalah. Apabila kalian terhalang oleh awan maka perkirakanlah jumlahnya (jumlah hari disempurnakan) &#8220;. Dan berkata selain beliau dari Al Laits telah menceritakan kepada saya &#8216;Uqail dan Yunus: &#8220;Ini maksudnya untuk hilal bulan Ramadhan&#8221;.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/hadits-11-kitab-shaum-dari-shahih-bukhari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Membaca Al-Qur’an</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/keutamaan-membaca-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/keutamaan-membaca-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 13:40:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Al Qur’an]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=899</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat serta menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat serta menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Menyukuri.” (QS. Fathir: 29-30)</p>
<p>Ada dua cara seseorang di dalam membaca kitab Allah. Pertama, tilawah hukmiyyah, yaitu membenarkan segala berita yang ada di dalamnya dan menerapkan hukum-hukumnya dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, tilawah lafhzhiyyah atau qira’atul Qur’an, banyak sekali nash-nash yang menyebut keutamaannya. Dalam Shahih Bukhari, disebutkan riwayat dari Utsman bin Affan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”</p>
<p><span id="more-899"></span></p>
<p>Dalam Shahihain, disebutkan pula hadits dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an kelak (mendapat tempat disurga) bersama para utusan yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan masih terbata-bata, dan merasa berat dan susah, maka dia mendapatkan dua pahala.”</p>
<p>Dua pahala ini, salah satunya merupakan balasan dari membaca Al-Qur’an itu sendiri, sedangkan yang kedua adalah atas kesusahan dan keberatan yang dirasakan oleh pembacanya.</p>
<p>Dalam Shahih Muslim disebutkan riwayat dari Abu Umamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena pada hari Kiamat nanti dia akan datang sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.”</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia mendapatkan satu kebaikan, sedangkan kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)</p>
<p>Keutamaan-keutamaan ini meliputi seluruh kandungan isi Al-Qur’an. Banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan keutamaan surat-surat tertentu, misalnya surat Al-Fatihah. Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari Abu Sa’id bin Mu’alla bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepadanya, “Aku akan mengajarkanmu surat yang paling agung di dalam Al-Qur’an, yaitu Alhamdulillaahi Rabbi l-‘alamiin (Al-Fatihah). Ini adalah tujuh ayat yang diulang-ulang dan Al-Qur’an agung yang diberikan kepadaku.”</p>
<p>Oleh karena keutamaannya itu, maka membacanya menjadi bagian dari rukun shalat. Shalat tidak akan menjadi sah tanpa membaca Al-Fatihah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak sah shalat bagi siapa yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>Surat dalam Al-Qur’an lainnya yang memiliki keutamaan tersendiri adalah surat Al-Baqarah dan Ali Imran. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah surat Az-Zahrowain, yaitu Al-Baqarah dan Ali Imran. Karena sesungguhnya keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti dua buah awan atau seperti dua kawanan burung yang sedang terbang berbaris membela orang-orang yang biasa membacanya. Bacalah surat Al-Baqarah karena membacanya membawa berkah sedangkan meninggalkannya akan menyebabkan penyesalan. Surat ini tidak akan bisa dibaca oleh para tukang sihir.” (HR. Muslim)</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah, tidak akan bisa dimasuki setan.” (HR. Muslim)</p>
<p>Surat lainnya yang mempunyai keutamaan khusus adalah surat Al-Ikhlas. Dalam Shahih Bukhari disebutkan riwayat dari Abu Said Al-Khudri bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang menguasai jiwaku, sesungguhnya ia sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.”</p>
<p>Selain itu, surat yang memiliki keutamaan tersendiri adalah surat Al-Falaq dan An-Nas, atau biasa disebut mu’awwidzatain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kamu beberapa ayat yang diturunkan pada hari ini yang belum pernah sebanding dengannya? Yaitu Qul ‘a’udzibi Rabbi l-falaq, dan Qul ‘a’udzubi Rabbi n-nas.” (HR. Muslim)</p>
<p>Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi kita untuk bersungguh-sungguh memperbanyak bacaan Al-Qur’an yang penuh berkah, apalagi di bulan Ramadhan. Para Salafush Shalih dahulu selalu memperbanyak bacaan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Imam Malik, jika Ramadhan tiba, maka beliau berhenti dari membaca hadits dan majelis-majelis ilmu (berhenti mengajar) untuk kemudian berganti membaca Al-Qur’an. Imam Qatadah selalu meng-khatam-kan bacaan Al-Qur’an setiap tujuh hari sekali, sedangkan pada bulan Ramadhan meng-khatam-kannya setiap tiga hari sekali, dan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan meng-khatam-kannya setiap hari.</p>
<p>Sumber:</p>
<p>Kajian Romadhon, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: Al-Qowam</p>
<p>(http://belajarislam.com/al-quran/335-keutamaan-membaca-al-quran)</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/keutamaan-membaca-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
