<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ustadz Ridwan Hamidi &#187; Akhbaar</title>
	<atom:link href="http://ustadzridwan.com/category/tsaqofah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzridwan.com</link>
	<description>رضوان حامدي الإندونيسي</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Apr 2012 02:20:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Silaturahim Mantan LDII ke MIUMI</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/silaturahim-mantan-ldii-ke-miumi/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/silaturahim-mantan-ldii-ke-miumi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2012 02:20:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2267</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) semakin dirasakan kehadirannya di tengah masyarakat. Banyak kalangan yang menaruh harapan besar kepada MIUMI agar memberikan solusi terhadap problematika umat Islam. Mantan Pengurus Pusat Islam Jamaah (IJ) yang bertopeng Lembaga Dakwa Islam Indonesia (LDII) membeberkan kesesatan LDII kepada Sekretaris Jenderal (Sekjend) MIUMI (Rabu, 11/04/2012). Mauluddin , mantan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) semakin  dirasakan kehadirannya di tengah masyarakat. Banyak kalangan yang  menaruh harapan besar kepada MIUMI agar memberikan solusi terhadap  problematika umat Islam.</p>
<p>Mantan Pengurus Pusat Islam Jamaah (IJ)  yang bertopeng Lembaga Dakwa Islam Indonesia (LDII) membeberkan  kesesatan LDII kepada Sekretaris Jenderal (Sekjend) MIUMI (Rabu,  11/04/2012).<br />
Mauluddin , mantan Wakil Imam Besar IJ (setingkat Wapres dalam  struktur Republik LDII) menyatakan, IJ mirip Khawarij dan sangat  berbahaya bagi akidah umat Islam.<em> &#8220;Iya, sangat kental nuansa takfirnya. Jadi, selain anggota LDII, dianggap kafir&#8221;</em>, ujarnya saat wawancarai di Kantor MIUMI, Jalan Tebet Timur Dalam VIII No. 44. Jakarta Selatan (Rabu, 11/04/2012).</p>
<p>Mauluddin  mengungkapan, sebab para mantan keluar IJ atau LDII di antaranya,  mereka merasa aneh dengan  kewajiban mempelajari Islam lewat jalur  riwayat (manqul) Haji Nurhasan Ubaidah sebagai Imam Besar IJ. Selain itu  tidak dibenarkan.</p>
<p><em>&#8220;Saya merasa aneh, ngajinya kenapa harus  secara manqul dari Haji Nurhasan. Katanya (Nurhasan), jamaah ini (IJ)  tidak fanatik dengan mazhab tertentu. Tidak mengambil pendapat Imam Abu  Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi&#8217;i dan Imam Ahmad. Tapi, murni  mengamalkan Al-Quran dan hadits. Kalau demikian, kenapaharus mempelajari  Islam sesuai doktrin Haji Nurhasan saja”,</em> paparnya.</p>
<p>“Mereka  memang menggunaka Al-Quran dan Hadits dalam mengindoktrinasi anggota  jamaah, tapi penafsirannya akan berbeda dengan penafsiran ulama pada  umumnya, karena dipelesetkan sesuai kepentingan mereka (IJ)”, tambah  Adam Amrullah salah seorang mantan LDII yang mengaku pernah menjadi  ketua kepemudaan IJ ini.</p>
<p>Sikap radikal ala khawarij yang suka  mengkafirkan orang di luar IJ tak hanya mengagetkan orang di luar IJ,  tapi juga dari kalangan internal yang sudah malang melintang  dalam  dakwah LDII.</p>
<p><em>“Saya produk asli IJ. Ayah, ibu bahkan kakek  nenek  saya semuanya IJ. Tapi saya justru ill fell (hilang rasa  simpatik) dengan dakwahnya yang terlalu sombong, menggaggap IJ-lah  satu2nya jamaah yg mengamalkan Al-Quran-Hadits dan dijamin &#8216;pasti&#8217; masuk  surga” </em>jelasnya kepada Sekjend MIUMI.</p>
<p>Kekuatan doktrin IJ  tertumpu pada sandi 354 (galipat). Tiga berarti tiga butir yang berarti,  Jamaah, Al-Quran dan Hadits. Artinya Al-Quran dan Hadits harus  diinterpretasikan sesuai penafsiran “Jamaah”.</p>
<p>Lima artinya lima  butir berisi sumpah setia(bai’at) kepada Sang Amir untuk mengaji,  mengamal, membela, sambung jamaah dan taat  Amir(pimpinan).</p>
<p>Empat maknanya lima butir pengikat iman yang terdiri dari syukur, menganggungkan, bersungguh-sungguh dan berdoa untuk Amir.</p>
<p><em>“Nah,   kewajiban jamaah untuk menyumbang sepuluh (10) persen dari penghasilan  perbulannya masuk dalam bab membela Jamaah itu, plus infak untuk dainya.  Semua kalau ditotal bisa sampai 20% dari penghasilan kita “</em> jelas  Pak Imam mantan Muballigh (penceramah) LDII yang anak istrinya masih terperangkap dalam pusaran LDII.</p>
<p>Menanggapi pengaduan para mantan LDII ini, Sekjend MIUMI, Bachtiar Nasir tidak ragu menyatakan bahwa IJ sesat menyesatkan.</p>
<p><em>“Tidak  ragu bagi kami bahwa LDII ini sesat. Karena itu kami sarankan kepada  Bapak-bapak yang sudah keluar dari LDII agar tetap solid dan segera  mengambil langkah startegis untuk memberikan pencerahan kepada jamaah  yang masih di LDII”,</em> tutur Direktur Ar-Rahman Quranic Learning Center (AQL) Tebet, Jakarta Selatan.</p>
<p>Menurut  Abdurrahim, mantan Gubernur Republik LDII Wilayah DKI Jakarat, untuk  memuluskan dakwahnya  LDII tidak hanya berganti nama. Tapi juga  mendirikan ormas berupa Lembaga Dakwa Islam Indonesia (LDII), Persatuan  Silat Nasional (Persinas) ASAD, Usaha Bersama (UB), Cinta Alam Indonesia  (CAI), dan Sentra Komunikasi  (SENKOM).</p>
<p>Data serupa juga diamini oleh Adam Amrullah,<em>“organisasi-organisasi itu sengaja didirikan untuk mewadahi potensi internal dan menjerat orang-orang di luar IJ,</em>“ ujar  Adam yang dipaksa cerai oleh mertuanya karena dianggap murtad setelah keluar dari LDII.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.miumipusat.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=84%3Asilaturahim-mantan-ldii-ke-miumi&#038;catid=37%3Aaliran&#038;Itemid=63&#038;lang=en</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fsilaturahim-mantan-ldii-ke-miumi%2F&amp;title=Silaturahim%20Mantan%20LDII%20ke%20MIUMI" id="wpa2a_2"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/silaturahim-mantan-ldii-ke-miumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MIUMI, Asa Menegakkan Fatwa</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/miumi-asa-menegakkan-fatwa/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/miumi-asa-menegakkan-fatwa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Mar 2012 09:32:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2264</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Jakarta (SI ONLINE) – Ruang Puri Ratna di lantai dua Hotel Sahid sesak dipenuhi para undangan. Setidaknya ada 28 roundtable yang disiapkan panitia terisi penuh. Jika satu meja bundar itu berisi 10 tempat duduk, maka ada 280 undangan yang hadir pada Selasa malam (28/2/2012) itu. Plus panitia, berarti 300 orang lebih yang mengikuti deklarasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Jakarta (SI ONLINE) – Ruang Puri Ratna di lantai dua Hotel Sahid  sesak dipenuhi para undangan. Setidaknya ada 28 roundtable yang  disiapkan panitia terisi penuh. Jika satu meja bundar itu berisi 10  tempat duduk, maka ada 280 undangan yang hadir pada Selasa malam  (28/2/2012) itu. Plus panitia, berarti 300 orang lebih yang mengikuti  deklarasi Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).</p>
<p>Sengaja  panitia memilih hotel bintang lima di Jalan Jendral Sudirman, Jakarta  itu untuk mendeklarasikan majelis yang sebenarnya telah didirikan pada 3  Januari 2012 lalu. Deklarasi MIUMI bertajuk “Untuk Indonesia yang Lebih  beradab”. &#8220;Kami dibantu para donatur, tak ada sponsor tunggal&#8221;, kata  Sekjen MIUMI Bachtiar Nasir.</p>
<p>Mereka yang hadir beragam latar belakang. Ada yang dari  kalangan ulama, intelektual, politisi, pimpinan media massa, aktivis  gerakan Islam, dan tentu saja puluhan wartawan yang meliput acara itu.</p>
<p>Di  meja nomor dua yang terletak di barisan depan, duduk melingkar sejumlah  pejabat tinggi negeri ini. Di sana ada Ketua Mahkamah Konsitusi Mahfud  MD, Ketua KPK Abraham Samad. Samad tidak datang sendiri, ia ditemani  oleh salah satu wakilnya, Bambang Widjajanto. Di deretan kursi itu juga  duduk Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua MUI KH. Yunahar  Ilyas dan sastrawan kondang Taufik Ismail.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara di meja yang lain, ada Ketua MUI KH A Cholil Ridwan. Di  belakang, hadir juga politisi Partai Hanura Fuad Bawazier. Wakil Sekjen  MUI Pusat Amirsyah Tambunan juga terlihat di belakang. Dari Forum Umat  Islam (FUI) hadir Sekjen FUI KH Muhammad Al Khaththath.</p>
<p>Setelah  sambutan dari Ketua Majelis Pimpinan Nasional MIUMI, Hamid Fahmy  Zarkasyi, dilakukanlah deklarasi MIUMI. Teks deklarasi dibaca dalam 3  bahasa, bahasa Arab, bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Pembacaan  deklarasi dalam bahasa Arab dilakukan oleh Zaitun Rasmin, Ketua Umum  Wahdah Islamiyah. Deklarasi dalam bahasa Inggris dilakukan oleh Henri  Sholahuddin, sedangkan deklarasi dalam bahasa Indonesia dibaca oleh  Fadzlan Garamatan.</p>
<p>Para intelektual muda yang menginisiasi MIUMI  berdiri berderet di depan. Mereka adalah Hamid Fahmy Zarkasyi (Direktur  Insists/Pondok Modern Darussalam Gontor), Adian Husaini (Universitas  Ibnu Khaldun Bogor), Farid A. Okbah (Yayasan Al Islam), Muh. Zaitun R  (Wahdah Islamiyah), Fadzlan Garamatan (Yayasan Al-Fatih Kaaffah  Nusantara), Fahmi Salim (Anggota Komisi Penelitian dan Pengkajian MUI),  Henri Shalahuddin (Sekretaris Insists), Adnin armas (Peneliti Insists),  Asep Sobari (Pimred Majalah Gontor), Jeje Zaenuddin (PP Persis),  Muhammad Khudori (Alumni Universitas Madinah), Mu’inudinillah Basri  (UMS) dan Ahmad Zein An-Najah (doktor lulusan Universitas Al Azhar,  Mesir).</p>
<p>Ada tiga inisiator yang berhalangan hadir, diantaranya  Muchlis M. Hanafi (Pusat Studi Al-Qur’an), M Idrus Ramli (Pengurus NU  Jember) dan Ahmad Syarwat (Rumah Fiqqh Indonesia).</p>
<p>Sebelumnya, Bachtiar Nasir, pimpinan Arrahman Qur’anic Learning (AQL)  yang didaulat sebagai Sekjen MIUMI, mengantarkan pendeklarasian itu.  Alumni Madinah yang mengaku diberi amanah bekerja didapur ini mengatakan  bahwa MIUMI tidak berpolitik praktis.</p>
<p>“Kita tidak berpolitik  praktis, bagi kami berdakwah otomatis berpolitik, berpolitik belum tentu  berdakwah. Kalau ada implikasi pokitik di dalamnya, barangkali itu cuma  ekses,” kata Bachtiar.<br />
<img src="http://www.miumipusat.org/images/stories/miumi-12.jpg" border="0" alt="" /><br />
MIUMI,  lanjut Bachtiar, akan fokus pada pembangunan sosial (masyarakat) Islam.  Sebab sesuai fungsi ulama, al-ulama waratsatul anbiya. Ulama adalah  penerus para Nabi. Tugas Ulama, kata Bachtiar, adalah hirasatud diin wa  siyasatud dunya bihi (menjaga kemurnian agama dan mengelola dunia dengan  syariah). MIUMI juga akan mendukung semua ormas Islam dan menjaga  kesatuan ulama dan bangsa.</p>
<p>Menurut Bachtiar, MIUMI akan mengisi  celah kosong dalam menegakkan dan mengimplementasikan fatwa-fatwa yang  telah dikeluarkan sejumlah lembaga resmi umat Islam di Indonesia, baik  Majelis Ulama Indonesia maupun ormas-ormas Islam. Dalam kaitannya dengan  fatwa ini, Bachtiar mengungkapkan ada tiga kerja pokok MIUMI, yakni  penelitian (research), Sosialisasi, dan penegakan.</p>
<p>“MIUMI akan  meriset fatwa-fatwa strategis MUI atau ormas-ormas yang ada, kemudian  disosialisasikan. MIUMI juga akan membantu agar fatwa itu tegak di  tengah umat”, jelas Bachtiar.</p>
<p>Sebelumnya, Hamid Fahmy Zarkasy  juga telah menyampaikan keprihatinannya terhadap gegap gempita eufhoria  kebebasan berpendapat di Indonesia dewasa ini yang pada akhirnya telah  merubah setting pemikiran umat Islam.</p>
<p>Fatwa, sebagai cara ulama  untuk menyelesaikan persoalan umat pada akhirnya juga tidak luput dari  penentangan oleh kelompok-kelompok yang menginginkan kebebasan.  Akibatnya, kata Fahmy, otoritas ulama mulai dipertanyakan.</p>
<p>“Kemudian  muncul kesan bahwa fatwa ulama tidaklah mutlak karena masih terdapat  ulama lain yang mempersoalkannya”, kata Fahmy. Buntutnya, lanjut Fahmy,  timbullah relativitas kebenaran fatwa.</p>
<p>Dalam buku profil MIUMI  disebutkan bahwa lahirnya organisasi ini dilatar belakangi oleh  kecintaan terhadap umat Islam Indonesia dan dunia pada umumnya serta  kerinduan lahirnya gerakan aktual untuk memenangkan Islam dan menjayakan  umat Islam (nusrat al Islam wa tamkin al-muslimin).</p>
<p>Selain itu  juga karena adanya kelemahan kepemimpinan formal Islam Indonesia baik di  tingkat individu maupun lembaga yang dapat dijadikan panutan umat.</p>
<p>MIUMI  melihat fatwa yang dikeluarkan oleh Ormas dan Lembaga Islam di  Indonesia cukup banyak tetapi kurang memperhatikan riset dan lemah dalam  sosialisasinya, serta kurang sungguh-sungguh dalam penegakannya.  “Sehingga fatwa tersebut tidak sampai pada maksud dan tujuannya”, kata  MIUMI.</p>
<p>MIUMI juga merasa prihatin terhadap kondisi umat Islam di  Indonesia yang sering terjebak dalam perpecahan internal. Penyebabnya,  kata MIUMI,  adalah karena kecintaan kepada dunia, uslub dakwah tidak  jadi prioritas, saling mencerca dan fantisme golongan. Umat akhirnya  dipimpin oleh orang yang jahil karena absennya ulama dari kepemimpinan  yang mengemban risalah amar ma’ruf nahi munkar.</p>
<p>Kondisi itu,  diperparah lagi oleh rusaknya ilmu-ilmu Islam yang diajarkan di lembaga  formal yang tidak menanamkan keyakinan dan kebanggaan terhadap Islam.</p>
<p>Karena  itu, Bachtiar menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentolelir  pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam. “Kami tidak bisa  mentolelir sekularisme, pluralisme, leberalisme, komunisme dan paham  sesat lainnya, kami bertemu dan memang wajah-wajah ini”, kata Bachtiar.</p>
<p>Sumber : http://www.suara-islam.com/detail.php?kid=4271</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fmiumi-asa-menegakkan-fatwa%2F&amp;title=MIUMI%2C%20Asa%20Menegakkan%20Fatwa" id="wpa2a_4"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/miumi-asa-menegakkan-fatwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MIUMI untuk revitalisasi</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/miumi-untuk-revitalisasi/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/miumi-untuk-revitalisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Mar 2012 06:32:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2262</guid>
		<description><![CDATA[Masa depan umat Islam mejadi hal yang perlu dipikirkan bersama. Berwal dari komunitas ke munitas, diskusi ke diskusi hingga akhirnya membentuk kajian ilmiah mengenai problematika umat dan kebangsaan. Hari Selasa (28/02/2012) malam, bertempat di Hotel Grand Sahid Jakarta dideklarasikan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).Majelis ini memilih Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi menjadi Ketua dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masa depan umat Islam mejadi hal yang perlu dipikirkan bersama.  Berwal dari komunitas ke munitas, diskusi ke diskusi hingga akhirnya  membentuk kajian ilmiah mengenai problematika umat dan kebangsaan.<br />
Hari  Selasa (28/02/2012) malam, bertempat di Hotel Grand Sahid Jakarta  dideklarasikan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia  (MIUMI).Majelis ini memilih Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi menjadi Ketua dan  Bahtiar Nasir, LC menjadi Sekjen.<br />
Dr Hamid Fahmi yang juga merupakan  putra pendiri Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo, KH. Imam  Zarkasyi, menjelaskan, kehadiran MIUMI berkomitmen untuk membantu  menyelesaikan problem keumatan dan kebangsaan yang ada di Indonesia.<br />
“Fokus keberadaan MIUMI adalah menyelesaikan permasalahan  keumatan dan kebangsaan berbasis keilmuan.Secara intelektual, MIUMI  menyelesaikan setiap masalah tersebut dengan kajian ilmiah dan tidak  menomor-duakan syariah dan disiplin ilmu keislaman,” ujarnya kepada  pers.<br />
Menurut Hamid, kehadiran organisasi ulama muda ini secara  spesifik lebih berfokus pada pencarian solusi ketika terjadi perbedaan  pendapat pada umat. Ia menyebut kasus-kasus keumatan seperti; perbedaan  Idul Fitri, dan beberapa permasalahan yang melahirkan perbedaan pendapat  pada diri umat, maka dibutuhkan sebuah kajian ilmiah yang melibatkan  semua golongan dan akhirnya mampu melahirkan keputusan bersama demi  kemaslahatan umat.<br />
Sementara itu, Sekjen MIUMI, Bahtiar Nasir  mengatakan, tujuan berdirinya MIUMI justru untuk mempersatukan umat,  bukan menciptakan kelompok baru.<br />
“MIUMI akan mengerjakan hal-hal yang sudah dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).”<br />
Selain  itu, kehadirannya diharapkan bisa ikut menyelesaikan permasalahan  keumatan dan mencari jalan keluar dengan cara ilmiah tanpa meninggalkan  basis-basis disiplin ilmu aqidah dan syariat Islam. Dan yang terpenting,  menurut Bahtiar, kehadiran organisasi ini akan melakukan revitalisasi  terhadap lembaga keulamaan yang sudah ada.<br />
Acara deklarasi ini  dihadiri banyak tokoh, di antaranya ada intelektual muda, Dr Adian  Husaini,  Budayawan Taufiq Ismail, Dr. Din Syamsuddin, Fadhlan  Garamatan, Dr Bambang Wijayanto (KPK), Dr Abraham Samad (KPK), Dr  Yunahar Ilyas, MA (Muhammadiyah), KH. Cholil Ridwan (MUI), Dr Mahfudz MD  (MK), Dr Fuad Bawazier,  Sekjen FUI, M Khatath, Farid Ogbah, Muhamamd  Asmin (Wahdah Islamiyah), Fahmi Salim, MA, Asep Sobari, MA.</p>
<p>sumber : http://nahimunkar.com/11406/miumi-didirikan-untuk-melakukan-revitalisasi-terhadap-lembaga-keulamaan-yang-sudah-ada/</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fmiumi-untuk-revitalisasi%2F&amp;title=MIUMI%20untuk%20revitalisasi" id="wpa2a_6"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/miumi-untuk-revitalisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia dan Liberalism</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/indonesia-dan-liberalism/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/indonesia-dan-liberalism/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Mar 2012 13:49:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2259</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Satu-satunya negara muslim dimana proyek liberalisme sedemikian berhasil adalah Indonesia. Gagasan yang telah menggerogoti akidah umat muslim ini sangat subur di negara berpenduduk muslim terbesar ini, mengalahkan Negara-negara muslim lainnya. Bayangkan saja, pemikiran liberal terjadi dihampir seluruh struktur. Hal itu dikatakan Dewan Pembina INSISTS, DR. Hamid Fahmi Zarkasyi M.Phil mencermati perkembangan liberalisme di seluruh dunia. &#160; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Satu-satunya negara muslim dimana proyek liberalisme sedemikian  berhasil adalah Indonesia. Gagasan yang telah menggerogoti akidah umat  muslim ini sangat subur di negara berpenduduk muslim terbesar ini,  mengalahkan Negara-negara muslim lainnya. Bayangkan saja, pemikiran  liberal terjadi dihampir seluruh struktur. Hal itu dikatakan Dewan  Pembina INSISTS, DR. Hamid Fahmi Zarkasyi M.Phil mencermati perkembangan  liberalisme di seluruh dunia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Pada tahun 2004, koran Herald Tribune (Media Amerika, red.)  menampilkan sebuah berita yang sangat menarik. Di Koran itu dimuat  sebuah pernyataan seorang pejabat Amerika bahwa Amerika sekarang  mengalihkan perhatiannya ke Negara Asia tenggara khususnya Indonesia  daripada ke Timur Tengah tengah,” tegasnya kepada Eramuslim.com.</p>
<p>Itu baru satu fakta. Pemimpin Program Kaderisasi Ulama (PKU) di  Gontor ini juga mengutip skenario RAND Corporation yang membenturkan  kaum Fundamentalis dengan Tradisionalis Islam.</p>
<p>“Dari buku-buku yang saya baca, khususnya skenario RAND Corporation  ternyata terjadi di Indonesia. Seperti misalnya mengotak atik tafsir  tradisonal. Memecah belah antara tradisional dengan fundamentalis.  Menerbitkan buku-buku moderat. Itu semua terjadi di Indonesia dan saya  lihat itu tidak terjadi di Negara lain,” sambungnya yang menempuh master  di University of Birmingham, Inggris, ini.</p>
<p>Hal sama juga berlaku dalam perkembangan isu kesetaraan gender yang dimainkan para feminis di Indonesia.</p>
<p>“Ada satu berita di Lebanon bahwa ketika terjadi konferensi gender  disana, utusan Indonesia itu dipuji, karena pengarusutamaan gender yang  paling berhasil di seluruh dunia adalah Indonesia. Itu merupakan suatu  bukti yang tidak dapat dipungkiri,” tegasnya.</p>
<p>Lantas faktor apa yang membuat gagasan liberalisme tumbuh makmur di  Indonesia? Apakah karena memang Indonesia telah dijadikan sasaran  sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ataukah lebih karena  kultur budaya Indonesia yang mudah dimasuki gagasan Barat?</p>
<p>“Dua-duanya. Karena Indonesia Negara yang besar tapi kita rapuh.  Intektualnya rapuh, ekonomi juga rapuh sehingga anak-anak muda dikasih  dana yang cukup akan ikut dengan pemikiran Barat. Awalnya kan proyek.  Dari proyek menjadi sebuah pemikiran. Dari pemikiran menjadi teologi,”  pungkasnya. (Pz)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.miumipusat.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=29:indo&#038;catid=3:berita&#038;Itemid=5</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Findonesia-dan-liberalism%2F&amp;title=Indonesia%20dan%20Liberalism" id="wpa2a_8"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/indonesia-dan-liberalism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pers Rilis : MIUMI untuk Indonesia yang beradab</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/pers-rilis-miumi-untuk-indonesia-yang-beradab/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/pers-rilis-miumi-untuk-indonesia-yang-beradab/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2012 02:29:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2255</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Di tengah gegap gempita gerakan politik dan euphoria kebebasan berpendapat di Indonesia akhir-akhir ini telah merubah setting pemikiran umat Islam. Berbagai persoalan keagamaan baik itu aqidah ataupun syariah diselesaikan dengan pertimbangan kuat dari aspek politik atau kepentingan politik internasional sesaat. Terdobraknya pola fikir (manhaj al-fikri) atau metodologi kajian Islam oleh sekluarisme, dalam berbagai bidang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Di tengah gegap gempita gerakan politik dan euphoria kebebasan  berpendapat di Indonesia akhir-akhir ini telah merubah setting pemikiran  umat Islam. Berbagai persoalan keagamaan baik itu aqidah ataupun  syariah diselesaikan dengan pertimbangan kuat dari aspek politik atau  kepentingan politik internasional sesaat.</p>
<p>Terdobraknya pola fikir (manhaj al-fikri) atau metodologi kajian  Islam oleh sekluarisme, dalam berbagai bidang keilmuan Islam, khususnya  disiplin ilmu-ilmu tradisional. Padahal metodologi atau pola fikir dalam  berbagai bidang keilmuan tradisional itulah yang kini menjadi pegangan  para ulama dalam membimbing umat pada saat ini.</p>
<p>Akibatnya, ketika otoritas ulama mulai dipertanyakan, yang terjadi  adalah kesan bahwa fatwa ulama tidaklah mutlak karena masih terdapat  ulama lain yang mempersoalkannya. Jika kemutlakan atau otoritas mulai  dipersoalkan konsekuensi yang muncul adalah relativitas kebenaran fatwa.  Apa yang sejatinya sedang terjadi adalah ghazwul fikri yang intinya   adalah perang framework atau manhaj berfikir. Manhaj yang digunakan  kelompok anti fatwa ini berasal dari framework berfikir Barat yang  diinspirasi oleh metodologi dalam ilmu sosial yang tidak banyak  diketahui oleh para ulama. Sementara mereka yang menentang otoritas  ulama telah faham manhaj berfikir para ulama. Disini para ulama  memerlukan dukungan dari intelektual muda Muslim dalam memperkuat manhaj  berfikir Islam yang dapat merespon tantangan pemikiran.</p>
<p>Selain itu, umat Islam, yang kini kebanyakan telah terpelajar,  memendam banyak persoalan yang memerlukan jawaban segera, serius,  ilmiyah dan tuntas. Namun berbagai persoalan yang muncul itu tidak  selalu mendapat tanggapan cepat dan serius dari para ulama yang tidak  sekedar dalam bentuk fatwa. Umat memerlukan tanggapan yang bisa difahami  secara rasional dalam bentuk tulisan yang lengkap akademik dan dapat  dipertanggung jawabkan. Disini, lagi-lagi terdapat celah tugas yang  harus diemban oleh intelektual muda.</p>
<p>Terlepas dari persoalan keilmuan, terdapat persoalan-persoalan lain  yang dihadapi oleh umat Islam yang bersifat praktis dan memerlukan  solusi praktis pula. Masalah-masalah sosial umat Islam tidak selalu  dapat diselesaikan melalui kajian keilmuan. Banyak masalah yang  memerlukan solusi dalam bentuk gerakan sosial, pendekatan personal dan  juga lobby secara struktural dan kultural dan lain sebagainya. Disini  kearifan generasi tua yang disegani perlu dipersatukan dengan semangat  intelektual muda yang dinanti-nanti.</p>
<p>Itulah sejatinya ruang kosong yang akan diisi oleh intelektual dan  ulama muda yang tergabung dalam Majelis Intelektual dan Ulama Muda  Indonesia (MIUMI).  Hari ini, tepat pada 28 Februari 2012, sejumlah  intelektual dan ulama muda Indonesia mendeklarasikan diri dalam sebuah  organisasi bernama Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).</p>
<p>Mereka,  para intelektual dan ulama muda yang mensepakati berdirinya  MIUMI ini, selain DR. Adian Husaini yaitu, DR. Muchlis M. Hanafi  (Manager Program Pusat Studi Al-Aqur’an Depag), M. Idrus Romli (PWNU  Jember dan Jatim),  Muhammad Zaitun Rasmin. (Wahdah Islamiyah-Makassar),  Nashruddin Syarief, Jeje Zaenuddin (Pemuda Persis), Fahmi Salim (Komisi  Kajian &amp; Penelitian MUI), Ahmad Sarwat (Rumah Fiqih Indonesia),  Farid A. Okbah (Yayasan Al Islam), Fadzlan Garamatan (Yayasan Al-Fatih  Kaaffa Nusantara), Henri Shalahuddin (Peneliti &amp; Sekretaris  Insists), Asep Sobari (Redaksi Majalah Gontor), M. Khudori (Alumnus  Gontor &amp; Univ. Islam Madinah) serta Hamid Fahmi Zarkasyi (Ketua  Insists) yang secara aklamasi ditunjuk sebagai Ketua Majelis Pimpinan  MIUMI, dan Bachtiar Nasir sebagai Sekjend MIUMI.</p>
<p>Menurut M . Idrus Romli,  fungsi majelis MIUMI ini lebih pada aksi,  yang harus menjadi solusi bagi persoalan yang selama ini dihadapi umat  Islam. “Dan tidak akan menajdi problem bagi ormas-ormas Islam yang sudah  ada. Karena memang forum ini telah menjadi wadah bagi seluruh ormas  islam yang ada, khususnya bagi kaum intelektual dan ulama muda. Sama  halnya dengan MUI yang menjadi wadah berbagai ormas Islam yang ada dari  kalangan ulama senior,” tambahnya.</p>
<p>Fadzlan Garamatan, Ustadz kelahiran Papua dan telah mengislamkan  puluhan ribu orang Papua ini menegaskan, bahwa wadah ulama muda ini  harus sungguh-sungguh dan hanya berorientasi pada Allah untuk kemanangan  Islam dan kejayaan umat Islam. “Bukan mementingkan pada kepentingan  kelompoknya masing-masing,” ungkapnya.</p>
<p>Tentang kepentingan kelompok ini, MIUMI akan menjadi organisasi yang  netral. Kenetralan ini yang  menjadikan MIUMI sebagai mediator dan  menjadi organisasi yang menggerakkan kealpaan maupun keterlambatan  organisasi Islam dalam mengeluarkan fatwa. Sebab, MIUMI harus objektif  berjuang demi menegakkan akidah Islam.</p>
<p>Selain lambannya fatwa, MIUMI juga ingin menatakelola masalah yang  berkaitan dengan hari raya besar umat Islam. MIUMI sangat prihatin  dengan kasus Idul Fitri 2011, dimana terdapat 2 (dua) hari yang berbeda  dalam merayakan Idul Fitri. “Peristiwa itu membuat umat bingung,” ujar  Bachtiar Nasir. “Sebetulnya bisa diselesaikan, tetapi karena  masing-masing memiliki ego, sehingga hal itu terjadi”.</p>
<p>Masih tetang kepentingan, bahwa MIUMI tidak akan berafiliasi dengan  organisasi politik manupun, yang mencoba memanfaatkan. Justru menjelang  Pemilu 2014, MIUMI akan mengadvokasi umat yang selama ini dimanfaatkan  oleh elit politik demi kepentingan partai politik maupun ambisi pribadi.</p>
<p>“Di MIUMI tidak ada orang partai agar organisasi kami tidak  tergantung pada parti. Bersama MIUMI, kami akan mendudukkan umat pada  tempatnya. Kami akan mengatakan pada para ulama dan umat, bahwa  berpolitik itu tidak harus masuk ke dalam partai politik. Berdakwah itu  adalah berpolitik. Jangan pecah belah umat lagi. Politik MIUMI adalah  untuk Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ungkap  Bachtiar Nasir lagi.</p>
<p>Selama ini sejumlah intelektual dan ulama tersebut tersebar di dalam  maupun luar negeri, secara individu dan memiliki agenda kegiatan, serta  aktif di berbagai ormas Islam di Indonesia. Padahal mereka memiliki  potensi sangat besar untuk membangun bangsa Indonesia menjadi jauh lebih  baik, terlebih lagi latar belakang keilmuan, keorganisasian, dan  aktivitas mereka yang begitu beragam. Dengan terbentuknya MIUMI,  beberapa aktivis dakwah ini bertekad mengkonstrasikan diri dengan  menyatukan potensi untuk membangun kekuatan bersama. Meski terdiri  berbagai ormas, ke-15 ulama muda pendiri MIUMI ini sepakat untuk tidak  mempertajam perbedaan-perbedaan di tingkat khilafiyah atau zhanniyyah.</p>
<p>“Sudah bersatu saja kita belum tentu mampu menghadapi tantangan yang  begitu kuat, apalagi sendiri-sendiri,” tandas Ustadz Adian Husaini,  Dosen Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor, Jawa Barat.  “Sangat indah, berbagai latar belakang ini bersepakat untuk  bersilaturrahim dengan mengedepankan ukhuwah islamiyah, menyatukan  wawasan, serta mengkonsentrasikan diri pada masalah-masalah besar umat  yang disepakati,” ujar Adian.</p>
<p>Cikal bakal pendirian MIUMI dilakukan di awal tahun 2012. Saat itu,  sejumlah intelektual muda diatas dan ulama muda dari berbagai organisasi  masa (ormas) Islam untuk bersama. Alhamdulillah, tepat pada 3 Januari  2012 lalu, 15 ulama muda berkumpul tepatnya di markas Ar-Rahman Quranic  Learning Center (AQL) yang saat itu berada di jalan Karang Asem Raya no  23, Kuningan, Jakarta Selatan.</p>
<p>Dalam pertemuan tersebut, para pendiri MIUMI meyakini, wadah yang  akan dibentuk dapat memberikan harapan yang besar pada dunia dakwah  Islam di Indonesia. Sebab, mereka sepakat tidak melakukan konfrontasi  atau pertentangan dengan lembaga Islam atau ormas Islam yang sudah ada.</p>
<p>“Kita sepakat untuk memberikan yang terbaik demi membantu ormas-ormas  atau lembaga-lembaga yang sudah ada. Jadi keberadaan kami ini tidak  untuk mempertajam perbedaan yang ada, tetapi kita ingin memberikan  kontribusi yang yang nyata yang dibutuhklan oleh umat,” ungkap Bachtiar  Nasir, pimpinan AQL yang ditunjuk sebagai Sekjend MIUMI.</p>
<p>Ustadz M. Khudori dari Jakarta menambahkan, ormas dan lembaga Islam  di Indonesia sangat banyak, tetapi tidak berwibawa. Setiap lembaga  mengeluarkan fatwa, tapi persoalannya pada rendahnya tingkat penerimaan  atau respon masyarakat terhadap fatwa tersebut.</p>
<p>“Respons kita selama ini terhadap persoalan-persoalan umat tidak  orisinal, karena fatwa tersebut tidak didasari oleh basis penelitian  yang kuat. Sehingga solusi yang kita sodorkan bersifat permukaan,”  tandasnya. “Dengan keberadaan MIUMI ini, dapat berfungsi sebagai  penyalur bahan-bahan observasi berdasarkan penelitian kepada   institusi-institusi yang sudah ada, yang lebih berkompoten mengeluarkan  fatwa. Produk-produk maupun kebijakan majelis ini harus menyentuh  segmentasi yang jelas, yakni pada aplikasi umat di lapangan” tambahnya.</p>
<p>Berkaitan dengan sosialisasi fatwa, ustadz M. Idrus menegaskan sudah  begitu banyak keputusan fatwa yang dikeluarkan oleh ormas Islam dan MUI,  namun sosialisasinya masih terasa kurang efektif. “Insya Allah melalui  forum ini, fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan berbagai ormas, akan dapat  diakses oleh kalangan yang lebih luas dan disosialisasikan lebih merata  di berbagai lapisan kalangan masyarakat,” utadz yang tengah meneliti  pecahnya kasus di Sampang, Madura, baru-baru ini. (*)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.miumipusat.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=26:persrilis&#038;catid=5:tentangm</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fpers-rilis-miumi-untuk-indonesia-yang-beradab%2F&amp;title=Pers%20Rilis%20%3A%20MIUMI%20untuk%20Indonesia%20yang%20beradab" id="wpa2a_10"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/pers-rilis-miumi-untuk-indonesia-yang-beradab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menunggu Peran MIUMI</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/menunggu-peran-miumi/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/menunggu-peran-miumi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2012 11:05:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2252</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Written by DR. Adian Husaini (*) Monday, 05 March 2012 01:51 &#160; “Rakyat rusak karena penguasanya rusak; penguasa rusak gara-gara ulama rusak; dan ulama rusak karena terjangkit penyakit gila dunia.” Mutiara hikmah dari Imam al-Ghazali itu disampaikan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. DR. Mahfud MD saat memberikan sambutan dalam acara deklarasi Majelis Intelektual dan Ulama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" width="70%" valign="top">Written by DR. Adian Husaini (*)</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">Monday, 05 March 2012 01:51</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Rakyat  rusak karena penguasanya rusak; penguasa rusak gara-gara ulama rusak;  dan ulama rusak karena terjangkit penyakit gila dunia.”</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p>Mutiara  hikmah dari Imam al-Ghazali itu disampaikan Ketua Mahkamah Konstitusi  Prof. DR. Mahfud MD saat memberikan sambutan dalam acara deklarasi  Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Selasa  (28/2/2012). Mahfud MD, saat itu, tampak sangat serius. Ia menyebut  berbagai fenomena kerusakan masyarakat akibat rusaknya ulama dan  intelektual. Lihatlah, dalam berbagai survei, calon pemimin hanya  diobservasi aspek popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitasnya.  “Tidak ada kriteria akhlak.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Karena  itu, jika ulama dan intelektual rusak, maka rusaklah seluruh tatanan  dan masyarakat itu sendiri. Imam al-Ghazali (w.1111 M) sudah lama  mengingatkan masalah ini. Karena itulah, al-Ghazali menuliskan bab  tentang Ilmu di awal Kitab monumentalnya, <em>Ihya’ Ulumiddin</em>.  Peran penting ilmu dan ulama dibahas secara panjang lebar. Begitu juga  dijelaskan bahaya kerusakan ilmu dan ulama jahat (ulama <em>as-su’</em>).</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>Pada  malam deklarasi MIUMI, Prof. DR. Din Syamsuddin, Ketua PP Muhammadiyah,  mengingatkan kehadiran MIUMI harus memberikan solusi bagi berbagai  persoalan bangsa, diantaranya ialah merebaknya lingkaran imoralitas.  Menurut Din, MIUMI tidak perlu dianggap sebagai saingan bagi organisasi  lainnya, seperti MUI. “Justru MUI harus bersyukur, karena perjuangannya  dilanjutkan oleh kader-kader muda yang tergabung dalam MIUMI,” kata Din  Syamsuddin, yang juga wakil ketua umum MUI pusat.</div>
<p>Ketua  MUI KH A Cholil Ridwan dalam sambutannya mengajak ulama utuk lebih  “mendekat ke masjid” dan aktif mengurusi masalah umat. Kehadiran wakil  ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bambang Widjojanto menarik  banyak perhatian. Bambang yang selama berbulan-bulan tidak muncul di  media massa, malam itu hadir dan hanya menyampaikan sambutan singkat. Ia  mengingatkan MIUMI agar segera bekerja, karena, ujarnya, “Mulut kita  satu, tapi tangan dan kaki kita ada dua.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Acara  deklarasi MIUMI dihadiri oleh sekitar 300 undangan dari berbagai  kalangan intelektual dan ulama. Hadir juga Ketua MUI Prof. DR. Yunahar  Ilyas, sastrawan terkenal Taufik Ismail, dan juga banyak intelektual dan  ulama muda dari berbagai propinsi dan berbagai bidang kepakaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Lebih beradab</strong></p>
<p>Dalam  Deklarasi yang dibacakan oleh Ustad Fadlan Garamatan dari Papua, MIUMI  menegaskan adanya kesinambungan risalah keilmuan, perjuangan dan dakwah  di Nusantara yang merupakan amanah dan tanggung jawab bagi kaum  intelektual dan ulama dari masa ke masa. Hal lain yang melatarbelakangi  pendirian MIUMI adalah kemerosotan otoritas ulama dan perpecahan ulama  dan umat. Ini kondisi yang mengkhawatirkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ulama  diamanhi oleh Nabi SAW sebagai pewaris perjuangan penegakan risalah  kenabian. Maknanya, umat Islam wajib mewujudkan adanya ulama-ulama dalam  kualitas dan kuantitas yang mencukupi (<em>kifayah</em>). Pengadaan  ulama dalah salah satu kewajiban penting. Tentu, ulama di sini adalah  ulama yang sebenarnya. Ulama wajib memahami makna risalah. Dalam kaitan  inilah ulama wajib memahami al-Quran dan Hadits Nabi serta metodologi  yang benar dalam memahami kedua sumber utama ajaran Islam itu. Juga,  ulama mestinya terlibat aktif dalam solusi bagi persoalan umat. Dan yang  penting, ulama juga wajib berakhlak mulia, punya sifat takut kepada  Allah (<em>khasyatullah</em>), dan zuhud (tidak gila dunia, termasuk gila jabatan).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>MIUMI mengusung semboyan: “<strong><em>Untuk Indonesia yang lebih beradab.” </em></strong>Menurut  Prof. Din Syamsuddin, semboyan itu terlalu sopan dan malu-malu. Yang  lebih tepat, sarannya: “Untuk Indonesia yang beradab”. Itu mengingat  kondisi social politik yang sangat parah dalam berbagai bidang  kehidupan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Adab”  memang salah satu konsep kunci dalam Islam, dan juga menjadi salah satu  kata kunci dalam Pancasila. Saat memberikan ucaptama (<em>keynote speech</em>)  di Konferensi Pendidikan Islam Internasional pertama diMekkah, 1977,  Prof DR Syed Muhammad Naquib al-Attas menyebutkan problem utama umat  Islam adalah “loss of adab” (<em>hilang adab), </em>yang berakar pada kondisi kerancuan ilmu (<em>confusion of knowledge</em>). Ilmu yang salah mengantarkan kepada kerusakan tata-pikir seseorang dan selanjutnya kerusakan tatanan masyarakat yang beradab.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika  adab hilang, maka manusia tidak tahu lagi bagaimana seharusnya bersikap  terhadap Tuhan. Syirik – menyekutukan Allah – adalah dosa yang tak  terampuni dan kezaliman besar. Syirik menyejajarkan al-Khaliq dengan  makhluk. Kini, di era modern, bahkan banyak manusia berani menantang  Tuhan, menolak campur tangan Tuhan dalam kehidupan pribadi dan  masyarakatnya. Saat Tuhan disingkirkan, maka manusia merasa sebagai  Tuhan. Sikap seperti ini sangat tidak beradab kepada Tuhan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adab  pada ilmu adalah kemampuan memilah dan memilih ilmu-ilmu yang wajib  (baik fardhu ain atau fardhu kifayah) dengan ilmu-ilmu yang salah.  Masyarakat beradab menempatkan orang berilmu dan saleh ke posisi tinggi,  lebih tinggi ketimbang penghibur. Adab pada Nabi maknanya, kesediaan  menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai <em>uswatun hasanah</em> (suri tauladan). Tidak beradab, jika menempatkan pezina dan pendusta di atas posisi Nabi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebuah terobosan penting dalam MIUMI adalah kesepakatan menjadikan <em>Ahlus Sunnah wal-Jamaah</em> (Aswaja) sebagai titik acuan bersama. Konsep Aswaja menaungi berbagai  paham dalam Islam. NU, Muhammadiyah, Persis, DDII, al-Irsyad, dan  sebagainya tercakup dalam konsep ini. Dengan ini, MIUMI juga menolak  pengembangan paham liberalisme dan berbagai aliran sesat. Namun,  penolakan itu pun harus dilakukan secara ilmiah, berdasarkan hujjah dan  keilmuan yang jelas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Satu  fungsi penting MIUMI adalah sebagai wadah pengembangan potensi  intelektual dan ulama muda yang jumlahnya semakin bertambah di berbagai  daerah. Komitmen dakwah dan keilmuan dijadikan sebagai acuan. “Jangan  sampai potensi-potensi muda itu layu sebelum berkembang,” kata Sekjen  MIUMI, Bachtiar Nasir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tentu semua cita-cita besar itu baik. Kini, umat menunggu bukti. (Artikel ini, dengan sedikit modifikasi telah dimuat di Harian <em>Republika</em>, Sabtu, 3- Maret- 2012***)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>(*) Deklarator MIUMI</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fmenunggu-peran-miumi%2F&amp;title=Menunggu%20Peran%20MIUMI" id="wpa2a_12"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/menunggu-peran-miumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Deklarasi Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/deklarasi-majelis-intelektual-dan-ulama-muda-indonesia-miumi/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/deklarasi-majelis-intelektual-dan-ulama-muda-indonesia-miumi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2012 11:04:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2250</guid>
		<description><![CDATA[&#160; TEMPO.CO, Jakarta &#8211; Para intelektual dan ulama muda Indonesia mendeklarasikan organisasi Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) di hotel Grand Sahid, pada 28 Februari. Organisasi ini bukan tandingan majelis ulama Indonesia, melainkan memperkuat otoritas lembaga keulamaan. Saat ini problematika dihadapi umat cukup kompleks. Sejumlah ulama tidak mampu memberikan solusi terbaik, karena ada ulama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>TEMPO.CO</strong>, <strong>Jakarta</strong> &#8211; Para intelektual dan ulama muda Indonesia mendeklarasikan organisasi  Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) di hotel Grand  Sahid, pada 28 Februari. Organisasi ini bukan tandingan majelis ulama  Indonesia, melainkan memperkuat otoritas lembaga keulamaan.<br />
Saat  ini problematika dihadapi umat cukup kompleks. Sejumlah ulama tidak  mampu memberikan solusi terbaik, karena ada ulama memiliki kepentingan  dan agenda politik. Padahal problematika  harus ada jawaban untuk umat,  tanpa satu kepentingan organisasi masa atau partai politik tertentu.<br />
Para  intelektual dan ulama muda yang sepakati berdirinya MIUMI ini adalah,  DR Hamid Fahmi Zarkasyi, ketua program kader ulama pesantren Gontor,  Ponorogo yang secara aklamasi ditunjuk sebagai Ketua Majelis Pimpinan  MIUMI, dan Bachtiar Nasir sebagai Sekjen MIUMI. Bachtiar merupakan dai  yang menjadi nara sumber rubrik konsultasi agama di surat kabar harian  Republika.</p>
<p>“<em>Lahirnya organisasi ini bukan menyaingi MUI tapi justru memperkuat otoritas lembaga keulamaan setingkat MUI</em>,”  kata Hamid Fahmi. Nantinya, fungsi majelis MIUMI ini lebih pada aksi  dan menjadi solusi bagi persoalan yang selama ini dihadapi umat Islam.</p>
<p>Menurut  Sekjen MIUMI H. Bachtiar Nasir Lc, MM lembaga ini diharapkan bisa  merevitalisasi perbedaan yang terjadi di antara ormas Islam. Misalnya,  perbedaan waktu hari raya Idul Fitri, jatuhnya hari puasa Ramadhan yang  berbeda, serta melemahnya lembaga ormas Islam yang ada selama ini.</p>
<p>Di  organisasi ini ada DR. Adian Husaini, ketua program magister dan doktor  pendidikan Islam universitas Ibn Khaldun, Bogor dan pakar tafsir al  Quran, Muchlis M. Hanafi dari Pusat Studi Al-Aqur’an Depag), M. Idrus  Ramli (Pengurus NU Jember), Muh. Zaitun R. (Wahdah Islamiyah-Makassar),  Nashruddin Syarief, Jeje Zaenuddin (Pemuda Persis), Fahmi Salim (Komisi  Kajian &amp; Penelitian MUI), Ahmad Sarwad (Rumah Fiqih Indonesia),  Farid A. Okbah (Yayasan Al Islam), Fadzlan Gamaratan (Yayasan Al-Fatih  Kaaffa Nusantara), Henri Shalahuddin (Peneliti &amp; Sekretaris  Insists), Asep Sobari (Redaksi Majalah Gontor), M. Khudori (Alumnus  Gontor &amp; Univ. Islam Madinah)</p>
<p>Meski  terdiri berbagai ormas, ke-15 ulama muda pendiri MIUMI ini sepakat  untuk tidak mempertajam perbedaan-perbedaan di tingkat khilafiyah atau  zhaniyah. “Sudah bersatu saja kita belum tentu mampu menghadapi  tantangan yang begitu kuat, apalagi sendiri-sendiri,” tandas Adrian  Ansaini.</p>
<p>Cikal  bakal pendirian MIUMI dilakukan di awal tahun 2012. Saat itu, Ustaz  Bachtiar Nasir merangkul sejumlah intelektual dan ulama muda dari  berbagai organisasi masa (ormas) Islam untuk bersama. Pendiri MIUMI  meyakini, wadah ini memberi harapan besar pada dakwah Islam di  Indonesia.</p>
<p>Ke depan, organisasi ini tabu bagi anggota yang ingin berpolitik.&#8221;<em>Kami tidak akan mencampurkan ke dunia politik. Syaratnya, bila ada anggota hengkang ke politik maka harus berpisah dengan MIUMI</em>,&#8221; tegas Hamid.</p>
<p>Wakil  Ketua Umum Majelis Ulama Indonesa (MUI) Pusat, Dr Din Syamsuddin yang  hadir dalam deklarasi ini, menyambut baik lahirnya organisasi MIUMI.  Menurut pemimpin PP Muhammadiyah ini, MIUMI bukan tandingan MUI,  kehadiran organisasi ini mengoptimalkan peran ulama dan membantu  otoritas keulamaan.</p>
<p>Prof.  Dr. Mohammad Mahfud M.D, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang juga hadir  mengatakan, kehadiran lembaga ulama muda ini diharapkan meningkatkan  kualitas ulama, terutama dari sisi kredibilitas, ketika menghadapi  fatwa-fatwa pesanan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.miumipusat.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=23:deklarasi-majelis-intelektual-dan-ulama-muda-indonesia-miumi-&#038;catid=5:tentangm</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fdeklarasi-majelis-intelektual-dan-ulama-muda-indonesia-miumi%2F&amp;title=Deklarasi%20Majelis%20Intelektual%20dan%20Ulama%20Muda%20Indonesia%20%28MIUMI%29" id="wpa2a_14"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/deklarasi-majelis-intelektual-dan-ulama-muda-indonesia-miumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MUI Sambut Kehadiran MIUMI</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/mui-sambut-kehadiran-miumi/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/mui-sambut-kehadiran-miumi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2012 11:02:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2248</guid>
		<description><![CDATA[&#160; TRIBUNNEWS.COM JAKARTA &#8211; Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesa (MUI) Pusat, Dr Din Syamsuddin menyambut baik lahirnya organisasi Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Menurut Din, kehadairan organisasi bukan saingan MUI, sebab kehadirannya justru mengoptimalkan peran ulama dan membantu otoritas keulamaan. Dengan adanya lembaga keagamaan yang notabene dihuni cendekiawan muda itu, MUI semakin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>TRIBUNNEWS.COM JAKARTA</strong> &#8211; Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesa (MUI) Pusat, Dr Din  Syamsuddin menyambut baik lahirnya organisasi Majelis Intelektual dan  Ulama Muda Indonesia (MIUMI).</p>
<div id="text_article">
<p>Menurut  Din, kehadairan organisasi bukan saingan MUI, sebab kehadirannya justru  mengoptimalkan peran ulama dan membantu otoritas keulamaan. Dengan  adanya lembaga keagamaan yang notabene dihuni cendekiawan muda itu, MUI  semakin terbantu dalam malakukan perjuangan agama.    Pemimpin PP Muhammadiyah ini menyarankan agar MIUMI harus bisa  menampilkan watak islam. Yakni sebagai agama kasih sayang dan  perdamaian, keadilan, kemajuan, serta agama kesaksian.“<em>Tentu dalam hal ini, MUI sangat menyambut baik</em>, “ujarnya, Selasa (28/02/2012) malam saat deklarasi MIUMI di Hotel Grand Sahid Jakarta.“<em>Kami berterima kasih karena ada generasi muda yang menjadi penerus-penerus MUI</em>,” tambah Din.</p>
<p>Pada  kesempatan yang sama , Prof. Dr. Mohammad Mahfud M.D, Ketua Mahkamah  Konstitusi (MK) mengingatkan, agar kehadiran lembaga ulama muda ini  diharapkan bisa meningkatkan kualitas ulama. “<em>Semoga bisa meningkatkan kualitas ulama, terutama dari sisi kredibilitasnya ketika menghadapi fatwa-fatwa pesanan</em>, “ ujarnya.</p>
<p>Sebelumnya,  Ketua MIUMI terpilih, Dr Hamid Fahmi Zarkasi menjelaskan, lahirnya  organisasi ini bukan untuk menyaingi MUI, tapi justru memperkuat  otoritas lembaga keulamaan setingkat MUI.</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.miumipusat.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=21:mui-sambut-kehadiran-miumi&#038;catid=5:tentangm</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fmui-sambut-kehadiran-miumi%2F&amp;title=MUI%20Sambut%20Kehadiran%20MIUMI" id="wpa2a_16"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/mui-sambut-kehadiran-miumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejumlah Tokoh Nasional Dukung MIUMI</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/sejumlah-tokoh-nasional-dukung-miumi/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/sejumlah-tokoh-nasional-dukung-miumi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2012 10:57:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2245</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Sejumlah tokoh nasional memberikan dukungan kepada Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).  Diantaranya ialah Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin, Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Dr Mahfud MD, Ketua MUI KH A. Cholil Ridwan dan Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto, penyair terkenal Taufik Ismail, dan sebagainya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Sejumlah  tokoh nasional memberikan dukungan kepada Majelis Intelektual dan Ulama  Muda Indonesia (MIUMI).  Diantaranya ialah Ketua PP Muhammadiyah Prof  Dr Din Syamsuddin, Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Dr Mahfud MD, Ketua  MUI KH A. Cholil Ridwan dan Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Wakil Ketua Komisi  Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto, penyair terkenal Taufik  Ismail, dan sebagainya. Para tokoh itu hadir dalam acara Deklarasi MIUMI  yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa (28/2/2012).</p>
<p>Din Syamsuddin, dalam sambutannya  menyatakan, kehadiran MIUMI harus memberikan solusi bagi berbagai  persoalan bangsa, diantaranya ialah merebaknya lingkaran imoralitas.  Menurut Din, MIUMI tidak perlu dianggap sebagai saingan bagi organisasi  lainnya, seperti MUI. “<em>Justru MUI harus bersyukur, karena perjuangannya dilanjutkan oleh kader-kader muda yang tergabung dalam MIUMI</em>,” kata Din Syamsuddin, yang juga wakil ketua umum MUI pusat.</p>
<p>Sementara itu, dalam sambutannya, Mahfud  MD menyatakan, perlunya ulama menjaga diri dan dapat menjadi teladan  bagi masyarakat. Sebab, memang ada ulama yang jahat, atau ulama as-su’.   Mahfud yang hadir tidak mewakili siapa-siapa, mengutip kata-kata  seorang ulama (Imam al-Ghazali) yang menyatakan, bahwa masyarakat rusak  karena penguasanya rusak; dan penguasa rusak karena ulamanya rusak; dan  ulama rusak karena terjangkit penyakit cinta dunia, cinta jabatan.</p>
<p>Sebagai salah satu pimpinan KPK, Bambang  Widjojanto menyampaikan sambutan singkat. Ia mengingatkan MIUMI agar  segera bekerja, karena, ujarnya, “<em>Mulut kita satu, tapi tangan dan kaki kita ada dua</em>.”     Bambang menunjuk contoh suatu kezaliman dalam penyusunan APBN 2012  yang jumlahnya mencapai Rp 1300 trilyun. Tapi, yang diperuntukkan untuk  sector pertanian hanya Rp 30 trilyun. Padahal, sektor ini mencakup 70  persen penduduk Indonesia, dan sekitar 70 persennya tergolong miskin.</p>
<p>Acara deklarasi MIUMI dihadiri oleh  sekitar 300 undangan dari berbagai kalangan intelektual dan ulama. Usai  acara Deklarasi, diadakan musyawarah dan perbincangan dengan undangan  antara pengurus MIUMI Pusat dengan undangan dari daerah-daerah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.miumipusat.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=14:siaranpers&#038;catid=3:berita&#038;Itemid=5</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fsejumlah-tokoh-nasional-dukung-miumi%2F&amp;title=Sejumlah%20Tokoh%20Nasional%20Dukung%20MIUMI" id="wpa2a_18"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/sejumlah-tokoh-nasional-dukung-miumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fatwa Pendiri Nahdhatul Ulama</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/fatwa-pendiri-nahdhatul-ulama/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/fatwa-pendiri-nahdhatul-ulama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2012 00:57:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2239</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; Fatwa Pendiri Nahdhatul Ulama Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari (1292-1366 H, 1875-1947 M) Tentang Syi’ah &#160; المقالة الأولى: فصل في بيان تمسك أهل جاوى بمذهب أهل السنة والجماعة، وبيان ابتداء ظهور البدع وانتشارها في أرض جاوى، وبيان أنواع المبتدعين في هذا الزمان. قد كان مسلموا الأقطار الجاوية في الأزمان السالفة الخالية متفقي الآراء [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Fatwa Pendiri Nahdhatul Ulama</strong></p>
<p><strong>Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari (1292-1366 H, 1875-1947 M)</strong></p>
<p><strong>Tentang Syi’ah</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>المقالة الأولى:</strong></p>
<p>فصل  في بيان تمسك أهل جاوى بمذهب أهل السنة والجماعة، وبيان ابتداء  ظهور البدع  وانتشارها في أرض جاوى، وبيان أنواع المبتدعين في هذا الزمان.</p>
<p>قد  كان مسلموا الأقطار الجاوية في الأزمان السالفة الخالية متفقي  الآراء  والمذهب ومتحدي المأخذ والمشرب، فكلهم في الفقه على المذهب النفيس  مذهب  الإمام محمد بن إدريس، وفي أصول الدين على مذهب الإمام أبي الحسن  الأشعري،  وفي التصوف على مذهب الإمام الغزالي والإمام أبي الحسن الشاذلي  رضي الله  عنهم أجمعين.</p>
<p>ثم إنه حدث في عام الف وثلاثمائة وثلاثين أحزاب متنوعة  وآراء متدافعة  وأقوال متضاربة، ورجال متجاذبة، فمنهم سلفيون قائمون على ما  عليه أسلافهم  من التمذهب بالمذهب المعين والتمسك بالكتب المعتبرة  المتداولة، ومحبة أهل  البيت والأولياء والصالحين، والتبرك بهم أحياء  وأمواتا، وزيارة القبور  وتلقين الميت والصدقة عنه واعتقاد الشفاعة ونفع  الدعاء والتوسل وغير  ذلك&#8230;</p>
<p>ومنهم رافضيون يسبون سيدنا أبا بكر وعمر  رضي الله عنهما ويكرهون  الصحابة رضي الله عنهم، ويبالغون هوى سيدنا علي  وأهل بيته رضوان الله  عليهم أجميعن، قال السيد محمد في شرح القاموس: وبعضهم  يرتقي إلى الكفر  والزندقة أعاذنا الله والمسلمين منها. قال القاضي عياض في  الشفا: عن عبد  الله بن مغفل قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (الله  الله في أصحابي  لا تتخذوهم غرضا بعدى فمن أحبهم فبحبي أحبهم ومن أبغضهم  فببغضي أبغضهم ومن  آذاهم فقد آذانى ومن آذانى فقد آذى الله ومن آذى الله  يوشك أن يأخذه)  وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (لا تسبوا أصحابي فمن  سبهم فعليه لعنة  الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه صرفا ولا  عدلا) وقال صلى  الله عليه وسلم (لا تسبوا أصحابي فإنه يجئ قوم في آخر  الزمان يسبون أصحابي  فلا تصلوا عليهم ولا تصلوا معهم ولا تناكحوهم ولا  تجالسوهم وإن مرضوا فلا  تعودوهم) وعنه صلى الله عليه وسلم (من سب أصحابي  فاضربوه) وقد أعلم النبي  صلى الله عليه وسلم أن سبهم وآذاهم يؤذيه وأذى  النبي صلى الله عليه وسلم  حرام فقال (لا تؤذوني في أصحابي ومن آذاهم فقد  آذانى) وقال (لا تؤذوني في  عائشة) وقال في فاطمة (بضعة منى يؤذيني ما  آذاها). اهـ (الشيخ محمد هاشم  أشعري، رسالة أهل السنة والجماعة، ص 9-10).</p>
<p><strong>Maqolah 1:</strong></p>
<p>Pasal  untuk menjelaskan penduduk Jawi  berpegang kepada madzhab Ahlusunnah wal  Jama’ah, dan awal kemunculan  bid’ah dan meluasnya di Jawa, serta  macam-macam ahli bid’ah di zaman  ini.</p>
<p>Umat  Islam yang mendiami wilayah Jawa  sejak zaman dahulu telah bersepakat  dan menyatu dalam pandangan  keagamaannya. Di bidang fikih, mereka  berpegang kepada mazhab Imam  Syafi’I, di bidang ushuluddin berpegang  kepada mazhab Abu Al-Hasan  Al-Asy’ari, dan di bidang tasawuf berpegang  kepada mazhab Abu Hamid  Al-Ghazali dan Abu Al-Hasan Al-Syadzili, semoga  Allah meridhoi mereka  semua.</p>
<p>Kemudian  pada tahun 1330 H muncul  kelompok, pandangan, ucapan dan tokoh-tokoh  yang saling berseberangan  dan beraneka ragam. Di antara mereka adalah  kaum salaf yang memegang  teguh tradisi para tokoh pendahulu mereka  dengan bermazhab dengan satu  mazhab dan kitab-kitab mu’tabar, kecintaan  terhadap Ahlul Bait Nabi,  para wali dan orang-orang salih, selain itu  juga tabarruk dengan mereka  baik ketika masih hidup atau setelah wafat,  ziarah kubur, mentalqin  mayit, bersedekah untuk mayit, meyakini syafaat,  manfaat doa dan  tawassul serta lain sebagainya.</p>
<p>Di  antara mereka juga ada golongan  rofidhoh yang suka mencaci Sayidina Abu  Bakr dan ‘Umar RA., membenci  para sahabat nabi dan berlebihan dalam  mencintai Sayidina ‘Ali dan  anggota keluarganya, semoga Allah meridhoi  mereka semua. Berkata Sayyid  Muhammad dalam <em>Syarah Qamus</em>, sebagian mereka bahkan sampai pada tingkatan kafir dan zindiq, semoga Allah melindungi kita dan umat Islam dari aliran ini.</p>
<p>Berkata Al-Qadhi ‘Iyadh dalam kitab <em>As-Syifa bi Ta’rif Huquq Al-Musthafa</em>, dari Abdillah ibn Mughafal, Rasulullah SAW bersabda: <em>Takutlah   kepada Allah, takutlah kepada Allah mengenai sahabat-sahabatku.   Janganlah kamu menjadikan mereka sebagai sasaran caci-maki sesudah aku   tiada. Barangsiapa mencintai mereka, maka semata-mata karena   mencintaiku. Dan barang siapa membenci mereka, maka berarti semata-mata   karena membenciku. Dan barangsiapa menyakiti mereka berarti dia telah   menyakiti aku, dan barangsiapa menyakiti aku berarti dia telah menyakiti   Allah. Dan barangsiapa telah menyakiti Allah dikhawatirkan Allah akan   menghukumnya</em>. (HR al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi Juz V/hal. 696 hadits No. 3762).</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda, <em>Janganlah kamu mencela para sahabatku,</em><em> </em><em>Maka   siapa yang mencela mereka, atasnya laknat dari Allah, para malaikat  dan  seluruh manusia. Allah Ta’ala tidak akan menerima amal darinya pada   hari kiamat, baik yang wajib maupun yang sunnah</em><em>.</em><em> </em>(HR. Abu Nu’aim, Al-Thabrani dan Al-Hakim)</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda, <em>Janganlah   kamu mencaci para sahabatku, sebab di akhir zaman nanti akan datang   suatu kaum yang mencela para sahabatku, maka jangan kamu menyolati atas   mereka dan shalat bersama mereka, jangan kamu menikahkan mereka dan   jangan duduk-duduk bersama mereka, jika sakit jangan kamu jenguk mereka.</em> Nabi SAW telah kabarkan bahwa mencela dan menyakiti mereka adalah juga menyakiti Nabi, sedangkan menyakiti Nabi haram hukumnya.</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda: <em>Jangan kamu sakiti aku dalam perkara sahabatku, dan siapa yang menyakiti mereka berarti menyakiti aku.</em> Beliau bersabda, <em>Jangan   kamu menyakiti aku dengan cara menyakiti Fatimah. Sebab Fatimah adalah   darah dagingku, apa saja yang menyakitinya berarti telah menyakiti  aku.</em>(Risalat Ahli Sunnah wal Jama’ah, h.9-10)</p>
<p><strong>المقالة الثانية:</strong></p>
<p>وليس  مذهب في هذه الأزمنة المتأخرة بهذه الصفة إلا المذاهب الأربعة،  اللهم إلا  مذهب الإمامية والزيدية وهم أهل البدعة لا يجوز الاعتماد على  أقاويلهم. اهـ  (الشيخ محمد هاشم أشعري، رسالة في تأكد الأخذ بمذاهب الأئمة  الأربعة، ص  29).</p>
<p><strong>Maqolah 2:</strong></p>
<p><em>Bukanlah  yang disebut mazhab pada  masa-masa sekarang ini dengan sifat yang  demikian itu kecuali Mazahib  Arba’ah (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam  Syafi’I dan Imam Ahmad).  Selain dari pada itu, seperti mazhab Syiah  Imamiyah dan Syiah Zaidiyah,  mereka adalah ahul bid’ah yang tidak boleh  berpegang kepada  pandangan-pandangan mereka.</em>(Risalah fi Ta’akkud Al-Akhdzi bi Al-Madzahib Al-Arba’ah, h.29)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>المقالة الثالثة:</strong></p>
<p>أما  أهل السنة فهم أهل التفسير والحديث والفقه، فإنهم المهتدون  المتمسكون بسنة  النبي صلى الله عليه وسلم والخلفاء بعده الراشدين، وهم  الطائفة الناجية،  قالوا وقد اجتمعت اليوم في مذاهب أربعة الحنفيون  والشافعيون والمالكيون  والحنبليون، ومن كان خارجا عن هذه الأربعة في هذا  الزمان فهو من المبتدعة.  اهـ اهـ (الشيخ محمد هاشم أشعري، زيادة تعليقات، ص  24-25).</p>
<p><strong>Maqolah 3:</strong></p>
<p><em>Adapun  Ahlusunnah mereka adalah  para Ahli Tafsir, Hadits dan Fiqih. Sungguh  merekalah yang mendapat  petunjuk dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi  Muhammad SAW dan para  khalifah yang rasyid setelah beliau. Mereka adalah  ‘kelompok yang  selamat’ (thaifah najiyah). Para ulama berkata, pada  saat ini kelompok  yang selamat itu terhimpun dalam mazhab yang empat;  Hanafi, Maliki,  Syafi’I dan Hanbali. Maka siapa saja yang keluar atau di  luar empat  mazhab itu adalah ahlul bid’ah di masa ini.</em> (Ziyadat Ta’liqat,<em> </em>h. 24-25)</p>
<p><strong>المقالة الرابعة</strong></p>
<p>وَاصْدَعْ  بِمَاتُؤْمَرُ لِتَنْقَمِعَ الْبِدَعُ عَنْ اَهْلِ  اْلمَدَرِوَالْحَجَرِ.  قال رسول الله صلى الله عليه وسلم &#8220;اِذَاظَهَرَتِ  الْفِتَنُ اَوِالْبِدَعُ  وسُبَّ اَصْحَابِيْ فَلْيُظْهِرِالْعَالِمُ  عِلْمَهُ فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ  ذَلِكَ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ  وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ  اَجْمَعِيْنَ</p>
<p><em>Sampaikan  secara terang-terangan  apa yang diperintahkan Allah kepadamu, agar  bid’ah-bid’ah terberantas  dari semua orang. Rasulullah SAW bersabda:  “Apabila fitnah-fitnah dan  bid’ah-bid’ah muncul dan sahabat-sahabatku di  caci maki, maka hendaklah  orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barang  siapa tidak berbuat  begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat  Malaikat dan semua  orang.”</em> (Muqadimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama)</p>
<p>*****</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Fatwa Al-Habib Al-Musnid Syekh Salim bin Ahmad bin Jindan</strong></p>
<p><strong>(1324-1389 H, 1906-1969 M)</strong></p>
<p><strong>Tentang Syi’ah dan Rofidhoh</strong></p>
<p><strong>المقالة الأولى:</strong></p>
<p>من  هم الرافضة؟ هم الذين ينتحلون حب أهل البيب وليسوا كذلك ويزعمون  أنهم  أتباع أكابر أهل البيت مثل الحسنين وأبيهما وعلي بن الحسين وزيد بن  علي رضي  الله عنهم وهم يتبرأون من أبي بكر وعمر وعثمان ومعاوية وعمرو بن  العاص  وأنصارهم رضوان الله عليهم أجمعين فيسبونهم. (الراعة الغامضة في نقض  كلام  الرافضة, ص 1)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Siapakah  golongan Rofidhoh itu?  Mereka adalah kaum yang suka mengklaim palsu  kecintaan terhadap ahlul  bait, padahal mereka tidaklah demikian. Mereka  mengaku sebagai pengikut  para tokoh utama ahlul bait seperti Al-Hasan  dan Al-Husain dan ayah  mereka berdua (Sy. ‘Ali bin Abi Thalib), juga  ‘Ali bin Al-Husain  (Zainal Abidin), dan Zaid bin ‘Ali –semoga Allah  meridhoi mereka-,  namun mereka berlepas diri dari Sy. Abu Bakr, Sy.  ‘Umar, Sy. ‘Utsman,  Sy. Mu’awiyah, Sy. ‘Amr bin ‘Ash dan para penolong  mereka, dan mencaci  mereka semuanya.</em>(Kitab Ar-Ra’at Al-Ghamidhoh fi Naqdh Kalam Al-Rafidhoh, hlm. 1)</p>
<p><strong>المقالة الثانية:</strong></p>
<p>واتفق  بجواز لعن شاتمهم في حديث ابن عمر ما رواه الترمذي والخطيب قوله  عليه  السلام: إذا رأيتم الذين يسبون أصحابي فقولوا لعنة الله على شركم  فهذا لا  ريب في ذلك لأن شرار هذه الأمة الذين يسبون أصحاب نبيهم, والسب  والذم على  أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم من سنة الرافضة والشيعة. فهؤلاء  يسميهم أهل  السنة يهود هذه الأمة, بل كانت اليهود خيرا منهم لو سألنا رجلا  يهوديا عن  أصحاب موسى ليقول هؤلاء خيارنا وأحباءنا ولو سألنا النصراني  أيضا عن حواري  عيسى ليقول هؤلاء هم سادتنا وخيارنا ولو سألنا الروافض  والشيعة عن أصحاب  محمد ليقولون إنهم أشرارنا وظالمونا قاتلهم الله أنى  يؤفكون! والحاصل أن  الرافضة وأذنابهم  ثبت في الكتاب والسنة أنهم من أهل  النار مع إثبات الكفر  عليهم والخروج من الدين الإسلامي وإن كانوا يزعمون  أنفسهم مسلمين, أوليست  اليهود والنصارى أنهم مسلمون من أهل الجنة؟؟؟ ولذلك  قال الله تعالى ليس  بأمانيكم ولا أماني أهل الكتاب من يعمل سوءا يجز  به (النساء: 122) وإن كان  مسلما يزعم أنه من أمة محمد صلى الله عليه وسلم  فهو من أهل الفرق الضالة  خارج عن السنة والجماعة وكان من أهل النار  (الراعة الغامضة في نقض كلام  الرافضة, ص 7-8)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Disepakati  akan bolehnya melaknat  orang yang mencerca para sahabat. Di riwayatkan  oleh Ibnu ‘Umar ra.,  sabda Nabi saw: jika kamu melihat orang-orang yang  mencela para  sahabatku maka ucapkanlah laknat Allah atas kejahatan  kalian! (HR.  Tirmidzi dan Al-Khatib). Hal ini tak diragukan lagi sebab  orang-orang  yang mencaci para sahabat nabi adalah seburuk-buruk umat  ini. Cacian  dan cercaan kepada para sahabat nabi saw adalah tradisi kaum  rofidhoh  dan syiah secara umum. Mereka itulah yang dinamakan ‘Yahudi  Islam’,  yaitu kaum yahudi-nya umat ini. Bahkan umat Yahudi lebih baik  daripada  mereka, sebab jika kita tanyakan tentang sahabat nabi Musa,  mereka  jawab, mereka adalah para kekasih orang-orang pilihan kami. Jika  kita  tanyakan orang nasrani tentang para hawari nabi Isa, mereka jawab,   bahwa hawari Isa adalah para pemimpin dan orang terbaik kami. Namun jika   kita tanyakan tentang para sahabat nabi Muhammad saw kepada kaum   rofidhoh dan syiah, mereka jawab, bahwa para sahabat adalah orang-orang   yang jahat dan zalim! Semoga Allah perangi mereka karena ucapan keji   itu. Kesimpulannya, kaum rafidhoh dan para pengekornya (syiah) telah   ditetapkan dalam Qur’an dan Sunnah adalah ahli neraka dengan penetapan   kekufuran atas mereka dan telah keluar dari agama Islam, betapa pun   mereka tetap mengaku muslim. Sebab, bukan kah Yahudi dan Nasrani juga   tetap mengaku muslim (pasrah) kepada Allah, dan mengklaim diri mereka   ahli syurga?! Oleh karena itulah, Allah berfirman: bukan karena   angan-angan kalian dan juga angan-angan ahli kitab, siapa saja yang   mengerjakan keburukan maka ia akan dibalas setimpal (Q.s. An-Nisa: 122).   Dan jika dia tetap kukuh mengaku muslim dari umat Muhammad saw, maka  ia  tergolong pengikut sekte sesat dan telah keluar dari garis sunnah  dan  jama’ah, dan termasuk ahli neraka.</em> (hlm.7-8)</p>
<p><strong>المقالة الثالثة:</strong></p>
<p>فيجب  على كل مسلم مخلص الإيمان عالم بلذة إسلامه وطعم إيمانه أن يؤدي  شكره لأبي  بكر الصديق فضلا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولكن وجدنا  أشرار هذه  الأمة ويهودها يعني الروافض سبوه وطعنوه ورموه بالظلم و حاشا أن  يكون للطيب  صاحب سوء –يعني بالطيب النبي صلى الله عليه وسلم- ولكن  الروافض هم  الكافرون, وحكمنا بالكفر على من سب أحدا من أصحاب محمد صلى  الله عليه وسلم  مثل الخلفاء الراشدين لا يحبهم إلا مؤمن ولا يبغضهم إلا  منافق معاند كافر  ملعون من السبع الأرضين والسموات ألا إن لعنة الله على  الكافرين (الراعة  الغامضة في نقض كلام الرافضة, ص 11)</p>
<p><em>Maka  wajib atas setiap muslim yang  ikhlas dalam imannya, dan merasakan  kelezatan islam dan rasa imannya,  untuk menunaikan rasa terimakasih  kepada Abu Bakr As-Shiddiq, terlebih  lagi kepada Rasulullah saw. Akan  tetapi kita telah dapati seburuk-buruk  umat ini dan yahudinya, yaitu  kaum rafidhoh, telah mencaci dan  mendiskreditkan beliau (Abu Bakr RA)  dan menuduhnya berbuat zalim.  Sungguh mustahil orang yang baik (yaitu  Nabi Muhammad) memiliki teman  yang jahat, namun kaum rofidhoh itulah  orang kafir, dan kami telah  memvonis kekufuran atas siapa saja yang  mencaci salah seorang sahabat  Nabi Muhammad saw, seperti Khulafa’  Rasyidin. Hanya orang mukminlah  yang mencintai mereka, dan hanya orang  munafik, keras kepala, dan kafir  lah yang membenci mereka. Orang itu  dikutuk dari tujuh lapis bumi dan  tujuh lapis langit, ingatlah bahwa  laknat Allah atas orang-orang kafir!</em> (hlm. 11)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.miumipusat.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=6:fatwa-pendiri-nadhatul-ulama-tentang-syiah&#038;catid=1:fatwa&#038;Itemid=3</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Ffatwa-pendiri-nahdhatul-ulama%2F&amp;title=Fatwa%20Pendiri%20Nahdhatul%20Ulama" id="wpa2a_20"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/fatwa-pendiri-nahdhatul-ulama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

