<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ustadz Ridwan Hamidi &#187; Qashashul Anbiya&#8217;</title>
	<atom:link href="http://ustadzridwan.com/category/sejarah-islam/qashashul-anbiya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzridwan.com</link>
	<description>رضوان حامدي الإندونيسي</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 May 2013 01:15:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Pengingkaran dan Sifat Lupa Adam</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/pengingkaran-dan-sifat-lupa-adam/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/pengingkaran-dan-sifat-lupa-adam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 16:04:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qashashul Anbiya']]></category>
		<category><![CDATA[adam]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Asyqar]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[lupa]]></category>
		<category><![CDATA[purbakala]]></category>
		<category><![CDATA[Shahih]]></category>
		<category><![CDATA[sulaiman]]></category>
		<category><![CDATA[umar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Para ahli purbakala pada zaman ini menelusuri kota-kota yang lenyap dan sisa-sisa umat terdahulu agar mereka mengenal kehidupan nenek moyang, mengetahui keadaan dan kondisi mereka. Disamping minimnya informasi yang berhasil mereka gali, ia juga ilmu yang tidak murni sehingga tidak menampakkan hakikat dan tidak menyisir kabut kelam yang menyelimutinya. Ia tidak kuasa menyibak tabir [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong> Pengantar</strong></p>
<p>Para ahli purbakala pada zaman ini menelusuri kota-kota yang lenyap  dan sisa-sisa umat terdahulu agar mereka mengenal kehidupan nenek  moyang, mengetahui keadaan dan kondisi mereka. Disamping minimnya  informasi  yang berhasil mereka gali, ia juga ilmu yang  tidak murni sehingga tidak menampakkan hakikat dan tidak menyisir kabut  kelam yang menyelimutinya. Ia tidak kuasa menyibak tabir masa lalu yang  dalam dengan kepastian. Lain halnya dengan wahyu Allah yang membawa  berita tentang orang-orang terdahulu. Hal itu merupakan kekayaan tak  ternilai harganya, karena ia menyuguhkan sesuatu yang nyata dalam keadan  bersih dan murni. Ia adalah ilmu yang diturunkan dari Dzat Yang Maha  Mengenal lagi Maha Mengetahui, di mana tidak sesuatu pun di langit dan  di bumi yang samara dari-Nya.</p>
<p><span id="more-457"></span></p>
<p>Sebagian ilmu ini tidak mungkin ditembus dengan  jalan selain wahyu. Di antaranya, sebagian berita tentang bapak kita,  Adam a.s., tentang sebagian tabiat dan ciri-cirinya yang kita warisi  darinya. Sebagaimana beliau menyampaikan kepada kita sebagian syariat  untuknya dan anak cucu sesudahnya.<br />
<strong> Teks Hadis</strong></p>
<p>Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Abu  Hurairah. Ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam  bersabda, <em>&#8220;Manakala Allah menciptakan Adam, Allah mengusap  pungungnya, lalu dari punggung itu berjatuhan seluruh jiwa yang Allah  akan menciptakannya dari anak cucunya sampai hari Kiamat. Dan Allah  menjadikan di antara kedua mata masing-masing orang kilauan cahaya.  Kemudian mereka dihadapkan kepada Adam. Adam berkata, &#8216;Ya Rabbi, siapa  mereka?&#8217; Allah menjawab, &#8216;Mereka adalah anak cucumu.&#8221;</em></p>
<p><em>Lalu Adam melihat seorang laki-laki dari  mereka. Dia mengagumi kilauan cahaya yang memnacar di antara kedua  matanya. Adam bertanya, &#8216;Ya Rabbi siapa ini? &#8216;Allah menjawab, &#8216;Ini  adalah laki-laki dari kalangan umat terakhir dari anak cucumu yang  bernama Dawud.&#8217;  Adam bertanya, &#8216;Ya Rabbi, berapa tahun  usia yang Engkau berikan padanya?&#8217; Allah menjawab, &#8216;Enam puluh tahun.&#8217;  Adam berkata, &#8216;Ya Rabbi, tambahkan untuknya dari umurku empat puluh  tahun.&#8217; Manakala umur Adam telah habis, dia didatangi oleh Malaikat  Maut. Adam berkata,&#8217; Bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun?&#8217;  Malaikat menjawab, &#8216;Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu  Dawud?&#8217; Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, &#8216;Adam mengingkari,  maka anak cucunya pun mengingkari. Adam dijadikan lupa, maka anak  cucunya dijadikan lupa; dan Adam berbuat salah, maka anak cucunya  berbuat salah.&#8221;</em></p>
<p>Abu Isa berkata<em>, </em>&#8220;Ini adalah hadis hasan  shahih. Ia telah diriwayatkan tidak dari satu jalan dari Abu Hurairah  dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.&#8221;</p>
<p>Tirmidzi juga meriwayatkan dari Abu Hurairah yang  berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda<em>,  &#8220;Ketika Allah menciptakan Adam dan meniupkan ruh padanya, dia bersin,  dia berkata, &#8216;Alhamdulillah,&#8217; dia memuji Allah dengan izin-Nya. Maka  Tuhannya berfirman kepadanya, &#8216;Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam.  Pergilah kepada para malaikat itu, sebagian mereka sedang duduk.  Katakanlah, &#8216;Assalamu&#8217;alaikum.&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Wa alaikas salamu  warahmatuh.&#8217; Lalu Adam kembali kepada Tuhannya, dan Dia berfirman,  &#8216;Sesungguhnya itu adalah penghormatanmu dan penghormatan anak–anakmu di  antara mereka.&#8217;</em></p>
<p><em>Lalu Allah berfirman kepada Adam, sementara  kedua TanganNya mengepal, &#8216;Pilih satu dari keduanya yang kamu  kehendaki.&#8217; Adam menjawab, &#8216;Aku meilih tangan kanan Tuhanku dan kedua  Tangan Tuhanku adalah kanan yang penuh berkah.&#8217; Kemudian Allah  membukanya. Ternyata di dalamnya terdapat Adam dan anak cucunya. Adam  bertanya, &#8216;Ya Rabbi, siapa mereka?&#8217; Allah menjawab, &#8216;Mereka  adalah  anak cucumu.&#8217; Ternyata umur semua manusia telah tertulis di antara  kedua matanya. Di antara mereka terdapat seorang laki-laki yang paling  cerah cahanya atau termasuk yang paling terang cahanya Adam bertanya,  &#8216;Ya Rabbi, siapa ini?&#8217; Allah menjawab, &#8216;Ini adalah anakmu Dawud dan Aku  telah menulis umurnya empat puluh tahun.&#8217; Adam berkata, &#8216;Ya Rabbi,  tambahkan umurnya.&#8217; Allah berfirman, &#8216;Itu yang telah Aku tuliskan  untuknya.&#8217; Adam berkata, &#8216;Ya Rabbi, aku memberikan umurku enam puluh  tahun kepadanya.&#8217; Allah berfirman, &#8216;Itu urusanmu.&#8217;&#8221;</em></p>
<p>Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda<em>,  &#8220;Lalu Adam diminta tinggal di surga sekehendak Allah, kemudian dia  diturunkan darinya. Maka Adam menghitung sendiri umurnya. Manakala  malaikat maut datang, Adam berkata kepadanya, &#8216;Kamu telah tergesa-gesa.  Aku telah diberi umur seribu tahun.&#8217; Malaikat menjawab, &#8216;Tidak, tetapi  kamu telah memberikan enam puluh tahun umurmu kepada anakmu Dawud.&#8217; Lalu  Adam mengingkari, maka anak cucunya mengingkari. Adam lupa, maka anak  cucunya lupa. Dia berkata, &#8216;Sejak saat itu diperintahkan untuk menulis  dan saksi-saksi.&#8217;&#8221;</em></p>
<p>Tirmidzi berkata, &#8216;Ini adalah hadis hasan gharib  dari jalan ini. Ia telah diriwayatkan bukan dari satu jalan dari Abu  Hurairah dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dari riwayat Zaid bin  Aslam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alahi wa  Sallam.&#8217;</p>
<p><strong> Takhrij Hadis</strong></p>
<p>Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam  Sunan-nya dalam Kitab Tafsir, bab dari surat Al-A&#8217;raf, 4/267. Lihat  Shahih Sunan Tirmidzi, 3/52, no. 3282.</p>
<p>Hadis kedua diriwayatkan oleh Tirmidzi di dalam  Kitab Tafsir, bab dari surat Mu&#8217;awwidzatain, 4/453. Lihat Shahih Sunan  Tirmidzi, 3/137, no.3607.</p>
<p><strong> Penjelasan Hadis </strong></p>
<p>Allah menciptakan Adam dalam keadaan sempurna dan  lengkap. Tidak seperti yang diklaim oleh orang-orang yang tidak berilmu,  bahwa manusia berevolusi dari hewan atau tumbuhan. Allah menciptakannya  dari saat pertama dia diciptakan sebagai seorang yang berakal dan  berbicara, dia memahami apa yang dikatakan kepadanya dan dia menjawab  dengan benar.</p>
<p>Setelah ruh diciptakan kepadanya, Adam bersin,  maka dia memuji Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Allah menjawabnya, &#8220;Semoga  Allah merahmatimu, wahai Adam.&#8221; Allah memerintahkan Adam agar pergi ke  sekumpulan malaikat yang sedang duduk dan mengucapkan salam kepada  mereka. Para malaikat pun membalas penghormatannya dengan penghormatan  yang lebih baik. Dan Allah memberitahukan kepadanya bahwa hal itu adalah  penghormatannya dan penghormatan di antara anak cucunya. Adam berjalan,  mendengar, berbicara, bersin, mengerti dan memahami perkataan.</p>
<p>Anda perhatikan dalam hadis, betapa besar  perhatian Allah kepada hamba-Nya, Adam. Dia berfirman kepadanya manakala  dia bersin, <em>&#8220;Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam.&#8221;</em> Dan  barangsiapa dirahmati oleh Tuhannya, maka dia mendapatkan perhatian,  perlindungan dan kemulian-Nya. Oleh karenanya, Allah menerima taubatnya  manakala dia terpeleset dari jalan lurus kemudian Adam kembali  kepada-Nya. Allah juga memaafkan kelalaian kita dan mendukung kita  dengan ruh dari-Nya.</p>
<p>Allah telah mensyariatkan untuk Adam ketika berada  di surga  dan anak cucunya agar ber-tahmid jika bersin dan  didoakan rahmat jika telah mengucapkan tahmid. Dan Allah telah  menjadikan salam sebagai penghormatan anak cucu dan keturunan  sesudahnya.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam  menyampaikan kepada kita bahwa Allah mengusap punggung Adam, maka  berjatuhanlah semua jiwa dari anak cucu Adam yang akan diciptakan  darinya sampai hari Kiamat. Allah memegang itu dengan Tangan kanan-Nya  dan Adam diberi pilihan antara kedua genggaman Tuhannya, maka dia  memilih Tangan kanan Tuhannya dan kedua Tangan Allah adalah kanan yang  penuh berkah. Manakala Allah membukanya, ternyata di dalamnya terdapat  Adam dan anak cucunya.</p>
<p>Adam melihat anak cucunya yang akan diciptakan  sesudahnya dan Allah telah menjadikan cahaya di antara kedua mata  masing-masing. Adam juga melihat umur masing-masing telah tertulis di  antara kedua mata mereka. Adam melihat seorang laki-laki dengan cahaya  yang bagus. Dia bertanya tentangnya. Maka Allah memberitahukan bahwa dia  adalah salah satu putranya yang akan muncul di sebuah umat sebagai  salah satu umat terakhir. Putra itu bernama Dawud, yang diberi umur enam  puluh tahun (dalam riwayat lain, empat puluh). Riwayat pertama lebih  shahih. Adam merasa umur Dawud pendek, dia pun memohon kepada Allah agar  menambah umur Dawud. Allah menyatakan bahwa itulah umur yang ditetapkan  untuk Dawud. Lalu Adam memberikan sebagian umurnya kepada Dawud untuk  menngenapinya menjadi seratus.</p>
<p>Nampak dari hadis tersebut bahwa Allah memberitahu  Adam tentang umur yang ditulis untuknya, bahwa dia akan hidup seribu  tahun. Manakala umurnya telah mencapai seribu tahun kurang empat puluh  tahun, Malaikat maut datang kepada Adam untuk mencabut nyawanya. Adam  pun menyangkal keinginan malaikat maut. Dia membantah malaikat yang  hendak mencabut nyawanya sebelum ajalnya tiba. Nampak pula dari Hadis  tersebut bahwa Adam menghitung sendiri umurnya tahun demi tahun. Maka  Adam mengingkarinya karena lupa. Dan anak cucu Adam mewarisi sifat-sifat  bapak mereka. Mereka mengingkari seperti Adam mengingkari. Mereka lupa  seperti Adam lupa. Oleh karena itu, Allah memerintahkan penulisan dan  kesaksian untuk mengantisipasi pengingkaran orang-orang yang ingkar dan  kelupaan orang-orang yang lupa.</p>
<p><strong> Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah  Hadis</strong></p>
<p>1. Allah  menciptakan Adam secara lengkap dan sempurna sejak awal  penciptaannya.  Tidak seperti yang diklaim oleh orang-orang sesat, bahwa Adam  diciptakan tidak sempurna, kamudian berkembang menuju kesempurnaan dalam  rentang waktu yang panjang. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam  telah menyampaikan kepada kita bahwa di antara kesempurnaan penciptaan  Adam, adalah diciptakannya dia dengan tinggi enam puluh hasta dan bahwa  manusia setelah Adam terus menerus menyusut sampai pada ukuran manusia  saat ini. Pada hari Kiamat Allah memasukkan orang-orang mukmin ke surga  dengan bentuk penciptaan yang sempurna seperti penciptaan Allah terhadap  Adam.</p>
<p>Bukhori dan Muslim meriwayatkan  dalam Shahih masing-masing bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam  bersabda, <em>&#8220;Allah menciptakan Adan dan tingginya adalah enam puluh  hasta, kemudian Allah berfirman kepadanya, &#8216;Pergilah, ucapkan salam  kepada para Malaikat itu. Dengarkanlah penghormatan mereka kepadamu,  karena itu adalah penghormatanmu dan penghormatan anak cucumu.&#8217; Maka  Adam berkata, &#8216;Assalamu&#8217;alaikum.&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Assalamu &#8216;alaikum wa  rahmatullah dengan tambahan &#8216;Warahmatullah&#8217;. Dan semua orang yang masuk  surga dengan bentuk penciptaan Adam. Dan manusia terus menerus menyusut  sampai saat ini.&#8221;</em> (Diriwayatkan oleh Bukhori, 3/11, no.6277, no.  3326. Diriwayatkan oleh Muslim, 4/2183, no. 2841.) Kebenaran yang saya  sebutkan di atas, bahwa Adam diciptakan secara sempurna sejak  dihembuskannya ruh kepadanya ditunjukkan oleh hadis tersebut. Allah  menciptakan Adam dalam bentuk penciptaan yang sempurna. Dia tidak  berkembang dan tidak berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Lain  halnya dengan anak cucunya, Allah menciptakan mereka di dalam rahim ibu  dalam bentuk setetes air, kemudian segumpal darah, kemudian seonggok  daging, kemudian setelah dihembuskannya ruh, Dia menumbuhkannya sebagai  makhluk lain.</p>
<p>2.  Mengetahui  peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bapak kita Adam, di antaranya  adalah bersinnya Adam, ucapan &#8216;alhamdulillah&#8217;, jawaban Allah kepadanya,  &#8216;rahimakallahu(semoga Allah merahmatimu),&#8217; ucapan salamnya kepada para  malaikat, juga jawaban malaikat kepadanya. Allah mengusap punggung dan  peristiwa-peristiwa lain yang dikandung oleh hadis ini.</p>
<p>3. Orang  yang bersin mengucapkan hamdalah. Orang yang  mendengarnya  mengucapkan, &#8216;rahimakallahu(semoga Allah merahmatimu)&#8217; dan penghormatan  salam termasuk syariat alami (internasional) yang dimiliki oleh seluruh  syariat, tidak khusus untuk satu umat tertentu dan itu termasuk warisan  bapak mereka, Adam a.s.</p>
<p>4. Penetapan  takdir. Allah mengetahui hamba-hamba-Nya pada masa azali dan Dia  menulis hal itu di sisi-Nya. Dia menunjukkan kepada Adam tentang anak  cucunya sesudahnya, dan umur setiap orang telah ditulis di antara kedua  matanya.</p>
<p>5. Penetapan  dua Tangan bagi Allah dan Dia menggenggam keduanya, kapan Dia  berkehendak dan bagaimana Dia berkehendak tanpa takyif (bertanya  bagaimana) dan ta&#8217;thil(mengingkari). Tiada sesuatupun yang menyerupai  Dia. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.</p>
<p>6. Keutamaan  Nabiyullah Dawud dan besarnya iman yang dimilikinya dibuktikan dengan  kuatnya cahaya di antara kedua matanya.</p>
<p>7. Kemampuan  Adam berhitung. Dia menghitung tahun-tahun umurnya. Dia mengetahui  umurnya yang telah berlalu dan yang telah tersisa. Dia membatntah  Malaikat maut ketika hendak mencabut nyawanya sebelum ajalnya sempurna.</p>
<p>8.  Keterangan tentang umur Adam. Dia hidup seribu tahun. Ini merupakan  pelurusan terhadap keterangan Taurat, yang disebutkan di dalam Ishah  kelima buku penciptaan bahwa umurnya adalah 930 tahun. Yang benar adalah  yang disebutkan oleh Hadis. Hadis ini juga menjelaskan umur Dawud.</p>
<p>9.  Tabiat Adam dan anak cucunya  adalah pengingkaran dan kelupaan.</p>
<p>10.Disyariatkannya menulis dalam akad dan muamalat untuk  mengantisipasi pengingkaran dan sifat lupa manusia.</p>
<p>Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah  Al-Asyqar, <em>Shahih Qashashin Nabawi</em>, atau <em>Ensklopedia Kisah  Shahih Sepanjang Masa</em> terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir,  2008), hlm. 32-38.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fpengingkaran-dan-sifat-lupa-adam%2F&amp;title=Pengingkaran%20dan%20Sifat%20Lupa%20Adam" id="wpa2a_2"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/pengingkaran-dan-sifat-lupa-adam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Adam dari buku Syaikh as Sa’di (2)</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/kisah-adam-dari-buku-syaikh-as-sa%e2%80%99di-2/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/kisah-adam-dari-buku-syaikh-as-sa%e2%80%99di-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 20:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qashashul Anbiya']]></category>
		<category><![CDATA[adam]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[ridwan]]></category>
		<category><![CDATA[sa'di]]></category>
		<category><![CDATA[wahdah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Ilmu yang sempurna menjadikan kelengkapan Akhlak yang sempurna. Lalu Allah pun ingin memperlihatkan kesempurnaan makhluk ini kepada para malaikat. Dia perlihatkan benda-benda tersebut kepada malaikat seraya berkata kepada mereka: أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” (QS. Al-Baqarah [2]: 31). Yakni jika kalian benar pada [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Ilmu yang sempurna menjadikan kelengkapan Akhlak yang sempurna. Lalu Allah pun ingin memperlihatkan kesempurnaan makhluk ini kepada para malaikat. Dia perlihatkan benda-benda tersebut kepada malaikat seraya berkata kepada mereka:</p>
<p dir="rtl">أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ</p>
<p>“Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” (QS. Al-Baqarah [2]: 31).</p>
<p>Yakni jika kalian benar pada maksud ucapan kalian sebelumnya bahwa Allah tidak menciptakan Nabi Adam ‘Alaihissalam itu lebih baik dan ucapan mereka ini didasarkan kepada apa yang mereka ketahui waktu itu, (bukan bermaksud untuk kufur kepada hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa).</p>
<p><span id="more-120"></span></p>
<p>Malaikat pun tidak mengetahui nama-nama benda tersebut, mereka menjawab:</p>
<p dir="rtl">سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ</p>
<p>“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .” (QS. Al-Baqarah [2]: 32).</p>
<p>Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:</p>
<p dir="rtl">يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ</p>
<p>“Beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.”(QS. Al-Baqarah [2]: 33).</p>
<p>Para malaikat pun menyaksikan sebagian kesempurnaan makhluk ini serta ilmunya yang tidak mereka sangka. Dari kejadian ini mereka benar-benar mengetahui dengan bukti yang ada betapa sempurnanya hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, sehingga mereka benar-benar menghargai Adam ‘alaihissalaam. Lalu Allah ingin menampakkan pemuliaan dan penghormatan para malaikat kepada Nabi Adam ‘Alaihissalam secara lahir batin. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada malaikat:</p>
<p dir="rtl">اسْجُدُواْ لآدَمَ</p>
<p>“Sujudlah kamu sekalian kepada Adam,” (QS. Al-Baqarah [2]: 34).</p>
<p>Untuk menghormatinya, mengagungkannya, memuliakannya sekaligus sebagai bentuk ibadah, ketaatan, kecintaan, dan pendekatan diri kepada Rabb kalian.</p>
<p>Mereka semua segera bersujud. Dan Iblis saat itu bersama mereka. Perintah untuk bersujud tertuju kepadanya pula, Namun ia bukan dari kalangan malaikat, dia termasuk jenis jin yang tercipta dari api yang panas. Dia menyambunyikan kekufuran kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa serta<em> hasad</em> (dengki) kepada manusia yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa utamakan dengan kelebihan ini.</p>
<p>Kesombongan dan kekufurannya menyebabkannya menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam sebagai bentuk kesombongan dan kekufuran kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Tidak hanya menolak, dia bahkan menyanggah<em> Rabb</em>-Nya serta mencela kebijaksanaan-Nya. Iblis berkata:</p>
<p dir="rtl">أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ</p>
<p>“Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raaf [7]: 12).</p>
<p>Allah suhanahuwaTa’aalaa pun menjawabnya:</p>
<p dir="rtl">يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ</p>
<p>“Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS. Shaad [38]: 75).</p>
<p>Kekufuran, kesombongan, keengganan, dan penolakan yang keras ini merupakan sebab satu-satunya yang menjadikannya terusir dan terlaknat.</p>
<p>Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berkata kepadanya:</p>
<p dir="rtl">فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ</p>
<p>“Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. (QS. Al-A’raf [7]: 13).</p>
<p>(Taisiir al Lathiif al Mannaan, fi khulaashoti tafsiir al Qur’an, Syaikh Abdurrahman as Sa’di 320-321)</p>
<p>—————&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>* Materi ini disampaikan dalam kajian rutin Qashashul Anbiya’ (Kisah Para Nabi) yang disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc di masjid Darul Ulum Yogyakarta. (Kajian diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta)</p>
</div>
</div>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fkisah-adam-dari-buku-syaikh-as-sa%25e2%2580%2599di-2%2F&amp;title=Kisah%20Adam%20dari%20buku%20Syaikh%20as%20Sa%E2%80%99di%20%282%29" id="wpa2a_4"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/kisah-adam-dari-buku-syaikh-as-sa%e2%80%99di-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Adam dari buku Syaikh as Sa’di (1)</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/kisah-adam-dari-buku-syaikh-as-sa%e2%80%99di-1/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/kisah-adam-dari-buku-syaikh-as-sa%e2%80%99di-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 20:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qashashul Anbiya']]></category>
		<category><![CDATA[adam]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[ridwan]]></category>
		<category><![CDATA[sa'di]]></category>
		<category><![CDATA[wahdah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[KISAH ADAM ‘ALAIHISSALAAM (Bapak Manusia) Allah adalah Dzat Yang Maha Awal, tiada sesuatupun sebelum-Nya. Allah senantiasa melakukan apa yang Dia kehendaki. Tidaklah terlepas suatu waktu pun dari perbuatan dan perkataan yang bersumber dari kehendak dan keinginan-Nya sesuai dengan hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, Dzat yang Maha Bijaksana pada setiap takdir dan ketetapan-Nya, juga Maha Bijaksana [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>KISAH ADAM ‘ALAIHISSALAAM</p>
<p>(Bapak Manusia)</p>
<p>Allah adalah Dzat Yang Maha Awal, tiada sesuatupun sebelum-Nya. Allah senantiasa melakukan apa yang Dia kehendaki. Tidaklah terlepas suatu waktu pun dari perbuatan dan perkataan yang bersumber dari kehendak dan keinginan-Nya sesuai dengan hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, Dzat yang Maha Bijaksana pada setiap takdir dan ketetapan-Nya, juga Maha Bijaksana pada seluruh syariat-Nya (yang dia tetapkan) bagi para hamba-hamba-Nya.</p>
<p>Maka, tatkala hikmah Allah yang luas, ilmu-Nya yang menyeluruh, serta rahmat-Nya yang begitu sempurna menuntut diciptakannya Nabi Adam, sang bapak manusia, -dimana Allah telah benar-benar melebihkan manusia dari kebanyakan makhluk-Nya yang lain- Allah pun mengumumkan hal itu kepada para malaikat. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:</p>
<p dir="rtl">إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً</p>
<p>“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).</p>
<p><span id="more-118"></span></p>
<p>Untuk menggantikan makhluk-makhluk sebelum mereka, yang hanya diketahui oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa saja.</p>
<p dir="rtl">قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء</p>
<p>Para malaikat bertanya: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).</p>
<p>Ini merupakan pengagungan dan pemuliaan para malaikat kepada Rabb mereka, dimana terkadang Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menciptakan mahkluk serupa dengan akhlak makhluk yang terdahulu, atau Allah menceritakan kepada para malaikat tentang penciptaan Nabi Adam ‘Alaihissalam dan apa yang akan terjadi dari keturunan beliau yang jahat. Allah pun menjawab kepada malaikat:</p>
<p dir="rtl">إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ</p>
<p>“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu sekalian ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).</p>
<p>Dialah yang ilmunya mencakup segala sesuatu, khususnya maslahat dan manfaat yang tak terbilang yang akan terjadi pada makhluk ini.</p>
<p>Allah Ta’aalaa mengingatkan mereka tentang Dzat-Nya, kesempurnaan ilmu-Nya, serta kewajiban mengakui keluasan ilmu dan hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, yang diantaranya adalah bahwa Dia tidak akan menciptakan sesuatu sia-sia atau tanpa hikmah.</p>
<p>Kemudian Allah menjelaskan secara terperinci (tentang penciptaan Adam ‘Alaihissalam). Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menciptakan Nabi Adam dengan Tangan-Nya sebagai bentuk pemuliaan baginya atas seluruh makhluk. Dia genggam segenggam tanah dari seluruh jenisnya, yang lunak dan yang keras, serta yang baik dan yang buruk, agar keturunannya nanti bertabiat seperti itu.</p>
<p>Nabi Adam ‘Alaihissalam awalnya adalah tanah, lalu Allah memberi air padanya, dan jadilah dia <em>ath-thiin</em> (air bercampur tanah). Kemudian, tatkala air telah lama  bercampur dengan <em>ath-thin</em> tersebut, berubahlah ia menjadi lumpur yang dibentuk, sebuah campuran air dan tanah yang berwarna hitam. Lalu Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa pun mengeringkannya setelah membentuknya. Jadilah ia seperti tembikar yang memiliki suara, dimana pada tahapan ini, Nabi Adam ‘Alaihissalam masih berupa jasad tanpa ruh.</p>
<p>Setelah sempurna penciptaan beliau, ditiupkanlah ruh kepadanya. Berubahlah jasad yang mulanya mati menjadi hidup, memiliki tulang, daging, saraf, pembuluh darah, serta ruh, Inilah manusia yang sesungguhnya. Lalu Allah mempersiapkannya untuk bisa menyerap seluruh pengetahuan dan kebaikan. Setelah itu, Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa sempurnakan nikmat kepadanya. Dia ajari nama-nama benda seluruhnya.</p>
<p>Sumber: Taisiir al Lathiif al Mannaan, fi khulaashoti tafsiir al Qur’an, karya Syaikh Abdurrahman as Sa’di 319-320</p>
<p>——————————–</p>
<p>* Materi ini disampaikan dalam kajian rutin Qashashul Anbiya’ (Kisah Para Nabi) yang disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc di masjid Darul Ulum Yogyakarta. (Kajian diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta)</p>
</div>
</div>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fkisah-adam-dari-buku-syaikh-as-sa%25e2%2580%2599di-1%2F&amp;title=Kisah%20Adam%20dari%20buku%20Syaikh%20as%20Sa%E2%80%99di%20%281%29" id="wpa2a_6"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/kisah-adam-dari-buku-syaikh-as-sa%e2%80%99di-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEMBUNUHAN PERTAMA KALI DIMUKA BUMI</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/pembunuhan-pertama-kali-dimuka-bumi/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/pembunuhan-pertama-kali-dimuka-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 06:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qashashul Anbiya']]></category>
		<category><![CDATA[adam]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuhan]]></category>
		<category><![CDATA[ridwan]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[wahdah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Anak-anak adam tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka untuk membunuh sesama mereka. Karena pembunuhan itu adalah kejadian yang tidak pernah mereka alami dikalangan mereka. Namun iblis dan anak buahnya telah bertekad bulat untuk menyeret anak-anak Adam kedalam perbuatan saling menumpahkan darah diantara mereka. Kemarahan Qabil kepada Habil yang dipicu oleh membaranya api kedengkian kepada saudaranya, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Anak-anak adam tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka untuk membunuh sesama mereka. Karena pembunuhan itu adalah kejadian yang tidak pernah mereka alami dikalangan mereka. Namun iblis dan anak buahnya telah bertekad bulat untuk menyeret anak-anak Adam kedalam perbuatan saling menumpahkan darah diantara mereka. Kemarahan Qabil kepada Habil yang dipicu oleh membaranya api kedengkian kepada saudaranya, adalah kendaraan tunggangan syaiton untuk menggiring anak Adam itu kepada perbuatan keji membunuhadik kandungnya sendiri.</p>
<p><span id="more-116"></span></p>
<p>Bermula Adam merasa resah di suatu sore, mengapa Habil belum kembali kekeluarganya dari kegiatannya mengembala kambing dan sapinya, padahal hari sudah semakin gelap. Akhirnya Adam memerintahkan Qabil untuk menjemput adiknya agar cepat pulang. Dan ketika Qabil ketemu Habil di tempat gembalanya, diajaklah sang adik untuk segera pulang karena dinanti ayah dan ibu dirumah. Dan diperjalanan pulang itu, Qabil sempat kembali mengungkit kekesalannya, mengapa persembahan kurbannya tidak di terima oleh Allah sementara kurban sang adik justru diterima Allah. Habil mencoba menasihati kakaknya agar dapat membuka mata untuk melihat kekurangan yang ada pada dirinya. Habil menyatakan kepada kakaknya: “Hanyalah yang diterima kurbannya oleh Allah itu adalah dari orang yang ikhlas dalam ketakwaannya.” Mendengar nasihat ini, Qabil yang sedang membara kemarahannya kepada sang adik, bertambah marah lagi dan menyalalah api kemarahan itu sehingga tidak dapat dikendalikan. Qabil menyatakan kepada adikya: “Oo, jadi kau rupanya menuduh aku tidak ikhlas dalam mempersembahkan kurban kepada Allah. Atau yang ikhlas itu hanya kamu suja?”</p>
<p>Belum sempat Habil menjelaskan perkataannya kepada sang kakak, langsung saja Qabil menyambar batu  besar hendak ditimpakan kepada adiknya. Melihat gelagat kakaknya itu Habil langsung mengingatkan: “jangan engkau lakukan perbuatan dzalim itu kepadaku dan aku sama sekali tidak berkeinginan untuk melukai engkau meskipun engkau mendzalimi aku. Karena kalau sampai engkau membunuh aku, niscaya engkau akan menjadi orang yang menyesal dan paling merugi.” Qabil sudah tidak lagi mendengar peringatan adiknya karena telinganya telah menjadi tuli karena hawa nafsu kemarahan yang sedang membakar dirinya. Dan Qabil langsung saja menimpakan batu besar itu ke kepala adiknya dan tewaslah Habil seketika itu. Tumpahlah dimuka bumi untuk yang pertama kali, darah korban kedzaliman bersamaan dengan tenggelamnya matahari di sore hari itu. Anak Adam mulai menumpahkan darah sesama mereka dan ini adalah petaka pembunuhan pertama kali terjadi di muka bumi diantara anak-anak adam.</p>
<p>Jasad Habil tergeletak tak bernyawa dihadapan Qabil dan mulailah muncul rasa penyesalan ketika Qabil melihat akibat perbuatannya yang keji itu. Dan Qabil tidak bisa berbuat apa-apa dengan mayat Habil sehingga esok harinya ketika terbit matahari. Di saat itu Allah Ta’ala mengirim dua ekor burung gagak yang saling menyerang satu dengan lainnya dan terbunuhlah salah satu dari kedua ekor burung tersebut mati sehingga burung gagak yang masih hidup itu menggali tanah dengan kedua cakarnya dan menyeret temannya yang telah mati itu untuk dimasukkan ke lubang yang telah di gali dan di uruklah burung gagak yang mati itu dengan tanah. Semua kejadian itu disaksikan oleh Qabil dan segera ditirunya tindakan burung gagak tersebut. Ia segera mencari kayu untuk menggali tanah dan kemudian dia meletakkan mayat Habil di dalam lubang tanah itu dan menguruknya dengan tanah.[QS. Al-Maidah 30-31].</p>
<p>Setelah mengubur mayat adiknya. Qabil segera bergegas pulang untuk mengajak adiknya yang cantik untuk pergi bersamanya melarikan diri dari sang ayah dan kemudian menikahi adiknya itu. Adam sangat sedih dan menyesal ketika mengetahui perbuatan Qabil terhadap Habil itu dan lagi setelah itu dia mengambil adiknya untuk diajak pergi bersamanya. Sehingga adam menyatakan kepada Qabil dengan penuh kemarahan: “Pergilah engkau dari sini, dan engkau selama hidupmu akan terus menerus dalam ketakutan dan engkau selamanya tidak akan merasa aman dari kejahatan orang yang melihatmu.”</p>
<p>Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa tidak ada seorang pun di muka bumi yang membunuh sesama manusia dengan dzalim, kecuali pasti anak adam yang pertama mendapat bagian dosa pembunuhan itu.[Demikian diriwayatkan hadis ini oleh Al-Bukhari,Muslim dan segenap ahli hadis kecuali Abu Dawud]. Karena ialah yang menjadi pelopor perbuatan membunuh bagi setiap anak Adam sampai hari kiamat. Sehingga Qabil demikian terus-menerus dikirimi dosa pembunuhan yang dzalim pada setiap kali terjadi pembunuhan itu.</p>
<p>—–</p>
<p>* Kandungan tulisan ini, pernah disampaikan dalam kajian rutin Qashashul Anbiya’ yang disampaikan oleh Ust Ridwan Hamidi, Lc di Masjid Darul Ulum Yogyakarta. Kajian ini diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta.</p>
<p>Sumber: Majalah Salafy edisi 06/TH V//1429 H/2008 M.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fpembunuhan-pertama-kali-dimuka-bumi%2F&amp;title=PEMBUNUHAN%20PERTAMA%20KALI%20DIMUKA%20BUMI" id="wpa2a_8"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/pembunuhan-pertama-kali-dimuka-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MULAI TUMBUHNYA PENYAKIT IRI DENGKI</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/mulai-tumbuhnya-penyakit-iri-dengki/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/mulai-tumbuhnya-penyakit-iri-dengki/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 20:30:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qashashul Anbiya']]></category>
		<category><![CDATA[adam]]></category>
		<category><![CDATA[dengki]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[ridwan]]></category>
		<category><![CDATA[wahdah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Benih iri dengki mulai tumbuh dihati Qabil terhadap adik kandungnya, yakni Habil. Penyakit ini menjadi sumber kejahatan pada anak Adam.Qabil iri kepada Habil ketika mendapati kenyataan bahwa adik kembarnya jauh lebih cantik dibanding dengan adik kembar Habil. Ini berarti calon istri Habil jauh lebih cantik dibanding calon istri Qabil. Dan karena iri dengki inilah, Qabil [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Benih iri dengki mulai tumbuh dihati Qabil terhadap adik kandungnya, yakni Habil. Penyakit ini menjadi sumber kejahatan pada anak Adam.Qabil iri kepada Habil ketika mendapati kenyataan bahwa adik kembarnya jauh lebih cantik dibanding dengan adik kembar Habil. Ini berarti calon istri Habil jauh lebih cantik dibanding calon istri Qabil. Dan karena iri dengki inilah, Qabil mencurigai keputusan ayahnya yang dianggap tidak adil dalam menjodohkan anak-anaknya. Sang ayah dianggap lebih cinta kepada Habil daripada cintanya kepada Qabil.</p>
<p>Maka percekcokan mulai merebak diantara anak-anak Adam dan Hawa’ itu sehingga Adam merasa perlu untuk memutuskan percekcokan tersebut dengan bimbingan Syariat Allah Ta’ala. Adam pun bermunajat mengadukan masalahnya kepada Allah agar dapat memutuskan perkara itu dengan keputusan yang paling adil. Sehingga turunlah keputusan dari Allah, agar Qabil dan Habil mempersembahkan kurban hasil pekerjaan masing-masing. Siapa yang persembahan kurbannya di terima oleh Allah, maka dialah yang berhak menikahi saudara perempuannya yang tercantik. Dan tanda diterimanya kurban mereka adalah disambarnya persembahan kurban mereka oleh api yang turun dari langit.</p>
<p>Sementara itu Habil bekerja sebagai peternak sapi dan kambing untuk menyediakan keperluan hewani keluarga Adam dan Hawa’, Sedangkan Qabil bekerja sebagai petani yang membuka lahan sawah dan perkebunan sayur dan buah-buahan untuk menyediakan keperluan nabati keluarga tersebut. Keduanya menyiapkan persembahan kurban itu dari hasil pekerjaan masing-masing. Habil menyiapkan beberapa ekor kambing dan sapi yang paling gemuk dan paling bagus, sedangkan Qabil menyiapkan hasil pertanian dan perkebunan yang paling jelek. Dan ketika persembahan kurban  itu di persembahkan kepada Allah Ta’ala, maka datanglah api dari langit menyambar persembahan kurban Qabil dan sama sekali tidak menyentuh persembahan kurban Qabil [Al-Kamil fitTarikh, Al-'Allamah Izzuddin Abil Hasan Ali bin Abil Karam Asy-Syaibani Ibnul Atsir, jilid 1hal 43, Darul Fiker, Bairut Libanon, tanpa tahun.].</p>
<p>Dengan kejadian tersebut diputuskanlah oleh Adam bahwa Habil berhak menikahi adik Qabil yang cantik jelita itu. Namun Qabil tidak bisa menerima begitu saja keputusan tersebut. Bahkan Qabil menuduh ayahnya, bahwa yang didoakan oleh ayahnya untuk diterima kurbannya hanyalah Habil sedangkan kurban Qabil tidak diterima oleh Allah karena memang ayahanda tidak mendoakan kepada Allah [Al-Bidayah wan hayah, al hafidh Abul fida' ibnu katsir Ad-Dimasyqi, juz 1 dan 2 hal 86, terbitan Darul Ktub Al IlmiYah, Bairut-libanon,tanpa tahun]. Maka rasa dengki Qabil kepada Habil semakin mendominasi hatinya dan terus menerus berfikir bagaimana untuk melampiaskan kedengkiannya itu dan Qabil akhirnya mengancam untuk membunuh Habil. Ancaman itu dijawab oleh Habil dengan menyatakan:</p>
<p dir="rtl">إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (27) لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ (28) إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ (29)</p>
<p>“Hanyalah kurban yang diterima oleh Allah, kurban yang dipersembahkan oleh orang-orang yang bertakwa. Kalau engkau sampai tega menjulurkan tanganmu untuk membunuh aku, niscaya aku tidak akan menjulurkan kedua tangan ku untuk membunuh engkau. Karena aku takut dari ancaman azab Allah Tuhan sekalian alam. Dan juga aku tidak ingin membunuh engkau karena aku ingin engkau menanggung sendiri dosamu bila membunuh aku dan dosa-dosamu akibat perbuatanmu yang lainnya, sehingga engkau bila membunuh aku, akan menjadi penghuni neraka. Dan memang demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat kedzaliman.” [QS Al-Ma'idah: 27-29] Memang kedengkian itu membikin orang gelap mata, sehingga tidak mampu mengoreksi dirinya dan cenderung dzalim dengan menimpakan sebab kegagalan dirinya kepada orang lain.</p>
<p>—–&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>* Kandungan tulisan ini, pernah disampaikan dalam kajian rutin Qashashul Anbiya’ yang disampaikan oleh Ust Ridwan Hamidi, Lc di Masjid Darul Ulum Yogyakarta. Kajian ini diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta.</p>
<p>Sumber: Majalah Salafy edisi 06/TH V//1429 H/2008 M.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fmulai-tumbuhnya-penyakit-iri-dengki%2F&amp;title=MULAI%20TUMBUHNYA%20PENYAKIT%20IRI%20DENGKI" id="wpa2a_10"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/mulai-tumbuhnya-penyakit-iri-dengki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diabolisme Intelektual</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/diabolisme-intelektual/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/diabolisme-intelektual/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 20:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qashashul Anbiya']]></category>
		<category><![CDATA[diabolisme]]></category>
		<category><![CDATA[intelektual]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[pogung]]></category>
		<category><![CDATA[raya]]></category>
		<category><![CDATA[ridwan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah ringkasan materi khutbah yang disampaikan oleh Ust Ridwan Hamidi pada hari Jum’at, 1 Januari 2010 di Masjid Pogung Raya, Sleman,  Yogyakarta. Berikut ini petikannya: Diábolos artinya iblis. Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan dan bersujud kepada Adam. Tapi dia bukan atheist atau ragu pada Tuhan. Diábolos adalah [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini adalah ringkasan materi khutbah yang disampaikan oleh Ust Ridwan Hamidi pada hari Jum’at, 1 Januari 2010 di Masjid Pogung Raya, Sleman,  Yogyakarta.</p>
<p>Berikut ini petikannya:</p>
<p>Diábolos artinya iblis. Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan dan bersujud kepada Adam. Tapi dia bukan atheist atau ragu pada Tuhan.</p>
<p><span id="more-112"></span></p>
<p>Diábolos adalah Iblis dalam bahasa Yunani kuno. Maka istilah “diabolisme” berarti pemikiran, watak dan perilaku ala Iblis atau-pun pengabdian kepadanya. Dalam kitab suci Al-Qur’an dinyatakan bahwa Iblis termasuk bangsa jin (QS. 18:50), yang diciptakan dari api (QS. 15:27). Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Apakah Iblis atheist? Tidak. Apakah ia agnostik? Tidak. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen. Lalu mengapa ia dila’nat dan disebut ‘kafir’? Di sinilah letak persoalannya.</p>
<p>Kenal dan tahu saja, tidak cukup. Percaya dan mengakui saja, tidak cukup. Mereka yang kafir dari kalangan Ahli Kitab-pun kenal dan tahu persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasulullah SAW, sebagaimana orang tua mengenali anak kandungnya sendiri (<em>ya’rifunahu kama ya’rifuna abna’ahum</em>). Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam.</p>
<p>Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan, dan pernyataan harus disertai dengan kepatuhan dan ketundukan, harus diikuti dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan melaksanakan perintah. “<em>Knowledge and recognition should be followed by acknowledgement and submission</em>,” tegas Professor Naquib Al-Attas.</p>
<p>Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang (aba, QS 2:34, 15:31, 20:116), menganggap dirinya hebat (istakbara, QS 2:34, 38:73, 38:75), dan melawan perintah Tuhan (fasaqa an amri rabbihi, QS 18:50). Dalam hal ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut sebagai staff dan kroninya, berpikiran dan berperilaku seperti yang dicontohkannya.</p>
<p>Iblis adalah ‘prototype’ intelektual ‘keblinger’. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an, sejurus setelah ia divonis, Iblis mohon agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk sementara waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan segala cara.</p>
<p>“Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan seruanmu. Kerahkan seluruh pasukanmu, kavaleri maupun infantri. Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka. Janjikan mereka [kenikmatan dan keselamatan]!” Demikian difirmankan kepada Iblis (QS. 17:64).</p>
<p>Maka Iblis pun bertekad:</p>
<p dir="rtl">قالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ</p>
<p>“<em>Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka</em>!” (QS 7:16-17).</p>
<p dir="rtl">عن ابن عباس: {ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ} أشككهم في آخرتهم، {وَمِنْ خَلْفِهِمْ} أرغبهم في دنياهم {وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ} أشبه عليهم أمر دينهم {وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ} أشهي لهم المعاصي.</p>
<p>Maksudnya, menurut Ibnu Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan menebar keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, gandrung dan tergila-gila pada dunia, ragu dan bingung soal agama, hobi dan chueq berbuat dosa, (Lihat: Ibn Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Adziem).</p>
<p>Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis. Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam Al-Qur’an sebagai berikut.</p>
<p><em>Pertama</em>, selalu membangkang dan membantah. Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir’aun berikut hulu-balangnya, <em>zulman wa ‘uluwwan</em>, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum).</p>
<p>Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti itu. Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya.</p>
<p>Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut juga <em>al-’inadiyyah </em>(Lihat: Abu Hafs Najmuddin Umar ibn Muhammad an-Nasafi (w. 537 H/1142 M), <em>al-’Aqa’id</em>, dalam Majmu? min Muhimmat al-Mutun, Kairo: <em>al-Matba’ah </em>al-Khayriyyah, 1306 H, hlm. 19).</p>
<p><em>Kedua</em>, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): (<em>al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas</em>) “Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain.”</p>
<p>Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an atau hadits Nabi SAW dianggapnya dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya.</p>
<p>Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat Al-Qur’an maupun Hadits, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti <em>zindiq, heretik </em>dan bermental Iblis.</p>
<p>Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (<em>sufaha’</em>). Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam Al-Qur’an:</p>
<p dir="rtl">سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ</p>
<p>“<em>Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya.”</em> (7:146).</p>
<p>Ciri yang <em>ketiga </em>ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (<em>talbis wa kitman al-haqq</em>). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutar-balikkan data dan fakta. Yang bathil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq.</p>
<p>Sebaliknya, yang haq digunting dan di-‘preteli’ sehingga kelihatan seperti bathil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh.</p>
<p>Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat Al-Qur’an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks <em>siyaq, sibaq </em>dan <em>lihaq </em>maupun tafsir <em>bi l-ma’tsur </em>dari ayat-ayat tersebut.</p>
<p>Sama halnya yang dilakukan oleh para orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap Al-Qur’an dan Hadits. Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (<em>tahrif</em>) sumber-sumber yang ada. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nashrani yang karakternya telah dijelaskan dalam Al-Qur’an 3:71, “<em>Ya ahla l-kitab lima talbisuna l-haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum ta’lamun</em>?” Yang sangat mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang dzahirnya Muslim.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fdiabolisme-intelektual%2F&amp;title=Diabolisme%20Intelektual" id="wpa2a_12"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/diabolisme-intelektual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;Ibrah Dalam Kisah Para Rasul</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/ibrah-dalam-kisah-para-rasul/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/ibrah-dalam-kisah-para-rasul/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 20:01:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qashashul Anbiya']]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[para]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[ridwan]]></category>
		<category><![CDATA[wahdah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Para Nabi dan Rasul ‘alaihimus salaam adalah makhluk-makluk pilihan, para pemimpin kebenaran dan tonggak-tonggak ketakwaan. Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa telah memilih mereka diantara seluruh makhluk-Nya sebagai contoh sempurna bagi kemanusiaan. Mereka juga merupakan teladan bagi orang yang berpegang teguh sehingga kehidupan mereka menggambarkan bentuk-bentuk keimanan yang sebenar-benarnya dalam bentuk kesabaran, keberanian, pengorbanan dan kerelaan. Allah [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Para Nabi dan Rasul ‘alaihimus salaam adalah makhluk-makluk pilihan, para pemimpin kebenaran dan tonggak-tonggak ketakwaan. Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa telah memilih mereka diantara seluruh makhluk-Nya sebagai contoh sempurna bagi kemanusiaan. Mereka juga merupakan teladan bagi orang yang berpegang teguh sehingga kehidupan mereka menggambarkan bentuk-bentuk keimanan yang sebenar-benarnya dalam bentuk kesabaran, keberanian, pengorbanan dan kerelaan.</p>
<p><span id="more-110"></span></p>
<p>Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman<em>,</em></p>
<p dir="rtl">لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأُولِي الأَلْبَابِ</p>
<p><em>” Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”</em> (QS. Yusuf [12]: 111).</p>
<p>Dunia kita yang luas dan menakjubkan ini, tempat kita hidup, tempat berlindung dibawah naungannya dan segala rahasia misterius yang meliputinya, mendorong kita untuk mencermati dan memikirkan tentang penciptaannya yang luar biasa sehingga pada akhirnya kita sampai merasakan kekuasaan dan keagungan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa.</p>
<p>Ibnu Qoyyim al Jauziyah –rahimahullaah ta’aalaa– menyebutkan kebutuhan manusia yang mendesak kepada mereka, orang-orang yang luhur dan pilihan ini, yaitu para Nabi dan Rasul <em>alaihissalam</em>. Beliau menegaskan:</p>
<p dir="rtl">ومن هاهنا تعلم اضطرار العباد فوقَ كل ضرورة إلى معرفة الرسول، وما جاء به، وتصديقه فيما أخبر به، وطاعته فيما أمر، فإنه لا سبيل إلى السعادة والفلاح لا في الدنيا، ولا في الآخرة إلا على أيدي الرسل، ولا سبيلَ إلى معرفة الطيب والخبيث على التفصيل إلا مِن جهتهم، ولا يُنال رضى الله البتة إلا على أيديهم.</p>
<p>“Dari sini bisa diketahui betapa mendesaknya kebutuhan seorang hamba –yang melebihi kebutuhan apapun- untuk mengenal rasul, apa yang dibawa, membenarkan apa yang diberitakan, mematuhi perintahnya. Karena tidak ada jalan menuju kebahagiaan dan kesuksesan baik di dunia ini maupun di akhirat, kecuali lewat para Rasul. Tidak ada cara untuk mengetahui yang baik dan buruk secara detail kecuali hanya lewat para Rasul. Tidak mungkin mendapatkan keridloan Allah sama sekali, kecuali lewat mereka.” (Zaadul Ma’ad 1/69).</p>
<p>Sementara itu, penyebutan para Nabi dan Rasul yang lain di dalam Al-Qur’an terdapat pada ayat-ayat yang terpisah-pisah.</p>
<p>Insya Allah, kita akan pelajari dalam beberapa bahasan.</p>
<p>Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa jalla menguatkan kita semua untuk mengikuti jalan para Rasul dalam menghambakan diri kepada-Nya.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>* Materi ini disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc  pada kajian rutin di masjid Darul Ulum. (Kajian ini diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta).</p>
</div>
</div>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fibrah-dalam-kisah-para-rasul%2F&amp;title=%E2%80%98Ibrah%20Dalam%20Kisah%20Para%20Rasul" id="wpa2a_14"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/ibrah-dalam-kisah-para-rasul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengantar Kisah Para Rasul</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/pengantar-kisah-para-rasul/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/pengantar-kisah-para-rasul/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 06:20:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qashashul Anbiya']]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[MUQADDIMAH Allah ‘Azza wa Jalla telah menceritakan kepada kita kisah-kisah yang baik berupa kabar mengenai para Nabi-Nya di dalam kitab-Nya (Al-Qur’an al Karim). Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menyebutkan sebagai ahsan al qashash “kisah-kisah terbaik”,. Sebutan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang mulia ini menunjukkan bahwa kisah-kisah ini merupakan kisah yang paling benar, paling mengena dan paling [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>MUQADDIMAH</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla telah menceritakan kepada kita kisah-kisah yang baik berupa kabar mengenai para Nabi-Nya di dalam kitab-Nya (Al-Qur’an al Karim). Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menyebutkan sebagai ahsan al qashash “kisah-kisah terbaik”,. Sebutan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang mulia ini menunjukkan bahwa kisah-kisah ini merupakan kisah yang paling benar, paling mengena dan paling bermanfaat bagi para hamba.</p>
<p><span id="more-106"></span></p>
<p>Banyak yang akan kita temukan dalam kisah para Nabi dan Rasul. Diantara manfaat penting dari kisah para Nabi dan Rasul ini adalah:</p>
<p>1. Merupakan penyempurna dan pelengkap iman kepada para nabi dan rasul –semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada mereka-. Hal itu karena meskipun kita telah beriman kepada seluruh nabi secara umum dan global, namun iman yang terperinci -yang di ambil dari kisah-kisah mereka, penggambaran Allah tentang mereka berupa kejujuran yang sempurna dan sifat-sifat kesempurnaan (lain) yang merupakan sifat tertinggi; keutamaan, kebaikan, serta perbuatan ihsan mereka kepada setiap manusia, bahkan kepada semua hewan sebagaimana mereka melakukannya kepada makhluk yang berakal dalam hal memperhatikan hewan tersebut dan memenuhi haknya- iman yang yang terperinci kepada para nabi dan rasul ini akan menyampaikan hamba kepada iman yang sempurna, dan ini merupakanmodal penting bertambahnya iman.</p>
<p>2. Menambah kuatnya keimanan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, pengesaan-Nya, ikhlas beramal hanya untuk-Nya, keimanan kepada hari akhir, penjelasan tentang keutamaan tauhid dan wajibnya tauhid tersebut, serta kejahatan syirik yang merupakan sebab kebinasaan di dunia dan akhirat.</p>
<p>3. Di dalam kisah-kisah ini juga terdapat pelajaran bagi kaum mukminin, agar mereka meneladani para nabi dalam semua kemuliaan agama:</p>
<p>• Dalam masalah tauhid serta menegakkan peribadahan.</p>
<p>• Dalam perkara dakwah, sabar dan tegar pada setiap musibah yang menggoncangkan, dan menghadapinya dengan tenang, tentram serta keteguhan yang sempurna.</p>
<p>• Dalam perkara kejujuran dan keikhlasan untuk Allah pada seluruh gerak didalamnya, berharap ganjaran dan pahala dari Allah Ta’ala, tidak mencari ganjaran, upah, ataupun ucapan terima kasih dari makhluk, kecuali pada perkara yang bermanfaat bagi manusia.</p>
<p>Kisah tersebut juga mengandung pelajaran tentang bersepakatnya mereka di atas satu agama dan satu pokok (prinsip) yang sama: berdakwah kepada seluruh akhlak yang mulia, amal shalih serta memperbaiki keadaan dan memperingatkan dari kebalikan dari hal-hal tersebut.</p>
<p>4. Di dalamnya terkandung pula pelajaran-pelajaran dalam bidang fikih dan hukum-hukum syar’i serta hikmah yang tersembunyi dari berbagai hukum syariat dimana seorang penuntut ilmu tidak bisa lepas darinya.</p>
<p>5. Di dalam kisah-kisah tersebut, terkandung mau’izhah (nasehat) serta pengingat, motivasi serta ancaman, jalan keluar setelah datangnya kesempitan, mudahnya suatu urusan setelah sulitnya, akhir yang baik yang dirasakan di dunia ini, pujian dan kecintaan pada kalbu-kalbu para makhluk (terhadap mereka), yang kesemuanya ini menjadi bekal bagi orang-orang yang bertakwa, kebahagiaan bagi orang yang beribadah, hiburan bagi mereka yang sedih, serta mau’izhah bagi orang bagi orang yang beriman.</p>
<p>Jadi bukan maksud dari kisah mereka ini sebagai obrolan malam semata. Namun, tujuan teragung dari diceritakannya mereka adalah menjadi peringatan dan pelajaran.</p>
<p>Perlu diketahui  sebelum kita memasuki kisah mereka, bahwa banyak dari kisah-kisah ini –semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka- Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa mengulang-ulang dalam kitab-Nya sesuai dengan pembahasan. Sering kali suatu kisah pada suatu tempat memiliki tambahan dan pelajaran yang tidak didapati pada tempat-tempat yang lain. Atau datang dengan ungkapan yang berbeda dengan kisah yang lain namun maknanya sama atau serupa. Karena tulisan ini hanya merupakan ringkasan, maka hanya akan menyebutkan kisah-kisah ini dengan mengumpulkannya pada satu tempat. Juga hanya menitikberatkan pada pemahaman makna ungkapan Al-Qur’an dari konteksnya, dari awal hingga akhir lafadz.</p>
<p>Kemudian pada setiap kisah disertakan beberapapa faidah (manfaat-manfaat) ushuliyyah (pokok), furu’iyyah (cabang), akhlak, adab, dan cabang ilmu yang lain yang Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa mudahkan. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa memberikan taufik untuk (merealisasikan)nya, taufik pada benarnya ucapan, keikhlasan batin dan sesuai dengan ridha-Nya, serta menjadikannya manfaat yang luas. Dialah Yang Maha Dermawan lagi Maha Mulia.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>* Materi ini berasal dari materi kajian rutin Kisah Para Nabi yang disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc di masjid Darul Ulum Yogyakarta. (Kajian diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta)</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fpengantar-kisah-para-rasul%2F&amp;title=Pengantar%20Kisah%20Para%20Rasul" id="wpa2a_16"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/pengantar-kisah-para-rasul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
