<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ustadz Ridwan Hamidi &#187; Peradaban</title>
	<atom:link href="http://ustadzridwan.com/category/peradaban/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzridwan.com</link>
	<description>رضوان حامدي الإندونيسي</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Apr 2012 02:20:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Indonesia dan Liberalism</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/indonesia-dan-liberalism/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/indonesia-dan-liberalism/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Mar 2012 13:49:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2259</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Satu-satunya negara muslim dimana proyek liberalisme sedemikian berhasil adalah Indonesia. Gagasan yang telah menggerogoti akidah umat muslim ini sangat subur di negara berpenduduk muslim terbesar ini, mengalahkan Negara-negara muslim lainnya. Bayangkan saja, pemikiran liberal terjadi dihampir seluruh struktur. Hal itu dikatakan Dewan Pembina INSISTS, DR. Hamid Fahmi Zarkasyi M.Phil mencermati perkembangan liberalisme di seluruh dunia. &#160; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Satu-satunya negara muslim dimana proyek liberalisme sedemikian  berhasil adalah Indonesia. Gagasan yang telah menggerogoti akidah umat  muslim ini sangat subur di negara berpenduduk muslim terbesar ini,  mengalahkan Negara-negara muslim lainnya. Bayangkan saja, pemikiran  liberal terjadi dihampir seluruh struktur. Hal itu dikatakan Dewan  Pembina INSISTS, DR. Hamid Fahmi Zarkasyi M.Phil mencermati perkembangan  liberalisme di seluruh dunia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Pada tahun 2004, koran Herald Tribune (Media Amerika, red.)  menampilkan sebuah berita yang sangat menarik. Di Koran itu dimuat  sebuah pernyataan seorang pejabat Amerika bahwa Amerika sekarang  mengalihkan perhatiannya ke Negara Asia tenggara khususnya Indonesia  daripada ke Timur Tengah tengah,” tegasnya kepada Eramuslim.com.</p>
<p>Itu baru satu fakta. Pemimpin Program Kaderisasi Ulama (PKU) di  Gontor ini juga mengutip skenario RAND Corporation yang membenturkan  kaum Fundamentalis dengan Tradisionalis Islam.</p>
<p>“Dari buku-buku yang saya baca, khususnya skenario RAND Corporation  ternyata terjadi di Indonesia. Seperti misalnya mengotak atik tafsir  tradisonal. Memecah belah antara tradisional dengan fundamentalis.  Menerbitkan buku-buku moderat. Itu semua terjadi di Indonesia dan saya  lihat itu tidak terjadi di Negara lain,” sambungnya yang menempuh master  di University of Birmingham, Inggris, ini.</p>
<p>Hal sama juga berlaku dalam perkembangan isu kesetaraan gender yang dimainkan para feminis di Indonesia.</p>
<p>“Ada satu berita di Lebanon bahwa ketika terjadi konferensi gender  disana, utusan Indonesia itu dipuji, karena pengarusutamaan gender yang  paling berhasil di seluruh dunia adalah Indonesia. Itu merupakan suatu  bukti yang tidak dapat dipungkiri,” tegasnya.</p>
<p>Lantas faktor apa yang membuat gagasan liberalisme tumbuh makmur di  Indonesia? Apakah karena memang Indonesia telah dijadikan sasaran  sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ataukah lebih karena  kultur budaya Indonesia yang mudah dimasuki gagasan Barat?</p>
<p>“Dua-duanya. Karena Indonesia Negara yang besar tapi kita rapuh.  Intektualnya rapuh, ekonomi juga rapuh sehingga anak-anak muda dikasih  dana yang cukup akan ikut dengan pemikiran Barat. Awalnya kan proyek.  Dari proyek menjadi sebuah pemikiran. Dari pemikiran menjadi teologi,”  pungkasnya. (Pz)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.miumipusat.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=29:indo&#038;catid=3:berita&#038;Itemid=5</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Findonesia-dan-liberalism%2F&amp;title=Indonesia%20dan%20Liberalism" id="wpa2a_2"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/indonesia-dan-liberalism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buya Hamka: Vonis Sesat terhadap Wahabi Direkayasa untuk Gurita Kolonialisme</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/buya-hamka-vonis-sesat-terhadap-wahabi-direkayasa-untuk-gurita-kolonialisme/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/buya-hamka-vonis-sesat-terhadap-wahabi-direkayasa-untuk-gurita-kolonialisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Mar 2012 04:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2257</guid>
		<description><![CDATA[Buya Hamka: Vonis Sesat terhadap Wahabi Direkayasa untuk Gurita Kolonialisme Oleh: Zulkarnain Khidir Mahasiswa Universitas Prof. DR. HAMKA, Jakarta Belakangan ketika isu terorisme kian dihujamkan di jantung pergerakan umat Islam agar iklim pergerakan dakwah terkapar lemah tak berdaya. Nama Wahabi menjadi salah satu faham yang disorot dan kian menjadi bulan-bulanan aksi “tunjuk hidung,” bahkan hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buya Hamka: Vonis Sesat terhadap Wahabi Direkayasa untuk Gurita Kolonialisme</p>
<p>Oleh: Zulkarnain Khidir<br />
Mahasiswa Universitas Prof. DR. HAMKA, Jakarta</p>
<p>Belakangan ketika isu terorisme kian dihujamkan di jantung pergerakan umat Islam agar iklim pergerakan dakwah terkapar lemah tak berdaya. Nama Wahabi menjadi salah satu faham yang disorot dan kian menjadi bulan-bulanan aksi “tunjuk hidung,” bahkan hal itu dilakukan oleh kalangan ustadz dan kiyai yang berasal dari tubuh umat Islam itu sendiri.</p>
<p>Beberapa buku propaganda pun diterbitkan untuk menghantam pergerakan yang dituding Wahabi, di antaranya buku hitam berjudl “Sejarah Berdarah Sekte Salafi-Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Bertubi-tubi, berbagai tudingan dialamatkan oleh alumnus dari Universitas di Bawah Naungan Kerajaan Ibnu Saud yang berhaluan Wahabi, yaitu Prof. Dr. Said Siradj, MA. Tak mau kalah, para kiyai dari pelosok pun ikut-ikutan menghujat siapapun yang dituding Wahabi. Kasus terakhir adalah statement dari kiyai Muhammad Bukhori Maulana dalam tabligh akbar FOSWAN di Bekasi baru-baru ini turut pula menyerang Wahabi dengan tudingan miring. Benarkah tudingan tersebut?</p>
<p>Menarik memang menyaksikan fenomena tersebut. Gelagat pembunuhan karakter terhadap dakwah atau personal pengikut Wahabi ini bukan hal baru, melainkan telah lama terjadi. Hal ini bahkan telah diurai dengan lengkap oleh ulama pejuang dan mantan ketua MUI yang paling karismatik, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa disapa Buya HAMKA. Siapa tak mengenal Buya HAMKA? Kegigihan, keteguhan dan independensinya sebagai seorang ulama tidak perlu diragukan lagi tentunya.</p>
<p>Dalam buku “Dari Perbendaharaan Lama,” Buya HAMKA dengan gamblang beliau merinci berbagai fitnah terhadap Wahabi di Indonesia sejatinya telah berlangsung berkali-kali. Sejak Masa Penjajahan hingga beberapa kali Pemilihan Umum yang diselenggarakan pada era Orde Lama, Wahabi seringkali menjadi objek perjuangan yang ditikam fitnah dan diupayakan penghapusan atas eksistensinya. Mari kita cermati apa yang pernah diungkap Buya Hamka dalam buku tersebut:</p>
<p>“Seketika terjadi Pemilihan Umum , orang telah menyebut-nyebut kembali yang baru lalu, untuk alat kampanye, nama “Wahabi.” Ada yang mengatakan bahwa Masyumi itu adalah Wahabi, sebab itu jangan pilih orang Masyumi. Pihak komunis pernah turut-turut pula menyebut-nyebut Wahabi dan mengatakan bahwa Wahabi itu dahulu telah datang ke Sumatera. Dan orang-orang Sumatera yang memperjuangkan Islam di tanah Jawa ini adalah dari keturunan kaum Wahabi.</p>
<p>Memang sejak abad kedelapan belas, sejak gerakan Wahabi timbul di pusat tanah Arab, nama Wahabi itu telah menggegerkan dunia. Kerajaan Turki yang sedang berkuasa, takut kepada Wahabi. Karena Wahabi adalah, permulaan kebangkitan bangsa Arab, sesudah jatuh pamornya, karena serangan bangsa Mongol dan Tartar ke Baghdad. Dan Wahabi pun ditakuti oleh bangsa-bangsa penjajah, karena apabila dia masuk ke suatu negeri, dia akan mengembangkan mata penduduknya menentang penjajahan. Sebab faham Wahabi ialah meneguhkan kembali ajaran Tauhid yang murni, menghapuskan segala sesuatu yang akan membawa kepada syirik. Sebab itu timbullah perasaan tidak ada tempat takut melainkan Allah. Wahabi adalah menentang keras kepada Jumud, yaitu memahamkan agama dengan membeku. Orang harus kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.</p>
<p>Ajaran ini telah timbul bersamaan dengan timbulnya kebangkitan revolusi Prancis di Eropa. Dan pada masa itu juga “infiltrasi” dari gerakan ini telah masuk ke tanah Jawa. Pada tahun 1788 di zaman pemerintahan Paku Buwono IV, yang lebih terkenal dengan gelaran “Sunan Bagus,” beberapa orang penganut faham Wahabi telah datang ke tanah Jawa dan menyiarkan ajarannya di negeri ini. Bukan saja mereka itu masuk ke Solo dan Yogya, tetapi mereka pun meneruskan juga penyiaran fahamnya di Cirebon, Bantam dan Madura. Mereka mendapat sambutan baik, sebab terang anti penjajahan.</p>
<p>Sunan Bagus sendiri pun tertarik dengan ajaran kaum Wahabi. Pemerintah Belanda mendesak agar orang-orang Wahabi itu diserahkan kepadanya. Pemerintah Belanda cukup tahu, apakah akibatnya bagi penjajahannya, jika faham Wahabi ini dikenal oleh rakyat.</p>
<p>Padahal ketika itu perjuangan memperkokoh penjajahan belum lagi selesai. Mulanya Sunan tidak mau menyerahkan mereka. Tetapi mengingat akibat-akibatnya bagi Kerajaan-kerajaan Jawa, maka ahli-ahli kerajaan memberi advis kepada Sunan, supaya orang-orang Wahabi itu diserahkan saja kepada Belanda. Lantaran desakan itu, maka mereka pun ditangkapi dan diserahkan kepada Belanda. Oleh Belanda orang-orang itu pun diusir kembali ke tanah Arab.</p>
<p>Tetapi di tahun 1801, artinya 12 tahun di belakang, kaum Wahabi datang lagi. Sekarang bukan lagi orang Arab, melainkan anak Indonesia sendiri, yaitu anak Minangkabau. Haji Miskin Pandai Sikat (Agam) Haji Abdurrahman Piabang (Lubuk Limapuluh Koto), dan Haji Mohammad Haris Tuanku Lintau (Luhak Tanah Datar).</p>
<p>Mereka menyiarkan ajaran itu di Luhak Agam (Bukittinggi) dan banyak beroleh murid dan pengikut. Diantara murid mereka ialah Tuanku Nan Renceh Kamang. Tuanku Samik Empat Angkat. Akhirnya gerakan mereka itu meluas dan melebar, sehingga terbentuklah “Kaum Paderi” yang terkenal. Di antara mereka ialah Tuanku Imam Bonjol. Maka terjadilah “Perang Paderi” yang terkenal itu. Tiga puluh tujuh tahun lamanya mereka melawan penjajahan Belanda.</p>
<p>Bilamana di dalam abad ke delapan belas dan Sembilan belas gerakan Wahabi dapat dipatahkan, pertama orang-orang Wahabi dapat diusir dari Jawa, kedua dapat dikalahkan dengan kekuatan senjata, namun di awal abad kedua puluh mereka muncul lagi!</p>
<p>Di Minangkabau timbullah gerakan yang dinamai “Kaum Muda.” Di Jawa datanglah K.H. A. Dahlan dan Syekh Ahmad Soorkati. K.H.A. Dahlan mendirikan “Muhammadiyah.” Syekh Ahmad Soorkati dapat membangun semangat baru dalam kalangan orang-orang Arab. Ketika dia mulai datang, orang Arab belum pecah menjadi dua, yaitu Arrabithah Alawiyah dan Al-Irsyad. Bahkan yang mendatangkan Syekh itu ke mari adalah dari kalangan yang kemudiannya membentuk Ar-Rabithah Adawiyah.</p>
<p>Musuhnya dalam kalangan Islam sendiri, pertama ialah Kerajaan Turki. Kedua Kerajaan Syarif di Mekkah, ketiga Kerajaan Mesir. Ulama-ulama pengambil muka mengarang buku-buku buat “mengafirkan” Wahabi. Bahkan ada di kalangan Ulama itu yang sampai hati mengarang buku mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab pendiri faham ini adalah keturunan Musailamah Al Kahzab!</p>
<p>Pembangunan Wahabi pada umumnya adalah bermazhab Hambali, tetapi faham itu juga dianut oleh pengikut Mazhab Syafi’i, sebagai kaum Wahabi Minangkabau. Dan juga penganut Mazhab Hanafi, sebagai kaum Wahabi di India.</p>
<p>Sekarang “Wahabi” dijadikan alat kembali oleh beberapa golongan tertentu untuk menekan semangat kesadaran Islam yang bukan surut ke belakang di Indonesia ini, melainkan kian maju dan tersiar. Kebanyakan orang Islam yang tidak tahu di waktu ini, yang dibenci bukan lagi pelajaran wahabi, melainkan nama Wahabi.</p>
<p>Ir. Dr. Sukarno dalam “Surat-Surat dari Endeh”nya kelihatan bahwa fahamnya dalam agama Islam adalah banyak mengandung anasir Wahabi.</p>
<p>Kaum komunis Indonesia telah mencoba menimbulkan sentiment Ummat Islam dengan membangkit-bangkit nama Wahabi. Padahal seketika terdengar kemenangan gilang-gemilang yang dicapai oleh Raja Wahabi Ibnu Saud, yang mengusir kekuasaan keluarga Syarif dari Mekkah. Umat Islam mengadakan Kongres Besar di Surabaya dan mengetok kawat mengucapkan selamat atas kemenangan itu (1925). Sampai mengutus dua orang pemimpin Islam dari Jawa ke Mekkah, yaitu H.O.S. Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansur. Dan Haji Agus Salim datang lagi ke Mekkah tahun 1927.</p>
<p>Karena tahun 1925 dan tahun 1926 itu belum lama, baru lima puluh tahun lebih saja, maka masih banyak orang yang dapat mengenangkan bagaimana pula hebatnya reaksi pada waktu itu, baik dari pemerintah penjajahan, walau dari Umat Islam sendiri yang ikut benci kepada Wahabi, karena hebatnya propaganda Kerajaan Turki dan Ulama-ulama pengikut Syarif.</p>
<p>Sekarang pemilihan umum yang pertama sudah selesai. Mungkin menyebut-nyebut “Wahabi” dan membusuk-busukkannya ini akan disimpan dahulu untuk pemilihan umum yang akan datang. Dan mungkin juga propaganda ini masuk ke dalam hati orang, sehingga gambar-gambar “Figur Nasional,” sebagai Tuanku Imam Bonjol dan K.H.A. Dahlan diturunkan dari dinding. Dan mungkin perkumpulan-perkumpulan yang memang nyata kemasukan faham Wahabi seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis dan lain-lain diminta supaya dibubarkan saja.</p>
<p>Kepada orang-orang yang membangkit-bangkit bahwa pemuka-pemuka Islam dari sumatera yang datang memperjuangkan Islam di Tanah Jawa ini adalah penganut atau keturunan kaum Wahabi, kepada mereka orang-orang dari Sumatera itu mengucapkan banyak-banyak terima kasih! Sebab kepada mereka diberikan kehormatan yang begitu besar!</p>
<p>Sungguh pun demikian, faham Wahabi bukanlah faham yang dipaksakan oleh Muslimin, baik mereka Wahabi atau tidak. Dan masih banyak yang tidak menganut faham ini dalam kalangan Masyumi. Tetapi pokok perjuangan Islam, yaitu hanya takut semata-mata kepada Allah dan anti kepada segala macam penjajahan, termasuk Komunis, adalah anutan dari mereka bersama!”</p>
<p> </p>
<p>Dari paparan tersebut, jelaslah bahwa Buya HAMKA berhasil menelisik akar terjadinya fitnah yang dialamatkan kepada Wahabi. Ini menandakan vonis “Faham Hitam” yang dituduhkan kepada Wahabi pada dasarnya adalah modus lama namun didesain dengan gaya baru yang disesuaikan dengan kepentingan dan arahan yang disetting oleh para Think Tank “Gurita Kolonialisme Abad 21.”</p>
<p>Maka perhatikanlah apa yang pernah diutarakan oleh Buya HAMKA dalam pembahasan Islam dan Majapahit berikut ini:</p>
<p>“Memang, di zaman Jahiliyah kita bermusuhan, kita berdendam, kita tidak bersatu! Islam kemudiannya adalah sebagai penanam pertama dari jiwa persatuan. Dan Kompeni Belanda kembali memakai alat perpecahannya, untuk menguatkan kekuasaannya.”</p>
<p>“Tahukah tuan, bahwasanya tatkala Pangeran Dipenogero, Amirul Mukminin Tanah Jawa telah dapat ditipu dan perangnya dikalahkan, maka Belanda membawa Pangeran Sentot Ali Basyah ke Minangkabau buat mengalahkan Paderi? Tahukah tuan bahwa setelah Sentot merasa dirinya tertipu, sebab yang diperanginya itu adalah kawan sefahamnya dalam Islam, dan setelah kaum Paderi dan raja-raja Minangkabau memperhatikan ikatan serbannya sama dengan ikatan serban Ulama Minangkabau, sudi menerima Sentot sebagai “Amir” Islam di Minangkabau? Teringatkah tuan, bahwa lantaran rahasia bocor dan Belanda tahu, Sentot pun diasingkan ke Bengkulu dan di sana beliau berkubur buat selama-lamanya?”</p>
<p>“Maka dengan memakai faham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia terjamin. Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan saja, tanpa Islam, orang harus kembali mengeruk, mengorek tambo lama, dan itulah pangkal bala dan bencana!”</p>
<p>Kiranya, sepeninggal HAMKA, alangkah laiknya jika umat Islam masih kenal dan bisa mengimplementasikan apa yang diutarakan Buya HAMKA dalam bukunya tersebut. Dengan demikian, niscaya umat Islam tidak perlu sampai menjadi keledai yang terjerembab dalam lubang yang dibuat oleh musuh-musuh Islam dengan modus yang sama tetapi dalam nuansa yang berbeda. Wallahu A’lam. [voa-islam.com]</p>
<p>http://m.voa-islam.com//news/liberalism/2011/12/03/16891/buya-hamka-vonis-sesat-terhadap-wahabi-direkayasa-untuk-gurita-kolonialisme/</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fbuya-hamka-vonis-sesat-terhadap-wahabi-direkayasa-untuk-gurita-kolonialisme%2F&amp;title=Buya%20Hamka%3A%20Vonis%20Sesat%20terhadap%20Wahabi%20Direkayasa%20untuk%20Gurita%20Kolonialisme" id="wpa2a_4"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/buya-hamka-vonis-sesat-terhadap-wahabi-direkayasa-untuk-gurita-kolonialisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tolerasi Nabi SAW Kepada Yahudi</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/tolerasi-nabi-saw-kepada-yahudi/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/tolerasi-nabi-saw-kepada-yahudi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 08:21:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2217</guid>
		<description><![CDATA[Jauh sebelum berbagai bangsa mengenal toleransi, di awal abad ke-7 Masehi, Nabi Muhammad saw telah memberi contoh toleransi beragama di Madinah. Termasuk terhadap kaum Yahudi.  Di tengah kondisi Madinah yang cukup akomodatif, Nabi Saw menetapkan perangkat-perangkat dasar untuk mewujudkan kehidupan yang harmoni bagi seluruh unsur masyarakat Madinah. Maka lahirlah Shahifah al-Madinah atau Piagam Madinah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jauh sebelum berbagai bangsa mengenal toleransi, di awal abad ke-7  Masehi, Nabi Muhammad saw telah memberi contoh toleransi beragama di  Madinah. Termasuk terhadap kaum Yahudi.  Di tengah kondisi Madinah yang  cukup akomodatif, Nabi Saw menetapkan perangkat-perangkat dasar untuk  mewujudkan kehidupan yang harmoni bagi seluruh unsur masyarakat Madinah.  Maka lahirlah Shahifah al-Madinah atau Piagam Madinah yang menurut Dr. M  Hamidullah merupakan konstitusi negara tertulis yang pertama di dunia (<em>the first written constitution in the world</em>).</p>
<p>Piagam  Madinah menjelaskan bentuk negara, mengatur hubungan antar kelompok  masyarakat, hak dan kewajibannya kepada negara, kehidupan beragama, asas  peradilan dan sumber hukum, dan lain sebagainya. Selain  mengejawantahkan konsep kenegaraan baru berupa <em>al-ummah al-muslimah</em> (umat muslim), isu kemajemukan juga menjadi sorotan utama Piagam  Madinah. Terkait kaum Yahudi, berdasarkan susunan Dr. Hamidullah, dari  47 pasal Piagam Madinah, terdapat sekitar 24 pasal yang menyebut kaum  Yuhudi. Pasal-pasal tersebut mencakup beragam isu, di antaranya status  kewarganegaraan, kebebasan beragama, tanggung jawab bersama dalam bidang  sosial, ekonomi dan keamanan, kebebasan berpendapat, dan keadilan.</p>
<p>Berdasarkan teks Piagam Madinah yang diriwayatkan Ibnu Ishaq dalam <em>as-Sirah an-Nabawiyyah</em>, jilid 2 hal. 94-96, Nabi Saw menyatakan, “<em>wa inna yahuda bani `auf ummatun ma`al mu’minin</em> (sesungguhnya Yahudi Bani `Auf adalah satu umat bersama kaum Mukmin).”  Dengan pengakuan ini, otomatis kaum Yahudi memperoleh hak-hak selayaknya  warga negara. Salah satu yang terpenting adalah hak kebebasan beragama,<em> “lil yahudi dinuhum wa lil muslimin dinuhum, mawalihim wa anfusuhum</em> (kaum Yahudi menjalankan agamanya sendiri, sebagaimana kaum Muslim juga  menjalankan agamanya sendiri. Ini berlaku bagi orang-orang yang terikat  hubungan dengan Yahudi dan diri Yahudi sendiri).”</p>
<p>Dengan adanya  jaminan konstitusi terhadap kebebasan beragama ini, kaum Yahudi di  Madinah dapat menjalankan kegiatan keagamaan dengan tenang di  lingkungannya. Begitu juga dalam bidang pendidikan, sekolah-sekolah  agama Yahudi yang disebut <em>Bayt al-Midras</em> beraktivitas  sebagaimana biasa, bahkan semakin giat dari sebelumnya karena terpacu  dengan kehadiran Islam di Madinah.  Ibnu Ishaq menyebutkan, Rasulullah  saw pernah berkunjung dan masuk ke sekolah Yahudi untuk berdialog dengan  para <em>Ahbar</em> (pemuka Yahudi). Begitu juga Abu Bakar r.a.,  dikabarkan pernah masuk kedalam Midras dan “mendapati banyak sekali  orang di sana.” (Jilid 2 hal. 129 dan 134).</p>
<p>Terkait dengan  keamanan kota Madinah, kaum Muslim dan Yahudi harus bahu membahu  mewujudkannya. Kaum Muslim tidak akan membiarkan Yahudi diserang musuh  dari luar, dan begitu juga sebaliknya. Dalam teks Piagam Madinah, Nabi  Saw menyatakan, “<em>wa inna baynahum an-nashr `ala man dahama Yatsrib</em> (kaum Muslim dan kaum Yahudi saling menolong dalam mempertahankan  Madinah dari serangan pihak luar).”  Karena itu, baik Muslim maupun  Yahudi sama-sama berkewajiban menanggung beban biaya perang untuk  mempertahankan Madinah dari serangan musuh, “<em>wa innal yahuda yunfiqun ma`al mu’minin ma damu muharabin</em> (sesunguhnya kaum Yahudi dan kaum Mukmin sama-sama menanggung biaya perang bila diserang musuh).”</p>
<p>Dari  penjelasan sebagian pasal Piagam Madinah yang menyangkut kaum Yahudi,  tampak sejak awal Rasulullah saw menghendaki terbangunnya tatanan  kehidupan masyarakat yang harmonis di Madinah. Pendekatan persuasif ini  tampak semakin jelas, ketika Nabi Saw menyebut kaum Yahudi (bersama  Nasrani) sebagai<em> Ahl al-Kitab</em>. Dengan sebutan ini, maka  dampaknya antara  lain, lelaki Muslim masih dibolehkan menikahi wanita  Yahudi dan daging hewan sembelihan Yahudi halal dimakan oleh Muslim.</p>
<p>Dalam  muamalat, jual beli dan pelbagai bentuk transaksi lainnya yang tidak  bertentangan dengan syari`at Islam, kaum Muslim juga dibolehkan  melakukannya dengan Yahudi. Faktanya, setelah kedatangan Nabi Saw ke  Madinah, kaum Muslim tetap melakukan transaksi di pasar Yahudi.  Abdurraman bin `Auf, seorang sahabat terkemuka, memulai peruntungannya  di hari-hari pertama keberadaannya di Madinah dengan berdagang di pasar  Bani Qainuqa`, milik Yahudi (<em>Shahih al-Bukhari</em>, no. 3780). Ali bin Abu Thalib, menantu Nabi Saw, sebagian persiapan walimahnya ditangani oleh seorang dari Bani Qainuqa` (<em>Shahih Muslim</em>,  no. 5242). Bahkan, Nabi Saw menggadaikan baju perangnya dengan 30 Sha`  gandum kepada seorang Yahudi Bani Zhafar bernama Abu Syahm (Ibnu Hajar, <em>Fathul Bari</em>, Jilid 7 h. 461).</p>
<p><strong>Batas toleransi Nabi</strong><br />
Jaminan  konstitusi dan pendekatan-pendekatan persuasif yang dilakukan Nabi saw  menunjukkan toleransi yang tinggi kepada kaum Yahudi. Tapi, seiring  perjalanan waktu, kaum Yahudi melihat masyarakat Muslim sebagai ancaman  bahkan musuh. Sejumlah inidividu Yahudi membuat kericuhan dan  menyebarkan permusuhan. Fanhash, seorang <em>Ahbar</em> (Rabbi) Yahudi,  menghina Allah dan al-Qur’an di hadapan Abu Bakar (Ibnu Ishaq, Jilid 2  hal. 134); Ka`ab bin al-Asyraf, pemuka Bani Nadhir, merusak kios-kios di  pasar baru milik kaum Muslim (as-Samhudi,<em> Wafa al-Wafa</em>, Jilid  1  hal. 539); Sallam bin Misykam, pemuka Bani Nadhir, sempat menjamu Abu  Sufyan di rumahnya dalam perang Sawiq dan memberi informasi penting  tentang kaum Muslim (Ibnu Ishaq, Jilid 3 hal. 4).</p>
<p>Sikap permusuhan  yang digalang para pemuka agama dan tokoh masyarakat Yahudi ini semakin  dipertajam oleh para penyair. `Ashma binti Marwan, Abu `Afak, dan Ka`ab  bin al-Asyraf adalah penyair-penyair terkemuka Yahudi yang hampir tidak  pernah berhenti menggunakan kekuatan lisannya untuk melontarkan  bait-bait yang menghina Islam dan sosok Nabi Saw.</p>
<p>Nabi Saw  menghadapi para penyair ini dengan sikap tegas, karena mereka  orang-orang berpengaruh di masyarakat. Nabi Saw memerintahkan mereka  dihukum mati. Terlebih Ka`ab bin al-Asyraf yang menyampaikan simpatinya  secara langsung dan terbuka kepada Quraisy setelah kekalahan mereka di  Badar. Bahkan, ia terus mengobarkan dendam agar segera bangkit dan  menyiapkan perang besar melawan Madinah. (Prof Dr Muhammad bin Faris, <em>an-Naby wa Yahud al-Madinah</em>, h. 101-120).</p>
<p>Permusuhan  Yahudi semakin meluas dan dilakukan berkelompok. Kasus pelecehan  terhadap seorang Muslimah di pasar Bani Qainuqa` berujung pada  terbunuhnya pemuda Muslim yang membelanya, Bani Qainuqa` menggalang  solidaritas dan menantang secara terbuka, “Hai Muhammad, jangan lekas  bangga hanya karena berhasil membunuh beberapa orang Quraisy. Mereka itu  hanyalah orang-orang liar yang tidak pandai berperang. Demi Allah, jika  kami yang engkau perangi, maka engkau akan merasakan kehebatan kami.  Engkau tidak akan pernah merasakan lawan sekuat kami!” (Ibnu Ishaq,  Jilid 2 hal. 129). Dalam kondisi seperti itu, Nabi saw pun bersikap  tegas. Tantangan Bani Qainuqa’ dijawab dengan tegas. Mereka diperangi.</p>
<p>Yahudi  Bani Quraizhah melakukan pengkhianatan terhadap negara. Klan terakhir  Yahudi ini berkhianat dengan mendukung pasukan musuh (<em>Ahzab</em>)  dalam perang Khandaq. Menghadapi permusuhan kolektif ini, Nabi Saw tidak  punya pilihan selain menghukum mereka secara kolektif. Bani Qainuqa`  dan Bani Nadhir diusir dari Madinah. Sedang Bani Quraizhah, semua  lelakinya yang sanggup berperang dieksekusi.<br />
Itulah toleransi Nabi Muhammad saw terhadap Yahudi. <em>Wallahu a’lam bil-sahawab</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://insistnet.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=293:tolerasi-nabi-saw-kepada-yahudi&#038;catid=21:sejarah&#038;Itemid=19</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Ftolerasi-nabi-saw-kepada-yahudi%2F&amp;title=Tolerasi%20Nabi%20SAW%20Kepada%20Yahudi" id="wpa2a_6"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/tolerasi-nabi-saw-kepada-yahudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengurai Teori Batas Syahrur</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/mengurai-teori-batas-syahrur/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/mengurai-teori-batas-syahrur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 14:58:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2198</guid>
		<description><![CDATA[Mengurai Teori Batas Syahrur &#160; Muhamad Syahrur, seorang pemikir kelahiran Damaskus 1938 ini dikenal melalui &#8220;teori batas&#8221;nya dalam masalah aurat, waris, dsb. Beberapa karyanya, seperti Al-Kitab wa al-Qur’an (1990), Al-Dawlah wa al-Mujtama’ (1994, 375 hal), Al-Islam wa al-Iman (1996, 400 hal), Nahwa Ushul Jadidah lil Fiqhil-Islami (2000, 400 hal), serta Tajfif Manabi’ al-Irhab (2008, 300 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Mengurai Teori Batas Syahrur</h1>
<p>&nbsp;</p>
<p>Muhamad Syahrur, seorang pemikir kelahiran Damaskus 1938 ini  dikenal melalui &#8220;teori batas&#8221;nya dalam masalah aurat, waris, dsb.  Beberapa karyanya, seperti <em>Al-Kitab wa al-Qur’an</em> (1990), <em>Al-Dawlah wa al-Mujtama’</em> (1994, 375 hal), <em>Al-Islam wa al-Iman</em> (1996, 400 hal), <em>Nahwa Ushul Jadidah lil Fiqhil-Islami </em>(2000, 400 hal), serta <em>Tajfif Manabi’ al-Irhab</em> (2008, 300 hal) sangat dikagumi kalangan liberal cabang Indonesia.  Bahkan beberapa karyanya telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia  sebagai rujukan utama agenda liberalisasi studi Islam di Indonesia.</p>
<p>Syahrur  sebenarnya bukanlah seorang ulama maupun pakar di bidang ilmu tafsir,  fiqih maupun linguistik. Latar belakang studi tokoh liberal Syiria ini  adalah teknik sipil (<em>handasah madaniyah</em>) di Moskow (1964). Kemudian melanjutkan program master dan doktoralnya di bidang teknik pertanahan (<em>handasah al-turbah</em>)  dan bangunan di Irlandia (www.shahrour.org). Meskipun begitu, Syahrur  sering melibatkan dirinya dalam isu-isu liberalisasi syari&#8217;ah dan  dekonstruksi tafsir. Beberapa hukum Islam dan kaedah ilmu tafsir pun  dirombaknya dengan berbekal ilmu teknik dan mengandalkan asal-usul  &#8216;muka&#8217; Arabnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Batasan Aurat</strong></p>
<p>Kata aurat pada QS. 24:31. &#8220;<em>Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…</em>&#8220;,  oleh Syahrur disimpulkan bahwa aurat di situ berarti: &#8220;apa yang membuat  seseorang malu jika terlihat&#8221;. Dan aurat itu tidak ada kaitannya dengan  halal-haram, baik dilihat dari dekat maupun dari jauh. Maka secara  kebahasaan, aurat itu relatif. Kemudian Syahrur memberi contoh: &#8220;Apabila  seorang yang botak (<em>ashla&#8217;</em>) tidak suka botaknya terlihat orang  lain, dia akan memakai rambut palsu. Sebab dia menganggap bahwa botak  di kepalanya adalah aurat&#8221;. Relatifnya makna aurat ini, dia kuatkan  dengan mengutip Hadith Nabi: &#8220;Barang siapa menutupi <em>aurat</em> mukmin, niscaya Allah akan menutupi auratnya&#8221;. Menurutnya, bahwa  menutupi aurat mukmin dalam hadith itu, bukan berarti meletakkan baju  hingga tidak kelihatan.</p>
<p>Maka  Syahrur pun menegaskan bahwa: &#8220;Aurat itu datang dari rasa malu, yakni  ketidaksukaan seseorang dalam menampakkan sesuatu, baik dari tubuhnya  maupun perilakunya. Dan rasa malu ini relatif, bisa berubah sesuai dengan adat istiadat. Maka dada (<em>al-juyub</em>) adalah permanen, sedangkan aurat berubah-ubah menurut zaman dan tempat&#8221;. (<em>Nahwa Ushul Jadidah lil Fiqhil Islami</em>, 2000: 370)</p>
<p>Di samping itu, QS. Al-Ahzab:59, <em>Hai  Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan  isteri-isteri orang mukmin: &#8220;Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke  seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk  dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu</em>&#8220;,<em> </em>ditafsirkan Syahrur sebagai berikut: &#8220;Ayat ini didahului dengan lafadz &#8216;Hai Nabi&#8217; (<em>ya ayyuhan nabi</em>), yang berarti bahwa di satu sisi, ayat ini adalah ayat pengajaran (<em>ta&#8217;lim</em>) dan bukan untuk pemberlakuan syariat (<em>tasyri&#8217;</em>). Di sisi lain, ayat yang turun di Madinah ini harus dipahami dengan pemahaman temporal (<em>fahman marhaliyyan</em>),  karena terkait dengan tujuan keamanan dari gangguan orang-orang iseng,  yakni ketika para wanita sedang keluar rumah. Namun alasan keamanan dari  gangguan orang-orang iseng, sekarang ini sudah tidak ada lagi&#8221;. Karena  ayat di atas adalah ayat pengajaran yang bersifat anjuran, maka menurut  Syahrur, hendaknya bagi wanita mukminah, -dianjurkan bukan diwajibkan-,  untuk menutup bagian-bagian tubuhnya yang bila terlihat menyebabkannya  dapat gangguan. Dan gangguan itu ada dua jenis: gangguan alam dan  gangguan sosial.</p>
<p>Gangguan  alam terkait dengan cuaca seperti suhu panas dan dingin. Maka wanita  mukminah hendaknya berpakaian menurut standar cuaca, sehingga ia  terhindar dari gangguan alam. Sedangkan gangguan sosial terkait dengan  adat istiadat suatu masyarakat. Maka pakaian mukminah untuk keluar rumah  harus menyesuaikan kondisi lingkungan masyarakat, sehingga tidak  mengundang cemoohan dan gangguan mereka. (hal. 372-373) Pada akhirnya  Syahrur menyimpulkan bahwa batasan pakaian wanita dibagi dua: batasan  maksimal (<em>al-hadd al-a&#8217;la</em>) yang ditetapkan Rasulullah yang meliputi seluruh anggota tubuh selain wajah dan dua telapak tangan. Batasan minimal (<em>al-hadd al-adna</em>) yaitu batasan yang ditetapkan oleh Allah s.w.t., yang hanya menutup <em>juyub</em>.</p>
<p>Menurut Syahrur, <em>juyub</em> tidak hanya dada saja, tapi meliputi belahan dada, bagian tubuh di  bawah ketiak, kemaluan dan pantat. Sedangkan semua anggota tubuh selain <em>juyub</em>, boleh diperlihatkan sesuai dengan kultur masyarakat setempat, termasuk pusar (<em>surrah</em>).  Penutup kepala untuk laki-laki dan perempuan hanyalah kultur, tidak ada  hubungannya dengan iman dan Islam. (hal. 376-378). Sebagai kesimpulan  idenya, Syahrur memandang adanya kesalahan fatal yang jamak terjadi di  kalangan ulama Fiqih, karena mendudukkan Hadith Rasulullah s.a.w bahwa  semua anggota tubuh, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, sebagai  batasan aurat wanita.</p>
<p>Maka  dengan menggunakan teori batas Syahrur, apa yang disebut aurat bagi  wanita menjadi sangat fleksibel. Batasan minimal yang ditetapkan  Syahrur, akan mendorong wanita muslimah berbondong-bondong terjun ke  dunia hiburan yang permisif. Mereka pun tidak ragu lagi untuk berbikini  di pantai-pantai maupun di pusat perbelanjaan. Sebab pakaian bikini  bukan lagi hal yang terlarang dalam Islam, karena semuanya tergantung  pada kondisi cuaca dan kesepakatan masyarakat setempat. Jika minoritas  masyarakat ada yang mengusili wanita, maka negara bisa menugaskan polisi  &#8216;aurat&#8217; untuk memastikan bahwa kebebasan kaum wanita berekspresi di  ruang publik terlindungi dengan baik.</p>
<p>Sayangnya,  oleh banyak penggiat kesetaraan gender di tanah air, ide transnasional  yang menyesatkan ini dijadikan justifikasi untuk mengkampanyekan slogan  feminisme Barat bahwa organ tubuh perempuan adalah hak mutlak perempuan,  ia tidak boleh dikuasai surat atau diatur oleh undang-undang, termasuk  masalah aborsi. Demikianlah jika logika kemarahan menguasai paham  radikalisasi pemikiran keagamaan. Meskipun sering disuarakan di  forum-forum akademis, paham liberal radikal sejatinya bukanlah murni  diskursus intelektual, tetapi sebuah gerakan politis, makar dan aksi  teror terhadap paham keagamaan yang bersifat final dan universal. <em>Wallahu muwaffaq ila aqwam al-thariq</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: Henri Shalahuddin</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://insistnet.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=120:mengurai-teori-batas-syahrur&#038;catid=17:pemikiran-liberal&#038;Itemid=15</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fmengurai-teori-batas-syahrur%2F&amp;title=Mengurai%20Teori%20Batas%20Syahrur" id="wpa2a_8"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/mengurai-teori-batas-syahrur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Tahun Baru</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/menyikapi-tahun-baru/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/menyikapi-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 13:57:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2160</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Dalih toleransi sering dijadikan alasan sebagian kaum Muslimin untuk turut berpartisipasi dalam perayaan hari-hari besar agama lain. Padahal, hari raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah keduniaan, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pada hari Idul Fitri, &#160; إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدًا وَهَذَا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Dalih toleransi sering dijadikan alasan sebagian kaum Muslimin untuk turut berpartisipasi dalam perayaan hari-hari besar agama lain. Padahal, hari raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah keduniaan, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pada hari Idul Fitri,</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p><strong>إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدًا وَهَذَا عِيْدُنَا</strong></p>
</div>
<p>”Setiap kaum memiliki hari raya, dan ini (Idul Fitri) adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Dengan demikian, turut merayakannya berarti ikut serta dalam ritual  ibadah mereka. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah  bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan  mereka.” (HR.  Abu Dawud, dan dinyatakan hasan shahih oleh Al-Albani).</p>
<p>Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhuma beliau pernah berkata,<br />
“Barangsiapa lewat di negeri non Arab, lalu mereka sedang merayakan Hari  Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu ia meniru mereka hingga  mati, maka demikianlah ia dibangkitkan bersama mereka di Hari Kiamat  nanti.” (Lihat Ahkaamu Ahlidz Dzimmah I/723-724).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—rahimahullah—berkata, “Adapun apabila  seorang Muslim menjual kepada mereka pada hari-hari raya mereka segala  yang mereka gunakan pada hari raya tersebut, berupa makanan, pakaian,  minyak wangi dan lain-lain, atau menghadiahkannya kepada mereka, maka  itu termasuk menolong mereka mengadakan hari raya mereka yang  diharamkan. Dasarnya adalah kaidah yang mengatakan tidak boleh menjual  anggur kepada orang kafir yang jelas digunakan untuk membuat minuman  keras. Juga tidak boleh menjual senjata kepada mereka bila digunakan  untuk memerangi kaum Muslimin.” Kemudian beliau menukil dari Abdul Malik  bin Habib dari kalangan ulama Malikiyyah, “Sudah jelas bahwa kaum  Muslimin tidak boleh menjual kepada orang-orang Nashrani sesuatu yang  menjadi kebutuhan hari raya mereka, baik itu daging, lauk-pauk atau  pakaian. Juga tidak boleh memberikan kendaraan kepada mereka, atau  memberikan pertolongan untuk hari raya, karena yang demikian itu  termasuk memuliakan kemusyrikan mereka dan menolong mereka dalam  kekufuran mereka.” (Al-Iqtidhaa 229-231).</p>
<p>Maka jelas kita bertasyabbuh, meridhai dan berpartisipasi dalam  kegiatan mereka, apabila kita bersukaria, berpesta, memakan makanannya,  berpartisipasi dalam acara non Muslim, memberi hadiah, memberi ucapan  selamat, menjual kartu selamat, menjual segala keperluan hari raya  mereka, baik itu lilin, pohon natal, makanan, kalkun, kue dan  lain-lainnya.</p>
<p>MENYAMBUT TAHUN BARU<br />
Entah direncanakan atau sekadar latah, pada malam itu orang-orang seakan  secara serempak melonggarkan moralitas dan kesusilaan. Bunyi terompet  diselingi gelak tawa (bahkan dengan minuman keras) bersahut-sahutan di  setiap tempat. Sepeda motor mengepulkan asap hingga mirip ‘dapur  berjalan’ meraung-raung. Mobil-mobil membunyikan klakson sepanjang  jalan. Cafe, diskotik dan tempat-tempat hiburan malam sesak padat.  Orang-orang ‘tumpah’ di jalanan dengan satu tujuan: merayakan Tahun  Baru.</p>
<p>Sebenarnya tahun Masehi adalah tahun yang baru bagi bangsa  Indonesia, karena ia tidak memiliki akar kultur dan tradisi dalam  sejarah bangsa ini. Ada beberapa faktor yang dapat mendukung anggapan  ini.</p>
<p>Pertama, latarbelakang sosio-historis. Berlakunya tahun Masehi tidak  bisa dipisahkan dari pengaruh teologi (keagamaan) Kristen, yang dianut  oleh masyarakat Eropa. Kalender ini baru diberlakukan di Indonesia pada  tahun 1910 ketika berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap atas  seluruh rakyat Hindia Belanda.</p>
<p>Kedua, karena latarbelakang teologis. Sebagaimana diketahui,  kalender Gregorian diciptakan sebagai ganti kalender Julian yang dinilai  kurang akurat, karena awal musim semi semakin maju, akibatnya, perayaan  Paskah  yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I pada tahun 325,  tidak tepat lagi.</p>
<p>Kalender Hijriyah, disebut sebagai kalender Islam (at-taqwim  al-hijri), karena ditetapkan sejak hijrahnya Rasulullah Shallallahu  &#8216;Alaihi Wa Sallam. Ia ditetapkan sebagai tahun Islam setelah Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam wafat atas inisiatif Khalifah kedua, Umar  bin Khathab Radhiyallahu &#8216;Anhu pada tahun 638 M (17 H). Hijrah Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ditetapkan sebagai awal kalender Islam,  menyisihkan dua pendapat lainnya, yaitu hari kelahiran Nabi Shallallahu  ‘Alaihi Wa Sallam dan hari wafat beliau.</p>
<p>Sejak kedatangan Islam hingga awal abad ke-20, kalender Hijriyah  berlaku di nusantara. Bahkan raja Karangasem, Ratu Agung Ngurah yang  beragama Hindu, dalam surat-suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia  Belanda Otto van Rees yang beragama Nasrani, masih menggunakan tarikh  1313 Hijriyah (1894 M).</p>
<p>Jadi secara historis dan kultural  bangsa kita pun, tahun baru  Masehi tidak perlu dirayakan. Terlebih lagi jika ditinjau dari sisi  akidah al wala&#8217; wal bara&#8217; (loyalitas dan pelepasan diri) dalam agama  Islam.<br />
Meski demikian, hal ini tidak bisa secara otomatis dijadikan sebagai  justifikasi pentingnya merayakan tahun baru Hijriyah yang juga tinggal  menghitung hari. Mengingat sejauh ini tidak ditemukan teks agama yang  menganjurkan perayaan tahun baru Hijriyah.</p>
<p>ULAMA MENYIKAPI HARI RAYA NON-MUSLIM (NATAL/TAHUN BARU)<br />
Fatwa Syaikh Muhammad Ibn Shalih al Utsaimin—rahimahullah</p>
<p>Pertanyaan:<br />
Apa hukumnya mengucapkan selamat kepada orang kafir pada perayaan hari  besar keagamaan mereka? (Misal: Merry Christmas, Selamat hari Natal dan  Tahun Baru dst, red.). Dan bagaimana kita menyikapi mereka jika mereka  mengucapkan selamat Natal kepada kita. Dan apakah dibolehkan pergi ke  tempat-tempat di mana mereka merayakannya? Dan apakah seorang Muslim  berdosa jika ia melakukan perbuatan tersebut tanpa maksud apapun, akan  tetapi ia melakukannya hanya karena menampakkan sikap tenggang rasa,  atau karena malu atau karena terjepit dalam situasi yang canggung, atau  pun karena alasan lainnya. Dan apakah dibolehkan menyerupai mereka dalam  hal ini?</p>
<p>Jawaban:<br />
Mengucapkan selamat kepada orang kafir pada perayaan Natal atau hari  besar keagamaan lainnya dilarang menurut ijma’ (kesepakatan ulama).  Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim—rahimahullah—dalam bukunya  Ahkamu Ahlidz-dzimmah, beliau berkata, “Mengucapkan selamat terhadap  syiar-syiar kafir yang menjadi ciri khasnya adalah haram, menurut  kesepakatan. Seperti memberi ucapan selamat kepada mereka pada hari-hari  rayanya atau puasanya, sehingga seseorang berkata, “Selamat hari raya”,  atau ia mengharapkan agar mereka merayakan hari rayanya atau hal  lainnya. Maka dalam hal ini, bisa jadi orang yang mengatakannya terlepas  dari jatuh ke dalam kekafiran, namun (sikap yang seperti itu) termasuk  ke dalam hal-hal yang diharamkan. Ibarat dia mengucapkan selamat atas  sujudnya mereka pada salib. Bahkan ucapan selamat terhadap hari raya  mereka dosanya lebih besar di sisi Allah dan jauh lebih dibenci dari  pada memberi selamat kepada mereka karena meminum alkohol dan membunuh  seseorang, berzina dan perkara-perkara yang sejenisnya. Dan banyak orang  yang tidak paham agama terjatuh ke dalam perkara ini. Dan ia tidak  mengetahui keburukan perbuatannya. Maka siapa yang memberi selamat  kepada seseorang yang melakukan perbuatan dosa, atau bid’ah, atau  kekafiran, berarti ia telah membuka dirinya kepada kemurkaan Allah.”  Akhir dari perkataan Syaikh (Ibnul Qoyyim—rahimahullah).</p>
<p>Haramnya memberi selamat kepada orang kafir pada hari raya keagamaan  mereka sebagaimana perkataan Ibnul Qoyyim adalah karena di dalamnya  terdapat persetujuan atas kekafiran mereka, dan menunjukkan ridha  dengannya. Meskipun pada kenyataannya seseorang tidak ridha dengan  kekafiran, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk  meridhai syiar atau perayaan mereka, atau mengajak yang lain untuk  memberi selamat kepada mereka. Karena Allah  tidak meridhai hal  tersebut, sebagaimana Allah Subhaanahu Wa Ta&#8217;ala  berfirman, artinya,</p>
<p>“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu  dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu  bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” [QS. Az Zumar  39: 7].</p>
<p>Dan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala juga berfirman, artinya,</p>
<p>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah  Kucukupkan bagimu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama  bagimu.” [QS. Al Maaidah: 3]</p>
<p>Maka memberi selamat kepada mereka dengan ini hukumnya haram, sama  saja apakah terhadap mereka (orang-orang kafir) yang terlibat bisnis  dengan seseorang (Muslim) atau tidak. Jadi, jika mereka memberi selamat  kepada kita dengan ucapan selamat hari raya mereka, kita dilarang  menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, dan hari raya mereka  tidaklah diridhai Allah, karena hal itu merupakan salah satu yang  diada-adakan (bid’ah) di dalam agama mereka, atau hal itu ada syariatnya  tapi telah dihapuskan oleh agama Islam yang Nabi Muhammad Shallallahu  ‘Alaihi Wa Sallam, telah diutus dengannya untuk semua makhluk. Allah  Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman tentang Islam, artinya, “Barangsiapa  mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan  diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk  orang-orang yang rugi.” [QS. Ali ‘Imran: 85].</p>
<p>Dan bagi seorang Muslim, memenuhi undangan mereka untuk menghadiri hari  rayanya hukumnya haram. Karena hal ini lebih buruk dari pada hanya  sekadar memberi selamat kepada mereka, di mana di dalamnya akan  menyebabkannya turut berpartisipasi dengan mereka. Juga diharamkan bagi  seorang Muslim untuk menyerupai atau meniru-niru orang kafir dalam  perayaan mereka dengan mengadakan pesta, atau bertukar hadiah, atau  membagi-bagikan permen atau makanan, atau libur kerja, atau yang  semisalnya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam,  “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka”.</p>
<p>Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam bukunya, Iqtidha’ Ash  Shirathal Mustaqiim, “Menyerupai atau meniru-niru mereka dalam hari raya  mereka menyebabkan kesenangan dalam hati mereka terhadap kebatilan yang  ada pada mereka. Bisa jadi hal itu sangat menguntungkan mereka guna  memanfaatkan kesempatan untuk menghina/merendahkan orang-orang yang  berfikiran lemah”. Akhir dari perkataan Syaikhul-Islam Ibnu  Taimiyah—rahimahullah. (Majmu’ Fatawa, Fadlilah asy Syaikh Muhammad bin  Shalih al-’Utsaimin, III/44-46 No.403).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.wahdah.or.id/</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fmenyikapi-tahun-baru%2F&amp;title=Menyikapi%20Tahun%20Baru" id="wpa2a_10"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/menyikapi-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Misi Kristen di Buku Sejarah SMP”</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9cmisi-kristen-di-buku-sejarah-smp%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9cmisi-kristen-di-buku-sejarah-smp%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 12:46:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2154</guid>
		<description><![CDATA[“Misi Kristen di Buku Sejarah SMP” &#160; Oleh: Dr. Adian Husaini DALAM sebuah buku Sejarah untuk siswa SMP kelas VIII (Jakarta: Erlangga, 2006), diuraikan satu bab khusus berjudul “Perkembangan Kristen di Indonesia”. Bab ini dibuka dengan uraian berikut: “Mengapa perlu mempelajari bab ini? Penyebaran Kristen di Indonesia berintikan damai dan cinta kasih. Namun, karena intervensi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><a href="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/12/misi-kristen.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2165" title="misi kristen" src="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/12/misi-kristen-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>“Misi Kristen di Buku Sejarah SMP”</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span>Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini</strong></span></p>
<p>DALAM sebuah buku Sejarah untuk siswa SMP kelas VIII (Jakarta: Erlangga, 2006), diuraikan satu bab khusus berjudul “<em>Perkembangan Kristen di Indonesia</em>”.   Bab ini dibuka dengan uraian berikut: “Mengapa perlu mempelajari bab  ini? Penyebaran Kristen di Indonesia berintikan damai dan cinta kasih.  Namun, karena intervensi politik Barat, timbul kesan penyebaran Kristen  identik dengan kolonialisme dan imperialisme. Dengan mempelajari bab  ini, kita diajak untuk semakin sadar betapa campur tangan politik dapat  merusak nilai-nilai luhur yang terkandung pada setiap agama.”</p>
<p><span>Pada bagian selanjutnya dijelaskan tentang kendala penyebaran agama   Kristen di Indonesia: “Para penguasa dan penduduk setempat mencurigai  para rohaniwan sebagai sekutu Portugis ataupun Belanda. Tindakan  penindasan yang dilakukan para pedagang maupun pemerintah kolonial  menimbulkan kesan bahwa Kristen identik (sama saja) dengan kolonialisme.  Padahal para rohaniwan selalu datang dengan maksud damai.” (hal. 61)</span></p>
<p>Inilah salah satu contoh materi sejarah yang diajarkan kepada para  pelajar  SMP.  Benarkah isi buku pelajaran sejarah tersebut? Ada baiknya  kita simak penjelasan dari kalangan Kristen sendiri!</p>
<p>Pada tahun 2010, juga rangka memperingati 150 tahun Huria Kristen  Batak Prostestan, Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, bekerjasama dengan  Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Ecole  francaise d,Extreme-Orient, dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia  menerbitkan sebuah buku berjudul Utusan Damai di Kemelut Perang, Peran  Zending dalam Perang Toba: Berdasarkan Laporan L.I. Nommensen dan  Penginjil RMG Lain, karya Prof. Dr. Uli Kozok, seorang professor  kelahiran Jerman.</p>
<p>Prof. Uli Kozok membuka bukunya dengan sebuah kutipan seorang tokoh  Gereja se-Dunia, Ph. Potter: “Gerakan penginjilan […] bermula bertepatan  dengan waktu munculnya kolonialisme, imperialisme dan – sebagai  akibatnya – rasisme. Oleh sebab itu maka gerakan penginjilan secara  hakiki terkait dengan sejarah rasisme.”</p>
<p>Berdasarkan dokumen-dokumen di lembaga misi di Jerman yang  mengirimkan Nommensen ke Tanah Batak, yaitu Rheinische  Missions-Geselschaft (RMG), Prof. Uli Kozok menemukan fakta pengakuan  Ludwig Ingwer (L.I.) Nommensen, tokoh misionaris Jerman di Tanah Batak,  bahwa dia bergabung dengan pasukan Belanda untuk melawan gerakan  perlawanan para pahlawan Batak yang dipimpin Sisingamangaraja XII.  Laporan Berichte Rheinische Missionsgeselschaft (BRMG), menunjukkan,  para penginjil justru bersekutu dengan tentara penjajah dalam menumpas  perlawanan Sisingamangaraja XII. Lebih jauh Prof. Kozok mencatat:</p>
<p>“Pemerintah Belanda akhirnya mengabulkan  permintaan Nommensen, sehingga terbentuk koalisi Injil dan pedang yang  sangat sukses karena kedua belah pihak memiliki musuh yang sama:  Sisingamangaraja XII yang oleh zending dicap sebagai “musuh bebuyutan  pemerintah Belanda dan zending Kristen.” Bersama-sama mereka berangkat  untuk mematahkan perjuangan Sisingamangaraja. Pihak pemerintah dibekali  dengan persenjataan, organisasi, dan ilmu pengetahuan peperangan modern,  sementara pihak zending dibekali dengan pengetahuan adat istiadat dan  bahasa. Kedua belah pihak, zending Batak dan pemerintah kolonial, saling  membutuhkan dan saling melengkapi, dan tujuan mereka pun pada  hakikatnya sama: memastikan bahwa orang Batak “terbuka pada pengaruh  Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa. (BRMG 1882:202)” (hal. 92).</p>
<p>Dalam perang menumpas perjuangan Sisingamangaraja XII, pihak zending  Kristen berhasil meyakinkan ratusan raja di tanah Batak agar berhenti  mengadakan perlawanan dan menyerah kepada kekuasaan Belanda:</p>
<p>“Dukungan dan bantuan para misionaris  yang mendampingi ekspedisi militer hingga ke Danau Toba juga mempunyai  tujuan lain, yaitu meyakinkan masyarakat bahwa perlawanan mereka sia-sia  saja dan mendesak mereka agar menyerahkan diri.” (JB 1878:31). (hal.  93).</p>
<p>Sementara, para raja yang tidak mau menyerah, didenda dan kampung  mereka dibakar. Atas jasa para misionaris, terutama Nommensen dan  Simoncit, pemerintah kolonial Belanda memberikan penghargaan resmi,  melalui sebuah surat:</p>
<p>“Pemerintah mengucapkan terimakasih kepada penginjil Rheinische  Missions-Geselschaft di Barmen, terutama Bapak I. Nommensen dan Bapak A.  Simoncit yang bertempat tinggal di Silindung, atas jasa yang telah  diberikan selama ekspedisi melawan Toba. (BRMG 1879:169-170).” (hal.  93-94).</p>
<p>Selain surat penghargaan, para misionaris juga mendapat hadiah  sebesar 1000 Gulden dari pemerintah kolonial yang dapat diambil setiap  saat. Kerjasama antara misionaris Kristen dan penjajah Belanda  berlangsung sampai Pahlawan Sisingamangaraja XII tewas dalam pertempuran  tahun 1907.  Dukungan kaum misionaris kepada pemerintah penjajah juga  dimaksudkan untuk mencegah masuknya Islam ke Tanah Batak. (BRMG  1878:94).</p>
<p>Sikap pro-penjajah dari kaum Misionaris bukan hanya saat Perang Toba  melawan Sisingamangaraja XII. Sikap para misionaris Kristen ini masih  terus berlangsung di kemudian hari. BRMG 1897: 278-279 menulis laporan  berjudul “Wie weiter auf Sumatra?” (Bagaimana Kelanjutannya di  Sumatra?). Batakmission mengaku mengalami kendala untuk melakukan misi  Kristen di Samosir, sebab Samosir masih merupakan “Tanah Batak Merdeka”.  Selanjutnya, BRMG mencatat:<br />
“Oleh sebab itu, “dapat dimengerti bahwa  penginjil kita sangat menghendaki agar pemerintah Belanda menduduki  Samosir.” Lagipula, konferensi penginjil tahun 1897 telah memutuskan  bahwa “penginjilan dapat dilakukan dengan lebih tenang dan dengan lebih  banyak sukses di bawah perlindungan pemerintah Eropa.” (hal. 103).</p>
<p>Menurut catatan sejarah, kerjasama misionaris Kristen Batak dengan  penjajah Belanda diakui dengan bangga oleh para misionaris Batak.  Belanda juga mempersenjatai kaum Kristen Batak dengan 50 bedil. Sebab,  jika orang Batak menjadi Muslim, mereka tidak mungkin setia kepada  pemerintah penjajah. BRMG 1878:154 mencatat:</p>
<p>“Betapa orang Batak Kristen dapat  diandalkan tampak jelas sekarang. Sebagai orang Islam, orang Batak  takkan mungkin menjadi rakyat yang patuh pada Belanda. […] memang benar  orang Silindung yang Kristen adalah teman setia Belanda, dan pasukan  bantuan mereka berperang bersama pasukan Belanda.”. (hal. 106).</p>
<p>Dalam surat-surat yang dikirim tokoh misionaris I. Nommensen, tampak  jelas digunakannya istilah “musuh” untuk  Sisingamangaraja XII dan  rakyat Batak yang berusaha mempertahankan kemerdekaan mereka. Misalnya,  dia tulis: “Setelah kami bekerja dengan tenang selama beberapa hari,  musuh kami yang jahat bergerak lagi”… “Kebanyakan musuh berasal dari  daerah sekitar Danau Toba, dari Butar dan Lobu Siregar, digerakkan oleh  Sisingamangaraja, seorang demagog yang menghasut dan mencelakakan  rakyatnya.” (hal. 107).</p>
<p>Dalam suratnya yang lain, Nommensen mencatat:  “Hal yang paling  penting adalah bahwa Toba keluar dari isolasinya, terbuka pada pengaruh  Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa sehingga dengan sangat mudah  zending kita bisa masuk… (BRMG 1882:302).” (hal. 108).</p>
<p>Sebuah surat tentang pentingnya penaklukan Toba oleh penjajah Belanda  dan misi Kristen dalam rangka menghambat masuknya pengaruh Islam,  ditulis oleh laporan BRMG 1882 (7): 202-205:</p>
<p>“Perang dan penaklukan Toba sangat  mendukung dan mempercepat pembukaan pos penginjilan. Walaupun tidak  secara langsung, para penginjil kita di Silindung memainkan peranan yang  cukup besar dalam ekspedisi militer Belanda terhadap Toba. Upaya mereka  untuk menyebarkan Injil di Silindung mendapatkan perlawanan dari  Sisingamangaraja yang dulu maupun Sisingamangaraja yang sekarang. Karena  sudah kehilangan sebagian besar kekuasaannya, keduanya  berusaha  memperoleh kembali pengaruhnya yang hilang dengan mengusir para  penginjil. Sisingamangaraja terutama memusuhi agama Kristen, akan  tetapin karena ia bersekutu dengan orang Aceh di Utara maupun dengan  Batak Islam di Timur maka kegiatan mereka juga memusuhi pemerintah  Belanda. Dengan demikian sangat bijaksana keputusan pemerintah untuk  langsung bertindak memperluas dan memperkokoh kekuasaannya, mengingat  tindak-tanduk orang Aceh dan jaringan mereka yang makin hari makin ketat  dan luas.” (hal. 153-154).</p>
<p>Dalam bukunya, Prof Uli Kozok juga menunjukkan data bahwa hubungan  erat antara misi Kristen dan Penjajahan memang sudah menjadi suatu  kelaziman. Paus Pius XI, misalnya, melalui surat kabar Vatikan,  Osservatore Romano, 24 Februari 1935, pernah secara eksplisit  mengeluarkan pernyataan yang mendukung penjajahan:</p>
<p>“Penjajahan merupakan keajaiban yang  diwujudkan dengan kesabaran, keberanian dan cinta kasih. Tiada bangsa  atau ras yang berhak hidup terisolir. Penjajahan tidak berlandaskan  penindasan tetapi berdasarkan prinsip moralitas tertinggi, penuh dengan  cinta kasih, kedamaian dan persaudaraan. Gereja Katolik senantiasa  mendukung penjajahan, asal dilaksanakan dengan jujur dan manusiawi tanpa  menggunakan kekerasan. Oleh sebab itu kami melihatnya sebagai sesuatu  yang memiliki daya dan keindahan yang luar biasa.” (hal. 85-86).</p>
<p>Bukan hanya kolonialisme, ideologi rasisme juga ditanamkan kepada   para misionaris dari Rheinische Missions-Geselschaft (RMG). Seorang  petinggi RMG, Ludwig von Rohden (1815-1889), berpendapat bahwa semua  manusia adalah keturunan Nabi Nuh, yang kemudian menyebar ke berbagai  penjuru dunia. Ada lima warna kulit yang dimiliki keturunan Nabi Nuh  itu: putih, kuning, merah, coklat dan hitam. Menurutnya, warna kulit  ditentukan oleh kadar dosa masing-masing. Semakin berdosa sebuah bangsa,  maka akan semakin hitam warna kulitnya. Kata Ludwig von Rohden dalam  sebuah tulisannya:</p>
<p>“Secara bertahap-tahap manusia menjauhkan  diri dari sumber kehidupan ilahi. Semakin jauh [sebuah bangsa]  menjauhkan diri, semakin merosot moral dan kecerdasan, seiring dengan  itu juga postur, bentuk tubuh dan warna kulitnya. Bangsa yang paling  dekaden mendapatkan warna kulit paling hitam, dan bentuk tubuhnya  menjadi mirip dengan binatang. Namun perbedaan hakiki antara manusia dan  binatang masih tetap ada: ialah jiwa yang dihembuskan Allah kepada  jasad sebagai bagian kehidupan ilahi.” (hal. 59).</p>
<p>Menurut Rohden, bangsa berkulit hitam bisa menjadi putih kulitnya jika mereka menjadi Kristen:</p>
<p>“Negro yang paling rendah derajat pun masih bisa diangkat menjadi  manusia terdidik bila dididik dengan cara yang tepat melalui pengaruh  Kekristenan yang bersifat menyembuhkan. Seiring dengan [proses  penyembuhan] itu, maka raut muka yang kebinatangan menghilang, pandangan  mata dan tubuhnya akan menjadi lebih sempurna, bahkan warna kulitnya  secara turun-temurun bisa menjadi lebih putih.” (hal. 60).</p>
<p>Itulah fakta dan data tentang misi Kristen yang ditampilkan Prof. Uli  Kozok – guru besar dan ketua jurusan bahasa Indonesia di Universitas  Hawai. Gambaran misi Kristen yang berkolaborasi dengan penjajah itu jauh  sekali bedanya dengan isi buku Sejarah yang kini diajarkan kepada  anak-anak Muslim di sekolah-sekolah tingkat SMP.</p>
<p>Seyogyanya, para pimpinan sekolah Islam, para guru, dan orang tua  sadar benar akan kekeliruan besar semacam ini. Sungguh ironis, jika ada  lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan bahan-bahan sejarah semacam  ini, yang merusak pemikiran dan jauh sekali dari fakta sejarah  sebenarnya. Bukankah Allah SWT sudah memperingatkan: “Jagalah dirimu dan  keluargamu dari api neraka!” Wallahu a’lam bil-sshawab.*/<em>Depok, 24 Ramadhan 1432 M/24 Agustus 2011</em>.</p>
<p><em>Penulis adalah kolumnis <a href="http://www.hidayatullah.com/read/18619/25/08/2011/undefined">www.hidayatullah.com</a>, Ketua Program Studi Pendidikan Islam, Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.hidayatullah.com/read/18619/25/08/2011/%E2%80%9Cmisi-kristen-di-buku-sejarah-smp%E2%80%9D.html</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2F%25e2%2580%259cmisi-kristen-di-buku-sejarah-smp%25e2%2580%259d%2F&amp;title=%E2%80%9CMisi%20Kristen%20di%20Buku%20Sejarah%20SMP%E2%80%9D" id="wpa2a_12"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9cmisi-kristen-di-buku-sejarah-smp%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang “Buku Sejarah Perspektif Baru” [2]</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/selamat-datang-%e2%80%9cbuku-sejarah-perspektif-baru%e2%80%9d-2/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/selamat-datang-%e2%80%9cbuku-sejarah-perspektif-baru%e2%80%9d-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 12:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2146</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Oleh: Dr. Adian Husaini Buku sejarah untuk SMA tersebut juga membahas tentang perkembangan sejarah Islam. Tetapi, ada saja data keliru yang disajikan sehingga menimbulkan persepsi negative terhadap sebagian sahabat Nabi Muhammad saw. Misalnya, saat membahas Khalifah Usman bin Affan, yang hanya diuraikan dalam 10 baris, dan enam baris di antaranya ditulis dengan paparan berikut: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><span>Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini </strong></span></p>
<p>Buku  sejarah untuk  SMA tersebut juga membahas tentang perkembangan sejarah  Islam. Tetapi, ada saja data keliru yang disajikan sehingga menimbulkan  persepsi negative terhadap sebagian sahabat Nabi Muhammad saw. Misalnya,  saat membahas Khalifah Usman bin Affan, yang hanya diuraikan dalam 10  baris, dan enam baris di antaranya ditulis dengan paparan berikut:</p>
<p><span><em>“Dalam menjalankan pemerintahannya  Khalifah Usman sangat dipengaruhi oleh keluarganya, yaitu Ummayah.  Bahkan Khalifah Usman lebih mendahulukan kepentingan keluarga  dibandingkan kepentingan negaranya, sehingga lambatlaun timbul oposisi  terhadap Usman. Pada tahun 655 M, Khalifah Usman mati terbunuh oleh  pihak oposisi yang berasal dari orang Islam sendiri.” (hal. 73). </em></span></p>
<p>Paparan seperti itu tentu sangat  tendensius. Tapi, itulah yang diajarkan kepada siswa dan santri-santri  kita yang belajar sejarah melalui buku-buku seperti ini.  Tentu  saja  akan sangat mudah terekam opini buruk terhadap Sayyidina Usman bin Affan  pada benak anak-anak kita!  Tapi, apakah guru, kepala sekolah, pimpinan  pesantren, selama ini begitu banyak yang peduli dengan pengajaran  sejarah di SMA semacam ini?</p>
<p>Padahal, Sayyidina Usman r.a.  adalah  salah satu KhulafaurRasyidin, menantu Rasulullah saw, dan salah satu  sahabat yang dijamin masuk sorga. Beliau adalah orang yang sangat kaya  raya dan sangat dermawan. Beliau adalah pemimpin pertama dalam rombongan  Hijrah ke Habsyah. Beliau berulangkali berjihad di medan perang.  Hidupnya, hartanya, dirinya sudah diserahkan untuk Islam.  Adalah sangat  tidak masuk akal dan bertentangan dengan fakta sejarah, bahwa Sayyidina  Usman digambarkan sebagai pemimpin yang gila kuasa.  Kita bertanya,  apakah beradab jika menuduh sosok yang begitu mulia dengan tudingan:  “lebih mendahulukan kepentingan keluarga dibandingkan kepentingan  negaranya.”</p>
<p>Bayangkan, jika ada buku sejarah menulis: “Soekarno  lebih mendahulukan kepentingan keluarganya dibandingkan kepentingan  negaranya?” atau “SBY lebih mendahulukan kepentingan keluarga  dibandingkan kepentingan negaranya.”</p>
<p>Apakah keluarga Soekarno atau SBY bisa menerima uraian seperti itu?</p>
<p>Siapa  yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan yang keliru semacam  ini? Tentu saja, orangtua-lah yang paling bertanggung jawab. Bukan hanya  guru atau sekolah atau pesantren.  Kita berharap,  para guru dan  orangtua mau peduli dengan isi buku pelajaran yang keliru semacam ini.<br />
*****</p>
<p>“Islamisasi ilmu adalah sebuah keharusan,” tegas Prof. Didin  Hafidhuddin, direktur pasca sarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor  dalam pembukaan seminar internasional  tentang Pendidikan Tinggi di  UIKA , 18 Mei 2011 lalu.</p>
<p>Sebagian akademisi masih ada yang  meragukan dan salah paham tentang makna “Islamisasi ilmu” dan  “Islamisasi pendidikan”.  Padahal, tindakan Islamisasi adalah proses  yang wajar dari aktivitas seorang Muslim. Sangat wajar jika seorang  Muslim melakukan Islamisasi, sebagaimana kaum liberal melakukan  liberalisasi, kaum komunis melakukan komunisasi, kaum sekular melakukan  sekularisasi.</p>
<p>Islamisasi bukanlah gagasan utopis. Untuk  membuktikannya, Program Pasca Sarjana Pendidikan Islam &#8212; UIKA pada 29  Juni 2011, tepat 27 Rajab 1432 H, kembali menggelar seminar bertema  Islamisasi Pendidikan. Tapi, kali ini seminar mengambil tema yang lebih  membumi, dengan peluncuran buku Sejarah Nasional untuk SMA.  Seminar  bekerjasama dengan <em>Andalusia Islamic Education &amp; Management Service </em>(AIEMS)  dengan mengambil tema “Islamisasi Ilmu Pengetahuan: Urgensi dan  Aplikasinya Pada Kurikulum SMA, bertempat di  Aula Gedung Pascasarjana,  Universitas Ibn Khaldun Jl. KH Sholeh Iskandar KM 2 Bogor.</p>
<p>Pembicara dalam seminar tersebut ialah Prof. Dr. Didin Hafiduddin  (Direktur Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun),  Dr. Adian Husaini  (Kaprodi Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun),  Tiar  Anwar Bachtiar, M.Hum (Penulis buku Sejarah SMA, Kandidat Doktor Ilmu  Sejarah Universitas Indonesia), Mohamad Ishaq, M.Si (Penulis buku Fisika  SMA, Kandidat Doktor Ilmu Fisika, Institut Teknologi Bandung),  Ir.  Budi Handrianto, M.PdI (Peneliti INSISTS), dan Erma Pawitasari, M.Ed  (Direktur AIEMS)</p>
<p>Sejarah merupakan hal prinsip dalam kehidupan  manusia. Al-Quran begitu banyak bercerita tentang sejarah umat  terdahulu, baik dalam ayat-ayat Makkiyah atau Madaniyah. Karena itu,  kita sangat bersyukur dan menyambut gembira terbitnya buku Sejarah  Nasional Indonesia untuk SMA: Perspektif Baru, yang diterbitkan atas  kerjasama antara Pasca Sarjana UIKA, DDII, dan AIEMS.</p>
<p>Semoga buku ini menjadi langkah awal untuk menarik gerbong Islamisasi  Ilmu dan Pendidikan di Indonesia, khususnya di sekolah-sekolah Islam  dan pondok-pondok pesantren.  Islamisasi ilmu-ilmu pengetahuan, apalagi  yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam merupakan hal yang  sangat mendesak, dan tidak bisa ditunda-tunda lagi.</p>
<p>Islamisasi  dilakukan untuk mengembalikan ilmu pada tempat dan fungsinya yang utama,  yakni untuk menjadikan anak didik menjadi manusia-manusia yang beradab,  bukan manusia biadab. Yakni, manusia yang baik (<em>good man</em>),  yang mengenal Allah, ikhlas menjadikan  Rasulullah saw sebagai uswah  hasanah, meletakkan ulama sebagai pewaris Nabi, memahami kedudukan ilmu,  mampu meletakkan para pahlawan sesuai dengan harkat dan martabat yang  ditentukan Allah, serta mampu mengembangkan potensi yang ada pada  dirinya agar dia menjadi Abdullah dan khalifatullah yang baik. */<em>Depok, 26 Juni 2011</em></p>
<p><em>Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini bekerjasama dengan Radio Dakta 107 FM</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.hidayatullah.com/read/17711/27/06/2011/selamat-datang-%E2%80%9Cbuku-sejarah-perspektif-baru%E2%80%9D-%5B2%5D.html</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fselamat-datang-%25e2%2580%259cbuku-sejarah-perspektif-baru%25e2%2580%259d-2%2F&amp;title=Selamat%20Datang%20%E2%80%9CBuku%20Sejarah%20Perspektif%20Baru%E2%80%9D%20%5B2%5D" id="wpa2a_14"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/selamat-datang-%e2%80%9cbuku-sejarah-perspektif-baru%e2%80%9d-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang “Buku Sejarah Perspektif Baru” [1]</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/selamat-datang-%e2%80%9cbuku-sejarah-perspektif-baru%e2%80%9d-1/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/selamat-datang-%e2%80%9cbuku-sejarah-perspektif-baru%e2%80%9d-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 12:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2143</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Oleh: Dr. Adian Husaini Di dalam Tafsir al-Azhar, saat menguraikan makna QS al-Maidah ayat 57-63, Prof. Hamka, membuat uraian khusus tentang rangkuman strategi misionaris Kristen dan orientalis dalam menyerang Islam. Hamka, antara lain mencatat: “Diajarkan secara halus apa yang dinamai Nasionalisme, dan hendaklah Nasionalisme diputuskan dengan Islam. Sebab itu bangsa Indonesia hendaklah lebih mencintai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><span>Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini </strong></span></p>
<p>Di  dalam Tafsir al-Azhar, saat menguraikan makna QS al-Maidah ayat 57-63,  Prof. Hamka, membuat uraian khusus tentang rangkuman strategi misionaris  Kristen dan orientalis dalam menyerang Islam. Hamka, antara lain  mencatat: <em>“Diajarkan secara halus apa yang dinamai Nasionalisme, dan  hendaklah Nasionalisme diputuskan dengan Islam. Sebab itu bangsa  Indonesia hendaklah lebih mencintai Gajah Mada daripada Raden Patah.  Orang Mesir lebih memuja Fir’aun daripada mengagungkan sejarah Islam…”</em>. (Lihat, Hamka, <em>Tafsir al-Azhar &#8212; Juzu’ VI</em>, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), hal. 300.)</p>
<p>Uraian  Hamka ini sangat menarik. Di dalam buku Tafsir  yang ditulis di dalam  penjara Orde Lama di era 1960-an tersebut, Hamka sudah menorehkan  keprihatinan yang mendasar tentang pendidikan sejarah di Indonesia.  Camkan kata-kata Buya Hamka ini: Sebab itu bangsa Indonesia hendaklah  lebih mencintai Gajah Mada daripada Raden Patah.”</p>
<p>Pengajaran  sejarah yang lebih membesar-besarkan warisan Hindu – ketimbang Islam –  semacam itu memang dilakukan dengan perencanaan yang matang.</p>
<p>Pakar  sejarah Melayu, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas,  menyebutkan bahwa  dalam perjalanan sejarah peradaban Melayu, kedatangan Islam di wilayah  kepulauan Melayu-Indonesia merupakan peristiwa terpenting dalam sejarah  kepulauan tersebut. (the coming of Islam seen from the perspective of  modern times … was the most momentous event in the history of the  Archipelago). Bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa pengantar di  kepulauan Melayu-Indonesia (the Malay-Indonesian archipelago) merupakan  “bahasa Muslim” kedua terbesar yang digunakan oleh ratusan juta jiwa.  (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur:  ISTAC, 1993), hal. 169-179)</p>
<p>Sebab itu, Melayu kemudian menjadi  identik dengan Islam. Sebab, agama Islam merupakan unsur terpenting  dalam peradaban Melayu. Islam dan bahasa Melayu kemudian berhasil  menggerakkan ke arah terbentuknya kesadaran nasional. 	Al-Attas lalu  mengkritik secara tajam teori para orientalis Barat yang menganggap  kehadiran Islam di wilayah Melayu-Indnesia ini tidak meninggalkan  sesuatu yang berarti bagi peradaban di wilayah ini. Ia menulis:</p>
<p><span><em>“Banyak sarjana yang telah  memperkatakan bahwa Islam itu tidak meresap ke dalam struktur masyarakat  Melayu-Indonesia; hanya sedikit jejaknya di atas jasad Melayu, laksana  pelitur di atas kayu, yang andaikan dikorek sedikit akan terkupas  menonjolkan kehinduannya, kebudhaannya, dan animismenya. Namun menurut  saya, paham demikian itu tidak benar dan hanya berdasarkan wawasan  sempit yang kurang dalam lagi hanya merupakan angan-angan belaka.”   (Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan  Melayu,  (Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), hal. 41.)</em></span></p>
<p>Uraian Prof. Naquib al-Attas itu membuka mata kita, bahwa selama ini  ada yang salah – secara mendasar – dalam pendidikan sejarah di  sekolah-sekolah kita. Hindu-Budha diletakkan sebagai jati-diri bangsa,  sedangkan Islam hanya diletakkan sebagai pelapis kayu, yang tidak  meresap ke dalam jati diri bangsa. Tidak mengherankan, jika kemudian,  simbol-simbol Islam dijauhkan dari berbagai aspek kehidupan kebangsaan  dan kenegaraan.  Secara ekstrim, rezim Orde Baru pernah berusaha  menggusur berbagai identitas Islam dari kehidupan berbangsa dan  bernegara, dengan menggusur istilah-istilah Islam dan menggantikannya  dengan istilah-istilah Jawa atau Hindu.</p>
<p>Jika anda masuk ke Kedutaan Indonesia di luar negeri, tengoklah,  apakah di sana dipajang patung-patung dan candi, atau foto-foto masjid  dan pesantren?  Setidaknya saya pernah dua kali mengisi acara pengajian  di Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri. Satu di sebuah  negara Barat, dan satu di negeri Muslim.  Saat memasuki ruang depan  kantor KBRI, saya menjumpai sejumlah patung ini dan itu, replika candi  ini dan itu. Saya tanyakan kepada seorang pejabat kedutaan, bukankah  Indonesia adalah negeri Muslim, satu negara dengan jumlah pemeluk Islam  terbesar di dunia?  Mengapa tidak dipasang – misalnya &#8212; foto Masjid  Demak, Masjid Menara Kudus, foto sejumlah pesantren, dan sebagainya &#8212;   yang juga merupakan peninggalan sejarah penting di Indonesia?</p>
<p>Memang,  peradaban Islam adalah peradaban ilmu, sehingga ulama-ulama Islam lebih  mementingkan budaya ilmu ketimbang budaya batu.  Tetapi, tradisi seni  arsitektur Islam juga dikenal sangat tinggi dan mengilhami beberapa  arsitektur modern di Barat. Saya pernah mengunjungi satu museum Yahudi  dan penjaganya mengakui beberapa jenis ukiran di situ terpengaruh oleh  arsitektur Islam.</p>
<p>Salah satu warisan peradaban Islam yang  penting adalah institusi-institusi pendidikan Islam yang khas Indonesia,  seperti pondok pesantren.   Sebut salah satu pesantren tertua di Jawa  Timur, misalnya, Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur,  yang sudah  berumur ratusan tahun. 	 Data sejarah menunjukkan, pesantren ini berdiri  tahun 1718.  Hingga kini, pesantren Sidogiri masih eksis dengan ribuan  santri, serta sistem pendidikan yang unik, mandiri, bahkan sama sekali  tidak bergantung dengan bantuan pemerintah.</p>
<p>Mungkin, dalam  perspektif pendidikan Sejarah Nasional Indonesia, keberadaan sebuah  pondok pesantren besar dan bersejarah seperti Sidogiri tidak dianggap  lebih penting ketimbang sebuah candi.  Tradisi keilmuan Islam yang  bertahan ratusan tahun, tidak dianggap penting bagi pembangunan bangsa.   <em>Wallahu a’lam bil-shawab. </em></p>
<p>Tentu, kita tidak bisa  menyalahkan begitu saja para pejabat kita. Sebab, pemikiran mereka  tentang sejarah dan peradaban bangsa, adalah produk pendidikan sejarah  saat mereka duduk di bangku sekolah. Ribuan kuisener yang pernah saya  sebarkan ke lembaga-lembaga pendidikan Islam, menunjukkan, bahwa hampir  semua santri, siswa, bahkan guru berpendapat, bahwa puncak peradaban  Indonesia sebelum kemerdekaan dicapai saat kepemimpinan Hayam Wuruk dan  Gajah Mada di Kerajaan Majapahit, yang berhasil menyatukan Nusantara.</p>
<p>Jika  kita tanya kepada  mereka, kapan sebenarnya Majapahit menyatukan  Nusantara dan dengan cara apa mereka menyatukan Nusantara, mereka hanya  terbengong.  Sebuah buku <strong>Sejarah untuk SMA Kelas XI,</strong> karya I Wayan Badrika (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006),  misalnya,  menulis, bahwa saat pelantikannya sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit,  Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal dengan nama <em>Sumpah Palapa</em> (Tan Amukti Palapa) yang menyatakan bahwa Gajah Mada tidak akan hidup  mewah sebelum Nusantara berhasil disatukan di bawah Panji Kerajaan  Majapahit.</p>
<p><em>“Bahkan Kerajaan Majapahit dapat  disebut sebagai kerajaan nasional setelah Kerajaan Sriwijaya. Selama  hidupnya, Patih Gajah Mada menjalankan politik persatuan Nusantara.   Cita-citanya dijalankan dengan begitu tegas, sehingga menimbulkan  Peristiwa Sunda yang terjadi tahun 1351 M.”  (hal. 48).</em></p>
<p>Tentang keruntuhan Kerajaan Majapahit, ditulis: “<em>Suatu tradisi  lisan yang terkenal di Pulau Jawa menyatakan bahwa Kerajaan Majapahit   hancur akibat serangan dari pasukan-pasukan Islam di bawah pimpinan  Raden Patah (Demak).”  (hal. 49). </em></p>
<p>Opini apa yang ingin  disampaikan dengan paparan semacam ini kepada siswa atau santri yang  belajar sejarah melalui buku seperti ini?</p>
<p>Mudah ditebak!  Bahwa,  di masa lalu,  Indonesia pernah mencaai kejayaan, pernah bersatu,  pernah hebat, yakni di bawah Kerajaraan Majapahit. Lalu, datanglah  Islam, dengan tokohnya Raden Patah, menyerbu Majapahit dan runtuhlah  Majapahit!  Jadi, Islam bukanlah faktor pemersatu bangsa, tetapi Islam  datang untuk menghancurkan persatuan yang diperjauangkan oleh Gajah  Mada.  Karena itu, Raden Patah digambarkan sebagai penghancur prestasi  Gajah Mada yang berhasil menyatukan Nusantara!<em> Wallahu a’lam bil-shawab</em>.</p>
<p>Cobalah  tanyakan kepada siswa atau anak-anak kita, apakah mereka lebih kenal  dan kagum pada Gajah Mada atau Raden Patah?  Sekitar 50 tahun lalu, Buya  Hamka sudah menulis dalam Tafsirnya tentang fenomena pendidikan sejarah  di Indonesia tersebut!</p>
<p>Yang disebut tradisi lisan terkenal di  Jawa yang memberitakan tentang keruntuhan Majapahit akibat diserang  Raden Patah kemungkinan besar adalah <strong>Serat Darmogandul.</strong> Dalam Darmogandul disebutkan, bahwa dalam menyerang Mojopahit Raden  Patah melakukan konspirasi dengan para wali. Selama ini, Darmogandul  juga sudah dijadikan sebagai salah satu rujukan dalam penulisan buku  Sejarah Nasional Indonesia. Misalnya, buku karya Marwati D. Poesponegoro  dan Nugroho Notosusanto yang berjudul Sejarah Nasional Indonesia II,  (Balai Pustaka, Jakarta, 1992) menulis seputar keruntuhan Majapahit:</p>
<p><em>“&#8230;. Bagaimana proses penaklukan  Majapahit oleh Demak dan bagaimana nasib para penguasa Majapahit sesudah  penaklukan itu tidak diketahui secara pasti. Sumber-sumber tradisi  seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, dan Serat Darmagandul hanya  dengan samar-samar memberikan gambaran kepada kita tentang bagaimana  berlangsungnya penaklukan Majapahit oleh Demak.”</em></p>
<p>Paparan tentang keruntuhan Majapahit seperti itu bertentangan dengan  fakta  sejarah yang sebenarnya. Pada dasarnya Majapahit saat itu memang  telah lemah secara politis akibat Perang Paregreg yang cukup lama dan  menghabiskan banyak sumber daya. Kitab Darmogandul bisa dijadikan salah  satu contoh adanya upaya sistematis untuk memberikan citra negatif  terhadap Islam dan menanamkan kebencian kepada para wali serta agama  Islam. Para wali disebut “<em>walikan</em>” (kebalikan), artinya orang  yang tidak tahu balas budi. Diberi kebaikan oleh Raja Majapahit, tetapi  malah menikam dari belakang.  Digambarkan dalam kitab ini, bagaimana  bentuk provokasi Sunan Bonang terhadap Raden Patah, agar menyerang  Majapahit.</p>
<p>Ditulis dalam <strong>Darmagandul </strong>(terjemahan Indonesianya:  “<em>Rusaklah  Keraton Majapahit, dengan secara halus tersamar, jangan sampai didengar  orang banyak, menghadaplah pada hari bakda Mulud (hari peringatan  Maulid Nabi), persiapkan kelengkapan para prajurit, semua prajurit yang  kamu miliki, juga bawahanmu yang telah masuk Islam kumpulkanlah di  Demak. Pura-pura saja (mengundang mereka) untuk mendirikan masjid,  setelah semuanya berkumpul aku (Sunan Bonang) yang akan membuat akal,  kepada semua Sunan, para Tumenggung, semua prajurit yang telah menganut  agama Islam niscaya akan menurut kepadaku &#8230;”). </em></p>
<p>Jadi,  itulah salah satu cara mengecilkan makna kehadiran Islam di Indonesia,  melalui buku Sejarah Nasional, yang sudah diajarkan kepada jutaan  anak-anak kita di berbagai lembaga pendidikan Islam. Entah berapa banyak  guru dan orangtua yang mau peduli dengan masalah-masalah seperti  ini. *</p>
<p><em>Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini bekerjasama dengan Radio Dakta 107 FM</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.hidayatullah.com/read/17712/27/06/2011/selamat-datang-%E2%80%9Cbuku-sejarah-perspektif-baru%E2%80%9D-%5B1%5D.html</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fselamat-datang-%25e2%2580%259cbuku-sejarah-perspektif-baru%25e2%2580%259d-1%2F&amp;title=Selamat%20Datang%20%E2%80%9CBuku%20Sejarah%20Perspektif%20Baru%E2%80%9D%20%5B1%5D" id="wpa2a_16"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/selamat-datang-%e2%80%9cbuku-sejarah-perspektif-baru%e2%80%9d-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Sang Hyang Yesus?”</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9csang-hyang-yesus%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9csang-hyang-yesus%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 12:28:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2140</guid>
		<description><![CDATA[Masalah Identitas Agama dan Peradaban &#160; “Sang Hyang Yesus?” &#160; Sabtu, 19 November 2011 Oleh: Dr. Adian Husaini PADA hari Senin (14/11/2011), bertempat di Jakarta, Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) dan Center for Advanced Studies on Islam, Science, and Civilisation (Casis)—Universiti Teknologi Malaysia, menyelenggarakan suatu seminar internasional bertajuk “SEJARAH DAN [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><a href="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/05/window-crying1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1950" title="window-crying" src="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/05/window-crying1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Masalah Identitas Agama dan Peradaban</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span>“Sang Hyang Yesus?”</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span> Sabtu, 19 November 2011<br />
</span> <span> </span></p>
<p><span>Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini</strong></span></p>
<p>PADA hari Senin (14/11/2011), bertempat di Jakarta,  <em>Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS</em>) dan <em>Center for Advanced Studies on Islam, Science, and Civilisation </em>(Casis)—Universiti  Teknologi Malaysia,  menyelenggarakan suatu seminar internasional  bertajuk “SEJARAH DAN PERANAN ISLAM DALAM PEMBANGUNAN DAN KESATUAN  BANGSA.”</p>
<p><span>Sejumlah pembicara dari Indonesia dan Malaysia yang hadir adalah  Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud (Direktur Casis-UTM), yang bertindak  sebagai keynote speaker. Prof. Dr. Muhammad Zainy Uthman (Casis),  membahas masalah bertajuk: Tranformasi Minda Umat dalam Sejarah Dunia  Melayu; Dr. Khalif Muammar (Casis) menyampaikan presentasi bertajuk: <em>Kerangka Pemikiran Melayu Tradisiona</em>l; Prof. Dr. Didin Saefuddin Buchori (Universitas Ibn Khaldun Bogor) menyampaikan presentasi dengan tajuk: <em>Perlunya Pelurusan Pemahaman Sejarah</em>.  Pada sesi berikutnya, tampil beberapa sejarawan dan budayawan muda dari  INSISTS, yaitu Tiar Anwar Bahtiar, Arif Wibowo, Susiyanto, dan Muhammad  Isa Anshary.</span></p>
<p>Mereka   membahas makalah-makalah yang bertemakan  tentang Islam dan Budaya Sunda serta Budaya Jawa.</p>
<p>Dalam paparannya, Prof. Wan Mohd Nor berbicara tentang keberhasilan  para pendakwah Islam yang mampu menjadikan Islam menjadi identitas  peradaban Melayu. Persatuan Islam dan Melayu itu kemudian dalam  sejarahnya  dilembagakan menjadi identitas sosial, budaya, bahkan  politik. Melayu adalah muslim. Jika seorang keluar dari Islam, maka dia  tidak diakui lagi sebagai “Melayu”.</p>
<p>Dalam buku karyanya, <em>Budaya Ilmu dan Gagasan 1 Malaysia: Membina Negara Maju dan Bahagia – </em>yang  diberi kata pengantar oleh Perdana Menteri Malaysia, Prof. Wan  menyebutkan bahwa: “Negara yang maju ialah negara yang mensejahterakan  dan membahagiakan rakyatnya dengan mencapai maqasid al-syariah. Itulah  Negara (baldatun tayyibah) yang diredai Allah SWT. (QS Saba:15).”</p>
<p>Dalam buku yang disebarkan ke seluruh penjuru Malaysia ini, Prof. Wan  Mohd Nor juga menguraikan konsep Negara ideal laksana “pohon yang kokoh  dan rindang”  menurut Imam al-Ghazali sebagaimaan dijelaskan dalam QS  Ibrahim: 24-25.<br />
Suatu Negara yang menerapkan konsep maqasid  syariah, adalah yang menerapkan aqidah dan syariat Islam dengan tujuan:   menjaga agama (<em>hifdud-ddin</em>), menjaga jiwa (<em>hifdun-nafsi</em>), menjaga akal (<em>hifdul-aqli</em>), menjaga keturunan (<em>hifdun-nasli</em>), dan menjaga harta (<em>hifdul-maal</em>).</p>
<p>Itu yang terjadi di Malasyia, yang meskipun jumlah kaum Muslim hanya  sekitar 60 persen, tetapi menempatkan Islam sebagai “agama persekutuan”.  Malaysia meletakkan dirinya sebagai kelanjutan dari peradaban Melayu  Islam, sehingga secara politik tidak mempertentangkan antara Islam dan  negara.</p>
<p>Bagaimana dengan Indonesia?  Para pejabat Indonesia sering  menyatakan, bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbesar di  dunia. Namun, hingga kini, para pemimpin Negara yang Muslim yang banyak  yang enggan untuk mengidentikkan Indonesia dengan Islam. Lihatlah, saat  upacara pembukaan Sea Games, di Palembang, 11 November 2011! Simbol  yang ditampilkan oleh delegasi Indonesia adalah Candi Borobudur, Komodo,  dan Batik. Simbol Islam ditampilkan oleh Presiden SBY dalam sambutan  pembukaan yang mengucapkan <em>“Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh”, “Dengan memohon ridha Allah SWT</em>” dan “<em>Bismillahirrahmanirrahim”. </em></p>
<p>Dalam makalahnya yang berjudul “<em>Mencari Wujud Kebudayaan Jawa</em>”,  Arif Wibowo – alumnus Magister Pemikiran Islam—Universitas Muhammadiyah  Surakarta &#8212;  mengungkapkan pembangunan dan eksistensi Candi Borobudur  yang kontroversial.</p>
<p>Penggambaran seolah-solah bangunan-bangunan besar Candi Borobudur dan  Prambanan menunjukkan kokohnya eksistensi agama Budha dan Hindu Jawa,  tidaklah benar.  Kedua bangunan itu lebih mencerminkan pertarungan antar  elite kekuasaan.  Dinasti Syailendra, kaki tangan Kerajaan Sriwijaya  Palembang di Jawa membangun Borobudur.  Para penguasa lokal yang  beragama Hindu Syiwa memandang keluarga Syailendra sebagai penjajah  asing yang baru saja menancapkan pengaruhnya.</p>
<p>Akhirnya pada tahun 856 M, Syailendra berhasil dikalahkan. Untuk  mengenang kemenangan ini Rakai Pikatan membangun candi Prambanan,  sebagai monumen kemenangan kekuasaan Hindu atas kekuasaan Budha. (Lihat,   Paul Michel Munoz, Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan  Semenanjung Malaysia (Perkembangan Sejarah dan Budaya Asia Tenggara,  Jaman Prasejarah – Abad XVI) , (Yogyakarta : Media Abadi, 2009) hal.  318-323).</p>
<p>Yang paling menderita di era kebudayaan candi ini tentu saja rakyat  jelata dari kasta Sudra dan Paria. Para petani, peternak dan pedagang  kecil yang termasuk dalam kasta tersebut dipaksa untuk melakukan kerja  bakti membangun candi yang berlangsung selama puluhan tahun. Akibatnya  mata pencaharian pun terbengkalai, demikian juga kehidupan keluarganya.</p>
<p>Oleh karena itu, untuk menghindari kewajiban kerja bakti kepada para  raja, penduduk memilih untuk eksodus keluar dari pusat-pusat pembangunan  candi. (Ahmad Manshur Suryanegara, Api Sejarah, Jilid. I, (Bandung :  Salamadani, 2009) hal. 55.).</p>
<p>Hal ini juga dikuatkan oleh kajian dari Prof. Denys Lombard yang  menyatakan bahwa penghentian pembangunan gedung-gedung batu berskala  besar lebih banyak disebabkan karena kerajaan Budha dan Hindu mengalami  kemunduran karena ditinggalkan rakyatnya sendiri yang lebih memilih  eksodus ke kota-kota pelabuhan dan sekitarnya. (Dennys Lombard, <em>Nusa Jawa Silang Budaya 2 : Jaringan Asia </em>(terj). (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2008)  hal. 189).</p>
<p>Penguasa selanjutnya dari kalangan Hindu juga masih tidak membawa  kenyamanan bagi masyarakat. Sebab pada masa selanjutnya, Hindu, Budha  dan aneka kepercayaan lokal telah merubah wajah ajaran Hindu dan Budha  pada bentuk baru yakni Syiwa Budha Bhairawa Tantra. Kepercayaan  Siwa-Budha Bhairawa Tantra ini menghasilkan bentuk ritual yang disebut  sebagai upacara Pancamakara atau lebih dikenal dengan upacara <em>Ma-lima</em>.</p>
<p>Menurut S. Wojowasito,  bentuk upacara (ritual) dari sekte ini sangat  mengerikan.. (Wojowasito,S, Sedjarah Kebudajaan Indonesia, Indonesia  Sedjak Pengaruh India, (Jakarta : Penerbit Siliwangi, 1952) hal. 148).</p>
<p>Ritual <em>ma lima </em>terdiri dari matsiya (memakan ikan gembung beracun), <em>manuya</em> (minum darah dan memakan daging gadis yang dijadikan kurban), <em>madya</em> (meminum minuman keras hingga mabuk), <em>mutra </em>(menari sampai ekstase), dan <em>maithuna </em>(ritual  seks massal di tanah lapang yang disebut setra). (HM Rasyidi, Islam dan  Kebatinan (Jakarta : Bulan Bintang, 1967) hal. 95).</p>
<p>Adityawarman, seorang Radja dari kerajaan Melayu (yang menjadi  menantu raja Majapahit) menerima penasbihannya di tengah-tengah lapangan  bangkai, sambil duduk di atas timbunan bangkai, tertawa minum darah,  menghadapkan kurban manusia yang menghamburkan bau busuk, tetapi bagi  Adityawarman sangat semerbak baunya. (Wojowasito, <em>Sedjarah Kebudajaan Indonesia, Indonesia Sedjak Pengaruh India, </em>hal. 149).</p>
<p>Proses ini jelas tergambar dalam patung Adityawarman di Museum  Nasional yang digambarkan tengah memegang cawan darah, gelas anggur dan  ratusan tengkorak yang mengalungi hampir semua bagian tubuhnya.</p>
<p>Proses Islamisasi di Nusantara kemudian berhasil mengubah identitas  agama dan budaya sebagian besar masyarakat Nusantara menjadi Islam.  Peradaban Melayu mencakup seluruh wilayah di Nusantara, apa pun suku  bangsanya. Identitas Islam inilah yang kemudian secara sistematis  berusaha dipisahkan oleh kaum penjajah.</p>
<p>Salah satunya adalah dengan cara mengangkat dan membesarkan zaman  pra-Islam. Itulah yang misalnya dilakukan dengan memitoskan kebesaran  Majapahit.<br />
Pada CAP lalu, sudah kita kutip, misalnya, suara dari  Majalah Media Hindu (Oktober, 2011) yang menyatakan:  “Kembali menjadi  Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi  Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agama yang  dapat memelihara &amp; mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar  untuk menjadi negara maju.”</p>
<p>Namun, suara-suara yang memitoskan kebesaran Majapahit  (“Majapahitisme”)  juga telah mendapatkan kritik dari kalangan kaum  Hindu sendiri. Majalah Hindu, RADITYA, (edisi September 2008) menurunkan  laporan utama yang mengkritik pengagungan Majapahit:</p>
<p>“Majapahitisme atau keterpesonaan  terhadap Hindu di zaman majapahit tidaklah ideal. Pertama, karena pada  masanya saja, masyarakat Hindu Majapahit gagal mempertahankan  eksistensinya, gara-gara lebih banyak terlibat konflik internal bikinan  elite Majapahit ketika itu. Siwa-Budha kala itu pun tidak bisa berperan  banyak dalam mewujudkan masyarakat yang rukun, tat twam asi dan  sejenisnya. Majapahit selain berhasil menundukkan banyak daerah bawahan,  juga sibuk perang saudara. Agama di dalam   masyarakat seperti ini  lebih menjadi bersifat gaib, eksklusif, hanya untuk berhubungan dengan  dewa-dewa yang abstrak. Agama Siwa Budha meskipun sudah menjadi agama  kerajaan tidak bisa diamalkan oleh elite di sana yang lebih dikuasai  motif politik, motif perebutan kekuasaan. Agama gagal menginspirasi  kehidupan sehari-hari tentang hal-hal lebih praktis menyangkut pola  interaksi antarindividu…Jika Majapahit meninggalkan hal-hal pahit bagi  penganut Hindu ketika itu, lantas apa enaknya mengenang hal-hal pahit?”</p>
<p>Jadi, menurut majalah RADITYA, impian untuk kembali ke Majapahit  justru merugikan kaum Hindu sendiri.  Analisis majalah Hindu ini  menarik, sebab ini terkait dengan identitas nasional Indonesia yang  sering dicitrakan identik dengan Hindu, Budha, dan Sansekerta. Jika  ditampilkan Candi Hindu Prambanan dan Candi Budha Borobudur, maka itu  dikatakan sebagai “identitas nasional”.  Tapi, jika ditampilkan Masjid,  maka seolah-olah dianggap bukan identitas nasional.  Tengoklah  ornamen-ornamen di Bandara Soekarno-Hatta! Bandara internasional itu  dipenuhi dengan simbol-simbol Hindu-Budha yang dianggap sebagai symbol  nasional. Tapi, tidak tampak simbol-simbol Islam, seperti kaligrafi ayat  al-Quran, Masjid, dan sebagainya.</p>
<p>Masalah simbol atau identitas bagi suatu agama atau peradaban  merupakan hal yang penting dan terkadang juga sensitif. Kaum Hindu di  Bali melakukan protes ketika simbol-simbol dan identitas agamanya  direbut oleh kaum Kristen. Sebab, menurut mereka, identitas Hindu  dibajak untuk tujuan pengkristenan orang Hindu. Majalah Media Hindu,  (edisi November 2011) menulis tentang masalah ini:</p>
<p>“Sebenarnya bahaya laten yang seolah  tidak kelihatan tapi jauh lebih berbahaya adalah upaya-upaya sistematis  orang-orang Kristen untuk menjadikan seluruh penduduk Bali menjadi  pengikut Yesus (menjadi Kristen) dan saat ini pun masih berjalan terus.  Penampilan fisik yang sama dengan pura, memakai upacara mirip “Hindu  Bali” bisa menyesatkan orang-orang Bali beragama yang umumnya lugu dan  toleran.  Lebih lagi bila sebutan tuhan yang disembah di “Pura Gereja”  ini dimirip-miripkan dengan Tuhan orang Hindu Bali, misalnya Sang Hyang  Yesus, Sang Hyang Allah Aji, Ratu Biang Maria, misalnya.”</p>
<p>Tahun 2011 ini, Penerbit Paramita Surabaya, menerbitkan buku berjudul “<em>Membedah  Kasus Konversi Agama di Bali: Kronologi, Metode, Misi dan Alasan di  Balik Tindakan Konversi Agama dari Hindu ke Kristen dan Katolik di Bali  serta Pernik-pernik Keagamaan di Dunia</em>”, karya Ni Kadek Surpi Aryadharma.</p>
<p>Penulis buku ini mengkritik penggunaan atribut kebudayaan Hindu Bali  dalam aktivitas keagamaan Kristen:  “Jika dicermati, sesungguhnya apa  yang dilakukan oleh umat Kristen di Bali adalah keliru. Sebab dalam  aturan yang disepakati oleh lembaga-lembaga agama dan pemerintah telah  ditentukan tidak boleh mengambil tatanan ibadah dari agama lain. Karena  itu orang Kristen di Bali mestinya tidak mengambil simbol-simbol  keagamaan Hindu.” (hal. 55). “…karena itu budaya agama Hindu itu 100%  tidak boleh digunakan oleh orang Kristen.” (hal. 260).</p>
<p>Menurut buku ini, misi Kristen merupakan kejahatan agama yang harus  diperangi. “…program misi dan konversi agama harus diperangi, dilawan  dan diberantas habis sampai tuntas karena hal itu merupakan kejahatan  atas nama agama.” (hal. 260). “Jadi, janganlah sapi-sapi Hindu  ditangkapi oleh penggembala domba Kristen dan dimasukkan ke dalam  kandang domba. Ingat, jika sapi-sapi yang ditangkapi itu suatu saat  jengkel karena stress dan kemudian ngamuk dalam kandang domba, maka  bukan saja domba-domba dalam kandang yang kacau-balau, bisa-bisa  penggembalanya juga ikut diseruduk. Ingat peristiwa seorang misionaris  dibunuh oleh convert-nya sendiri.” (hal. 258).</p>
<p>Salah satu yang diprotes kaum Hindu tadi adalah penggunaan istilah  Hindu untuk menyebut Tuhan kaum Kristen, seperti “Sang Hyang Yesus”,  “Sang Hyang Allah Aji”, “Ratu Biang Maria”, dan lain-lain. Pemerintah  Malaysia juga melarang kaum Kristen untuk menggunakan kata Allah untuk  menyebut Tuhan mereka. Sebab, Allah adalah nama Tuhan yang resmi disebut  dalam al-Quran. Allah – dalam al-Quran – memiliki sifat-sifat tertentu  yang tidak bisa diberi sifat sembarangan. Misalnya, Allah sendiri yang  menjelaskan sifat-sifat-Nya, bahwa Dia tidak beranak dan tidak  diperanakkan; bahwa Dia tidak serupa dengan sesuatu pun.</p>
<p>Sementara itu, kitab kaum Kristen – baik Perjanjian Lama (bahasa  aslinya Ibrani) dan Perjanjian Baru (bahasa aslinya Yunani Kuno) –  memang tidak menyebut nama Tuhan mereka. Karena itulah, dalam tradisi  Kristen, tidak ditemukan penyebutan nama Tuhan yang baku, sehingga  mereka boleh menyebut Tuhan mereka, sesuai dengan tradisi atau kemauan  mereka.</p>
<p>Pendeta A.H. Parhusip, dalam sebuah buku kecil yang ditulisnya,  dengan judul Waspadalah terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh  (2003), menulis tentang kebebasan menyebut nama Tuhan ini:</p>
<p>”Lalu mungkin  ada yang bertanya:  Siapakah Pencipta itu dan bagaimanakah kalau kita mau memanggil Pencipta  itu? Jawabnya: Terserah pada Anda! Mau panggil; Pencipta! Boleh! Mau  panggil: Perkasa! Silahkan! Mau panggil: Debata! Boleh! Mau panggil:  Allah! Boleh! Mau panggil: Elohim atau Theos atau God atau Lowalangi  atau Tetemanis&#8230;! Silakan! Mau memanggil bagaimana saja boleh, asalkan  tujuannya memanggil Sang Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi&#8230;  Ya, silakan menyebut dan memanggil Sang Pencipta itu menurut apa yang  ditaruh oleh Pencipta itu di dalam hati Anda, di dalam hati kita  masing-masing. Lihat Roma 2:14-15.”</p>
<p>Kaum Kristen menggunakan nama Tuhan sesuai dengan budaya setempat dan  untuk tujuan tertentu, seperti tujuan misi Kristen. Di Barat mereka  tidak menyebut nama Tuhan. Di wilayah Arab, kaum Kristen meminjam  sebutan Tuhan yang biasa digunakan oleh masyarakat di sana, yaitu  “Allah”.  Dalam Penjelasan Lembaga Alkitab Indonesia, tertanggal 21  Januari 1999, ditandantangani oleh Sekretaris Umumnya, Supardan,  kata  Allah di Indonesia mulai digunakan sejak abad ke-16. Tentu, ini juga  untuk tujuan Misi, karena kaum Muslim di wilayah ini sudah menyebut  Tuhan dengan nama Allah, sesuai dengan yang tercantum dalam Kitab Suci  al-Quran. Kaum Kristen yang menyebarkan agama di wilayah Nusantara  adalah Kristen Barat yang tidak punya nama Tuhan.</p>
<p>Samin Sitohang dalam bukunya, Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab  Kontroversi Sekitar Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, menulis: “Jadi,  jika Alkitab bahasa Indonesia menggunakan Allah untuk nama Sang  Pencipta, itu berarti Roh Allah sedang menyiapkan umat-Nya yang berasal  dari golongan lain untuk menerima Injil karena mereka tidak perlu harus  membuang Allah untuk mendapatkan nama Sang Pencipta yang baru.”</p>
<p>Jika kaum Hindu memprotes penggunaan istilah “<strong>Sang Hyang Yesus</strong>” oleh kaum Kristen, apa umat Islam juga harus protes kepada kaum Kristen, karena kata Allah dipinjam oleh mereka?  <em>Wallahu a’lam bil-shawab</em>. (Depok, 18 November 2011).</p>
<p><em>Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.hidayatullah.com/read/19845/19/11/2011/%E2%80%9Csang-hyang-yesus?%E2%80%9D-.html</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2F%25e2%2580%259csang-hyang-yesus%25e2%2580%259d%2F&amp;title=%E2%80%9CSang%20Hyang%20Yesus%3F%E2%80%9D" id="wpa2a_18"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9csang-hyang-yesus%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Lagi, Umat Islam Dituduh Tidak Toleran”</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9clagi-umat-islam-dituduh-tidak-toleran%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9clagi-umat-islam-dituduh-tidak-toleran%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 12:21:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2136</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Ahad, 18 Desember 2011 oleh: Dr. Adian Husaini SEJAK Perang Dingin berakhir, banyak kalangan di Barat yang berperilaku seperti yang disarankan Samuel Huntington: agar mewaspadai Islam!  Sebab, kata Huntington, dalam buku terkenalnya, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, Islam adalah satu-satunya peradaban yang pernah menaklukkan Barat. (Islam is the only [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><span> Ahad, 18 Desember 2011<br />
</span> <span> </span></p>
<p><span>oleh: <strong>Dr. Adian Husaini</strong></p>
<p>SEJAK  Perang Dingin berakhir, banyak kalangan di Barat yang berperilaku  seperti yang disarankan Samuel Huntington: agar mewaspadai Islam!   Sebab, kata Huntington, dalam buku terkenalnya, <em>The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, </em>Islam adalah satu-satunya peradaban yang pernah menaklukkan Barat. (<em>Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and it has done at least twice). </em>(Huntington, The Clash of Civilization …  1996: 209-210.</p>
<p>Islam  dan umat Islam kemudian menjadi objek studi yang sangat menjanjikan.  Berbagai LSM yang mengamat-amati Islam bermunculan di Indonesia. Isu-isu  yang ‘laku dijual’ adalah seputar masalah Pluralisme, kebebasan  beragama, multikulturalisme, kesetaraan gender, HAM, dan sebagainya.  Istilah-istilah ini sebelumnya tidak dikenal oleh umat Islam. Tapi,  banyak pihak yang kemudian menjadikan paham-paham itu sebagai tolok ukur  kebenaran dan standar penilaian kebaikan. Baik tidaknya seorang Muslim  diukur dengan istilah “radikal”, “eksklusif”, “inklusif”, “pluralis”,  “HAM” dan sebagainya.</p>
<p>Istilah-istilah baru itu kemudian menggusur istilah-istilah baku dalam Islam, seperti “<em>iman”, “Islam”, “sholeh”, “taqwa”, “ihsan”, “murtad”, “musyrik”, </em>dan  sebagainya. Artinya, seorang muslim akan dikenai  stigma negatif jika  sudah kena label “radikal”, “eksklusif”, “anti-pluralisme”,  “anti-multikulturalisme” dan sebagainya. Baik-buruknya seseorang tidak  lagi diukur dengan kategori: <em>iman-kufur, tauhid-syirik, adil-fasiq, halal-haram, </em>dan sebagainya.</p>
<p>Belum lama, terbit sebuah buku berjudul <em>Pluralisme dan Multikulturalisme, Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam di Indonesia </em>(2011).  Buku ini diberi kata ‘Pengantar Ahli’ oleh Prof. Dr. Muhaimin, M.A.,  guru besar UIN Malang.  Sang guru besar menulis, bahwa saat ini sudah  “mendesak sekali “membumikan” pendidikan Islam berwawasan pluralisme dan  multikulturalisme. Kesadaran akan pentingnya pluralisme dan  multikulturalisme dipandang menjadi perekat baru integrasi bangsa yang  sekian lama tercabik-cabik.” (hal. xiv).</p>
<p>Padahal, jika dibaca  dengan serius, isi buku ini jelas-jelas mendukung liberalisasi  pendidikan Islam. Disebutkan, bahwa diskursus pluralisme agama di  Indonesia telah berkembang pesat. “Salah satu pertandanya adalah terbit  buku Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis (2004).  Buku yang ditulis 8 tokoh pembela pluralisme Islam di Indonesia ini  adalah Nurcholish Madjid, Kautsar Azhari Noer, Komaruddin Hidayat,  Masdar F. Mas’udi, Zainun Kamal, Budhy Munawar-Rahman, Ahmad Gaus AF,  Zuhairi Misrawi, dan Mun’im A. Sirry – telah memberikan terobosan  fundamental  terkait dengan masalah pluralisme dari sudut pemikiran  keagamaan, karena mereka telah berhasil memberikan argumen teologis  bagaimana pandangan Islam terhadap agama-agama lain, termasuk dalam  persoalan ibadah praktis (fikh), mulai soal doa sampai pernikahan  antaragama – dan sejak ini pula, argument Islam untuk pernikahan  antaragama menjadi mapan, dan telah menghasilkan <em>Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam.” </em>(hal. 124).</span></p>
<p><span>Seperti pernah kita ungkap dalam beberapa  Catatan, buku <em>Fiqih Lintas Agama </em>terbitan  Paramadina itu memang mempromosikan pernikahan beda agama dan  memmbongkar hukum Islam tentang keharaman pernikahan muslimah dengan  laki-laki non-Muslim. “Soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan  wanita Muslim merupakan wilayah ijtihadi dan terikat dengan konteks  tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana  jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antar  agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena kedudukannya sebagai  hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila  dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan  laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat  diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya.”  (Mun’im A.  Sirry (ed), <em>Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis,</em> (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina dan The Asia Foundation, 2004), hal. 164).</p>
<p>Untuk membongkar hukum Islam, secara sistematis, buku ini mengawali uraiannya dengan melecehkan Imam Syafii <em>rahimahullah: </em>“Kaum  Muslim lebih suka terbuai dengan kerangkeng dan belenggu pemikiran  fiqih yang dibuat imam Syafi’i. Kita lupa, imam Syafi’i memang arsitek  ushul fiqih yang paling brilian, tapi juga karena Syafi’ilah  pemikiran-pemikiran fiqih tidak berkembang selama kurang lebih dua belas  abad. Sejak Syafi’i meletakkan kerangka ushul fiqihnya, para pemikir  fiqih Muslim tidak mampu keluar dari jeratan metodologinya. Hingga kini,  rumusan Syafi’i itu diposisikan begitu agung, sehingga bukan saja tak  tersentuh kritik, tapi juga lebih tinggi ketimbang nash-nash Syar’i  (al-Quran dan hadits). Buktinya, setiap bentuk penafsiran teks-teks  selalu tunduk di bawah kerangka Syafi’i.” (Ibid., hal. 5).</p>
<p>Jika  Imam Syafii yang agung dan sangat diakui keilmuannya oleh para ulama  Islam sedunia dilecehkan dan direndahkan martabatnya semacam itu, tentu  kita patut bertanya, sehebat apakah manusia-manusia yang melecehkannya  ini? Adakah karya-karya ilmiah hebat yang telah mereka hasilkan dan  diakui oleh para ulama dan cendekiawan Muslim sedunia?</p>
<p>Entah  mengapa saat ini sejumlah pihak mengkaitkan pluralisme,  multikulturalisme, dan toleransi beragama, dengan kasus pernikahan beda  agama. Orang yang menolak pernikahan beda agama dicap sebagai tidak  toleran, tidak pluralis, tidak berwawasan multikultural, dan sebagainya.  Saat ini bermunculan lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang membuat  laporan tentang kondisi kerukunan umat beragama di Indonesia.</p>
<p>Sesuai  dengan panduan al-Quran (49:6), maka orang Muslim diajar untuk bersika  kritis, tidak bersikap apriori, asal tolak atau asal terima saja.  Telitilah informasi itu. Darimana sumbernya, dan bagaimana kebenaran  logika dan argumentasi yang digunakannya.  Jika memang yang membawa  berita adalah kaum fasik, maka berhati-hatilah!</p>
<p>Satu contoh lain dari analisis yang keliru dilakukan oleh <em>Setara Institute </em>dalam memandang konsep kerukunan beragama dan kaitannya dengan peran kelompok fundamentalis. Kelompok yang mengusung jargon “<em>Institute for Democracy and Peace” </em>ini – dalam buku terbitannya yang berjudul <em>Wajah Para ‘Pembela’ Islam, </em>(Jakarta:  Pustaka Masyarakat Setara, 2010), menyimpulkan bahwa kelompok Islam  fundamentalis atau Islam radikal sering mengganggu kebebasan  beragama/berkeyakinan warga masyarakat lain.</p>
<p>“Dengan mengenali organisasi-organisasi  Islam radikal, diharapkan sejumlah langkah dapat dilakukan oleh negara  untuk menghapus intoleransi dan diskriminasi agama/keyakinan. Menegakkan  hukum bagi para pelaku kekerasan, intoleransi, dan diskriminasi serta  melakukan deradikalisasi pandangan, perilaku dan orientasi keagamaan  melalui kanal politik dan ekonomi adalah rekomendasi utama penelitian  ini.” (hal. iv).</p>
<p>Salah satu kriteria untuk mengukur kadar toleransi suatu masyarakat  adalah kesediaan untuk menerima perpindahan agama dan penerimaan  terhadap pernikahan beda agama. Hasil survei kelompok ini di  Jabodetabek, menunjukkan angka, 84,13 persen masyarakat tidak suka akan  pernikahan beda agama. Lalu disimpulkan: “Dari temuan survei ini  terlihat bahwa untuk perbedaan identitas dalam lingkup relasi sosial  yang lebih luas (berorganisasi, bertetangga, dan berteman) masyarakat  Jabodetabek secara umum lebih memperlihatkan sikap toleran. Namun, dalam  lingkup relasi yang lebih personal dan menyangkut keyakinan (anggota  keluarga menikah dengan pemeluk agama lain atau pindah ke agama lain)  sikap mereka cenderung kurang toleran.” (hal. 65).</p>
<p>Survei itu  juga menunjukkan data, bahwa orang yang beragama Islam menunjukkan  penolakan yang lebih tinggi (82,6 persen) terhadap anggota keluarganya  yang berpindah agama. Sementara, pemeluk agama selain Islam ada 45,4  persen yang menyatakan dapat menerima anggota keluarganya berpindah  agama, karena soal agama adalah urusan pribadi. (hal. 66). Terhadap  orang yang tidak beragama, hanya 25,2 persen responden yang menyatakan  dapat menerima, karena menganggap agama hanyalah urusan pribadi.  Terhadap fenomena ini, disimpulkan: “Singkatnya, secara umum tidak ada  toleransi atas orang-orang yang tidak beragama. Tidak beragama masih  dianggap sebagai sebuah tabu yang tidak dapat ditoleransi di mata kaum  urban Jabodetabek.” (hal. 67).</p>
<p>Sikap responden terhadap aliran  Ahmadiyah, hanya 28,7 persen yang berpendapat Ahmadiyah memiliki hak  untuk menganut keyakinan mereka. Sedangkan 40,3 persen menganggap  Ahmadiyah sesat, dan 45,4 persen menyatakan, sebaiknya AShmadiyah  dibubarkan oleh pemerintah. Lalu dibuatlah komentar: “<strong>Temuan ini mengindikasikan adanya kecenderungan sikap keagamaan yang intoleran pada masyarakat Jabodetabek. </strong>Agar  tidak mengakibatkan kerancuan pemahaman, maka perlu digarisbawahi bahwa  kecenderungan toleran untuk beberapa hal, namun intoleran untuk  sejumlah hal lain sebagaimana ditunjukkan oleh temuan survei ini, tetap  harus dinyatakan sebagai ekspresi sikap intoleran. Hal ini didasarkan  atas pengertian toleransi sebagai kemampuan dan kerelaan untuk menerima  segala bentuk perbedaan identitas pihak lain secara penuh. Atas dasar  itu, kegagalan untuk dapat menerima perbedaan identitas secara utuh   sama maknanya dengan sikap intoleran.” (hal. 75).</p>
<p>De-Islamisasi bahasa</p>
<p>Pakar sejarah dan <em>linguistic, </em>Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan bahaya dari sebuah proses yang disebut “<em>de-Islamization of language”. </em>Bahasa  adalah alat untuk memahami Islam. Dulu, saat Islam masuk dan menyebar  di wilayah Nusantara, bahasa Melayu menjadi alat yang efektif, setelah  melalui proses Islamisasi. Bahasa yang semula hanya digunakan oleh  sebagian kecil masyarakat Nusantara, kemudian diperkaya dengan  “istilah-istilah kunci” dalam Islam, seperti Allah, adil, taqwa, hikmah,  ilmu, akal, fikir, dan sebagainya. Dengan istilah-istilah itu, maka  seseorang menjadi mudah memahami konsep-konsep pokok dalam Islam.</p>
<p>Proses <em>de-Islamisasi </em>bahasa  Melayu-Indonesia kini terus berlangsung sejalan dengan proses  westernisasi. Istilah-istilah “toleran”, “kerukunan”, “radikal”,  dimasukkan ke dalam kosa kata bahasa Indonesia dengan makna yang tidak  sesuai dengan konsep Islam. Orang tua yang tidak mau merestui pernikahan  anaknya dengan orang yang berbeda agama dicap tidak toleran. Begitu  juga orang tua yang tidak menerima anak atau anggota keluarga yang  berpindah agama.</p>
<p>Tentu saja, dalam pandangan Islam, apa yang  dilakukan oleh lembaga survei semacam itu jelas sangat keliru.  Lembaga  ini telah mengaburkan dan merusak makna toleransi. Orang-orang yang  berpegang teguh pada ajaran agamanya diberi cap intoleran dan radikal.  Ini juga suatu kezaliman. Lebih disayangkan juga, bahwa di antara tokoh  penting  yang menyebarkan konsep “kesetaraan” dan toleran yang keliru  itu adalah Muslim.</p>
<p>Kaum Muslim secara umum tentu akan menolak konsep toleransi semacam itu. Dalam artikelnya di <em>Jurnal Islamia Republika </em>(Kamis,  15/12/2011) ulama muda NU Muhammad Idrus Ramli, menulis beberapa  rambu-rambu dalam bertoleransi. Menurut Gus Idrus, para ulama <em>fuqaha </em>dari berbagai madzhab membolehkan seorang Muslim memberikan sedekah <em>sunnah </em>kepada non Muslim yang bukan <em>kafir harbi. </em>Demikian pula sebaliknya, seorang Muslim diperbolehkan menerima bantuan dan hadiah yang diberikan oleh non Muslim. Para ulama <em>fuqaha </em>juga mewajibkan seorang Muslim memberi nafkah kepada istri, orang tua dan anak-anak yang non Muslim.</p>
<p>Di sisi lain, karena seorang Muslim bertanggungjawab menerapkan <em>basyiran wa nadziran lil-‘alamin, </em>Islam  melarang umatnya berinteraksi dengan non Muslim dalam hal-hal yang  dapat menghapus misi dakwah Islam terhadap mereka. Mayoritas ulama <em>fuqaha </em>tidak  memperbolehkan seorang Muslim menjadi pekerja tempat ibadah agama lain,  seperti menjadi tukang kayu, pekerja bangunan dan lain sebagainya,  karena hal itu termasuk menolong orang lain dalam hal kemaksiatan, ciri  khas dan syiar agama mereka yang salah dalam pandangan Islam. “Dan  tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan  jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan  bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”  (QS. al-Ma’idah : 2).</p>
<p>Tentang <strong>Doa bersama Lintas Agama, </strong>Idrus menulis, bahwa dewasa ini juga agak marak dilakukan. Sebagian beralasan Islam <em>rahmatan lil-‘alamin. </em>Padahal, karakter <em>rahmatan lil-‘alamin, </em>sebenarnya tidak ada kaitannya dengan doa bersama lintas agama. Sebagaimana dimaklumi, doa merupakan inti dari pada ibadah (<em>mukhkhul ‘ibadah), </em>yang  dilakukan oleh seorang hamba kepada Tuhan. Tidak jarang, seorang Muslim  berdoa kepada Allah, dengan harapan memperoleh pertolongan agar segera  keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi. Tentu saja, ketika seseorang  berharap agar Allah segera mengabulkan doanya, ia harus lebih  berhati-hati, memperbanyak ibadah, bersedekah, bertaubat dan melakukan  kebajikan-kebajikan lainnya. Dalam hal ini, semakin baik jika ia memohon  doa kepada orang-orang shaleh yang dekat kepada Allah. Hal ini  sebagaimana telah dikupas secara mendalam oleh para ulama <em>fuqaha </em>dalam bab shalat <em>istisqa’ </em>(mohon diturunkannya hujan) dalam kitab-kitab fiqih.</p>
<p>Ada dua pendapat di kalangan ulama <em>fuqaha, </em>tentang hukum menghadirkan kaum non Muslim untuk doa bersama dalam shalat <em>istisqa’. Pertama, </em>menurut mayoritas ulama (madzhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali), tidak dianjurkan dan <em>makruh </em>menghadirkan non-Muslim dalam doa bersama dalam shalat <em>istisqa’. </em>Hanya  saja, seandainya mereka menghadiri acara tersebut dengan inisiatif  sendiri dan tempat mereka tidak berkumpul dengan umat Islam, maka itu  tidak berhak dilarang.</p>
<p><em>Kedua, </em>menurut madzhab Hanafi  dan sebagian pengikut Maliki, bahwa non Muslim tidak boleh dihadirkan  atau hadir sendiri dalam acara doa bersama shalat <em>istisqa’, </em>karena mereka tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa. Doa <em>istisqa’ </em>ditujukan  untuk memohon turunnya rahmat dari Allah, sedangkan rahmat Allah tidak  akan turun kepada mereka. Demikian kesimpulan pendapat ulama <em>fuqaha </em>dalam  kitab-kitab fiqih. Maka, jika doa diharapkan mendatangkan rahmat dari  Allah, sebaiknya didatangkan orang-orang saleh yang dekat kepada Allah,  bukan mendatangkan orang-orang yang yang jauh dari kebenaran.</p>
<p><em>Forum Bahtsul Masail al-Diniyah al-Waqi’iyyah </em>Muktamar NU di PP Lirboyo Kediri, 21-27 November 1999, menyatakan, bahwa “<strong>Doa Bersama Antar Umat Beragama” </strong>hukumnya haram. Diantara dalil yang mendasarinya: Kitab <em>Mughnil  Muhtaj, Juz I hal. 232: “Wa laa yajuuzu an-yuammina ‘alaa du’aa-ihim  kamaa qaalahu ar-Rauyani li-anna du’aal kaafiri ghairul maqbuuli.” </em>(Lebih  jauh, lihat:  Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam:  Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004),  penerbit: <em>Lajtah Ta’lif wan-Nasyr, </em>NU Jatim, cet.ke-3, 2007, hal. 532-534). (Wallahu a’lam).*</p>
<p><em>Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor</em></p>
<p></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.hidayatullah.com/read/20273/18/12/2011/-%E2%80%9Clagi,-umat-islam-dituduh-tidak-toleran%E2%80%9D.html</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2F%25e2%2580%259clagi-umat-islam-dituduh-tidak-toleran%25e2%2580%259d%2F&amp;title=%E2%80%9CLagi%2C%20Umat%20Islam%20Dituduh%20Tidak%20Toleran%E2%80%9D" id="wpa2a_20"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9clagi-umat-islam-dituduh-tidak-toleran%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

