<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ustadz Ridwan Hamidi &#187; Featured</title>
	<atom:link href="http://ustadzridwan.com/category/featured/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzridwan.com</link>
	<description>رضوان حامدي الإندونيسي</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Apr 2012 02:20:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Pers Rilis : MIUMI untuk Indonesia yang beradab</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/pers-rilis-miumi-untuk-indonesia-yang-beradab/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/pers-rilis-miumi-untuk-indonesia-yang-beradab/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2012 02:29:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2255</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Di tengah gegap gempita gerakan politik dan euphoria kebebasan berpendapat di Indonesia akhir-akhir ini telah merubah setting pemikiran umat Islam. Berbagai persoalan keagamaan baik itu aqidah ataupun syariah diselesaikan dengan pertimbangan kuat dari aspek politik atau kepentingan politik internasional sesaat. Terdobraknya pola fikir (manhaj al-fikri) atau metodologi kajian Islam oleh sekluarisme, dalam berbagai bidang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Di tengah gegap gempita gerakan politik dan euphoria kebebasan  berpendapat di Indonesia akhir-akhir ini telah merubah setting pemikiran  umat Islam. Berbagai persoalan keagamaan baik itu aqidah ataupun  syariah diselesaikan dengan pertimbangan kuat dari aspek politik atau  kepentingan politik internasional sesaat.</p>
<p>Terdobraknya pola fikir (manhaj al-fikri) atau metodologi kajian  Islam oleh sekluarisme, dalam berbagai bidang keilmuan Islam, khususnya  disiplin ilmu-ilmu tradisional. Padahal metodologi atau pola fikir dalam  berbagai bidang keilmuan tradisional itulah yang kini menjadi pegangan  para ulama dalam membimbing umat pada saat ini.</p>
<p>Akibatnya, ketika otoritas ulama mulai dipertanyakan, yang terjadi  adalah kesan bahwa fatwa ulama tidaklah mutlak karena masih terdapat  ulama lain yang mempersoalkannya. Jika kemutlakan atau otoritas mulai  dipersoalkan konsekuensi yang muncul adalah relativitas kebenaran fatwa.  Apa yang sejatinya sedang terjadi adalah ghazwul fikri yang intinya   adalah perang framework atau manhaj berfikir. Manhaj yang digunakan  kelompok anti fatwa ini berasal dari framework berfikir Barat yang  diinspirasi oleh metodologi dalam ilmu sosial yang tidak banyak  diketahui oleh para ulama. Sementara mereka yang menentang otoritas  ulama telah faham manhaj berfikir para ulama. Disini para ulama  memerlukan dukungan dari intelektual muda Muslim dalam memperkuat manhaj  berfikir Islam yang dapat merespon tantangan pemikiran.</p>
<p>Selain itu, umat Islam, yang kini kebanyakan telah terpelajar,  memendam banyak persoalan yang memerlukan jawaban segera, serius,  ilmiyah dan tuntas. Namun berbagai persoalan yang muncul itu tidak  selalu mendapat tanggapan cepat dan serius dari para ulama yang tidak  sekedar dalam bentuk fatwa. Umat memerlukan tanggapan yang bisa difahami  secara rasional dalam bentuk tulisan yang lengkap akademik dan dapat  dipertanggung jawabkan. Disini, lagi-lagi terdapat celah tugas yang  harus diemban oleh intelektual muda.</p>
<p>Terlepas dari persoalan keilmuan, terdapat persoalan-persoalan lain  yang dihadapi oleh umat Islam yang bersifat praktis dan memerlukan  solusi praktis pula. Masalah-masalah sosial umat Islam tidak selalu  dapat diselesaikan melalui kajian keilmuan. Banyak masalah yang  memerlukan solusi dalam bentuk gerakan sosial, pendekatan personal dan  juga lobby secara struktural dan kultural dan lain sebagainya. Disini  kearifan generasi tua yang disegani perlu dipersatukan dengan semangat  intelektual muda yang dinanti-nanti.</p>
<p>Itulah sejatinya ruang kosong yang akan diisi oleh intelektual dan  ulama muda yang tergabung dalam Majelis Intelektual dan Ulama Muda  Indonesia (MIUMI).  Hari ini, tepat pada 28 Februari 2012, sejumlah  intelektual dan ulama muda Indonesia mendeklarasikan diri dalam sebuah  organisasi bernama Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).</p>
<p>Mereka,  para intelektual dan ulama muda yang mensepakati berdirinya  MIUMI ini, selain DR. Adian Husaini yaitu, DR. Muchlis M. Hanafi  (Manager Program Pusat Studi Al-Aqur’an Depag), M. Idrus Romli (PWNU  Jember dan Jatim),  Muhammad Zaitun Rasmin. (Wahdah Islamiyah-Makassar),  Nashruddin Syarief, Jeje Zaenuddin (Pemuda Persis), Fahmi Salim (Komisi  Kajian &amp; Penelitian MUI), Ahmad Sarwat (Rumah Fiqih Indonesia),  Farid A. Okbah (Yayasan Al Islam), Fadzlan Garamatan (Yayasan Al-Fatih  Kaaffa Nusantara), Henri Shalahuddin (Peneliti &amp; Sekretaris  Insists), Asep Sobari (Redaksi Majalah Gontor), M. Khudori (Alumnus  Gontor &amp; Univ. Islam Madinah) serta Hamid Fahmi Zarkasyi (Ketua  Insists) yang secara aklamasi ditunjuk sebagai Ketua Majelis Pimpinan  MIUMI, dan Bachtiar Nasir sebagai Sekjend MIUMI.</p>
<p>Menurut M . Idrus Romli,  fungsi majelis MIUMI ini lebih pada aksi,  yang harus menjadi solusi bagi persoalan yang selama ini dihadapi umat  Islam. “Dan tidak akan menajdi problem bagi ormas-ormas Islam yang sudah  ada. Karena memang forum ini telah menjadi wadah bagi seluruh ormas  islam yang ada, khususnya bagi kaum intelektual dan ulama muda. Sama  halnya dengan MUI yang menjadi wadah berbagai ormas Islam yang ada dari  kalangan ulama senior,” tambahnya.</p>
<p>Fadzlan Garamatan, Ustadz kelahiran Papua dan telah mengislamkan  puluhan ribu orang Papua ini menegaskan, bahwa wadah ulama muda ini  harus sungguh-sungguh dan hanya berorientasi pada Allah untuk kemanangan  Islam dan kejayaan umat Islam. “Bukan mementingkan pada kepentingan  kelompoknya masing-masing,” ungkapnya.</p>
<p>Tentang kepentingan kelompok ini, MIUMI akan menjadi organisasi yang  netral. Kenetralan ini yang  menjadikan MIUMI sebagai mediator dan  menjadi organisasi yang menggerakkan kealpaan maupun keterlambatan  organisasi Islam dalam mengeluarkan fatwa. Sebab, MIUMI harus objektif  berjuang demi menegakkan akidah Islam.</p>
<p>Selain lambannya fatwa, MIUMI juga ingin menatakelola masalah yang  berkaitan dengan hari raya besar umat Islam. MIUMI sangat prihatin  dengan kasus Idul Fitri 2011, dimana terdapat 2 (dua) hari yang berbeda  dalam merayakan Idul Fitri. “Peristiwa itu membuat umat bingung,” ujar  Bachtiar Nasir. “Sebetulnya bisa diselesaikan, tetapi karena  masing-masing memiliki ego, sehingga hal itu terjadi”.</p>
<p>Masih tetang kepentingan, bahwa MIUMI tidak akan berafiliasi dengan  organisasi politik manupun, yang mencoba memanfaatkan. Justru menjelang  Pemilu 2014, MIUMI akan mengadvokasi umat yang selama ini dimanfaatkan  oleh elit politik demi kepentingan partai politik maupun ambisi pribadi.</p>
<p>“Di MIUMI tidak ada orang partai agar organisasi kami tidak  tergantung pada parti. Bersama MIUMI, kami akan mendudukkan umat pada  tempatnya. Kami akan mengatakan pada para ulama dan umat, bahwa  berpolitik itu tidak harus masuk ke dalam partai politik. Berdakwah itu  adalah berpolitik. Jangan pecah belah umat lagi. Politik MIUMI adalah  untuk Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ungkap  Bachtiar Nasir lagi.</p>
<p>Selama ini sejumlah intelektual dan ulama tersebut tersebar di dalam  maupun luar negeri, secara individu dan memiliki agenda kegiatan, serta  aktif di berbagai ormas Islam di Indonesia. Padahal mereka memiliki  potensi sangat besar untuk membangun bangsa Indonesia menjadi jauh lebih  baik, terlebih lagi latar belakang keilmuan, keorganisasian, dan  aktivitas mereka yang begitu beragam. Dengan terbentuknya MIUMI,  beberapa aktivis dakwah ini bertekad mengkonstrasikan diri dengan  menyatukan potensi untuk membangun kekuatan bersama. Meski terdiri  berbagai ormas, ke-15 ulama muda pendiri MIUMI ini sepakat untuk tidak  mempertajam perbedaan-perbedaan di tingkat khilafiyah atau zhanniyyah.</p>
<p>“Sudah bersatu saja kita belum tentu mampu menghadapi tantangan yang  begitu kuat, apalagi sendiri-sendiri,” tandas Ustadz Adian Husaini,  Dosen Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor, Jawa Barat.  “Sangat indah, berbagai latar belakang ini bersepakat untuk  bersilaturrahim dengan mengedepankan ukhuwah islamiyah, menyatukan  wawasan, serta mengkonsentrasikan diri pada masalah-masalah besar umat  yang disepakati,” ujar Adian.</p>
<p>Cikal bakal pendirian MIUMI dilakukan di awal tahun 2012. Saat itu,  sejumlah intelektual muda diatas dan ulama muda dari berbagai organisasi  masa (ormas) Islam untuk bersama. Alhamdulillah, tepat pada 3 Januari  2012 lalu, 15 ulama muda berkumpul tepatnya di markas Ar-Rahman Quranic  Learning Center (AQL) yang saat itu berada di jalan Karang Asem Raya no  23, Kuningan, Jakarta Selatan.</p>
<p>Dalam pertemuan tersebut, para pendiri MIUMI meyakini, wadah yang  akan dibentuk dapat memberikan harapan yang besar pada dunia dakwah  Islam di Indonesia. Sebab, mereka sepakat tidak melakukan konfrontasi  atau pertentangan dengan lembaga Islam atau ormas Islam yang sudah ada.</p>
<p>“Kita sepakat untuk memberikan yang terbaik demi membantu ormas-ormas  atau lembaga-lembaga yang sudah ada. Jadi keberadaan kami ini tidak  untuk mempertajam perbedaan yang ada, tetapi kita ingin memberikan  kontribusi yang yang nyata yang dibutuhklan oleh umat,” ungkap Bachtiar  Nasir, pimpinan AQL yang ditunjuk sebagai Sekjend MIUMI.</p>
<p>Ustadz M. Khudori dari Jakarta menambahkan, ormas dan lembaga Islam  di Indonesia sangat banyak, tetapi tidak berwibawa. Setiap lembaga  mengeluarkan fatwa, tapi persoalannya pada rendahnya tingkat penerimaan  atau respon masyarakat terhadap fatwa tersebut.</p>
<p>“Respons kita selama ini terhadap persoalan-persoalan umat tidak  orisinal, karena fatwa tersebut tidak didasari oleh basis penelitian  yang kuat. Sehingga solusi yang kita sodorkan bersifat permukaan,”  tandasnya. “Dengan keberadaan MIUMI ini, dapat berfungsi sebagai  penyalur bahan-bahan observasi berdasarkan penelitian kepada   institusi-institusi yang sudah ada, yang lebih berkompoten mengeluarkan  fatwa. Produk-produk maupun kebijakan majelis ini harus menyentuh  segmentasi yang jelas, yakni pada aplikasi umat di lapangan” tambahnya.</p>
<p>Berkaitan dengan sosialisasi fatwa, ustadz M. Idrus menegaskan sudah  begitu banyak keputusan fatwa yang dikeluarkan oleh ormas Islam dan MUI,  namun sosialisasinya masih terasa kurang efektif. “Insya Allah melalui  forum ini, fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan berbagai ormas, akan dapat  diakses oleh kalangan yang lebih luas dan disosialisasikan lebih merata  di berbagai lapisan kalangan masyarakat,” utadz yang tengah meneliti  pecahnya kasus di Sampang, Madura, baru-baru ini. (*)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.miumipusat.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=26:persrilis&#038;catid=5:tentangm</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fpers-rilis-miumi-untuk-indonesia-yang-beradab%2F&amp;title=Pers%20Rilis%20%3A%20MIUMI%20untuk%20Indonesia%20yang%20beradab" id="wpa2a_2"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/pers-rilis-miumi-untuk-indonesia-yang-beradab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fatwa Pendiri Nahdhatul Ulama</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/fatwa-pendiri-nahdhatul-ulama/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/fatwa-pendiri-nahdhatul-ulama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2012 00:57:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2239</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; Fatwa Pendiri Nahdhatul Ulama Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari (1292-1366 H, 1875-1947 M) Tentang Syi’ah &#160; المقالة الأولى: فصل في بيان تمسك أهل جاوى بمذهب أهل السنة والجماعة، وبيان ابتداء ظهور البدع وانتشارها في أرض جاوى، وبيان أنواع المبتدعين في هذا الزمان. قد كان مسلموا الأقطار الجاوية في الأزمان السالفة الخالية متفقي الآراء [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Fatwa Pendiri Nahdhatul Ulama</strong></p>
<p><strong>Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari (1292-1366 H, 1875-1947 M)</strong></p>
<p><strong>Tentang Syi’ah</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>المقالة الأولى:</strong></p>
<p>فصل  في بيان تمسك أهل جاوى بمذهب أهل السنة والجماعة، وبيان ابتداء  ظهور البدع  وانتشارها في أرض جاوى، وبيان أنواع المبتدعين في هذا الزمان.</p>
<p>قد  كان مسلموا الأقطار الجاوية في الأزمان السالفة الخالية متفقي  الآراء  والمذهب ومتحدي المأخذ والمشرب، فكلهم في الفقه على المذهب النفيس  مذهب  الإمام محمد بن إدريس، وفي أصول الدين على مذهب الإمام أبي الحسن  الأشعري،  وفي التصوف على مذهب الإمام الغزالي والإمام أبي الحسن الشاذلي  رضي الله  عنهم أجمعين.</p>
<p>ثم إنه حدث في عام الف وثلاثمائة وثلاثين أحزاب متنوعة  وآراء متدافعة  وأقوال متضاربة، ورجال متجاذبة، فمنهم سلفيون قائمون على ما  عليه أسلافهم  من التمذهب بالمذهب المعين والتمسك بالكتب المعتبرة  المتداولة، ومحبة أهل  البيت والأولياء والصالحين، والتبرك بهم أحياء  وأمواتا، وزيارة القبور  وتلقين الميت والصدقة عنه واعتقاد الشفاعة ونفع  الدعاء والتوسل وغير  ذلك&#8230;</p>
<p>ومنهم رافضيون يسبون سيدنا أبا بكر وعمر  رضي الله عنهما ويكرهون  الصحابة رضي الله عنهم، ويبالغون هوى سيدنا علي  وأهل بيته رضوان الله  عليهم أجميعن، قال السيد محمد في شرح القاموس: وبعضهم  يرتقي إلى الكفر  والزندقة أعاذنا الله والمسلمين منها. قال القاضي عياض في  الشفا: عن عبد  الله بن مغفل قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (الله  الله في أصحابي  لا تتخذوهم غرضا بعدى فمن أحبهم فبحبي أحبهم ومن أبغضهم  فببغضي أبغضهم ومن  آذاهم فقد آذانى ومن آذانى فقد آذى الله ومن آذى الله  يوشك أن يأخذه)  وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (لا تسبوا أصحابي فمن  سبهم فعليه لعنة  الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه صرفا ولا  عدلا) وقال صلى  الله عليه وسلم (لا تسبوا أصحابي فإنه يجئ قوم في آخر  الزمان يسبون أصحابي  فلا تصلوا عليهم ولا تصلوا معهم ولا تناكحوهم ولا  تجالسوهم وإن مرضوا فلا  تعودوهم) وعنه صلى الله عليه وسلم (من سب أصحابي  فاضربوه) وقد أعلم النبي  صلى الله عليه وسلم أن سبهم وآذاهم يؤذيه وأذى  النبي صلى الله عليه وسلم  حرام فقال (لا تؤذوني في أصحابي ومن آذاهم فقد  آذانى) وقال (لا تؤذوني في  عائشة) وقال في فاطمة (بضعة منى يؤذيني ما  آذاها). اهـ (الشيخ محمد هاشم  أشعري، رسالة أهل السنة والجماعة، ص 9-10).</p>
<p><strong>Maqolah 1:</strong></p>
<p>Pasal  untuk menjelaskan penduduk Jawi  berpegang kepada madzhab Ahlusunnah wal  Jama’ah, dan awal kemunculan  bid’ah dan meluasnya di Jawa, serta  macam-macam ahli bid’ah di zaman  ini.</p>
<p>Umat  Islam yang mendiami wilayah Jawa  sejak zaman dahulu telah bersepakat  dan menyatu dalam pandangan  keagamaannya. Di bidang fikih, mereka  berpegang kepada mazhab Imam  Syafi’I, di bidang ushuluddin berpegang  kepada mazhab Abu Al-Hasan  Al-Asy’ari, dan di bidang tasawuf berpegang  kepada mazhab Abu Hamid  Al-Ghazali dan Abu Al-Hasan Al-Syadzili, semoga  Allah meridhoi mereka  semua.</p>
<p>Kemudian  pada tahun 1330 H muncul  kelompok, pandangan, ucapan dan tokoh-tokoh  yang saling berseberangan  dan beraneka ragam. Di antara mereka adalah  kaum salaf yang memegang  teguh tradisi para tokoh pendahulu mereka  dengan bermazhab dengan satu  mazhab dan kitab-kitab mu’tabar, kecintaan  terhadap Ahlul Bait Nabi,  para wali dan orang-orang salih, selain itu  juga tabarruk dengan mereka  baik ketika masih hidup atau setelah wafat,  ziarah kubur, mentalqin  mayit, bersedekah untuk mayit, meyakini syafaat,  manfaat doa dan  tawassul serta lain sebagainya.</p>
<p>Di  antara mereka juga ada golongan  rofidhoh yang suka mencaci Sayidina Abu  Bakr dan ‘Umar RA., membenci  para sahabat nabi dan berlebihan dalam  mencintai Sayidina ‘Ali dan  anggota keluarganya, semoga Allah meridhoi  mereka semua. Berkata Sayyid  Muhammad dalam <em>Syarah Qamus</em>, sebagian mereka bahkan sampai pada tingkatan kafir dan zindiq, semoga Allah melindungi kita dan umat Islam dari aliran ini.</p>
<p>Berkata Al-Qadhi ‘Iyadh dalam kitab <em>As-Syifa bi Ta’rif Huquq Al-Musthafa</em>, dari Abdillah ibn Mughafal, Rasulullah SAW bersabda: <em>Takutlah   kepada Allah, takutlah kepada Allah mengenai sahabat-sahabatku.   Janganlah kamu menjadikan mereka sebagai sasaran caci-maki sesudah aku   tiada. Barangsiapa mencintai mereka, maka semata-mata karena   mencintaiku. Dan barang siapa membenci mereka, maka berarti semata-mata   karena membenciku. Dan barangsiapa menyakiti mereka berarti dia telah   menyakiti aku, dan barangsiapa menyakiti aku berarti dia telah menyakiti   Allah. Dan barangsiapa telah menyakiti Allah dikhawatirkan Allah akan   menghukumnya</em>. (HR al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi Juz V/hal. 696 hadits No. 3762).</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda, <em>Janganlah kamu mencela para sahabatku,</em><em> </em><em>Maka   siapa yang mencela mereka, atasnya laknat dari Allah, para malaikat  dan  seluruh manusia. Allah Ta’ala tidak akan menerima amal darinya pada   hari kiamat, baik yang wajib maupun yang sunnah</em><em>.</em><em> </em>(HR. Abu Nu’aim, Al-Thabrani dan Al-Hakim)</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda, <em>Janganlah   kamu mencaci para sahabatku, sebab di akhir zaman nanti akan datang   suatu kaum yang mencela para sahabatku, maka jangan kamu menyolati atas   mereka dan shalat bersama mereka, jangan kamu menikahkan mereka dan   jangan duduk-duduk bersama mereka, jika sakit jangan kamu jenguk mereka.</em> Nabi SAW telah kabarkan bahwa mencela dan menyakiti mereka adalah juga menyakiti Nabi, sedangkan menyakiti Nabi haram hukumnya.</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda: <em>Jangan kamu sakiti aku dalam perkara sahabatku, dan siapa yang menyakiti mereka berarti menyakiti aku.</em> Beliau bersabda, <em>Jangan   kamu menyakiti aku dengan cara menyakiti Fatimah. Sebab Fatimah adalah   darah dagingku, apa saja yang menyakitinya berarti telah menyakiti  aku.</em>(Risalat Ahli Sunnah wal Jama’ah, h.9-10)</p>
<p><strong>المقالة الثانية:</strong></p>
<p>وليس  مذهب في هذه الأزمنة المتأخرة بهذه الصفة إلا المذاهب الأربعة،  اللهم إلا  مذهب الإمامية والزيدية وهم أهل البدعة لا يجوز الاعتماد على  أقاويلهم. اهـ  (الشيخ محمد هاشم أشعري، رسالة في تأكد الأخذ بمذاهب الأئمة  الأربعة، ص  29).</p>
<p><strong>Maqolah 2:</strong></p>
<p><em>Bukanlah  yang disebut mazhab pada  masa-masa sekarang ini dengan sifat yang  demikian itu kecuali Mazahib  Arba’ah (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam  Syafi’I dan Imam Ahmad).  Selain dari pada itu, seperti mazhab Syiah  Imamiyah dan Syiah Zaidiyah,  mereka adalah ahul bid’ah yang tidak boleh  berpegang kepada  pandangan-pandangan mereka.</em>(Risalah fi Ta’akkud Al-Akhdzi bi Al-Madzahib Al-Arba’ah, h.29)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>المقالة الثالثة:</strong></p>
<p>أما  أهل السنة فهم أهل التفسير والحديث والفقه، فإنهم المهتدون  المتمسكون بسنة  النبي صلى الله عليه وسلم والخلفاء بعده الراشدين، وهم  الطائفة الناجية،  قالوا وقد اجتمعت اليوم في مذاهب أربعة الحنفيون  والشافعيون والمالكيون  والحنبليون، ومن كان خارجا عن هذه الأربعة في هذا  الزمان فهو من المبتدعة.  اهـ اهـ (الشيخ محمد هاشم أشعري، زيادة تعليقات، ص  24-25).</p>
<p><strong>Maqolah 3:</strong></p>
<p><em>Adapun  Ahlusunnah mereka adalah  para Ahli Tafsir, Hadits dan Fiqih. Sungguh  merekalah yang mendapat  petunjuk dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi  Muhammad SAW dan para  khalifah yang rasyid setelah beliau. Mereka adalah  ‘kelompok yang  selamat’ (thaifah najiyah). Para ulama berkata, pada  saat ini kelompok  yang selamat itu terhimpun dalam mazhab yang empat;  Hanafi, Maliki,  Syafi’I dan Hanbali. Maka siapa saja yang keluar atau di  luar empat  mazhab itu adalah ahlul bid’ah di masa ini.</em> (Ziyadat Ta’liqat,<em> </em>h. 24-25)</p>
<p><strong>المقالة الرابعة</strong></p>
<p>وَاصْدَعْ  بِمَاتُؤْمَرُ لِتَنْقَمِعَ الْبِدَعُ عَنْ اَهْلِ  اْلمَدَرِوَالْحَجَرِ.  قال رسول الله صلى الله عليه وسلم &#8220;اِذَاظَهَرَتِ  الْفِتَنُ اَوِالْبِدَعُ  وسُبَّ اَصْحَابِيْ فَلْيُظْهِرِالْعَالِمُ  عِلْمَهُ فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ  ذَلِكَ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ  وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ  اَجْمَعِيْنَ</p>
<p><em>Sampaikan  secara terang-terangan  apa yang diperintahkan Allah kepadamu, agar  bid’ah-bid’ah terberantas  dari semua orang. Rasulullah SAW bersabda:  “Apabila fitnah-fitnah dan  bid’ah-bid’ah muncul dan sahabat-sahabatku di  caci maki, maka hendaklah  orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barang  siapa tidak berbuat  begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat  Malaikat dan semua  orang.”</em> (Muqadimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama)</p>
<p>*****</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Fatwa Al-Habib Al-Musnid Syekh Salim bin Ahmad bin Jindan</strong></p>
<p><strong>(1324-1389 H, 1906-1969 M)</strong></p>
<p><strong>Tentang Syi’ah dan Rofidhoh</strong></p>
<p><strong>المقالة الأولى:</strong></p>
<p>من  هم الرافضة؟ هم الذين ينتحلون حب أهل البيب وليسوا كذلك ويزعمون  أنهم  أتباع أكابر أهل البيت مثل الحسنين وأبيهما وعلي بن الحسين وزيد بن  علي رضي  الله عنهم وهم يتبرأون من أبي بكر وعمر وعثمان ومعاوية وعمرو بن  العاص  وأنصارهم رضوان الله عليهم أجمعين فيسبونهم. (الراعة الغامضة في نقض  كلام  الرافضة, ص 1)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Siapakah  golongan Rofidhoh itu?  Mereka adalah kaum yang suka mengklaim palsu  kecintaan terhadap ahlul  bait, padahal mereka tidaklah demikian. Mereka  mengaku sebagai pengikut  para tokoh utama ahlul bait seperti Al-Hasan  dan Al-Husain dan ayah  mereka berdua (Sy. ‘Ali bin Abi Thalib), juga  ‘Ali bin Al-Husain  (Zainal Abidin), dan Zaid bin ‘Ali –semoga Allah  meridhoi mereka-,  namun mereka berlepas diri dari Sy. Abu Bakr, Sy.  ‘Umar, Sy. ‘Utsman,  Sy. Mu’awiyah, Sy. ‘Amr bin ‘Ash dan para penolong  mereka, dan mencaci  mereka semuanya.</em>(Kitab Ar-Ra’at Al-Ghamidhoh fi Naqdh Kalam Al-Rafidhoh, hlm. 1)</p>
<p><strong>المقالة الثانية:</strong></p>
<p>واتفق  بجواز لعن شاتمهم في حديث ابن عمر ما رواه الترمذي والخطيب قوله  عليه  السلام: إذا رأيتم الذين يسبون أصحابي فقولوا لعنة الله على شركم  فهذا لا  ريب في ذلك لأن شرار هذه الأمة الذين يسبون أصحاب نبيهم, والسب  والذم على  أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم من سنة الرافضة والشيعة. فهؤلاء  يسميهم أهل  السنة يهود هذه الأمة, بل كانت اليهود خيرا منهم لو سألنا رجلا  يهوديا عن  أصحاب موسى ليقول هؤلاء خيارنا وأحباءنا ولو سألنا النصراني  أيضا عن حواري  عيسى ليقول هؤلاء هم سادتنا وخيارنا ولو سألنا الروافض  والشيعة عن أصحاب  محمد ليقولون إنهم أشرارنا وظالمونا قاتلهم الله أنى  يؤفكون! والحاصل أن  الرافضة وأذنابهم  ثبت في الكتاب والسنة أنهم من أهل  النار مع إثبات الكفر  عليهم والخروج من الدين الإسلامي وإن كانوا يزعمون  أنفسهم مسلمين, أوليست  اليهود والنصارى أنهم مسلمون من أهل الجنة؟؟؟ ولذلك  قال الله تعالى ليس  بأمانيكم ولا أماني أهل الكتاب من يعمل سوءا يجز  به (النساء: 122) وإن كان  مسلما يزعم أنه من أمة محمد صلى الله عليه وسلم  فهو من أهل الفرق الضالة  خارج عن السنة والجماعة وكان من أهل النار  (الراعة الغامضة في نقض كلام  الرافضة, ص 7-8)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Disepakati  akan bolehnya melaknat  orang yang mencerca para sahabat. Di riwayatkan  oleh Ibnu ‘Umar ra.,  sabda Nabi saw: jika kamu melihat orang-orang yang  mencela para  sahabatku maka ucapkanlah laknat Allah atas kejahatan  kalian! (HR.  Tirmidzi dan Al-Khatib). Hal ini tak diragukan lagi sebab  orang-orang  yang mencaci para sahabat nabi adalah seburuk-buruk umat  ini. Cacian  dan cercaan kepada para sahabat nabi saw adalah tradisi kaum  rofidhoh  dan syiah secara umum. Mereka itulah yang dinamakan ‘Yahudi  Islam’,  yaitu kaum yahudi-nya umat ini. Bahkan umat Yahudi lebih baik  daripada  mereka, sebab jika kita tanyakan tentang sahabat nabi Musa,  mereka  jawab, mereka adalah para kekasih orang-orang pilihan kami. Jika  kita  tanyakan orang nasrani tentang para hawari nabi Isa, mereka jawab,   bahwa hawari Isa adalah para pemimpin dan orang terbaik kami. Namun jika   kita tanyakan tentang para sahabat nabi Muhammad saw kepada kaum   rofidhoh dan syiah, mereka jawab, bahwa para sahabat adalah orang-orang   yang jahat dan zalim! Semoga Allah perangi mereka karena ucapan keji   itu. Kesimpulannya, kaum rafidhoh dan para pengekornya (syiah) telah   ditetapkan dalam Qur’an dan Sunnah adalah ahli neraka dengan penetapan   kekufuran atas mereka dan telah keluar dari agama Islam, betapa pun   mereka tetap mengaku muslim. Sebab, bukan kah Yahudi dan Nasrani juga   tetap mengaku muslim (pasrah) kepada Allah, dan mengklaim diri mereka   ahli syurga?! Oleh karena itulah, Allah berfirman: bukan karena   angan-angan kalian dan juga angan-angan ahli kitab, siapa saja yang   mengerjakan keburukan maka ia akan dibalas setimpal (Q.s. An-Nisa: 122).   Dan jika dia tetap kukuh mengaku muslim dari umat Muhammad saw, maka  ia  tergolong pengikut sekte sesat dan telah keluar dari garis sunnah  dan  jama’ah, dan termasuk ahli neraka.</em> (hlm.7-8)</p>
<p><strong>المقالة الثالثة:</strong></p>
<p>فيجب  على كل مسلم مخلص الإيمان عالم بلذة إسلامه وطعم إيمانه أن يؤدي  شكره لأبي  بكر الصديق فضلا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولكن وجدنا  أشرار هذه  الأمة ويهودها يعني الروافض سبوه وطعنوه ورموه بالظلم و حاشا أن  يكون للطيب  صاحب سوء –يعني بالطيب النبي صلى الله عليه وسلم- ولكن  الروافض هم  الكافرون, وحكمنا بالكفر على من سب أحدا من أصحاب محمد صلى  الله عليه وسلم  مثل الخلفاء الراشدين لا يحبهم إلا مؤمن ولا يبغضهم إلا  منافق معاند كافر  ملعون من السبع الأرضين والسموات ألا إن لعنة الله على  الكافرين (الراعة  الغامضة في نقض كلام الرافضة, ص 11)</p>
<p><em>Maka  wajib atas setiap muslim yang  ikhlas dalam imannya, dan merasakan  kelezatan islam dan rasa imannya,  untuk menunaikan rasa terimakasih  kepada Abu Bakr As-Shiddiq, terlebih  lagi kepada Rasulullah saw. Akan  tetapi kita telah dapati seburuk-buruk  umat ini dan yahudinya, yaitu  kaum rafidhoh, telah mencaci dan  mendiskreditkan beliau (Abu Bakr RA)  dan menuduhnya berbuat zalim.  Sungguh mustahil orang yang baik (yaitu  Nabi Muhammad) memiliki teman  yang jahat, namun kaum rofidhoh itulah  orang kafir, dan kami telah  memvonis kekufuran atas siapa saja yang  mencaci salah seorang sahabat  Nabi Muhammad saw, seperti Khulafa’  Rasyidin. Hanya orang mukminlah  yang mencintai mereka, dan hanya orang  munafik, keras kepala, dan kafir  lah yang membenci mereka. Orang itu  dikutuk dari tujuh lapis bumi dan  tujuh lapis langit, ingatlah bahwa  laknat Allah atas orang-orang kafir!</em> (hlm. 11)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.miumipusat.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=6:fatwa-pendiri-nadhatul-ulama-tentang-syiah&#038;catid=1:fatwa&#038;Itemid=3</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Ffatwa-pendiri-nahdhatul-ulama%2F&amp;title=Fatwa%20Pendiri%20Nahdhatul%20Ulama" id="wpa2a_4"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/fatwa-pendiri-nahdhatul-ulama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Deklarasi MIUMI</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/deklarasi-miumi/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/deklarasi-miumi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Feb 2012 04:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2234</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Alhamdulillah, pada Selasa (28/02) kemarin Majelis Intelektual dan Ulama Indonesia (MIUMI) dideklarasikan. Acara deklarasi yang berlangsung di Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat ini dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional, antara lain Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Din Syamsuddin, Ketua Mahkamah Konstitutsi Prof. Mahfud MD, dan Wkail Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjayanto. MIUMI didirikan atas inisiatif [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Alhamdulillah, pada Selasa (28/02) kemarin Majelis Intelektual dan  Ulama Indonesia (MIUMI) dideklarasikan. Acara deklarasi yang berlangsung  di Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat ini dihadiri oleh tokoh-tokoh  nasional, antara lain Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Din Syamsuddin,  Ketua Mahkamah Konstitutsi Prof. Mahfud MD, dan Wkail Ketua Komisi  Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjayanto.</p>
<p>MIUMI didirikan atas inisiatif beberapa aktifis dakwah dan pemikiran  Islam, sebagai wadah perhimpunan dan silaturahim para intelektual dan  ulama muda dari berbagai ormas Islam yang ingin berbakti untuk membangun  peradaban Indonesia yang lebih beradab, di atas pilar ilmu yang kokoh  dan otoritas keulamaan yang kuat mengakar.</p>
<p>MIUMI bersinergi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan semua ormas  Islam di tanah air sebagai penguat dan pemersatu suara kebenaran, dan  diharapkan mampu mensosialisasikan fatwa-fatwa MUI dengan data yang  shahih sesuai dengan kaidah hukum Islam ke seluruh lapisan masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.miumipusat.org/</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fdeklarasi-miumi%2F&amp;title=Deklarasi%20MIUMI" id="wpa2a_6"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/deklarasi-miumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biografi Ali bin Al Husen Zainal Abidin (wafat tahun 93H)</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/biografi-ali-bin-al-husen-zainal-abidin-wafat-tahun-93h/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/biografi-ali-bin-al-husen-zainal-abidin-wafat-tahun-93h/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 17:30:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2201</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Nama sebenarnya adalah Ali bin al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, neneknya adalah Fatimah az-zahra binti Rasulillah, terkadang ia disebut dengan Nama Abu Husein atau Abu Muhammad, sedangkan nama panggilannya adalah Zainal Abidin dan As-Sajad, karena banyak melakukan shalat di malam hari dan di siang hari. Perjalanan Hidupnya Diriwayatkan bahwa Ia menerima beberapa orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Nama sebenarnya adalah Ali bin al-Husein bin Ali bin  Abi Thalib, neneknya adalah Fatimah az-zahra binti Rasulillah, terkadang  ia disebut dengan Nama Abu Husein atau Abu Muhammad, sedangkan nama  panggilannya adalah Zainal Abidin dan As-Sajad, karena banyak melakukan  shalat di malam hari dan di siang hari.</p>
<p><strong>Perjalanan Hidupnya</strong></p>
<p>Diriwayatkan bahwa Ia menerima beberapa orang  tamu dari Irak, lalu membicarakan Abu Bakar, Umar dan Utsman tentang  sesuatu yang buruk terhadapnya, dan ketika mereka selesai bicara, maka  ia berkata,”Apakah kalian termasuk kaum muhajirin yang di dalam Alquran  surat al-Hasyr: 8 yang menegaskan ‘Mereka yang diusir dari kampung  halaman dan dipaksa meninggalkan harta benda mereka, hanya karena mereka  ingin memperoleh karunia Allah dan keridhaan-Nya?”’ Mereka menjawab,  ”Bukan…!”</p>
<p>”Apakah kalian termasuk kaum Anshar yang  dinyatakan dalam Alquran surat al-Hasyr 97 : ‘Mereka yang tinggal di  Madinah dan telah beriman kepada Allah sebelum kedatangan kaum  Muhajirin. Mereka itu mencintai dan bersikap kasih sayang kepada  orang-orang yang datang berhijrah kepada mereka, dan mereka tidak  mempunyai pamrih apa pun dalam memberikan bantuan kepada kaum Muhajirin.  Bahkan mereka lebih mengutamakan orang-orang yang hijrah daripada diri  mereka sendiri, kendatipun mereka berada dalam kesusahan?”’ ”Bukan…!”</p>
<p>Kalau begitu berati kalian menolak untuk  tidak termasuk ke dalam salah satu dari kedua golongan tersebut.  Selanjutnya ia berkata” Aku bersaksi bahwa kalian bukanlah orang yang  dimaksud dalam firman Allah Ta’ala, “<em>”Ya Tuhan kami, beri ampunlah  kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami,  dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap  orang-orang yang beriman.”</em> (Qs. Al Hasyr:10). Maka keluarlah kalian dari rumahku, niscaya Allah murka kepada kalian”.</p>
<p>Ali bin al Husein Zainal ‘Abidin dianggap  sebagai ulama yang paling masyhur di Madinah dan pemimpin ulama tabi’in  di sana. Hal ini keterangan yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah,  dan yang diriwayatkan Ibnu Abbas.</p>
<p>Kurang lebih 30 tahun Zainal Abidin bergiat  mengajar berbagai cabang ilmu agama Islam di Masjid Nabawi di Madinah.  Sikap tidak berpihak pada kelompok mana pun tersebut mengundang simpati  dari semua kelompok yang bertikai. Zainal Abidin disegani oleh segenap  kaum Muslimin baik kawan maupun lawan.</p>
<p>Pada zamannya, Zainal Abidin diakui  masyarakat Muslimin sebagai ulama puncak dan kharismatik. Ia sangat  dihormati, disegani, dan diindahkan nasihat-nasihatnya. Kenyataan itu  tidak hanya karena kedalaman ilmu pengetahuan agamanya, tidak pula  karena satu-satunya pria keturunan Rasulullah, tetapi juga karena  kemuliaan akhlak dan ketinggian budi pekertinya.</p>
<p>Salah seorang Putera ‘Amar bin Yasir  meriwayatkan bahwa: pada suatu hari Ali bin Husein kedatangan suatu  kaum, lalu beliau menyuruh pembantunya untuk membuatkan daging panggang,  Kemudian pembantu itu dengan terburu buru sehingga besi untuk membakar  daging terjatuh mengenai kepala anak Ali bin Husein yang masih kecil  sehingga anak tersebut meninggal. Maka Ali berkata kepada pembantunya,’  kamu kepanasan, sehingga besi itu jatuh’. Setelah itu beliau sendiri  mempersiapkan untuk memakamkan anaknya.”. Menunjukan kesabaran dan  kepasrahan beliau, dimana seorang pembantu telah menyebabkan kematian  anaknya. sehingga ia membalas kejelekan dengan suatu kebaikan.</p>
<p>Sebuah keterangan yang diriwayatkan oleh  Hisyam bin Abdul Malik ketika ia sedang menunaikan ibadah haji sebelum  diangkat menjadi Khalifah, ia berusaha untuk mencium hajar aswad tetapi  ia tidak mampu melakukannya, kemudian datang Ali bin Husein hendak  mencium hajar aswad juga sehingga orang orang disekitarnya menyingkir  dan berhenti lalu beliau menciumnya. Kemudian orang orang bertanya  kepada Hisyam siapa orang itu?, dia menjawab aku tidak mengenalnya. Maka  seseorang berkata” Aku mengenalnya, dia adalah Ali bin al Husein.</p>
<p>Para ulama sepakat bahwa Ali bin al Husein  ini anak paling kecil dari Husein yang selamat, sedangkan kakak-kakaknya  dan kedua orang tuanya terbunuh sebagai syuhada. Zainal Abidin kecil  selamat dari pembunuhan keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam, ketika itu ia sedang terlentang di atas tempat tidur karena  sakit, sehingga keadaanya luput dari pembunuhan, saat itu usianya 23  tahun. Allah melindungi dan menyelamatkannya.</p>
<p>Ia wafat pada tahun 74 H di Madinah dalam  usia 58 tahun dan dimakamkan di Baqi. Riwayat lain dikatakan ia wafat  pada tahun 93 H dalam usia 57 tahun.</p>
<p><strong>Sumber </strong>:  Biografi Ali bin Husein  dalam kitab Al ‘ilmu wa al Ulama Karya Abu Bakar al Jazairy. Penerbit  Daar al Kutub as Salafiyyah. Cairo. ditulis tanggal 5 Rab’ul Awal di  Madinah al Nabawiyah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihattokoh&#038;id=192</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fbiografi-ali-bin-al-husen-zainal-abidin-wafat-tahun-93h%2F&amp;title=Biografi%20Ali%20bin%20Al%20Husen%20Zainal%20Abidin%20%28wafat%20tahun%2093H%29" id="wpa2a_8"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/biografi-ali-bin-al-husen-zainal-abidin-wafat-tahun-93h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menagih Janji Kaum Syiah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/menagih-janji-kaum-syiah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/menagih-janji-kaum-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 17:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2204</guid>
		<description><![CDATA[Menagih Janji Kaum Syiah &#160; Pada hari Kamis, 19 Januari 2012, Jurnal Islamia-Republika, (hal. 23-26) – Jurnal Pemikiran Islam bulanan hasil kerjasama antara INSISTS dan Harian Republika &#8212; menurunkan kajian utama tentang Syiah di Indonesia. Artikel saya yang dimuat di Jurnal tersebut berjudul “Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah”.&#160; Esoknya, Jumat, 20 Januari 2012, Kajian Islamia-Republika itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Menagih Janji Kaum Syiah</h1>
<p>&nbsp;</p>
<div><span>Pada hari Kamis, 19 Januari 2012, <em>Jurnal Islamia-Republika, </em>(hal.   23-26) – Jurnal Pemikiran Islam bulanan hasil kerjasama antara INSISTS   dan Harian Republika &#8212; menurunkan kajian utama tentang Syiah di   Indonesia. Artikel saya yang dimuat di Jurnal tersebut berjudul “<em>Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah”.&nbsp;</p>
<p></em><em> </em>Esoknya, Jumat, 20 Januari 2012, <em>Kajian Islamia-Republika </em>itu   mendapatkan tanggapan dari Haidar Bagir, Dirut Penerbit Mizan – yang   dikenal sebagai salah satu penerbit buku Syiah di Indonesia. Artikel   Haidar di Harian Republika itu diberi judul “<em>Syiah dan Kerukunan Umat.” </em>Dalam artikelnya, Haidar Bagir menulis, bahwa dia setuju dengan solusi damai yang saya tawarkan:  <em>“Jika   kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya  mereka  menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah  Indonesia  menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa  berdampak buruk  bagi masa depan negeri Muslim ini…. Itulah jalan damai  untuk  Muslim  Sunni dan kelompok Syiah.</em>”</p>
<p>Menurut Haidar  Bagir, dia pernah  bertemu secara pribadi dengan Syaikh Ali Taskhiri,  seorang ulama  terkemuka di Iran, salah satu pembantu terdekat Wali  Faqih Ayatullah Ali  Khamenei, serta wakil <em>Dar al-Taqrib bayn al-Madzahib </em>(Perkumpulan Pendekatan antar-Mazhab), yang dengan tegas menyatakan: “<em>hendaknya kaum Syiah di Indonesia meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum muslim di Indonesia.”<br />
</em><br />
<span>Haidar Bagir juga menyampaikan imbauan di ujung artikelnya: “<em>Khusus   untuk orang-orang yang pandangannya didengar oleh para pengikut Syiah   di negeri ini, hendaknya mereka meyakinkan para pengikutnya untuk dapat   membawa diri dengan sebaik-baiknya serta mengutamakan persaudaraan dan   toleransi terhadap saudara-saudaranya yang merupakan mayoritas di  negeri  ini.”</em></span></p>
<p><em> </em><em> </em>Dalam soal sikap terhadap para sahabat Nabi  Muhammad  Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) &#8212; yang  menjadi  langganan caci-maki kaum Syiah, Hadiar Bagir juga menulis:<span><em>“Sementara  itu, banyak ulama Syiah  Imamiyah atau Itsna ’Asyariyah yang telah  merevisi pandangannya tentang  ini. Hasil konferensi Majma’ Ahl al-Bayt  di London pada 1995, mi sal  nya, dengan tegas menyatakan menerima  keabsahan kekhalifah an tiga  khalifah terdahulu sebelum Khalifah Ali.<br />
</em></span></p>
<p><em>Bahkan,  terkait dengan skandal  pengutukan sahabat besar dan sebagian istri  Nabi yang dilakukan oleh  oknum Syiah yang tinggal di Inggris, bernama  Yasir al-Habib, Ayatullah  Sayid Ali Khamenei sendiri mengeluarkan fatwa  yang dengan tegas melarang  penghinaan terhadap orang-orang yang  dihormati oleh para pemeluk </em><em>Ahlus Sunnah (fatwa ini tersebar dan dapat dengan mudah diakses dari berbagai sumber). Di antara isinya adalah, </em></p>
<p><em>“Diharamkan  menghina  figur-figur/tokoh-tokoh (yang diagungkan) saudara-saudara  seagama kita,  Ahlus-Sunnah, termasuk tuduhan terhadap istri Nabi  Shalallaahu &#8216;Alaihi  Wasallam (صلى الله عليه و سلم)dengan hal-hal yang  mencederai kehormatan  mereka &#8230;”</em></p>
<p><em> </em><em> </em></p>
<p>Benarkah?</p>
<p>Jadi,  sesuai artikel  Haidar Bagir di Republika tersebut,  ada dua hal pokok  yang harus  dilakukan oleh kaum Syiah untuk solusi damai bagi Ahlu  Sunnah dan Syiah  di Indonesia, yaitu (1) menghentikan caci maki  terhadap sahabat-sahabat  dan istri-istri  Nabi saw dan (2) menghentikan  ambisi untuk  meng-Syiahkan Indonesia, seperti ditegaskan oleh seorang  ulama Syiah  yang dijumpai Haidar Bagir: “hendaknya kaum Syiah di  Indonesia  meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum  muslim di  Indonesia.”</p>
<p>Apakah janji yang  disampaikan Haidar Bagir  tersebut bisa dipenuhi kaum Syiah? Tampaknya,  itu tidaklah mudah.  Seperti disebutkan dalam CAP-323 lalu, sejumlah  fakta di lapangan  menunjukkan banyaknya penerbitan Syiah di Indonesia  yang masih mengumbar  caci-maki dan fitnah terhadap para sahabat dan  istri-istri Nabi  Muhammad saw. Bahkan, salah satu buku terkenal yang  mencaci-maki dan  menfitnah sahabat dan istri Nabi Muhammad saw adalah  buku terbitan  Mizan, pimpinan Haidar Bagir sendiri, yang berjudul  <em>“Dialog Sunnah – Syiah” </em>karya  Syarafuddin al Musawi, (Bandung: Mizan (cetakan pertama, 1983).</p>
<p>Buku  ini diklaim penulisnya sebagai  kumpulan surat menyurat antara penulis  dengan Syaikh Salim al-Bisyri  al-Maliki, yang saat itu menjabat Rektor  al Azhar, Mesir. Di dalamnya  banyak berisi dialog yang menjelaskan  antara lain: Kewajiban berpegang  pada madzhab Ahlul Bait, adanya wasiat  Nabi saw untuk Ali bin Abi Thalib  r.a. sebagai penggantinya, para  sahabat tidak ma’shum (infallible) dari  dosa dan kesalahan yang  berimplikasi ketidakpercayaan periwayatan dari  mereka, dan bahasan lain  yang mendukung pemahaman Syiah.</p>
<p>Di buku  ini, juga ditulis berbagai tuduhan  bahwa Aisyah r.a. telah berbohong  karena menceritakan Nabi Muhammad saw  meninggal di pangkuannya,  sehingga didoakan oleh penulisnya,   mudah-mudahan Allah memberikan  ampunan untuk Aisyah r.a.</p>
<p><em>“Oh….,  semoga Allah  mengaruniakan ampunan-Nya bagi Ummul Mu’minin! Mengapa  ia, ketika  menggeser keutamaan ini dari Ali, tidak mengalihkannya  kepada pribadi  ayahnya saja! Bukankah yang demikian itu lebih utama dan  lebih layak  bagi kedudukan Nabi saw daripada apa yang didakwahkannya?  Namun sayang  ….., ayahnya – waktu itu – bertugas sebagai anggota  pasukan di bawah  pimpinan Usamah bin Zaid, yang persiapannya telah  diatur dan ditetapkan  sendiri oleh Rasulullah Shalallaahu &#8216;Alaihi  Wasallam (صلى الله عليه و  سلم) ; dan pada saat itu sedang berhenti dan  berkumpul di sebuah desa  bernama Juruf!” (hal. 353).</em></p>
<p><em> </em><em> </em></p>
<p>Di  buku ini juga dimuat cerita tentang  provokasi Aisyah terhadap khalayak  dengan  memerintahkan mereka agar  membunuh Utsman bin Affan: “<em>Bunuhlah Na’tsal, karena ia sudah menjadi kafir!” </em>(Catatan:   Na’tsal adalah orang tua yang pandir dan bodoh). (hal. 357). Di  halaman  yang sama, dimuat satu syair yang mengecam Aisyah r.a.:</p>
<p><em>“Engkau yang memulai, engkau yang merusak<br />
Angin dan hujan (kekacauan)<br />
Semuanya berasal darimu<br />
Engkau yang memerintahkan<br />
Pembunuhan atas diri sang Imam<br />
Engkau yang mengatakan<br />
Kini dia sudah kafir.”<br />
</em><br />
(NB.   Berbagai cercaan terhadap Aisyah r.a. tersebut saya kutip dari buku    Dialog Sunnah-Syiah, edisi Oktober 2008. Jadi, sejak 1983 buku ini terus   dicetak oleh Penerbit Mizan – yang Dirutnya adalah Haidar Bagir –   sampai tahun 2008. Saya tidak tahu, apakah masih ada edisi buku tersebut   setelah 2008).</p>
<p>Itulah sebagian isi buku <em>“Dialog Sunnah-Syiah” </em>terbitan Mizan. Pokok-pokok bahasan di dalam buku “<em>Dialog Sunnah-Syiah” </em>tersebut telah dijelaskan kekeliruannya oleh Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus dalam karyanya <em>Ensiklopedi Sunnah Syiah, Studi Perbandingan Aqidah dan Tafsir, </em>yang   diterbitkan Pustaka Al Kautsar (Jakarta, 1997). Buku ini diberi kata   pengantar oleh Dr. Hidayat Nurwahid, yang juga dikenal sebagai pakar   tentang Syiah lulusan  Universitas Islam Madinah. Dalam pengantarnya,   Hidayat Nurwahid memuji keseriusan Prof. as-Salus yang berhasil   menunjukkan, bahwa buku karya al-Musawi, yang aslinya berjudul   al-Muraja’at,  hanyalah karangan al-Musawi belaka. Alias, dialognya   adalah fiktif belaka.</p>
<p>Bahkan, Prof.  as-Salus menulis: “Tetapi  al-Musawi, seorang Syiah Rafidhah yang  terkutuk ini, tanpa rasa sungkan  dan malu ingin menjadikan seorang  Syaikh al-Azhar yang kapabel dan  kredibel sebagai murid kecil dan bodoh  yang menerima ilmu pertama kali  dari dia.” (hal. 249).</p>
<p>Kaum  Muslim yang mencintai Nabi Muhammad  Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى  الله عليه و سلم), para sahabat beliau  yang mulia, dan juga istri-istri  beliau yang herhormat, pasti tidak  ridho jika orang-orang yang mulia  tersebut dihina, difitnah dan  dilecehkan. Kita pun tidak rela jika  orang yang kita hormati dan sayangi  diperhinakan. Bagaimana jika yang  dihina dan difitnah adalah para  sahabat dan istri Nabi Muhammad  Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله  عليه و سلم)? Nabi Shalallaahu  &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  bersabda: <em>“Tidak beriman  salah seorang  diantara kalian, hingga  diriku lebih dicintainya  daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh  manusia.” </em>(HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Cerita  bahwa Aisyah r.a. memerintahkan  pembunuhan terhadap Utsman bin Affan  adalah tuduhan keji dan dusta.  Aisyah sendiri pernah dikonfirmasi  tentang adanya surat atas nama Aisyah  di Medir yang memerintahkan  pembunuhan terhadap Utsman bin Affan r.a.   Beliau bersumpah, bahwa  beliau tidak pernah menulis surat seperti itu.  Banyak riwayat dari  Aisyah r.a. yang sudah mengklarifikasi masalah ini.  Anehnya,  orang-orang Syiah tidak mau tahu, dan selalu mengutip  cerita-cerita  bohong tersebut. (Lihat, Tarikh Khalifah bin Khayyath,  hal. 176 &amp;  Tarikh al-Madinah, Ibn Syabbah 4:1224. Semuanya ada dalam  Tahqiq  Mawaqif al-Shahabah fil-Fitnah, karya Dr. Mahmud Umahzun, Dar  Thayba,  Riyadh, cet. I,  1994, vol.2/29-30. Data: Buku Fitnah Maqtal  Utsman,  karya Dr. Mhmmad al-Ghabban, Maktabah Obeikan, Riyadh, cet. I,  1999).</p>
<p>Jika  Aisyah dinistakan dan difitnah, kaum  Muslim tentu sangat tidak ridha.  Ummul mukminin, Aisyah r.a. sangat  dicintai kaum Muslimin. Beliau  adalah istri Nabi yang mulia. Nabi  Muhammad saw wafat di pangkuan  Aisyah dan dikuburkan di rumah Aisyah  pula. Aisyah r.a. adalah ulama  wanita yang meriwayatkan 2210 hadits.  Dari jumlah itu, 286 hadits  tercantum dalam shahih Bukhari dan Muslim.  Ada sekitar 150 ulama  Tabi’in yang menimba ilmu dari Aisyah. (Lihat,  K.H. Ubaidillah Saiful  Akhyar Lc, Aisyah, <em>The Inspiring Woman,</em> (Yogyakarta: Madania, 2010).</p>
<p>Kasus buku <em>Dialog Sunnah-Syiah </em>terbitan   Mizan ini menjadi bukti nyata, bahwa ajakan Haidar Bagir untuk   kerukunan Sunnah-Syiah masih perlu dipertanyakan. Bukankah buku yang   mencaci maki sahabat-sahabat dan istri Nabi tersebut sudah diterbitkan   oleh Penerbit Mizan selama hampir 30 tahun?</p>
<p>Jalan Damai: Mungkinkah?</p>
<p>Menyimak   berbagai penerbitan kaum Syiah – termasuk terbitan Mizan – patut   dipertanyakan, mungkinkah jalan damai Sunnah-Syiah itu bisa diwujudkan?   Mungkinkah kaum Syiah memenuhi imbauan dari sebagian tokoh mereka: agar   tidak berambisi men-Syiahkan Indonesia dan menghentikan caci maki   terhadap sahabat dan istri Nabi Muhammad Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam   (صلى الله عليه و سلم)?</p>
<p>Memang itu tidak  mudah. Sebab, tampak dalam  berbagai penerbitan mereka, kebencian  terhadap Abu Bakar, Umar, dan  Utsman, radhiyallaaahu ‘anhum, sudah  begitu mendarah daging.  Sikap  Syiah terhadap para sahabat Nabi itu  sangat berbeda dengan sikap kaum  Sunni yang menghormati semua sahabat,  apalagi KhulafaaurRasyidin,  termasuk Sayyidina Ali r.a.</p>
<p>Saya  mendapat satu brosur doa berjudul  “Ziarah Asyura”, terdiri atas enam  halaman. Disamping berisi doa-doa  untuk para Nabi Muhammad saw dan  keluarganya,  doa ini diwarnai dengan  kutukan dan laknat terhadap  berbagai orang. Misalnya, di halaman 5,  ditulis doa laknat:  “Allahummal-‘an awwala dhaalimin dhalama haqqa  Muhammadin wa-Aali  Muhammadin…”. (Ya Allah, laknatlah orang-orang zalim  yang awal-awal,  yang menzalimi hak Nabi Muhammad dan keluarganya…”).</p>
<p>Doa  ini diakhiri dengan kutipan perkataan  Imam Muhammad Al-Baqir as., yang  berkata kepada Alqamah: “Jika engkau  mampu berziarah kepada beliau  (Imam Husein as.) setiap hari dengan  membaca doa ziarah ini (<strong>ziarah Asyura</strong>) di rumahmu, maka lakukanlah itu dan engkau akan mendapatkan semua pahala (berziarah).”</p>
<p>Itulah petikan doa “<strong>Ziarah Asyuro</strong>”   yang diedarkan di Indonesia. Siapakah yang dimaksud dengan  “orang-orang  zalim”  yang disebutkan telah menzalimi hak Nabi dan  keluarga Nabi?   Apakah mereka Abu Bakar, Umar bi Khathab, Utsman bin  Affan, Aisyah r.a.,  dan sebagainya?  Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus,  dalam buku yang  disebutkan terdahulu, telah mengklarifikasi masalah  ini, dengan  menunjukkan adanya riwayat dari Imam Zaid bin Hasan bin Ali  bin Husain  Radhiyallaahu ‘anhum, bahwa dia membenarkan apa yang  dilakukan Abu Bakar  r.a. terhadap Fathimah dalam soal waris keluarga  Nabi.  <em>“Jika saya pada posisinya (Abu Bakar) niscaya saya akan menetapkan hukum seperti yang ditetapkannya,</em>”  kata Imam Zaid. Diriwayatkan juga dari saudara Imam Zaid, yaitu al-Baqir, bahwa dia pernah ditanya, “<em>Apakah   Abu Bakar dan Umar menzalimi sesuatu dari hak kalian?” Ia menjawab,   “Tidak, demi Dzat yang menurunkan al-Quran kepada hamba-Nya agar menjadi   peringatan bagi alam semesta, sungguh kami tidak dizalimi dari hak  kami  meskipun seberat biji sawi.” </em>(as-Salus, hal. 297).</p>
<p>Jika  dicermati, polemik Ahlu Sunnah dan  Syiah itu sudah berlangsung lebih  dari 1.000 tahun. Apakah hal seperti  ini yang diinginkan oleh kaum  Syiah di Indonesia, dengan terus-menerus  menebarkan kebencian kepada  Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin  Affan, Aisyah r.a.? Sampai  kapan caci-maki semacam ini akan diakhiri?  Karena itu, saya ingin  mengakhiri CAP ini dengan ungkapan sama seperti  dalam artikel di <em>Jurnal Islamia-Republika </em>(19/1/2012):<em> “Jika kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya   mereka menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah   Indonesia menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa   berdampak buruk bagi masa depan negeri Muslim ini. Masih banyak lahan   dakwah di muka bumi ini – jika hendak di-Syiahkan.  Itulah jalan damai   untuk  Muslim Sunni dan kelompok Syiah. Kecuali, jika kaum Syiah melihat   Muslim Sunni adalah aliran sesat yang wajib di-Syiahkan!<br />
</em></p>
<p>Kita  tunggu realisasi janji kaum Syiah  untuk tidak men-Syiahkan Indonesia  dan menghentikan caci-maki kepada  para sahabat dan istri-istri Nabi  Muhammad Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam  (صلى الله عليه و سلم)! (Walahu  a’lam bil-shawab).*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://insistnet.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=301%3Amenagih-janji-kaum-syiah&#038;catid=1%3Aadian-husaini&#038;Itemid=15</p>
<p>&nbsp;</p>
<p></span></div>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fmenagih-janji-kaum-syiah%2F&amp;title=Menagih%20Janji%20Kaum%20Syiah" id="wpa2a_10"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/menagih-janji-kaum-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenali Sindrom Pohon Natal</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/kenali-sindrom-pohon-natal/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/kenali-sindrom-pohon-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 15:12:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2157</guid>
		<description><![CDATA[Kenali Sindrom Pohon Natal &#160; Berdasarkan penelitan terbaru, pohon Natal bisa dipersalahkan atas sejumlah keluhan gangguan kesehatan, begitu dilansir The Telegraph (18/12/2011). Dekorasi utama selama perayaan Natal itu dituding menjadi pemicu munculnya sejumlah keluhan sakit, mulai dari mengi (sesak napas/bengek), batuk, kelelahan dan insomnia. Kondisi &#8220;Sindrom pohon Natal&#8217; tersebut disebabkan oleh cendawan yang tumbuh di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/12/Pohon-Natal-Sindrom.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2158" title="Pohon Natal Sindrom" src="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/12/Pohon-Natal-Sindrom-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Kenali Sindrom Pohon Natal</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span>Berdasarkan penelitan terbaru, pohon Natal bisa dipersalahkan atas sejumlah keluhan gangguan kesehatan, begitu dilansir <em>The Telegraph</em> (18/12/2011).</span></p>
<p>Dekorasi utama selama perayaan Natal itu dituding menjadi pemicu   munculnya sejumlah keluhan sakit, mulai dari mengi (sesak napas/bengek),   batuk, kelelahan dan insomnia.</p>
<p>Kondisi &#8220;Sindrom pohon Natal&#8217;  tersebut disebabkan oleh cendawan yang  tumbuh di pohon-pohon Natal, di  mana sporanya terhirup masuk ke dalam  tubuh saat orang bernapas.</p>
<p>Sindrom itu ditemukan oleh ilmuwan dari Upstate Medical University,   bagian dari Universitas Negeri New York, yang melakukan penelitian   setelah mencermati adanya peningkatan sakit pernapasan beberapa pekan   sebelum dan sesudah tanggal 25 Desember.</p>
<p>Tim peneliti mengumpulkan potongan dari 28 pohon Natal termasuk <em>needle</em> (pinophyta tumbuhan berdaun jarum, cemara) beserta kulit batangnya dari berbagai jenis, dan mereka menemukan 53 cendawan.</p>
<p>Dari cendawan-cendawan itu, sebanyak 70 persennya dapat menyebabkan   hidung gatal, mata berair, batuk, napas pendek, dada sakit, hidung   tersumbat, merasa lelah dan gangguan tidur.</p>
<p>Beberapa cendawan  yang berhasil diidentifikasi bahkan dapat menyebabkan  gangguan  paru-paru dalam jangka panjang, bronkhitis dan pneumonia.</p>
<p>Cendawan itu secara alami tumbuh di jenis tanaman yang biasa dijadikan  dekorasi pohon Natal. Dan dapat tetap tumbuh di udara hangat di dalam  rumah.</p>
<p>Pada artikel yang ditulis tim peneliti dalam <em>Annals of Allergy, Asthma and Immunology,</em> juga dilaporkan tentang kajian lain yang menemukan bahwa setelah pohon   Natal dipajang selama dua pekan, jumlah spora cendawan di udara   bertambah dari 800 per 35 kaki kubik menjadi 5.000.</p>
<p>Pemimpin  penelitian itu, Dr. Lawrence Kurlandsky, mengatakan bahwa ia  merawat  pasien-pasien di mana jelas terdapat hubungan antara penyakit  dengan  pohon-pohon Natal mereka.</p>
<p>&#8220;Saya punya pasien di mana terdapat hubungan antara penyakit dan keberadaan pohon Natal yang sangat jelas,&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Saya jelaskan bahwa ada tempat-tempat yang lebih bagus untuk melewati   malam Natal daripada pergi ke dokter, dan mungkin tidak usah pasang   pohon atau pasang yang palsu saja,&#8221; kata Kurlandsky.</p>
<p>Jika orang  bersikeras mau pasang pohon itu, Kurlandsky menyarankan agar   dibersihkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam rumah dan   cepat-cepat disingkirkan begitu hari Natal lewat.*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://hidayatullah.com/read/20417/28/12/2011/hidayatullah.com</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fkenali-sindrom-pohon-natal%2F&amp;title=Kenali%20Sindrom%20Pohon%20Natal" id="wpa2a_12"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/kenali-sindrom-pohon-natal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Lagi, Umat Islam Dituduh Tidak Toleran”</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9clagi-umat-islam-dituduh-tidak-toleran%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9clagi-umat-islam-dituduh-tidak-toleran%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 12:21:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2136</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Ahad, 18 Desember 2011 oleh: Dr. Adian Husaini SEJAK Perang Dingin berakhir, banyak kalangan di Barat yang berperilaku seperti yang disarankan Samuel Huntington: agar mewaspadai Islam!  Sebab, kata Huntington, dalam buku terkenalnya, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, Islam adalah satu-satunya peradaban yang pernah menaklukkan Barat. (Islam is the only [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><span> Ahad, 18 Desember 2011<br />
</span> <span> </span></p>
<p><span>oleh: <strong>Dr. Adian Husaini</strong></p>
<p>SEJAK  Perang Dingin berakhir, banyak kalangan di Barat yang berperilaku  seperti yang disarankan Samuel Huntington: agar mewaspadai Islam!   Sebab, kata Huntington, dalam buku terkenalnya, <em>The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, </em>Islam adalah satu-satunya peradaban yang pernah menaklukkan Barat. (<em>Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and it has done at least twice). </em>(Huntington, The Clash of Civilization …  1996: 209-210.</p>
<p>Islam  dan umat Islam kemudian menjadi objek studi yang sangat menjanjikan.  Berbagai LSM yang mengamat-amati Islam bermunculan di Indonesia. Isu-isu  yang ‘laku dijual’ adalah seputar masalah Pluralisme, kebebasan  beragama, multikulturalisme, kesetaraan gender, HAM, dan sebagainya.  Istilah-istilah ini sebelumnya tidak dikenal oleh umat Islam. Tapi,  banyak pihak yang kemudian menjadikan paham-paham itu sebagai tolok ukur  kebenaran dan standar penilaian kebaikan. Baik tidaknya seorang Muslim  diukur dengan istilah “radikal”, “eksklusif”, “inklusif”, “pluralis”,  “HAM” dan sebagainya.</p>
<p>Istilah-istilah baru itu kemudian menggusur istilah-istilah baku dalam Islam, seperti “<em>iman”, “Islam”, “sholeh”, “taqwa”, “ihsan”, “murtad”, “musyrik”, </em>dan  sebagainya. Artinya, seorang muslim akan dikenai  stigma negatif jika  sudah kena label “radikal”, “eksklusif”, “anti-pluralisme”,  “anti-multikulturalisme” dan sebagainya. Baik-buruknya seseorang tidak  lagi diukur dengan kategori: <em>iman-kufur, tauhid-syirik, adil-fasiq, halal-haram, </em>dan sebagainya.</p>
<p>Belum lama, terbit sebuah buku berjudul <em>Pluralisme dan Multikulturalisme, Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam di Indonesia </em>(2011).  Buku ini diberi kata ‘Pengantar Ahli’ oleh Prof. Dr. Muhaimin, M.A.,  guru besar UIN Malang.  Sang guru besar menulis, bahwa saat ini sudah  “mendesak sekali “membumikan” pendidikan Islam berwawasan pluralisme dan  multikulturalisme. Kesadaran akan pentingnya pluralisme dan  multikulturalisme dipandang menjadi perekat baru integrasi bangsa yang  sekian lama tercabik-cabik.” (hal. xiv).</p>
<p>Padahal, jika dibaca  dengan serius, isi buku ini jelas-jelas mendukung liberalisasi  pendidikan Islam. Disebutkan, bahwa diskursus pluralisme agama di  Indonesia telah berkembang pesat. “Salah satu pertandanya adalah terbit  buku Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis (2004).  Buku yang ditulis 8 tokoh pembela pluralisme Islam di Indonesia ini  adalah Nurcholish Madjid, Kautsar Azhari Noer, Komaruddin Hidayat,  Masdar F. Mas’udi, Zainun Kamal, Budhy Munawar-Rahman, Ahmad Gaus AF,  Zuhairi Misrawi, dan Mun’im A. Sirry – telah memberikan terobosan  fundamental  terkait dengan masalah pluralisme dari sudut pemikiran  keagamaan, karena mereka telah berhasil memberikan argumen teologis  bagaimana pandangan Islam terhadap agama-agama lain, termasuk dalam  persoalan ibadah praktis (fikh), mulai soal doa sampai pernikahan  antaragama – dan sejak ini pula, argument Islam untuk pernikahan  antaragama menjadi mapan, dan telah menghasilkan <em>Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam.” </em>(hal. 124).</span></p>
<p><span>Seperti pernah kita ungkap dalam beberapa  Catatan, buku <em>Fiqih Lintas Agama </em>terbitan  Paramadina itu memang mempromosikan pernikahan beda agama dan  memmbongkar hukum Islam tentang keharaman pernikahan muslimah dengan  laki-laki non-Muslim. “Soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan  wanita Muslim merupakan wilayah ijtihadi dan terikat dengan konteks  tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana  jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antar  agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena kedudukannya sebagai  hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila  dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan  laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat  diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya.”  (Mun’im A.  Sirry (ed), <em>Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis,</em> (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina dan The Asia Foundation, 2004), hal. 164).</p>
<p>Untuk membongkar hukum Islam, secara sistematis, buku ini mengawali uraiannya dengan melecehkan Imam Syafii <em>rahimahullah: </em>“Kaum  Muslim lebih suka terbuai dengan kerangkeng dan belenggu pemikiran  fiqih yang dibuat imam Syafi’i. Kita lupa, imam Syafi’i memang arsitek  ushul fiqih yang paling brilian, tapi juga karena Syafi’ilah  pemikiran-pemikiran fiqih tidak berkembang selama kurang lebih dua belas  abad. Sejak Syafi’i meletakkan kerangka ushul fiqihnya, para pemikir  fiqih Muslim tidak mampu keluar dari jeratan metodologinya. Hingga kini,  rumusan Syafi’i itu diposisikan begitu agung, sehingga bukan saja tak  tersentuh kritik, tapi juga lebih tinggi ketimbang nash-nash Syar’i  (al-Quran dan hadits). Buktinya, setiap bentuk penafsiran teks-teks  selalu tunduk di bawah kerangka Syafi’i.” (Ibid., hal. 5).</p>
<p>Jika  Imam Syafii yang agung dan sangat diakui keilmuannya oleh para ulama  Islam sedunia dilecehkan dan direndahkan martabatnya semacam itu, tentu  kita patut bertanya, sehebat apakah manusia-manusia yang melecehkannya  ini? Adakah karya-karya ilmiah hebat yang telah mereka hasilkan dan  diakui oleh para ulama dan cendekiawan Muslim sedunia?</p>
<p>Entah  mengapa saat ini sejumlah pihak mengkaitkan pluralisme,  multikulturalisme, dan toleransi beragama, dengan kasus pernikahan beda  agama. Orang yang menolak pernikahan beda agama dicap sebagai tidak  toleran, tidak pluralis, tidak berwawasan multikultural, dan sebagainya.  Saat ini bermunculan lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang membuat  laporan tentang kondisi kerukunan umat beragama di Indonesia.</p>
<p>Sesuai  dengan panduan al-Quran (49:6), maka orang Muslim diajar untuk bersika  kritis, tidak bersikap apriori, asal tolak atau asal terima saja.  Telitilah informasi itu. Darimana sumbernya, dan bagaimana kebenaran  logika dan argumentasi yang digunakannya.  Jika memang yang membawa  berita adalah kaum fasik, maka berhati-hatilah!</p>
<p>Satu contoh lain dari analisis yang keliru dilakukan oleh <em>Setara Institute </em>dalam memandang konsep kerukunan beragama dan kaitannya dengan peran kelompok fundamentalis. Kelompok yang mengusung jargon “<em>Institute for Democracy and Peace” </em>ini – dalam buku terbitannya yang berjudul <em>Wajah Para ‘Pembela’ Islam, </em>(Jakarta:  Pustaka Masyarakat Setara, 2010), menyimpulkan bahwa kelompok Islam  fundamentalis atau Islam radikal sering mengganggu kebebasan  beragama/berkeyakinan warga masyarakat lain.</p>
<p>“Dengan mengenali organisasi-organisasi  Islam radikal, diharapkan sejumlah langkah dapat dilakukan oleh negara  untuk menghapus intoleransi dan diskriminasi agama/keyakinan. Menegakkan  hukum bagi para pelaku kekerasan, intoleransi, dan diskriminasi serta  melakukan deradikalisasi pandangan, perilaku dan orientasi keagamaan  melalui kanal politik dan ekonomi adalah rekomendasi utama penelitian  ini.” (hal. iv).</p>
<p>Salah satu kriteria untuk mengukur kadar toleransi suatu masyarakat  adalah kesediaan untuk menerima perpindahan agama dan penerimaan  terhadap pernikahan beda agama. Hasil survei kelompok ini di  Jabodetabek, menunjukkan angka, 84,13 persen masyarakat tidak suka akan  pernikahan beda agama. Lalu disimpulkan: “Dari temuan survei ini  terlihat bahwa untuk perbedaan identitas dalam lingkup relasi sosial  yang lebih luas (berorganisasi, bertetangga, dan berteman) masyarakat  Jabodetabek secara umum lebih memperlihatkan sikap toleran. Namun, dalam  lingkup relasi yang lebih personal dan menyangkut keyakinan (anggota  keluarga menikah dengan pemeluk agama lain atau pindah ke agama lain)  sikap mereka cenderung kurang toleran.” (hal. 65).</p>
<p>Survei itu  juga menunjukkan data, bahwa orang yang beragama Islam menunjukkan  penolakan yang lebih tinggi (82,6 persen) terhadap anggota keluarganya  yang berpindah agama. Sementara, pemeluk agama selain Islam ada 45,4  persen yang menyatakan dapat menerima anggota keluarganya berpindah  agama, karena soal agama adalah urusan pribadi. (hal. 66). Terhadap  orang yang tidak beragama, hanya 25,2 persen responden yang menyatakan  dapat menerima, karena menganggap agama hanyalah urusan pribadi.  Terhadap fenomena ini, disimpulkan: “Singkatnya, secara umum tidak ada  toleransi atas orang-orang yang tidak beragama. Tidak beragama masih  dianggap sebagai sebuah tabu yang tidak dapat ditoleransi di mata kaum  urban Jabodetabek.” (hal. 67).</p>
<p>Sikap responden terhadap aliran  Ahmadiyah, hanya 28,7 persen yang berpendapat Ahmadiyah memiliki hak  untuk menganut keyakinan mereka. Sedangkan 40,3 persen menganggap  Ahmadiyah sesat, dan 45,4 persen menyatakan, sebaiknya AShmadiyah  dibubarkan oleh pemerintah. Lalu dibuatlah komentar: “<strong>Temuan ini mengindikasikan adanya kecenderungan sikap keagamaan yang intoleran pada masyarakat Jabodetabek. </strong>Agar  tidak mengakibatkan kerancuan pemahaman, maka perlu digarisbawahi bahwa  kecenderungan toleran untuk beberapa hal, namun intoleran untuk  sejumlah hal lain sebagaimana ditunjukkan oleh temuan survei ini, tetap  harus dinyatakan sebagai ekspresi sikap intoleran. Hal ini didasarkan  atas pengertian toleransi sebagai kemampuan dan kerelaan untuk menerima  segala bentuk perbedaan identitas pihak lain secara penuh. Atas dasar  itu, kegagalan untuk dapat menerima perbedaan identitas secara utuh   sama maknanya dengan sikap intoleran.” (hal. 75).</p>
<p>De-Islamisasi bahasa</p>
<p>Pakar sejarah dan <em>linguistic, </em>Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan bahaya dari sebuah proses yang disebut “<em>de-Islamization of language”. </em>Bahasa  adalah alat untuk memahami Islam. Dulu, saat Islam masuk dan menyebar  di wilayah Nusantara, bahasa Melayu menjadi alat yang efektif, setelah  melalui proses Islamisasi. Bahasa yang semula hanya digunakan oleh  sebagian kecil masyarakat Nusantara, kemudian diperkaya dengan  “istilah-istilah kunci” dalam Islam, seperti Allah, adil, taqwa, hikmah,  ilmu, akal, fikir, dan sebagainya. Dengan istilah-istilah itu, maka  seseorang menjadi mudah memahami konsep-konsep pokok dalam Islam.</p>
<p>Proses <em>de-Islamisasi </em>bahasa  Melayu-Indonesia kini terus berlangsung sejalan dengan proses  westernisasi. Istilah-istilah “toleran”, “kerukunan”, “radikal”,  dimasukkan ke dalam kosa kata bahasa Indonesia dengan makna yang tidak  sesuai dengan konsep Islam. Orang tua yang tidak mau merestui pernikahan  anaknya dengan orang yang berbeda agama dicap tidak toleran. Begitu  juga orang tua yang tidak menerima anak atau anggota keluarga yang  berpindah agama.</p>
<p>Tentu saja, dalam pandangan Islam, apa yang  dilakukan oleh lembaga survei semacam itu jelas sangat keliru.  Lembaga  ini telah mengaburkan dan merusak makna toleransi. Orang-orang yang  berpegang teguh pada ajaran agamanya diberi cap intoleran dan radikal.  Ini juga suatu kezaliman. Lebih disayangkan juga, bahwa di antara tokoh  penting  yang menyebarkan konsep “kesetaraan” dan toleran yang keliru  itu adalah Muslim.</p>
<p>Kaum Muslim secara umum tentu akan menolak konsep toleransi semacam itu. Dalam artikelnya di <em>Jurnal Islamia Republika </em>(Kamis,  15/12/2011) ulama muda NU Muhammad Idrus Ramli, menulis beberapa  rambu-rambu dalam bertoleransi. Menurut Gus Idrus, para ulama <em>fuqaha </em>dari berbagai madzhab membolehkan seorang Muslim memberikan sedekah <em>sunnah </em>kepada non Muslim yang bukan <em>kafir harbi. </em>Demikian pula sebaliknya, seorang Muslim diperbolehkan menerima bantuan dan hadiah yang diberikan oleh non Muslim. Para ulama <em>fuqaha </em>juga mewajibkan seorang Muslim memberi nafkah kepada istri, orang tua dan anak-anak yang non Muslim.</p>
<p>Di sisi lain, karena seorang Muslim bertanggungjawab menerapkan <em>basyiran wa nadziran lil-‘alamin, </em>Islam  melarang umatnya berinteraksi dengan non Muslim dalam hal-hal yang  dapat menghapus misi dakwah Islam terhadap mereka. Mayoritas ulama <em>fuqaha </em>tidak  memperbolehkan seorang Muslim menjadi pekerja tempat ibadah agama lain,  seperti menjadi tukang kayu, pekerja bangunan dan lain sebagainya,  karena hal itu termasuk menolong orang lain dalam hal kemaksiatan, ciri  khas dan syiar agama mereka yang salah dalam pandangan Islam. “Dan  tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan  jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan  bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”  (QS. al-Ma’idah : 2).</p>
<p>Tentang <strong>Doa bersama Lintas Agama, </strong>Idrus menulis, bahwa dewasa ini juga agak marak dilakukan. Sebagian beralasan Islam <em>rahmatan lil-‘alamin. </em>Padahal, karakter <em>rahmatan lil-‘alamin, </em>sebenarnya tidak ada kaitannya dengan doa bersama lintas agama. Sebagaimana dimaklumi, doa merupakan inti dari pada ibadah (<em>mukhkhul ‘ibadah), </em>yang  dilakukan oleh seorang hamba kepada Tuhan. Tidak jarang, seorang Muslim  berdoa kepada Allah, dengan harapan memperoleh pertolongan agar segera  keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi. Tentu saja, ketika seseorang  berharap agar Allah segera mengabulkan doanya, ia harus lebih  berhati-hati, memperbanyak ibadah, bersedekah, bertaubat dan melakukan  kebajikan-kebajikan lainnya. Dalam hal ini, semakin baik jika ia memohon  doa kepada orang-orang shaleh yang dekat kepada Allah. Hal ini  sebagaimana telah dikupas secara mendalam oleh para ulama <em>fuqaha </em>dalam bab shalat <em>istisqa’ </em>(mohon diturunkannya hujan) dalam kitab-kitab fiqih.</p>
<p>Ada dua pendapat di kalangan ulama <em>fuqaha, </em>tentang hukum menghadirkan kaum non Muslim untuk doa bersama dalam shalat <em>istisqa’. Pertama, </em>menurut mayoritas ulama (madzhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali), tidak dianjurkan dan <em>makruh </em>menghadirkan non-Muslim dalam doa bersama dalam shalat <em>istisqa’. </em>Hanya  saja, seandainya mereka menghadiri acara tersebut dengan inisiatif  sendiri dan tempat mereka tidak berkumpul dengan umat Islam, maka itu  tidak berhak dilarang.</p>
<p><em>Kedua, </em>menurut madzhab Hanafi  dan sebagian pengikut Maliki, bahwa non Muslim tidak boleh dihadirkan  atau hadir sendiri dalam acara doa bersama shalat <em>istisqa’, </em>karena mereka tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa. Doa <em>istisqa’ </em>ditujukan  untuk memohon turunnya rahmat dari Allah, sedangkan rahmat Allah tidak  akan turun kepada mereka. Demikian kesimpulan pendapat ulama <em>fuqaha </em>dalam  kitab-kitab fiqih. Maka, jika doa diharapkan mendatangkan rahmat dari  Allah, sebaiknya didatangkan orang-orang saleh yang dekat kepada Allah,  bukan mendatangkan orang-orang yang yang jauh dari kebenaran.</p>
<p><em>Forum Bahtsul Masail al-Diniyah al-Waqi’iyyah </em>Muktamar NU di PP Lirboyo Kediri, 21-27 November 1999, menyatakan, bahwa “<strong>Doa Bersama Antar Umat Beragama” </strong>hukumnya haram. Diantara dalil yang mendasarinya: Kitab <em>Mughnil  Muhtaj, Juz I hal. 232: “Wa laa yajuuzu an-yuammina ‘alaa du’aa-ihim  kamaa qaalahu ar-Rauyani li-anna du’aal kaafiri ghairul maqbuuli.” </em>(Lebih  jauh, lihat:  Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam:  Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004),  penerbit: <em>Lajtah Ta’lif wan-Nasyr, </em>NU Jatim, cet.ke-3, 2007, hal. 532-534). (Wallahu a’lam).*</p>
<p><em>Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor</em></p>
<p></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.hidayatullah.com/read/20273/18/12/2011/-%E2%80%9Clagi,-umat-islam-dituduh-tidak-toleran%E2%80%9D.html</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2F%25e2%2580%259clagi-umat-islam-dituduh-tidak-toleran%25e2%2580%259d%2F&amp;title=%E2%80%9CLagi%2C%20Umat%20Islam%20Dituduh%20Tidak%20Toleran%E2%80%9D" id="wpa2a_14"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9clagi-umat-islam-dituduh-tidak-toleran%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GERHANA BULAN TOTAL 10 DESEMBER 2011</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/gerhana-bulan-total-10-desember-2011/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/gerhana-bulan-total-10-desember-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 05:15:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2106</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 10 Desember 2011 akan terjadi Gerhana Bulan Total (GBT). GBT ini dapat diamati dari wilayah Australia, Asia, Eropa, sebagian besar Afrika dan Amerika Utara. Sementara pengamat di Amerika Selatan tidak dapat menyaksikannya. Gerhana Bulan Total ini dapat diamati dari Indonesia pada awal malam tanggal 10 Desember 2011. Info lengkap tentang gerhana ini, bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 10 Desember 2011 akan terjadi Gerhana Bulan Total (GBT).  GBT ini dapat diamati dari wilayah Australia, Asia, Eropa, sebagian  besar Afrika dan Amerika Utara. Sementara pengamat di Amerika Selatan  tidak dapat menyaksikannya. Gerhana Bulan Total ini dapat diamati dari  Indonesia pada awal malam tanggal 10 Desember 2011.</p>
<p>Info lengkap tentang gerhana ini, bisa dilihat di situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (bmkg):</p>
<p>http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Geofisika/Tanda_Waktu/GERHANA_BULAN_TOTAL_10_DESEMBER_2011.bmkg</p>
<p>Informasi :<br />
Sub Bidang Gravitasi dan Tanda Waktu BMKG<br />
Gedung Operasional Baru Lt. 2<br />
Jl. Angkasa I No. 2 Kemayoran, Jakarta 10720<br />
Telepon : (021) 4246321 ext. 8203<br />
Email : gtw@bmkg.go.id</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fgerhana-bulan-total-10-desember-2011%2F&amp;title=GERHANA%20BULAN%20TOTAL%2010%20DESEMBER%202011" id="wpa2a_16"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/gerhana-bulan-total-10-desember-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Dlobb = biawak</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/apakah-dlobb-biawak/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/apakah-dlobb-biawak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 04:21:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2027</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160; Apakah antum pernah mendengar kata dhobb? Kata ini berasal dari bahasa Arab yang disebutkan dalam beberapa hadits-hadits yang shohih. Dhobb adalah sejenis hewan yang melata dan hidup di padang pasir, dalam kamus-kamus Arab- Indonesia yang banyak digunakan di negeri kita seperti Al Munawwir kata dhobb diartikan dengan biawak, apakah memang demikian?  silakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/09/dlobb.png"><img class="size-thumbnail wp-image-2048 alignleft" title="dlobb" src="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/09/dlobb-150x135.png" alt="" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah antum pernah mendengar kata dhobb? Kata ini berasal dari bahasa  Arab yang disebutkan dalam beberapa hadits-hadits yang shohih. Dhobb  adalah sejenis hewan yang melata dan hidup di padang pasir, dalam  kamus-kamus Arab- Indonesia yang banyak digunakan di negeri kita seperti  Al Munawwir kata dhobb diartikan dengan biawak, apakah memang  demikian?  silakan antum memperhatikan gambar asli dari dhobb kemudian  buatlah kesimpulan dari pertanyaan ini</p>
<p>Kami juga memuat dua hadits yang menyebutkan tentang dhobb dan kami  sertakan sedikit fiqh dan pelajaran yang bisa dari kedua hadits yang  mulia ini</p>
<div>
<blockquote>
<h3>عَنْ  أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ  شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ  تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى  قَالَ فَمَنْ</h3>
</blockquote>
</div>
<p>1. Dari Abu Said Al Khudri radhiyallohu anhu bahwasanya Nabi shallallohu alaihi wa sallam bersabda, “<em>Sungguh-sungguh  kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal  demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga jika mereka masuk ke liang <strong>dhobb </strong>niscaya kalian juga akan mengikutinya</em>”. Kami bertanya, Wahai Rasulullah apakah yang engkau maksudkan orang Yahudi dan Nasrani? Beliau bersabda, “<em>Siapa lagi(kalau bukan mereka)</em>?”(HR. Bukhari dan Muslim, lafal ini sesuai redaksi<br />
Bukhari)<br />
<strong>Diantara fiqh dan pelajaran yang diambil dari hadits ini :</strong></p>
<ol>
<li>Hadit ini merupakan salah satu tanda kenabian Muhammad  shallalllohu alaihi wa sallam yang menginformasikan kepada ummatnya  hal-hal yang akan terjadi setelah wafat beliau</li>
<li>Secara lamban akan tetapi pasti sebagian kaum muslim akan taqlid  (mengekor) kebiasaan, budaya dan model hidup orang kafir Mereka yang  sudah menjadi korban mode orang kafir akan berupaya sedemikian rupa  untuk bisa mengikuti kebiasaan orang kafir tersebut walaupun untuk  sesuatu yang sulit dan beresiko</li>
<li>Orang kafir yang paling banyak menjadi ikutan dan panutan kaum muslimin yang sesaat adalah dari kalangan Yahudi dan Nasrani</li>
<li>Disyariatkannya membuat permisalan dalam menjelaskan sesuatu</li>
<li>Ibnu Hajar rahimahulloh mengatakan nampaknya pengkhususan dhobb  dalam perumpamaan ini karena pada dasarnya liang/lobang dhobb itu sangat  sempit dan jelek akan tetapi karena mereka begitu ingin mengikuti  budaya mereka maka walaupun orang Yahudi dan Nasrani masuk ke liang  dhobb (melakukan suatu budaya yang sulit diikuti dan nyata keburukannya)  maka mereka pun siap melakukan hal yang sama</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pertanyaannya bagaimana itu lubang dhobb?</p>
<p>Berikut kami lampirkan fotonya</p>
<div><a href="http://1.bp.blogspot.com/_nPcp5t5RHL4/Si93uviBkSI/AAAAAAAAAAc/lI_3f51yP08/s1600-h/3.jpg"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_nPcp5t5RHL4/Si93uviBkSI/AAAAAAAAAAc/lI_3f51yP08/s320/3.jpg" border="0" alt="" /></a></div>
<blockquote>
<h3><strong>2- عَنْ  عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رشي الله عنهما أَنَّ خَالِدَ بْنَ  الْوَلِيدِ رضي الله عنه الَّذِي يُقَالُ لَهُ سَيْفُ اللَّهِ أَخْبَرَهُ  أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  عَلَى مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  وَهِيَ خَالَتُهُ وَخَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ فَوَجَدَ عِنْدَهَا ضَبًّا  مَحْنُوذًا قَدِمَتْ بِهِ أُخْتُهَا حُفَيْدَةُ بِنْتُ الْحَارِثِ مِنْ  نَجْدٍ فَقَدَّمَتْ الضَّبَّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ وَكَانَ قَلَّمَا يُقَدَّمُ إِلَيْهِ طَعَامٌ حَتَّى يُحَدَّثَ  بِهِ وَيُسَمَّى لَهُ فَأَهْوَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ يَدَهُ إِلَى الضَّبِّ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْ النِّسْوَةِ  الْحُضُورِ أَخْبِرْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  بِمَا قَدَّمْتُنَّ لَهُ قُلْنَ هُوَ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ  فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ  فَقَالَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ أَحَرَامٌ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ  قَالَ : </strong><strong>]  لَا وَلَكِنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ [  قَالَ خَالِدٌ فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ يَنْظُرُ  فَلَمْ يَنْهَنِي (متفق غليه واللفظ لمسلم</strong>)</h3>
</blockquote>
<p>2.  Dari Abdullah bin Abbas radhiyallohu anhuma bahwa Kholid bin Walid  radhiyallohu anhu yang dijuluki Saifullah (pedang Allah) mengabarkan  kepada beliau (Ibn Abbas) bahwa Kholid bersama Rasulullah shallallohu  alihi wa sallam mendatangi Maimunah radhiyallohu anha istri NabI  shallallohu alaihi wa sallam yang juga merupakan bibi Kholid dan bibi  Ibn Abbas, beliau mendapati di sisinya dhobb panggang yang dibawa oleh  saudari Maimunah  yang bernama Hufaidah bintul Harits dari Najd lalu  beliau menghidangkan <strong><em>dhobb </em></strong>kepada Rasulullah shallallohu  alaihi wasallam dan selama ini sangat jarang beliau dihidangkan sesuatu  kecuali telah disampaikan tentang jenis makanannya. Maka Rasulullah  shallallohu alihi wa sallam menjulurkan tangannya untuk mengambil   daging dhobb lalu salah seorang wanita yang hadir pada saat itu berkata  beritakan kepada Rasulullah makanan yang kalian hidangkan kepada beliau.  Para wanita lalu berkata, “Itu daging dhobb  wahai Rasulullah”, maka  Rasulullah segera menarik tangannya dan tidak meraih daging tersebut,  Kholid bertanya, “Apakah daging dhobb haram wahai Rasulullah?”. Beliau  menjawab, “Tidak akan tetapi daging itu tidak terdapat di daerahku  sehingga aku tidak menyukainya karena jijik padanya”. Kata Kholid maka  aku mengambilnya lalu memakannya sedang Rasulullah shallallohu alaihi  wasallam melihatku dan beliau tidak mencegahku” (HR. Bukhari dan Muslim,  lafal hadits ini sesuai redaksi Imam Muslim)<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Diantara fiqh dan pelajaran yang diambil dari hadits ini </strong><br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/_nPcp5t5RHL4/Si93wX77NpI/AAAAAAAAAAk/_D5dQNMHgwE/s1600-h/4.jpg"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_nPcp5t5RHL4/Si93wX77NpI/AAAAAAAAAAk/_D5dQNMHgwE/s320/4.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<ol>
<li>Keutamaan Kholid bin Walid radhiyallohu anhu yang digelari  Saifullah (pedang Allah) dan hal ini dikenal dan diakui oleh para  sahabat yang lain</li>
<li>Disyariatkannya perjamuan makanan</li>
<li>Sebaiknya tuan rumah menjelaskan jenis makanan yang dihidangkan  kepada tamunya, agar tamu tidak mencicipi sesuatu yang tidak cocok  baginya tanpa disadarinya</li>
<li>Adab mulia yang ditunjukkan oleh para wanita yang menjamu Rasulullah shallallohu alaihi wasallam</li>
<li>Halalnya daging dhobb</li>
<li>Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam sebagaimana manusia lainnya menyukai sebagian makanan dan tidak menyukai sebagiannya</li>
<li>Makanan yang tidak disukai dan ditinggalkan oleh Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam tidak berarti dia sesuatu yang haram</li>
<li>Bukan merupakan suatu kewajiban mengikuti Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam dalam selera makan</li>
<li>Kesukaan terhadap suatu makanan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan keadaan daerah seseorang</li>
<li>Hadits ini merupakan salah satu dalil pokok tentang taqrir, yaitu  diamnya Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam terhadap seuatu  perkataan dan perbuatan yang beliau ketahui menunjukkan persetujuan dan  bolehnya perkara tersebut</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fapakah-dlobb-biawak%2F&amp;title=Apakah%20Dlobb%20%3D%20biawak" id="wpa2a_18"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/apakah-dlobb-biawak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Berhenti Sejenak</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/mari-berhenti-sejenak/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/mari-berhenti-sejenak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 02:08:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1647</guid>
		<description><![CDATA[Mari Berhenti Sejenak]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mari Berhenti Sejenak</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fmari-berhenti-sejenak%2F&amp;title=Mari%20Berhenti%20Sejenak" id="wpa2a_20"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/mari-berhenti-sejenak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

