<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ustadz Ridwan Hamidi &#187; Hadits</title>
	<atom:link href="http://ustadzridwan.com/category/belajar-islam/hadits/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzridwan.com</link>
	<description>رضوان حامدي الإندونيسي</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 08:21:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>BERLINDUNG DARI EMPAT PETAKA</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/berlindung-dari-empat-petaka/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/berlindung-dari-empat-petaka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 12:30:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2025</guid>
		<description><![CDATA[عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم : « كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَدُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ وَنَفْسٍ لَا تَشْبَعُ »  (رواه النسائي ) &#160; Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallohu anhuma bahwasanya Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam berlindung dari empat perkara: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/03/shalat-jumat.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1638" title="shalat-jumat" src="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/03/shalat-jumat-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<div>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي  الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم : « كَانَ يَتَعَوَّذُ  مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ  وَدُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ وَنَفْسٍ لَا تَشْبَعُ »  (رواه النسائي )</div>
<p>&nbsp;</p>
<div><em>Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallohu  anhuma bahwasanya Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam berlindung  dari empat perkara: 1) Ilmu yang tidak bermanfaat, 2) Hati yang tidak  khusyu’, 3) Doa yang tidak didengar, 4) Jiwa yang tidak kenyang</em> . (HR. Nasaai)</div>
<div>TAKHRIJUL HADITS :&nbsp;</p>
<div>Hadits ini diriwayatkan oleh Imam  Nasaai dengan sanad yang shohih dalam As Sunan (Al Mujtaba); Kitab Al  Isti’adzah; bab Al Isti’adzah Min Qalbin Laa Yakhsya’ , juga  diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad ; Kitab Musnad Al  Muktsirina min Ash Shohabah; Bab Musnad Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash;  dan diriwayatkan pula oleh Tirmidzi dalam As Sunan; Kitab Ad Da’awaat  ‘an Rasulillah; Bab Maa Jaa fii Jaami’ ad Da’awaat ‘anin Nabi . Hadits  yang semakna dengan ini juga diriwayatkan oleh beberapa imam lainnya  dari beberapa sahabat Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam namun  dengan matan (redaksi) hadits yang sedikit berbeda, diantaranya Imam  Muslim dari sahabat Zaid bin Arqam radhiyallohu anhu dengan matan yang  lebih lengkap, Ibnu Hibban dalam Shohihnya dari hadits Jabir bin  Abdillah radhiyallohu anhuma, Abu Hurairah radhiyallohu anhu juga  meriwayatkan hadits semacam ini dan dikeluarkan oleh Abu Daud, Nasaai,  Ibnu Majah dan Hakim. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Hakim dalam Al  Mustadrak dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf dari sahabat Abdullah  bin Mas’ud radhiyallohu anhu.</div>
<p>BIOGRAFI SINGKAT SAHABAT PEROWI HADITS</p>
<div>Nama lengkap beliau adalah Abdullah  bin ‘Amr bin Al ‘Ash bin Wa-il bin Hasyim bin Su’aid bin Sahm bin ‘Amr  bin Hushaish bin Ka’ab bin Luay Al Qurasyi As Sahmi. Kuniyah beliau yang  terkenal adalah Abu Muhammad, ada juga yang mengatakan Abu Abdirrahman  dan ada yang menyebut dengan Abu Nushair.</div>
<div>Ayah  beliau juga seorang sahabat Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam  yang terkenal ‘Amru bin Al ‘Ash radhiyallohu anhu, menurut Imam Muhammad  bin Sa’ad bahwa Abdullah bin ‘Amr masuk Islam sebelum ayah beliau dan  selisih antara umur beliau dengan umur ayah beliau hanya 12 tahun.</div>
<div>Beliau  banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa  sallam dan menuliskannya dalam buku yang dinamakan dengan Ash Shahifah  Ash Shodiqah. Beliau juga terkenal sebagai ahli ibadah dan kisah-kisah  tentang ibadah beliau serta semangat beliau dalam beribadah sangat  banyak disebutkan dalam buku-buku para ulama yang membicarakan biografi  beliau secara lengkap (Sebagai contoh, baca : Al Ishobah (4/165) dan   Shifah Ash Shafwah (1/333-335)).</div>
<div>Beliau  wafat tahun 65 H dalam usia 72 tahun di negeri Syam, ada juga pendapat  lain yang mengatakan beliau wafat di Mekkah, Thoif atau di Mesir,  wallohu a’lam.</div>
<div>Semoga Allah senantiasa meridhoi beliau dan merahmatinya.</div>
<p>SYARAH HADITS</p>
<div>Hadits ini menyebutkan diantara  isti’adzah yang pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad shallallohu alaihi  wa sallam. Makna Al Isti’adzah adalah berlindung kepada Allah dari  segala sesuatu yang jahat dan ditakuti. Al isti’adzah merupakan salah  satu bentuk doa karena itu dia hanya ditujukan kepada Allah dan  memalingkan ibadah ini kepada selain Allah termasuk diantara bentuk  syirik yang besar.</div>
<div>Dalam hadits ini Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam berlindung dari empat perkara :</div>
<div>1) Ilmu yang tidak bermanfaat</div>
<div>Yaitu  ilmu yang tidak mendatangkan manfaat bagi pemiliknya bahkan dapat  menjadi sebab dirinya akan disiksa di hari kiamat. Pada prinsipnya ilmu  dipelajari untuk memberi manfaat bagi kita di dunia dan di akhirat oleh  sebab itu Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam mengajarkan salah  satu dzikir yang dianjurkan untuk dibaca setiap paginya setelah  mengerjakan shalat shubuh:</div>
<div>اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا</div>
<div>“Ya Allah aku memohon kepada-Mu ilmu  yang bermanfaat, rezki yang baik dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu  Majah dan Ahmad) [Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam As Sunan;  Kitab Iqamah Ash Sholah, Bab Maa yuqalu ba'da At Taslim (925), juga  dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Al Musnad; Kitab Baqi Musnad Al  Anshor; Bab Musnad Ummi Salamah. Dalam kedua sanad hadits ini ada  kelemahan karena terdapat seorang perowi yang mubham (tidak disebutkan  namanya) yaitu Maula Ummi Salamah , namun demikian hadits ini dinilai  hasan oleh Syaikh Abdul Qadir dan Syuaib Al Arnouth karena memiliki  syahid (pendukung) dalam riwayat Thobrani di Al Mu'jam Ash Shoghir  dengan sanad yang shohih , lihat Tahqiq Zaadul Ma'ad ( 2/342)]</div>
<p>Para ulama kita menyebutkan beberapa makna ilmu yang tidak bermanfaat diantaranya :</p>
<p>a. Ilmu yang diharamkan untuk dipelajari seperti ilmu sihir</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman (artinya) :</p>
<div>Dan mereka mengikuti apa yang dibaca  oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan  bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir  (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir  (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia…(QS. Al  Baqarah 102)</div>
<div>Ayat  ini merupakan salah satu dalil yang disebutkan oleh para ulama kita  dalam menetapkan bahwa mempelajari sihir hukumnya haram dan  menjerumuskan pelakunya pada kekufuran(lihat Tafsir Al Qurthubi). Imam  Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan : “Mempelajari sihir dan  mengajarkannya hukumnya haramnya kami tidak mengetahui adanya perbedaan  pendapat di kalangan para ulama tentang hal ini”(Al Mughni (12/300))</div>
<div>Dan Allah Azza wa Jalla telah  menegaskan bahwa ilmu sihir adalah ilmu yang tidak bermanfaat,  sebagaimana dalam lanjutan ayat di atas :</div>
<div>“…Dan  mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada  seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu  yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi,  sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya  (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat  dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau  mereka mengetahui. …(QS. Al Baqarah 102)</div>
<div>Jika  sekadar mempelajarinya sudah merupakan kekufuran maka apatah lagi  mengajarkan dan menyebarkan ilmu tersebut. Namun akhir-akhir ini ilmu  sihir kembali diminati oleh banyak orang bahkan semakin dipromosikan dan  dikomersialkan lewat berbagai media massa baik itu cetak maupun  elektronik. Para dukun, tukang sihir, paranormal dan yang sejenisnya  didatangi dari berbagai tempat yang sangat jauh padahal hal tersebut  sangat berbahaya bagi keislaman seseorang karena mendatangi mereka akan  mengakibatkan shalat seseorang tidak diterima selama 40 hari dan jika  membenarkan perkataan mereka maka akan menjatuhkan seseorang kepada  kekufuran.(Lihat penjelasannya secara rinci dalam kitab Al Qaul Al Mufid  oleh Syaikh Al Utsaimin (2/5-92))</div>
<div>b. Ilmu yang tidak dibutuhkan;</div>
<div>sebagaimana  halnya orang yang menyibukkan diri mereka pada ilmu kalam dan filsafat.  Ilmu seperti ini tidak dibutuhkan sama sekali bahkan justru hanya  menimbulkan keraguan terhadap suatu kebenaran atau senantiasa  menimbulkan keheranan dan kebingungan bagi orang yang menekuninya.  Lahirnya pemahaman yang senantiasa mengedepankan akal di atas dalil  sebagaimana yang diusung oleh penganut paham liberal adalah salah satu  buah dari menyibukkan diri dan tenggelam dalam ilmu kalam dan filsafat.</div>
<div>Para  ulama salaf telah memperingatkan akan bahaya menyibukkan diri dengan  ilmu kalam, sebagaimana dalam beberapa atsar berikut ini :</div>
<div>* Imam Ahmad berkata : “Tidak akan beruntung selama-lamanya ahli ilmu kalam” .</div>
<div>*  Imam Syafi’i menegaskan : “Hukuman yang saya tetapkan bagi para ahli  ilmu kalam adalah mereka diarak mengelilingi kabilah-kabilah dan  dikatakan kepada mereka ini balasan bagi orang meninggalkan Al Quran dan  As Sunnah serta menyibukkan diri dengan ilmu Kalam.”</div>
<div>*  Beliau juga pernah mengatakan : “Hukuman yang saya tetapkan bagi para  ahli ilmu kalam sebagaimana hukuman yang diberlakukan Umar radhiyallohu  anhu kepada Shabigh”.[ Shabigh adalah seorang yang hidup pada zaman  khalifah Umar bin Khatthab radhiyallohu anhu, dia selalu bertanya  tentang ayat-ayat mutasyabihat dalam Al Quran. Mendengarkan hal itu Umar  radhiyallohu anhu memanggilnya dan menyediakan baginya pelepah kurma  lalu beliau memukul kepalanya hingga berdarah (sebagian riwayat  mengatakan sebanyak 100 kali ), akhirnya Shabigh mengatakan kepada Umar  radhiyallohu anhu : "Cukuplah wahai amirul Mu'minin telah hilang apa  yang selama ini ada di kepala saya" . Kemudian Umar radhiyallohu anhu  memerintahkan untuk mengasingkannya ke Bashrah dan melarang manusia  untuk bergaul dengannya hingga dia benar-benar bertaubat dan ruju' dari  pemikirannya. Lihat kisahnya secara lengkap dalam Sunan Ad Darimi ;  KitabAl Muqaddimah ; Bab Man Haaba Al Futya wa Kariha At Tanaththu' wa  At Tabaddu' ; no 144]</div>
<div>*  Imam Malik mengatakan : “Seandainya Al Kalam termasuk kategori ilmu  (yang disyariatkan) maka tentu para sahabat yang lebih dahulu  membicarakannya (membahasnya) akan tetapi Al Kalam adalah sebuah  kebatilan dan mengajak pada kebatilan”</div>
<div>*  Imam Abu Yusuf berkomentar : “Mengilmui al kalam adalah bentuk  kejahilan seseorang dan jahil terhadap ilmu Kalam adalah tanda ilmu  seseorang”</div>
<div>*  Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah dalam bantahan beliau terhadap ahli mantiq  mengatakan : “Saya senantiasa mengetahui bahwa Ilmu Mantiq Yunani tidak  dibutuhkan (untuk dipelajari) oleh seorang yang cerdas dan orang yang  bodoh tidak akan mengambil manfaat darinya”</div>
<div>Dari  atsar-atsar tersebut sangat jelaslah bagi kita bahwa Ilmu Kalam  bukanlah ilmu yang diperintahkan untuk dipelajari bahkan jika seseorang  tidak mengetahui ilmu tersebut maka itu diantara ciri kebaikannya.  Sejarah dari dahulu hingga sekarang telah membuktikan bahwa ilmu Kalam  tidak mendatangkan kebahagiaan bagi pemiliknya melainkan mengantarkan  kebingungan dan keputusasaan, hal ini telah diakui sendiri oleh  orang-orang yang pernah bergelut dengannya sebagaimana yang disebutkan  dalam biografi mantan tokoh mereka seperti Fakhrur Rozi dan Imam  Ghazali].</div>
<div>c.  Diantara makna ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang walaupun  dari segi dzat atau materinya adalah kebenaran dan kebaikan yang  bersumber dari Al Quran dan As Sunnah namun pemiliknya tidak mengambil  manfaat darinya; tidak diamalkan, tidak diajarkan dan tidak merubah  perangai dan akhlaknya.</div>
<div>Imam  Hasan Al Bashri pernah mengatakan: “Ilmu itu ada dua macam : ilmu yang  ada dalam hati; itulah ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang hanya ada pada  lisan yang merupakan hujjah (alasan) bagi Allah untuk menyiksa seorang  hamba”. [Atsar Hasan Al Bashri ini diriwayatkan oleh Imam Ad Darimi  dalam As Sunan dengan sanad yang shohih, Kitab Al Muqaddimah; Bab At  Tawbikh Liman Yathlubul 'Ilma Lighairillah) Maksud perkataan beliau  bahwa ilmu lisan adalah ilmu yang sekadar teori yang diucapkan namun  tidak diikuti dengan pengamalan dan tidak melahirkan kekhusyu'an dalam  hati adapun ilmu hati adalah ilmu yang mampu mentazkiyah hatinya dan  mengkhusyu'kannya sehingga melahirkan amalan-amalan yang sholih.  Sebagian salaf pernah mengatakan : "Sebuah perkataan jika benar-benar  berasal dari hati yang suci maka akan mengena pada hati-hati pendengar  namun jika hanya keluar dari lisan seseorang maka juga hanya akan  singgah di pendengaran"</div>
<div>Diantara  fenomena yang perlu dikhawatirkan pada ummat kita sekarang ini  banyaknya para penuntut ilmu syar'i menjadikan ilmu hanyalah sebagai  sarana untuk menggapai materi keduniaan sehingga hal yang menjadi  prioritas bagi mereka adalah bagaimana mereka mampu menguasai Al Quran  dan As Sunnah untuk dijadikan bahan ceramah kemudian disertai dengan  mempelajari trik-trik berkomunikasi yang efektif agar dakwahnya mampu  memikat para pendengar. Maka lahirlah begitu banyak para da'i yang mampu  memikat para pendengar namun mereka sangat jauh dari apa yang mereka  katakan.[Saat ini semakin terbuka sarana untuk melahirkan da'i-da'i  model ini dengan diadakannya kontes para da'i di sebagian program TV  dimana mereka mencampurkan antara al haq dan al bathil , mencampurkan  antara Quran Allah dengan Quran Syaitan (nyanyian dan musik) , Wallohul  Musta'an wa Ilaihi Al Musytaka !!!) Inilah hakikat ilmu lisan yang  diperingatkan oleh Imam Hasan Al Bashri rahimahullah].</div>
<div>Dalil-dalil berikut hendaknya menjadi peringatan bagi setiap penuntut ilmu syar’i dan para da’i :</div>
<div>Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan beberapa sifat yang tercela yang dimiliki oleh orang Bani Israil (artinya) :</div>
<div>“Mengapa  kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan  diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)?  Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al Baqarah : 44)</div>
<div>Firman Allah dalam Surah Ash Shaff : 2 -3 (artinya) :</div>
<div>“Hai  orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu  perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan  apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.</div>
<div>Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam menceritakan salah satu dari pemandangan yang beliau saksikan pada saat Isra’ Mi’raj :</div>
<div>مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى  قَوْمٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ قُلْتُ مَا هَؤُلَاءِ  قَالَ هَؤُلَاءِ خُطَبَاءُ أُمَّتِكَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا كَانُوا  يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ  يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا يَعْقِلُونَ  (رواه أحمد)</div>
<div>“Pada saat Isra’ Mi’raj saya melewati  sebuah kaum yang menggunting-gunting bibir-bibir mereka dengan  gunting-gunting neraka, aku bertanya kepada Jibril : “Apa yang mereka  lakukan itu ?” . Jibril menjawab : Mereka adalah para khatib dari  kalangan ummatmu yang sewaktu di dunia mereka senantiasa mengajak  manusia kepada kebaikan namun mereka melupakan diri mereka sendiri  padahal mereka membaca Al Quran apakah mereka tidak memahami?” (HR.  Ahmad)</div>
<div>Dalam hadits lain Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam menceritakan diantara pemandangan yang mengerikan di hari kiamat :</div>
<div>يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ  فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا  كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ  النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ مَا لَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ  بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ فَيَقُولُ بَلَى قَدْ كُنْتُ  آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ   (متفق عليه )</div>
<div>“Pada hari kiamat akan didatangkan  seorang laki-laki lalu dilemparkan ke dalam neraka hingga terburai  ususnya lalu dia mengitari neraka sebagaimana keledai yang mengitari  penggilingan, maka para penduduk neraka mengelilinginya seraya bertanya :  “Wahai Fulan, (mengapa keadaanmu demikian) bukankah kamu dulu  senantiasa mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran”? Dia  menjawab : “Ya, dulu (di dunia) aku mengajak kepada kebaikan namun aku  tidak melaksanakannya dan aku cegah manusia dari kemungkaran lalu aku  yang mengerjakannya” (HR. Bukhari dan Muslim)</div>
<div>2) Hati yang tidak khusyu’</div>
<div>Perkara  kedua yang Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam meminta perlindungan  darinya adalah dari hati yang tidak khusyu’. Hati yang tidak khusyu’  adalah hati yang tidak mampu mentadabburi ayat-ayat Allah dan tidak  merasakan ketenangan pada saat berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla.</div>
<div>Allah Azza wa Jalla berfirman dalam beberapa ayat-Nya tentang ciri-ciri orang yang beriman (artinya):</div>
<div>(yaitu)  orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan  mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati  menjadi tenteram.(QS. Ar Ra’ad : 28)</div>
<div>Sesungguhnya  orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama  Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka  ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan hanya kepada  Rabblah mereka bertawakkal. (QS. Al Anfaal : 2)</div>
<div>Allah  telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang  serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit  orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan  hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan  kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya…(QS. Az Zumar : 22)</div>
<div>Sebaliknya  orang-orang kafir terutama orang Yahudi adalah orang-orang yang  memiliki hati yang keras, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala  firmankan dalam beberapa ayat-Nya :</div>
<div>Kemudian setelah itu hatimu (kaum Bani Israil) menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. (QS. Al Baqarah : 74)</div>
<div>Belumkah  datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka  mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka),  dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah  diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang  atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara  mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Hadid : 16)</div>
<div>Maka  apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama  Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang  membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah  membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang  nyata. (QS. Az Zumar : 22)</div>
<div>Diantara  hal yang sangat prinsip bagi seorang mu’min adalah wajib baginya untuk  tidak bertasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dalam segala hal baik  dalam penampilan zhahir maupun yang batin. Janganlah kita menjadi  seorang yang sangat berbeda dengan orang kafir dari sisi penampilan  zhohir namun hatinya diterlantarkan dan tidak diberikan kebutuhannya  sehingga menjadi hati yang sakit atau bahkan hati yang mati. Wal’iyadzu  billahi.</div>
<div>3) Doa yang tidak didengarkan</div>
<div>Ini  salah satu musibah yang terbesar bagi seorang hamba ketika doa dan  permintaannya tidak lagi didengar oleh Allah, karena kita adalah hamba  yang sangat fakir di hadapan-Nya. Maksud dari doa yang tidak didengarkan  adalah doa yang tidak dikabulkan bukan berarti Allah tidak mampu  mendengarkan permintaannya, karena Allah Maha Mendengar segala sesuatu.  Dalam Al Quran Allah Azza wa Jalla telah menjamin untuk senantiasa  menerima dan mengabulkan permintaa hamba-Nya, akan tetapi kadang ada doa  yang tidak diterima disisi-Nya disebabkan beberapa faktor, antara lain:</div>
<div>a. Doa untuk perbuatan dosa dan memotong tali silaturahim sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam :</div>
<div>لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ  (رواه مسلم )</div>
<div>“Seorang hamba senantiasa akan  dikabulkan doanya selama dia tidak berdoa untuk suatu dosa dan  memutuskan silaturahmi” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah  radhiyallohu anhu)(11)</div>
<div>b. Tergesa-gesa untuk melihat hasil dari doanya</div>
<div>Rasulullah shallalohu alaihi wa sallam bersabda :</div>
<div>يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي (متفق عليه)</div>
<div>“Seorang diantara kalian akan diterima  doanya selama dia tidak tergesa-gesa (melihat hasilnya) yaitu dia  mengatakan aku telah berdoa namun belum dikabulkan permintaanku” (HR.  Bukhari dan Muslim)(12)</div>
<div>c. Harta yang dimilikinya semuanya berasal dari barang yang haram</div>
<div>… الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ  أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ  وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ  بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ  (رواه مسلم)</div>
<div>(Rasulullah shallallohu alaihi wa  sallam menceritakan) seseorang yang mengadakan perjalanan dalam waktu  yang lama pakaian dan rambutnya telah lusuh berdebu dia menadahkan  tangannya ke atas langit seraya berkata : Ya Rabb, ya Rabb, namun  makanannya berasal dari harta yang haram, minumannya juga dari yang  haram, pakaiannya juga berasal dari yang haram serta dia telah  dikenyangkan dengan yang haram maka bagaimana mungkin doanya akan  diterima” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu)(13)</div>
<div>d. Meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar</div>
<div>عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ عَنْ  النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ :  وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ  لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ  لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ  تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ  (رواه الترمذي )</div>
<div>Dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallohu  anhu dari Nabi shallallohu alaihi wa sallam bersabda : “Demi yang jiwaku  berada di tangan-Nya, hendaknya kalian bersungguh-sungguh untuk beramar  ma’ruf nahi mungkar atau sudah dekat masanya Allah mengutus atas kalian  siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya lalu Allah tidak  mengabulkan doa-doa kalian”</div>
<div>(HR. Tirmidzi)(14)</div>
<div>4) Jiwa yang tidak kenyang</div>
<div>Yang  dimaksud di sini adalah jiwa yang tidak pernah puas dan bersyukur atas  nikmat Allah yang sifatnya duniawi, adapun tidak pernah puas terhadap  kenikmatan ukhrawi dan ingin agar selalu ditambahkan kepadanya maka hal  tersebut disyariatkan sebagaimana firman Allah :</div>
<div>“…dan katakanlah: “Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”</div>
<div>(QS. Thaha : 114)</div>
<div>Dunia  adalah kesenangan yang menipu dan kebanyakan anak manusia tidak pernah  merasa puas dan kenyang terhadap nikmat duniawi serta rakus akan harta  sehingga mereka senantiasa berlomba-lomba untuk mendapatkan dunia  sebanyak-banyaknya walaupun dengan cara-cara yang tidak dibenarkan dalam  syariat. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam  menyebutkan gambaran keadaan ini :</div>
<div>عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رضي الله عنه  أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ :  وَلَوْ أَنَّ لِابْنِ  آدَمَ وَادِيًا مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى إِلَيْهِ ثَانِيًا وَلَوْ كَانَ لَهُ  ثَانِيًا لَابْتَغَى إِلَيْهِ ثَالِثًا وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ  إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ  (رواه الترمذي و  أحمد</div>
<div>Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallohu anhu  bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda : “Seandainya  anak cucu Adam memiliki harta (emas) sebanyak satu lembah tentu dia akan  mencari lagi harta sebanyak itu dan seandainya dia telah memiliki harta  sebanyak dua lembah tentu dia akan mencari yang ketiga padahal tidak  ada yang memenuhi perut seorang manusia (pada saat dia meninggal dunia)  kecuali tanah dan Allah menerima taubat hamba-Nya yang bertaubat” (HR.  Tirmidzi dan Ahmad)     [  Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam  As Sunan; Kitab Manaqib 'an Rasulillah; Bab Manaqib Muadz, Zaid bin  Tsabit wa Ubay bin Ka'ab (3793) dan Imam Ahmad dalam Al Musnad ; Kitab  Musnad Al Anshor; Bab Hadits Zirr bin Hubays 'an Ubay bin Ka'ab . Hadits  semakna dengan ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari  sahabat Anas bin Malik radhiyallohu anhu)</div>
<div>Ath  Thibi ketika menerangkan hadits ini mengatakan bahwa maknanya: "Anak  cucu Adam memiliki tabiat mencintai harta dan senantiasa berusaha untuk  mendapatkannya serta tidak pernah kenyang darinya kecuali orang yang  telah Allah jaga dan selamatkan jiwanya dari sifat ini dan mereka itu  sangat sedikit" [Lihat : Tuhfatul Ahwadzi (6/519)]</div>
<div>Hadits  Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam di atas sangat relevan dengan  keadaan kita sekarang dimana ketika negeri kita menghadapi berbagai  macam krisis moneter yang berkepanjangan, maka diserukan kepada seluruh  rakyat untuk hidup hemat namun ironinya sebagian dari wakil-wakil rakyat  yang berkantong tebal justru menghabiskan dana yang besar untuk sekadar  melancong ke negri-negeri kafir dengan tujuan berbelanja bahkan yang  lebih menggelikan sekaligus menyedihkan mereka tanpa malu-malu menuntut  untuk dinaikkan gaji mereka yang sudah sangat besarnya bahkan begitu  banyak diantara mereka yang terjatuh dalam praktek suap dan korupsi,  Wallohul Musta’an.</div>
<div>PENUTUP DAN KESIMPULAN</div>
<div>Ada beberapa faidah dan pelajaran penting yang dapat kita petik dari hadits yang mulia ini, diantaranya :</div>
<div>1. Disyariatkan berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari empat perkara di atas</div>
<div>2.  Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam adalah seorang manusia yang  senantiasa menampakkan penghambaannya dan pengagungannya kepada Allah  subhanahu wa ta’ala</div>
<div>3.  Pelajaran yang berharga bagi setiap pribadi dari ummat ini untuk  senantiasa diliputi oleh rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla dan  menyadari eksistensinya sebagai seorang hamba yang fakir di hadapan  Rabb-Nya</div>
<div>4.  Anjuran dan pelajaran bagi ummat Islam untuk banyak berdoa dengan doa  di atas karena pada hakikatnya Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam  menyebut doa ini untuk kepentingan kita karena beliau seorang yang  ma’shum (terjaga) dari keempat perkara di atas</div>
<div>5.  Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa larangan bersajakYang  dimaksudkan bersajak pada doa adalah berdoa dengan kalimat-kalimat yang  huruf-huruf   akhirnya selalu sama, seperti contoh di atas dimana Nabi  Muhammad shallallohu alaihi wa sallam berlindung kepada empat perkara  yang semuanya berakhir dengan huruf  ‘ain (ع). Larangan bersajak pada  saat berdoa disebutkan dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Imam  Bukhari berkenaan dengan beberapa wasiat Ibnu Abbas kepada Ikrimah  diantaranya : “Jauhilah bersajak pada saat berdoa karena saya mendapati  Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam dan para sahabat senantiasa  menjauhinya”. Atsar ini disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Ash Shohih;  Kitab Ad Da’awaat; bab Maa Yukrahu Min As Saj’i Fid Du’aa  (Dimakruhkannya Bersajak Pada saat Doa] namun dikhususkan bagi mereka  yang memaksa-maksakan diri bersajak pada saat doa, adapun seseorang yang  memiliki lisan yang fasih dan cita rasa bahasa Arab yang tinggi  sehingga berdoa dengan bahasa yang sangat teratur dan bersajak tanpa  dipaksa-paksakan maka hal itu dibolehkan, wallohu a’lam.</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/berlindung-dari-empat-petaka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Dlobb = biawak</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/apakah-dlobb-biawak/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/apakah-dlobb-biawak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 04:21:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2027</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160; Apakah antum pernah mendengar kata dhobb? Kata ini berasal dari bahasa Arab yang disebutkan dalam beberapa hadits-hadits yang shohih. Dhobb adalah sejenis hewan yang melata dan hidup di padang pasir, dalam kamus-kamus Arab- Indonesia yang banyak digunakan di negeri kita seperti Al Munawwir kata dhobb diartikan dengan biawak, apakah memang demikian?  silakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/09/dlobb.png"><img class="size-thumbnail wp-image-2048 alignleft" title="dlobb" src="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/09/dlobb-150x135.png" alt="" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah antum pernah mendengar kata dhobb? Kata ini berasal dari bahasa  Arab yang disebutkan dalam beberapa hadits-hadits yang shohih. Dhobb  adalah sejenis hewan yang melata dan hidup di padang pasir, dalam  kamus-kamus Arab- Indonesia yang banyak digunakan di negeri kita seperti  Al Munawwir kata dhobb diartikan dengan biawak, apakah memang  demikian?  silakan antum memperhatikan gambar asli dari dhobb kemudian  buatlah kesimpulan dari pertanyaan ini</p>
<p>Kami juga memuat dua hadits yang menyebutkan tentang dhobb dan kami  sertakan sedikit fiqh dan pelajaran yang bisa dari kedua hadits yang  mulia ini</p>
<div>
<blockquote>
<h3>عَنْ  أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ  شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ  تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى  قَالَ فَمَنْ</h3>
</blockquote>
</div>
<p>1. Dari Abu Said Al Khudri radhiyallohu anhu bahwasanya Nabi shallallohu alaihi wa sallam bersabda, “<em>Sungguh-sungguh  kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal  demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga jika mereka masuk ke liang <strong>dhobb </strong>niscaya kalian juga akan mengikutinya</em>”. Kami bertanya, Wahai Rasulullah apakah yang engkau maksudkan orang Yahudi dan Nasrani? Beliau bersabda, “<em>Siapa lagi(kalau bukan mereka)</em>?”(HR. Bukhari dan Muslim, lafal ini sesuai redaksi<br />
Bukhari)<br />
<strong>Diantara fiqh dan pelajaran yang diambil dari hadits ini :</strong></p>
<ol>
<li>Hadit ini merupakan salah satu tanda kenabian Muhammad  shallalllohu alaihi wa sallam yang menginformasikan kepada ummatnya  hal-hal yang akan terjadi setelah wafat beliau</li>
<li>Secara lamban akan tetapi pasti sebagian kaum muslim akan taqlid  (mengekor) kebiasaan, budaya dan model hidup orang kafir Mereka yang  sudah menjadi korban mode orang kafir akan berupaya sedemikian rupa  untuk bisa mengikuti kebiasaan orang kafir tersebut walaupun untuk  sesuatu yang sulit dan beresiko</li>
<li>Orang kafir yang paling banyak menjadi ikutan dan panutan kaum muslimin yang sesaat adalah dari kalangan Yahudi dan Nasrani</li>
<li>Disyariatkannya membuat permisalan dalam menjelaskan sesuatu</li>
<li>Ibnu Hajar rahimahulloh mengatakan nampaknya pengkhususan dhobb  dalam perumpamaan ini karena pada dasarnya liang/lobang dhobb itu sangat  sempit dan jelek akan tetapi karena mereka begitu ingin mengikuti  budaya mereka maka walaupun orang Yahudi dan Nasrani masuk ke liang  dhobb (melakukan suatu budaya yang sulit diikuti dan nyata keburukannya)  maka mereka pun siap melakukan hal yang sama</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pertanyaannya bagaimana itu lubang dhobb?</p>
<p>Berikut kami lampirkan fotonya</p>
<div><a href="http://1.bp.blogspot.com/_nPcp5t5RHL4/Si93uviBkSI/AAAAAAAAAAc/lI_3f51yP08/s1600-h/3.jpg"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_nPcp5t5RHL4/Si93uviBkSI/AAAAAAAAAAc/lI_3f51yP08/s320/3.jpg" border="0" alt="" /></a></div>
<blockquote>
<h3><strong>2- عَنْ  عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رشي الله عنهما أَنَّ خَالِدَ بْنَ  الْوَلِيدِ رضي الله عنه الَّذِي يُقَالُ لَهُ سَيْفُ اللَّهِ أَخْبَرَهُ  أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  عَلَى مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  وَهِيَ خَالَتُهُ وَخَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ فَوَجَدَ عِنْدَهَا ضَبًّا  مَحْنُوذًا قَدِمَتْ بِهِ أُخْتُهَا حُفَيْدَةُ بِنْتُ الْحَارِثِ مِنْ  نَجْدٍ فَقَدَّمَتْ الضَّبَّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ وَكَانَ قَلَّمَا يُقَدَّمُ إِلَيْهِ طَعَامٌ حَتَّى يُحَدَّثَ  بِهِ وَيُسَمَّى لَهُ فَأَهْوَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ يَدَهُ إِلَى الضَّبِّ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْ النِّسْوَةِ  الْحُضُورِ أَخْبِرْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  بِمَا قَدَّمْتُنَّ لَهُ قُلْنَ هُوَ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ  فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ  فَقَالَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ أَحَرَامٌ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ  قَالَ : </strong><strong>]  لَا وَلَكِنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ [  قَالَ خَالِدٌ فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ يَنْظُرُ  فَلَمْ يَنْهَنِي (متفق غليه واللفظ لمسلم</strong>)</h3>
</blockquote>
<p>2.  Dari Abdullah bin Abbas radhiyallohu anhuma bahwa Kholid bin Walid  radhiyallohu anhu yang dijuluki Saifullah (pedang Allah) mengabarkan  kepada beliau (Ibn Abbas) bahwa Kholid bersama Rasulullah shallallohu  alihi wa sallam mendatangi Maimunah radhiyallohu anha istri NabI  shallallohu alaihi wa sallam yang juga merupakan bibi Kholid dan bibi  Ibn Abbas, beliau mendapati di sisinya dhobb panggang yang dibawa oleh  saudari Maimunah  yang bernama Hufaidah bintul Harits dari Najd lalu  beliau menghidangkan <strong><em>dhobb </em></strong>kepada Rasulullah shallallohu  alaihi wasallam dan selama ini sangat jarang beliau dihidangkan sesuatu  kecuali telah disampaikan tentang jenis makanannya. Maka Rasulullah  shallallohu alihi wa sallam menjulurkan tangannya untuk mengambil   daging dhobb lalu salah seorang wanita yang hadir pada saat itu berkata  beritakan kepada Rasulullah makanan yang kalian hidangkan kepada beliau.  Para wanita lalu berkata, “Itu daging dhobb  wahai Rasulullah”, maka  Rasulullah segera menarik tangannya dan tidak meraih daging tersebut,  Kholid bertanya, “Apakah daging dhobb haram wahai Rasulullah?”. Beliau  menjawab, “Tidak akan tetapi daging itu tidak terdapat di daerahku  sehingga aku tidak menyukainya karena jijik padanya”. Kata Kholid maka  aku mengambilnya lalu memakannya sedang Rasulullah shallallohu alaihi  wasallam melihatku dan beliau tidak mencegahku” (HR. Bukhari dan Muslim,  lafal hadits ini sesuai redaksi Imam Muslim)<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Diantara fiqh dan pelajaran yang diambil dari hadits ini </strong><br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/_nPcp5t5RHL4/Si93wX77NpI/AAAAAAAAAAk/_D5dQNMHgwE/s1600-h/4.jpg"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_nPcp5t5RHL4/Si93wX77NpI/AAAAAAAAAAk/_D5dQNMHgwE/s320/4.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<ol>
<li>Keutamaan Kholid bin Walid radhiyallohu anhu yang digelari  Saifullah (pedang Allah) dan hal ini dikenal dan diakui oleh para  sahabat yang lain</li>
<li>Disyariatkannya perjamuan makanan</li>
<li>Sebaiknya tuan rumah menjelaskan jenis makanan yang dihidangkan  kepada tamunya, agar tamu tidak mencicipi sesuatu yang tidak cocok  baginya tanpa disadarinya</li>
<li>Adab mulia yang ditunjukkan oleh para wanita yang menjamu Rasulullah shallallohu alaihi wasallam</li>
<li>Halalnya daging dhobb</li>
<li>Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam sebagaimana manusia lainnya menyukai sebagian makanan dan tidak menyukai sebagiannya</li>
<li>Makanan yang tidak disukai dan ditinggalkan oleh Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam tidak berarti dia sesuatu yang haram</li>
<li>Bukan merupakan suatu kewajiban mengikuti Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam dalam selera makan</li>
<li>Kesukaan terhadap suatu makanan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan keadaan daerah seseorang</li>
<li>Hadits ini merupakan salah satu dalil pokok tentang taqrir, yaitu  diamnya Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam terhadap seuatu  perkataan dan perbuatan yang beliau ketahui menunjukkan persetujuan dan  bolehnya perkara tersebut</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/apakah-dlobb-biawak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MUNGKINKAH MENGETAHUI HADITS PALSU TANPA MELIHAT SANAD?</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/mungkinkah-mengetahui-hadits-palsu-tanpa-melihat-sanad/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/mungkinkah-mengetahui-hadits-palsu-tanpa-melihat-sanad/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 May 2011 00:27:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1915</guid>
		<description><![CDATA[MUNGKINKAH MENGETAHUI HADITS PALSU TANPA MELIHAT SANAD? &#160; Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:&#8220;Pertanyaan seperti ini sangat berharga dan berbobot, yang mengetahui hal itu hanyalah orang-orang yang mendalam pengetahuannya terhadap hadits-hadits yang shahih, dan pengetahuan itu sudah mendarah daging dalam dirinya. Maka jadilah dia memiliki kemampuan, memiliki spesialisasi yang mendalam terhadap pengetahuan hadits-hadits dan atsar (riwayat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MUNGKINKAH MENGETAHUI HADITS PALSU TANPA MELIHAT SANAD?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata:<em>&#8220;Pertanyaan  seperti ini sangat berharga dan berbobot, yang mengetahui hal itu  hanyalah orang-orang yang mendalam pengetahuannya terhadap hadits-hadits  yang shahih, dan pengetahuan itu sudah mendarah daging dalam dirinya.  Maka jadilah dia memiliki kemampuan, memiliki spesialisasi yang mendalam  terhadap pengetahuan hadits-hadits dan atsar (riwayat dari selain  Nabi), dia juga mengetahui sejarah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>,  mengetahui petunjuk beliau dalam hal-hal yang beliau perintahkan dan  apa yang beliau larang. Dia juga mengetahui kabar/berita dari beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>,  apa yang beliau dakwahkan,  apa yang beliau cintai, apa yang beliau  benci, dan apa yang beliau syri&#8217;atkan untuk ummatnya, yang mana dia  seolah-olah bergaul dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> seakan-akan dia adalah salah seorang Shahabat Nabi.<br />
</em></p>
<p><em>Maka orang yang seperti ini keadaannya, dia mengetahui ciri-ciri atau keadaan   Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>,  petunjuknya, ucapan-ucapannya, dan apa yang boleh disampaikan dan apa  yang tidak boleh disampaikan, dari sesuatu yang tidak diketahui oleh  selainnya. Dan ini adalah kondisi seorang pengikut terhadap orang yang  diikutinya…..</em>Sampai beliau <em>rahimahullah</em> berkata:<em>&#8220;Dan akan Kami beritahukan beberapa perkara yang global, yang dengannya dapat diketahui bahwa hadits tersebut palsu.</em> Di antaranya:</p>
<p>1. Terkandung di dalamnya perkataan-perkataan yang kacau dan tidak beraturan, yang tidak mungkin Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> berbicara dengan perkataan-perkataan semisal itu.</p>
<p>2. Didustakan oleh panca indera; seperti hadits (palsu):</p>
<p dir="rtl">
&#8221; الباذنجان لما أُكِل له &#8221; .</p>
<p>&#8220;Terong itu tergantung niat yang memakannya.&#8221;</p>
<p>3. Buruknya makna hadits dan keadaannya yang menggelikan, seperti hadits (palsu):</p>
<p dir="rtl">
&#8221; لو كان الأرز رجلاً ؛ لكان حليمًا &#8221; الحديث .</p>
<p>&#8220;Sekiranya beras adalah seorang laki-laki maka niscaya dia akan menjadi laki-laki yang lembut.&#8221;</p>
<p>4. Pertentangannya yang nyata dengan hadits  yang shahih dan terang, maka setiap hadits yang di dalamnya ada  kerusakan, kezhaliman, kesia-siaan, pujian kepada kebathilan, celaan  terhadap kebenaran dan lain-lain, maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> berlepas diri diri hadits-hadits yang semacam itu.</p>
<p>Aku (Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em>) berkata:<em>&#8220;Dan  penafsiran &#8220;Pertentangannya dengan ushul (pokok) agama&#8221; yang digunankan  Ibnul Qayyim lebih utama dibandingkan penafsiran orang yang  menafsirkannya dengan &#8220;tidak adanya hadits itu di dalam kitab-kitab  Islam.&#8221;</em></p>
<p>5. Mengaku/mengklaim bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> melakukan sesuatu perbuatan yang terang dan jelas di hadapan para semua Shahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>, dan para Shahabat bersepakat untuk menyembunyikan hadits tersebut dan tidak menyampaikannya. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mencontohkan dengan perkataan Rafidhah tentang wasiat beliau kepada &#8216;Ali <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>.</p>
<p>6. Perkataan tersebut sama sekali tidak mirip dengan ucapan para Nabi <em>&#8216;alaihimussalam</em>, lebih-lebih kalau dibandingkan dengan ucapan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p>7. Disebutkan dalam hadits tersebut waktu tertentu (bulan, atau tahun tertentu) seperti ucapan:<em>&#8220;Jika  datang tahun ini dan itu maka akan terjadi seperti ini dan seperti ini,  Jika datang bulan ini dan itu maka akan terjadi seperti ini dan seperti  ini.&#8221;</em> Sebagaimana dalam hadits (palsu):<br />
&#8221; إذا انكسف القمر في المحرم؛ كان الغلاء ، والقتال ، وشغل السلطان ، وإذا انكسف في صَفَر ؛ كان كذا وكذا &#8221; .</p>
<p>&#8220;Jika terjadi gerhana bulan pada bulan  Muharran maka akan terjadi kenaikan harga, peperangan, dan kesibukan  Raja. Dan jika terjadi pada bulan Shafar maka akan terjadi ini dan itu.&#8221;</p>
<p>8. Hadits-hadits tentang Shalat nishfu Sya&#8217;ban</p>
<p>9. Hadits-hadits tentang shalat-shalat tertentu pada hari-hari atau malam-malam khusus.</p>
<p>10. Hadits-hadits yang menceritakan tentang  kisah Khidir dan tentang hidupannya beliau saat ini, tidak ada satu pun  hadits yang shahih.</p>
<p>(<strong>Sumber: هل يمكن معرفة الحديث الموضوع بضابط من غير أن يُنْظَر في سنده ؟ </strong> dari http://salahmera.com/vb/showthread.php?t=1715 dengan ringkasan. Oleh Abu Yusuf Sujono</p>
<p>http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihathadits&#038;id=262</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Teks aslinya:</p>
<p><span style="font-size: x-large;"><span style="color: black;"><span style="color: red;">هل يمكن معرفة الحديث الموضوع بضابط من غير أن يُنْظَر في سنده ؟</span><br />
<span style="color: blue;">قال الإمام ابن القيم – رحمه الله &#8211; :</span><br />
هذا سؤال عظيم القدْر، وإنما يَعْلَم بذلك مَنْ تضلَّع في معرفة السنن  الصحيحة، واختلطت بلحمه ودمه، وصار له فيها مَلَكَة ، وصار له اختصاص شديد  في معرفة السنن والآثار، ومعرفة سيرة رسول الله &#8211; صلى الله عليه وعلى آله  وسلم &#8211; وهديه فيما يأمر به، وينهى عنه ، ويخبر عنه ، ويدعو إليه ، ويحبه ،  ويكرهه ، ويشرعه للأمة ، بحيث كأنه مخالط للرسول &#8211; صلى الله عليه وعلى آله  وسلم &#8211; كواحد من أصحابه، فمثل هذا يعرف أحوال الرسول &#8211; صلى الله عليه وعلى  آله وسلم – وهديه، وكلامه، وما يجوز أن يخبر به، وما لا يجوز، مالا يعرفه  غيره، وهذا شأن كل مُتَّبِع مع مَتْبوعه &#8230;.&#8221; إلى أن قال – رحمه الله &#8211; : &#8221;  ونحن ننبه على أمور كلية ، يُعْرَف بها كون الحديث موضوعًا ، منها :<br />
<span style="color: blue;">1-</span> اشتماله على أمثال هذه المجازفات،التي لا يقول مثلها رسول الله -صلى الله عليه وعلى آله وسلم- .<br />
<span style="color: blue;">2-</span> تكذيب الحِسّ له، كحديث:&#8221; الباذنجان لما أُكِل له &#8221; .<br />
<span style="color: blue;">3-</span> سماجة الحديث، وكونه مما يُسْخَر منه، كحديث: &#8221; لو كان الأرز رجلاً ؛ لكان حليمًا &#8221; الحديث .<br />
<span style="color: blue;">4-</span> مناقضة الحديث لما جاءت به السنة الصريحة  مناقضة بَيِّنةً ، فكل حديث يشتمل على فسادٍ، أو ظلم ، أو عَبَث ، أو مدح  باطل ، أو ذم حق، أو نحو ذلك ، فرسول الله &#8211; صلى الله عليه وعلى آله وسلم &#8211;  منه بريء .<br />
قلت : وتفسير&#8221; مناقضة الأصول بما ذكره ابن القيم أولى من تفسير من فسرها بعدم وجود الحديث في دواوين الإسلام(1).<br />
<span style="color: blue;">5-</span> أن يَدَّعي على النبي &#8211; صلى الله عليه وعلى  آله وسلم &#8211; أنه فعل أمرًا ظاهرًا بمحضر من الصحابة كلهم، وأنهم اتفقوا على  كتمانه ، ولم ينقلوه &#8230;. ومثَّل ابن القيم لذلك بقول الراوفض في الوصية  لعلي &#8211; رضي الله عنه &#8211; .<br />
<span style="color: blue;">6-</span> أن يكون الحديث باطلاً في نفسه، فيدل بطلانه على أنه ليس من كلام الرسول &#8211; صلى الله عليه وعلى آله وسلم &#8211; .<br />
<span style="color: blue;">7-</span> أن يكون كلامه لا يشبه كلام الأنبياء فضلاً عن كلام الرسول -صلى الله عليه وعلى آله وسلم- .<br />
<span style="color: blue;">8-</span> أن يكون في الحديث تاريخ كذ وكذا، مثل قوله: &#8221;  إذا كان سنة كذا وكذا؛ وقع كَيْت وكَيْت، وإذا كان شهر كذا وكذا ،وقع  كَيْت وكيت، كما في حديث: &#8221; إذا انكسف القمر في المحرم؛ كان الغلاء ،  والقتال ، وشغل السلطان ، وإذا انكسف في صَفَر ؛ كان كذا وكذا &#8221; .<br />
<span style="color: blue;">9-</span> أن يكون بوصْف الأطباء والطرقية أشبه وأليق ، كما في حديث &#8221; أكل السمك يوهن الجسد، والهريسة تشد الظهر &#8221; .<br />
<span style="color: blue;">10- </span>أحاديث العقل كلها كذب .<br />
<span style="color: blue;">11-</span> الأحاديث التي يذكر فيها الخضر وحياتة : كلها كذب ، ولا يصح في حياته حديث واحد .<br />
<span style="color: blue;">12-</span> أن يكون الحديث مما تقوم الشواهد الصحيحة على بطلانه .<br />
<span style="color: blue;">13-</span> مخالفة الحديث صريح القرآن ، كحديث: مقدار الدنيا،وأنها سبعة آلاف،ونحن في الألف السابعة .<br />
<span style="color: blue;">14-</span> أحاديث صلوات الأيام والليالي &#8230; إلى آخر الأسبوع .<br />
<span style="color: blue;">15-</span> أحاديث صلوات ليلة النصف من شعبان .<br />
<span style="color: blue;">16-</span> ركاكة ألفاظ الحديث وسماجتها ، بحيث يمجّها  السمع ، ويدفعها الطبع، ويسمج معناها للفطن، كحديث: &#8221; أربع لا تَشْبع من  أربع : أنثى مِنْ ذَكَر ، وأرض مِنْ مَطَر ، وعَيْن مِنْ نَظَر ، وأُذُن  مِنْ خَبر&#8221;.<br />
<span style="color: blue;">17-</span>أحاديث ذم الحبشة والسودان كذب .<br />
<span style="color: blue;">18-</span> أحاديث ذم الترك ، ، وأحاديث ذم الخصيان ، وأحاديث ذم المماليك .<br />
<span style="color: blue;">19-</span> ما يقترن بالحديث من القرائن التي يعلم بها أنه باطل اهـ ملخصًا من &#8221; المنار المنيف &#8220;(2).</p>
<p>__________<br />
(1) قاله ابن الجوزي ، انظر &#8221; التدريب &#8221; ( 1 / 277 ) .<br />
(2) ص 50 – 105 .</span></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://salahmera.com/vb/showthread.php?t=1715</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/mungkinkah-mengetahui-hadits-palsu-tanpa-melihat-sanad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SANAD &#8216;ALI (TINGGI)</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/sanad-ali-tinggi/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/sanad-ali-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Apr 2011 20:35:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1845</guid>
		<description><![CDATA[SANAD &#8216;ALI (TINGGI) &#160; Di dalam shahih Muslim disebutkan: حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: نُهِينَا أَنْ نَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ فَكَانَ يُعْجِبُنَا أَنْ يَجِيءَ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَيَسْأَلَهُ وَنَحْنُ نَسْمَعُ فأتاهَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَقَالَ يَا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SANAD &#8216;ALI (TINGGI)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di dalam shahih Muslim disebutkan:</p>
<p dir="rtl">
حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: نُهِينَا أَنْ نَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ فَكَانَ يُعْجِبُنَا أَنْ يَجِيءَ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَيَسْأَلَهُ وَنَحْنُ نَسْمَعُ فأتاهَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَتَانَا رَسُولُكَ فَزَعَمَ أَنَّكَ تَزْعُمُ أَنَّ اللَّهَ أَرْسَلَكَ قَالَ صَدَقَ قَالَ فَمَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ والْأَرْضَ؟ قَالَ: اللَّهُ .قَالَ فَمَنْ نَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ؟ قَالَ: اللَّهُ . قَالَ فَمَنْ جعل هذا المنافع؟ قَالَ: اللَّهُ .قَالَ فَبِالَّذِي خَلَقَ السَّمَاءَ وَخَلَقَ الْأَرْضَ وَنَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ آللَّهُ أَرْسَلَكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِنَا وَلَيْلَتِنَا قَالَ صَدَقَ قَالَ فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ نَعَمْ قَالَ وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا زَكَاةً فِي أَمْوَالِنَا قَالَ صَدَقَ قَالَ فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ نَعَمْ قَالَ وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ فِي سَنَتِنَا قَالَ صَدَقَ قَالَ فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ نَعَمْ قَالَ وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا حَجَّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقَ قَالَ ثُمَّ وَلَّى قَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَزِيدُ عَلَيْهِنَّ وَلَا أَنْقُصُ مِنْهُنَّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَئِنْ صَدَقَ لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّ (رواه مسلم )</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qosim,(ia berkata) telah menceritakan kepada kami Abu an-Nadlr telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin al-Mughirah dari Tsabit dari Anas bin Malik dia berkata:<em>&#8220;Dahulu kami dilarang untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sesuatu (yang tidak penting). Sungguh menggembirakan kami kedatangan seorang laki-laki dari kampung pedalaman (badui) , lalu menanyakan sesuatu kepada beliau dan kami mendengarkannya. ( Pada suatu hari) datanglah seorang laki-laki dari mereka, dan berkata:<strong>‘Wahai Muhammad, telah datang utusanmu kepada kami, lalu ia mengklaim bahwa engkau mengklaim bahwa Allah mengutusmu.’</strong>Rasulullah menjawab:<strong>‘Benar’.</strong>Dia bertanya:<strong>‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?&#8217;</strong>Rasulullah menjawab:<strong>‘Allah.’</strong>Dia bertanya:Dia bertanya lagi:<strong>‘Siapakah yang memancangkan gunung-gunung?&#8217;</strong>Beliau menjawab:<strong>‘Allah.&#8217;</strong>Siapakah yang menjadikan manfaat-manfaat ini di dalamnya ?&#8217;, beliau menjawab : Allah.Dia berkata:<strong>‘Maka demi Dzat yang menciptakan langit, menciptakan bumi, memancangkan gunung-gunung ini, dan menjadikan manfaat-manfaat ini di dalamnya. Apakah Allah yang mengutusmu?&#8217;</strong>Beliau menjawab:<strong>‘Benar.&#8217;</strong>Dia bertanya:<strong>‘Utusanmu mengklaim bahwa kami diwajibkan menunaikan shalat lima waktu sehari semalam (apakah ini benar)?&#8217;</strong>Beliau menjawab:<strong>‘Benar.Dia berkata :utusanmu mengklaim bahwa kami wajib membayar zakat pada harta kami (apakah ini benar ?). Beliau menjawab : Benar.&#8217;</strong>Dia berkata:<strong>‘Demi Dzat yang mengutusmu, apakah Allah memerintahkanmu untuk melakukan ini?&#8217;</strong>Beliau menjawab:<strong>‘Benar’.</strong>Dia berkata:<strong>‘Utusanmu mengklaim bahwa kami wajib berpuasa satu bulan (Ramadlan) setiap tahun (apakah ini benar)?&#8217;Beliau menjawab:<strong>‘Benar.&#8217;</strong>Dia berkata:<strong>‘Apakah Allah memerintahkanmu untuk melakukan ini?&#8217;</strong>Beliau menjawab:<strong>‘Benar’.</strong>Dia berkata:<strong>‘Utusanmu mengklaim bahwa kami wajib menunaikan ibadah haji bagi siapa di antara kami yang mampu menempuh jalannya, (apakah ini benar?)&#8217;</strong>Beliau menjawab:<strong>‘Benar’.</strong>Kemudian dia berpaling dan berkata:<strong>‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambah (kewajiban tersebut) dan tidak akan menguranginya.</strong>Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<strong>“Jika benar (yang dikatakannya), sungguh dia akan masuk surga.’&#8217;</strong></strong></em> <strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Abu &#8216;Abdillah (al-Hakim) <em>rahimahullah</em> berkata:<em>&#8220;Hadits ini diriwayatkan dalam sanad yang shahih milik imam Muslim <em>rahimahullah</em>. Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya seseorang mencari sanad &#8216;Ali (yang tinggi/dekat dengan Nabi) dan tidak mencukupkan diri dengan sanad nuzul (yang rendah/jauh dari Nabi) sekalipun ia mendengarnya (sanad rendah tersebut) dari seorang yang tsiqah. Karena seorang Badui tadi ketika utusan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> datang kepadanya, lalu mengabarkan kepadanya apa-apa yang diwajibkan oleh Allah kepada mereka, hal itu tidak membuatnya puas (merasa cukup), hingga dia akhirnya pergi langsung mendatangi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> untuk mendengarkan dari beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> apa yang disampaikan oleh utusan tersebut dari beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>. Seandainya mencari sanad &#8216;Ali tidak dianjurkan tentu al-Musthafa (Rasulullah) <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> akan mengingkari pertanyaan orang badui kepada beliau tentang apa yang disampaikan oleh utusan beliau kepadanya.&#8221;</em><br />
</strong></p>
<p><strong>Sanad &#8216;Ali (tinggi) adalah sanad yang dekat dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, yang mana jumlah perawi yang meriwayatkan hadits itu lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan sanad lain yang meriwayatkan hadits yang sama.<br />
</strong></p>
<p><strong>Sanad Nazil (rendah) adalah lawan dari sanad &#8216;Ali, yang mana jumlah perawinya lebih banyak dibandingkan perawi lain yang meriwayatkan hadits yang sama.<br />
</strong></p>
<p><strong>maksudnya adalah ada satu hadits yang disampaikan melalui dua jalur atau dua sanad yang berbeda, yang mana salah satu sanadnya lebih banyak jumlah perawinya dan sanad yang lain lebih sedikit. Yang lebih sedikit itu dinamakan sanad &#8216;Ali sedangkan yang lebih banyak dinamakan sanad Nazil.<br />
</strong></p>
<p><strong>Ibnul Mubarak berkata:<em>&#8220;Sanad adalah agama, kalau seandainya tidak ada sanad niscaya setiap orang akan berkata apa saja yang dia inginkan.&#8221;</em><br />
</strong></p>
<p><strong>Abu &#8216;Abdillah (al-Hakim) <em>rahimahullah</em> berkata:<em>&#8220;Maka kalau bukan karena isnad (sanad) dan pencarian sanad &#8216;Ali (tinggi) serta ketekunan mereka dalam menjaganya (menghafalnya) niscaya akan padamlah cahaya Islam, dan akan memudahkan orang-orang atheis dan ahli bid&#8217;ah untuk memalsukan hadits dan memutar balikan sanad. Karena khabar (hadits) apabila kosong dari sanad ia akan terputus (tidak bersambung kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>)..&#8221;</em><br />
</strong></p>
<p><strong>Abu &#8216;Abdillah (al-Hakim) <em>rahimahullah</em> berkata:<em>&#8220;Adapun mencari sanad &#8216;Ali, maka hal itu dianjurkan sebagaimana telah kami sebutkan. Banyak dari kalangan Shahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> yang melakukan rihlah (perjalanan jauh) untuk mencari sanad &#8216;Ali.&#8221;</em><br />
</strong></p>
<p><strong>Di antaranya apa yang diriwayatkan dari &#8216;Atha bin Abi Rabah <em>rahimahullah</em> dia berkata:&#8221;Abu Ayyub <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> ke luar (dari Madinah) menuju tempat &#8216;Uqbah bin &#8216;Amir <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> untuk menanyakan tentang hadits yang ia dengar dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, dan tidak tersisa satu shahabat pun yang mendengar dari beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> selain dia dan &#8216;Uqbah. Ketika dia tiba di rumah Maslamah bin Mikhlad al-Anshari <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> –ia adalah gubernur Mesir- maka ia mengabarinya, lalu dengan bergegas Maslamah pun keluar menemuinya lalu memeluknya dan berkata:<em>&#8220;Apa yang membuatmu datang ke sini wahai Abu Ayyub?&#8221;</em> Maka ia menjawab:<em>&#8220;Suatu hadits yang aku dengar dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang tidak tersisa satu orang pun yang mendengarnya dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> selain aku dan &#8216;Uqbah, maka utuslah orang untuk menunjukkan aku ke rumahnya.&#8221;</em>&#8216;Atha berkata:&#8221;Maka ia mengutus orang untuk menunjukkinya ke rumah &#8216;Uqbah. Lalu dia mengabarkan kepada &#8216;Uqbah, maka &#8216;Uqbah pun bergegas dan keluar menemuinya lalu memeluk Abu Ayyub. Kemudian &#8216;Uqbah berkata:<em>&#8220;Apa yang menyebabkan kamu datang ke sini wahai Abu Ayyub?&#8221;</em>Ia menjawab:<em>&#8220;Suatu hadits yang aku dengar dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang tidak tersisa satu orang pun yang mendengarnya dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> selain aku dan kamu tentang satrul mu&#8217;min (menutup aib orang beriman).&#8221;</em>&#8216;Uqbah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata:<em>&#8220;Benar, aku mendengar dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:&#8217;</em></strong></p>
<p dir="rtl"><strong><br />
مَنْ سَتَرَ مُؤْمِنًا فِى الدُّنْيَا عَلَى خِزْيَةٍ سَتَرَهُ الله يَوْمَ الْقِيَامَةِ<br />
&#8220;</strong></p>
<p><strong>Barangsiapa menutupi aib seorang mu&#8217;min di dunia, Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat.&#8221;<br />
</strong></p>
<p><strong>Maka Abu Ayyub <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata kepadanya:<em>Engkau benar.&#8221;</em> Kemudian Abu Ayyub <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berlalu menuju binatang tunggangannya lalu menaikinya dan kembali ke Madinah.&#8221;<br />
</strong></p>
<p><strong>Abu &#8216;Abdillah (Imam al-Hakim) <em>rahimahullah</em> berkata:<em>&#8220;Maka inilah Abu Ayyub <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> sekalipun persahabatannya dengan Nabi lebih awal (lebih dahulu), dan hafalan haditsnya dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> banyak, tetapi dia pergi menuju salah seorang Shahabat yang masih sebaya dengannya untuk mendapatkan satu hadits. Seandainya dia mencukupkan diri dengan mendengarkan hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> dari sebagian Shabat saja maka itu bisa saja dia lakukan.</em><br />
</strong></p>
<p><strong>Di antaranya apa yang diriwayatkan dari Malik dari Yahya dari Sa&#8217;id bin al-Musayyib <em>rahimahumullah</em>, dia berkata:<em>&#8220;Sungguh dahulu aku pernah bersafar (bepergian jauh) sejauh perjalanan beberapa hari dan malam untuk mendapatkan satu hadits.&#8221;</em><br />
</strong></p>
<p><strong>Di antarnya apa yang dikatakan oleh Marzuq, aku mendengar &#8216;Amr bin Abi Salamah berkata:&#8221;Aku berkata kepada al-Auzaa&#8217;i:<em>&#8216;Wahai Abu &#8216;Amr, aku telah menemanimu selama empat hari, namun aku hanya mendengar darimu tiga puluh hadits saja.&#8217;</em> Dia berkata:<em>&#8216;Engkau menganggap sedikit tiga puliuh hadits yang engkau dapatkan dalam waktu empat hari! Jabir bin &#8216;Abdillah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> pernah berjalan menuju Mesir, membeli kuda lalu menaikinya, sehingga ia bisa bertanya kepada &#8216;Uqbah bin &#8216;Amir <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> untuk menanyakan satu hadits saja, lalu kemudian ia kembali ke Madinah. Sedangkan engkau menganggap sedikit tiga puluh hadits yang engkau dapatkan dalam empat hari.&#8217;</em><br />
</strong></p>
<p><strong>Abu &#8216;Abdillah (Imam al-Hakim) <em>rahimahullah</em> berkata:<em>&#8220;Dan Jabir bin &#8216;Abdillah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, sekalipun banyak hafalannya, dan seringnya ia bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, dia rela menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan satu hadits dari orang yang sederajat atau di bawahnya. <strong>Bersambung, Insyaa Allah…..</strong></em><br />
</strong></p>
<p><strong>Sumber: diringkas dari <strong>معرفة علوم الحديث</strong> karya Imam al-Hakim <em>rahimahullah</em>, diposting oleh Abu Yusuf Sujono) </strong></p>
<p>http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihathadits&#038;id=258</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/sanad-ali-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terjemah Matan Al Mandzhumah Al Baiquniyyah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/terjemah-matan-al-mandzhumah-al-baiquniyyah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/terjemah-matan-al-mandzhumah-al-baiquniyyah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 20:08:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1479</guid>
		<description><![CDATA[Penulis kitab ini adalah Syaikh Thaha bin Muhammad bin Futuh Al Baiquny, seorang Ahli Hadits yang hidup   sebelum tahun 1080 H atau 1669 M. Pengarang kitab Fathul Qadir AL Mughits di dalam bidang hadits.  Tidak ada hal lain yang diketahui oleh para ulama tentang Syaikh Al Baiquny, bahkan mereka berselisih tentang nama nya, sebagian mengatakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis kitab ini adalah Syaikh Thaha bin Muhammad bin Futuh Al Baiquny, seorang Ahli Hadits yang hidup   sebelum tahun 1080 H atau 1669 M. Pengarang kitab Fathul Qadir AL Mughits di dalam bidang hadits.  Tidak ada hal lain yang diketahui oleh para ulama tentang Syaikh Al Baiquny, bahkan mereka berselisih tentang nama nya, sebagian mengatakan bahwa beliau bernama Thaha, sebagian lain mengatakan bahwa namanya adalah ‘Umar.</p>
<p>Kitab Matan Al Mandhzumah AL Baiquniyyah merupakan kitab dasar ilmu hadits yang dirangkai dalam bait-bait syair yang berisi istilah dasar seputar pembagian hadits dan macam-macam nya.  Kitab ini sangat baik dijadikan pegangan awal sebelum membaca kitab-kitab hadits yang lebih tinggi.</p>
<h3 style="text-align: center;"><strong>منظومة البيقونية</strong></h3>
<h3 style="text-align: center;">أَبْـدَأُ بِالحَمْـدِ مُـصَلِّياً علـى * مُحَمَّــدٍ خَيْرِ نَبيِّ أُرْسِـلا</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَذي مـنْ أقسـامِ الحَديثِ عِدَّهْ * وَكُـلُّ وَاحِـدٍ أَتَى وَعَـدَّهْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">أَوَّلُهَا الصَّحِيحُ وَهُـوَ مَا اتَّصَـلّْ* إسْنَادُهُ وَلَمْ يَشُـذَّ أَوْ يُعَـلّْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">يَرْويهِ عَدْلٌ ضَـابِطٌ عَنْ مِثْلِـهِ  * مُعْتَمَـدٌ فِي ضَبْطِهِ وَنَقْلِـهِ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَالحَسَنُ المَعْروفُ طُرْقـاً وَغدَتْ * رِجَالَهُ لا كَالصَّحِيحِ اشْتَهَرَتْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الحُسْنِ قَصُـرْ * فَهُوَ الضَّعِيفُ وَهْوَ أَقْسَامَاً كَثُرْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَمَـا أُضِيفَ لِلنَّبي المَرْفُــوعُ * وَمَـا لِتَابِعٍ هُـوَ المَقْطُـوعُ</h3>
<h3 style="text-align: center;">والمُسْنَدُ المُتَّصِلُ اْلإسْنَادِ مِــنْ * رَاوِيهِ حَتَّى المُصْطَفَى ولَمْ يَبِنْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَمَـا بِسَـمْعِ كُلِّ رَاوٍ يَتَّصِـلْ * إسْنَادُهُ لِلْمُصْطَفَى فَالْمُتَّصِـلْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">مُسَلْسَلٌ قُلْ مَا عَلَى وَصْفٍ أَتَى * مِثْلُ أَمَا وَاللـهِ أَنْبَانِي الْفَتَـى</h3>
<h3 style="text-align: center;">كَـذَاكَ قَـدْ حَدَّثَنِيهِ قَائِمــا * أَوْ بَعْـدَ أَنْ حَدَّثَنِـي تَبَسَّـما</h3>
<h3 style="text-align: center;">عَزِيزُ مَرْوِي اثْنَينِ أَوْ ثَلاَثَــهْ * مَشْهُورُ مَرْوِي فَوْقَ مَـا ثَلاَثَهْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">مُعَنْعَنٌ كَعَنْ سَعِيدٍ عَـنْ كَـرَمْ * وَمُبْهَمٌ مَـا فيهِ رَاوٍ لَمْ يُسَـمّْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَكُـلُّ مـَا قَلَّتْ رِجَالُهُ عَـلاَ * وَضِـدُهُ ذَاكَ الَّذِي قَدْ نَـزَلاَ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَمَا أَضَفْتَهُ إِلى الأَصْحَـابِ مِنْ * قَوْلٍ وَفِعْلٍ فَهْوَ مَوْقُوفٌ زُكِنْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَمُرْسَـلٌ مِنْهُ الصَّحَابِيُّ سَقَطْ * وَقُلْ غَرِيبٌ مَا رَوَى رَاوٍ فَقَطْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَكُـلُّ مَا لَـمْ يَتَّصِلْ بِحَـالِ * إِسْـنَادُهُ مُنْقَطِعُ اْلأوْصَـالِ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَالمُعْضَلُ السَّـاقِطُ مِنْهُ اثْنَـانِ * وَمَـا أَتَى مُدَلَّسـاً نَوْعَـانِ</h3>
<h3 style="text-align: center;">الأَوَّلُ الاسْـقَاطُ للشَّيْخِ وَأنْ * يَنْقُـلَ عَـمَّنْ فَوْقَهُ بِعَنْ وَأَنْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَالثَّانِ لا يُسْـقِطُهُ لَكِنْ يَصِفْ * أَوْصَـافَهُ بِمَا بِـهِ لا يَنْعَـرِفْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَمَا يُخَـالِفْ ثِقَةٌ فِيـه المَـلا * فَالشَّاذُّ وَالمَقْلُوبُ قِسْمَانِ تَـلا</h3>
<h3 style="text-align: center;">إِبْـدَالُ رَاوٍ مَا بِرَاوٍ قِسْــمُ * وَقَلْبُ إِسْـنَادٍ لِمَتْنٍ قِسْــمُ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَالْفَـرْدُ مَا قَيَّدْتَـهُ بِثِقَــةِ * أَوْ جَمْعٍ أَوْ قَصْرٍ عَلَى رِوَايَـةِ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَمَـا بِعِلَّةٍ غُمُوضٍ أَوْ خَفَــا * مُـعَلَّلٌ عِنْدَهُـمُ قَـدْ عُرِفَـا</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَذو اخْتِلافِ سَـنَدٍ أَوْ مَتْـنِ * مُضْطَرِبٌ عِنْدَ أُهَـيْلِ الْفَـنِّ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَالمُدْرَجَاتُ في الحَدِيثِ مَا أَتَتْ * مِنْ بَعْضِ أَلْفَاظِ الرُّواةِ اتَّصَلَتْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَمَا رَوَى كُلُّ قَرِينٍ عَنْ أَخِـهْ * مُدَبَّجٌ فَاعْرِفْهُ حَقَـاً وَانْتَخِـهْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">مُتَّفِقٌ لَفْظـاً وَخَطـاً مُتَّفِـقُ * وَضِدُّهُ فِيمَــا ذَكَرْنَا المُفْتَرِقْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">مُؤتَلِفٌ مُتَّفِقُ الخَطِّ فَقَـــطْ * وَضِدُّهُ مُخْتَلِفٌ فَاخْشَ الغَلَطْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَالمُنْكَرُ الْفَرْدُ بِهِ رَاو غَــدَا * تَعْدِيلُهُ لا يَحْمِــلُ التَّفَـرُّدَا</h3>
<h3 style="text-align: center;">مَتْرُوكُهُ مَا وَاحِدٌ بِهِ انْفَــرَدْ * وَأَجْمَعُوا لِضَعْفِهِ فَهْوَ كَــرَدّْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَالكَــذِبُ المُخْتَلَقُ المَصْنُوعُ * عَلَى النَّبِي فَــذَلِكَ المَوْضُوعُ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَقَــدْ أَتَتْ كَالجَوْهَرِ المَكْنُونِ * سَــمَّـيْتُهَا مَنْظُومَةَ البَيْقُونِي</h3>
<h3 style="text-align: center;">فَـــوْقَ الثَّلاثِينَ بِأَرْبَعٍ أَتَتْ * أَبْيَاتُهـــَا ثُمَّ بِخَيرٍخُـتِمَتْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">منظومة البيقونية</h3>
<h3 style="text-align: center;">أَبْـدَأُ بِالحَمْـدِ مُـصَلِّياً علـى * مُحَمَّــدٍ خَيْرِ نَبيِّ أُرْسِـلا</h3>
<h3 style="text-align: center;">Aku memulai dengan memuji Allah dan bershalawat atas Muhammad, nabi terbaik yang diutus</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَذي مـنْ أقسـامِ الحَديثِ عِدَّهْ * وَكُـلُّ وَاحِـدٍ أَتَى وَعَـدَّهْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Inilah berbagai macam pembagian hadits.. Setiap bagian akan datang penjelasannya</h3>
<h3 style="text-align: center;">أَوَّلُهَا الصَّحِيحُ وَهُـوَ مَا اتَّصَـلّْ* إسْنَادُهُ وَلَمْ يَشُـذَّ أَوْ يُعَـلّْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Pertama hadits shahih yaitu yang bersambung sanad nya, tidak mengandung syadz dan ‘illat</h3>
<h3 style="text-align: center;">يَرْويهِ عَدْلٌ ضَـابِطٌ عَنْ مِثْلِـهِ  * مُعْتَمَـدٌ فِي ضَبْطِهِ وَنَقْلِـهِ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Perawi nya ‘adil dan dhabith yang meriwayatkan dari yang semisalnya (‘adil dan dhabith juga) yang dapat dipercaya ke-dhabith-an dan periwayatan nya</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَالحَسَنُ المَعْروفُ طُرْقـاً وَغدَتْ * رِجَالَهُ لا كَالصَّحِيحِ اشْتَهَرَتْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">(Kedua) Hadits Hasan yaitu yang jalur periwayatannya ma’ruf.. akan tetapi perawinya tidak semasyhur hadits shahih</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الحُسْنِ قَصُـرْ * فَهُوَ الضَّعِيفُ وَهْوَ أَقْسَامَاً كَثُرْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Setiap hadits yang lebih rendah dari derajat hadits hasan adalah hadits (ketiga) Dhaif dan terbagi atas banyak bagian</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَمَـا أُضِيفَ لِلنَّبي المَرْفُــوعُ * وَمَـا لِتَابِعٍ هُـوَ المَقْطُـوعُ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits yang disandarkan kepada nabi adalah Hadis Marfu’, dan yang disandarkan kepada Tabi’in adalah Hadits Maqthu’</h3>
<h3 style="text-align: center;">والمُسْنَدُ المُتَّصِلُ اْلإسْنَادِ مِــنْ * رَاوِيهِ حَتَّى المُصْطَفَى ولَمْ يَبِنْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits Musnad adalah yang bersambung sanadnya perawinya sampai kepada nabi tanpa terputus</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَمَـا بِسَـمْعِ كُلِّ رَاوٍ يَتَّصِـلْ * إسْنَادُهُ لِلْمُصْطَفَى فَالْمُتَّصِـلْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits yang setiap perawi nya mendengar satu sama lain dan bersambung sanad nya sampai nabi maka disebut Al Muttashil (bersambung)</h3>
<h3 style="text-align: center;">مُسَلْسَلٌ قُلْ مَا عَلَى وَصْفٍ أَتَى * مِثْلُ أَمَا وَاللـهِ أَنْبَانِي الْفَتَـى</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits  Musalsal adalah hadits yang dibawakan dengan menyertakan sifat (yang selalu sama) seperti perkataan perawi <em>“Ketahuilah, Demi Allah telah memberitahuku seorang pemuda”</em></h3>
<h3 style="text-align: center;">كَـذَاكَ قَـدْ حَدَّثَنِيهِ قَائِمــا * أَوْ بَعْـدَ أَنْ حَدَّثَنِـي تَبَسَّـما</h3>
<h3 style="text-align: center;">Begitu juga seperti <em>“Si Fulan Telah bercerita kepadaku sambil berdiri”</em> atau <em>“setelah bercerita kepadaku, ia tersenyum” </em></h3>
<h3 style="text-align: center;">عَزِيزُ مَرْوِي اثْنَينِ أَوْ ثَلاَثَــهْ * مَشْهُورُ مَرْوِي فَوْقَ مَـا ثَلاَثَهْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits ‘Aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua atau tiga orang perawi sedangkan Hadits Masyhur diriwayatkan oleh lebih dari tiga perawi</h3>
<h3 style="text-align: center;">مُعَنْعَنٌ كَعَنْ سَعِيدٍ عَـنْ كَـرَمْ * وَمُبْهَمٌ مَـا فيهِ رَاوٍ لَمْ يُسَـمّْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits  Mu’an’an itu seperti perkataan perawi <em>“dari sa’id, dari Karom”</em> dan Al Mubham itu hadits yang perawinya tidak diberi nama</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَكُـلُّ مـَا قَلَّتْ رِجَالُهُ عَـلاَ * وَضِـدُهُ ذَاكَ الَّذِي قَدْ نَـزَلاَ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Setiap hadits yang sedikit perawinya disebut hadits ‘Aaliy dan kebalikannya disebut hadits Naazil</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَمَا أَضَفْتَهُ إِلى الأَصْحَـابِ مِنْ * قَوْلٍ وَفِعْلٍ فَهْوَ مَوْقُوفٌ زُكِنْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Perkataan atau perbuatan yang kau sandarkan kepada Sahabat adalah Hadits Mauquf</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَمُرْسَـلٌ مِنْهُ الصَّحَابِيُّ سَقَطْ * وَقُلْ غَرِيبٌ مَا رَوَى رَاوٍ فَقَطْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits Mursal adalah hadits yang perawinya gugur di tingkat Sahabat dan katakanlah Hadits Gharib itu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi saja</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَكُـلُّ مَا لَـمْ يَتَّصِلْ بِحَـالِ * إِسْـنَادُهُ مُنْقَطِعُ اْلأوْصَـالِ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Setiap hadits yang tidak bersambung sanadnya disebut Hadits Munqathi’</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَالمُعْضَلُ السَّـاقِطُ مِنْهُ اثْنَـانِ * وَمَـا أَتَى مُدَلَّسـاً نَوْعَـانِ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits Mu’dhal adalah hadits yang gugur pada sanadnya dua rawi. Hadits yang ditadlis ada dua macam</h3>
<h3 style="text-align: center;">الأَوَّلُ الاسْـقَاطُ للشَّيْخِ وَأنْ * يَنْقُـلَ عَـمَّنْ فَوْقَهُ بِعَنْ وَأَنْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Pertama, menggugurkan syaikhnya dan menukil dari perawi di atas nya dengan kata ” dari (عَنْ) ” dan “bahwa (أَنَّ)”</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَالثَّانِ لا يُسْـقِطُهُ لَكِنْ يَصِفْ * أَوْصَـافَهُ بِمَا بِـهِ لا يَنْعَـرِفْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Kedua, tidak menggugurkan (syaikh) nya akan tetapi mensifatinya dengan sifat yang tidak dikenal</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَمَا يُخَـالِفْ ثِقَةٌ فِيـه المَـلا * فَالشَّاذُّ وَالمَقْلُوبُ قِسْمَانِ تَـلا</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits (tsiqah) yang menyelisihi hadits yang (lebih) tsiqah disebut dengan Hadits Syadz. Hadits Maqlub ada dua jenis</h3>
<h3 style="text-align: center;">إِبْـدَالُ رَاوٍ مَا بِرَاوٍ قِسْــمُ * وَقَلْبُ إِسْـنَادٍ لِمَتْنٍ قِسْــمُ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Pertama, terganti (terbolak-balik) rawi yang satu dengan yang lain. Kedua, terbolak-baliknya sanad matan tertentu dengan sanad matan yang lain</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَالْفَـرْدُ مَا قَيَّدْتَـهُ بِثِقَــةِ * أَوْ جَمْعٍ أَوْ قَصْرٍ عَلَى رِوَايَـةِ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits Fard adalah hadits yang kau kaitkan dengan periwayatan seorang yang tsiqah, atau periwayatan sebuah kelompok tertentu, atau terbatas/dikhusukan pada riwayatnya saja</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَمَـا بِعِلَّةٍ غُمُوضٍ أَوْ خَفَــا * مُـعَلَّلٌ عِنْدَهُـمُ قَـدْ عُرِفَـا</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits yang mengandung cacat yang samar atau tersembunyi dikenal oleh Ahli Hadits dengan Hadits Mu’allal</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَذو اخْتِلافِ سَـنَدٍ أَوْ مَتْـنِ * مُضْطَرِبٌ عِنْدَ أُهَـيْلِ الْفَـنِّ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits yang sanad atau matannya berselilih (memiliki perbedaan) menurut Ahli Hadits disebut Hadits Mudhtharib</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَالمُدْرَجَاتُ في الحَدِيثِ مَا أَتَتْ * مِنْ بَعْضِ أَلْفَاظِ الرُّواةِ اتَّصَلَتْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits Mudraj yaitu hadits yang datang (ditambahkan) pada (sanad atau matan) nya  sebagian lafaz-lafaz perawi</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَمَا رَوَى كُلُّ قَرِينٍ عَنْ أَخِـهْ * مُدَبَّجٌ فَاعْرِفْهُ حَقَـاً وَانْتَخِـهْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadist yang diriwayatkan oleh setiap teman dari saudaranya disebut Hadits Mudabbaj</h3>
<h3 style="text-align: center;">مُتَّفِقٌ لَفْظـاً وَخَطـاً مُتَّفِـقُ * وَضِدُّهُ فِيمَــا ذَكَرْنَا المُفْتَرِقْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Kesesuaian lafaz dan tulisan (nama perawi) nya disebut Muttafiq dan kebalikan dari yang kami sebutkan disebut Muftariq</h3>
<h3 style="text-align: center;">مُؤتَلِفٌ مُتَّفِقُ الخَطِّ فَقَـــطْ * وَضِدُّهُ مُخْتَلِفٌ فَاخْشَ الغَلَطْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Mu’talif itu jika sesuai tulisan (nama perawi) nya saja (tidak lafaznya) dan kebalikannya disebut Mukhtalif maka waspadailah kekeliruan</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَالمُنْكَرُ الْفَرْدُ بِهِ رَاو غَــدَا * تَعْدِيلُهُ لا يَحْمِــلُ التَّفَـرُّدَا</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang tidak diterima ta’dil nya dalam keadaan menyendiri</h3>
<h3 style="text-align: center;">مَتْرُوكُهُ مَا وَاحِدٌ بِهِ انْفَــرَدْ * وَأَجْمَعُوا لِضَعْفِهِ فَهْوَ كَــرَدّْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits Matruk adalah hadits yang menyendiri perawinya dan mereka (para ahli hadits) menyepakati Kedhaifan Rawi tersebut dan menolaknya</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَالكَــذِبُ المُخْتَلَقُ المَصْنُوعُ * عَلَى النَّبِي فَــذَلِكَ المَوْضُوعُ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits dusta yang dibuat-buat (dipalsukan) atas nama nabi maka itulah Hadits Maudhu’</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَقَــدْ أَتَتْ كَالجَوْهَرِ المَكْنُونِ * سَــمَّـيْتُهَا مَنْظُومَةَ البَيْقُونِي</h3>
<h3 style="text-align: center;">Sungguh nadzham ini seperti Al Jauhar Al Maknun yang ku beri nama Mandzhumah Al Baiquuniyah</h3>
<h3 style="text-align: center;">فَـــوْقَ الثَّلاثِينَ بِأَرْبَعٍ أَتَتْ * أَبْيَاتُهـــَا ثُمَّ بِخَيرٍخُـتِمَتْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">Datang dengan 34 bait kemudian ditutup dengan baik</h3>
<p>http://arabic.web.id/terjemah-matan-al-mandzhumah-al-baiquniyyah/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/terjemah-matan-al-mandzhumah-al-baiquniyyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FAIDAH MENGETAHUI TAHUN KELAHIRAN DAN WAFATNYA PERAWI</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/faidah-mengetahui-tahun-kelahiran-dan-wafatnya-perawi/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/faidah-mengetahui-tahun-kelahiran-dan-wafatnya-perawi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jan 2011 11:30:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1367</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu hal yang penting untuk dipelajari dalam ilmu hadits adalah pengetahuan tentang waktu kelahiran perawi hadits dan waktu meninggalnya. Karena dengan mengetahui hal itu akan diketahui tersambung atau terputus sebuah sanad (rangkaian riwayat hadits), dan akan diketahui pula siapa perawi yang jujur dan pendusta. Hal itu seperti Abu Hudzaifah al-Bukhari yang mengaku bertemu dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu hal yang penting untuk dipelajari dalam ilmu hadits adalah pengetahuan tentang waktu kelahiran perawi hadits dan waktu meninggalnya. Karena dengan mengetahui hal itu akan diketahui tersambung atau terputus sebuah sanad (rangkaian riwayat hadits), dan akan diketahui pula siapa perawi yang jujur dan pendusta. Hal itu seperti Abu Hudzaifah al-Bukhari yang mengaku bertemu dengan ‘Abdullah bin Thawus <em>rahimahullah</em>, maka Sufyan bin ‘Uyainah <em>rahimahullah</em> berkata:<em>”Tanyalah dia , kapan dia lahir?”</em> Ternyata dia dilahirkan dua tahun setelah meninggalnya ‘Abdullah bin Thawus <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Maka pengetahuan kita mengenai waktu kelahiran perawi dan waktu kematiannya kita akan mengetahui kalau perawi ini adalah seorang pendusta, karena dia mengaku mendengar hadits dari seseorang yang telah meninggal dua tahun sebelum dia dilahirkan. Dan ini adalah salah satu manfaat dari mengetahui waktu kelahiran dan kematian perawi.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> telah menegaskan akan keharusan bagi seorang ahli hadits untuk mengetahui hal ini semua, maksudnya bukan keharusan dia untuk menghafalnya dengan hafalan di luar kepala, akan tetapi tidak diragukan lagi bahwa semakin hafal, mutqin dan kuat hafalan tersebut maka semakin mudah baginya pekerjaan ini (mengetahui perawi yang jujur dan tidak-ed). Maka dengan hanya melihat sanad saja dia akan mengetahui sejauh mana keshahihan dan kedha’ifan sanad tersebut.</p>
<p>Akan tetapi apabila dia tidak menghafalnya, maka minimal dia mengetahui tentang permasalahan ini (bisa mencari tahu waktu kelahiran dan kematian perawi-ed), lalu dia mengetahui bagaimana cara meneliti sebuah sanad dan membedakan yang shahih dari yang dha’if (lemah).</p>
<p>Dan di sini mungkin timbul pertanyaan, yaitu apabila seorang Imam (ahli hadits) menetapkan/memasukan seorang perawi dalam suatu <em>thabaqat</em> (peringkat) sementara Imam yang lain menetapkan/memasukannya dalam suatu <em>thabaqat</em> (peringkat) yang berbeda,  maka perbedaan pendapat kedua Imam ini dalam hal menetapkan <em>thabaqat</em> perawi ini, bukankah akan menyebabkan perbedaan pula dalam hal menilai sebuah sanad yang di dalamnya ada perawi tersebut, bisa jadi sanad ini menurut Imam yang satu adalah sanad yang <em>mutashil</em> (bersambung) sedangkan menurut Imam yang lain sanadnya adalah <em>munqathi’</em> (terputus)?</p>
<p><strong>Maka jawabnya adalah:</strong> Bahwa hal ini tidak terjadi. Karena, apabila engkau hendak mencarinya (kelahiran dan kematian seorang perawi) dalam sebuah kitab, maka carilah berdasarkan istilah penulis kitab tersebut, niscaya engkau akan dapati misalnya bahwa perawi ini yang disifati oleh al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> dalam <em>thabaqat</em> kesepuluh meriwayatkan  dari seorang perawi yang ditempatkan oleh al-Hafizh <em>rahimahullah</em> pada <em>thabaqat</em> kedelapan, yang mana seorang perawi yang berada pada <em>thabaqat</em> kesepuluh dimungkinkan mendengar hadits dari perawi yang berada pada <em>thabaqat</em> kedelapan.</p>
<p>Akan tetapi kalau engkau melihat kitab karya Imam adz-Dzahabi, ternyata beliau menempatkan perawi yang berada pada <em>thabaqat</em> kesepuluh ini (menurut Ibnu Hajar) berada pada <em>thabaqat</em> keduapuluh dan yang berada pada <em>thabaqat</em> kedelapan (menurut Ibnu Hajar) ditempatkan pada <em>thabaqat</em> keenambelas.</p>
<p>Maka dilihat apakah mungkin perawi yang berada pada <em>thabaqat</em> keduapuluh bisa mendengar hadits dari perawi yang berada pada <em>thabaqat</em> keenambelas? Maka kita katakan:<em><strong>”Bisa sesuai dengan istilah Imam adz-Dzahabi <em>rahimahullah</em>, dan berdasarkan apa yang kita ketahui dari perbedaan tahun di antara satu <em>thabaqat</em> dengan <em>thabaqat</em> yang lain.”</strong></em></p>
<p>Akan tetapi kalau engkau mencampuradukan kedua kitab tersebut, lalu engkau engkau meneliti perawi yang disebutkan oleh al-Hafizh adz-Dzahabi <em>rahimahullah</em> berada pada <em>thabaqat</em> keduapuluh dan engkau membawanya kepada perawi lain yang ditempatkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> pada <em>thabaqat</em> yang keduabelas misalnya, maka di sini akan terjadi kesalahan, karena engkau mencampuradukan dua metode yang berbeda. Oleh sebab itu wajib bagimu untuk mengikuti dan berpegang teguh dengan metode dan langkah setiap penulis dalam kitabnya.</p>
<p>(<strong>Sumber: Fataawaa Hadiitsiyyah</strong> jilid 1 oleh Syaikh Sa’d bin ‘Abdullah al-Humaid, hal 24-25. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono)</p>
<p>http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihathadits&#038;id=242</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/faidah-mengetahui-tahun-kelahiran-dan-wafatnya-perawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BAGAIMANA MENGETAHUI SESEORANG PERAWI ADALAH SHAHABAT?</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/bagaimana-mengetahui-seseorang-perawi-adalah-shahabat/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/bagaimana-mengetahui-seseorang-perawi-adalah-shahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jan 2011 20:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1362</guid>
		<description><![CDATA[Kita bisa mengetahui seorang perawi itu Shahabat atau bukan dari beberapa hal: Tawatur/kabar yang mutawatir Hal ini seperti Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu &#8216;anhuma. Apakah ada yang ragu dengan status beliau berdua sebagai Shahabat? Tentu jawabannya tidak ada yang ragu. Kemasyhuran dan ketenaran Kemasyhuran bisa bisa diperoleh lewat beberapa cara, contohnya: Dhimaam bin Tsa’labah radhiyallahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita bisa mengetahui seorang perawi itu Shahabat atau bukan dari beberapa hal:</p>
<p><strong>Tawatur/kabar yang mutawatir</strong></p>
<p>Hal ini seperti Abu Bakar dan ‘Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em>. Apakah ada yang ragu dengan status beliau berdua sebagai Shahabat? Tentu jawabannya tidak ada yang ragu.</p>
<p><strong>Kemasyhuran dan ketenaran</strong></p>
<p>Kemasyhuran bisa bisa diperoleh lewat beberapa cara, contohnya:</p>
<p><strong><em>Dhimaam bin Tsa’labah</em></strong> <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> beliau terkenal dengan haditsnya ketika beliau mendatangi/menemui Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em></p>
<p><strong><em> ’Ukasyah bin Mihshan</em></strong> <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> terkenal kisahnya dalam hadits tentang orang yang akan masuk Surga tanpa hisab dan adzab, dan beliau adalah salah satunya.</p>
<p><span id="more-1362"></span></p>
<p><strong>Disebutkan namanya secara tegas dalam hadits shahih</strong></p>
<p>Seperti disebutkan namanya dalam hadits, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> didatangi oleh Fulan bin Fulan, maka berarti dia adalah Shahabat, atau hadits tersebut sanadnya bersambung kepada seseorang yang mengabarkan bahwa Fulan temasuk orang yang ikut berperang bersama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, atau pemberitahuan dengan cara apapun bahwa seseorang tertentu terbukti statusnya sebagai Shahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p><strong>Pengukuhan dari Tabi’in</strong></p>
<p>Pengukuhan dari salah seorang Tabi’in bahwa Fulan adalah seorang Shahabat, dan ini diketahui dari ucapannya, seperti ketika Tabi’in mengucapkan:<em>”Aku telah mendengar salah seorang Shahabat Nabi dan dia itu adalah Fulan bin Fulan.</em></p>
<p><strong> Pernyataan dari dirinya sendiri</strong></p>
<p>Pernyataan dari diri seorang perawi bahwasanya dia berjumpa dengan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> seperti kalau dia mengatakan:<em>”Aku telah mendengar Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda demikian dan demikian”</em> atau dia mengatakan:<em>”Sesungguhnya aku adalah termasuk salah seorang yang bershahabat dengan Nabi.”</em> Akan tetapi yang ini dibutuhkan beberapa syarat:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Dia adalah seseorang yang adil, maksudnya adil menurut istilah ulama hadits yaitu dia berpegang teguh dengan aturan-aturan agama dengan melakukuan kewajiban-kewajiban, meninggalkan dosa-dosa besar dan tidak terus-menerus melakukan dosa kecil.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Pengakuannya mungkin dan tidak mustahil. Maka apabila pengakuannya sebagai seorang Shahabat sebelum tahun 110 H maka ini mungkin (dia seorang Shahabat), akan tetapi apabila pengakuannya itu setelah tahun 110 H, maka pengakuanya tertolak, Karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> mengabarkan di akhir hidupnya:</p>
<p dir="rtl">
‏ ‏أرأيتكم ليلتكم هذه ؟ فإن على رأس مائة سنة منها لا يبقى ممن هو على ظهر الأرض أحد</p>
<p>”Apakah kalian mengetahui malam kalian ini? (maka ingatlah) Karena sesungguhnya pada penghujung seratus tahun kedepan, tidak tersisa di muka bumi ini seorang pun.” (<em>maksudnya yang sekarang/pada saat Nabi bersabda tidak akan ada yang hidup 100 tahun kedepan</em>) Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari <em>rahimahullah</em> (1/211) dengan nomor 116, Muslim <em>rahimahullah</em> nomor 2537 dan Abu Dawud <em>rahimahullah</em> nomor 348</p>
<p>Dan ini adalah dalil yang paling kuat sebagai bantahan terhadap orang yang menganggap bahwa Khidir masih hidup, seperti dikatakan oleh orang-orang Sufi yang salah seorang di antara mereka telah bertemu dengan Khidir dan berbicara langsung dengannya.</p>
<p>Muncul seorang laki-laki India pada abad keenam, namanya adalah Ratan, dia mengaku bahwa dirinya adalah salah seorang Shahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, dan bahwasanya dia dipanjangkan umurnya sampai abad tersebut, lalu timbulah kerancuan dan keguncangan dalam hal ini. Maka dia dibantah oleh para Ulama di zamannya dan setelah matinya, dan di antara mereka yang membantah adalah al-Hafizh adz-Dzahabi <em>rahimahullah</em> dlam kitabnya dengan judul <em><strong>”Kasru Watsani Ratan”</strong></em>.</p>
<p>(<strong>Sumber: Fataawaa Hadiitsiyyah</strong> halaman 29-31, Syaikh Sa’d bin ‘Abdullah Ali Humaid <em>rahimahullah</em>. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono)</p>
<p>http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihathadits&#038;id=244</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/bagaimana-mengetahui-seseorang-perawi-adalah-shahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DEFINISI-DEFINISI PENTING DALAM ILMU MUSTHALAH HADITS</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/definisi-definisi-penting-dalam-ilmu-musthalah-hadits/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/definisi-definisi-penting-dalam-ilmu-musthalah-hadits/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 20:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1365</guid>
		<description><![CDATA[Ilmu musthalah hadits: Ilmu tentang pokok-pokok dan kaidah-kaidah yang digunakan untuk mengetahui kondisi sanad dan matan hadits, dari sisi diterima atau ditolak. Objek pembahasan ilmu musthalah: yang menjadi objek pembahasannya adalah sanad dan matan, dari sisi diterima atau ditolak. Manfaat ilmu musthalah: Bisa membedakan hadits yang shahih dari hadits yang lemah. Hadits: a. Menurut bahasa: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ilmu musthalah hadits: Ilmu tentang pokok-pokok dan kaidah-kaidah yang digunakan untuk mengetahui kondisi sanad dan matan hadits, dari sisi diterima atau ditolak.</p>
<p>Objek pembahasan ilmu musthalah: yang menjadi objek pembahasannya adalah sanad dan matan, dari sisi diterima atau ditolak.  Manfaat ilmu musthalah: Bisa membedakan hadits yang shahih dari hadits yang lemah.</p>
<p>Hadits:<br />
a.	Menurut bahasa: Al-Jadid (baru), bentuk jamaknya adalah ahaadits, bertentangan dengan qiyas.<br />
b. Menurut istilah: Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir (diamnya) maupun sifatnya.</p>
<p><span id="more-1365"></span></p>
<p>Khabar<br />
a.	Menurut bahasa: an-naba (berita), bentuk jamaknya adalah akhbaar.<br />
b.	Menurut istilah: terdapat tiga pendapat, yaitu,<br />
-	Sinonim dari hadits, dengan kata lain memiliki satu arti.<br />
- Berbeda dengan hadits. Hadits itu berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan khabar adalah selain dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.<br />
- Lebih umum dari hadits. Hadits itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan khabar berasal dari beliau maupun bukan dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p>Atsar:<br />
Menurut bahasa: Sisa dari sesuatu (jejak).<br />
Menurut istilah: terdapat dua pendapat,<br />
-	Sinonim dari hadits, dengan kata lain memiliki satu arti.<br />
-	Berbeda dengan hadits, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada para sahabat dan tabi’in, baik berupa perkataan maupun perbuatan.</p>
<p>Isnad<br />
Memiliki dua arti,<br />
-	Mengembalikan hadits kepada yang mengatakannya sebagai sandaran<br />
- Urutan para perawi hadits yang kemudian berlanjut pada matan (teks hadits). Dengan makna seperti ini, berarti sinonim dari sanad.</p>
<p>Sanad<br />
-	Menurut bahasa: al-mu’tamad (tempat bersandar). Disebut seperti itu karena hadits disandarkan atau menyandarkan kepadanya.<br />
-	Menurut istilah, urutan para perawi hadits yang kemudian berlanjut pada matan.</p>
<p>Matan<br />
-	Menurut bahasa, tanah yang keras dan naik ke atas<br />
-	Menurut istilah, perkataan terakhir dari sanad.</p>
<p>Musnad<br />
-	Menurut bahasa, merupakan isim maf’ul dari asnada yang berarti menyandarkan atau menasabkan kepadanya.<br />
-	Menurut istilah, memiliki tiga macam arti:<br />
1.	Setiap kitab yang di dalamnya mengandung kumpulan apa yang diriwayatkan oleh para sahabat, menurut ketentuan tertentu.<br />
2.	Hadits marfu’ yang sanadnya bersambung.<br />
3.	Jika yang dimaksudkannya adalah sanad, berarti itu adalah mashdar mim.</p>
<p>Musnid adalah orang yang meriwayatkan hadits dengan sanadnya, baik orang itu mengerti ataupun tidak mengerti dan hanya menyampaikan riwayat saja.</p>
<p>Muhaddist adalah orang yang bergelut dalam ilmu hadits, baik dari sisi riwayat maupun dirayah, mengetahui banyak riwayat dan kondisi para perawinya.</p>
<p>Hafidh<br />
-	Menurut pakar hadits artinya sama dengan muhaddist.<br />
- Ada yang berpendapat bahwa al-Hafidh itu martabatnya lebih tinggi dari al-muhaddits karena ia lebih banyak mengetahui setiap tingkatan (thabaqat) para perawi hadits dibandingkan ketidaktahuannya.</p>
<p>Hakim adalah orang yang pengetahuannya mencakup seluruh hadits-hadits sehingga tidak ada perkara yang tidak diketahuinya melainkan amat sedikit. Hal itu menurut sebagian ahli ilmu hadits.</p>
<p>Sumber:<br />
Ilmu Hadits Praktis, Dr. Mahmud Thahan: Pustaka Thariqul Izzah</p>
<p>http://belajarislam.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=257:definisi-definisi-penting-dalam-ilmu-musthalah-hadits&#038;catid=29:belajar-hadits&#038;Itemid=132</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/definisi-definisi-penting-dalam-ilmu-musthalah-hadits/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ANTARA SYADZ DENGAN ZIYADAT ATS-TSIQAH</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/antara-syadz-dengan-ziyadat-ats-tsiqah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/antara-syadz-dengan-ziyadat-ats-tsiqah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 07:05:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1339</guid>
		<description><![CDATA[Masalah ini termasuk masalah yang rumit dalam ilmu Musthalah Hadits, dan salah satu masalah yang di dalamnya terjadi perbedaan Ijtihad dari salah seorang imam ahli hadits, dan tentunya lebih berbeda lagi antara Ijtihadnya dengan Ijtihad imam-imam yang lain. Dan seperti hadits-hadits yang dikatakan memiliki &#8216;Ilat (cacat) oleh imam ad-Daruquthni rahimahullah, maka itu termasuk hadits-hadits syadz, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masalah ini termasuk masalah yang rumit dalam ilmu Musthalah Hadits, dan salah satu masalah yang di dalamnya terjadi perbedaan Ijtihad dari salah seorang imam ahli hadits, dan tentunya lebih berbeda lagi antara Ijtihadnya dengan Ijtihad imam-imam yang lain.</p>
<p>Dan seperti hadits-hadits yang dikatakan memiliki &#8216;Ilat (cacat) oleh imam ad-Daruquthni <em>rahimahullah</em>, maka itu termasuk hadits-hadits syadz, akan tetapi imam al-Bukhari <em>rahimahullah</em> menganggapnya ziyadatu ats-tsiqah (tambahan dari perawi yang tsiqah). Maka jika perbedaan pendapat seperti ini terjadi antara dua imam besar seperti mereka berdua (al-Bukhari dan ad-Daruquthni <em>rahimahumallah</em>), maka lebih pantas lagi terjadi antara orang-orang lain selain mereka berdua (yang kapasitas ilmunya tentunya di bawah mereka <em>rahimahumallah</em>). Bahkan, engkau dapati seorang imam kadang-kadang menganggap sebuah hadits syadz dan pada kesempatan lain dia tidak menganggapnya syadz, dan semua ini termasuk masalah ijtihad.</p>
<p><span id="more-1339"></span></p>
<p>Sebenarnya masalah ini termasuk salah satu masalah yang sulit dalam ilmu Musthalah Hadits –sekalipun bukan yang paling sulit- dan itu termasuk masalah Ijtihadiyah. Akan tetapi di sana ada perkara-perkara yang jelas, seandainya ada –sebagai contoh- sebuah hadits diriwayatkan oleh beberapa orang perawi dengan sebuah lafazh, lalu ada perawi lain meriwayatkan hadits tersebut dengan lafazh yang menyelisihi lafazh pertama, sedangkan syaikh (guru) mereka satu, maka itu bertanda bahwa perawi yang kedua telah keliru/salah. Dan perbedaan yang ada tampak jelas sekali, dan ini memungkinkan kita untuk menghukumi riwayat itu (kedua) dengan syadz.</p>
<p>Sebagaimana –kebalikan dari hal di atas- mungkin untuk diterima (tambahan riwayat), apabila datang kepada kita hadits dari hadits-hadits yang di dalamnya ada sebagian jalur -atau seluruh jalurnya- berkisar pada satu orang syaikh, dan syaikh ini meriwayatkan hadits dari syaikh tertentu. Sebagai contoh misalnya Syu&#8217;bah, Syu&#8217;bah meriwayatkan hadits dari Abu Ishaq as-Sabi&#8217;i dan Abu Ishaq meriwayatkan dari syaikh lain. Kemudian datang salah seorang perawi meriwayatkan hadits dari Syu&#8217;bah dari syaikh lain selain Abu Ishaq dari syaikh yang diambil riawayatnya oleh Abu Ishaq (guru Abu Ishaq). Maka mungkin kita katakan pada kondisi seperti ini:<em>&#8220;bahwa perawi ini telah menyelisihi perawi-perawi yang lain. Perawi-perawi yang lain meriwayatkan dari Syu&#8217;bah dari Abu Ishaq, sedangkan perawi ini mengganti Abu Ishaq dengan syaikh lain, jadi dia telah menyelisihi&#8221;</em></p>
<p>Akan tetapi kalau datang kepada kita perawi lain atau perawi yang kedua tadi (yang menyelisihi), kemudian berkata:<em>&#8220;Dari Syu&#8217;bah dari Abu Ishaq.&#8217;</em> Lalu dia menambahkan ke dalamnya perawi lain (di samping Abu Ishaq), maka pada kondisi seperti ini kita bisa memastikan sepenuhnya bahwa ziyadah (tambahan) perawi ini (yaitu tambahan syaikh selain Abu Ishaq) adalah ziyadatu ats-tsiqah, dan ia diterima, dan tidak bertentangan dengan apa yang diriwayatkan oleh perawi-perawi lainnya, bahkan ini adalah <em><strong>ikhtilaf tanawwu&#8217;</strong></em> (perbedaan yang bersifat variatif), bukan <em><strong>ikhtilaf tadhaad</strong></em> (perbedaan yang bertolak belakang).</p>
<p>Adapun ziyadah yang mereka (para ulama Ahli Hadits) berbeda pendapat di dalamnya, yaitu yang mereka katakan di dalamnya ada kontradiksi, hal itu seperti perbedaan antara <em>washl</em> (bersambung) atau <em>irsal</em> (terputus) dalam sanad hadits, atau antara mauquf (ucapan Shahabat) atau marfu&#8217; (disandarkan kepada Nabi) atau perbedaan-perbedaan lain, maka ini yang saya katakan tentangnya:<em><strong>&#8220;Ini masalah Ijtihadiyah.&#8221;</strong></em></p>
<p>(<strong>Sumber: Fataawaa Hadiitsiyyah</strong> oleh Syaikh Sa&#8217;d bin &#8216;Abdullah al-Humaid <em>rahimahullah</em>. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono)</p>
<p>http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihathadits&#038;id=246</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/antara-syadz-dengan-ziyadat-ats-tsiqah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DERAJAT HADITS KEUTAMAAN BERGEMBIRA MENYAMBUT BULAN RAMADHAN</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/944/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/944/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 17:44:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[bergembira]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[derajat]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Menyambut]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=944</guid>
		<description><![CDATA[SOAL: assalamu alaikum.. ana mau tanyakan tentang hadist  ”kegembiraan seseorang menanti bulan ramadhan adalah surga” apa shahih sukran jazakumullahu khairan (Abdul Mun’im) JAWAB: Wa’alaikum salam warahmatullah, teks hadits yang antum sebutkan belum kami dapatkan dalam buku-buku hadits mu’tabar  namun ada sebuah hadits yang semakna dan cukup populer di sebagian masyarakat kita yang berbunyi : مَنْ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SOAL</strong>: assalamu alaikum.. ana mau tanyakan tentang hadist  ”<em>kegembiraan seseorang menanti bulan ramadhan adalah surga</em>” apa shahih sukran jazakumullahu khairan (Abdul Mun’im)</p>
<p><strong>JAWAB:</strong> Wa’alaikum salam warahmatullah, teks hadits yang antum sebutkan belum kami dapatkan dalam buku-buku hadits mu’tabar  namun ada sebuah hadits yang semakna dan cukup populer di sebagian masyarakat kita yang berbunyi :</p>
<p dir="rtl">مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ</p>
<p><em>“Barangsiapa yang bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan niscaya Allah mengharamkan jasadnya dari neraka”</em></p>
<p><strong>Takhrij</strong> : Hadits ini disebutkan oleh Al Khubawi (penulis kitab Durratun Nashihin) dalam kitabnya tanpa menyebutkan sanad dan sumbernya.</p>
<p><span id="more-944"></span></p>
<p>Perlu kami ingatkan bahwa sebagian buku-buku yang menjadi pegangan masyarakat kita banyak memuat hadits-hadits lemah dan palsu; diantara kitab-kitab tersebut adalah Ihya’ Ulumiddin yang mana hadits-haditsnya telah ditakhrij olrh Imam Al ‘Iraqi, kitab Irsyad Al ‘Ibad oleh Zainuddin Al Malaibari,   kitab Tanbihul Ghafilin oleh Abu Layts As Samarqandi dan kitab Durratun Nashihin oleh Al Khubawi. Kitab yang terakhir ini telah diteliti oleh Ustadz DR. Ahmad Lutfi Fathulloh, MA pada disertasi doktor beliau dalam bidang hadits di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Dalam disertasi tersebut beliau menyimpulkan bahwa kitab Durratun Nashihin sangat banyak memuat hadits-hadits lemah, palsu bahkan yang tidak memiliki asal sama sekali.</p>
<p>Untuk hadits di atas beliau menghukuminya sebagai hadits maudhu’/palsu. Beliau menjelaskan, “<em>Melihat lafaz dan kandungan hadits ini, ia mempunyai ciri-ciri hadits palsu, yaitu satu amalan kecil yang menjanjikan pahala yang begitu besar. Alasan kedua adalah hadits ini tidak dijumpai dalam kitab-kitab hadits yang mu’tabar, termasuk dalam kitab-kitab yang mengandung hadits-hadits dha’if, maka hadits ini dapat digolongkan sebagaimana yang dikenali dalam istilah ilmu hadits dengan <strong>la yu’raf lahu ashlun</strong> atau <strong>la ashla lahu</strong> (tidak diketahui sumber asalnya), ini akan menyebabkan hadits itu dihukumi palsu. Oleh karena itu, hadits ini adalah palsu karena sebab di atas.”</em> (lihat buku : Hadits-hadits Lemah dan Palsu dalam Kitab Durratun Nashihin oleh DR. Ahmad Lutfi Fathullah,  halaman 75)</p>
<p><strong>Kesimpulan </strong>: Hadits yang antum tanyakan tidak didapatkan dalam buku-buku hadits yang mu’tabar oleh karena itu tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah shallallohu alaihi wasallam hingga kita mendapatkan sanadnya yang diriwayatkan dengan derajat shohih atau hasan. Namun demikian tidak berarti seorang muslim tidak dianjurkan bergembira dengan kedatangan bulan suci Ramadhan, bahkan sudah sepatutnya Ramadhan yang merupakan keutamaan dan rahmat yang Allah datangkan kepada kita disambut dengan kesyukuran dan penuh suka cita yang dibuktikan dengan memperbanyak amal sholeh di dalamnya. Allah Azza wa Jalla berfirman (artinya), <em>Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. </em>(QS. Yunus ayat 58), <strong>Wallohu a’lam bish shawab wahuwa waliyyut taufiq.</strong></p>
<p>http://markazassunnah.wordpress.com/2009/08/22/derajat-hadits-keutamaan-bergembira-menyambut-bulan-ramadhan/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/944/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

