<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ustadz Ridwan Hamidi &#187; Aqidah</title>
	<atom:link href="http://ustadzridwan.com/category/belajar-islam/aqidah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzridwan.com</link>
	<description>رضوان حامدي الإندونيسي</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Apr 2012 02:20:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Silaturahim Mantan LDII ke MIUMI</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/silaturahim-mantan-ldii-ke-miumi/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/silaturahim-mantan-ldii-ke-miumi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2012 02:20:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2267</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) semakin dirasakan kehadirannya di tengah masyarakat. Banyak kalangan yang menaruh harapan besar kepada MIUMI agar memberikan solusi terhadap problematika umat Islam. Mantan Pengurus Pusat Islam Jamaah (IJ) yang bertopeng Lembaga Dakwa Islam Indonesia (LDII) membeberkan kesesatan LDII kepada Sekretaris Jenderal (Sekjend) MIUMI (Rabu, 11/04/2012). Mauluddin , mantan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) semakin  dirasakan kehadirannya di tengah masyarakat. Banyak kalangan yang  menaruh harapan besar kepada MIUMI agar memberikan solusi terhadap  problematika umat Islam.</p>
<p>Mantan Pengurus Pusat Islam Jamaah (IJ)  yang bertopeng Lembaga Dakwa Islam Indonesia (LDII) membeberkan  kesesatan LDII kepada Sekretaris Jenderal (Sekjend) MIUMI (Rabu,  11/04/2012).<br />
Mauluddin , mantan Wakil Imam Besar IJ (setingkat Wapres dalam  struktur Republik LDII) menyatakan, IJ mirip Khawarij dan sangat  berbahaya bagi akidah umat Islam.<em> &#8220;Iya, sangat kental nuansa takfirnya. Jadi, selain anggota LDII, dianggap kafir&#8221;</em>, ujarnya saat wawancarai di Kantor MIUMI, Jalan Tebet Timur Dalam VIII No. 44. Jakarta Selatan (Rabu, 11/04/2012).</p>
<p>Mauluddin  mengungkapan, sebab para mantan keluar IJ atau LDII di antaranya,  mereka merasa aneh dengan  kewajiban mempelajari Islam lewat jalur  riwayat (manqul) Haji Nurhasan Ubaidah sebagai Imam Besar IJ. Selain itu  tidak dibenarkan.</p>
<p><em>&#8220;Saya merasa aneh, ngajinya kenapa harus  secara manqul dari Haji Nurhasan. Katanya (Nurhasan), jamaah ini (IJ)  tidak fanatik dengan mazhab tertentu. Tidak mengambil pendapat Imam Abu  Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi&#8217;i dan Imam Ahmad. Tapi, murni  mengamalkan Al-Quran dan hadits. Kalau demikian, kenapaharus mempelajari  Islam sesuai doktrin Haji Nurhasan saja”,</em> paparnya.</p>
<p>“Mereka  memang menggunaka Al-Quran dan Hadits dalam mengindoktrinasi anggota  jamaah, tapi penafsirannya akan berbeda dengan penafsiran ulama pada  umumnya, karena dipelesetkan sesuai kepentingan mereka (IJ)”, tambah  Adam Amrullah salah seorang mantan LDII yang mengaku pernah menjadi  ketua kepemudaan IJ ini.</p>
<p>Sikap radikal ala khawarij yang suka  mengkafirkan orang di luar IJ tak hanya mengagetkan orang di luar IJ,  tapi juga dari kalangan internal yang sudah malang melintang  dalam  dakwah LDII.</p>
<p><em>“Saya produk asli IJ. Ayah, ibu bahkan kakek  nenek  saya semuanya IJ. Tapi saya justru ill fell (hilang rasa  simpatik) dengan dakwahnya yang terlalu sombong, menggaggap IJ-lah  satu2nya jamaah yg mengamalkan Al-Quran-Hadits dan dijamin &#8216;pasti&#8217; masuk  surga” </em>jelasnya kepada Sekjend MIUMI.</p>
<p>Kekuatan doktrin IJ  tertumpu pada sandi 354 (galipat). Tiga berarti tiga butir yang berarti,  Jamaah, Al-Quran dan Hadits. Artinya Al-Quran dan Hadits harus  diinterpretasikan sesuai penafsiran “Jamaah”.</p>
<p>Lima artinya lima  butir berisi sumpah setia(bai’at) kepada Sang Amir untuk mengaji,  mengamal, membela, sambung jamaah dan taat  Amir(pimpinan).</p>
<p>Empat maknanya lima butir pengikat iman yang terdiri dari syukur, menganggungkan, bersungguh-sungguh dan berdoa untuk Amir.</p>
<p><em>“Nah,   kewajiban jamaah untuk menyumbang sepuluh (10) persen dari penghasilan  perbulannya masuk dalam bab membela Jamaah itu, plus infak untuk dainya.  Semua kalau ditotal bisa sampai 20% dari penghasilan kita “</em> jelas  Pak Imam mantan Muballigh (penceramah) LDII yang anak istrinya masih terperangkap dalam pusaran LDII.</p>
<p>Menanggapi pengaduan para mantan LDII ini, Sekjend MIUMI, Bachtiar Nasir tidak ragu menyatakan bahwa IJ sesat menyesatkan.</p>
<p><em>“Tidak  ragu bagi kami bahwa LDII ini sesat. Karena itu kami sarankan kepada  Bapak-bapak yang sudah keluar dari LDII agar tetap solid dan segera  mengambil langkah startegis untuk memberikan pencerahan kepada jamaah  yang masih di LDII”,</em> tutur Direktur Ar-Rahman Quranic Learning Center (AQL) Tebet, Jakarta Selatan.</p>
<p>Menurut  Abdurrahim, mantan Gubernur Republik LDII Wilayah DKI Jakarat, untuk  memuluskan dakwahnya  LDII tidak hanya berganti nama. Tapi juga  mendirikan ormas berupa Lembaga Dakwa Islam Indonesia (LDII), Persatuan  Silat Nasional (Persinas) ASAD, Usaha Bersama (UB), Cinta Alam Indonesia  (CAI), dan Sentra Komunikasi  (SENKOM).</p>
<p>Data serupa juga diamini oleh Adam Amrullah,<em>“organisasi-organisasi itu sengaja didirikan untuk mewadahi potensi internal dan menjerat orang-orang di luar IJ,</em>“ ujar  Adam yang dipaksa cerai oleh mertuanya karena dianggap murtad setelah keluar dari LDII.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.miumipusat.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=84%3Asilaturahim-mantan-ldii-ke-miumi&#038;catid=37%3Aaliran&#038;Itemid=63&#038;lang=en</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fsilaturahim-mantan-ldii-ke-miumi%2F&amp;title=Silaturahim%20Mantan%20LDII%20ke%20MIUMI" id="wpa2a_2"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/silaturahim-mantan-ldii-ke-miumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buya Hamka: Vonis Sesat terhadap Wahabi Direkayasa untuk Gurita Kolonialisme</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/buya-hamka-vonis-sesat-terhadap-wahabi-direkayasa-untuk-gurita-kolonialisme/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/buya-hamka-vonis-sesat-terhadap-wahabi-direkayasa-untuk-gurita-kolonialisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Mar 2012 04:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2257</guid>
		<description><![CDATA[Buya Hamka: Vonis Sesat terhadap Wahabi Direkayasa untuk Gurita Kolonialisme Oleh: Zulkarnain Khidir Mahasiswa Universitas Prof. DR. HAMKA, Jakarta Belakangan ketika isu terorisme kian dihujamkan di jantung pergerakan umat Islam agar iklim pergerakan dakwah terkapar lemah tak berdaya. Nama Wahabi menjadi salah satu faham yang disorot dan kian menjadi bulan-bulanan aksi “tunjuk hidung,” bahkan hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buya Hamka: Vonis Sesat terhadap Wahabi Direkayasa untuk Gurita Kolonialisme</p>
<p>Oleh: Zulkarnain Khidir<br />
Mahasiswa Universitas Prof. DR. HAMKA, Jakarta</p>
<p>Belakangan ketika isu terorisme kian dihujamkan di jantung pergerakan umat Islam agar iklim pergerakan dakwah terkapar lemah tak berdaya. Nama Wahabi menjadi salah satu faham yang disorot dan kian menjadi bulan-bulanan aksi “tunjuk hidung,” bahkan hal itu dilakukan oleh kalangan ustadz dan kiyai yang berasal dari tubuh umat Islam itu sendiri.</p>
<p>Beberapa buku propaganda pun diterbitkan untuk menghantam pergerakan yang dituding Wahabi, di antaranya buku hitam berjudl “Sejarah Berdarah Sekte Salafi-Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Bertubi-tubi, berbagai tudingan dialamatkan oleh alumnus dari Universitas di Bawah Naungan Kerajaan Ibnu Saud yang berhaluan Wahabi, yaitu Prof. Dr. Said Siradj, MA. Tak mau kalah, para kiyai dari pelosok pun ikut-ikutan menghujat siapapun yang dituding Wahabi. Kasus terakhir adalah statement dari kiyai Muhammad Bukhori Maulana dalam tabligh akbar FOSWAN di Bekasi baru-baru ini turut pula menyerang Wahabi dengan tudingan miring. Benarkah tudingan tersebut?</p>
<p>Menarik memang menyaksikan fenomena tersebut. Gelagat pembunuhan karakter terhadap dakwah atau personal pengikut Wahabi ini bukan hal baru, melainkan telah lama terjadi. Hal ini bahkan telah diurai dengan lengkap oleh ulama pejuang dan mantan ketua MUI yang paling karismatik, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa disapa Buya HAMKA. Siapa tak mengenal Buya HAMKA? Kegigihan, keteguhan dan independensinya sebagai seorang ulama tidak perlu diragukan lagi tentunya.</p>
<p>Dalam buku “Dari Perbendaharaan Lama,” Buya HAMKA dengan gamblang beliau merinci berbagai fitnah terhadap Wahabi di Indonesia sejatinya telah berlangsung berkali-kali. Sejak Masa Penjajahan hingga beberapa kali Pemilihan Umum yang diselenggarakan pada era Orde Lama, Wahabi seringkali menjadi objek perjuangan yang ditikam fitnah dan diupayakan penghapusan atas eksistensinya. Mari kita cermati apa yang pernah diungkap Buya Hamka dalam buku tersebut:</p>
<p>“Seketika terjadi Pemilihan Umum , orang telah menyebut-nyebut kembali yang baru lalu, untuk alat kampanye, nama “Wahabi.” Ada yang mengatakan bahwa Masyumi itu adalah Wahabi, sebab itu jangan pilih orang Masyumi. Pihak komunis pernah turut-turut pula menyebut-nyebut Wahabi dan mengatakan bahwa Wahabi itu dahulu telah datang ke Sumatera. Dan orang-orang Sumatera yang memperjuangkan Islam di tanah Jawa ini adalah dari keturunan kaum Wahabi.</p>
<p>Memang sejak abad kedelapan belas, sejak gerakan Wahabi timbul di pusat tanah Arab, nama Wahabi itu telah menggegerkan dunia. Kerajaan Turki yang sedang berkuasa, takut kepada Wahabi. Karena Wahabi adalah, permulaan kebangkitan bangsa Arab, sesudah jatuh pamornya, karena serangan bangsa Mongol dan Tartar ke Baghdad. Dan Wahabi pun ditakuti oleh bangsa-bangsa penjajah, karena apabila dia masuk ke suatu negeri, dia akan mengembangkan mata penduduknya menentang penjajahan. Sebab faham Wahabi ialah meneguhkan kembali ajaran Tauhid yang murni, menghapuskan segala sesuatu yang akan membawa kepada syirik. Sebab itu timbullah perasaan tidak ada tempat takut melainkan Allah. Wahabi adalah menentang keras kepada Jumud, yaitu memahamkan agama dengan membeku. Orang harus kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.</p>
<p>Ajaran ini telah timbul bersamaan dengan timbulnya kebangkitan revolusi Prancis di Eropa. Dan pada masa itu juga “infiltrasi” dari gerakan ini telah masuk ke tanah Jawa. Pada tahun 1788 di zaman pemerintahan Paku Buwono IV, yang lebih terkenal dengan gelaran “Sunan Bagus,” beberapa orang penganut faham Wahabi telah datang ke tanah Jawa dan menyiarkan ajarannya di negeri ini. Bukan saja mereka itu masuk ke Solo dan Yogya, tetapi mereka pun meneruskan juga penyiaran fahamnya di Cirebon, Bantam dan Madura. Mereka mendapat sambutan baik, sebab terang anti penjajahan.</p>
<p>Sunan Bagus sendiri pun tertarik dengan ajaran kaum Wahabi. Pemerintah Belanda mendesak agar orang-orang Wahabi itu diserahkan kepadanya. Pemerintah Belanda cukup tahu, apakah akibatnya bagi penjajahannya, jika faham Wahabi ini dikenal oleh rakyat.</p>
<p>Padahal ketika itu perjuangan memperkokoh penjajahan belum lagi selesai. Mulanya Sunan tidak mau menyerahkan mereka. Tetapi mengingat akibat-akibatnya bagi Kerajaan-kerajaan Jawa, maka ahli-ahli kerajaan memberi advis kepada Sunan, supaya orang-orang Wahabi itu diserahkan saja kepada Belanda. Lantaran desakan itu, maka mereka pun ditangkapi dan diserahkan kepada Belanda. Oleh Belanda orang-orang itu pun diusir kembali ke tanah Arab.</p>
<p>Tetapi di tahun 1801, artinya 12 tahun di belakang, kaum Wahabi datang lagi. Sekarang bukan lagi orang Arab, melainkan anak Indonesia sendiri, yaitu anak Minangkabau. Haji Miskin Pandai Sikat (Agam) Haji Abdurrahman Piabang (Lubuk Limapuluh Koto), dan Haji Mohammad Haris Tuanku Lintau (Luhak Tanah Datar).</p>
<p>Mereka menyiarkan ajaran itu di Luhak Agam (Bukittinggi) dan banyak beroleh murid dan pengikut. Diantara murid mereka ialah Tuanku Nan Renceh Kamang. Tuanku Samik Empat Angkat. Akhirnya gerakan mereka itu meluas dan melebar, sehingga terbentuklah “Kaum Paderi” yang terkenal. Di antara mereka ialah Tuanku Imam Bonjol. Maka terjadilah “Perang Paderi” yang terkenal itu. Tiga puluh tujuh tahun lamanya mereka melawan penjajahan Belanda.</p>
<p>Bilamana di dalam abad ke delapan belas dan Sembilan belas gerakan Wahabi dapat dipatahkan, pertama orang-orang Wahabi dapat diusir dari Jawa, kedua dapat dikalahkan dengan kekuatan senjata, namun di awal abad kedua puluh mereka muncul lagi!</p>
<p>Di Minangkabau timbullah gerakan yang dinamai “Kaum Muda.” Di Jawa datanglah K.H. A. Dahlan dan Syekh Ahmad Soorkati. K.H.A. Dahlan mendirikan “Muhammadiyah.” Syekh Ahmad Soorkati dapat membangun semangat baru dalam kalangan orang-orang Arab. Ketika dia mulai datang, orang Arab belum pecah menjadi dua, yaitu Arrabithah Alawiyah dan Al-Irsyad. Bahkan yang mendatangkan Syekh itu ke mari adalah dari kalangan yang kemudiannya membentuk Ar-Rabithah Adawiyah.</p>
<p>Musuhnya dalam kalangan Islam sendiri, pertama ialah Kerajaan Turki. Kedua Kerajaan Syarif di Mekkah, ketiga Kerajaan Mesir. Ulama-ulama pengambil muka mengarang buku-buku buat “mengafirkan” Wahabi. Bahkan ada di kalangan Ulama itu yang sampai hati mengarang buku mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab pendiri faham ini adalah keturunan Musailamah Al Kahzab!</p>
<p>Pembangunan Wahabi pada umumnya adalah bermazhab Hambali, tetapi faham itu juga dianut oleh pengikut Mazhab Syafi’i, sebagai kaum Wahabi Minangkabau. Dan juga penganut Mazhab Hanafi, sebagai kaum Wahabi di India.</p>
<p>Sekarang “Wahabi” dijadikan alat kembali oleh beberapa golongan tertentu untuk menekan semangat kesadaran Islam yang bukan surut ke belakang di Indonesia ini, melainkan kian maju dan tersiar. Kebanyakan orang Islam yang tidak tahu di waktu ini, yang dibenci bukan lagi pelajaran wahabi, melainkan nama Wahabi.</p>
<p>Ir. Dr. Sukarno dalam “Surat-Surat dari Endeh”nya kelihatan bahwa fahamnya dalam agama Islam adalah banyak mengandung anasir Wahabi.</p>
<p>Kaum komunis Indonesia telah mencoba menimbulkan sentiment Ummat Islam dengan membangkit-bangkit nama Wahabi. Padahal seketika terdengar kemenangan gilang-gemilang yang dicapai oleh Raja Wahabi Ibnu Saud, yang mengusir kekuasaan keluarga Syarif dari Mekkah. Umat Islam mengadakan Kongres Besar di Surabaya dan mengetok kawat mengucapkan selamat atas kemenangan itu (1925). Sampai mengutus dua orang pemimpin Islam dari Jawa ke Mekkah, yaitu H.O.S. Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansur. Dan Haji Agus Salim datang lagi ke Mekkah tahun 1927.</p>
<p>Karena tahun 1925 dan tahun 1926 itu belum lama, baru lima puluh tahun lebih saja, maka masih banyak orang yang dapat mengenangkan bagaimana pula hebatnya reaksi pada waktu itu, baik dari pemerintah penjajahan, walau dari Umat Islam sendiri yang ikut benci kepada Wahabi, karena hebatnya propaganda Kerajaan Turki dan Ulama-ulama pengikut Syarif.</p>
<p>Sekarang pemilihan umum yang pertama sudah selesai. Mungkin menyebut-nyebut “Wahabi” dan membusuk-busukkannya ini akan disimpan dahulu untuk pemilihan umum yang akan datang. Dan mungkin juga propaganda ini masuk ke dalam hati orang, sehingga gambar-gambar “Figur Nasional,” sebagai Tuanku Imam Bonjol dan K.H.A. Dahlan diturunkan dari dinding. Dan mungkin perkumpulan-perkumpulan yang memang nyata kemasukan faham Wahabi seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis dan lain-lain diminta supaya dibubarkan saja.</p>
<p>Kepada orang-orang yang membangkit-bangkit bahwa pemuka-pemuka Islam dari sumatera yang datang memperjuangkan Islam di Tanah Jawa ini adalah penganut atau keturunan kaum Wahabi, kepada mereka orang-orang dari Sumatera itu mengucapkan banyak-banyak terima kasih! Sebab kepada mereka diberikan kehormatan yang begitu besar!</p>
<p>Sungguh pun demikian, faham Wahabi bukanlah faham yang dipaksakan oleh Muslimin, baik mereka Wahabi atau tidak. Dan masih banyak yang tidak menganut faham ini dalam kalangan Masyumi. Tetapi pokok perjuangan Islam, yaitu hanya takut semata-mata kepada Allah dan anti kepada segala macam penjajahan, termasuk Komunis, adalah anutan dari mereka bersama!”</p>
<p> </p>
<p>Dari paparan tersebut, jelaslah bahwa Buya HAMKA berhasil menelisik akar terjadinya fitnah yang dialamatkan kepada Wahabi. Ini menandakan vonis “Faham Hitam” yang dituduhkan kepada Wahabi pada dasarnya adalah modus lama namun didesain dengan gaya baru yang disesuaikan dengan kepentingan dan arahan yang disetting oleh para Think Tank “Gurita Kolonialisme Abad 21.”</p>
<p>Maka perhatikanlah apa yang pernah diutarakan oleh Buya HAMKA dalam pembahasan Islam dan Majapahit berikut ini:</p>
<p>“Memang, di zaman Jahiliyah kita bermusuhan, kita berdendam, kita tidak bersatu! Islam kemudiannya adalah sebagai penanam pertama dari jiwa persatuan. Dan Kompeni Belanda kembali memakai alat perpecahannya, untuk menguatkan kekuasaannya.”</p>
<p>“Tahukah tuan, bahwasanya tatkala Pangeran Dipenogero, Amirul Mukminin Tanah Jawa telah dapat ditipu dan perangnya dikalahkan, maka Belanda membawa Pangeran Sentot Ali Basyah ke Minangkabau buat mengalahkan Paderi? Tahukah tuan bahwa setelah Sentot merasa dirinya tertipu, sebab yang diperanginya itu adalah kawan sefahamnya dalam Islam, dan setelah kaum Paderi dan raja-raja Minangkabau memperhatikan ikatan serbannya sama dengan ikatan serban Ulama Minangkabau, sudi menerima Sentot sebagai “Amir” Islam di Minangkabau? Teringatkah tuan, bahwa lantaran rahasia bocor dan Belanda tahu, Sentot pun diasingkan ke Bengkulu dan di sana beliau berkubur buat selama-lamanya?”</p>
<p>“Maka dengan memakai faham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia terjamin. Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan saja, tanpa Islam, orang harus kembali mengeruk, mengorek tambo lama, dan itulah pangkal bala dan bencana!”</p>
<p>Kiranya, sepeninggal HAMKA, alangkah laiknya jika umat Islam masih kenal dan bisa mengimplementasikan apa yang diutarakan Buya HAMKA dalam bukunya tersebut. Dengan demikian, niscaya umat Islam tidak perlu sampai menjadi keledai yang terjerembab dalam lubang yang dibuat oleh musuh-musuh Islam dengan modus yang sama tetapi dalam nuansa yang berbeda. Wallahu A’lam. [voa-islam.com]</p>
<p>http://m.voa-islam.com//news/liberalism/2011/12/03/16891/buya-hamka-vonis-sesat-terhadap-wahabi-direkayasa-untuk-gurita-kolonialisme/</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fbuya-hamka-vonis-sesat-terhadap-wahabi-direkayasa-untuk-gurita-kolonialisme%2F&amp;title=Buya%20Hamka%3A%20Vonis%20Sesat%20terhadap%20Wahabi%20Direkayasa%20untuk%20Gurita%20Kolonialisme" id="wpa2a_4"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/buya-hamka-vonis-sesat-terhadap-wahabi-direkayasa-untuk-gurita-kolonialisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukti Cacian Syiah Terhadap Aisyah Dalam Kitab-Kitab Mereka</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/bukti-cacian-syiah-terhadap-aisyah-dalam-kitab-kitab-mereka/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/bukti-cacian-syiah-terhadap-aisyah-dalam-kitab-kitab-mereka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 10:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2225</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Oleh: Badrul Tamam* &#160; Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya. &#160; Warga Muhammadiyah jelas tak mungkin bisa bersatu dan bergandengan tangan dengan Syi&#8217;ah. Kenapa? Karena Syi’ah mencaci-maki para shahabat termasuk Aisyah Radhiyallahu &#8216;Anha, istri Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam, sementara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Oleh: Badrul Tamam*</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulullah<em> Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em>, keluarga dan para sahabatnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Warga  Muhammadiyah jelas tak mungkin bisa bersatu dan bergandengan tangan  dengan Syi&#8217;ah. Kenapa? Karena Syi’ah mencaci-maki para shahabat termasuk  Aisyah <em>Radhiyallahu &#8216;Anha</em>, istri Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em>,  sementara Muhammadiyah sangat menghormati Aisyah. Demikian diungkapkan  Dr Ahmad Zain An-Najah MA di hadapan peserta kajian Pimpinan Wilayah  Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta, yang mengusung tema, “Bahaya Syi’ah  terhadap Ideologi Muhammadiyah, ”Rabu malam (8/2/2012) di Masjid  At-Taqwa, Jalan Kramat Raya 49 Jakarta Pusat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alasan  lainnya yang diungkapkan Doktor Zain, bahwa nama organisasi perempuan  di Muhammadiyah adalah Aisyiyah, yang dinisbatkan kepada Aisyah <em>Radhiyallahu ‘Anha</em>. Sementara Syi&#8217;ah menghina dan mencaci maki &#8216;Aisyah <em>Radhiyallahu &#8216;Anha</em>. Sehingga ini menjadi persoalan sangat serius bagi organisasi yang sudah berumur seratus tahun ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menguatkan  kesimpulan Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah  Mesir periode 2007-2009 di atas, kami suguhkan beberapa bukti kongkrit  dari kutub syi&#8217;ah yang menjadi sandaran dalam keagamaan mereka. Ini  sekaligus sebagai bantahan bagi mereka yang menolak tuduhan telah  mencaci para sahabat, khususnya &#8216;Asiyah <em>Radhiyallahu &#8216;Anha</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Syi&#8217;ah Menuduh Aisyah dan Hafshah telah Meracuni Nabi<em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Syi&#8217;ah menuduh &#8216;Asiyah dan Hafshah <em>Radhiyallahu &#8216;Anhuma</em>yang telah meracuni suaminya sendiri, Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> menjelang wafatnya. Hal ini, menurut &#8216;alim Syi&#8217;ah terdapat dalam firman Allah Ta&#8217;ala, QS. Ali Imran: 144:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari Abdush Shomad bin Basyir, dari Abu Abdillah <em>&#8216;Alaihis Salam</em>berkata:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>تدرون  مات النبي (صلى الله عليه وآله) أو قُتل؟ إن الله يقول: أَفَإِنْ مَاتَ  أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ، فُسَمَّ قبل الموت! إنّهما  سقتاه! فقلنا: إنهما وأبويهما شرّ من خلق الله</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Tahukah kalian, Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Aalihi</em> meninggal atau terbunuh? Sesungguhnya Allah berfirman: &#8216;<em>Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?</em>&#8216;  beliau diracuni sebelum meninggal. Keduanya (Aisyah dan Hafshah) telah  meminumkannya! Maka kami katakan: Sesungguhnya keduanya dan kedua  bapaknya (maksudnya: Abu Bakar dan Umar) adalah seburuk-buruk makhluk  ciptaan Allah.&#8221; (Muhammad al-&#8217;Ayyasyi, Tafsir al-&#8217;Ayyasyi, Juz I, (hal.  342)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Catatan Penulis:</strong> Orang yang mengetahui hal ihwal Abu Bakar, Umar bin Khathab, &#8216;Aisyah dan Hafshah (mereka adalah mertua dan istri Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em>), sifat mereka, keutamaan dan kedekatan mereka dengan Rasulullah<em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> serta kesitimewaan mereka pasti akan mengatakan dengan lantang: <strong>INI ADALAH KEDUTSAAN YANG SANGAT JELAS!</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Syi&#8217;ah Menuduh &#8216;Aisyah Benar-benar Melakukan Serong</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kaum Syi&#8217;ah juga berpendapat bahwa Ummul Mukminin, &#8216;Aisyah<em>Radhiyallahu &#8216;Anha</em> benar-benar melakukan serong, sebagaimana tuduhan orang-orang munafik.  Dan Allah belum membebaskannya dari tuduhan zina. Sedangkan firman Allah<em>&#8216;Azza wa Jalla,</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;<em>Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu).</em>&#8221; (QS. Al-Nuur: 26), tidak menunjukkan pembebasannya dari segala tuduhan miring tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ali al-&#8217;Amili al-Bayadhi dalam <em>al-Shirath al-Mustaqim Ila Mustahiqqii al-Taqdiim</em>,  (II/165) berkata: &#8220;Kami katakan: &#8220;Itu adalah penyucian bagi nabi-Nya  dari perbuatan zina, bukan untuknya (&#8216;Aisyah) sebagaimana yang  disepakati oleh mufassirin.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alim  Syi&#8217;ah ini berpendapat bahwa Allah belum membebaskan &#8216;Aisyah dari  tuduhan yang dilontarkan orang-orang munafikin. Sedangkan Allah  berfirman, &#8220;<em>Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang  keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji  (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan  laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka  (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang  menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).</em>&#8221; (QS. Al-Nuur: 26)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam  tafsir yang dipegang kaum muslimin sepanjang zaman, ayat tersebut  adalah turun mengenai pembebasan &#8216;Aisyah dari segala tuduhan miring. Dan  mereka menjadikannya sebagai landasan bersihnya beliau dari tuduhan  hina tersebut. Maka jelaslah bahwa Syi&#8217;ah memang benar-benar berbeda  dengan Islam dan kaum muslimin, bukan hanya dalam maslaah furu&#8217; tapi  juga berkaitan dalam masalah-masalah pokok yang menetukan sahnya  keimanan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>&#8216;Asiyah Akan Dibangkitkan Saat Imam Mahdi Syi&#8217;ah Keluar Untuk Menerima Hukuman dan Pembalasan dari Fathimah</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penghinaan terhadap Ummul Mukminin, &#8216;Aisyah <em>Radhiyallahu &#8216;Anha</em>, diungkapkan oleh kitab Syi&#8217;ah, bahwa saat Imam Mahdi Syi&#8217;ah keluar, ia akan menegakkan had atas Ummul Mukminin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Al-Shaduq dalam &#8216;Ilal al-Syara-i, (hal. 303), dari Abdurrahim al-Qushahir berkata: Abu Ja&#8217;far <em>&#8216;Alaihis Salami </em>berkata kepadaku:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>أما لو قام قائمنا، وردت إليه الحميراء، حتى يجلدها الحد وحتى ينتقم لابنة محمد فاطمة عليها السلام منها</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;<em>Ketika  imam kami sudah bangkit, maka Humaira&#8217; (&#8216;Aisyah) akan dibawa kepadanya  sehingga mencambuknya sebagai hukuman had dan membalaskan dendam untuk  anak Muhammad, Fathimah &#8216;Alaihas Salam.&#8221;</em> (Lihat juga: Bihar al-Anwar: 52/314)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku  (Abdurrahim al-Qushahir) berkata: &#8220;Aku Jadikan diriku tebusanmu, kenapa  ditegakkan had atasnya?&#8221; Dia berkata: karena ia menfitnah ibu Ibrahim.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku bertanya, &#8220;kenapa Allah akhirkan hukuman dia untuk al-Qaim (Imam Mahdi)?&#8221; Maka ia berkata, &#8220;Karena Allah <em>Tabaraka wa Ta&#8217;ala</em> mengutus Muhammad (SAW) sebagai rahmat dan mengutus al-Qaim (imam Mahdi) <em>&#8216;Alaihis Salam</em> sebagai penyiksa.&#8221; (Lihat juga: Bihar al-Anwar: 52/315)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Catatan Penulis:</strong> bukankah ini bentuk penghinaan terhadap kehormatan Rasulullah<em> Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam. </em>Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya  orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya  di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang  menghinakan.</em>&#8221; (QS. Al-Ahzab: 57)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Syi&#8217;ah Mengafirkan Para Sahabat</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih dari itu, keyakinan Syi&#8217;ah menyebutkan bahwa para sahabat Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> semuanya murtad sepeninggal beliau kecuali hanya segelintir orang saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Al-Kulaini dalam al-Raudhah min al-Kaafi (VIII/245), disebutkan: dari Abu Ja&#8217;far <em>&#8216;Alaihis Salam</em>, ia berkata: &#8220;Semua manusia telah murtad sepeninggal Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em>.&#8221;  Lalu ditanyakan kepada beliau siapa saja mereka, beliau menjawab:  &#8220;Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi, -semoga  rahmat dan keberkahan Allah terlimpah kepada mereka.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keyakinan Syi&#8217;ah ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin beliau <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> gagal membina para sahabatnya padahal beliau tinggal bersama mereka  selama 23 tahun. Beliau juga mengabarkan bahwa umatnya menjadi umat  terbanyak yang masuk surga. Sekitar dua sepertiga penghuni surga adalah  umat beliau <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em>. Lalu bagaimana bisa hanya tiga yang masih sah imannya sepeninggalnya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih jelasnya silahkan baca tulisan kami sebelumnya: <a href="http://www.voa-islam.com/islamia/aqidah/2011/12/30/17252/kitab-syiah-melaknat-dan-mengafirkan-abu-bakar-umar-aisyah/"><em>Kitab Syi&#8217;ah Melaknat dan Mengafirkan Abu Bakar, Umar dan &#8216;Aisyah</em></a>.<strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tidak sah Iman Syi&#8217;ah Kecuali Dengan Berbara&#8217; dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah dan Lainnya</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ulama  Syi&#8217;ah yang bergelar al-&#8217;Allamah, Muhammad al-Baqir al-Majlisi dalam  kitabnya yang berbahasa Persia &#8220;Haqqu al-Yakin&#8221; mengatakan,  &#8220;Aqidah  kami (Syi&#8217;ah), dalam berbara&#8217; (berlepas diri): Sesungguhnya kami  berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan  Mu&#8217;awiyah. (dan belepas diri dari empat wanita): &#8216;Aisyah, Hafshah,  Hindun, dan Ummu al-Hakam. Dan (berlepas diri) dari semua pengikut dan  kelompok mereka. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk Allah di muka bumi.  Dan sesungguhnya tidak sempurna iman kepada Allah, Rasul-Nya, dan para  imam kecuali sesudah berlepas diri dari para musuh-musuh mereka.&#8221; (Haqqu  al-Yaqin, Al-Allamah Muhammad al-Baqir al-Majlisi: 519)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ini merupakan bukti nyata penghinaan mereka terhadap istri Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em>, Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah <em>Radhiyallahu &#8216;Anhuma</em>. Juga penghinaan terhadap bapak keduanya sekaligus mertua Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em>. Penghinaan ini juga ditujukan kepada menantu Nabi<em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em>. Mereka adalah kaum yang menuduh bahwa Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> orang yang tidak mengetahui orang-orang yang buruk di sekitarnya  sehingga beliau menjadikan sebagian mereka sebagai mertua, istri, dan  menantu. Semoga Allah melaknat kaum Syi&#8217;ah yang melemparkan tuduhan hina  kepada orang-orang mulia ini. Wallahu Ta&#8217;ala a&#8217;lam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*Penulis merupakan alumnus Ma&#8217;had Aly Al-Islam, Bekasi. Artikel diambil dari www.voa-islam.com.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fbukti-cacian-syiah-terhadap-aisyah-dalam-kitab-kitab-mereka%2F&amp;title=Bukti%20Cacian%20Syiah%20Terhadap%20Aisyah%20Dalam%20Kitab-Kitab%20Mereka" id="wpa2a_6"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/bukti-cacian-syiah-terhadap-aisyah-dalam-kitab-kitab-mereka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lecehkan Istri Nabi Pelacur, Syi&#8217;ah Mustahil Berdamai dengan Muhammadiyah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/lecehkan-istri-nabi-pelacur-syiah-mustahil-berdamai-dengan-muhammadiyah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/lecehkan-istri-nabi-pelacur-syiah-mustahil-berdamai-dengan-muhammadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 06:50:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2228</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; JAKARTA (voa-islam.com) &#8211; Warga persyarikatan Muhammadiyah tak mungkin berdamai apalagi disatukan dengan Syi’ah. Karena Syi’ah mencaci-maki para shahabat termasuk Aisyah RA istri Rasulullah SAW, sementara Muhammadiyah sangat menghormati Aisyah RA. &#160; Hal itu diungkapkan Dr Ahmad Zain An-Najah MA di hadapan peserta kajian Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta, Rabu malam (8/2/2012) di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JAKARTA (voa-islam.com) &#8211; </strong>Warga  persyarikatan Muhammadiyah tak mungkin berdamai apalagi disatukan  dengan Syi’ah. Karena Syi’ah mencaci-maki para shahabat termasuk Aisyah  RA istri Rasulullah SAW, sementara Muhammadiyah sangat menghormati  Aisyah RA.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hal itu diungkapkan Dr Ahmad Zain An-Najah MA di hadapan peserta  kajian Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta, Rabu malam  (8/2/2012) di Masjid At-Taqwa, Jalan Kramat Raya 49 Jakarta Pusat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam kajian ilmiah bertema “Bahaya Syi’ah terhadap Ideologi  Muhammadiyah” itu, Doktor Zain, demikian biasa disapa, memaparkan  fakta-fakta dan doktrin Syi’ah yang bertentangan dengan ideologi  Muhammadiyah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah  Mesir periode 2007-2009 itu, upaya penyatuan Syi’ah dan Sunni adalah  kemustahilan besar, karena sejak zaman shahabat, Syi’ah tidak bisa  bersatu dengan Sunni. “Apakah bisa disatukan? Tidak mungkin! Sudah  berabad-abad sejak zaman shahabat tidak mungkin Ahlussunnah dan Syi’ah  itu bersatu,” ujarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Meski ideologi Syi’ah bertentangan dengan akidah Islam, menurut  Doktor Zain, jika ingin hidup berdampingan secara damai dengan umat  Islam, maka kaum Syi’ah jangan mencaci maki para shahabat, terutama  Aisyah RA. “Boleh saja mereka hidup di Indonesia tetapi jangan mencaci  maki para sahabat, jangan mencaci maki Aisyah radhiyallahu ‘anha,”  paparnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagi warga persyarikatan Muhammadiyah, penghinaan Syi’ah terhadap  Aisyah RA menjadi persoalan serius, karena nama organisasi kewanitaan di  Muhammadiyah dinisbatkan kepada Aisyah RA. Data-data penghujatan Syi’ah  itu tersebar secara luas di berbagai buku dan rekaman video ulama  Syi’ah sendiri. Karenanya, Doktor Zain mempertanyakan komitmen warga  Muhammadiyah yang merangkul Syi’ah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Nama organisasi perempuan di Muhammadiyah adalah Aisyiyah, yang  dinisbatkan kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Lalu Aisyah itu dicacimaki  dan dituduh sebagai pelacur oleh Syi’ah,” jelasnya. “Kenapa  Muhammadiyah itu merangkul kelompok yang menuduh Aisyah itu pelacur,  na’udzubillahi min dzalik!” tambahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain melecehkan Aisyah RA secara keji, jelas Doktor Zain, kaum  Syi’ah juga mengafirkan para shahabat Nabi. “Dalam aqidah Syi’ah itu  semua sahabat kafir kecuali empat: Salman Al-Farisi karena dari Persia,  Abu Dzar Al Ghifari dan Miqdad ibnu Aswad, ditambah Ali Radhiyallahu  ‘anhu,” terangnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terakhir, Doktor Zain mengimbau warga persyarikatan Muhammadiyah agar  mengukuhkan soliditas, jangan berpecah-belah seperti aliran sesat  Syi’ah. “Syi’ah itu sektenya banyak, disebutkan oleh para ulama sampai  mencapai 300 sekte. Kelompok Syi’ah itu banyak perpecahannya, makanya  Muhammadiyah jangan berpecah nanti seperti aliran sesat,” pungkasnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/02/10/17689/lecehkan-istri-nabi-pelacur-syiah-mustahil-berdamai-dengan-muhammadiyah/</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Flecehkan-istri-nabi-pelacur-syiah-mustahil-berdamai-dengan-muhammadiyah%2F&amp;title=Lecehkan%20Istri%20Nabi%20Pelacur%2C%20Syi%26%238217%3Bah%20Mustahil%20Berdamai%20dengan%20Muhammadiyah" id="wpa2a_8"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/lecehkan-istri-nabi-pelacur-syiah-mustahil-berdamai-dengan-muhammadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menagih Janji Kaum Syiah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/menagih-janji-kaum-syiah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/menagih-janji-kaum-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 17:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2204</guid>
		<description><![CDATA[Menagih Janji Kaum Syiah &#160; Pada hari Kamis, 19 Januari 2012, Jurnal Islamia-Republika, (hal. 23-26) – Jurnal Pemikiran Islam bulanan hasil kerjasama antara INSISTS dan Harian Republika &#8212; menurunkan kajian utama tentang Syiah di Indonesia. Artikel saya yang dimuat di Jurnal tersebut berjudul “Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah”.&#160; Esoknya, Jumat, 20 Januari 2012, Kajian Islamia-Republika itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Menagih Janji Kaum Syiah</h1>
<p>&nbsp;</p>
<div><span>Pada hari Kamis, 19 Januari 2012, <em>Jurnal Islamia-Republika, </em>(hal.   23-26) – Jurnal Pemikiran Islam bulanan hasil kerjasama antara INSISTS   dan Harian Republika &#8212; menurunkan kajian utama tentang Syiah di   Indonesia. Artikel saya yang dimuat di Jurnal tersebut berjudul “<em>Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah”.&nbsp;</p>
<p></em><em> </em>Esoknya, Jumat, 20 Januari 2012, <em>Kajian Islamia-Republika </em>itu   mendapatkan tanggapan dari Haidar Bagir, Dirut Penerbit Mizan – yang   dikenal sebagai salah satu penerbit buku Syiah di Indonesia. Artikel   Haidar di Harian Republika itu diberi judul “<em>Syiah dan Kerukunan Umat.” </em>Dalam artikelnya, Haidar Bagir menulis, bahwa dia setuju dengan solusi damai yang saya tawarkan:  <em>“Jika   kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya  mereka  menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah  Indonesia  menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa  berdampak buruk  bagi masa depan negeri Muslim ini…. Itulah jalan damai  untuk  Muslim  Sunni dan kelompok Syiah.</em>”</p>
<p>Menurut Haidar  Bagir, dia pernah  bertemu secara pribadi dengan Syaikh Ali Taskhiri,  seorang ulama  terkemuka di Iran, salah satu pembantu terdekat Wali  Faqih Ayatullah Ali  Khamenei, serta wakil <em>Dar al-Taqrib bayn al-Madzahib </em>(Perkumpulan Pendekatan antar-Mazhab), yang dengan tegas menyatakan: “<em>hendaknya kaum Syiah di Indonesia meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum muslim di Indonesia.”<br />
</em><br />
<span>Haidar Bagir juga menyampaikan imbauan di ujung artikelnya: “<em>Khusus   untuk orang-orang yang pandangannya didengar oleh para pengikut Syiah   di negeri ini, hendaknya mereka meyakinkan para pengikutnya untuk dapat   membawa diri dengan sebaik-baiknya serta mengutamakan persaudaraan dan   toleransi terhadap saudara-saudaranya yang merupakan mayoritas di  negeri  ini.”</em></span></p>
<p><em> </em><em> </em>Dalam soal sikap terhadap para sahabat Nabi  Muhammad  Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) &#8212; yang  menjadi  langganan caci-maki kaum Syiah, Hadiar Bagir juga menulis:<span><em>“Sementara  itu, banyak ulama Syiah  Imamiyah atau Itsna ’Asyariyah yang telah  merevisi pandangannya tentang  ini. Hasil konferensi Majma’ Ahl al-Bayt  di London pada 1995, mi sal  nya, dengan tegas menyatakan menerima  keabsahan kekhalifah an tiga  khalifah terdahulu sebelum Khalifah Ali.<br />
</em></span></p>
<p><em>Bahkan,  terkait dengan skandal  pengutukan sahabat besar dan sebagian istri  Nabi yang dilakukan oleh  oknum Syiah yang tinggal di Inggris, bernama  Yasir al-Habib, Ayatullah  Sayid Ali Khamenei sendiri mengeluarkan fatwa  yang dengan tegas melarang  penghinaan terhadap orang-orang yang  dihormati oleh para pemeluk </em><em>Ahlus Sunnah (fatwa ini tersebar dan dapat dengan mudah diakses dari berbagai sumber). Di antara isinya adalah, </em></p>
<p><em>“Diharamkan  menghina  figur-figur/tokoh-tokoh (yang diagungkan) saudara-saudara  seagama kita,  Ahlus-Sunnah, termasuk tuduhan terhadap istri Nabi  Shalallaahu &#8216;Alaihi  Wasallam (صلى الله عليه و سلم)dengan hal-hal yang  mencederai kehormatan  mereka &#8230;”</em></p>
<p><em> </em><em> </em></p>
<p>Benarkah?</p>
<p>Jadi,  sesuai artikel  Haidar Bagir di Republika tersebut,  ada dua hal pokok  yang harus  dilakukan oleh kaum Syiah untuk solusi damai bagi Ahlu  Sunnah dan Syiah  di Indonesia, yaitu (1) menghentikan caci maki  terhadap sahabat-sahabat  dan istri-istri  Nabi saw dan (2) menghentikan  ambisi untuk  meng-Syiahkan Indonesia, seperti ditegaskan oleh seorang  ulama Syiah  yang dijumpai Haidar Bagir: “hendaknya kaum Syiah di  Indonesia  meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum  muslim di  Indonesia.”</p>
<p>Apakah janji yang  disampaikan Haidar Bagir  tersebut bisa dipenuhi kaum Syiah? Tampaknya,  itu tidaklah mudah.  Seperti disebutkan dalam CAP-323 lalu, sejumlah  fakta di lapangan  menunjukkan banyaknya penerbitan Syiah di Indonesia  yang masih mengumbar  caci-maki dan fitnah terhadap para sahabat dan  istri-istri Nabi  Muhammad saw. Bahkan, salah satu buku terkenal yang  mencaci-maki dan  menfitnah sahabat dan istri Nabi Muhammad saw adalah  buku terbitan  Mizan, pimpinan Haidar Bagir sendiri, yang berjudul  <em>“Dialog Sunnah – Syiah” </em>karya  Syarafuddin al Musawi, (Bandung: Mizan (cetakan pertama, 1983).</p>
<p>Buku  ini diklaim penulisnya sebagai  kumpulan surat menyurat antara penulis  dengan Syaikh Salim al-Bisyri  al-Maliki, yang saat itu menjabat Rektor  al Azhar, Mesir. Di dalamnya  banyak berisi dialog yang menjelaskan  antara lain: Kewajiban berpegang  pada madzhab Ahlul Bait, adanya wasiat  Nabi saw untuk Ali bin Abi Thalib  r.a. sebagai penggantinya, para  sahabat tidak ma’shum (infallible) dari  dosa dan kesalahan yang  berimplikasi ketidakpercayaan periwayatan dari  mereka, dan bahasan lain  yang mendukung pemahaman Syiah.</p>
<p>Di buku  ini, juga ditulis berbagai tuduhan  bahwa Aisyah r.a. telah berbohong  karena menceritakan Nabi Muhammad saw  meninggal di pangkuannya,  sehingga didoakan oleh penulisnya,   mudah-mudahan Allah memberikan  ampunan untuk Aisyah r.a.</p>
<p><em>“Oh….,  semoga Allah  mengaruniakan ampunan-Nya bagi Ummul Mu’minin! Mengapa  ia, ketika  menggeser keutamaan ini dari Ali, tidak mengalihkannya  kepada pribadi  ayahnya saja! Bukankah yang demikian itu lebih utama dan  lebih layak  bagi kedudukan Nabi saw daripada apa yang didakwahkannya?  Namun sayang  ….., ayahnya – waktu itu – bertugas sebagai anggota  pasukan di bawah  pimpinan Usamah bin Zaid, yang persiapannya telah  diatur dan ditetapkan  sendiri oleh Rasulullah Shalallaahu &#8216;Alaihi  Wasallam (صلى الله عليه و  سلم) ; dan pada saat itu sedang berhenti dan  berkumpul di sebuah desa  bernama Juruf!” (hal. 353).</em></p>
<p><em> </em><em> </em></p>
<p>Di  buku ini juga dimuat cerita tentang  provokasi Aisyah terhadap khalayak  dengan  memerintahkan mereka agar  membunuh Utsman bin Affan: “<em>Bunuhlah Na’tsal, karena ia sudah menjadi kafir!” </em>(Catatan:   Na’tsal adalah orang tua yang pandir dan bodoh). (hal. 357). Di  halaman  yang sama, dimuat satu syair yang mengecam Aisyah r.a.:</p>
<p><em>“Engkau yang memulai, engkau yang merusak<br />
Angin dan hujan (kekacauan)<br />
Semuanya berasal darimu<br />
Engkau yang memerintahkan<br />
Pembunuhan atas diri sang Imam<br />
Engkau yang mengatakan<br />
Kini dia sudah kafir.”<br />
</em><br />
(NB.   Berbagai cercaan terhadap Aisyah r.a. tersebut saya kutip dari buku    Dialog Sunnah-Syiah, edisi Oktober 2008. Jadi, sejak 1983 buku ini terus   dicetak oleh Penerbit Mizan – yang Dirutnya adalah Haidar Bagir –   sampai tahun 2008. Saya tidak tahu, apakah masih ada edisi buku tersebut   setelah 2008).</p>
<p>Itulah sebagian isi buku <em>“Dialog Sunnah-Syiah” </em>terbitan Mizan. Pokok-pokok bahasan di dalam buku “<em>Dialog Sunnah-Syiah” </em>tersebut telah dijelaskan kekeliruannya oleh Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus dalam karyanya <em>Ensiklopedi Sunnah Syiah, Studi Perbandingan Aqidah dan Tafsir, </em>yang   diterbitkan Pustaka Al Kautsar (Jakarta, 1997). Buku ini diberi kata   pengantar oleh Dr. Hidayat Nurwahid, yang juga dikenal sebagai pakar   tentang Syiah lulusan  Universitas Islam Madinah. Dalam pengantarnya,   Hidayat Nurwahid memuji keseriusan Prof. as-Salus yang berhasil   menunjukkan, bahwa buku karya al-Musawi, yang aslinya berjudul   al-Muraja’at,  hanyalah karangan al-Musawi belaka. Alias, dialognya   adalah fiktif belaka.</p>
<p>Bahkan, Prof.  as-Salus menulis: “Tetapi  al-Musawi, seorang Syiah Rafidhah yang  terkutuk ini, tanpa rasa sungkan  dan malu ingin menjadikan seorang  Syaikh al-Azhar yang kapabel dan  kredibel sebagai murid kecil dan bodoh  yang menerima ilmu pertama kali  dari dia.” (hal. 249).</p>
<p>Kaum  Muslim yang mencintai Nabi Muhammad  Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى  الله عليه و سلم), para sahabat beliau  yang mulia, dan juga istri-istri  beliau yang herhormat, pasti tidak  ridho jika orang-orang yang mulia  tersebut dihina, difitnah dan  dilecehkan. Kita pun tidak rela jika  orang yang kita hormati dan sayangi  diperhinakan. Bagaimana jika yang  dihina dan difitnah adalah para  sahabat dan istri Nabi Muhammad  Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله  عليه و سلم)? Nabi Shalallaahu  &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  bersabda: <em>“Tidak beriman  salah seorang  diantara kalian, hingga  diriku lebih dicintainya  daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh  manusia.” </em>(HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Cerita  bahwa Aisyah r.a. memerintahkan  pembunuhan terhadap Utsman bin Affan  adalah tuduhan keji dan dusta.  Aisyah sendiri pernah dikonfirmasi  tentang adanya surat atas nama Aisyah  di Medir yang memerintahkan  pembunuhan terhadap Utsman bin Affan r.a.   Beliau bersumpah, bahwa  beliau tidak pernah menulis surat seperti itu.  Banyak riwayat dari  Aisyah r.a. yang sudah mengklarifikasi masalah ini.  Anehnya,  orang-orang Syiah tidak mau tahu, dan selalu mengutip  cerita-cerita  bohong tersebut. (Lihat, Tarikh Khalifah bin Khayyath,  hal. 176 &amp;  Tarikh al-Madinah, Ibn Syabbah 4:1224. Semuanya ada dalam  Tahqiq  Mawaqif al-Shahabah fil-Fitnah, karya Dr. Mahmud Umahzun, Dar  Thayba,  Riyadh, cet. I,  1994, vol.2/29-30. Data: Buku Fitnah Maqtal  Utsman,  karya Dr. Mhmmad al-Ghabban, Maktabah Obeikan, Riyadh, cet. I,  1999).</p>
<p>Jika  Aisyah dinistakan dan difitnah, kaum  Muslim tentu sangat tidak ridha.  Ummul mukminin, Aisyah r.a. sangat  dicintai kaum Muslimin. Beliau  adalah istri Nabi yang mulia. Nabi  Muhammad saw wafat di pangkuan  Aisyah dan dikuburkan di rumah Aisyah  pula. Aisyah r.a. adalah ulama  wanita yang meriwayatkan 2210 hadits.  Dari jumlah itu, 286 hadits  tercantum dalam shahih Bukhari dan Muslim.  Ada sekitar 150 ulama  Tabi’in yang menimba ilmu dari Aisyah. (Lihat,  K.H. Ubaidillah Saiful  Akhyar Lc, Aisyah, <em>The Inspiring Woman,</em> (Yogyakarta: Madania, 2010).</p>
<p>Kasus buku <em>Dialog Sunnah-Syiah </em>terbitan   Mizan ini menjadi bukti nyata, bahwa ajakan Haidar Bagir untuk   kerukunan Sunnah-Syiah masih perlu dipertanyakan. Bukankah buku yang   mencaci maki sahabat-sahabat dan istri Nabi tersebut sudah diterbitkan   oleh Penerbit Mizan selama hampir 30 tahun?</p>
<p>Jalan Damai: Mungkinkah?</p>
<p>Menyimak   berbagai penerbitan kaum Syiah – termasuk terbitan Mizan – patut   dipertanyakan, mungkinkah jalan damai Sunnah-Syiah itu bisa diwujudkan?   Mungkinkah kaum Syiah memenuhi imbauan dari sebagian tokoh mereka: agar   tidak berambisi men-Syiahkan Indonesia dan menghentikan caci maki   terhadap sahabat dan istri Nabi Muhammad Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam   (صلى الله عليه و سلم)?</p>
<p>Memang itu tidak  mudah. Sebab, tampak dalam  berbagai penerbitan mereka, kebencian  terhadap Abu Bakar, Umar, dan  Utsman, radhiyallaaahu ‘anhum, sudah  begitu mendarah daging.  Sikap  Syiah terhadap para sahabat Nabi itu  sangat berbeda dengan sikap kaum  Sunni yang menghormati semua sahabat,  apalagi KhulafaaurRasyidin,  termasuk Sayyidina Ali r.a.</p>
<p>Saya  mendapat satu brosur doa berjudul  “Ziarah Asyura”, terdiri atas enam  halaman. Disamping berisi doa-doa  untuk para Nabi Muhammad saw dan  keluarganya,  doa ini diwarnai dengan  kutukan dan laknat terhadap  berbagai orang. Misalnya, di halaman 5,  ditulis doa laknat:  “Allahummal-‘an awwala dhaalimin dhalama haqqa  Muhammadin wa-Aali  Muhammadin…”. (Ya Allah, laknatlah orang-orang zalim  yang awal-awal,  yang menzalimi hak Nabi Muhammad dan keluarganya…”).</p>
<p>Doa  ini diakhiri dengan kutipan perkataan  Imam Muhammad Al-Baqir as., yang  berkata kepada Alqamah: “Jika engkau  mampu berziarah kepada beliau  (Imam Husein as.) setiap hari dengan  membaca doa ziarah ini (<strong>ziarah Asyura</strong>) di rumahmu, maka lakukanlah itu dan engkau akan mendapatkan semua pahala (berziarah).”</p>
<p>Itulah petikan doa “<strong>Ziarah Asyuro</strong>”   yang diedarkan di Indonesia. Siapakah yang dimaksud dengan  “orang-orang  zalim”  yang disebutkan telah menzalimi hak Nabi dan  keluarga Nabi?   Apakah mereka Abu Bakar, Umar bi Khathab, Utsman bin  Affan, Aisyah r.a.,  dan sebagainya?  Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus,  dalam buku yang  disebutkan terdahulu, telah mengklarifikasi masalah  ini, dengan  menunjukkan adanya riwayat dari Imam Zaid bin Hasan bin Ali  bin Husain  Radhiyallaahu ‘anhum, bahwa dia membenarkan apa yang  dilakukan Abu Bakar  r.a. terhadap Fathimah dalam soal waris keluarga  Nabi.  <em>“Jika saya pada posisinya (Abu Bakar) niscaya saya akan menetapkan hukum seperti yang ditetapkannya,</em>”  kata Imam Zaid. Diriwayatkan juga dari saudara Imam Zaid, yaitu al-Baqir, bahwa dia pernah ditanya, “<em>Apakah   Abu Bakar dan Umar menzalimi sesuatu dari hak kalian?” Ia menjawab,   “Tidak, demi Dzat yang menurunkan al-Quran kepada hamba-Nya agar menjadi   peringatan bagi alam semesta, sungguh kami tidak dizalimi dari hak  kami  meskipun seberat biji sawi.” </em>(as-Salus, hal. 297).</p>
<p>Jika  dicermati, polemik Ahlu Sunnah dan  Syiah itu sudah berlangsung lebih  dari 1.000 tahun. Apakah hal seperti  ini yang diinginkan oleh kaum  Syiah di Indonesia, dengan terus-menerus  menebarkan kebencian kepada  Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin  Affan, Aisyah r.a.? Sampai  kapan caci-maki semacam ini akan diakhiri?  Karena itu, saya ingin  mengakhiri CAP ini dengan ungkapan sama seperti  dalam artikel di <em>Jurnal Islamia-Republika </em>(19/1/2012):<em> “Jika kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya   mereka menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah   Indonesia menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa   berdampak buruk bagi masa depan negeri Muslim ini. Masih banyak lahan   dakwah di muka bumi ini – jika hendak di-Syiahkan.  Itulah jalan damai   untuk  Muslim Sunni dan kelompok Syiah. Kecuali, jika kaum Syiah melihat   Muslim Sunni adalah aliran sesat yang wajib di-Syiahkan!<br />
</em></p>
<p>Kita  tunggu realisasi janji kaum Syiah  untuk tidak men-Syiahkan Indonesia  dan menghentikan caci-maki kepada  para sahabat dan istri-istri Nabi  Muhammad Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam  (صلى الله عليه و سلم)! (Walahu  a’lam bil-shawab).*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://insistnet.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=301%3Amenagih-janji-kaum-syiah&#038;catid=1%3Aadian-husaini&#038;Itemid=15</p>
<p>&nbsp;</p>
<p></span></div>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fmenagih-janji-kaum-syiah%2F&amp;title=Menagih%20Janji%20Kaum%20Syiah" id="wpa2a_10"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/menagih-janji-kaum-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/solusi-damai-muslim-sunni-syiah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/solusi-damai-muslim-sunni-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 16:04:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2207</guid>
		<description><![CDATA[Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah &#160; Pada 29 Desember 2011, terjadi peristiwa menggemparkan di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.  Sebuah mushala dan beberapa rumah warga Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang,  diserbu dan dibakar massa. Rumah dan mushalla itu adalah milik kelompok Syiah yang dipimpin oleh Tajul Muluk Ma’mun. Kasus Sampang Madura itu  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah</h1>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada 29 Desember 2011, terjadi peristiwa menggemparkan di Kabupaten  Sampang, Madura, Jawa Timur.  Sebuah mushala dan beberapa rumah warga  Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang,  diserbu  dan dibakar massa. Rumah dan mushalla itu adalah milik kelompok Syiah  yang dipimpin oleh Tajul Muluk Ma’mun.</p>
<p>Kasus Sampang Madura itu   mulai membuka mata banyak orang, bahwa ada masalah serius dalam soal  hubungan antara orang-orang Muslim Sunni dan kelompok Syiah  di  Indonesia. Sebelumnya, berbagai kasus serupa – dalam skala kecil – sudah  terjadi di berbagai tempat.  Benih-benih konflik itu seperti sudah  menyebar. Kasus Syiah Sampang itu, tentu saja, patut disesalkan, sebab  konflik semacam ini harusnya bisa diredam jauh-jauh sebelumnya. Banyak  pihak yang kemudian menuding bahwa kasus itu adalah cerminan buruknya  iklim kebebasan beragama di Indonesia.</p>
<p>Tetapi, analisis semacam  itu terlalu parsial dan liberal. Semua masalah hubungan antar atau  internal agama hanya dilihat dari satu aspek saja, yaitu aspek HAM dan  “kebebasan beragama”. Padahal, yang kadangkala diabaikan dalam analisis  soal keagamaan adalah soal “sensitivitas” yang sudah menyentuh aspek  keyakinan. Seperti dalam kasus hubungan Muslim Sunni dan kelompok Syiah.</p>
<p>Kasus Syiah Sampang, Madura, misalnya, sudah berlarut-larut selama  bertahun-tahun.  Pada 20 Februari 2006, lebih dari 50 orang ulama Madura  mengeluarkan pernyataan, bahwa aliran Syiah yang disebarkan oleh Tajul  Muluk Ma’mun di Madura tergolong Syi’ah Ghulah (<em>Rofidloh</em>).  Salah satu ajaran yang membuat hati kaum Muslim Sunni di Madura  tersakiti adalah ajaran yang melecehkan para sahabat Nabi saw.</p>
<p><strong>Akar masalah</strong><br />
Pernyataan  para ulama Madura itu membuktikan bahwa kasus Syiah di Sampang, adalah  laksana bara dalam sekam. Kasus ini tidak segera diselesaikan, sehingga  “bara” itu akhirnya meledak, dan mengagetkan banyak orang. Muncullah  opini seolah-olah kelompok Syiah di Indonesia tidak mendapatkan hak  kebebasan beragama dari kaum Muslim Indonesia; bahwa  mereka terzalimi.</p>
<p>Masalah  Sampang ini tentu memerlukan kajian dan penelitian yang serius. Yang  jelas di Indonesia, kelompok Syiah terbukti sangat agresif dalam  menyerang ajaran-ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas Muslim di  Indonesia. Ini sulit dipisahkan dari sejarah kelahiran kelompok Syiah  itu sendiri, yang menganggap hak kekhalifahan Ali r.a. dirampas oleh Abu  Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, dan Utsman bin Affan <em>radhiyallahu ‘anhum</em>. Tidak heran, jika ketiga sahabat utama Rasulullah saw itu sering menjadi bulan-bulanan caci maki.</p>
<p>Begitu pula <em>ummul mukminin</em>,  Aisyah r.a. yang sangat dicintai kaum Muslimin tak lepas dari berbagai  fitnah dan cemoohan kaum Syiah. Padahal, Aisyah adalah istri Nabi yang  mulia. Nabi Muhammad saw wafat di pangkuan Aisyah dan dikuburkan di  rumah Aisyah pula. Aisyah r.a. adalah ulama wanita yang meriwayatkan  2210 hadits. Dari jumlah itu, 286 hadits tercantum dalam shahih Bukhari  dan Muslim. Ada sekitar 150 ulama Tabi’in yang menimba ilmu dari Aisyah.  (Lihat, K.H. Ubaidillah Saiful Akhyar Lc, Aisyah, <em>The Inspiring Woman</em>, (Yogyakarta: Madania, 2010).</p>
<p>Jadi,  keutamaan Aisyah r.a. sudah begitu masyhur dan disampaikan sendiri oleh  Nabi Muhammad saw. Sangat wajar, jika kaum Muslim akan terluka hatinya  jika wanita yang sangat mulia dan agung ini dicaci-maki.</p>
<p>Masalahnya,  di Indonesia, berbagai penerbitan kaum Syiah terbukti sulit  menyembunyikan caci-maki terhadap para sahabat dan istri Nabi yang mulia  tersebut. Padahal, dalam buku-buku tersebut, kadangkala disebutkan,  bahwa penulis buku Syiah itu  mengaku ingin membangun persaudaraan  dengan kaum Muslim Sunni. Sebut satu contoh, buku berjudul <em>The Shia, Mazhab Syiah, Asasl-usul dan Perkembangannya karya Hashim al-Musawi</em> (Jakarta: Lentera, 2008). Secara halus, buku ini juga mendiskreditkan  Abu Bakar dan Umar r.a. Misalnya, dalam hal pencatatan sabda Nabi  Muhammad saw.</p>
<p>“Sumber-sumber historis mengindikasikan beragam  pendapat berbeda mengenai penulisan kata-kata Nabi. Para Imam Ahlulbait  Nabi yakin perlunya menulis atau mencatat kata-kata Nabi dan menjaganya  dari hilang atau didistorsi. Imam Ali beserta putranya, al-Hasan,  memerintahkan pencatatan sabda Nabi dan pendokumentasian  sumber-sumbernya. Menurut ad-Dailami, Imam Ali berkata: “Bila kamu  mencatat sebuah sabda, sebutkan juga sumbernya.” (Catatan kaki: Hasan  ash-Shadr,<em> asy-Syiah wa Finun al-Islam</em>). Imam Ali sendiri  mencatat sabda-sabda Nabi dalam sebuah surat gulungan, dan surat  gulungan ini diwarisi oleh para imam keturunan Imam Ali. Sementara itu,  Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar melarang pencatatan sabda Nabi, dan  para penguasa Umayah juga memberlakukan larangan ini sampai Umar bin  Abdul Aziz menjadi khalifah dan mengirim pesan berikut ini kepada warga  Madinah… (Catatan kaki: Ahmad bin Ali Ibn Hajar al-Asqalani, <em>Fath al-Bari be Syarh Shahih al-Bukhari</em>, Beirut: Dar al-Ihya at-Turats al-Arabi, ed. Ke-4, 1408 (1988)).<br />
<strong><br />
Salah paham<br />
</strong>Cara  kelompok Syiah dalam mengkritik Abu Bakar dan Umar bin Khatab dalam  soal pembakaran hadits Nabi itu tentu saja tidak fair dan tidak sesuai  dengan fakta. Masalah pencatatan hadits di kalangan sahabat Nabi juga  sudah dibahas dengan sangat mendalam oleh Dr. M. Musthafa al-A’zhami  dalam bukunya, “<em>Studies in Early Hadits Literature</em>” (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2000). Dalam buku yang merupakan disertasi doktornya di <em>Cambridge University</em> ini, al-A’zhami menunjukkan data adanya 50 sahabat Nabi yang melakukan  pencatatan hadits. Termasuk Abu Bakar dan Umar bin Khathab r.a. Berita  tentang Abu Bakar yang membakar kumpulan haditsnya diragukan  keabsahannya oleh adh-Dhahabi. Bukti lain yang meragukan riwayat  pembakaran hadits tersebut adalah bahwasanya, Abu Bakar sendiri mengirim  surat kepada ‘Amr bin al-Ash, yang memuat sejumlah ucapan Rasulullah  saw.  Surat senada yang mengandung hadits Nabi juga dikirim Abu Bakar  kepada Gubernur Anas bin Malik di Bahrain.</p>
<p>Riwayat tentang kasus  pembakaran hadits oleh Umar bin Khathab juga diragukan kebenarannya.  Al-A’zhami menelusuri tiga jalur riwayat berita tersebut, dan dia  menemukan, semuanya <em>mursal.</em> Artinya, rangkaian cerita itu  terputus, tidak sampai pada Umar bin Khathab. Juga, faktanya, Umar bin  Khathab mengirimkan Ibn Mas’ud dan Abu Darda’ sebagai guru ke Kufah,  padahal keduanya dilaporkan memiliki catatan hadits  sebanyak 848 dan  280 buah. Umar sendiri juga terbiasa mengutip hadits-hadits Nabi  dalam  surat-surat resminya sebagai kepala negara. (hal. 34-60).</p>
<p>Jadi,  tuduhan kelompok Syiah akan kejahatan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin  Khathab r.a. yang – katanya – menghalang-halangi pencatatan hadits Nabi  perlu dijernihkan. Tuduhan semacam itu sangatlah tidak bersahabat dan  membangun perdamaian.</p>
<p>Tahun 2009, sebuah kelompok penyebar Syiah di Indonesia  menerbitkan sebuah buku berjudul “<em>40 Masalah Syiah</em>”.   Buku ini ditulis dengan tujuan untuk: “tumbuhnya saling pengertian di  antara mazhab-mazhab dalam Islam.”  Itu tujuan yang tertulis dalam  sampul belakangnya. Tetapi, jika disimak isi bukunya, buku ini justru  mengejek dan melecehkan kaum Muslim Indonesia yang Sunni.</p>
<p>Betapa  tidak!  Lagi-lagi, buku semacam ini juga tak bisa lepas dari caci maki  terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman bin Affan. Padahal kaum Muslim  sangat menghormati Ali r.a. dan Ahlulbait. Fakta sejarahnya, Ali bin Abi  Thalib pun tidak mencerca Abu Bakar, Umar, Utsman, juga Aisyah r.a.   Dalam bab berjudul <em>“Syiah Melaknat Sahabat”</em> disebutkan, bahwa  Syiah tidak melaknat siapa pun kecuali yang dilaknat Allah dan  Rasul-Nya. Salah satu cara menggambarkan buruknya perilaku Utsman bin  Affan adalah penghormatannya kepada al- Hakam bin abi al-ash. Padahal,  orang ini sudah dilaknat Rasulullah saw. “Ketika Utsman menjadi  khalifah, ia menyambutnya dengan segala kemuliaan dan kehormatan. Utsman  memberinya hadiah 1000 dirham dan mengangkat anaknya sebagai orang  kepercayaannya.” (hal. 89).</p>
<p>Buku ini pun memaparkan bid’ah-bid’ah – versi Syiah &#8212; yang dibuat oleh Abu Bakar r.a. seperti: Menghapus hak <em>“muallafatu qulubuhum</em>”  dan melarang penulisan hadits dan membakarnya. Sedangkan bid’ah-bid’ah  yang dibuat oleh Umar bin Khathab antara lain: Menentang Rasulullah saw  untuk menuliskan wasiatnya dan melarang nikah mut’ah. (hal. 235).</p>
<p>Sebagaimana  dalam kasus pencatatan hadits, tuduhan-tuduhan kelompok Syiah terhadap  Utsman bin Affan juga sangat berlebihan. Kadangkala fakta ditafsirkan  lain, sehingga seolah-olah, Abu Bakar, Umar, dan Utsman r.a. telah  melakukan  persekongkolan jahat melawan Nabi. Ibnul Arabi, dalam  Kitabnya,<em> al-Awashim wal-Qawashim</em>,  menjelaskan, kasus al-Hakam  terkait dengan kesaksian Utsman r,a., bahwa Rasulullah saw telah  memberikan izin kepada al-Hakam untuk kembali ke Madinah. Tetapi, Abu  Bakar dan Umar tidak menerima saksi lain selain dari Utsman bin Affan,  sehingga permintaan Utsman ditolak. Tetapi tidak diberitakan, saat  menjadi Khalifah, Utsman menyambutnya dengan segala kemuliaan. Mengutip  Ibn Taymiyah dalam Minhaj al-Sunnah,  Dr. Muhammad al-Ghabban  menjelaskan melalui bukunya, <em>Kitab Fitnah Maqtal Utsman</em>,  bahwa semua riwayat tentang pengusiran Hakam adalah mursal, jadi sanadnya lemah.</p>
<p><strong>Jalan Damai<br />
</strong>Mungkin,  karena kebencian terhadap Abu Bhakar, Umar, dan Utsman, maka kelompok  Syiah – termasuk di Indonesia – tidak dapat menyembunyikan pikirannya  untuk mencerca para sahabat Nabi yang mulia tersebut.  Itulah fakta  ajaran Syiah yang disebarkan di Indonesia melalui berbagai penerbitan  mereka.  Jika manusia-manusia yang begitu mulia dan dihormati oleh kaum  Muslim – seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin  Affan, dan Aisyah r.a. &#8212; dicerca dan diperhinakan oleh kaum Syiah,  apakah umat Islam bisa terima?</p>
<p>Itu tentu berbeda dengan Muslim  Sunni yang menghormati semua sahabat Nabi saw. Ulama dan tokoh sufi  terkemuka, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, dalam kitabnya, <em>al-Ghunyah Lithaalibi Thariqil Haq</em>,  menguraikan kesesatan ajaran Syiah dan memberikan penjelasan terhadap  keabsahan kepemimpinan Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab,  Utsman  bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.  Mereka semua adalah pemimpin yang  mulia yang dikaruniai petunjuk Allah SWT <em>(al-khulafa al-rasyidun)</em>.  (Lihat, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, <em>Buku Pintar Akidah Ahlusunnah Waljamaah (Terj.)</em>, (Jakarta: Zaman, 2011).</p>
<p>Kaum  Muslim sangat mencintai Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya yang  mulia. Tidak sepatutnya, ada orang yang menyimpan dendam abadi kepada  manusia-manusia terbaik  yang dididik oleh Rasulullah sendiri. Bahkan,  Abu Bakar, Umar bin Khathab adalah mertua Rasulullah saw. Sementara  Utsman bin Affan adalah menantu Rasulullah saw.  Kaum Muslim yang masih  memiliki kesadaran keimanan, tentu tidak ridha jika para sahabat Nabi  yang mulia itu difitnah dan dicaci-maki.</p>
<p>Jika kaum Syiah mengakui  Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya mereka menghormati  Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah Indonesia menjadi Sunni.  Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa berdampak buruk bagi masa depan  negeri Muslim ini. Masih banyak lahan dakwah di muka bumi ini – jika  hendak di-Syiahkan.  Itulah jalan damai untuk  Muslim Sunni dan kelompok  Syiah.</p>
<p>Kecuali, jika kaum Syiah melihat Muslim Sunni adalah aliran sesat yang wajib di-Syiahkan! <em>Walahu a’lambil-shawab.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://insistnet.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=299%3Asolusi-damai-muslim-sunni-syiah&#038;catid=1%3Aadian-husaini&#038;Itemid=15</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fsolusi-damai-muslim-sunni-syiah%2F&amp;title=Solusi%20Damai%20Muslim%20Sunni-Syiah" id="wpa2a_12"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/solusi-damai-muslim-sunni-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hasil Penelitian: 20 Warga Yahudi Israel Masuk Islam Setiap Tahunnya</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/hasil-penelitian-20-warga-yahudi-israel-masuk-islam-setiap-tahunnya/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/hasil-penelitian-20-warga-yahudi-israel-masuk-islam-setiap-tahunnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 12:23:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2185</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Isaac Ritter &#8211; Profesor Pusat Studi Yerusalem &#8211; menyatakan bahwa setidaknya 20 warga Yahudi Israel memeluk Islam setiap tahunnya. &#8220;Semua Yahudi yang masuk Islam kebanyakan adalah wanita yang mengaku bahwa mereka masuk Islam untuk menikah dengan seorang pria Muslim,&#8221; Ritter mengatakan. Selasa, 27/12/2011 Menurut sebuah hasil penelitian yang diterbitkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Isaac Ritter &#8211; Profesor Pusat  Studi Yerusalem &#8211; menyatakan bahwa setidaknya 20 warga Yahudi Israel  memeluk Islam setiap tahunnya.</p>
<p>&#8220;Semua Yahudi yang masuk Islam kebanyakan adalah wanita yang mengaku  bahwa mereka masuk Islam untuk menikah dengan seorang pria Muslim,&#8221;  Ritter mengatakan.</p>
<p>Selasa, 27/12/2011</p>
<p>Menurut sebuah hasil penelitian yang diterbitkan oleh surat kabar  &#8220;Yediot Ahronot&#8221;, agama Islam dan dakwah Islam telah mulai menembus  jajaran orang-orang Yahudi, di mana pendakwah Islam di wilayah  pendudukan Israel berpenampilan ala Salafi, mendekati orang-orang Yahudi  dan mengundang mereka agar masuk Islam dengan menggunakan bahasa Ibrani  yang fasih, yang hal itu berkontribusi pada keberhasilan misi dakwah  mereka.</p>
<p>Surat kabar itu menunjukkan bahwa publikasi dari dakwah Islam di  kalangan orang Yahudi dipengaruhi oleh program-program Islam yang  disiarkan oleh saluran satelit di Timur Tengah, Eropa, forum dan  website.</p>
<p>Ritter sendiri menambahkan bahwa dakwah Islam terhadap orang Yahudi  Israel dalam bahasa Ibrani adalah yang pertama dari jenisnya lebih dari  30 tahun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.eramuslim.com/berita/dunia/hasil-penelitian-20-warga-yahudi-israel-masuk-islam-setiap-tahunnya.htm</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fhasil-penelitian-20-warga-yahudi-israel-masuk-islam-setiap-tahunnya%2F&amp;title=Hasil%20Penelitian%3A%2020%20Warga%20Yahudi%20Israel%20Masuk%20Islam%20Setiap%20Tahunnya" id="wpa2a_14"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/hasil-penelitian-20-warga-yahudi-israel-masuk-islam-setiap-tahunnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memberla Kehormatan Shahabat Radliyallahu &#8216;Anhum</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/memberla-kehormatan-shahabat-radliyallahu-anhum/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/memberla-kehormatan-shahabat-radliyallahu-anhum/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 12:05:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2182</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Akhir-akhir ini, kelompok Syiah semakin menampakkan geliat mereka di tanah air ini. Sebuah sekte yang menyandarkan ajaran mereka terhadap Islam, namun Islam sangat jauh dari klaim tersebut. Di antara akidah mereka yang menyelisihi akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah sikap mereka terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Jika ahlussunnah meyakini bahwa para sahabat adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Akhir-akhir ini, kelompok Syiah semakin menampakkan geliat mereka di tanah air ini. Sebuah sekte yang menyandarkan ajaran mereka terhadap Islam, namun Islam sangat jauh dari klaim tersebut.</p>
<div>Di antara akidah mereka yang menyelisihi akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah sikap mereka terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Jika ahlussunnah meyakini bahwa para sahabat adalah sebaik-baik generasi umat ini, maka Syiah mengatakan bahwa sahabat, khususnya Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhum adalah seburuk-buruk umat, para pengkhianat, bahkan telah murtad dan keluar dari Islam. Seperti itulah yang disebutkan dalam literatur-literatur standar mereka.</div>
<div><strong>DEFENISI SAHABAT </strong>radhiyallahu anhum</div>
<div>Sahabat adalah bentuk jamak dari <em>shahabi</em>, yaitu orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, kemudian beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan demikian.</div>
<div><strong>KEUTAMAAN SAHABAT </strong>radhiyallahu anhum</div>
<div>Seorang muslim, wajib meyakini bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi umat ini, karena mereka terlebih dahulu beriman, menemani Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, berjihad bersama beliau, dan membawa serta menyampaikan syariat kepada orang-orang sesudah mereka.</div>
<div><strong><em>Dalil dari al-Qur’an</em></strong></div>
<div>1. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memuji mereka dalam firman-Nya (artinya<em>), “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”</em> (QS. At-Taubah: 100).</div>
<div>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memuji seluruh Muhajirin dan Anshar tanpa pengecualian, karena ال  pada kata “al-Muhajirin” dan “al-Anshar” dalam ayat ini menunjukkan makna umum. Demikian pula seluruh yang mengikuti mereka dengan baik.</div>
<div>Inilah hukum asal, maka tidak boleh mengeluarkan seorang pun Muhajirin atau Anshar dari keumuman ayat ini tanpa adanya dalil yang dengan tegas menunjukkan demikian.</div>
<div>Kemudian Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memuji mereka yang mengikuti para sahabat dengan baik. Lalu siapakah mereka para pengikut sahabat itu? Merekalah Ahlussunnah wal Jamaah, bukan Syiah, karena Syiah dengan jelas telah mengafirkan, atau paling tidak mencela, mencaci maki, dan menghinakan para sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam.</div>
<div>2. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman (artinya), <em>“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” </em>(QS. Al-Fath: 29)</div>
<div>Ayat ini dengan jelas menggambarkan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala mendidik dan menjaga para sahabat seperti tunas-tunas yang muncul ke permukaan bumi, hingga akhirnya matang dengan sempurna, sehingga menyenangkan Zat yang memelihara dan menumbuhkannya, dan hal itu akan menjadi sebab kemurkaan orang-orang kuffar. Maka barangsiapa membenci dan dengki kepada mereka akan mendapatkan ancaman dari Allah.</div>
<div>3. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman (artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi</em>.” (QS. Al-Anfal: 72) hingga ayat selanjutnya, <em>“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para Muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu,  niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.”</em> (QS. Al-Anfal: 73-74)</div>
<div>Bukankah ini adalah penegasan dari Allah akan keimanan Muhajirin dan Anshar? Allah menegaskan bahwa mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman, Allah menjanjikan bagi mereka ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. Maka barangsiapa yang meragukan keimanan para sahabat, maka berarti mereka telah mendustkan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala Subhanahu wa Ta&#8217;ala Mahamengetahui segala yang akan terjadi, maka bisa jadi Allah sengaja mendatangkan ayat ini untuk membungkam siapa saja yang kelak datang setelah generasi sahabat dan dengan tanpa adab mencela dan menganggap mereka murtad.</div>
<div>4. Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala (artinya), <em>“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.”</em> (QS. Al-Hadid: 10).</div>
<div>Ayat yang mulia ini memuji mereka yang beriman sebelum penaklukan Mekah, dan berinfak di jalan Allah, dan berperang untuk meninggikan kalimat Allah, dan bahwasanya mereka yang datang setelahnya tidak akan mampu menyamai keutamaan mereka. Ini adalah persaksian yang agung dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala bagi orang-orang berakal.</div>
<div>5. Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, <em>“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.”</em> (QS. Al-Hasyr: 8-9).</div>
<div><em>Subhanallah</em>, inilah penggolongan kaum Mukminin yang menakjubkan yang disebutkan Allah dalam ayat ini; Muhajirin, Anshar, lalu para pengikut Muhajirin dan Anshar yang senantiasa mendoakan para pendahulunya dan mencintai mereka. Perhatikan, hanya tiga golongan. Lalu di mana posisi Syiah dari tiga golongan ini? Jangankan untuk mendoakan dan mencintai Muhajirin dan Anshar, sebaliknya mereka justru melaknat dan menganggap mereka telah murtad.</div>
<div>Dalam lanjutan kedua ayat di atas disebutkan, <em>“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: &#8220;Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Mahapenyantun lagi Mahapenyayang.&#8221; </em>(QS. Al-Hasyr: 10). Bandingkan antara Syiah dan Sunni dari sisi pengamalan ayat ini. Anda akan melihat bahwa Syiah 180º membelakangi titah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala ini.</div>
<div>6. Dalam ayat lain disebutkan, <em>“Tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” </em>(QS. Al-Hujurat: 7). Dan masih banyak ayat lain yang menyebutkan keutamaan para sahabat.</div>
<div>Inilah sebagian ayat yang menyanjung generasi para sahabat  yaitu mereka yang berjihad di jalan Allah untuk mengibarkan panji-panji Islam. Tidakkah Syiah menyadari bahwa semua kebaikan yang ada pada dunia Islam sekarang ini disebabkan karena kegigihan perjuangan mereka? Kemudian datanglah setelah mereka generasi Ahlussunnah untuk menyempurnakan perjuangan itu. Berpindahlah din ini ke generasi-generasi selanjutnya. Negeri-negeri kuffar ditaklukkan, dan manusia pun beramai-ramai mengenal Islam.</div>
<div>Sekarang, bisakah Syiah menunjukkan kepada semesta alam, sejengkal tanah dari negeri kufur yang telah mereka taklukkan? Bukankah Persia (Iran, negeri kebanggan Syiah) sendiri ditaklukkan pada masa kekhalifahan Umar radhiyallahu anhu yang mereka kafirkan? Kalaulah bukan karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala kemudian jasa Umar radhiyallahu anhu, tentulah Khomeini masih menyembah api.</div>
<div><strong><em>B. Dari Sunnah</em></strong></div>
<div>- Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda<em>, “Janganlah kalian mencela sahabatku, jika salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, itu tidak akan setara dengan satu mud para sahabat, bahkan sekali pun setengahnya.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim).</div>
<div>Hadits ini diucapkan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam  kepada Khalid bin Walid radhiyallahu anhu ketika mencela Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu anhu. Abdurrahman radhiyallahu anhu termasuk sahabat yang awal-awal memeluk Islam, adapun Khalid radhiyallahu anhu masuk Islam setelahnya. Sesama sahabat pun dilarang untuk mencela sahabat lainnya, apalagi jika pencela itu adalah orang-orang yang datang setelahnya. Hendaknya para pelaknat sahabat itu malu terhadap diri mereka sendiri. Adakah setetes darah yang telah mereka teteskan untuk kejayaan Islam? Pernahkah tubuh mereka bersimbah peluh dan debu-debu perjuangan untuk meninggikan kalimat Allah? Ataukah setiap harinya mereka hanya berlari di belakang dunia, mengejar segala kenikmatan di dalamnya, lalu merasa diri mereka telah jauh lebih baik dari para sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam sehingga mereka merasa pantas untuk melaknatnya?</div>
<div>- Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda, <em>“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian masa setelahnya, kemudian setelahnya.”</em> (HR. Bukhari, 2652; Muslim, 2533). Dan masih banyak hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam yang mengabarkan keutamaan-keutamaan para sahabat secara umum atau yang menyebutkan nama-nama sahabat secara khusus.</div>
<div><strong><em>Pertanyaan:</em></strong></div>
<div>Mengapa Syiah begitu lancang mengafirkan para sahabat (kecuali empat sahabat menurut mereka) sementara Allah I dan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam memuji mereka?</div>
<div>Jawabannya tidak keluar dari dua kemungkinan; entah karena Allah U tidak mengetahui perkara yang akan terjadi, bahwa suatu saat sahabat akan murtad (Ini Mustahil. Mahasuci Allah dari hal demikian), atau Syiah adalah ajaran menyimpang yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah shahihah (dan inilah yang benar).</div>
<div><em>Wallahu Waliyyut Taufiq</em></div>
<div>Dari berbagai sumber</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.stibamks.net/2012/01/membela-kehormatan-sahabat-radhiyallahu.html</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fmemberla-kehormatan-shahabat-radliyallahu-anhum%2F&amp;title=Memberla%20Kehormatan%20Shahabat%20Radliyallahu%20%26%238216%3BAnhum" id="wpa2a_16"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/memberla-kehormatan-shahabat-radliyallahu-anhum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MUI Sampang Keluarkan Fatwa Sesat Syiah yang Dibawa Tajul Muluk</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/mui-sampang-keluarkan-fatwa-sesat-syiah-yang-dibawa-tajul-muluk/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/mui-sampang-keluarkan-fatwa-sesat-syiah-yang-dibawa-tajul-muluk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 07:53:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2172</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 03 Januari 2012 &#160; Hidayatullah.com&#8211; Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang, Madura akhirnya mengeluarkan fatwa sesat ajaran Syi’ah. Fatwa MUI Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur bernomor: A-035/MUI/spg/2012 tentang kesesatan ajaran Syi’ah yang telah disebarluaskan oleh saudara Tajul Muluk di Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang itu menegaskan, bahwa aliran yang dibawa Tajul Muluk itu sudah dikenal sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Selasa, 03 Januari 2012</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span><em><strong>Hidayatullah.com&#8211; </strong></em>Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang, Madura akhirnya mengeluarkan fatwa sesat ajaran Syi’ah.</span></p>
<p><span>Fatwa MUI Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur bernomor: <strong>A-035/MUI/spg/2012 tentang kesesatan ajaran Syi’ah</strong> yang telah disebarluaskan oleh saudara Tajul Muluk di Kecamatan Omben,  Kabupaten Sampang itu menegaskan, bahwa aliran yang dibawa Tajul Muluk  itu sudah dikenal sejak 2004-2005 di daerah tersebut,  dinilai sudah  menyimpang dari ajaran Islam.</span></p>
<p>Fatwa yang ditandatangani KH Imam Bukhori Maksum, sebagai Ketua MUI  Kabupaten Sampang ini dikeluarkan Senin (02/01/2012) kemarin menegaskan,  ajaran Syi’ah yang bawah oleh Tajul Muluk di masyarakat di daerah itu  telah menyimpang dari ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi.</p>
<p>“Betul, kami telah mengeluarkan fawa itu hari Senin kemarin, “ ujar KH. Imam Bukhori Maksum kepada <a href="http://www.hidayatullah.com/read/20493/03/01/2012/undefined">hidayatullah.com</a>, Selasa (03/01/2012).</p>
<p>Sekretaris MUI Jawa Timur Mohammad Yunus juga membenarkan bila MUI Sampang telah mengeluarkan fatwa itu.</p>
<p>Menurut Yunus, berdasarkan fakta yang diteliti MUI Sampang. Ada beberapa hal pokok penyimpangan yang dibawa Tajul Muluk.</p>
<p><em>Pertama </em>terkait syahadat di mana dalam ajaran mereka dikenal dengan tiga syahadat, yakni menambah satu syahadat.</p>
<p>“Kalau syahadat kita kenal dengan syahadatani artinya dua kalimat syahadat, tapi mereka menambahnya satu lagi yaitu <em>Wa Anna Aliyan Waliyullah.<br />
</em></p>
<p><em>Kedua, </em>mereka tidak mewajibkan shalat Jumat sebab menurut  aliran ini shalat Jumat tidak sah bagi mereka selagi imam mereka belum  turun dari langit.</p>
<p>Juga adanya  anggapan bahwa al Qur’an yang berada di tengah-tengah masyarakat sudah tidak orisinil dan ada perubahan-perubahan.</p>
<p>“Istilahnya ada perubahan dan ada pergantian ayat,” katanya.</p>
<p>Sebelum  ini, tepatnya tahun 2006, lebih dari 50 ulama se-Madura telah melakukan  kajian secara detail berdasarkan temuan di lapangan terhadap dakwah  yang telah diajarkan Tajul Muluk Ma’mun. Hasilnya, ulama mengeluarkan  sikap dan fatwa pengharaman ajaran ini. Sayang, hingga enam tahun  peristiwa ini berjalan, himbauan para ulama ini tak pernah  ditindaklanjuti hingga lahirnya beberapa peristiwa bentrokan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.hidayatullah.com/read/20493/03/01/2012/mui-sampang-keluarkan-fatwa-sesat-syiah-yang-dibawa-tajul-muluk.html</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fmui-sampang-keluarkan-fatwa-sesat-syiah-yang-dibawa-tajul-muluk%2F&amp;title=MUI%20Sampang%20Keluarkan%20Fatwa%20Sesat%20Syiah%20yang%20Dibawa%20Tajul%20Muluk" id="wpa2a_18"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/mui-sampang-keluarkan-fatwa-sesat-syiah-yang-dibawa-tajul-muluk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Tahun Baru</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/menyikapi-tahun-baru/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/menyikapi-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 13:57:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2160</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Dalih toleransi sering dijadikan alasan sebagian kaum Muslimin untuk turut berpartisipasi dalam perayaan hari-hari besar agama lain. Padahal, hari raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah keduniaan, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pada hari Idul Fitri, &#160; إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدًا وَهَذَا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Dalih toleransi sering dijadikan alasan sebagian kaum Muslimin untuk turut berpartisipasi dalam perayaan hari-hari besar agama lain. Padahal, hari raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah keduniaan, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pada hari Idul Fitri,</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p><strong>إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدًا وَهَذَا عِيْدُنَا</strong></p>
</div>
<p>”Setiap kaum memiliki hari raya, dan ini (Idul Fitri) adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Dengan demikian, turut merayakannya berarti ikut serta dalam ritual  ibadah mereka. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah  bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan  mereka.” (HR.  Abu Dawud, dan dinyatakan hasan shahih oleh Al-Albani).</p>
<p>Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhuma beliau pernah berkata,<br />
“Barangsiapa lewat di negeri non Arab, lalu mereka sedang merayakan Hari  Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu ia meniru mereka hingga  mati, maka demikianlah ia dibangkitkan bersama mereka di Hari Kiamat  nanti.” (Lihat Ahkaamu Ahlidz Dzimmah I/723-724).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—rahimahullah—berkata, “Adapun apabila  seorang Muslim menjual kepada mereka pada hari-hari raya mereka segala  yang mereka gunakan pada hari raya tersebut, berupa makanan, pakaian,  minyak wangi dan lain-lain, atau menghadiahkannya kepada mereka, maka  itu termasuk menolong mereka mengadakan hari raya mereka yang  diharamkan. Dasarnya adalah kaidah yang mengatakan tidak boleh menjual  anggur kepada orang kafir yang jelas digunakan untuk membuat minuman  keras. Juga tidak boleh menjual senjata kepada mereka bila digunakan  untuk memerangi kaum Muslimin.” Kemudian beliau menukil dari Abdul Malik  bin Habib dari kalangan ulama Malikiyyah, “Sudah jelas bahwa kaum  Muslimin tidak boleh menjual kepada orang-orang Nashrani sesuatu yang  menjadi kebutuhan hari raya mereka, baik itu daging, lauk-pauk atau  pakaian. Juga tidak boleh memberikan kendaraan kepada mereka, atau  memberikan pertolongan untuk hari raya, karena yang demikian itu  termasuk memuliakan kemusyrikan mereka dan menolong mereka dalam  kekufuran mereka.” (Al-Iqtidhaa 229-231).</p>
<p>Maka jelas kita bertasyabbuh, meridhai dan berpartisipasi dalam  kegiatan mereka, apabila kita bersukaria, berpesta, memakan makanannya,  berpartisipasi dalam acara non Muslim, memberi hadiah, memberi ucapan  selamat, menjual kartu selamat, menjual segala keperluan hari raya  mereka, baik itu lilin, pohon natal, makanan, kalkun, kue dan  lain-lainnya.</p>
<p>MENYAMBUT TAHUN BARU<br />
Entah direncanakan atau sekadar latah, pada malam itu orang-orang seakan  secara serempak melonggarkan moralitas dan kesusilaan. Bunyi terompet  diselingi gelak tawa (bahkan dengan minuman keras) bersahut-sahutan di  setiap tempat. Sepeda motor mengepulkan asap hingga mirip ‘dapur  berjalan’ meraung-raung. Mobil-mobil membunyikan klakson sepanjang  jalan. Cafe, diskotik dan tempat-tempat hiburan malam sesak padat.  Orang-orang ‘tumpah’ di jalanan dengan satu tujuan: merayakan Tahun  Baru.</p>
<p>Sebenarnya tahun Masehi adalah tahun yang baru bagi bangsa  Indonesia, karena ia tidak memiliki akar kultur dan tradisi dalam  sejarah bangsa ini. Ada beberapa faktor yang dapat mendukung anggapan  ini.</p>
<p>Pertama, latarbelakang sosio-historis. Berlakunya tahun Masehi tidak  bisa dipisahkan dari pengaruh teologi (keagamaan) Kristen, yang dianut  oleh masyarakat Eropa. Kalender ini baru diberlakukan di Indonesia pada  tahun 1910 ketika berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap atas  seluruh rakyat Hindia Belanda.</p>
<p>Kedua, karena latarbelakang teologis. Sebagaimana diketahui,  kalender Gregorian diciptakan sebagai ganti kalender Julian yang dinilai  kurang akurat, karena awal musim semi semakin maju, akibatnya, perayaan  Paskah  yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I pada tahun 325,  tidak tepat lagi.</p>
<p>Kalender Hijriyah, disebut sebagai kalender Islam (at-taqwim  al-hijri), karena ditetapkan sejak hijrahnya Rasulullah Shallallahu  &#8216;Alaihi Wa Sallam. Ia ditetapkan sebagai tahun Islam setelah Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam wafat atas inisiatif Khalifah kedua, Umar  bin Khathab Radhiyallahu &#8216;Anhu pada tahun 638 M (17 H). Hijrah Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ditetapkan sebagai awal kalender Islam,  menyisihkan dua pendapat lainnya, yaitu hari kelahiran Nabi Shallallahu  ‘Alaihi Wa Sallam dan hari wafat beliau.</p>
<p>Sejak kedatangan Islam hingga awal abad ke-20, kalender Hijriyah  berlaku di nusantara. Bahkan raja Karangasem, Ratu Agung Ngurah yang  beragama Hindu, dalam surat-suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia  Belanda Otto van Rees yang beragama Nasrani, masih menggunakan tarikh  1313 Hijriyah (1894 M).</p>
<p>Jadi secara historis dan kultural  bangsa kita pun, tahun baru  Masehi tidak perlu dirayakan. Terlebih lagi jika ditinjau dari sisi  akidah al wala&#8217; wal bara&#8217; (loyalitas dan pelepasan diri) dalam agama  Islam.<br />
Meski demikian, hal ini tidak bisa secara otomatis dijadikan sebagai  justifikasi pentingnya merayakan tahun baru Hijriyah yang juga tinggal  menghitung hari. Mengingat sejauh ini tidak ditemukan teks agama yang  menganjurkan perayaan tahun baru Hijriyah.</p>
<p>ULAMA MENYIKAPI HARI RAYA NON-MUSLIM (NATAL/TAHUN BARU)<br />
Fatwa Syaikh Muhammad Ibn Shalih al Utsaimin—rahimahullah</p>
<p>Pertanyaan:<br />
Apa hukumnya mengucapkan selamat kepada orang kafir pada perayaan hari  besar keagamaan mereka? (Misal: Merry Christmas, Selamat hari Natal dan  Tahun Baru dst, red.). Dan bagaimana kita menyikapi mereka jika mereka  mengucapkan selamat Natal kepada kita. Dan apakah dibolehkan pergi ke  tempat-tempat di mana mereka merayakannya? Dan apakah seorang Muslim  berdosa jika ia melakukan perbuatan tersebut tanpa maksud apapun, akan  tetapi ia melakukannya hanya karena menampakkan sikap tenggang rasa,  atau karena malu atau karena terjepit dalam situasi yang canggung, atau  pun karena alasan lainnya. Dan apakah dibolehkan menyerupai mereka dalam  hal ini?</p>
<p>Jawaban:<br />
Mengucapkan selamat kepada orang kafir pada perayaan Natal atau hari  besar keagamaan lainnya dilarang menurut ijma’ (kesepakatan ulama).  Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim—rahimahullah—dalam bukunya  Ahkamu Ahlidz-dzimmah, beliau berkata, “Mengucapkan selamat terhadap  syiar-syiar kafir yang menjadi ciri khasnya adalah haram, menurut  kesepakatan. Seperti memberi ucapan selamat kepada mereka pada hari-hari  rayanya atau puasanya, sehingga seseorang berkata, “Selamat hari raya”,  atau ia mengharapkan agar mereka merayakan hari rayanya atau hal  lainnya. Maka dalam hal ini, bisa jadi orang yang mengatakannya terlepas  dari jatuh ke dalam kekafiran, namun (sikap yang seperti itu) termasuk  ke dalam hal-hal yang diharamkan. Ibarat dia mengucapkan selamat atas  sujudnya mereka pada salib. Bahkan ucapan selamat terhadap hari raya  mereka dosanya lebih besar di sisi Allah dan jauh lebih dibenci dari  pada memberi selamat kepada mereka karena meminum alkohol dan membunuh  seseorang, berzina dan perkara-perkara yang sejenisnya. Dan banyak orang  yang tidak paham agama terjatuh ke dalam perkara ini. Dan ia tidak  mengetahui keburukan perbuatannya. Maka siapa yang memberi selamat  kepada seseorang yang melakukan perbuatan dosa, atau bid’ah, atau  kekafiran, berarti ia telah membuka dirinya kepada kemurkaan Allah.”  Akhir dari perkataan Syaikh (Ibnul Qoyyim—rahimahullah).</p>
<p>Haramnya memberi selamat kepada orang kafir pada hari raya keagamaan  mereka sebagaimana perkataan Ibnul Qoyyim adalah karena di dalamnya  terdapat persetujuan atas kekafiran mereka, dan menunjukkan ridha  dengannya. Meskipun pada kenyataannya seseorang tidak ridha dengan  kekafiran, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk  meridhai syiar atau perayaan mereka, atau mengajak yang lain untuk  memberi selamat kepada mereka. Karena Allah  tidak meridhai hal  tersebut, sebagaimana Allah Subhaanahu Wa Ta&#8217;ala  berfirman, artinya,</p>
<p>“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu  dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu  bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” [QS. Az Zumar  39: 7].</p>
<p>Dan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala juga berfirman, artinya,</p>
<p>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah  Kucukupkan bagimu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama  bagimu.” [QS. Al Maaidah: 3]</p>
<p>Maka memberi selamat kepada mereka dengan ini hukumnya haram, sama  saja apakah terhadap mereka (orang-orang kafir) yang terlibat bisnis  dengan seseorang (Muslim) atau tidak. Jadi, jika mereka memberi selamat  kepada kita dengan ucapan selamat hari raya mereka, kita dilarang  menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, dan hari raya mereka  tidaklah diridhai Allah, karena hal itu merupakan salah satu yang  diada-adakan (bid’ah) di dalam agama mereka, atau hal itu ada syariatnya  tapi telah dihapuskan oleh agama Islam yang Nabi Muhammad Shallallahu  ‘Alaihi Wa Sallam, telah diutus dengannya untuk semua makhluk. Allah  Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman tentang Islam, artinya, “Barangsiapa  mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan  diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk  orang-orang yang rugi.” [QS. Ali ‘Imran: 85].</p>
<p>Dan bagi seorang Muslim, memenuhi undangan mereka untuk menghadiri hari  rayanya hukumnya haram. Karena hal ini lebih buruk dari pada hanya  sekadar memberi selamat kepada mereka, di mana di dalamnya akan  menyebabkannya turut berpartisipasi dengan mereka. Juga diharamkan bagi  seorang Muslim untuk menyerupai atau meniru-niru orang kafir dalam  perayaan mereka dengan mengadakan pesta, atau bertukar hadiah, atau  membagi-bagikan permen atau makanan, atau libur kerja, atau yang  semisalnya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam,  “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka”.</p>
<p>Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam bukunya, Iqtidha’ Ash  Shirathal Mustaqiim, “Menyerupai atau meniru-niru mereka dalam hari raya  mereka menyebabkan kesenangan dalam hati mereka terhadap kebatilan yang  ada pada mereka. Bisa jadi hal itu sangat menguntungkan mereka guna  memanfaatkan kesempatan untuk menghina/merendahkan orang-orang yang  berfikiran lemah”. Akhir dari perkataan Syaikhul-Islam Ibnu  Taimiyah—rahimahullah. (Majmu’ Fatawa, Fadlilah asy Syaikh Muhammad bin  Shalih al-’Utsaimin, III/44-46 No.403).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.wahdah.or.id/</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fmenyikapi-tahun-baru%2F&amp;title=Menyikapi%20Tahun%20Baru" id="wpa2a_20"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/menyikapi-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

