<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ustadz Ridwan Hamidi &#187; Aqidah</title>
	<atom:link href="http://ustadzridwan.com/category/belajar-islam/aqidah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzridwan.com</link>
	<description>رضوان حامدي الإندونيسي</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 08:21:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Menagih Janji Kaum Syiah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/menagih-janji-kaum-syiah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/menagih-janji-kaum-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 17:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2204</guid>
		<description><![CDATA[Menagih Janji Kaum Syiah &#160; Pada hari Kamis, 19 Januari 2012, Jurnal Islamia-Republika, (hal. 23-26) – Jurnal Pemikiran Islam bulanan hasil kerjasama antara INSISTS dan Harian Republika &#8212; menurunkan kajian utama tentang Syiah di Indonesia. Artikel saya yang dimuat di Jurnal tersebut berjudul “Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah”.&#160; Esoknya, Jumat, 20 Januari 2012, Kajian Islamia-Republika itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Menagih Janji Kaum Syiah</h1>
<p>&nbsp;</p>
<div><span>Pada hari Kamis, 19 Januari 2012, <em>Jurnal Islamia-Republika, </em>(hal.   23-26) – Jurnal Pemikiran Islam bulanan hasil kerjasama antara INSISTS   dan Harian Republika &#8212; menurunkan kajian utama tentang Syiah di   Indonesia. Artikel saya yang dimuat di Jurnal tersebut berjudul “<em>Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah”.&nbsp;</p>
<p></em><em> </em>Esoknya, Jumat, 20 Januari 2012, <em>Kajian Islamia-Republika </em>itu   mendapatkan tanggapan dari Haidar Bagir, Dirut Penerbit Mizan – yang   dikenal sebagai salah satu penerbit buku Syiah di Indonesia. Artikel   Haidar di Harian Republika itu diberi judul “<em>Syiah dan Kerukunan Umat.” </em>Dalam artikelnya, Haidar Bagir menulis, bahwa dia setuju dengan solusi damai yang saya tawarkan:  <em>“Jika   kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya  mereka  menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah  Indonesia  menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa  berdampak buruk  bagi masa depan negeri Muslim ini…. Itulah jalan damai  untuk  Muslim  Sunni dan kelompok Syiah.</em>”</p>
<p>Menurut Haidar  Bagir, dia pernah  bertemu secara pribadi dengan Syaikh Ali Taskhiri,  seorang ulama  terkemuka di Iran, salah satu pembantu terdekat Wali  Faqih Ayatullah Ali  Khamenei, serta wakil <em>Dar al-Taqrib bayn al-Madzahib </em>(Perkumpulan Pendekatan antar-Mazhab), yang dengan tegas menyatakan: “<em>hendaknya kaum Syiah di Indonesia meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum muslim di Indonesia.”<br />
</em><br />
<span>Haidar Bagir juga menyampaikan imbauan di ujung artikelnya: “<em>Khusus   untuk orang-orang yang pandangannya didengar oleh para pengikut Syiah   di negeri ini, hendaknya mereka meyakinkan para pengikutnya untuk dapat   membawa diri dengan sebaik-baiknya serta mengutamakan persaudaraan dan   toleransi terhadap saudara-saudaranya yang merupakan mayoritas di  negeri  ini.”</em></span></p>
<p><em> </em><em> </em>Dalam soal sikap terhadap para sahabat Nabi  Muhammad  Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) &#8212; yang  menjadi  langganan caci-maki kaum Syiah, Hadiar Bagir juga menulis:<span><em>“Sementara  itu, banyak ulama Syiah  Imamiyah atau Itsna ’Asyariyah yang telah  merevisi pandangannya tentang  ini. Hasil konferensi Majma’ Ahl al-Bayt  di London pada 1995, mi sal  nya, dengan tegas menyatakan menerima  keabsahan kekhalifah an tiga  khalifah terdahulu sebelum Khalifah Ali.<br />
</em></span></p>
<p><em>Bahkan,  terkait dengan skandal  pengutukan sahabat besar dan sebagian istri  Nabi yang dilakukan oleh  oknum Syiah yang tinggal di Inggris, bernama  Yasir al-Habib, Ayatullah  Sayid Ali Khamenei sendiri mengeluarkan fatwa  yang dengan tegas melarang  penghinaan terhadap orang-orang yang  dihormati oleh para pemeluk </em><em>Ahlus Sunnah (fatwa ini tersebar dan dapat dengan mudah diakses dari berbagai sumber). Di antara isinya adalah, </em></p>
<p><em>“Diharamkan  menghina  figur-figur/tokoh-tokoh (yang diagungkan) saudara-saudara  seagama kita,  Ahlus-Sunnah, termasuk tuduhan terhadap istri Nabi  Shalallaahu &#8216;Alaihi  Wasallam (صلى الله عليه و سلم)dengan hal-hal yang  mencederai kehormatan  mereka &#8230;”</em></p>
<p><em> </em><em> </em></p>
<p>Benarkah?</p>
<p>Jadi,  sesuai artikel  Haidar Bagir di Republika tersebut,  ada dua hal pokok  yang harus  dilakukan oleh kaum Syiah untuk solusi damai bagi Ahlu  Sunnah dan Syiah  di Indonesia, yaitu (1) menghentikan caci maki  terhadap sahabat-sahabat  dan istri-istri  Nabi saw dan (2) menghentikan  ambisi untuk  meng-Syiahkan Indonesia, seperti ditegaskan oleh seorang  ulama Syiah  yang dijumpai Haidar Bagir: “hendaknya kaum Syiah di  Indonesia  meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum  muslim di  Indonesia.”</p>
<p>Apakah janji yang  disampaikan Haidar Bagir  tersebut bisa dipenuhi kaum Syiah? Tampaknya,  itu tidaklah mudah.  Seperti disebutkan dalam CAP-323 lalu, sejumlah  fakta di lapangan  menunjukkan banyaknya penerbitan Syiah di Indonesia  yang masih mengumbar  caci-maki dan fitnah terhadap para sahabat dan  istri-istri Nabi  Muhammad saw. Bahkan, salah satu buku terkenal yang  mencaci-maki dan  menfitnah sahabat dan istri Nabi Muhammad saw adalah  buku terbitan  Mizan, pimpinan Haidar Bagir sendiri, yang berjudul  <em>“Dialog Sunnah – Syiah” </em>karya  Syarafuddin al Musawi, (Bandung: Mizan (cetakan pertama, 1983).</p>
<p>Buku  ini diklaim penulisnya sebagai  kumpulan surat menyurat antara penulis  dengan Syaikh Salim al-Bisyri  al-Maliki, yang saat itu menjabat Rektor  al Azhar, Mesir. Di dalamnya  banyak berisi dialog yang menjelaskan  antara lain: Kewajiban berpegang  pada madzhab Ahlul Bait, adanya wasiat  Nabi saw untuk Ali bin Abi Thalib  r.a. sebagai penggantinya, para  sahabat tidak ma’shum (infallible) dari  dosa dan kesalahan yang  berimplikasi ketidakpercayaan periwayatan dari  mereka, dan bahasan lain  yang mendukung pemahaman Syiah.</p>
<p>Di buku  ini, juga ditulis berbagai tuduhan  bahwa Aisyah r.a. telah berbohong  karena menceritakan Nabi Muhammad saw  meninggal di pangkuannya,  sehingga didoakan oleh penulisnya,   mudah-mudahan Allah memberikan  ampunan untuk Aisyah r.a.</p>
<p><em>“Oh….,  semoga Allah  mengaruniakan ampunan-Nya bagi Ummul Mu’minin! Mengapa  ia, ketika  menggeser keutamaan ini dari Ali, tidak mengalihkannya  kepada pribadi  ayahnya saja! Bukankah yang demikian itu lebih utama dan  lebih layak  bagi kedudukan Nabi saw daripada apa yang didakwahkannya?  Namun sayang  ….., ayahnya – waktu itu – bertugas sebagai anggota  pasukan di bawah  pimpinan Usamah bin Zaid, yang persiapannya telah  diatur dan ditetapkan  sendiri oleh Rasulullah Shalallaahu &#8216;Alaihi  Wasallam (صلى الله عليه و  سلم) ; dan pada saat itu sedang berhenti dan  berkumpul di sebuah desa  bernama Juruf!” (hal. 353).</em></p>
<p><em> </em><em> </em></p>
<p>Di  buku ini juga dimuat cerita tentang  provokasi Aisyah terhadap khalayak  dengan  memerintahkan mereka agar  membunuh Utsman bin Affan: “<em>Bunuhlah Na’tsal, karena ia sudah menjadi kafir!” </em>(Catatan:   Na’tsal adalah orang tua yang pandir dan bodoh). (hal. 357). Di  halaman  yang sama, dimuat satu syair yang mengecam Aisyah r.a.:</p>
<p><em>“Engkau yang memulai, engkau yang merusak<br />
Angin dan hujan (kekacauan)<br />
Semuanya berasal darimu<br />
Engkau yang memerintahkan<br />
Pembunuhan atas diri sang Imam<br />
Engkau yang mengatakan<br />
Kini dia sudah kafir.”<br />
</em><br />
(NB.   Berbagai cercaan terhadap Aisyah r.a. tersebut saya kutip dari buku    Dialog Sunnah-Syiah, edisi Oktober 2008. Jadi, sejak 1983 buku ini terus   dicetak oleh Penerbit Mizan – yang Dirutnya adalah Haidar Bagir –   sampai tahun 2008. Saya tidak tahu, apakah masih ada edisi buku tersebut   setelah 2008).</p>
<p>Itulah sebagian isi buku <em>“Dialog Sunnah-Syiah” </em>terbitan Mizan. Pokok-pokok bahasan di dalam buku “<em>Dialog Sunnah-Syiah” </em>tersebut telah dijelaskan kekeliruannya oleh Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus dalam karyanya <em>Ensiklopedi Sunnah Syiah, Studi Perbandingan Aqidah dan Tafsir, </em>yang   diterbitkan Pustaka Al Kautsar (Jakarta, 1997). Buku ini diberi kata   pengantar oleh Dr. Hidayat Nurwahid, yang juga dikenal sebagai pakar   tentang Syiah lulusan  Universitas Islam Madinah. Dalam pengantarnya,   Hidayat Nurwahid memuji keseriusan Prof. as-Salus yang berhasil   menunjukkan, bahwa buku karya al-Musawi, yang aslinya berjudul   al-Muraja’at,  hanyalah karangan al-Musawi belaka. Alias, dialognya   adalah fiktif belaka.</p>
<p>Bahkan, Prof.  as-Salus menulis: “Tetapi  al-Musawi, seorang Syiah Rafidhah yang  terkutuk ini, tanpa rasa sungkan  dan malu ingin menjadikan seorang  Syaikh al-Azhar yang kapabel dan  kredibel sebagai murid kecil dan bodoh  yang menerima ilmu pertama kali  dari dia.” (hal. 249).</p>
<p>Kaum  Muslim yang mencintai Nabi Muhammad  Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى  الله عليه و سلم), para sahabat beliau  yang mulia, dan juga istri-istri  beliau yang herhormat, pasti tidak  ridho jika orang-orang yang mulia  tersebut dihina, difitnah dan  dilecehkan. Kita pun tidak rela jika  orang yang kita hormati dan sayangi  diperhinakan. Bagaimana jika yang  dihina dan difitnah adalah para  sahabat dan istri Nabi Muhammad  Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله  عليه و سلم)? Nabi Shalallaahu  &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  bersabda: <em>“Tidak beriman  salah seorang  diantara kalian, hingga  diriku lebih dicintainya  daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh  manusia.” </em>(HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Cerita  bahwa Aisyah r.a. memerintahkan  pembunuhan terhadap Utsman bin Affan  adalah tuduhan keji dan dusta.  Aisyah sendiri pernah dikonfirmasi  tentang adanya surat atas nama Aisyah  di Medir yang memerintahkan  pembunuhan terhadap Utsman bin Affan r.a.   Beliau bersumpah, bahwa  beliau tidak pernah menulis surat seperti itu.  Banyak riwayat dari  Aisyah r.a. yang sudah mengklarifikasi masalah ini.  Anehnya,  orang-orang Syiah tidak mau tahu, dan selalu mengutip  cerita-cerita  bohong tersebut. (Lihat, Tarikh Khalifah bin Khayyath,  hal. 176 &amp;  Tarikh al-Madinah, Ibn Syabbah 4:1224. Semuanya ada dalam  Tahqiq  Mawaqif al-Shahabah fil-Fitnah, karya Dr. Mahmud Umahzun, Dar  Thayba,  Riyadh, cet. I,  1994, vol.2/29-30. Data: Buku Fitnah Maqtal  Utsman,  karya Dr. Mhmmad al-Ghabban, Maktabah Obeikan, Riyadh, cet. I,  1999).</p>
<p>Jika  Aisyah dinistakan dan difitnah, kaum  Muslim tentu sangat tidak ridha.  Ummul mukminin, Aisyah r.a. sangat  dicintai kaum Muslimin. Beliau  adalah istri Nabi yang mulia. Nabi  Muhammad saw wafat di pangkuan  Aisyah dan dikuburkan di rumah Aisyah  pula. Aisyah r.a. adalah ulama  wanita yang meriwayatkan 2210 hadits.  Dari jumlah itu, 286 hadits  tercantum dalam shahih Bukhari dan Muslim.  Ada sekitar 150 ulama  Tabi’in yang menimba ilmu dari Aisyah. (Lihat,  K.H. Ubaidillah Saiful  Akhyar Lc, Aisyah, <em>The Inspiring Woman,</em> (Yogyakarta: Madania, 2010).</p>
<p>Kasus buku <em>Dialog Sunnah-Syiah </em>terbitan   Mizan ini menjadi bukti nyata, bahwa ajakan Haidar Bagir untuk   kerukunan Sunnah-Syiah masih perlu dipertanyakan. Bukankah buku yang   mencaci maki sahabat-sahabat dan istri Nabi tersebut sudah diterbitkan   oleh Penerbit Mizan selama hampir 30 tahun?</p>
<p>Jalan Damai: Mungkinkah?</p>
<p>Menyimak   berbagai penerbitan kaum Syiah – termasuk terbitan Mizan – patut   dipertanyakan, mungkinkah jalan damai Sunnah-Syiah itu bisa diwujudkan?   Mungkinkah kaum Syiah memenuhi imbauan dari sebagian tokoh mereka: agar   tidak berambisi men-Syiahkan Indonesia dan menghentikan caci maki   terhadap sahabat dan istri Nabi Muhammad Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam   (صلى الله عليه و سلم)?</p>
<p>Memang itu tidak  mudah. Sebab, tampak dalam  berbagai penerbitan mereka, kebencian  terhadap Abu Bakar, Umar, dan  Utsman, radhiyallaaahu ‘anhum, sudah  begitu mendarah daging.  Sikap  Syiah terhadap para sahabat Nabi itu  sangat berbeda dengan sikap kaum  Sunni yang menghormati semua sahabat,  apalagi KhulafaaurRasyidin,  termasuk Sayyidina Ali r.a.</p>
<p>Saya  mendapat satu brosur doa berjudul  “Ziarah Asyura”, terdiri atas enam  halaman. Disamping berisi doa-doa  untuk para Nabi Muhammad saw dan  keluarganya,  doa ini diwarnai dengan  kutukan dan laknat terhadap  berbagai orang. Misalnya, di halaman 5,  ditulis doa laknat:  “Allahummal-‘an awwala dhaalimin dhalama haqqa  Muhammadin wa-Aali  Muhammadin…”. (Ya Allah, laknatlah orang-orang zalim  yang awal-awal,  yang menzalimi hak Nabi Muhammad dan keluarganya…”).</p>
<p>Doa  ini diakhiri dengan kutipan perkataan  Imam Muhammad Al-Baqir as., yang  berkata kepada Alqamah: “Jika engkau  mampu berziarah kepada beliau  (Imam Husein as.) setiap hari dengan  membaca doa ziarah ini (<strong>ziarah Asyura</strong>) di rumahmu, maka lakukanlah itu dan engkau akan mendapatkan semua pahala (berziarah).”</p>
<p>Itulah petikan doa “<strong>Ziarah Asyuro</strong>”   yang diedarkan di Indonesia. Siapakah yang dimaksud dengan  “orang-orang  zalim”  yang disebutkan telah menzalimi hak Nabi dan  keluarga Nabi?   Apakah mereka Abu Bakar, Umar bi Khathab, Utsman bin  Affan, Aisyah r.a.,  dan sebagainya?  Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus,  dalam buku yang  disebutkan terdahulu, telah mengklarifikasi masalah  ini, dengan  menunjukkan adanya riwayat dari Imam Zaid bin Hasan bin Ali  bin Husain  Radhiyallaahu ‘anhum, bahwa dia membenarkan apa yang  dilakukan Abu Bakar  r.a. terhadap Fathimah dalam soal waris keluarga  Nabi.  <em>“Jika saya pada posisinya (Abu Bakar) niscaya saya akan menetapkan hukum seperti yang ditetapkannya,</em>”  kata Imam Zaid. Diriwayatkan juga dari saudara Imam Zaid, yaitu al-Baqir, bahwa dia pernah ditanya, “<em>Apakah   Abu Bakar dan Umar menzalimi sesuatu dari hak kalian?” Ia menjawab,   “Tidak, demi Dzat yang menurunkan al-Quran kepada hamba-Nya agar menjadi   peringatan bagi alam semesta, sungguh kami tidak dizalimi dari hak  kami  meskipun seberat biji sawi.” </em>(as-Salus, hal. 297).</p>
<p>Jika  dicermati, polemik Ahlu Sunnah dan  Syiah itu sudah berlangsung lebih  dari 1.000 tahun. Apakah hal seperti  ini yang diinginkan oleh kaum  Syiah di Indonesia, dengan terus-menerus  menebarkan kebencian kepada  Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin  Affan, Aisyah r.a.? Sampai  kapan caci-maki semacam ini akan diakhiri?  Karena itu, saya ingin  mengakhiri CAP ini dengan ungkapan sama seperti  dalam artikel di <em>Jurnal Islamia-Republika </em>(19/1/2012):<em> “Jika kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya   mereka menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah   Indonesia menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa   berdampak buruk bagi masa depan negeri Muslim ini. Masih banyak lahan   dakwah di muka bumi ini – jika hendak di-Syiahkan.  Itulah jalan damai   untuk  Muslim Sunni dan kelompok Syiah. Kecuali, jika kaum Syiah melihat   Muslim Sunni adalah aliran sesat yang wajib di-Syiahkan!<br />
</em></p>
<p>Kita  tunggu realisasi janji kaum Syiah  untuk tidak men-Syiahkan Indonesia  dan menghentikan caci-maki kepada  para sahabat dan istri-istri Nabi  Muhammad Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam  (صلى الله عليه و سلم)! (Walahu  a’lam bil-shawab).*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://insistnet.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=301%3Amenagih-janji-kaum-syiah&#038;catid=1%3Aadian-husaini&#038;Itemid=15</p>
<p>&nbsp;</p>
<p></span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/menagih-janji-kaum-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/solusi-damai-muslim-sunni-syiah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/solusi-damai-muslim-sunni-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 16:04:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2207</guid>
		<description><![CDATA[Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah &#160; Pada 29 Desember 2011, terjadi peristiwa menggemparkan di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.  Sebuah mushala dan beberapa rumah warga Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang,  diserbu dan dibakar massa. Rumah dan mushalla itu adalah milik kelompok Syiah yang dipimpin oleh Tajul Muluk Ma’mun. Kasus Sampang Madura itu  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah</h1>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada 29 Desember 2011, terjadi peristiwa menggemparkan di Kabupaten  Sampang, Madura, Jawa Timur.  Sebuah mushala dan beberapa rumah warga  Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang,  diserbu  dan dibakar massa. Rumah dan mushalla itu adalah milik kelompok Syiah  yang dipimpin oleh Tajul Muluk Ma’mun.</p>
<p>Kasus Sampang Madura itu   mulai membuka mata banyak orang, bahwa ada masalah serius dalam soal  hubungan antara orang-orang Muslim Sunni dan kelompok Syiah  di  Indonesia. Sebelumnya, berbagai kasus serupa – dalam skala kecil – sudah  terjadi di berbagai tempat.  Benih-benih konflik itu seperti sudah  menyebar. Kasus Syiah Sampang itu, tentu saja, patut disesalkan, sebab  konflik semacam ini harusnya bisa diredam jauh-jauh sebelumnya. Banyak  pihak yang kemudian menuding bahwa kasus itu adalah cerminan buruknya  iklim kebebasan beragama di Indonesia.</p>
<p>Tetapi, analisis semacam  itu terlalu parsial dan liberal. Semua masalah hubungan antar atau  internal agama hanya dilihat dari satu aspek saja, yaitu aspek HAM dan  “kebebasan beragama”. Padahal, yang kadangkala diabaikan dalam analisis  soal keagamaan adalah soal “sensitivitas” yang sudah menyentuh aspek  keyakinan. Seperti dalam kasus hubungan Muslim Sunni dan kelompok Syiah.</p>
<p>Kasus Syiah Sampang, Madura, misalnya, sudah berlarut-larut selama  bertahun-tahun.  Pada 20 Februari 2006, lebih dari 50 orang ulama Madura  mengeluarkan pernyataan, bahwa aliran Syiah yang disebarkan oleh Tajul  Muluk Ma’mun di Madura tergolong Syi’ah Ghulah (<em>Rofidloh</em>).  Salah satu ajaran yang membuat hati kaum Muslim Sunni di Madura  tersakiti adalah ajaran yang melecehkan para sahabat Nabi saw.</p>
<p><strong>Akar masalah</strong><br />
Pernyataan  para ulama Madura itu membuktikan bahwa kasus Syiah di Sampang, adalah  laksana bara dalam sekam. Kasus ini tidak segera diselesaikan, sehingga  “bara” itu akhirnya meledak, dan mengagetkan banyak orang. Muncullah  opini seolah-olah kelompok Syiah di Indonesia tidak mendapatkan hak  kebebasan beragama dari kaum Muslim Indonesia; bahwa  mereka terzalimi.</p>
<p>Masalah  Sampang ini tentu memerlukan kajian dan penelitian yang serius. Yang  jelas di Indonesia, kelompok Syiah terbukti sangat agresif dalam  menyerang ajaran-ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas Muslim di  Indonesia. Ini sulit dipisahkan dari sejarah kelahiran kelompok Syiah  itu sendiri, yang menganggap hak kekhalifahan Ali r.a. dirampas oleh Abu  Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, dan Utsman bin Affan <em>radhiyallahu ‘anhum</em>. Tidak heran, jika ketiga sahabat utama Rasulullah saw itu sering menjadi bulan-bulanan caci maki.</p>
<p>Begitu pula <em>ummul mukminin</em>,  Aisyah r.a. yang sangat dicintai kaum Muslimin tak lepas dari berbagai  fitnah dan cemoohan kaum Syiah. Padahal, Aisyah adalah istri Nabi yang  mulia. Nabi Muhammad saw wafat di pangkuan Aisyah dan dikuburkan di  rumah Aisyah pula. Aisyah r.a. adalah ulama wanita yang meriwayatkan  2210 hadits. Dari jumlah itu, 286 hadits tercantum dalam shahih Bukhari  dan Muslim. Ada sekitar 150 ulama Tabi’in yang menimba ilmu dari Aisyah.  (Lihat, K.H. Ubaidillah Saiful Akhyar Lc, Aisyah, <em>The Inspiring Woman</em>, (Yogyakarta: Madania, 2010).</p>
<p>Jadi,  keutamaan Aisyah r.a. sudah begitu masyhur dan disampaikan sendiri oleh  Nabi Muhammad saw. Sangat wajar, jika kaum Muslim akan terluka hatinya  jika wanita yang sangat mulia dan agung ini dicaci-maki.</p>
<p>Masalahnya,  di Indonesia, berbagai penerbitan kaum Syiah terbukti sulit  menyembunyikan caci-maki terhadap para sahabat dan istri Nabi yang mulia  tersebut. Padahal, dalam buku-buku tersebut, kadangkala disebutkan,  bahwa penulis buku Syiah itu  mengaku ingin membangun persaudaraan  dengan kaum Muslim Sunni. Sebut satu contoh, buku berjudul <em>The Shia, Mazhab Syiah, Asasl-usul dan Perkembangannya karya Hashim al-Musawi</em> (Jakarta: Lentera, 2008). Secara halus, buku ini juga mendiskreditkan  Abu Bakar dan Umar r.a. Misalnya, dalam hal pencatatan sabda Nabi  Muhammad saw.</p>
<p>“Sumber-sumber historis mengindikasikan beragam  pendapat berbeda mengenai penulisan kata-kata Nabi. Para Imam Ahlulbait  Nabi yakin perlunya menulis atau mencatat kata-kata Nabi dan menjaganya  dari hilang atau didistorsi. Imam Ali beserta putranya, al-Hasan,  memerintahkan pencatatan sabda Nabi dan pendokumentasian  sumber-sumbernya. Menurut ad-Dailami, Imam Ali berkata: “Bila kamu  mencatat sebuah sabda, sebutkan juga sumbernya.” (Catatan kaki: Hasan  ash-Shadr,<em> asy-Syiah wa Finun al-Islam</em>). Imam Ali sendiri  mencatat sabda-sabda Nabi dalam sebuah surat gulungan, dan surat  gulungan ini diwarisi oleh para imam keturunan Imam Ali. Sementara itu,  Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar melarang pencatatan sabda Nabi, dan  para penguasa Umayah juga memberlakukan larangan ini sampai Umar bin  Abdul Aziz menjadi khalifah dan mengirim pesan berikut ini kepada warga  Madinah… (Catatan kaki: Ahmad bin Ali Ibn Hajar al-Asqalani, <em>Fath al-Bari be Syarh Shahih al-Bukhari</em>, Beirut: Dar al-Ihya at-Turats al-Arabi, ed. Ke-4, 1408 (1988)).<br />
<strong><br />
Salah paham<br />
</strong>Cara  kelompok Syiah dalam mengkritik Abu Bakar dan Umar bin Khatab dalam  soal pembakaran hadits Nabi itu tentu saja tidak fair dan tidak sesuai  dengan fakta. Masalah pencatatan hadits di kalangan sahabat Nabi juga  sudah dibahas dengan sangat mendalam oleh Dr. M. Musthafa al-A’zhami  dalam bukunya, “<em>Studies in Early Hadits Literature</em>” (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2000). Dalam buku yang merupakan disertasi doktornya di <em>Cambridge University</em> ini, al-A’zhami menunjukkan data adanya 50 sahabat Nabi yang melakukan  pencatatan hadits. Termasuk Abu Bakar dan Umar bin Khathab r.a. Berita  tentang Abu Bakar yang membakar kumpulan haditsnya diragukan  keabsahannya oleh adh-Dhahabi. Bukti lain yang meragukan riwayat  pembakaran hadits tersebut adalah bahwasanya, Abu Bakar sendiri mengirim  surat kepada ‘Amr bin al-Ash, yang memuat sejumlah ucapan Rasulullah  saw.  Surat senada yang mengandung hadits Nabi juga dikirim Abu Bakar  kepada Gubernur Anas bin Malik di Bahrain.</p>
<p>Riwayat tentang kasus  pembakaran hadits oleh Umar bin Khathab juga diragukan kebenarannya.  Al-A’zhami menelusuri tiga jalur riwayat berita tersebut, dan dia  menemukan, semuanya <em>mursal.</em> Artinya, rangkaian cerita itu  terputus, tidak sampai pada Umar bin Khathab. Juga, faktanya, Umar bin  Khathab mengirimkan Ibn Mas’ud dan Abu Darda’ sebagai guru ke Kufah,  padahal keduanya dilaporkan memiliki catatan hadits  sebanyak 848 dan  280 buah. Umar sendiri juga terbiasa mengutip hadits-hadits Nabi  dalam  surat-surat resminya sebagai kepala negara. (hal. 34-60).</p>
<p>Jadi,  tuduhan kelompok Syiah akan kejahatan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin  Khathab r.a. yang – katanya – menghalang-halangi pencatatan hadits Nabi  perlu dijernihkan. Tuduhan semacam itu sangatlah tidak bersahabat dan  membangun perdamaian.</p>
<p>Tahun 2009, sebuah kelompok penyebar Syiah di Indonesia  menerbitkan sebuah buku berjudul “<em>40 Masalah Syiah</em>”.   Buku ini ditulis dengan tujuan untuk: “tumbuhnya saling pengertian di  antara mazhab-mazhab dalam Islam.”  Itu tujuan yang tertulis dalam  sampul belakangnya. Tetapi, jika disimak isi bukunya, buku ini justru  mengejek dan melecehkan kaum Muslim Indonesia yang Sunni.</p>
<p>Betapa  tidak!  Lagi-lagi, buku semacam ini juga tak bisa lepas dari caci maki  terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman bin Affan. Padahal kaum Muslim  sangat menghormati Ali r.a. dan Ahlulbait. Fakta sejarahnya, Ali bin Abi  Thalib pun tidak mencerca Abu Bakar, Umar, Utsman, juga Aisyah r.a.   Dalam bab berjudul <em>“Syiah Melaknat Sahabat”</em> disebutkan, bahwa  Syiah tidak melaknat siapa pun kecuali yang dilaknat Allah dan  Rasul-Nya. Salah satu cara menggambarkan buruknya perilaku Utsman bin  Affan adalah penghormatannya kepada al- Hakam bin abi al-ash. Padahal,  orang ini sudah dilaknat Rasulullah saw. “Ketika Utsman menjadi  khalifah, ia menyambutnya dengan segala kemuliaan dan kehormatan. Utsman  memberinya hadiah 1000 dirham dan mengangkat anaknya sebagai orang  kepercayaannya.” (hal. 89).</p>
<p>Buku ini pun memaparkan bid’ah-bid’ah – versi Syiah &#8212; yang dibuat oleh Abu Bakar r.a. seperti: Menghapus hak <em>“muallafatu qulubuhum</em>”  dan melarang penulisan hadits dan membakarnya. Sedangkan bid’ah-bid’ah  yang dibuat oleh Umar bin Khathab antara lain: Menentang Rasulullah saw  untuk menuliskan wasiatnya dan melarang nikah mut’ah. (hal. 235).</p>
<p>Sebagaimana  dalam kasus pencatatan hadits, tuduhan-tuduhan kelompok Syiah terhadap  Utsman bin Affan juga sangat berlebihan. Kadangkala fakta ditafsirkan  lain, sehingga seolah-olah, Abu Bakar, Umar, dan Utsman r.a. telah  melakukan  persekongkolan jahat melawan Nabi. Ibnul Arabi, dalam  Kitabnya,<em> al-Awashim wal-Qawashim</em>,  menjelaskan, kasus al-Hakam  terkait dengan kesaksian Utsman r,a., bahwa Rasulullah saw telah  memberikan izin kepada al-Hakam untuk kembali ke Madinah. Tetapi, Abu  Bakar dan Umar tidak menerima saksi lain selain dari Utsman bin Affan,  sehingga permintaan Utsman ditolak. Tetapi tidak diberitakan, saat  menjadi Khalifah, Utsman menyambutnya dengan segala kemuliaan. Mengutip  Ibn Taymiyah dalam Minhaj al-Sunnah,  Dr. Muhammad al-Ghabban  menjelaskan melalui bukunya, <em>Kitab Fitnah Maqtal Utsman</em>,  bahwa semua riwayat tentang pengusiran Hakam adalah mursal, jadi sanadnya lemah.</p>
<p><strong>Jalan Damai<br />
</strong>Mungkin,  karena kebencian terhadap Abu Bhakar, Umar, dan Utsman, maka kelompok  Syiah – termasuk di Indonesia – tidak dapat menyembunyikan pikirannya  untuk mencerca para sahabat Nabi yang mulia tersebut.  Itulah fakta  ajaran Syiah yang disebarkan di Indonesia melalui berbagai penerbitan  mereka.  Jika manusia-manusia yang begitu mulia dan dihormati oleh kaum  Muslim – seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin  Affan, dan Aisyah r.a. &#8212; dicerca dan diperhinakan oleh kaum Syiah,  apakah umat Islam bisa terima?</p>
<p>Itu tentu berbeda dengan Muslim  Sunni yang menghormati semua sahabat Nabi saw. Ulama dan tokoh sufi  terkemuka, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, dalam kitabnya, <em>al-Ghunyah Lithaalibi Thariqil Haq</em>,  menguraikan kesesatan ajaran Syiah dan memberikan penjelasan terhadap  keabsahan kepemimpinan Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab,  Utsman  bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.  Mereka semua adalah pemimpin yang  mulia yang dikaruniai petunjuk Allah SWT <em>(al-khulafa al-rasyidun)</em>.  (Lihat, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, <em>Buku Pintar Akidah Ahlusunnah Waljamaah (Terj.)</em>, (Jakarta: Zaman, 2011).</p>
<p>Kaum  Muslim sangat mencintai Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya yang  mulia. Tidak sepatutnya, ada orang yang menyimpan dendam abadi kepada  manusia-manusia terbaik  yang dididik oleh Rasulullah sendiri. Bahkan,  Abu Bakar, Umar bin Khathab adalah mertua Rasulullah saw. Sementara  Utsman bin Affan adalah menantu Rasulullah saw.  Kaum Muslim yang masih  memiliki kesadaran keimanan, tentu tidak ridha jika para sahabat Nabi  yang mulia itu difitnah dan dicaci-maki.</p>
<p>Jika kaum Syiah mengakui  Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya mereka menghormati  Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah Indonesia menjadi Sunni.  Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa berdampak buruk bagi masa depan  negeri Muslim ini. Masih banyak lahan dakwah di muka bumi ini – jika  hendak di-Syiahkan.  Itulah jalan damai untuk  Muslim Sunni dan kelompok  Syiah.</p>
<p>Kecuali, jika kaum Syiah melihat Muslim Sunni adalah aliran sesat yang wajib di-Syiahkan! <em>Walahu a’lambil-shawab.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://insistnet.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=299%3Asolusi-damai-muslim-sunni-syiah&#038;catid=1%3Aadian-husaini&#038;Itemid=15</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/solusi-damai-muslim-sunni-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hasil Penelitian: 20 Warga Yahudi Israel Masuk Islam Setiap Tahunnya</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/hasil-penelitian-20-warga-yahudi-israel-masuk-islam-setiap-tahunnya/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/hasil-penelitian-20-warga-yahudi-israel-masuk-islam-setiap-tahunnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 12:23:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2185</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Isaac Ritter &#8211; Profesor Pusat Studi Yerusalem &#8211; menyatakan bahwa setidaknya 20 warga Yahudi Israel memeluk Islam setiap tahunnya. &#8220;Semua Yahudi yang masuk Islam kebanyakan adalah wanita yang mengaku bahwa mereka masuk Islam untuk menikah dengan seorang pria Muslim,&#8221; Ritter mengatakan. Selasa, 27/12/2011 Menurut sebuah hasil penelitian yang diterbitkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Isaac Ritter &#8211; Profesor Pusat  Studi Yerusalem &#8211; menyatakan bahwa setidaknya 20 warga Yahudi Israel  memeluk Islam setiap tahunnya.</p>
<p>&#8220;Semua Yahudi yang masuk Islam kebanyakan adalah wanita yang mengaku  bahwa mereka masuk Islam untuk menikah dengan seorang pria Muslim,&#8221;  Ritter mengatakan.</p>
<p>Selasa, 27/12/2011</p>
<p>Menurut sebuah hasil penelitian yang diterbitkan oleh surat kabar  &#8220;Yediot Ahronot&#8221;, agama Islam dan dakwah Islam telah mulai menembus  jajaran orang-orang Yahudi, di mana pendakwah Islam di wilayah  pendudukan Israel berpenampilan ala Salafi, mendekati orang-orang Yahudi  dan mengundang mereka agar masuk Islam dengan menggunakan bahasa Ibrani  yang fasih, yang hal itu berkontribusi pada keberhasilan misi dakwah  mereka.</p>
<p>Surat kabar itu menunjukkan bahwa publikasi dari dakwah Islam di  kalangan orang Yahudi dipengaruhi oleh program-program Islam yang  disiarkan oleh saluran satelit di Timur Tengah, Eropa, forum dan  website.</p>
<p>Ritter sendiri menambahkan bahwa dakwah Islam terhadap orang Yahudi  Israel dalam bahasa Ibrani adalah yang pertama dari jenisnya lebih dari  30 tahun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.eramuslim.com/berita/dunia/hasil-penelitian-20-warga-yahudi-israel-masuk-islam-setiap-tahunnya.htm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/hasil-penelitian-20-warga-yahudi-israel-masuk-islam-setiap-tahunnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memberla Kehormatan Shahabat Radliyallahu &#8216;Anhum</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/memberla-kehormatan-shahabat-radliyallahu-anhum/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/memberla-kehormatan-shahabat-radliyallahu-anhum/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 12:05:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2182</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Akhir-akhir ini, kelompok Syiah semakin menampakkan geliat mereka di tanah air ini. Sebuah sekte yang menyandarkan ajaran mereka terhadap Islam, namun Islam sangat jauh dari klaim tersebut. Di antara akidah mereka yang menyelisihi akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah sikap mereka terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Jika ahlussunnah meyakini bahwa para sahabat adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Akhir-akhir ini, kelompok Syiah semakin menampakkan geliat mereka di tanah air ini. Sebuah sekte yang menyandarkan ajaran mereka terhadap Islam, namun Islam sangat jauh dari klaim tersebut.</p>
<div>Di antara akidah mereka yang menyelisihi akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah sikap mereka terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Jika ahlussunnah meyakini bahwa para sahabat adalah sebaik-baik generasi umat ini, maka Syiah mengatakan bahwa sahabat, khususnya Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhum adalah seburuk-buruk umat, para pengkhianat, bahkan telah murtad dan keluar dari Islam. Seperti itulah yang disebutkan dalam literatur-literatur standar mereka.</div>
<div><strong>DEFENISI SAHABAT </strong>radhiyallahu anhum</div>
<div>Sahabat adalah bentuk jamak dari <em>shahabi</em>, yaitu orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, kemudian beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan demikian.</div>
<div><strong>KEUTAMAAN SAHABAT </strong>radhiyallahu anhum</div>
<div>Seorang muslim, wajib meyakini bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi umat ini, karena mereka terlebih dahulu beriman, menemani Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, berjihad bersama beliau, dan membawa serta menyampaikan syariat kepada orang-orang sesudah mereka.</div>
<div><strong><em>Dalil dari al-Qur’an</em></strong></div>
<div>1. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memuji mereka dalam firman-Nya (artinya<em>), “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”</em> (QS. At-Taubah: 100).</div>
<div>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memuji seluruh Muhajirin dan Anshar tanpa pengecualian, karena ال  pada kata “al-Muhajirin” dan “al-Anshar” dalam ayat ini menunjukkan makna umum. Demikian pula seluruh yang mengikuti mereka dengan baik.</div>
<div>Inilah hukum asal, maka tidak boleh mengeluarkan seorang pun Muhajirin atau Anshar dari keumuman ayat ini tanpa adanya dalil yang dengan tegas menunjukkan demikian.</div>
<div>Kemudian Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memuji mereka yang mengikuti para sahabat dengan baik. Lalu siapakah mereka para pengikut sahabat itu? Merekalah Ahlussunnah wal Jamaah, bukan Syiah, karena Syiah dengan jelas telah mengafirkan, atau paling tidak mencela, mencaci maki, dan menghinakan para sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam.</div>
<div>2. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman (artinya), <em>“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” </em>(QS. Al-Fath: 29)</div>
<div>Ayat ini dengan jelas menggambarkan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala mendidik dan menjaga para sahabat seperti tunas-tunas yang muncul ke permukaan bumi, hingga akhirnya matang dengan sempurna, sehingga menyenangkan Zat yang memelihara dan menumbuhkannya, dan hal itu akan menjadi sebab kemurkaan orang-orang kuffar. Maka barangsiapa membenci dan dengki kepada mereka akan mendapatkan ancaman dari Allah.</div>
<div>3. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman (artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi</em>.” (QS. Al-Anfal: 72) hingga ayat selanjutnya, <em>“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para Muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu,  niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.”</em> (QS. Al-Anfal: 73-74)</div>
<div>Bukankah ini adalah penegasan dari Allah akan keimanan Muhajirin dan Anshar? Allah menegaskan bahwa mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman, Allah menjanjikan bagi mereka ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. Maka barangsiapa yang meragukan keimanan para sahabat, maka berarti mereka telah mendustkan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala Subhanahu wa Ta&#8217;ala Mahamengetahui segala yang akan terjadi, maka bisa jadi Allah sengaja mendatangkan ayat ini untuk membungkam siapa saja yang kelak datang setelah generasi sahabat dan dengan tanpa adab mencela dan menganggap mereka murtad.</div>
<div>4. Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala (artinya), <em>“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.”</em> (QS. Al-Hadid: 10).</div>
<div>Ayat yang mulia ini memuji mereka yang beriman sebelum penaklukan Mekah, dan berinfak di jalan Allah, dan berperang untuk meninggikan kalimat Allah, dan bahwasanya mereka yang datang setelahnya tidak akan mampu menyamai keutamaan mereka. Ini adalah persaksian yang agung dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala bagi orang-orang berakal.</div>
<div>5. Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, <em>“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.”</em> (QS. Al-Hasyr: 8-9).</div>
<div><em>Subhanallah</em>, inilah penggolongan kaum Mukminin yang menakjubkan yang disebutkan Allah dalam ayat ini; Muhajirin, Anshar, lalu para pengikut Muhajirin dan Anshar yang senantiasa mendoakan para pendahulunya dan mencintai mereka. Perhatikan, hanya tiga golongan. Lalu di mana posisi Syiah dari tiga golongan ini? Jangankan untuk mendoakan dan mencintai Muhajirin dan Anshar, sebaliknya mereka justru melaknat dan menganggap mereka telah murtad.</div>
<div>Dalam lanjutan kedua ayat di atas disebutkan, <em>“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: &#8220;Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Mahapenyantun lagi Mahapenyayang.&#8221; </em>(QS. Al-Hasyr: 10). Bandingkan antara Syiah dan Sunni dari sisi pengamalan ayat ini. Anda akan melihat bahwa Syiah 180º membelakangi titah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala ini.</div>
<div>6. Dalam ayat lain disebutkan, <em>“Tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” </em>(QS. Al-Hujurat: 7). Dan masih banyak ayat lain yang menyebutkan keutamaan para sahabat.</div>
<div>Inilah sebagian ayat yang menyanjung generasi para sahabat  yaitu mereka yang berjihad di jalan Allah untuk mengibarkan panji-panji Islam. Tidakkah Syiah menyadari bahwa semua kebaikan yang ada pada dunia Islam sekarang ini disebabkan karena kegigihan perjuangan mereka? Kemudian datanglah setelah mereka generasi Ahlussunnah untuk menyempurnakan perjuangan itu. Berpindahlah din ini ke generasi-generasi selanjutnya. Negeri-negeri kuffar ditaklukkan, dan manusia pun beramai-ramai mengenal Islam.</div>
<div>Sekarang, bisakah Syiah menunjukkan kepada semesta alam, sejengkal tanah dari negeri kufur yang telah mereka taklukkan? Bukankah Persia (Iran, negeri kebanggan Syiah) sendiri ditaklukkan pada masa kekhalifahan Umar radhiyallahu anhu yang mereka kafirkan? Kalaulah bukan karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala kemudian jasa Umar radhiyallahu anhu, tentulah Khomeini masih menyembah api.</div>
<div><strong><em>B. Dari Sunnah</em></strong></div>
<div>- Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda<em>, “Janganlah kalian mencela sahabatku, jika salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, itu tidak akan setara dengan satu mud para sahabat, bahkan sekali pun setengahnya.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim).</div>
<div>Hadits ini diucapkan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam  kepada Khalid bin Walid radhiyallahu anhu ketika mencela Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu anhu. Abdurrahman radhiyallahu anhu termasuk sahabat yang awal-awal memeluk Islam, adapun Khalid radhiyallahu anhu masuk Islam setelahnya. Sesama sahabat pun dilarang untuk mencela sahabat lainnya, apalagi jika pencela itu adalah orang-orang yang datang setelahnya. Hendaknya para pelaknat sahabat itu malu terhadap diri mereka sendiri. Adakah setetes darah yang telah mereka teteskan untuk kejayaan Islam? Pernahkah tubuh mereka bersimbah peluh dan debu-debu perjuangan untuk meninggikan kalimat Allah? Ataukah setiap harinya mereka hanya berlari di belakang dunia, mengejar segala kenikmatan di dalamnya, lalu merasa diri mereka telah jauh lebih baik dari para sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam sehingga mereka merasa pantas untuk melaknatnya?</div>
<div>- Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda, <em>“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian masa setelahnya, kemudian setelahnya.”</em> (HR. Bukhari, 2652; Muslim, 2533). Dan masih banyak hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam yang mengabarkan keutamaan-keutamaan para sahabat secara umum atau yang menyebutkan nama-nama sahabat secara khusus.</div>
<div><strong><em>Pertanyaan:</em></strong></div>
<div>Mengapa Syiah begitu lancang mengafirkan para sahabat (kecuali empat sahabat menurut mereka) sementara Allah I dan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam memuji mereka?</div>
<div>Jawabannya tidak keluar dari dua kemungkinan; entah karena Allah U tidak mengetahui perkara yang akan terjadi, bahwa suatu saat sahabat akan murtad (Ini Mustahil. Mahasuci Allah dari hal demikian), atau Syiah adalah ajaran menyimpang yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah shahihah (dan inilah yang benar).</div>
<div><em>Wallahu Waliyyut Taufiq</em></div>
<div>Dari berbagai sumber</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.stibamks.net/2012/01/membela-kehormatan-sahabat-radhiyallahu.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/memberla-kehormatan-shahabat-radliyallahu-anhum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MUI Sampang Keluarkan Fatwa Sesat Syiah yang Dibawa Tajul Muluk</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/mui-sampang-keluarkan-fatwa-sesat-syiah-yang-dibawa-tajul-muluk/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/mui-sampang-keluarkan-fatwa-sesat-syiah-yang-dibawa-tajul-muluk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 07:53:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2172</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 03 Januari 2012 &#160; Hidayatullah.com&#8211; Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang, Madura akhirnya mengeluarkan fatwa sesat ajaran Syi’ah. Fatwa MUI Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur bernomor: A-035/MUI/spg/2012 tentang kesesatan ajaran Syi’ah yang telah disebarluaskan oleh saudara Tajul Muluk di Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang itu menegaskan, bahwa aliran yang dibawa Tajul Muluk itu sudah dikenal sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Selasa, 03 Januari 2012</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span><em><strong>Hidayatullah.com&#8211; </strong></em>Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang, Madura akhirnya mengeluarkan fatwa sesat ajaran Syi’ah.</span></p>
<p><span>Fatwa MUI Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur bernomor: <strong>A-035/MUI/spg/2012 tentang kesesatan ajaran Syi’ah</strong> yang telah disebarluaskan oleh saudara Tajul Muluk di Kecamatan Omben,  Kabupaten Sampang itu menegaskan, bahwa aliran yang dibawa Tajul Muluk  itu sudah dikenal sejak 2004-2005 di daerah tersebut,  dinilai sudah  menyimpang dari ajaran Islam.</span></p>
<p>Fatwa yang ditandatangani KH Imam Bukhori Maksum, sebagai Ketua MUI  Kabupaten Sampang ini dikeluarkan Senin (02/01/2012) kemarin menegaskan,  ajaran Syi’ah yang bawah oleh Tajul Muluk di masyarakat di daerah itu  telah menyimpang dari ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi.</p>
<p>“Betul, kami telah mengeluarkan fawa itu hari Senin kemarin, “ ujar KH. Imam Bukhori Maksum kepada <a href="http://www.hidayatullah.com/read/20493/03/01/2012/undefined">hidayatullah.com</a>, Selasa (03/01/2012).</p>
<p>Sekretaris MUI Jawa Timur Mohammad Yunus juga membenarkan bila MUI Sampang telah mengeluarkan fatwa itu.</p>
<p>Menurut Yunus, berdasarkan fakta yang diteliti MUI Sampang. Ada beberapa hal pokok penyimpangan yang dibawa Tajul Muluk.</p>
<p><em>Pertama </em>terkait syahadat di mana dalam ajaran mereka dikenal dengan tiga syahadat, yakni menambah satu syahadat.</p>
<p>“Kalau syahadat kita kenal dengan syahadatani artinya dua kalimat syahadat, tapi mereka menambahnya satu lagi yaitu <em>Wa Anna Aliyan Waliyullah.<br />
</em></p>
<p><em>Kedua, </em>mereka tidak mewajibkan shalat Jumat sebab menurut  aliran ini shalat Jumat tidak sah bagi mereka selagi imam mereka belum  turun dari langit.</p>
<p>Juga adanya  anggapan bahwa al Qur’an yang berada di tengah-tengah masyarakat sudah tidak orisinil dan ada perubahan-perubahan.</p>
<p>“Istilahnya ada perubahan dan ada pergantian ayat,” katanya.</p>
<p>Sebelum  ini, tepatnya tahun 2006, lebih dari 50 ulama se-Madura telah melakukan  kajian secara detail berdasarkan temuan di lapangan terhadap dakwah  yang telah diajarkan Tajul Muluk Ma’mun. Hasilnya, ulama mengeluarkan  sikap dan fatwa pengharaman ajaran ini. Sayang, hingga enam tahun  peristiwa ini berjalan, himbauan para ulama ini tak pernah  ditindaklanjuti hingga lahirnya beberapa peristiwa bentrokan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.hidayatullah.com/read/20493/03/01/2012/mui-sampang-keluarkan-fatwa-sesat-syiah-yang-dibawa-tajul-muluk.html</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/mui-sampang-keluarkan-fatwa-sesat-syiah-yang-dibawa-tajul-muluk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Tahun Baru</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/menyikapi-tahun-baru/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/menyikapi-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 13:57:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2160</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Dalih toleransi sering dijadikan alasan sebagian kaum Muslimin untuk turut berpartisipasi dalam perayaan hari-hari besar agama lain. Padahal, hari raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah keduniaan, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pada hari Idul Fitri, &#160; إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدًا وَهَذَا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Dalih toleransi sering dijadikan alasan sebagian kaum Muslimin untuk turut berpartisipasi dalam perayaan hari-hari besar agama lain. Padahal, hari raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah keduniaan, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pada hari Idul Fitri,</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p><strong>إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدًا وَهَذَا عِيْدُنَا</strong></p>
</div>
<p>”Setiap kaum memiliki hari raya, dan ini (Idul Fitri) adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Dengan demikian, turut merayakannya berarti ikut serta dalam ritual  ibadah mereka. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah  bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan  mereka.” (HR.  Abu Dawud, dan dinyatakan hasan shahih oleh Al-Albani).</p>
<p>Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhuma beliau pernah berkata,<br />
“Barangsiapa lewat di negeri non Arab, lalu mereka sedang merayakan Hari  Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu ia meniru mereka hingga  mati, maka demikianlah ia dibangkitkan bersama mereka di Hari Kiamat  nanti.” (Lihat Ahkaamu Ahlidz Dzimmah I/723-724).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—rahimahullah—berkata, “Adapun apabila  seorang Muslim menjual kepada mereka pada hari-hari raya mereka segala  yang mereka gunakan pada hari raya tersebut, berupa makanan, pakaian,  minyak wangi dan lain-lain, atau menghadiahkannya kepada mereka, maka  itu termasuk menolong mereka mengadakan hari raya mereka yang  diharamkan. Dasarnya adalah kaidah yang mengatakan tidak boleh menjual  anggur kepada orang kafir yang jelas digunakan untuk membuat minuman  keras. Juga tidak boleh menjual senjata kepada mereka bila digunakan  untuk memerangi kaum Muslimin.” Kemudian beliau menukil dari Abdul Malik  bin Habib dari kalangan ulama Malikiyyah, “Sudah jelas bahwa kaum  Muslimin tidak boleh menjual kepada orang-orang Nashrani sesuatu yang  menjadi kebutuhan hari raya mereka, baik itu daging, lauk-pauk atau  pakaian. Juga tidak boleh memberikan kendaraan kepada mereka, atau  memberikan pertolongan untuk hari raya, karena yang demikian itu  termasuk memuliakan kemusyrikan mereka dan menolong mereka dalam  kekufuran mereka.” (Al-Iqtidhaa 229-231).</p>
<p>Maka jelas kita bertasyabbuh, meridhai dan berpartisipasi dalam  kegiatan mereka, apabila kita bersukaria, berpesta, memakan makanannya,  berpartisipasi dalam acara non Muslim, memberi hadiah, memberi ucapan  selamat, menjual kartu selamat, menjual segala keperluan hari raya  mereka, baik itu lilin, pohon natal, makanan, kalkun, kue dan  lain-lainnya.</p>
<p>MENYAMBUT TAHUN BARU<br />
Entah direncanakan atau sekadar latah, pada malam itu orang-orang seakan  secara serempak melonggarkan moralitas dan kesusilaan. Bunyi terompet  diselingi gelak tawa (bahkan dengan minuman keras) bersahut-sahutan di  setiap tempat. Sepeda motor mengepulkan asap hingga mirip ‘dapur  berjalan’ meraung-raung. Mobil-mobil membunyikan klakson sepanjang  jalan. Cafe, diskotik dan tempat-tempat hiburan malam sesak padat.  Orang-orang ‘tumpah’ di jalanan dengan satu tujuan: merayakan Tahun  Baru.</p>
<p>Sebenarnya tahun Masehi adalah tahun yang baru bagi bangsa  Indonesia, karena ia tidak memiliki akar kultur dan tradisi dalam  sejarah bangsa ini. Ada beberapa faktor yang dapat mendukung anggapan  ini.</p>
<p>Pertama, latarbelakang sosio-historis. Berlakunya tahun Masehi tidak  bisa dipisahkan dari pengaruh teologi (keagamaan) Kristen, yang dianut  oleh masyarakat Eropa. Kalender ini baru diberlakukan di Indonesia pada  tahun 1910 ketika berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap atas  seluruh rakyat Hindia Belanda.</p>
<p>Kedua, karena latarbelakang teologis. Sebagaimana diketahui,  kalender Gregorian diciptakan sebagai ganti kalender Julian yang dinilai  kurang akurat, karena awal musim semi semakin maju, akibatnya, perayaan  Paskah  yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I pada tahun 325,  tidak tepat lagi.</p>
<p>Kalender Hijriyah, disebut sebagai kalender Islam (at-taqwim  al-hijri), karena ditetapkan sejak hijrahnya Rasulullah Shallallahu  &#8216;Alaihi Wa Sallam. Ia ditetapkan sebagai tahun Islam setelah Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam wafat atas inisiatif Khalifah kedua, Umar  bin Khathab Radhiyallahu &#8216;Anhu pada tahun 638 M (17 H). Hijrah Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ditetapkan sebagai awal kalender Islam,  menyisihkan dua pendapat lainnya, yaitu hari kelahiran Nabi Shallallahu  ‘Alaihi Wa Sallam dan hari wafat beliau.</p>
<p>Sejak kedatangan Islam hingga awal abad ke-20, kalender Hijriyah  berlaku di nusantara. Bahkan raja Karangasem, Ratu Agung Ngurah yang  beragama Hindu, dalam surat-suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia  Belanda Otto van Rees yang beragama Nasrani, masih menggunakan tarikh  1313 Hijriyah (1894 M).</p>
<p>Jadi secara historis dan kultural  bangsa kita pun, tahun baru  Masehi tidak perlu dirayakan. Terlebih lagi jika ditinjau dari sisi  akidah al wala&#8217; wal bara&#8217; (loyalitas dan pelepasan diri) dalam agama  Islam.<br />
Meski demikian, hal ini tidak bisa secara otomatis dijadikan sebagai  justifikasi pentingnya merayakan tahun baru Hijriyah yang juga tinggal  menghitung hari. Mengingat sejauh ini tidak ditemukan teks agama yang  menganjurkan perayaan tahun baru Hijriyah.</p>
<p>ULAMA MENYIKAPI HARI RAYA NON-MUSLIM (NATAL/TAHUN BARU)<br />
Fatwa Syaikh Muhammad Ibn Shalih al Utsaimin—rahimahullah</p>
<p>Pertanyaan:<br />
Apa hukumnya mengucapkan selamat kepada orang kafir pada perayaan hari  besar keagamaan mereka? (Misal: Merry Christmas, Selamat hari Natal dan  Tahun Baru dst, red.). Dan bagaimana kita menyikapi mereka jika mereka  mengucapkan selamat Natal kepada kita. Dan apakah dibolehkan pergi ke  tempat-tempat di mana mereka merayakannya? Dan apakah seorang Muslim  berdosa jika ia melakukan perbuatan tersebut tanpa maksud apapun, akan  tetapi ia melakukannya hanya karena menampakkan sikap tenggang rasa,  atau karena malu atau karena terjepit dalam situasi yang canggung, atau  pun karena alasan lainnya. Dan apakah dibolehkan menyerupai mereka dalam  hal ini?</p>
<p>Jawaban:<br />
Mengucapkan selamat kepada orang kafir pada perayaan Natal atau hari  besar keagamaan lainnya dilarang menurut ijma’ (kesepakatan ulama).  Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim—rahimahullah—dalam bukunya  Ahkamu Ahlidz-dzimmah, beliau berkata, “Mengucapkan selamat terhadap  syiar-syiar kafir yang menjadi ciri khasnya adalah haram, menurut  kesepakatan. Seperti memberi ucapan selamat kepada mereka pada hari-hari  rayanya atau puasanya, sehingga seseorang berkata, “Selamat hari raya”,  atau ia mengharapkan agar mereka merayakan hari rayanya atau hal  lainnya. Maka dalam hal ini, bisa jadi orang yang mengatakannya terlepas  dari jatuh ke dalam kekafiran, namun (sikap yang seperti itu) termasuk  ke dalam hal-hal yang diharamkan. Ibarat dia mengucapkan selamat atas  sujudnya mereka pada salib. Bahkan ucapan selamat terhadap hari raya  mereka dosanya lebih besar di sisi Allah dan jauh lebih dibenci dari  pada memberi selamat kepada mereka karena meminum alkohol dan membunuh  seseorang, berzina dan perkara-perkara yang sejenisnya. Dan banyak orang  yang tidak paham agama terjatuh ke dalam perkara ini. Dan ia tidak  mengetahui keburukan perbuatannya. Maka siapa yang memberi selamat  kepada seseorang yang melakukan perbuatan dosa, atau bid’ah, atau  kekafiran, berarti ia telah membuka dirinya kepada kemurkaan Allah.”  Akhir dari perkataan Syaikh (Ibnul Qoyyim—rahimahullah).</p>
<p>Haramnya memberi selamat kepada orang kafir pada hari raya keagamaan  mereka sebagaimana perkataan Ibnul Qoyyim adalah karena di dalamnya  terdapat persetujuan atas kekafiran mereka, dan menunjukkan ridha  dengannya. Meskipun pada kenyataannya seseorang tidak ridha dengan  kekafiran, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk  meridhai syiar atau perayaan mereka, atau mengajak yang lain untuk  memberi selamat kepada mereka. Karena Allah  tidak meridhai hal  tersebut, sebagaimana Allah Subhaanahu Wa Ta&#8217;ala  berfirman, artinya,</p>
<p>“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu  dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu  bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” [QS. Az Zumar  39: 7].</p>
<p>Dan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala juga berfirman, artinya,</p>
<p>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah  Kucukupkan bagimu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama  bagimu.” [QS. Al Maaidah: 3]</p>
<p>Maka memberi selamat kepada mereka dengan ini hukumnya haram, sama  saja apakah terhadap mereka (orang-orang kafir) yang terlibat bisnis  dengan seseorang (Muslim) atau tidak. Jadi, jika mereka memberi selamat  kepada kita dengan ucapan selamat hari raya mereka, kita dilarang  menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, dan hari raya mereka  tidaklah diridhai Allah, karena hal itu merupakan salah satu yang  diada-adakan (bid’ah) di dalam agama mereka, atau hal itu ada syariatnya  tapi telah dihapuskan oleh agama Islam yang Nabi Muhammad Shallallahu  ‘Alaihi Wa Sallam, telah diutus dengannya untuk semua makhluk. Allah  Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman tentang Islam, artinya, “Barangsiapa  mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan  diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk  orang-orang yang rugi.” [QS. Ali ‘Imran: 85].</p>
<p>Dan bagi seorang Muslim, memenuhi undangan mereka untuk menghadiri hari  rayanya hukumnya haram. Karena hal ini lebih buruk dari pada hanya  sekadar memberi selamat kepada mereka, di mana di dalamnya akan  menyebabkannya turut berpartisipasi dengan mereka. Juga diharamkan bagi  seorang Muslim untuk menyerupai atau meniru-niru orang kafir dalam  perayaan mereka dengan mengadakan pesta, atau bertukar hadiah, atau  membagi-bagikan permen atau makanan, atau libur kerja, atau yang  semisalnya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam,  “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka”.</p>
<p>Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam bukunya, Iqtidha’ Ash  Shirathal Mustaqiim, “Menyerupai atau meniru-niru mereka dalam hari raya  mereka menyebabkan kesenangan dalam hati mereka terhadap kebatilan yang  ada pada mereka. Bisa jadi hal itu sangat menguntungkan mereka guna  memanfaatkan kesempatan untuk menghina/merendahkan orang-orang yang  berfikiran lemah”. Akhir dari perkataan Syaikhul-Islam Ibnu  Taimiyah—rahimahullah. (Majmu’ Fatawa, Fadlilah asy Syaikh Muhammad bin  Shalih al-’Utsaimin, III/44-46 No.403).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.wahdah.or.id/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/menyikapi-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Misi Kristen di Buku Sejarah SMP”</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9cmisi-kristen-di-buku-sejarah-smp%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9cmisi-kristen-di-buku-sejarah-smp%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 12:46:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2154</guid>
		<description><![CDATA[“Misi Kristen di Buku Sejarah SMP” &#160; Oleh: Dr. Adian Husaini DALAM sebuah buku Sejarah untuk siswa SMP kelas VIII (Jakarta: Erlangga, 2006), diuraikan satu bab khusus berjudul “Perkembangan Kristen di Indonesia”. Bab ini dibuka dengan uraian berikut: “Mengapa perlu mempelajari bab ini? Penyebaran Kristen di Indonesia berintikan damai dan cinta kasih. Namun, karena intervensi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><a href="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/12/misi-kristen.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2165" title="misi kristen" src="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/12/misi-kristen-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>“Misi Kristen di Buku Sejarah SMP”</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span>Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini</strong></span></p>
<p>DALAM sebuah buku Sejarah untuk siswa SMP kelas VIII (Jakarta: Erlangga, 2006), diuraikan satu bab khusus berjudul “<em>Perkembangan Kristen di Indonesia</em>”.   Bab ini dibuka dengan uraian berikut: “Mengapa perlu mempelajari bab  ini? Penyebaran Kristen di Indonesia berintikan damai dan cinta kasih.  Namun, karena intervensi politik Barat, timbul kesan penyebaran Kristen  identik dengan kolonialisme dan imperialisme. Dengan mempelajari bab  ini, kita diajak untuk semakin sadar betapa campur tangan politik dapat  merusak nilai-nilai luhur yang terkandung pada setiap agama.”</p>
<p><span>Pada bagian selanjutnya dijelaskan tentang kendala penyebaran agama   Kristen di Indonesia: “Para penguasa dan penduduk setempat mencurigai  para rohaniwan sebagai sekutu Portugis ataupun Belanda. Tindakan  penindasan yang dilakukan para pedagang maupun pemerintah kolonial  menimbulkan kesan bahwa Kristen identik (sama saja) dengan kolonialisme.  Padahal para rohaniwan selalu datang dengan maksud damai.” (hal. 61)</span></p>
<p>Inilah salah satu contoh materi sejarah yang diajarkan kepada para  pelajar  SMP.  Benarkah isi buku pelajaran sejarah tersebut? Ada baiknya  kita simak penjelasan dari kalangan Kristen sendiri!</p>
<p>Pada tahun 2010, juga rangka memperingati 150 tahun Huria Kristen  Batak Prostestan, Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, bekerjasama dengan  Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Ecole  francaise d,Extreme-Orient, dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia  menerbitkan sebuah buku berjudul Utusan Damai di Kemelut Perang, Peran  Zending dalam Perang Toba: Berdasarkan Laporan L.I. Nommensen dan  Penginjil RMG Lain, karya Prof. Dr. Uli Kozok, seorang professor  kelahiran Jerman.</p>
<p>Prof. Uli Kozok membuka bukunya dengan sebuah kutipan seorang tokoh  Gereja se-Dunia, Ph. Potter: “Gerakan penginjilan […] bermula bertepatan  dengan waktu munculnya kolonialisme, imperialisme dan – sebagai  akibatnya – rasisme. Oleh sebab itu maka gerakan penginjilan secara  hakiki terkait dengan sejarah rasisme.”</p>
<p>Berdasarkan dokumen-dokumen di lembaga misi di Jerman yang  mengirimkan Nommensen ke Tanah Batak, yaitu Rheinische  Missions-Geselschaft (RMG), Prof. Uli Kozok menemukan fakta pengakuan  Ludwig Ingwer (L.I.) Nommensen, tokoh misionaris Jerman di Tanah Batak,  bahwa dia bergabung dengan pasukan Belanda untuk melawan gerakan  perlawanan para pahlawan Batak yang dipimpin Sisingamangaraja XII.  Laporan Berichte Rheinische Missionsgeselschaft (BRMG), menunjukkan,  para penginjil justru bersekutu dengan tentara penjajah dalam menumpas  perlawanan Sisingamangaraja XII. Lebih jauh Prof. Kozok mencatat:</p>
<p>“Pemerintah Belanda akhirnya mengabulkan  permintaan Nommensen, sehingga terbentuk koalisi Injil dan pedang yang  sangat sukses karena kedua belah pihak memiliki musuh yang sama:  Sisingamangaraja XII yang oleh zending dicap sebagai “musuh bebuyutan  pemerintah Belanda dan zending Kristen.” Bersama-sama mereka berangkat  untuk mematahkan perjuangan Sisingamangaraja. Pihak pemerintah dibekali  dengan persenjataan, organisasi, dan ilmu pengetahuan peperangan modern,  sementara pihak zending dibekali dengan pengetahuan adat istiadat dan  bahasa. Kedua belah pihak, zending Batak dan pemerintah kolonial, saling  membutuhkan dan saling melengkapi, dan tujuan mereka pun pada  hakikatnya sama: memastikan bahwa orang Batak “terbuka pada pengaruh  Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa. (BRMG 1882:202)” (hal. 92).</p>
<p>Dalam perang menumpas perjuangan Sisingamangaraja XII, pihak zending  Kristen berhasil meyakinkan ratusan raja di tanah Batak agar berhenti  mengadakan perlawanan dan menyerah kepada kekuasaan Belanda:</p>
<p>“Dukungan dan bantuan para misionaris  yang mendampingi ekspedisi militer hingga ke Danau Toba juga mempunyai  tujuan lain, yaitu meyakinkan masyarakat bahwa perlawanan mereka sia-sia  saja dan mendesak mereka agar menyerahkan diri.” (JB 1878:31). (hal.  93).</p>
<p>Sementara, para raja yang tidak mau menyerah, didenda dan kampung  mereka dibakar. Atas jasa para misionaris, terutama Nommensen dan  Simoncit, pemerintah kolonial Belanda memberikan penghargaan resmi,  melalui sebuah surat:</p>
<p>“Pemerintah mengucapkan terimakasih kepada penginjil Rheinische  Missions-Geselschaft di Barmen, terutama Bapak I. Nommensen dan Bapak A.  Simoncit yang bertempat tinggal di Silindung, atas jasa yang telah  diberikan selama ekspedisi melawan Toba. (BRMG 1879:169-170).” (hal.  93-94).</p>
<p>Selain surat penghargaan, para misionaris juga mendapat hadiah  sebesar 1000 Gulden dari pemerintah kolonial yang dapat diambil setiap  saat. Kerjasama antara misionaris Kristen dan penjajah Belanda  berlangsung sampai Pahlawan Sisingamangaraja XII tewas dalam pertempuran  tahun 1907.  Dukungan kaum misionaris kepada pemerintah penjajah juga  dimaksudkan untuk mencegah masuknya Islam ke Tanah Batak. (BRMG  1878:94).</p>
<p>Sikap pro-penjajah dari kaum Misionaris bukan hanya saat Perang Toba  melawan Sisingamangaraja XII. Sikap para misionaris Kristen ini masih  terus berlangsung di kemudian hari. BRMG 1897: 278-279 menulis laporan  berjudul “Wie weiter auf Sumatra?” (Bagaimana Kelanjutannya di  Sumatra?). Batakmission mengaku mengalami kendala untuk melakukan misi  Kristen di Samosir, sebab Samosir masih merupakan “Tanah Batak Merdeka”.  Selanjutnya, BRMG mencatat:<br />
“Oleh sebab itu, “dapat dimengerti bahwa  penginjil kita sangat menghendaki agar pemerintah Belanda menduduki  Samosir.” Lagipula, konferensi penginjil tahun 1897 telah memutuskan  bahwa “penginjilan dapat dilakukan dengan lebih tenang dan dengan lebih  banyak sukses di bawah perlindungan pemerintah Eropa.” (hal. 103).</p>
<p>Menurut catatan sejarah, kerjasama misionaris Kristen Batak dengan  penjajah Belanda diakui dengan bangga oleh para misionaris Batak.  Belanda juga mempersenjatai kaum Kristen Batak dengan 50 bedil. Sebab,  jika orang Batak menjadi Muslim, mereka tidak mungkin setia kepada  pemerintah penjajah. BRMG 1878:154 mencatat:</p>
<p>“Betapa orang Batak Kristen dapat  diandalkan tampak jelas sekarang. Sebagai orang Islam, orang Batak  takkan mungkin menjadi rakyat yang patuh pada Belanda. […] memang benar  orang Silindung yang Kristen adalah teman setia Belanda, dan pasukan  bantuan mereka berperang bersama pasukan Belanda.”. (hal. 106).</p>
<p>Dalam surat-surat yang dikirim tokoh misionaris I. Nommensen, tampak  jelas digunakannya istilah “musuh” untuk  Sisingamangaraja XII dan  rakyat Batak yang berusaha mempertahankan kemerdekaan mereka. Misalnya,  dia tulis: “Setelah kami bekerja dengan tenang selama beberapa hari,  musuh kami yang jahat bergerak lagi”… “Kebanyakan musuh berasal dari  daerah sekitar Danau Toba, dari Butar dan Lobu Siregar, digerakkan oleh  Sisingamangaraja, seorang demagog yang menghasut dan mencelakakan  rakyatnya.” (hal. 107).</p>
<p>Dalam suratnya yang lain, Nommensen mencatat:  “Hal yang paling  penting adalah bahwa Toba keluar dari isolasinya, terbuka pada pengaruh  Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa sehingga dengan sangat mudah  zending kita bisa masuk… (BRMG 1882:302).” (hal. 108).</p>
<p>Sebuah surat tentang pentingnya penaklukan Toba oleh penjajah Belanda  dan misi Kristen dalam rangka menghambat masuknya pengaruh Islam,  ditulis oleh laporan BRMG 1882 (7): 202-205:</p>
<p>“Perang dan penaklukan Toba sangat  mendukung dan mempercepat pembukaan pos penginjilan. Walaupun tidak  secara langsung, para penginjil kita di Silindung memainkan peranan yang  cukup besar dalam ekspedisi militer Belanda terhadap Toba. Upaya mereka  untuk menyebarkan Injil di Silindung mendapatkan perlawanan dari  Sisingamangaraja yang dulu maupun Sisingamangaraja yang sekarang. Karena  sudah kehilangan sebagian besar kekuasaannya, keduanya  berusaha  memperoleh kembali pengaruhnya yang hilang dengan mengusir para  penginjil. Sisingamangaraja terutama memusuhi agama Kristen, akan  tetapin karena ia bersekutu dengan orang Aceh di Utara maupun dengan  Batak Islam di Timur maka kegiatan mereka juga memusuhi pemerintah  Belanda. Dengan demikian sangat bijaksana keputusan pemerintah untuk  langsung bertindak memperluas dan memperkokoh kekuasaannya, mengingat  tindak-tanduk orang Aceh dan jaringan mereka yang makin hari makin ketat  dan luas.” (hal. 153-154).</p>
<p>Dalam bukunya, Prof Uli Kozok juga menunjukkan data bahwa hubungan  erat antara misi Kristen dan Penjajahan memang sudah menjadi suatu  kelaziman. Paus Pius XI, misalnya, melalui surat kabar Vatikan,  Osservatore Romano, 24 Februari 1935, pernah secara eksplisit  mengeluarkan pernyataan yang mendukung penjajahan:</p>
<p>“Penjajahan merupakan keajaiban yang  diwujudkan dengan kesabaran, keberanian dan cinta kasih. Tiada bangsa  atau ras yang berhak hidup terisolir. Penjajahan tidak berlandaskan  penindasan tetapi berdasarkan prinsip moralitas tertinggi, penuh dengan  cinta kasih, kedamaian dan persaudaraan. Gereja Katolik senantiasa  mendukung penjajahan, asal dilaksanakan dengan jujur dan manusiawi tanpa  menggunakan kekerasan. Oleh sebab itu kami melihatnya sebagai sesuatu  yang memiliki daya dan keindahan yang luar biasa.” (hal. 85-86).</p>
<p>Bukan hanya kolonialisme, ideologi rasisme juga ditanamkan kepada   para misionaris dari Rheinische Missions-Geselschaft (RMG). Seorang  petinggi RMG, Ludwig von Rohden (1815-1889), berpendapat bahwa semua  manusia adalah keturunan Nabi Nuh, yang kemudian menyebar ke berbagai  penjuru dunia. Ada lima warna kulit yang dimiliki keturunan Nabi Nuh  itu: putih, kuning, merah, coklat dan hitam. Menurutnya, warna kulit  ditentukan oleh kadar dosa masing-masing. Semakin berdosa sebuah bangsa,  maka akan semakin hitam warna kulitnya. Kata Ludwig von Rohden dalam  sebuah tulisannya:</p>
<p>“Secara bertahap-tahap manusia menjauhkan  diri dari sumber kehidupan ilahi. Semakin jauh [sebuah bangsa]  menjauhkan diri, semakin merosot moral dan kecerdasan, seiring dengan  itu juga postur, bentuk tubuh dan warna kulitnya. Bangsa yang paling  dekaden mendapatkan warna kulit paling hitam, dan bentuk tubuhnya  menjadi mirip dengan binatang. Namun perbedaan hakiki antara manusia dan  binatang masih tetap ada: ialah jiwa yang dihembuskan Allah kepada  jasad sebagai bagian kehidupan ilahi.” (hal. 59).</p>
<p>Menurut Rohden, bangsa berkulit hitam bisa menjadi putih kulitnya jika mereka menjadi Kristen:</p>
<p>“Negro yang paling rendah derajat pun masih bisa diangkat menjadi  manusia terdidik bila dididik dengan cara yang tepat melalui pengaruh  Kekristenan yang bersifat menyembuhkan. Seiring dengan [proses  penyembuhan] itu, maka raut muka yang kebinatangan menghilang, pandangan  mata dan tubuhnya akan menjadi lebih sempurna, bahkan warna kulitnya  secara turun-temurun bisa menjadi lebih putih.” (hal. 60).</p>
<p>Itulah fakta dan data tentang misi Kristen yang ditampilkan Prof. Uli  Kozok – guru besar dan ketua jurusan bahasa Indonesia di Universitas  Hawai. Gambaran misi Kristen yang berkolaborasi dengan penjajah itu jauh  sekali bedanya dengan isi buku Sejarah yang kini diajarkan kepada  anak-anak Muslim di sekolah-sekolah tingkat SMP.</p>
<p>Seyogyanya, para pimpinan sekolah Islam, para guru, dan orang tua  sadar benar akan kekeliruan besar semacam ini. Sungguh ironis, jika ada  lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan bahan-bahan sejarah semacam  ini, yang merusak pemikiran dan jauh sekali dari fakta sejarah  sebenarnya. Bukankah Allah SWT sudah memperingatkan: “Jagalah dirimu dan  keluargamu dari api neraka!” Wallahu a’lam bil-sshawab.*/<em>Depok, 24 Ramadhan 1432 M/24 Agustus 2011</em>.</p>
<p><em>Penulis adalah kolumnis <a href="http://www.hidayatullah.com/read/18619/25/08/2011/undefined">www.hidayatullah.com</a>, Ketua Program Studi Pendidikan Islam, Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.hidayatullah.com/read/18619/25/08/2011/%E2%80%9Cmisi-kristen-di-buku-sejarah-smp%E2%80%9D.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9cmisi-kristen-di-buku-sejarah-smp%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang “Buku Sejarah Perspektif Baru” [2]</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/selamat-datang-%e2%80%9cbuku-sejarah-perspektif-baru%e2%80%9d-2/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/selamat-datang-%e2%80%9cbuku-sejarah-perspektif-baru%e2%80%9d-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 12:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2146</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Oleh: Dr. Adian Husaini Buku sejarah untuk SMA tersebut juga membahas tentang perkembangan sejarah Islam. Tetapi, ada saja data keliru yang disajikan sehingga menimbulkan persepsi negative terhadap sebagian sahabat Nabi Muhammad saw. Misalnya, saat membahas Khalifah Usman bin Affan, yang hanya diuraikan dalam 10 baris, dan enam baris di antaranya ditulis dengan paparan berikut: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><span>Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini </strong></span></p>
<p>Buku  sejarah untuk  SMA tersebut juga membahas tentang perkembangan sejarah  Islam. Tetapi, ada saja data keliru yang disajikan sehingga menimbulkan  persepsi negative terhadap sebagian sahabat Nabi Muhammad saw. Misalnya,  saat membahas Khalifah Usman bin Affan, yang hanya diuraikan dalam 10  baris, dan enam baris di antaranya ditulis dengan paparan berikut:</p>
<p><span><em>“Dalam menjalankan pemerintahannya  Khalifah Usman sangat dipengaruhi oleh keluarganya, yaitu Ummayah.  Bahkan Khalifah Usman lebih mendahulukan kepentingan keluarga  dibandingkan kepentingan negaranya, sehingga lambatlaun timbul oposisi  terhadap Usman. Pada tahun 655 M, Khalifah Usman mati terbunuh oleh  pihak oposisi yang berasal dari orang Islam sendiri.” (hal. 73). </em></span></p>
<p>Paparan seperti itu tentu sangat  tendensius. Tapi, itulah yang diajarkan kepada siswa dan santri-santri  kita yang belajar sejarah melalui buku-buku seperti ini.  Tentu  saja  akan sangat mudah terekam opini buruk terhadap Sayyidina Usman bin Affan  pada benak anak-anak kita!  Tapi, apakah guru, kepala sekolah, pimpinan  pesantren, selama ini begitu banyak yang peduli dengan pengajaran  sejarah di SMA semacam ini?</p>
<p>Padahal, Sayyidina Usman r.a.  adalah  salah satu KhulafaurRasyidin, menantu Rasulullah saw, dan salah satu  sahabat yang dijamin masuk sorga. Beliau adalah orang yang sangat kaya  raya dan sangat dermawan. Beliau adalah pemimpin pertama dalam rombongan  Hijrah ke Habsyah. Beliau berulangkali berjihad di medan perang.  Hidupnya, hartanya, dirinya sudah diserahkan untuk Islam.  Adalah sangat  tidak masuk akal dan bertentangan dengan fakta sejarah, bahwa Sayyidina  Usman digambarkan sebagai pemimpin yang gila kuasa.  Kita bertanya,  apakah beradab jika menuduh sosok yang begitu mulia dengan tudingan:  “lebih mendahulukan kepentingan keluarga dibandingkan kepentingan  negaranya.”</p>
<p>Bayangkan, jika ada buku sejarah menulis: “Soekarno  lebih mendahulukan kepentingan keluarganya dibandingkan kepentingan  negaranya?” atau “SBY lebih mendahulukan kepentingan keluarga  dibandingkan kepentingan negaranya.”</p>
<p>Apakah keluarga Soekarno atau SBY bisa menerima uraian seperti itu?</p>
<p>Siapa  yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan yang keliru semacam  ini? Tentu saja, orangtua-lah yang paling bertanggung jawab. Bukan hanya  guru atau sekolah atau pesantren.  Kita berharap,  para guru dan  orangtua mau peduli dengan isi buku pelajaran yang keliru semacam ini.<br />
*****</p>
<p>“Islamisasi ilmu adalah sebuah keharusan,” tegas Prof. Didin  Hafidhuddin, direktur pasca sarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor  dalam pembukaan seminar internasional  tentang Pendidikan Tinggi di  UIKA , 18 Mei 2011 lalu.</p>
<p>Sebagian akademisi masih ada yang  meragukan dan salah paham tentang makna “Islamisasi ilmu” dan  “Islamisasi pendidikan”.  Padahal, tindakan Islamisasi adalah proses  yang wajar dari aktivitas seorang Muslim. Sangat wajar jika seorang  Muslim melakukan Islamisasi, sebagaimana kaum liberal melakukan  liberalisasi, kaum komunis melakukan komunisasi, kaum sekular melakukan  sekularisasi.</p>
<p>Islamisasi bukanlah gagasan utopis. Untuk  membuktikannya, Program Pasca Sarjana Pendidikan Islam &#8212; UIKA pada 29  Juni 2011, tepat 27 Rajab 1432 H, kembali menggelar seminar bertema  Islamisasi Pendidikan. Tapi, kali ini seminar mengambil tema yang lebih  membumi, dengan peluncuran buku Sejarah Nasional untuk SMA.  Seminar  bekerjasama dengan <em>Andalusia Islamic Education &amp; Management Service </em>(AIEMS)  dengan mengambil tema “Islamisasi Ilmu Pengetahuan: Urgensi dan  Aplikasinya Pada Kurikulum SMA, bertempat di  Aula Gedung Pascasarjana,  Universitas Ibn Khaldun Jl. KH Sholeh Iskandar KM 2 Bogor.</p>
<p>Pembicara dalam seminar tersebut ialah Prof. Dr. Didin Hafiduddin  (Direktur Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun),  Dr. Adian Husaini  (Kaprodi Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun),  Tiar  Anwar Bachtiar, M.Hum (Penulis buku Sejarah SMA, Kandidat Doktor Ilmu  Sejarah Universitas Indonesia), Mohamad Ishaq, M.Si (Penulis buku Fisika  SMA, Kandidat Doktor Ilmu Fisika, Institut Teknologi Bandung),  Ir.  Budi Handrianto, M.PdI (Peneliti INSISTS), dan Erma Pawitasari, M.Ed  (Direktur AIEMS)</p>
<p>Sejarah merupakan hal prinsip dalam kehidupan  manusia. Al-Quran begitu banyak bercerita tentang sejarah umat  terdahulu, baik dalam ayat-ayat Makkiyah atau Madaniyah. Karena itu,  kita sangat bersyukur dan menyambut gembira terbitnya buku Sejarah  Nasional Indonesia untuk SMA: Perspektif Baru, yang diterbitkan atas  kerjasama antara Pasca Sarjana UIKA, DDII, dan AIEMS.</p>
<p>Semoga buku ini menjadi langkah awal untuk menarik gerbong Islamisasi  Ilmu dan Pendidikan di Indonesia, khususnya di sekolah-sekolah Islam  dan pondok-pondok pesantren.  Islamisasi ilmu-ilmu pengetahuan, apalagi  yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam merupakan hal yang  sangat mendesak, dan tidak bisa ditunda-tunda lagi.</p>
<p>Islamisasi  dilakukan untuk mengembalikan ilmu pada tempat dan fungsinya yang utama,  yakni untuk menjadikan anak didik menjadi manusia-manusia yang beradab,  bukan manusia biadab. Yakni, manusia yang baik (<em>good man</em>),  yang mengenal Allah, ikhlas menjadikan  Rasulullah saw sebagai uswah  hasanah, meletakkan ulama sebagai pewaris Nabi, memahami kedudukan ilmu,  mampu meletakkan para pahlawan sesuai dengan harkat dan martabat yang  ditentukan Allah, serta mampu mengembangkan potensi yang ada pada  dirinya agar dia menjadi Abdullah dan khalifatullah yang baik. */<em>Depok, 26 Juni 2011</em></p>
<p><em>Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini bekerjasama dengan Radio Dakta 107 FM</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.hidayatullah.com/read/17711/27/06/2011/selamat-datang-%E2%80%9Cbuku-sejarah-perspektif-baru%E2%80%9D-%5B2%5D.html</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/selamat-datang-%e2%80%9cbuku-sejarah-perspektif-baru%e2%80%9d-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang “Buku Sejarah Perspektif Baru” [1]</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/selamat-datang-%e2%80%9cbuku-sejarah-perspektif-baru%e2%80%9d-1/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/selamat-datang-%e2%80%9cbuku-sejarah-perspektif-baru%e2%80%9d-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 12:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2143</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Oleh: Dr. Adian Husaini Di dalam Tafsir al-Azhar, saat menguraikan makna QS al-Maidah ayat 57-63, Prof. Hamka, membuat uraian khusus tentang rangkuman strategi misionaris Kristen dan orientalis dalam menyerang Islam. Hamka, antara lain mencatat: “Diajarkan secara halus apa yang dinamai Nasionalisme, dan hendaklah Nasionalisme diputuskan dengan Islam. Sebab itu bangsa Indonesia hendaklah lebih mencintai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><span>Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini </strong></span></p>
<p>Di  dalam Tafsir al-Azhar, saat menguraikan makna QS al-Maidah ayat 57-63,  Prof. Hamka, membuat uraian khusus tentang rangkuman strategi misionaris  Kristen dan orientalis dalam menyerang Islam. Hamka, antara lain  mencatat: <em>“Diajarkan secara halus apa yang dinamai Nasionalisme, dan  hendaklah Nasionalisme diputuskan dengan Islam. Sebab itu bangsa  Indonesia hendaklah lebih mencintai Gajah Mada daripada Raden Patah.  Orang Mesir lebih memuja Fir’aun daripada mengagungkan sejarah Islam…”</em>. (Lihat, Hamka, <em>Tafsir al-Azhar &#8212; Juzu’ VI</em>, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), hal. 300.)</p>
<p>Uraian  Hamka ini sangat menarik. Di dalam buku Tafsir  yang ditulis di dalam  penjara Orde Lama di era 1960-an tersebut, Hamka sudah menorehkan  keprihatinan yang mendasar tentang pendidikan sejarah di Indonesia.  Camkan kata-kata Buya Hamka ini: Sebab itu bangsa Indonesia hendaklah  lebih mencintai Gajah Mada daripada Raden Patah.”</p>
<p>Pengajaran  sejarah yang lebih membesar-besarkan warisan Hindu – ketimbang Islam –  semacam itu memang dilakukan dengan perencanaan yang matang.</p>
<p>Pakar  sejarah Melayu, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas,  menyebutkan bahwa  dalam perjalanan sejarah peradaban Melayu, kedatangan Islam di wilayah  kepulauan Melayu-Indonesia merupakan peristiwa terpenting dalam sejarah  kepulauan tersebut. (the coming of Islam seen from the perspective of  modern times … was the most momentous event in the history of the  Archipelago). Bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa pengantar di  kepulauan Melayu-Indonesia (the Malay-Indonesian archipelago) merupakan  “bahasa Muslim” kedua terbesar yang digunakan oleh ratusan juta jiwa.  (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur:  ISTAC, 1993), hal. 169-179)</p>
<p>Sebab itu, Melayu kemudian menjadi  identik dengan Islam. Sebab, agama Islam merupakan unsur terpenting  dalam peradaban Melayu. Islam dan bahasa Melayu kemudian berhasil  menggerakkan ke arah terbentuknya kesadaran nasional. 	Al-Attas lalu  mengkritik secara tajam teori para orientalis Barat yang menganggap  kehadiran Islam di wilayah Melayu-Indnesia ini tidak meninggalkan  sesuatu yang berarti bagi peradaban di wilayah ini. Ia menulis:</p>
<p><span><em>“Banyak sarjana yang telah  memperkatakan bahwa Islam itu tidak meresap ke dalam struktur masyarakat  Melayu-Indonesia; hanya sedikit jejaknya di atas jasad Melayu, laksana  pelitur di atas kayu, yang andaikan dikorek sedikit akan terkupas  menonjolkan kehinduannya, kebudhaannya, dan animismenya. Namun menurut  saya, paham demikian itu tidak benar dan hanya berdasarkan wawasan  sempit yang kurang dalam lagi hanya merupakan angan-angan belaka.”   (Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan  Melayu,  (Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), hal. 41.)</em></span></p>
<p>Uraian Prof. Naquib al-Attas itu membuka mata kita, bahwa selama ini  ada yang salah – secara mendasar – dalam pendidikan sejarah di  sekolah-sekolah kita. Hindu-Budha diletakkan sebagai jati-diri bangsa,  sedangkan Islam hanya diletakkan sebagai pelapis kayu, yang tidak  meresap ke dalam jati diri bangsa. Tidak mengherankan, jika kemudian,  simbol-simbol Islam dijauhkan dari berbagai aspek kehidupan kebangsaan  dan kenegaraan.  Secara ekstrim, rezim Orde Baru pernah berusaha  menggusur berbagai identitas Islam dari kehidupan berbangsa dan  bernegara, dengan menggusur istilah-istilah Islam dan menggantikannya  dengan istilah-istilah Jawa atau Hindu.</p>
<p>Jika anda masuk ke Kedutaan Indonesia di luar negeri, tengoklah,  apakah di sana dipajang patung-patung dan candi, atau foto-foto masjid  dan pesantren?  Setidaknya saya pernah dua kali mengisi acara pengajian  di Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri. Satu di sebuah  negara Barat, dan satu di negeri Muslim.  Saat memasuki ruang depan  kantor KBRI, saya menjumpai sejumlah patung ini dan itu, replika candi  ini dan itu. Saya tanyakan kepada seorang pejabat kedutaan, bukankah  Indonesia adalah negeri Muslim, satu negara dengan jumlah pemeluk Islam  terbesar di dunia?  Mengapa tidak dipasang – misalnya &#8212; foto Masjid  Demak, Masjid Menara Kudus, foto sejumlah pesantren, dan sebagainya &#8212;   yang juga merupakan peninggalan sejarah penting di Indonesia?</p>
<p>Memang,  peradaban Islam adalah peradaban ilmu, sehingga ulama-ulama Islam lebih  mementingkan budaya ilmu ketimbang budaya batu.  Tetapi, tradisi seni  arsitektur Islam juga dikenal sangat tinggi dan mengilhami beberapa  arsitektur modern di Barat. Saya pernah mengunjungi satu museum Yahudi  dan penjaganya mengakui beberapa jenis ukiran di situ terpengaruh oleh  arsitektur Islam.</p>
<p>Salah satu warisan peradaban Islam yang  penting adalah institusi-institusi pendidikan Islam yang khas Indonesia,  seperti pondok pesantren.   Sebut salah satu pesantren tertua di Jawa  Timur, misalnya, Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur,  yang sudah  berumur ratusan tahun. 	 Data sejarah menunjukkan, pesantren ini berdiri  tahun 1718.  Hingga kini, pesantren Sidogiri masih eksis dengan ribuan  santri, serta sistem pendidikan yang unik, mandiri, bahkan sama sekali  tidak bergantung dengan bantuan pemerintah.</p>
<p>Mungkin, dalam  perspektif pendidikan Sejarah Nasional Indonesia, keberadaan sebuah  pondok pesantren besar dan bersejarah seperti Sidogiri tidak dianggap  lebih penting ketimbang sebuah candi.  Tradisi keilmuan Islam yang  bertahan ratusan tahun, tidak dianggap penting bagi pembangunan bangsa.   <em>Wallahu a’lam bil-shawab. </em></p>
<p>Tentu, kita tidak bisa  menyalahkan begitu saja para pejabat kita. Sebab, pemikiran mereka  tentang sejarah dan peradaban bangsa, adalah produk pendidikan sejarah  saat mereka duduk di bangku sekolah. Ribuan kuisener yang pernah saya  sebarkan ke lembaga-lembaga pendidikan Islam, menunjukkan, bahwa hampir  semua santri, siswa, bahkan guru berpendapat, bahwa puncak peradaban  Indonesia sebelum kemerdekaan dicapai saat kepemimpinan Hayam Wuruk dan  Gajah Mada di Kerajaan Majapahit, yang berhasil menyatukan Nusantara.</p>
<p>Jika  kita tanya kepada  mereka, kapan sebenarnya Majapahit menyatukan  Nusantara dan dengan cara apa mereka menyatukan Nusantara, mereka hanya  terbengong.  Sebuah buku <strong>Sejarah untuk SMA Kelas XI,</strong> karya I Wayan Badrika (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006),  misalnya,  menulis, bahwa saat pelantikannya sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit,  Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal dengan nama <em>Sumpah Palapa</em> (Tan Amukti Palapa) yang menyatakan bahwa Gajah Mada tidak akan hidup  mewah sebelum Nusantara berhasil disatukan di bawah Panji Kerajaan  Majapahit.</p>
<p><em>“Bahkan Kerajaan Majapahit dapat  disebut sebagai kerajaan nasional setelah Kerajaan Sriwijaya. Selama  hidupnya, Patih Gajah Mada menjalankan politik persatuan Nusantara.   Cita-citanya dijalankan dengan begitu tegas, sehingga menimbulkan  Peristiwa Sunda yang terjadi tahun 1351 M.”  (hal. 48).</em></p>
<p>Tentang keruntuhan Kerajaan Majapahit, ditulis: “<em>Suatu tradisi  lisan yang terkenal di Pulau Jawa menyatakan bahwa Kerajaan Majapahit   hancur akibat serangan dari pasukan-pasukan Islam di bawah pimpinan  Raden Patah (Demak).”  (hal. 49). </em></p>
<p>Opini apa yang ingin  disampaikan dengan paparan semacam ini kepada siswa atau santri yang  belajar sejarah melalui buku seperti ini?</p>
<p>Mudah ditebak!  Bahwa,  di masa lalu,  Indonesia pernah mencaai kejayaan, pernah bersatu,  pernah hebat, yakni di bawah Kerajaraan Majapahit. Lalu, datanglah  Islam, dengan tokohnya Raden Patah, menyerbu Majapahit dan runtuhlah  Majapahit!  Jadi, Islam bukanlah faktor pemersatu bangsa, tetapi Islam  datang untuk menghancurkan persatuan yang diperjauangkan oleh Gajah  Mada.  Karena itu, Raden Patah digambarkan sebagai penghancur prestasi  Gajah Mada yang berhasil menyatukan Nusantara!<em> Wallahu a’lam bil-shawab</em>.</p>
<p>Cobalah  tanyakan kepada siswa atau anak-anak kita, apakah mereka lebih kenal  dan kagum pada Gajah Mada atau Raden Patah?  Sekitar 50 tahun lalu, Buya  Hamka sudah menulis dalam Tafsirnya tentang fenomena pendidikan sejarah  di Indonesia tersebut!</p>
<p>Yang disebut tradisi lisan terkenal di  Jawa yang memberitakan tentang keruntuhan Majapahit akibat diserang  Raden Patah kemungkinan besar adalah <strong>Serat Darmogandul.</strong> Dalam Darmogandul disebutkan, bahwa dalam menyerang Mojopahit Raden  Patah melakukan konspirasi dengan para wali. Selama ini, Darmogandul  juga sudah dijadikan sebagai salah satu rujukan dalam penulisan buku  Sejarah Nasional Indonesia. Misalnya, buku karya Marwati D. Poesponegoro  dan Nugroho Notosusanto yang berjudul Sejarah Nasional Indonesia II,  (Balai Pustaka, Jakarta, 1992) menulis seputar keruntuhan Majapahit:</p>
<p><em>“&#8230;. Bagaimana proses penaklukan  Majapahit oleh Demak dan bagaimana nasib para penguasa Majapahit sesudah  penaklukan itu tidak diketahui secara pasti. Sumber-sumber tradisi  seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, dan Serat Darmagandul hanya  dengan samar-samar memberikan gambaran kepada kita tentang bagaimana  berlangsungnya penaklukan Majapahit oleh Demak.”</em></p>
<p>Paparan tentang keruntuhan Majapahit seperti itu bertentangan dengan  fakta  sejarah yang sebenarnya. Pada dasarnya Majapahit saat itu memang  telah lemah secara politis akibat Perang Paregreg yang cukup lama dan  menghabiskan banyak sumber daya. Kitab Darmogandul bisa dijadikan salah  satu contoh adanya upaya sistematis untuk memberikan citra negatif  terhadap Islam dan menanamkan kebencian kepada para wali serta agama  Islam. Para wali disebut “<em>walikan</em>” (kebalikan), artinya orang  yang tidak tahu balas budi. Diberi kebaikan oleh Raja Majapahit, tetapi  malah menikam dari belakang.  Digambarkan dalam kitab ini, bagaimana  bentuk provokasi Sunan Bonang terhadap Raden Patah, agar menyerang  Majapahit.</p>
<p>Ditulis dalam <strong>Darmagandul </strong>(terjemahan Indonesianya:  “<em>Rusaklah  Keraton Majapahit, dengan secara halus tersamar, jangan sampai didengar  orang banyak, menghadaplah pada hari bakda Mulud (hari peringatan  Maulid Nabi), persiapkan kelengkapan para prajurit, semua prajurit yang  kamu miliki, juga bawahanmu yang telah masuk Islam kumpulkanlah di  Demak. Pura-pura saja (mengundang mereka) untuk mendirikan masjid,  setelah semuanya berkumpul aku (Sunan Bonang) yang akan membuat akal,  kepada semua Sunan, para Tumenggung, semua prajurit yang telah menganut  agama Islam niscaya akan menurut kepadaku &#8230;”). </em></p>
<p>Jadi,  itulah salah satu cara mengecilkan makna kehadiran Islam di Indonesia,  melalui buku Sejarah Nasional, yang sudah diajarkan kepada jutaan  anak-anak kita di berbagai lembaga pendidikan Islam. Entah berapa banyak  guru dan orangtua yang mau peduli dengan masalah-masalah seperti  ini. *</p>
<p><em>Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini bekerjasama dengan Radio Dakta 107 FM</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.hidayatullah.com/read/17712/27/06/2011/selamat-datang-%E2%80%9Cbuku-sejarah-perspektif-baru%E2%80%9D-%5B1%5D.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/selamat-datang-%e2%80%9cbuku-sejarah-perspektif-baru%e2%80%9d-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Sang Hyang Yesus?”</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9csang-hyang-yesus%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9csang-hyang-yesus%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 12:28:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2140</guid>
		<description><![CDATA[Masalah Identitas Agama dan Peradaban &#160; “Sang Hyang Yesus?” &#160; Sabtu, 19 November 2011 Oleh: Dr. Adian Husaini PADA hari Senin (14/11/2011), bertempat di Jakarta, Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) dan Center for Advanced Studies on Islam, Science, and Civilisation (Casis)—Universiti Teknologi Malaysia, menyelenggarakan suatu seminar internasional bertajuk “SEJARAH DAN [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><a href="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/05/window-crying1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1950" title="window-crying" src="http://ustadzridwan.com/wp-content/uploads/2011/05/window-crying1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Masalah Identitas Agama dan Peradaban</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span>“Sang Hyang Yesus?”</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span> Sabtu, 19 November 2011<br />
</span> <span> </span></p>
<p><span>Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini</strong></span></p>
<p>PADA hari Senin (14/11/2011), bertempat di Jakarta,  <em>Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS</em>) dan <em>Center for Advanced Studies on Islam, Science, and Civilisation </em>(Casis)—Universiti  Teknologi Malaysia,  menyelenggarakan suatu seminar internasional  bertajuk “SEJARAH DAN PERANAN ISLAM DALAM PEMBANGUNAN DAN KESATUAN  BANGSA.”</p>
<p><span>Sejumlah pembicara dari Indonesia dan Malaysia yang hadir adalah  Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud (Direktur Casis-UTM), yang bertindak  sebagai keynote speaker. Prof. Dr. Muhammad Zainy Uthman (Casis),  membahas masalah bertajuk: Tranformasi Minda Umat dalam Sejarah Dunia  Melayu; Dr. Khalif Muammar (Casis) menyampaikan presentasi bertajuk: <em>Kerangka Pemikiran Melayu Tradisiona</em>l; Prof. Dr. Didin Saefuddin Buchori (Universitas Ibn Khaldun Bogor) menyampaikan presentasi dengan tajuk: <em>Perlunya Pelurusan Pemahaman Sejarah</em>.  Pada sesi berikutnya, tampil beberapa sejarawan dan budayawan muda dari  INSISTS, yaitu Tiar Anwar Bahtiar, Arif Wibowo, Susiyanto, dan Muhammad  Isa Anshary.</span></p>
<p>Mereka   membahas makalah-makalah yang bertemakan  tentang Islam dan Budaya Sunda serta Budaya Jawa.</p>
<p>Dalam paparannya, Prof. Wan Mohd Nor berbicara tentang keberhasilan  para pendakwah Islam yang mampu menjadikan Islam menjadi identitas  peradaban Melayu. Persatuan Islam dan Melayu itu kemudian dalam  sejarahnya  dilembagakan menjadi identitas sosial, budaya, bahkan  politik. Melayu adalah muslim. Jika seorang keluar dari Islam, maka dia  tidak diakui lagi sebagai “Melayu”.</p>
<p>Dalam buku karyanya, <em>Budaya Ilmu dan Gagasan 1 Malaysia: Membina Negara Maju dan Bahagia – </em>yang  diberi kata pengantar oleh Perdana Menteri Malaysia, Prof. Wan  menyebutkan bahwa: “Negara yang maju ialah negara yang mensejahterakan  dan membahagiakan rakyatnya dengan mencapai maqasid al-syariah. Itulah  Negara (baldatun tayyibah) yang diredai Allah SWT. (QS Saba:15).”</p>
<p>Dalam buku yang disebarkan ke seluruh penjuru Malaysia ini, Prof. Wan  Mohd Nor juga menguraikan konsep Negara ideal laksana “pohon yang kokoh  dan rindang”  menurut Imam al-Ghazali sebagaimaan dijelaskan dalam QS  Ibrahim: 24-25.<br />
Suatu Negara yang menerapkan konsep maqasid  syariah, adalah yang menerapkan aqidah dan syariat Islam dengan tujuan:   menjaga agama (<em>hifdud-ddin</em>), menjaga jiwa (<em>hifdun-nafsi</em>), menjaga akal (<em>hifdul-aqli</em>), menjaga keturunan (<em>hifdun-nasli</em>), dan menjaga harta (<em>hifdul-maal</em>).</p>
<p>Itu yang terjadi di Malasyia, yang meskipun jumlah kaum Muslim hanya  sekitar 60 persen, tetapi menempatkan Islam sebagai “agama persekutuan”.  Malaysia meletakkan dirinya sebagai kelanjutan dari peradaban Melayu  Islam, sehingga secara politik tidak mempertentangkan antara Islam dan  negara.</p>
<p>Bagaimana dengan Indonesia?  Para pejabat Indonesia sering  menyatakan, bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbesar di  dunia. Namun, hingga kini, para pemimpin Negara yang Muslim yang banyak  yang enggan untuk mengidentikkan Indonesia dengan Islam. Lihatlah, saat  upacara pembukaan Sea Games, di Palembang, 11 November 2011! Simbol  yang ditampilkan oleh delegasi Indonesia adalah Candi Borobudur, Komodo,  dan Batik. Simbol Islam ditampilkan oleh Presiden SBY dalam sambutan  pembukaan yang mengucapkan <em>“Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh”, “Dengan memohon ridha Allah SWT</em>” dan “<em>Bismillahirrahmanirrahim”. </em></p>
<p>Dalam makalahnya yang berjudul “<em>Mencari Wujud Kebudayaan Jawa</em>”,  Arif Wibowo – alumnus Magister Pemikiran Islam—Universitas Muhammadiyah  Surakarta &#8212;  mengungkapkan pembangunan dan eksistensi Candi Borobudur  yang kontroversial.</p>
<p>Penggambaran seolah-solah bangunan-bangunan besar Candi Borobudur dan  Prambanan menunjukkan kokohnya eksistensi agama Budha dan Hindu Jawa,  tidaklah benar.  Kedua bangunan itu lebih mencerminkan pertarungan antar  elite kekuasaan.  Dinasti Syailendra, kaki tangan Kerajaan Sriwijaya  Palembang di Jawa membangun Borobudur.  Para penguasa lokal yang  beragama Hindu Syiwa memandang keluarga Syailendra sebagai penjajah  asing yang baru saja menancapkan pengaruhnya.</p>
<p>Akhirnya pada tahun 856 M, Syailendra berhasil dikalahkan. Untuk  mengenang kemenangan ini Rakai Pikatan membangun candi Prambanan,  sebagai monumen kemenangan kekuasaan Hindu atas kekuasaan Budha. (Lihat,   Paul Michel Munoz, Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan  Semenanjung Malaysia (Perkembangan Sejarah dan Budaya Asia Tenggara,  Jaman Prasejarah – Abad XVI) , (Yogyakarta : Media Abadi, 2009) hal.  318-323).</p>
<p>Yang paling menderita di era kebudayaan candi ini tentu saja rakyat  jelata dari kasta Sudra dan Paria. Para petani, peternak dan pedagang  kecil yang termasuk dalam kasta tersebut dipaksa untuk melakukan kerja  bakti membangun candi yang berlangsung selama puluhan tahun. Akibatnya  mata pencaharian pun terbengkalai, demikian juga kehidupan keluarganya.</p>
<p>Oleh karena itu, untuk menghindari kewajiban kerja bakti kepada para  raja, penduduk memilih untuk eksodus keluar dari pusat-pusat pembangunan  candi. (Ahmad Manshur Suryanegara, Api Sejarah, Jilid. I, (Bandung :  Salamadani, 2009) hal. 55.).</p>
<p>Hal ini juga dikuatkan oleh kajian dari Prof. Denys Lombard yang  menyatakan bahwa penghentian pembangunan gedung-gedung batu berskala  besar lebih banyak disebabkan karena kerajaan Budha dan Hindu mengalami  kemunduran karena ditinggalkan rakyatnya sendiri yang lebih memilih  eksodus ke kota-kota pelabuhan dan sekitarnya. (Dennys Lombard, <em>Nusa Jawa Silang Budaya 2 : Jaringan Asia </em>(terj). (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2008)  hal. 189).</p>
<p>Penguasa selanjutnya dari kalangan Hindu juga masih tidak membawa  kenyamanan bagi masyarakat. Sebab pada masa selanjutnya, Hindu, Budha  dan aneka kepercayaan lokal telah merubah wajah ajaran Hindu dan Budha  pada bentuk baru yakni Syiwa Budha Bhairawa Tantra. Kepercayaan  Siwa-Budha Bhairawa Tantra ini menghasilkan bentuk ritual yang disebut  sebagai upacara Pancamakara atau lebih dikenal dengan upacara <em>Ma-lima</em>.</p>
<p>Menurut S. Wojowasito,  bentuk upacara (ritual) dari sekte ini sangat  mengerikan.. (Wojowasito,S, Sedjarah Kebudajaan Indonesia, Indonesia  Sedjak Pengaruh India, (Jakarta : Penerbit Siliwangi, 1952) hal. 148).</p>
<p>Ritual <em>ma lima </em>terdiri dari matsiya (memakan ikan gembung beracun), <em>manuya</em> (minum darah dan memakan daging gadis yang dijadikan kurban), <em>madya</em> (meminum minuman keras hingga mabuk), <em>mutra </em>(menari sampai ekstase), dan <em>maithuna </em>(ritual  seks massal di tanah lapang yang disebut setra). (HM Rasyidi, Islam dan  Kebatinan (Jakarta : Bulan Bintang, 1967) hal. 95).</p>
<p>Adityawarman, seorang Radja dari kerajaan Melayu (yang menjadi  menantu raja Majapahit) menerima penasbihannya di tengah-tengah lapangan  bangkai, sambil duduk di atas timbunan bangkai, tertawa minum darah,  menghadapkan kurban manusia yang menghamburkan bau busuk, tetapi bagi  Adityawarman sangat semerbak baunya. (Wojowasito, <em>Sedjarah Kebudajaan Indonesia, Indonesia Sedjak Pengaruh India, </em>hal. 149).</p>
<p>Proses ini jelas tergambar dalam patung Adityawarman di Museum  Nasional yang digambarkan tengah memegang cawan darah, gelas anggur dan  ratusan tengkorak yang mengalungi hampir semua bagian tubuhnya.</p>
<p>Proses Islamisasi di Nusantara kemudian berhasil mengubah identitas  agama dan budaya sebagian besar masyarakat Nusantara menjadi Islam.  Peradaban Melayu mencakup seluruh wilayah di Nusantara, apa pun suku  bangsanya. Identitas Islam inilah yang kemudian secara sistematis  berusaha dipisahkan oleh kaum penjajah.</p>
<p>Salah satunya adalah dengan cara mengangkat dan membesarkan zaman  pra-Islam. Itulah yang misalnya dilakukan dengan memitoskan kebesaran  Majapahit.<br />
Pada CAP lalu, sudah kita kutip, misalnya, suara dari  Majalah Media Hindu (Oktober, 2011) yang menyatakan:  “Kembali menjadi  Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi  Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agama yang  dapat memelihara &amp; mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar  untuk menjadi negara maju.”</p>
<p>Namun, suara-suara yang memitoskan kebesaran Majapahit  (“Majapahitisme”)  juga telah mendapatkan kritik dari kalangan kaum  Hindu sendiri. Majalah Hindu, RADITYA, (edisi September 2008) menurunkan  laporan utama yang mengkritik pengagungan Majapahit:</p>
<p>“Majapahitisme atau keterpesonaan  terhadap Hindu di zaman majapahit tidaklah ideal. Pertama, karena pada  masanya saja, masyarakat Hindu Majapahit gagal mempertahankan  eksistensinya, gara-gara lebih banyak terlibat konflik internal bikinan  elite Majapahit ketika itu. Siwa-Budha kala itu pun tidak bisa berperan  banyak dalam mewujudkan masyarakat yang rukun, tat twam asi dan  sejenisnya. Majapahit selain berhasil menundukkan banyak daerah bawahan,  juga sibuk perang saudara. Agama di dalam   masyarakat seperti ini  lebih menjadi bersifat gaib, eksklusif, hanya untuk berhubungan dengan  dewa-dewa yang abstrak. Agama Siwa Budha meskipun sudah menjadi agama  kerajaan tidak bisa diamalkan oleh elite di sana yang lebih dikuasai  motif politik, motif perebutan kekuasaan. Agama gagal menginspirasi  kehidupan sehari-hari tentang hal-hal lebih praktis menyangkut pola  interaksi antarindividu…Jika Majapahit meninggalkan hal-hal pahit bagi  penganut Hindu ketika itu, lantas apa enaknya mengenang hal-hal pahit?”</p>
<p>Jadi, menurut majalah RADITYA, impian untuk kembali ke Majapahit  justru merugikan kaum Hindu sendiri.  Analisis majalah Hindu ini  menarik, sebab ini terkait dengan identitas nasional Indonesia yang  sering dicitrakan identik dengan Hindu, Budha, dan Sansekerta. Jika  ditampilkan Candi Hindu Prambanan dan Candi Budha Borobudur, maka itu  dikatakan sebagai “identitas nasional”.  Tapi, jika ditampilkan Masjid,  maka seolah-olah dianggap bukan identitas nasional.  Tengoklah  ornamen-ornamen di Bandara Soekarno-Hatta! Bandara internasional itu  dipenuhi dengan simbol-simbol Hindu-Budha yang dianggap sebagai symbol  nasional. Tapi, tidak tampak simbol-simbol Islam, seperti kaligrafi ayat  al-Quran, Masjid, dan sebagainya.</p>
<p>Masalah simbol atau identitas bagi suatu agama atau peradaban  merupakan hal yang penting dan terkadang juga sensitif. Kaum Hindu di  Bali melakukan protes ketika simbol-simbol dan identitas agamanya  direbut oleh kaum Kristen. Sebab, menurut mereka, identitas Hindu  dibajak untuk tujuan pengkristenan orang Hindu. Majalah Media Hindu,  (edisi November 2011) menulis tentang masalah ini:</p>
<p>“Sebenarnya bahaya laten yang seolah  tidak kelihatan tapi jauh lebih berbahaya adalah upaya-upaya sistematis  orang-orang Kristen untuk menjadikan seluruh penduduk Bali menjadi  pengikut Yesus (menjadi Kristen) dan saat ini pun masih berjalan terus.  Penampilan fisik yang sama dengan pura, memakai upacara mirip “Hindu  Bali” bisa menyesatkan orang-orang Bali beragama yang umumnya lugu dan  toleran.  Lebih lagi bila sebutan tuhan yang disembah di “Pura Gereja”  ini dimirip-miripkan dengan Tuhan orang Hindu Bali, misalnya Sang Hyang  Yesus, Sang Hyang Allah Aji, Ratu Biang Maria, misalnya.”</p>
<p>Tahun 2011 ini, Penerbit Paramita Surabaya, menerbitkan buku berjudul “<em>Membedah  Kasus Konversi Agama di Bali: Kronologi, Metode, Misi dan Alasan di  Balik Tindakan Konversi Agama dari Hindu ke Kristen dan Katolik di Bali  serta Pernik-pernik Keagamaan di Dunia</em>”, karya Ni Kadek Surpi Aryadharma.</p>
<p>Penulis buku ini mengkritik penggunaan atribut kebudayaan Hindu Bali  dalam aktivitas keagamaan Kristen:  “Jika dicermati, sesungguhnya apa  yang dilakukan oleh umat Kristen di Bali adalah keliru. Sebab dalam  aturan yang disepakati oleh lembaga-lembaga agama dan pemerintah telah  ditentukan tidak boleh mengambil tatanan ibadah dari agama lain. Karena  itu orang Kristen di Bali mestinya tidak mengambil simbol-simbol  keagamaan Hindu.” (hal. 55). “…karena itu budaya agama Hindu itu 100%  tidak boleh digunakan oleh orang Kristen.” (hal. 260).</p>
<p>Menurut buku ini, misi Kristen merupakan kejahatan agama yang harus  diperangi. “…program misi dan konversi agama harus diperangi, dilawan  dan diberantas habis sampai tuntas karena hal itu merupakan kejahatan  atas nama agama.” (hal. 260). “Jadi, janganlah sapi-sapi Hindu  ditangkapi oleh penggembala domba Kristen dan dimasukkan ke dalam  kandang domba. Ingat, jika sapi-sapi yang ditangkapi itu suatu saat  jengkel karena stress dan kemudian ngamuk dalam kandang domba, maka  bukan saja domba-domba dalam kandang yang kacau-balau, bisa-bisa  penggembalanya juga ikut diseruduk. Ingat peristiwa seorang misionaris  dibunuh oleh convert-nya sendiri.” (hal. 258).</p>
<p>Salah satu yang diprotes kaum Hindu tadi adalah penggunaan istilah  Hindu untuk menyebut Tuhan kaum Kristen, seperti “Sang Hyang Yesus”,  “Sang Hyang Allah Aji”, “Ratu Biang Maria”, dan lain-lain. Pemerintah  Malaysia juga melarang kaum Kristen untuk menggunakan kata Allah untuk  menyebut Tuhan mereka. Sebab, Allah adalah nama Tuhan yang resmi disebut  dalam al-Quran. Allah – dalam al-Quran – memiliki sifat-sifat tertentu  yang tidak bisa diberi sifat sembarangan. Misalnya, Allah sendiri yang  menjelaskan sifat-sifat-Nya, bahwa Dia tidak beranak dan tidak  diperanakkan; bahwa Dia tidak serupa dengan sesuatu pun.</p>
<p>Sementara itu, kitab kaum Kristen – baik Perjanjian Lama (bahasa  aslinya Ibrani) dan Perjanjian Baru (bahasa aslinya Yunani Kuno) –  memang tidak menyebut nama Tuhan mereka. Karena itulah, dalam tradisi  Kristen, tidak ditemukan penyebutan nama Tuhan yang baku, sehingga  mereka boleh menyebut Tuhan mereka, sesuai dengan tradisi atau kemauan  mereka.</p>
<p>Pendeta A.H. Parhusip, dalam sebuah buku kecil yang ditulisnya,  dengan judul Waspadalah terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh  (2003), menulis tentang kebebasan menyebut nama Tuhan ini:</p>
<p>”Lalu mungkin  ada yang bertanya:  Siapakah Pencipta itu dan bagaimanakah kalau kita mau memanggil Pencipta  itu? Jawabnya: Terserah pada Anda! Mau panggil; Pencipta! Boleh! Mau  panggil: Perkasa! Silahkan! Mau panggil: Debata! Boleh! Mau panggil:  Allah! Boleh! Mau panggil: Elohim atau Theos atau God atau Lowalangi  atau Tetemanis&#8230;! Silakan! Mau memanggil bagaimana saja boleh, asalkan  tujuannya memanggil Sang Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi&#8230;  Ya, silakan menyebut dan memanggil Sang Pencipta itu menurut apa yang  ditaruh oleh Pencipta itu di dalam hati Anda, di dalam hati kita  masing-masing. Lihat Roma 2:14-15.”</p>
<p>Kaum Kristen menggunakan nama Tuhan sesuai dengan budaya setempat dan  untuk tujuan tertentu, seperti tujuan misi Kristen. Di Barat mereka  tidak menyebut nama Tuhan. Di wilayah Arab, kaum Kristen meminjam  sebutan Tuhan yang biasa digunakan oleh masyarakat di sana, yaitu  “Allah”.  Dalam Penjelasan Lembaga Alkitab Indonesia, tertanggal 21  Januari 1999, ditandantangani oleh Sekretaris Umumnya, Supardan,  kata  Allah di Indonesia mulai digunakan sejak abad ke-16. Tentu, ini juga  untuk tujuan Misi, karena kaum Muslim di wilayah ini sudah menyebut  Tuhan dengan nama Allah, sesuai dengan yang tercantum dalam Kitab Suci  al-Quran. Kaum Kristen yang menyebarkan agama di wilayah Nusantara  adalah Kristen Barat yang tidak punya nama Tuhan.</p>
<p>Samin Sitohang dalam bukunya, Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab  Kontroversi Sekitar Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, menulis: “Jadi,  jika Alkitab bahasa Indonesia menggunakan Allah untuk nama Sang  Pencipta, itu berarti Roh Allah sedang menyiapkan umat-Nya yang berasal  dari golongan lain untuk menerima Injil karena mereka tidak perlu harus  membuang Allah untuk mendapatkan nama Sang Pencipta yang baru.”</p>
<p>Jika kaum Hindu memprotes penggunaan istilah “<strong>Sang Hyang Yesus</strong>” oleh kaum Kristen, apa umat Islam juga harus protes kepada kaum Kristen, karena kata Allah dipinjam oleh mereka?  <em>Wallahu a’lam bil-shawab</em>. (Depok, 18 November 2011).</p>
<p><em>Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.hidayatullah.com/read/19845/19/11/2011/%E2%80%9Csang-hyang-yesus?%E2%80%9D-.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/%e2%80%9csang-hyang-yesus%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

