<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ustadz Ridwan Hamidi &#187; Akhlak</title>
	<atom:link href="http://ustadzridwan.com/category/belajar-islam/akhlak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzridwan.com</link>
	<description>رضوان حامدي الإندونيسي</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Apr 2012 02:20:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Akhlak al-Ulama karya al Aajurri</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/akhlak-al-ulama-karya-al-aajurri/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/akhlak-al-ulama-karya-al-aajurri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Mar 2011 15:23:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1673</guid>
		<description><![CDATA[Seorang ulama tak akan tergiur dengan nafsu duniawi. Fokus yang ada dihadapannya hanyalah rasa takut yang mendalam kepada Allah SWT. Islam memberikan penghormatan terhadap ilmu dan ulama. Betapa tidak, ulama menempati posisi yang strategis dalam Islam. Agama Islam menempatkan para ulama sebagai pewaris para nabi. Sehingga, pendapat dan buah pemikiran ulama merupakan referensi hukum yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Seorang ulama tak akan tergiur dengan nafsu duniawi. Fokus yang ada dihadapannya hanyalah rasa takut yang mendalam kepada Allah SWT.</strong></p>
<p>Islam memberikan penghormatan terhadap ilmu dan ulama. Betapa tidak, ulama menempati posisi yang strategis dalam Islam. Agama Islam menempatkan para ulama sebagai pewaris para nabi. Sehingga, pendapat dan buah pemikiran ulama merupakan referensi hukum yang patut dijalankan.</p>
<p>Bahkan, sebuah pendapat mengatakan bahwa para ulama wajib ditaati sepeninggal Rasulullah. Pendapat ini sebagaimana dikemukakan oleh Mujahid. Menurut Mujahid, pendapat tersebut mengacu pada firman Allah SWT, &#8220;Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.&#8221; (QS an-Nisa [4]: 59).</p>
<p>Bagi Mujahid, arti kalimat ulil amri yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah para ulama dan ahli fikih. Akan tetapi, tidak semua ulama termasuk kategori yang dimaksud. Sebagai manusia biasa, para ulama tak luput dari kekhilafan selama hidup mereka.</p>
<p>Kitab Akhlak al-Ulama&#8217; karya Abu Bakar Muhammad bin al-Husain bin Abdullah al-Ajurri (360 H), hadir untuk memenuhi dahaga umat akan sebuah kitab yang secara khusus mengupas segala yang berkaitan dengan etika ilmu dan hal ihwal seperti apakah seorang alim mesti berakhlak?</p>
<p>Ikhtiar yang dilakukan al-Ajurri tergolong langka. Di masanya, kitab yang fokus membahas persoalan serupa belum pernah ditulis. Sekalipun terdapat kitab-kitab raqaiq dan akhlak, tetapi uraiannya masih terpencar di berbagai kitab ummahat al-kutub, referensi-referensi utama.</p>
<p>Pada dasarnya, corak yang diterapkan tidak begitu asing lantaran menggunakan metode yang akrab dipakai di kalangan ahli hadis. Al-Ajurri menukil hadis-hadis yang berkenaan dengan topik yang dibahas. Banyak hal yang ingin disampaikan al-Ajurri.</p>
<p>Melalui kitabnya tersebut, al-Ajurri hendak memaparkan landasan filosofis peran dan posisi yang ditautkan kepada ulama, beberapa keutamaan baik di dunia maupun di akhirat turut pula disertakan oleh al-Ajurri. Selebihnya, berbagai ulasan yang disampaikannya menitikberatkan pada sisi terpenting yang lazim dimiliki ulama, yaitu aspek moralitas. Dengan aspek inilah terlihat jelas perbedaan antara alim dan orang awam.</p>
<p>Dalam pandangan al-Ajurri, ulama bukanlah orang yang sekadar menguasai ilmu syariat dengan berbagai variannya. Tetapi lebih dari itu, kriteria ulama adalah figur yang bisa menjadi rujukan dalam pelbagai persoalan umat. Beragam persoalan yang harus dijawab ulama tidak terbatas pada problematika hukum agama, yang tak kalah penting menyangkut etika yang penting diteladankan sang ulama.</p>
<p>Sisi moralitas inilah yang bisa menempatkan ulama sebagai panutan yang layak diteladani. Tanpa itu, ulama tak ubahnya termasuk dalam kategori manusia biasa lainnya. Sedangkan, inti dari moralitas seorang ulama adalah frekuensi dan tingkat ketakwaannya terhadap Allah. Konsistensi dan komitmennya melaksanakan tiap perintah dan menjauhi larangan diletakkan sebagai barometer derajat yang dimiliki.</p>
<p>Seorang ulama tak akan tergiur dengan nafsu duniawi. Fokus yang ada dihadapannya tak lain ialah rasa takut yang mendalam kepada Allah. &#8220;Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.&#8221; (QS Faathir [35]: 27).</p>
<p>Sejatinya, umat harus bertindak atas dasar perkataan ulama. Sebab, ulama pemegang estafet risalah. &#8220;Ulama adalah lentera umat, mercusuar negara, dan sumber hikmah&#8221;. Tulis al-Ajurri dalam mukadimah kitabnya.</p>
<p>Menurut al-Ajurri, selama aspek etika dan moralitas bisa dipenuhi oleh ulama, maka dari sisi inilah Allah mengangkat derajat meraka. Allah menganugerahkan penghormatan kepada ulama yang berhasil memadukan kedua aspek sekaligus integritas ilmu dan moral.</p>
<p>Apresiasi terhadap ulama secara tegas disampaikan Allah dalam firman-Nya. &#8220;Hai orang-orang beriman, apabila dikatakan kepadamu: &#8216;Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.&#8217; Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8221; (QS al-Mujadilah [58]: 11).</p>
<p><strong>Keutamaan ulama</strong><br />
Beranjak dari poin apresiasi yang diberikan Allah kepada para ulama itulah, al-Ajurri mengawali bab pertama kitab Akhlak al-Ulama&#8217; dengan memaparkan sejumlah hadis dan atsar tentang keutamaan ulama. Keutamaan yang dimaksud meliputi penghargaan yang diberikan Allah secara khusus di dunia serta kelak nanti di akhirat.</p>
<p>Penghormatan utama yang diberikan kepada para ulama yaitu melanjutkan estafet risalah yang disampaikan para nabi. Ulama adalah pewaris para nabi yang tidak mewariskan kekayaan harta baik dinar maupun dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Dan para ulamalah yang mendapat kehormatan melanjutkan estafet tersebut.</p>
<p>Karenanya, jika dikomparasikan antara kedudukan seorang ahli ibadah yang buta ilmu dan ulama, menurut al-Ajurri, ibarat bulan purnama dengan bintang yang bertebaran di malam nan cerah. Inilah intisari hadis pertama yang dinukil oleh al-Ajurri dari hadis riwayat Abu Darda.</p>
<p>Riwayat lain yang disebutkan al-Ajurri menyangkut keutamaan ulama salah satunya ialah riwayat dari Abu Hurairah. Riwayat yang dinukil dalam Sunan Turmudzi itu menyatakan,  tidak ada ibadah yang ditujukan kepada Allah yang lebih utama selain yang ditunaikan oleh seorang yang mengerti agama.</p>
<p>Seorang fakih lebih sulit digoda oleh setan dari seribu ahli ibadah yang kurang mengerti agama. Sebab itu, dalam hadis tersebut dinyatakan, tiap segala sesuatu mempunyai tiang, dan tiang agama adalah ilmu.</p>
<p>Salman al-Farisi pernah menulis surat kepada Abu Darda. Dalam suratnya itu, Salman berkata, &#8220;Ilmu ibarat sumber mata air yang membasahi umat manusia. Allah memberikan manfaat bagi semua dari sumber itu. Dan, sesungguhnya sebuah hikmah yang tidak diperbincangkan ibarat jasad tanpa roh. Sedangkan, ilmu yang tidak dikeluarkan ibarat kekayaan yang tak dibelanjakan. Perumpamaan seorang pengajar seperti orang yang membawa lentera di kegelapan jalan, siapa pun yang berlalu di hadapannya akan tersinari.&#8221;</p>
<p>Keberadaan seorang alim di tengah-tengah umat terlihat jelas dalam sebuah kisah diceritakan oleh Mujahid. Kala itu, para tabi&#8217;in sedang berkumpul di masjid. Mereka antara lain Thawus, Said bin Jubair, dan Ikrimah. Sementara Ibnu Abbas sedang melaksanakan shalat.</p>
<p>Lantas seseorang datang menanyakan suatu persoalan yang membuatnya bingung. Tepatnya, lelaki tersebut hendak bertanya tentang hukum air yang keluar tiap kali habis buang air kecil. Para tabi&#8217;in itu pun menjawab, &#8220;Apakah air itu seperti air sperma? Jika demikian, Anda wajib mandi.&#8221; Lelaki itu pun mengiyakan, lalu segara berpaling dan beranjak pergi.</p>
<p>Ibnu Abbas mendengar jawaban mereka. Dia pun bergegas menyelesaikan shalat, lalu meminta Ikrimah memanggil kembali lelaki itu. Ibnu Abbas lalu mempertanyakan dari manakah dalil pendapat yang mereka ambil? Ternyata jawaban diambil dari pendapat mereka.</p>
<p>Ibnu Abbas menegaskan, keutamaan seorang ahli fikih lebih baik dibanding ahli ibadah. Ibnu Abbas pun mengutarakan pendapatnya, selama air yang keluar tidak disertai syahwat dan kondisi lemas di badan, air yang keluar setelah buang air kecil bukan dikategorikan sperma. Karena itu, cukup berwudhu tanpa mandi junub. ed; heri ruslan</p>
<p><strong><br />
Fitnah Ulama</strong></p>
<p>Oleh Nashih Nashrullah</p>
<p>Al-Ajurri dalam kitab Akhlak al-Ulama&#8217; secara khusus mengupas tentang moralitas ulama. Di tengah-tengah keprofanan masyarakat, sikap dan integritas ulama dipertaruhkan. Integritas ulama tak boleh tergadaikan dengan kekuatan kaum elitis, baik dari rezim pemerintah yang berkuasa maupun para pemegang kekuasaan seperti kaum bangsawan.</p>
<p>Jika moralitas tersebut diabaikan, sesungguhnya mereka telah mengenakan baju kehormatan ulama, tetapi akhlaknya seperti mereka yang tak berpendidikan. &#8220;Lidahnya lidah ulama, tapi tingkah lakunya perilaku orang bodoh,&#8221; papar al-Ajurri.</p>
<p>Al-Ajurri mengingatkan agar para ulama terhindar dari fitnah yang menimpa seorang alim. Beberapa hadis yang menyinggung hal tersebut pun dinukil dalam kitabnya itu. Riwayat pertama yang disebutkan adalah riwayat Abdullah bin Umar. Disebutkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Barang siapa yang mencari ilmu bukan karena Allah atau menginginkan tujuan selain (rida) Allah, hendaknya dia mencari tempat duduknya di neraka.&#8221;</p>
<p>Fenomena fitnah yang menimpa ulama telah diberitakan secara jelas oleh Rasulullah. Integritas moral yang mestinya dipertahankan oleh ulama berangsur hilang. Bahkan, ulama akan kerap terlibat dengan masalah-masalah yang menggerus moralitas dan akhlak mereka.</p>
<p>Dalam sebuah riwayat Anas bin Malik diberitakan, Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Akan muncul di akhir zaman nanti para ahli ibadah yang bodoh dan ulama yang fasik.&#8221; Sebab itulah, hadis tersebut tampaknya disikapi serius oleh kalangan salaf.</p>
<p>Dalam sebuah pesannya, Sufyan ats-Tsauri pernah mengingatkan akan kemunculan fenomena itu. Kewaspadaan dan antisipasi penting dilakukan. Apa pasal? Tak lain karena dampak akibat fitnah yang menimpa ulama akan berimbas pada umat secara kesuluruhan.&#8221;Maka dari itu, berlindunglah kalian dari fitnah ahli ibadah yang bodoh dan ulama yang fasik. Karena fitnah keduanya berimbas kepada semua lapisan,&#8221; seru al-Ajurri.</p>
<p>http://www.koran.republika.co.id/koran/153/130897/Akhlak_al_Ulama_Integritas_Moral_Ulama</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fakhlak-al-ulama-karya-al-aajurri%2F&amp;title=Akhlak%20al-Ulama%20karya%20al%20Aajurri" id="wpa2a_2"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/akhlak-al-ulama-karya-al-aajurri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larangan Menceritakan Mimpi Buruk</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/larangan-menceritakan-mimpi-buruk/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/larangan-menceritakan-mimpi-buruk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2011 22:16:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1660</guid>
		<description><![CDATA[Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam beliau bersabda, &#8220;Jika akhir zaman sudah semakin dekat maka mimpi seorang muslim hampir selalu menjadi nyata dan orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur ucapannya. Mimpi seorang muslim merupakan satu bagian dari 45 bagian dari kenabian. Mimpi itu ada tiga macam: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam beliau bersabda, <em>&#8220;Jika akhir zaman sudah semakin dekat maka mimpi seorang muslim hampir selalu menjadi nyata dan orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur ucapannya. Mimpi seorang muslim merupakan satu bagian dari 45 bagian dari kenabian. Mimpi itu ada tiga macam: Mimpi yang baik merupakan kabar gembira dari Alloh. Mimpi buruk berasal dari syaitan. Dan mimpi yang sekedar bisikan saja (bunga tidur). Jika salah seorang kalian melihat mimpi buruk maka hendaklah ia bangkit melaksanakan shalat dan jangan ia ceritakan kepada orang-orang,&#8221;</em> (HR Bukhari [7017] dan Muslim [2263]).</div>
<div><span id="more-1660"></span></div>
<div></div>
<div></div>
<div>Diriwayatkan dari Abu Usamah, ia berkata, &#8220;Aku pernah melihat sebuah mimpi yang membuat aku sakit hingga aku  mendengar Qatadah berkata, &#8216;Aku pernah melihat sebuah mimpi yang membuat aku sakit hingga aku mendengar Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda, &#8216;<em>Mimpi baik berasal dari Allah. Jika salah seorang kalian melihat apa yang kalian sukai maka janganlah ia ceritakan mimpi tersebut kecuali  kepada orang yang menyukainya saja dan jika ia melihat mimpi yang tidak ia sukai maka hendaklah ia meminta perlindungan kepada Alloh dari kejahatan mimpi tersebut dan dari kejahatan syaitan, kemudian meludah lah tiga kali dan jangan ia ceritakan kepada siapapun, sebab mimpi itu tidak akan mendatangkan kemudharatan&#8217;,&#8221;</em> (HR Bukhori [7044] dan Muslim [2261]).</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Diriwayatkan dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri r.a, &#8220;Bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda, <em>&#8216;Jika salah seorang kalian melihat mimpi yang ia sukai, sesungguhnya mimpi tersebut dari Allah, hendaklah ia memuji Allah atas mimpi tersebut dan silahkan beritahu orang lain. Dan apabila ia melihat mimpi yang tidak ia sukai, sesungguhnya mimpi tersebut dari syaitan, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Alloh dari kejahatan mimpi tersebut dan jangan ia ceritakan kepada siapapun, sebab mimpi tersebut tidak akan mendatangkan mudharat&#8217;,&#8221;</em> (HR Bukhari [7045]).</div>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a, &#8220;Bahwasanya rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam didatangi seorang Arab Badui dan berkata, &#8216;Aku bermimpi bahwa kepalaku dipenggal lalu akui mengikuti kepalaku yang menggelinding.&#8217; Kemudian Nabi saw. mencela Arab Badui tersebut dan bersabda, &#8216;<em>Jangan engkau ceritakan kisah syaitan yang mempermainkanmu disaat engkau tidur&#8217;,</em>&#8221; (HR Muslim [2268]).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><strong>Kandungan Bab:</strong></p>
<ol>
<li>Mimpi buruk merupakan permainan syaitan terhadap manusia, agar manusia merasa sedih karena timbul  pada dirinya prasangka buruk kepada Allah.</li>
<li>Barangsiapa melihat mimpi yang tidak ia sukai maka hendaklah ia melaksanakan apa yang tercantum dalam sunnah untuk mengusir was-was dan menolak tipu daya syaitan. Yaitu: a) Melaksanakan shalat. b) Memohon perlindungan kepada Alloh dari kejahatan mimpi dan kejahatan syaitan. c) Meludah ke sebelah kiri sebanyak tiga kali. d). Mengubah posisi tidur dari posisi semula. e) Jangan ia ceritakan mimpi buruk tersebut kepada siapapun.</li>
</ol>
<p>Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata dalam kitabnya <em>Zaadul Maa&#8217;ad</em> (II/457), &#8220;Perintahkan agar ia melaksanakan lima hal: 1) Meludah ke sebelah kiri. 2) Memohon perlindungan kepada Alloh dari gangguan syaitan. 3) Jangan ia ceritkan kepada siapapun. 4) Merubah posisi tidurnya. 5) Bangkit berdiri melaknsakan shalat. Barangsiapa melakukan lima hal itu maka mimpi buruk itu tidak akan memudharatkannya sedikitpun, bahkan dapat menolak kejelekan mimpi tersebut.&#8221;</p>
</div>
<p>Diadaptasi dari <em>Al-Manaahisy Syar&#8217;iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah</em>, <em> </em> atau <em>Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah</em>, karya Salim bin &#8216;Ied al-Hilali,<em> </em> terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi&#8217;i, 2006), hlm. 3/515-518.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Flarangan-menceritakan-mimpi-buruk%2F&amp;title=Larangan%20Menceritakan%20Mimpi%20Buruk" id="wpa2a_4"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/larangan-menceritakan-mimpi-buruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dibolehkannya Memberi Kuniyah Untuk Seorang Wanita Dengan Ummu Fulan Dan Ummu Fulanah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/dibolehkannya-memberi-kuniyah-untuk-seorang-wanita-dengan-ummu-fulan-dan-ummu-fulanah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/dibolehkannya-memberi-kuniyah-untuk-seorang-wanita-dengan-ummu-fulan-dan-ummu-fulanah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Feb 2011 16:09:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1487</guid>
		<description><![CDATA[Ketahuilah bahwa semua ini tidak dilarang, dan banyak orang dari golongan tokoh salaf yang utama dari para sahabat dan tabi&#8217;in serta orang-orang sesudahnya telah menggunakan kuniyah dengan kuniyah Abu Fulanah. Di antara mereka adalah: Utsman bin Affan radiyallahu &#8216;anhu, dia mempunyai tiga kuniyah: Abu Amr, Abu Abdillah dan Abu Laila. Di antara mereka juga: Abu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketahuilah bahwa semua ini tidak dilarang, dan banyak orang dari golongan tokoh salaf yang utama dari para sahabat dan tabi&#8217;in serta orang-orang sesudahnya telah menggunakan <em>kuniyah</em> dengan <em>kuniyah</em> Abu Fulanah.</p>
<p>Di antara mereka adalah: Utsman bin Affan <em>radiyallahu &#8216;anhu</em>, dia mempunyai tiga <em>kuniyah</em>: Abu Amr, Abu Abdillah dan Abu Laila. Di antara mereka juga: Abu ad-Darda` dan istrinya, Ummu ad-Darda` al-Kubra, seorang shahabiyah yang bernama Khairah, dan istrinya yang lain Ummu ad-Darda` ash-Shughra, namanya Hujaimah, dia mempunyai kedudukan yang tinggi, pakar fikih yang utama yang digambarkan mempunyai wawasan yang luas dan keutamaan yang unggul, dan dia adalah seorang tabi&#8217;iyah. Dan di antara mereka juga: Abu Laila, ayah dari Abdurrahman bin Abi Laila, dan istrinya, Ummu Laila. Abu Laila dan istrinya, keduanya termasuk golongan sahabat. Dan di antara mereka juga: Abu Umamah dan sejumlah golongan dari sahabat. Dan di antara mereka juga: Abu Raihanah, Abu Rimtsah, Abu Rimah, Abu Amrah Basyir bin Amr, Abu Fathimah al-Laitsi, dalam riwayat lain dikatakan namanya adalah Abdullah bin Unais, juga Abu Maryam al-Azdi, Abu Ruqayyah Tamim ad-Dari, Abu Karimah al-Miqdam bin Ma&#8217;dikarib; mereka semua termasuk golongan sahabat.</p>
<p>Sedangkan dari golongan tabi&#8217;in: Abu Aisyah Masruq bin al-Ajda&#8217; dan sejumlah orang yang tidak bisa dihitung jumlahnya. As-Sam&#8217;ani berkata dalam <em>al-Anshab</em>, &#8220;Dia dinamakan Masruq karena dia pernah diculik orang sewaktu kecil kemudian ditemukan.&#8221;</p>
<p>Dan terdapat dalam hadits-hadits shahih mengenai pemberian kuniyah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam untuk Abu Hurairah dengan sebutan Abu Hurairah. Dan hadits-hadits tersebut sangat banyak, dan beberapa hadits darinya terdapat dalam <em>as-Shahihain</em>.</p>
<p><strong>Sumber :</strong> Ensiklopedia Dzikir Dan Do’a, Imam Nawawi, Pustaka Sahifa Jakarta. Disadur  oleh Yusuf Al-Lomboky</p>
<p>http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatdoa&#038;id=326</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fdibolehkannya-memberi-kuniyah-untuk-seorang-wanita-dengan-ummu-fulan-dan-ummu-fulanah%2F&amp;title=Dibolehkannya%20Memberi%20Kuniyah%20Untuk%20Seorang%20Wanita%20Dengan%20Ummu%20Fulan%20Dan%20Ummu%20Fulanah" id="wpa2a_6"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/dibolehkannya-memberi-kuniyah-untuk-seorang-wanita-dengan-ummu-fulan-dan-ummu-fulanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SURAT TERBUKA UNTUK SANG ARTIS</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/surat-terbuka-untuk-sang-artis/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/surat-terbuka-untuk-sang-artis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Jan 2011 19:01:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1438</guid>
		<description><![CDATA[Di  masa  lalu,   umat  ini   pernah  menghasilkan  banyak ulama,  pemimpin besar,   syuhada  dan   sastrawan. Ketika  itu,   Barat  hanya   bisa  menghasilkan penyamun, penyeru kejahatan, penyelundup narkotika dan penjagal manusia. Lalu keadaan berubah. Jadilah umat ini menghasilkan artis serta penyanyi. Jadilah Barat menghasilkan inovator, penemu, dokter serta insinyur. Lalu, apa yang telah diperbuat seni terhadap kita? Dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di  masa  lalu,   umat  ini   pernah  menghasilkan  banyak ulama,  pemimpin besar,   syuhada  dan   sastrawan. Ketika  itu,   Barat  hanya   bisa  menghasilkan penyamun, penyeru kejahatan, penyelundup narkotika dan penjagal manusia. Lalu keadaan berubah. Jadilah umat ini menghasilkan artis serta penyanyi. Jadilah Barat menghasilkan inovator, penemu, dokter serta insinyur.</p>
<p>Lalu, apa yang telah diperbuat seni terhadap kita? Dan apa pula yang telah kita lakukan bersama-sama seni? Keadaan umat ini telah berubah, sehingga menjadi terbelakang, padahal dulunya pernah memimpin dunia. Umat ini menjadi berada pada titik nadir, padahal dulunya pernah berada pada puncak tertinggi. Umat ini menjadi bawahan, padahal dulunya pemimpin. Seorang penyair berkata, “Begitu banyak “tangan“ yang mengatur kita Padahal dulu kita yang mengaturnya Ada bangsa yang menguasai kita Padahal dulu kita yang menguasainya.” Dalam hal ini, ada beberapa hal ikhwal seputar para artis: Mereka mengistilahkan salah satunya sebagai “artis yang lagi naik daun”, padahal mereka sedang menurun. Mereka mengistilahkannya “sang bintang”, bintang yang sedang berkilau, padahal sebenarnya ia tanpa cahaya.</p>
<p>Berbagai media informasi menghidupi mereka dan manyalakan cahanya pagi sore. Ketika itu, media informasi memadamkan cahaya para ulama, para<br />
penuntut ilmu dan dai-dai. Lalu apa yang dibawa seni untuk umat ini? Wahai kaum Muslimin, wahai para cendekiawan, wahai para pemikir! Apakah seni telah mengentaskan kemiskinan, keterbelakangan, kelaparan, bid’ah dan khurafat dari dunia Islam? Apakah seni telah mengajarkan orang-orang yang tak berilmu, baik di kota-kota maupun di desa-desa? Apakah mereka telah memberi makan orang-orang yang kelaparan itu, memberikan pakaian kepada orang-orang yang masih telanjang itu, serta memberikan minuman orang-orang yang kehausan itu? Apakah jutaan orang yang menghabiskan waktu dan biaya secara sia-sia telah memberikan andil dalam pembangunan masjid-masjid, sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit?<br />
Apakah seni bisa mengembalikan Palestina kepada kita, sementara beribu-ribu orang Islam berebutan mengelilingi sang artis pria masa kini dan sang artis wanita nomor wahid? Apakah seni bisa mengembalikan Andalusia (Spanyol)? Apakah seni telah mengisinya dengan berbagai perangkat modern yang semuanya justru diimpor dari musuh kita?<br />
Berbagai media informasi setiap hari selalu berkata, “Kabar gembira dengan munculnya sang artis yang karirnya sedang menanjak, yang datang membawa<br />
cahaya baru dengan seni dan suaranya yang merdu. “ Suara yang merdu itu Allahlah yang menciptakannya.</p>
<p>Allah Iberfirman, artinya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”(QS. At-Tin: 4).</p>
<p>Mujahid menafsirkan, “Yaitu suara yang indah.”Allahlah yang memberikan suara indah itu. Apakah diberikan-Nya untuk orang-orang yang bercinta dan para penyanyi? Tidak! Tetapi diberikannya untuk sebuah hikmah. Suara itu seperti kekuatan tubuh, kekuatan ingatan, harta dan anak. Apabila tidak digunakan untuk menaati Allah, maka tidak terdapat kebaikan di dalamnya. Kelak seorang hamba akan dihisab (dihitung amal perbuatannya) berkaitan dengan hal itu.<br />
Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam bersabda,</p>
<div>
<p>{لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ}</p>
</div>
<p>“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak melantunkan al-Qur’an dengan suara indah.”(HR. Bukhari).</p>
<p>Maksudnya, menggunakan suara indahnya untuk membaca al-Qur’an dengan tartil (pelan-pelan dan memperhatikan tajwidnya). Abu Musa tindah suaranya. Suaranya bisa begitu menawan hati. Lalu,apakah Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam menyuruhnya untuk melantunkan beberapa kumpulan syair cinta picisan dan komedi? Tidak, namun Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam menjadikan Abu Musa sebagai qari’ (pembaca Al Qur’an).</p>
<p>Pada suatu malam, Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam berjalan, lalu mendengar suara Abu Musa.Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam cukup lama berdiri mendengarkannya. Beliau bersabda,</p>
<p>“Wahai Abu Musa, kamu benar-benar telah dikaruniai salah satu tembang keluarga Dawud. Kalaulah kamu melihatku kemarin sedang mendengarkan suaramu.“ Kata Abu<br />
Musa, “Wahai Rasulullah, engkau benar-benar mendengarkan bacaanku?“ Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam menjawab, “Benar, demi Rabb yang diriku berada dalam<br />
tangan-Nya “ Abu Musa berkata, “Demi Allah Subhanahu Wata&#8217;alaang tidak ada Rabb selain Dia, Wahai Rasulullah, kalaulah aku tahu engkau mendengarkanku, pasti suaraku benar-benar kuhias untukmu.“</p>
<p>Artinya, kuperbagus, kuperindah dan kujadikan lebih mengagumkan. Karenanya, suara yang bagus itu digunakan untuk membaca Kitabullah. Dengan suara itu, al-Qur’an itu dibaca secara tartil. Hanya untuk Kitabullah, bukan untuk yang lain.<br />
Selanjutnya, Anda bisa menjawab pertanyaan ini, “Apa pentingnya artis dalam kehidupan ini? Kalau insinyur, kita tahu jerih payahnya. Begitu juga<br />
halnya dokter, karyawan, pedagang, petani dan juga tentara. Pokoknya, selain artis. Adapun artis, kita tidak pernah tahu manfaat pekerjaannya kecuali untuk<br />
merusak masyarakat, menghancurkan akhlak, menggelitik perasaan, membangkitkan nafsu, membuat orang suka berbuat nista, menodai kehormatan, mendekatkan kepada zina, serta melalaikan generasi harapan umat ini.<br />
Seperti inilah tugas para artis dalam kehidupan ini.  Lantas, siapa yang bertanggung jawab terhadap munculnya generasi artis yang terlena, terbuai, tidak mengetahui agama dan tugasnya dalam kehidupan ini? Apakah ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam mencetak generasi demikian? Demi Allah, Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam diutus hanya untuk mengokohkan negeri-negeri tauhid dan menyebarkan kemuliaan di dunia ini.<br />
Darah kaum Muslimin di Palestina, di Afganistan dan setiap negeri Allah tumpah, sementara musik dan nyanyian di negeri-negeri lainnya dimainkan dan disanjung. Benarkah hal seperti ini? Seorang penyair berkata, “Darah orang-orang shalat di mihrab mengalir Kaum Muslimin tidak menghalangi Tak ada berita Bila yang kalah jiwa berbangga dengan piramid-piramid kita, piramid-piramid kita adalah Salman atau Umar Piramid-piramid kita dibangun Thaha (Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam ) Penyangga-penyangganya wahyu dari Ar-Rahman Bukan tanah, bukan batu.”</p>
<p>Inilah piramid-piramid kita, inilah seni kita, inilah bintang-bintang kita: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali—ridhwanullahi ‘alihim ‘ajmain—Ibnu Taimiyah, as-Syafi’i, Malik, Ahmad serta Ibnul Qayyim. Sedangkan orang-orang yang terjerumus tadi bukanlah bintang-bintang umat Islam. Mereka hanyalah kuli kenistaan dan perusak di negeri Islam. Anda bisa menemukan sebagian mereka ada yang telah mencapai usia delapan puluh tahun dan masih bernyanyi.<br />
Sementara, banyak di antara ulama dan orang-orang shaleh sudah memakai kain kafan di usia mereka yang ke enam puluh. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Barangsiapa yang diberikan Allah usia sampai enam puluh tahun, maka hendaklah orang itu memakai kain kafan dan bersiap-siap masuk kubur.”<br />
Karenanya, orang yang paling pantas dihormati adalah orang-orang yang mempersembahkan ilmu pengetahuan dan memberi kontribusi bagi manusia. Mereka menyejahterkan manusia lewat kesungguhannya, mempertahankan kemaslahatan manusia, serta berusaha mewujudkan perdamaian hakiki di muka bumi. Mereka juga menolak berbagai kriminalitas dan kenistaan dari kehidupan umat ini. Mereka inilah orang-orang yang lebih pantas dihormati dan dimuliakan. Bukan orang-orang yang terjerumus, bukan golongan-golongan yang berbuat sia-sia, bukan pula ribuan orang yang berada di auditorium menyanjung para artis dan bertepuk tangan untuk mereka.<br />
Ribuan orang itu menyia-nyiakan malam dan shalat, tidak menghadiri pengajian dan ceramah-ceramah agama. Tidak shalat Jumat, apalagi shalat berjamaah. Mereka pun turut membesarkan para artis. Inilah artis. Masihkah kita menjadikan mereka sebagai idola ?</p>
<p>Al-Fikrah edisi 06 Tahun XII/16 Shafar 1432 H</p>
<p>http://www.wahdah.or.id/</p>
<p id="__mce">
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fsurat-terbuka-untuk-sang-artis%2F&amp;title=SURAT%20TERBUKA%20UNTUK%20SANG%20ARTIS" id="wpa2a_8"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/surat-terbuka-untuk-sang-artis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Biarkan Pornografi Merenggut Kepolosan Anak-anak Kita</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/jangan-biarkan-pornografi-merenggut-kepolosan-anak-anak-kita/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/jangan-biarkan-pornografi-merenggut-kepolosan-anak-anak-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 14:51:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1421</guid>
		<description><![CDATA[(Oleh-oleh dari Seminar Sex &#38; Financial Planning) Senang sekali pagi tadi (Sabtu, 15/1) dapat berjumpa dengan Bunda Elly Risman dalam seminar “Sex &#38; Financial Planning” di Universitas Paramadina. Meski telat, begitu masuk ruangan, saya sudah disuguhi dengan data dan fakta bahwa anak-anak usia SD di negeri kita tercinta ini sudah banyak yang melakukan seks bebas. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>(Oleh-oleh dari Seminar Sex &amp; Financial Planning)</em></p>
<p>Senang sekali pagi tadi (Sabtu, 15/1) dapat berjumpa dengan Bunda Elly Risman dalam seminar “Sex &amp; Financial Planning” di Universitas Paramadina. Meski telat, begitu masuk ruangan, saya sudah disuguhi dengan data dan fakta bahwa anak-anak usia SD di negeri kita tercinta ini sudah banyak yang melakukan seks bebas.</p>
<p>Bayangkan, usia SD! Saya hanya bisa mengelus dada melihat tampilan di layar proyektor yang menyajikan berbagai headline dari surat kabar mengenai kasus seks bebas yang menimpa anak-anak SD itu. Mereka tidak hanya menjadi korban, tapi banyak yang menjadi pelaku. Ada anak yang memperkosa teman sekelasnya, dsb.</p>
<p>Mungkin Anda tidak percaya, tapi survey yang dilakukan oleh Bunda Elly selama tahun 2008—2010 kepada anak-anak usia SD (kelas 4,5, dan 6) menyimpulkan bahwa mereka sudah kenal seks, dari yang ‘kelas ringan’ hingga ‘kelas berat’. Dalam survey itu, anak-anak juga diminta untuk menuliskan pertanyaan yang terkait dengan seks.</p>
<p>Rupanya, banyak istilah seks yang mereka tanyakan, yang aneh-aneh, yang saya sendiri juga tak sanggup menuliskannya di sini. Astaghfirullah! Ayah, Bunda, ke mana saja engkau selama ini…</p>
<p>Bunda Elly kemudian menjelaskan dengan rinci dari mana saja sumber pornografi itu dapat diakses oleh anak-anak. Tentu saja, media sangat berperan. HP, internet, games, televisi, koran, majalah, vcd, semua dapat diakses dengan mudah, kapan saja, di mana saja. Ayah, Bunda yang memberikan hape untuk putra/inya agaknya harus berpikir seribu kali mengenai dampaknya. Banyak video asusila dan adegan-adegan tak pantas dapat dengan mudah berpindah dari satu hape ke hape lainnya.</p>
<p>Belum lagi fasilitas internet yang hanya dengan sekali klik, ribuan situs porno dapat terakses. Sebagai catatan, ratusan situs porno bermunculan setiap minggunya. Bayangkan, ketika anak kita diberikan tugas Biologi mengenai nyamuk dan lalat, misalnya, mereka dapat dengan tidak sengaja mengakses situs porno karena situs ‘nyamuk**.com’ dan ‘lalat**.com’ salah satu situs porno. Ada beberapa situs porno yang paling banyak diakses oleh anak-anak, di antaranya: ***tube.com dan naruto***.com.</p>
<p>Selain internet, games juga jadi media porno yang efektif untuk anak-anak, lihat saja games GTA San Andreas dan Sims I &amp; II yang banyak dimainkan oleh anak-anak tanpa pengawasan kita, bahkan kita sendiri pun belum tentu tahu games itu.</p>
<p>Baru-baru ini juga ada sebuah games yang diluncurkan, yaitu Rape Lay, yang banyak dikecam di dunia internasional karena menampilkan gambar-gambar seronok dengan vulgar dan jalan ceritanya pun memang dikondisikan seperti itu. Lihat saja dari judulnya, Rape Lay = Rape Play.</p>
<p><em>Naudzubillahi min dzalik</em> kalau sampai anak-anak kita mengakses games itu. Ayah, Bunda, menjadi catatan juga untuk orang tua yang memperkenankan anak-anaknya untuk bermain di warnet dan games center. Untuk menarik fulus dari anak-anak, bahkan ada warnet yang menawarkan paket ‘Durhaka’, yakni dari Jumat malam hingga hari Minggu, anak-anak bisa main games sepuasnya ditambah disediakan makanan dan minuman pula hanya dengan membayar Rp50 ribu! MasyaAllah, jangan sampai kita jadi orang tua yang membiarkan anak-anak seperti itu.</p>
<p>Belum lagi dari televisi. Beberapa film kartun yang ditonton anak-anak juga merupakan sarana penyebaran pornografi, misalnya: Sinchan, Naruto, bahkan Popeye. Sinetron remaja juga setali tiga uang, bahkan tak segan menampilkan adegan ciuman oleh pelajar SMP! Ayah, Bunda, tak heran ya, jika begitu marak kasus seks bebas dan pornografi melanda anak-anak kita. Jangan kaget juga kalau belasan siswi di salah satu SMP negeri di Jakarta juga ketauan berprofesi sebagai PSK.</p>
<p>Dahsyatnya serbuan pornografi kepada anak-anak kita ternyata tak disadari oleh sebagian besar orang tua (dan mungkin kita termasuk di dalamnya). Ayah dan Bunda terjebak dalam pola lama, yaitu Ayah mencari nafkah, Bunda mengasuh anak. Ortu mengekspor tanggung jawab dengan menyekolahkan anak ke SDIT atau sekolah Islam lain. Saking sibuknya ortu, waktu akhir pekan pun malah diisi dengan ‘menceramahi’ anak ini-itu yang membuat jarak ortu dengan anak semakin jauh.</p>
<p>Ayah, Bunda, sadarkah kita dengan pola asuh yang kita terapkan selama ini? Anak-anak ‘berteriak’ minta diberikan pendidikan seks sejak dini, tapi kita masih tabu dan saru membicarakannya. Akankah kita berdiam diri saja, membeo, atau mengulang sejarah yang kelam?! Tidak.</p>
<p>Kini saatnya, Ayah dan Bunda mengubah pikiran, bahwa mengasuh anak yang merupakan anugerah Tuhan yang paling berharga adalah tanggung jawab dunia akhirat. Kelak, kita akan ditanyai pada hari kiamat, bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Bagaimana cita-cita kita ingin menjadikan anak soleh-soleha, berguna bagi nusa dan bangsa, jika Ayah dan Bunda terus saja menuntut prestasi akademis tapi membiarkan jiwa sang anak labil tanpa pegangan agama?!</p>
<p>Sebagai solusi, Bunda Elly memberikan kiat dasar mengajarkan seksualitas sejak dini. (Ingat, seks dan seksualitas itu berbeda). <strong>Pertama</strong>, jangan borongan: mulai dari sedini mungkin, misal: anak usia 3-5 tahun diberikan pengetahuan tentang laki-laki dan perempuan. <strong>Kedua</strong>, hadirkan Allah selalu dalam berkomunikasi dan memberikan pengetahuan kepada anak. <strong>Ketiga</strong>, jangan pernah ekspor tanggung jawab sebagai ortu kepada sekolah. <strong>Keempat</strong>, perhatikan konsep diri anak, jangan sampai anak minder dan mempunyai konsep diri yang buruk karena omongan ortunya yang merendahkan. <strong>Kelima</strong>, biasakan anak untuk berpikir kritis. <strong>Keenam</strong>, jadilah model dan teladan yang baik untuk anak-anak, jangan sampai anak malah meniru para artis sebagai panutannya. <strong>Ketujuh</strong>, terlibat penuh dalam perkembangan anak, selalu tanya pendapatnya mengenai suatu hal.</p>
<p>Sebagai catatan, ortu juga mesti menuntaskan pengetahuan tentang <em>Thaharah</em> (bersuci) sebelum si anak berumur 10 tahun. Pada masa sekarang, karena gizi yang semakin baik, anak-anak ada yang mencapai baligh pada usia 9 tahun (perempuan) atau 10-11 tahun (laki-laki).</p>
<p>Maka, ortu harus memberikan pemahaman mengenai apa itu haid/menstruasi atau mimpi basah kepada anak dan apa konsekuensinya. Dalam Islam, kita diajarkan untuk bersuci atau mandi wajib setelah terjadi hal tersebut agar dapat melaksanakan ibadah seperti biasa. Ajarkan pula kepada anak mengenai hal itu.</p>
<p>Yang paling penting, ortu harus kompak memantau perkembangan anak dan jalin komunikasi yang baik dengan anak sehingga anak tidak mencari pelarian lain. Buat tabel kurikulum pendidikan seks untuk tiap anak yang berisi kegiatan yang akan dilakukan, siapa mentornya, dan kapan dilaksanakan.</p>
<p>Misalnya, penjelasan mengenai dampak positif dan negatif internet, PS, HP, TV kepada anak-anak. Dalam menghadapi pertanyaan yang aneh-aneh dari anak, biasakan untuk tetap tenang, dan cek dahulu pemahaman anak, baru menjawab pertanyaan dengan sederhana dan sesuaikan dengan usia serta perkembangan anak.</p>
<p>Semoga tulisan ini dapat menjadi renungan untuk Ayah, Bunda, dan teman-teman semua. Ayah, Bunda yang sudah menjadi orang tua, mulai saat ini, ubahlah pola asuh anak dan tanamkan agama sejak dini. Buat yang sudah menikah, saatnya untuk menimba ilmu tentang pola pengasuhan anak yang baik dan rencanakan bagaimana cara yang efektif mendidik anak.</p>
<p>Bagi teman-teman yang belum menikah, terus perbaiki diri dan mencari pasangan hidup yang baik agamanya karena sangat menentukan bagaimana generasi yang akan kita lahirkan kelak. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Indah P. Rukmi </strong>(calon Bunda yang sedang belajar menjadi orang tua)</p>
<p>http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/jangan-biarkan-pornografi-merenggut-kepolosan-anak-anak-kita.htm</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fjangan-biarkan-pornografi-merenggut-kepolosan-anak-anak-kita%2F&amp;title=Jangan%20Biarkan%20Pornografi%20Merenggut%20Kepolosan%20Anak-anak%20Kita" id="wpa2a_10"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/jangan-biarkan-pornografi-merenggut-kepolosan-anak-anak-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Bisnis dan Ukhuwah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/antara-bisnis-dan-ukhuwah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/antara-bisnis-dan-ukhuwah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 22:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1386</guid>
		<description><![CDATA[Semangat berukhuwah yang menggelora ternyata tak jarang memunculkan  masalah. Di antaranya sebuah fenomena, sebagian kaum muslimin, saat melakukan muamalah dengan saudaranya sesama muslim, kurang menjaga komitmen terhadap aturan-aturan syariat. Semangat ukhuwah adalah sebuah keharusan dan tuntutan. Ia adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya yang shaleh. Tapi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semangat berukhuwah yang menggelora ternyata tak jarang memunculkan  masalah. Di antaranya sebuah fenomena, sebagian kaum muslimin, saat melakukan muamalah dengan saudaranya sesama muslim, kurang menjaga komitmen terhadap aturan-aturan syariat.</p>
<p>Semangat ukhuwah adalah sebuah keharusan dan tuntutan. Ia adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya yang shaleh. Tapi, semangat yang menggelora itu tidak boleh mengalahkan aturan-aturan syariat, sehingga menyebabkan muamalah menjadi haram.<br />
Nyatanya, muamalah-muamalah yang  terjadi antar sesama ikhwah (saudara) telah terkotori oleh berbagai pelanggaran syariat. Di antaranya adalah:</p>
<p><span id="more-1386"></span><br />
<strong>1. Tidak mencatat utang dan pinjaman</strong><br />
Seorang  muslim meminjamkan sejumlah harta kepada saudaranya sampai batas waktu tertentu yang disepakati tanpa mencatatnya. Ia mengira bahwa permintaan untuk mencatat akan mengurangi nilai ukhuwah. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah memerintahkan kita untuk mencatat utang. Allah Subhanahu  wa Ta&#8217;ala berfirman, artinya,</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,  hendaklah kamu menuliskannya…”</em>(QS. al-Baqarah: 282).</p>
<p>Utang yang tak dicatat akan berdampak pada hilangnya banyak hak, sebab umur manusia ada di tangan Allah. Selain itu juga dapat memunculkan kecurigaan, keraguan, dan rusaknya jalinan ukhuwah saat terjadi kelupaan  dan kesalahan.<br />
<strong>2. Memanfaatkan rasa malu dan rasa tidak enak</strong><br />
Seorang  akh (saudara) memperlambat pembayaran atau penunaian hak-hak yang menjadi tanggungannya, padahal ia mampu. Dalam hal ini ia mengeksploitasi rasa malu dan rasa tidak enak saudaranya.</p>
<p>Ini merupakan pelanggaran syariat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, karena Rasulullah Shallallahu A&#8217;laihi Wasallam telah menjelaskan dengan sabdanya,</p>
<div>
<p>{ مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ  }</p>
</div>
<p>“Penundaan seorang yang mampu adalah kezhaliman.” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Orang  mampu yang memperlambat penunaian hak yang menjadi kewajibannya haruslah dihukum. Dasarnya adalah hadits Rasulullah Shallallahu A&#8217;laihi Wasallam:</p>
<div>
<p>{ لَيُّ الْوَاجِِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوْبَتَهُ }</p>
</div>
<p>“Penundaan  orang yang sudah berpunya (mampu membayar) menghalalkan harga dirinya dan menghalalkan penimpaan hukuman padanya.”(HR. Bukhari secara mu’allaq  dan di-maushul-kan oleh Ahmad, Ishaq, Abu Dawud dan An-Nasa’i dan berkata Syaikh al-Albani sanadnya hasan).</p>
<p>Karena itu, tidak pantas seorang muslim memanfaatkan perasaan malu saudaranya dan rasa tidak enaknya, lalu ia mengambil sesuatu darinya yang ia tidak berhak atasnya, atau ia memperlambat diri dalam membayar hak-hak yang menjadi tanggungannya kepada saudara-saudaranya, padahal ia mampu.<br />
Justru ukhuwah yang jujur seharusnya mendorongnya untuk menjaga harta saudaranya, dan ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.</p>
<p><strong>3. Tidak menghitung saat menerima harta atau uang dari orang lain</strong><br />
Sering  sekali seorang akh sembrono dalam masalah menghitung harta atau uang saat menerima dari saudaranya, ia berprasangka bahwa hal ini akan memengaruhi hubungan persaudaraan, atau akan menyinggung kejujuran dan amanah.<br />
Saat seorang muslim menghitung hartanya di kemudian hari, ternyata jumlahnya kurang, ia kembali kepada saudaranya dan memberitahukannya tentang kekurangan ini. Nah, di sana ada banyak kemungkinan bagi munculnya kecurigaan. Hal ini sering sekali menyinggung  rasa persaudaraan.<br />
Saat seorang muslim menerima harta dari muslim lainnya, hitunglah terlebih dahulu di hadapannya. Dengan cara demikian, ia tetap menjaga semangat ukhuwah di antara keduanya.</p>
<p><strong>4. Memberikan rekomendasi kerja atas dasar perasaan<br />
</strong>Seorang  muslim memberikan rekomendasi kerja kepada saudaranya bertolak pada perasaan dan bukan atas dasar kecakapan. Maka dampak-dampak yang dapat ditimbulkannya adalah kualitas pelaksanaan menurun, produktivitas melemah dan kesulitan mencari jalan keluar darinya (memecatnya) karena takut menyinggung rasa ukhuwah dan cinta kasih karena Allah.<br />
Dalam hal ini terdapat pelanggaran syariat Allah, di mana amanah dalam memberikan rekomendasi hendaklah didasarkan pada nilai-nilai iman dan akhlak serta nilai-nilai kecakapan teknis. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah memerintahkan kepada kita agar seharusnya seleksi dan rekomendasi itu didasarkan pada al-qiyam (nilai, prestasi), al-quwwah (kekuatan, khususnya ilmu pengetahuan, dan kafa’ah (kecakapan). Landasan hal ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, artinya,</p>
<p><em>“Sesungguhnya  kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” Berkata Yusuf, “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”</em>(QS. Yusuf: 54-55).</p>
<p>Dan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, artinya,</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”</em>(QS. al-Qashash: 26).</p>
<p>Berkenaan dengan hal ini, Rasulullah Shallallahu A&#8217;laihi Wasallam bersabda,</p>
<p>“Siapa  yang menjadi penguasa atas suatu urusan kaum muslimin, lalu ia mengangkat seseorang menjadi penguasa (pegawai) atas mereka berdasarkan kolusi atau nepotisme, maka atasnya laknat Allah, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala tidak menerima darinya pertukaran (imbalan) atau ganti sehingga Dia memasukkannya ke dalam Neraka.” (HR. Ahmad dan al-Hakim, ia berkata “Isnadnya shohih”).</p>
<p>Inilah beberapa contoh yang menjelaskan adanya pemahaman yang keliru dalam pemahaman syariat Islam di bidang muamalah yang berkenaan dengan harta.<br />
Di sisi lain, ketika komitmen dengan aturan-aturan syariat telah dilakukan maka akan muncul berbagai fenomena ukhuwah antar sesama kaum muslimin dalam praktik-praktik muamalah maliyah (yang berkaitan dengan harta), seperti:</p>
<p><strong>1. Tidak akan bermuamalah dengan musuh-musuh Islam</strong><br />
Seorang  muslim akan mengutamakan bermuamalah dengan saudaranya sesama muslim secara hak dan adil. Sebab itu adalah wujud i’anah (membantu) dan taqwiyah (penguatan) kepadanya. Hal ini juga menjadi penyebab tumbuh dan  berkembangnya usaha-usaha mereka dalam menghadapi persaingan keras. Lebih-lebih lagi, dari musuh-musuh Islam dengan segala perbedaan manhaj dan bentuk mereka.<br />
Namun tidak berarti bahwa syariat Islam mengharamkan bermuamalah dengan non muslim selama  hubungan kita dengan mereka normal-normal saja, atau istilah fikihnya mereka bukan kafir harbi. Tapi, di sana ada skala prioritas.</p>
<p><strong>2. Tasamuh (toleran) dalam bermuamalah</strong><br />
Seorang  muslim harus toleran terhadap saudaranya dalam bermuamalah dan melaksanakan haknya, agar bisa menyuguhkan kepada orang banyak bagaimana  contoh muamalah-muamalah Islam. Dengan ini, kita telah melaksanakan wasiat Rasulullah Shallallahu A&#8217;laihi Wasallam yang bersabda,</p>
<div>
<p>{ رَحِمَ اللهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى }</p>
</div>
<p>“Semoga  Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala merahmati seorang lelaki yang mudah (toleran)  jika menjual, membeli dan menagih).” (HR. Bukhari).</p>
<p>Beliau juga bersabda,</p>
<div>
<p>{ إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنَكُمْ قَضَاءً }</p>
</div>
<p><em>“Orang-orang pilihan (baik) di antara kamu adalah orang-orang yang paling baik saat membayar utang.” </em>(HR. Bukhari Muslim).</p>
<p><strong>3. Memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan</strong><br />
Seorang  akh (saudara) muslim hendaknya toleran kepada saudaranya saat membayar (utang, tanggungan dan sebagainya) jika dia kesusahan atau kesulitan.<br />
Dasarnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, artinya,</p>
<p><em>“Dan  jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” </em>(QS. al-Baqarah: 280).</p>
<p>Rasulullah  Shallallahu A&#8217;laihi Wasallam telah berwasiat demikian saat bersabda, artinya,“Siapa yang memberi tenggang waktu kepada orang yang kesulitan atau kesusahan atau memutihkannya sama sekali, maka Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala akan menaunginya pada hari kiamat di bawah naungan ‘Arsy-Nya pada  hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya.”(HR. At-Tirmidzi).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4. Memberi murah (diskon) dan qana’ah (puas) dengan sedikit keuntungan<br />
</strong></p>
<p>Janganlah  seorang muslim  memanfaatkan hajat saudaranya kepada suatu barang atau sesuatu hal. Justru ia harus memberi kemurahan (diskon) kepadanya saat dia membutuhkannya. Ia harus qana’ah dan ridha dengan apa yang Allah berikan untuknya, sebab qana’ah adalah gudang yang tidak ada habisnya. Rasulullah Shallallahu A&#8217;laihi Wasallam telah bersabda,</p>
<p>{ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ }</p>
<p><em>“Telah  beruntung orang yang masuk Islam dan diberi rizki secukupnya, dan Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala memberikan sifat qana’ah atas apa yang Dia berikan kepadanya.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala senantiasa melimpahkan hidayah dan inayah-Nya kepada kita.</p>
<p>Diringkas dari Al-Iltizam bi al-Dhawabith al-Syar’iyyah fi al-Mu’amalat al-Maliyyah, Karya Dr. Husain Syahhatah</p>
<p>http://wahdah.or.id/</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fantara-bisnis-dan-ukhuwah%2F&amp;title=Antara%20Bisnis%20dan%20Ukhuwah" id="wpa2a_12"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/antara-bisnis-dan-ukhuwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak kecanduan pornografi cenderung menarik diri</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/anak-kecanduan-pornografi-cenderung-menarik-diri/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/anak-kecanduan-pornografi-cenderung-menarik-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 23:16:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[cenderung]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[kecanduan]]></category>
		<category><![CDATA[menarik]]></category>
		<category><![CDATA[pornografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=1093</guid>
		<description><![CDATA[REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA&#8211;Proses kencanduan pornografi sama dengan proses kencanduan narkoba. Orang yang kecanduan pornografi pun cenderung menyendiri. &#8221;Orang yang sudah kecanduan pornografi menarik diri dari komunitas,&#8221; ujar psikolog anak dan keluarga dari Utah Amerika Serikat, Randy Hyde di Jakarta, Jumat (1/10) Randy memaparkan, orang yang kecanduan pornografi menggunakan waktu berlebihan atau tidak tidur. Misalnya menonton situs [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA&#8211;Proses kencanduan pornografi sama dengan proses kencanduan narkoba. Orang yang kecanduan pornografi pun cenderung menyendiri.</p>
<p>&#8221;Orang yang sudah kecanduan pornografi menarik diri dari komunitas,&#8221; ujar psikolog anak dan keluarga dari Utah Amerika Serikat, Randy Hyde di Jakarta, Jumat (1/10)</p>
<p>Randy memaparkan, orang yang kecanduan pornografi menggunakan waktu berlebihan atau tidak tidur. Misalnya menonton situs porno di internet. Dan yang lebih parah para pecandu meninggalkan aktivitas penting seperti sekolah atau beribadah.</p>
<p><span id="more-1093"></span>Kemajuan teknologi, kata Randy, memang sangat mengagumkan tapi harus diingat ada baik dan buruknya. &#8221;Terus terang saja Amerika Serikat tidak siap dengan kemajuan teknologi,&#8221; tutur Randy.</p>
<p>Melalui internet orang semakin mudah mengakses pornografi. &#8221;Saat ini pornografi ada di mana-mana,&#8221; tambah Randy.</p>
<p>Randy mengaku sering menerima ibu-ibu di mana anaknya mulai kecanduan pornografi. Bahkan ada seorang ibu yang datang padanya mengatakan bahwa anak laki-lakinya bunuh diri. Dalam surat wasiatnya si anak mengaku tidak sanggup keluar dari kecanduan pada pornografi.</p>
<p>http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/10/10/01/137662-anak-kencanduan-pornografi-cenderung-menarik-diri</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fanak-kecanduan-pornografi-cenderung-menarik-diri%2F&amp;title=Anak%20kecanduan%20pornografi%20cenderung%20menarik%20diri" id="wpa2a_14"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/anak-kecanduan-pornografi-cenderung-menarik-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Segeralah Beramal Dalam Detik-DetikYang Tersisa Ini!</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/segeralah-beramal-dalam-detik-detikyang-tersisa-ini/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/segeralah-beramal-dalam-detik-detikyang-tersisa-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 00:09:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Beramal]]></category>
		<category><![CDATA[Detik]]></category>
		<category><![CDATA[Segeralah]]></category>
		<category><![CDATA[Tersisa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=653</guid>
		<description><![CDATA[Berbicaralah tentang dunia. Bertanyalah tentangnya. Maka jika engkau dituntun untuk menemukan jawaban yang hakiki, engkau akan dituntun pada satu jawaban. Bahwa ia –dunia itu- hanyalah bayangan yang tidak lama lagi akan hilang. Bahwa ia hanyalah setetes air bila dibandingkan lautan luas tak bertepi. Sebanyak apapun yang engkau rengkuh di sini, di dunia ini, maka ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbicaralah tentang dunia. Bertanyalah tentangnya. Maka jika engkau dituntun untuk menemukan jawaban yang hakiki, engkau akan dituntun pada satu jawaban. Bahwa ia –dunia itu- hanyalah bayangan yang tidak lama lagi akan hilang. Bahwa ia hanyalah setetes air bila dibandingkan lautan  luas tak bertepi.</p>
<p>Sebanyak apapun yang engkau rengkuh di sini, di dunia ini, maka ia hanya  setetes. Oh, tidak. Bahkan kurang dari setetes. Karena setetes itu  adalah untuk dunia seluruhnya, sementara engkau tak memiliki dunia  seluruhnya. Hanya sepersekian dunia ini yang sanggup engkau nikmati.</p>
<p>Duhai, betapa celakanya engkau jika kau sangka dunia ini telah  menjadi segala-galanya. Tidak, sahabat. Di sini, di tempat bernama dunia  ini, tidak ada yang segala-galanya. Hanya manusia yang tak percaya  keabadian akhirat yang akan menjadikan dunia ini segala-galanya.  Ingatlah, dunia yang kau lihat gemerlap ini hanya bayangan. Hanya  setetes air. Hanya beberapa nafas. Hanya beberapa tahun. Dan setelah  itu, engkau akan memasuki gerbang keabadian. Di sana, -dengan limpahan  RahmatNya padamu- hanya amalanmu yang akan menuntunmu menaiki anak-anak  tangga kebahagiaan. Menuju surga, yang kenikmatannya tak pernah  disaksikan oleh pandangan mata siapapun, tak pernah didengarkan oleh  telinga siapapun jua dan tak pernah terbetik dalam pikiran dan hati  makhluq manapun.<br />
<span id="more-653"></span><br />
Tapi, di sinilah, di tempat bernama dunia inilah engkau menyemainya.  Dunia ini adalah ladang akhiratmu. Di sinilah sumber kebahagiaan dan  keberuntunganmu di akhirat. Hanya di sini engkau diizinkan olehNya untuk  mengumpulkan bekal yang menguntungkanmu di sana. Di sinilah arena dan  gelanggang para muttaqin, shiddiqin dan syuhada’  berlomba menuju  ampunan Rabb mereka.</p>
<p>Hmm, kalau saja engkau tahu, dunia inilah yang selalu menjadi  angan-angan para penduduk Surga dan para penghuni Neraka. Allah Ta’ala  mengatakan tentang penghuni Neraka : “Dan jika kamu (Muhammad) melihat  ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata : “Kiranya kami  dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami serta  menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah engkau –Muhammad- akan  melihat suatu peristiwa yang memilukan.” (QS. 6 : 27)</p>
<p>Dalam ayat lain dikatakan : “Dan mereka (para penghuni neraka) itu  berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (ke  dunia), niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berbeda dengan  dahulu telah kami kerjakan.” (QS. 35 : 37)</p>
<p>Angan-angan yang sia-sia belaka…Hari-hari dunia adalah hari-hari  ‘amal, bukan perhitungan dan pembalasan. Tapi hari-hari akhirat adalah  hari-hari perhitungan dan pembalasan, bukan ‘amal !</p>
<p>Tentang penghuni surga yang mengangankan dunia, ‘Abdullah ibn Mas’ud  radhiallahu ‘anhu meriwayatkan : “ Sesungguhnya para syuhada’ itu  bagaikan burung-burung hijau yang lepas bebas di surga ke mana saja ia  mau. Kemudian ia akan kembali pada pelita-pelita yang bergantungan di  ‘arsy. Dan ketika mereka berada dalam keadaan seperti itu, muncullah  Rabb mereka di hadapan mereka seraya berkata : “Wahai hamba-hambaKu,  mintalah kepadaKu apa saja yang kalian inginkan !”.<br />
Mereka pun berkata : “Wahai Rabb kami ! Kami meminta padaMu agar Engkau  mengembalikan ruh kami ke dalam jasad kami, lalu Engkau kembalikan kami  ke dunia hingga kami dibunuh sekali lagi di sana (di jalanMu).”<br />
Maka tatkala Allah melihat bahwa mereka tidak meminta selain hal itu,  Dia pun meninggalkan mereka.” ( HR. Muslim)</p>
<p>Allah telah mengetahui bahwa mereka, para syuhada’ itu akan meminta  untuk dikembalikan sekali lagi ke dunia dan bahwa mereka tidak akan  dikembalikan ke dunia. Namun Allah Ta’ala hendak memberitahukan kepada  orang-orang mu’min yang masih hidup di dunia bahwa kelak cita-cita  mereka di surga adalah mati terbunuh di jalanNya. Ini tidak lain agar  mereka semakin terdorong untuk meraih itu.</p>
<p>Sungguh jauh perbedaan antara kedua angan-angan itu. Sama-sama  berangan untuk kembali demi melakukan amal shaleh. Namun yang satu  karena merasakan dahsyatnya siksa neraka, sementara yang lain karena  telah merasakan ni’mat yang tiada bandingnya.</p>
<p>Seorang salaf bernama Ibrahim At Taimy rahimahullah pernah  mengatakan : “Aku membayangkan diriku berada di dalam surga, memakan  buah-buahnya, memeluk bidadari-bidadarinya yang perawan dan menikmati  segala kenikmatannya. Lalu aku berkata kepada diriku sendiri : “Wahai  diriku ! Apa sesungguhnya yang engkau angan-angankan saat ini ??”.<br />
Ia menjawab : “Aku mengangankan untuk dikembalikan ke dunia agar aku  dapat menambah amal-amal yang menyebabkan aku mendapatkan semua nikmat  ini.”<br />
Lalu aku membayangkan diriku di dalam neraka. Dibakar dengan apinya yang  menyala-nyala. Dipaksa untuk meminum air hamim-nya yang dipenuhi darah  dan nanah. Dan memakan buah zaqqum-nya yang menjijikkan. Maka aku  berkata pada diriku sendiri : “Apakah yang engkau inginkan saat ini ??”</p>
<p>Ia menjawab : “Aku ingin dikembalikan ke dunia lagi agar aku dapat  mengerjakan amalan yang dapat menyelamatkan aku dari siksaan yang  mengerikan ini.”<br />
(Setelah membayangkan itu semua), akupun berkata pada diriku sendiri :  “Wahai diriku ! Engkau telah mendapatkan angan-anganmu itu. (Kini engkau  masih berada di dunia), maka segeralah beramal !”.<br />
<strong><br />
Sahabatku,</strong><br />
Bahkan ada seorang ulama salaf yang pernah menggali lubang kuburan untuk  dirinya sendiri. Bila ia mengalami dan merasakan kejemuan dalam  beramal, ia pun turun ke dalam lobang itu. Di sana ia menyelonjorkan  tubuhnya. Lalu berkata : “Wahai diriku ! Anggaplah sekarang ini engkau  telah mati dan telah berada dalam liang lahadmu, apakah yang engkau  inginkan ?”.<br />
Maka ia pun menjawab : “Aku ingin dikembalikan lagi ke dunia agar aku  dapat beramal shaleh.”<br />
Ia lalu mengatakan kepada dirinya sendiri : “Sekarang engkau telah  mendapatkan apa yang engkau inginkan. (Engkau sekarang masih hidup di  dunia). Bangunlah dan kerjakanlah amal shaleh itu !”.<br />
Demikianlah sahabat. Jika engkau mengetahui tentang para penghuni kubur  itu, engkau akan tahu apa yang selalu mereka angan-angankan. Mereka  selalu mengangankan dapat bertasbih persis seperti yang engkau lakukan  saat ini, walau hanya sekali saja. Mereka akan iri melihatmu tegak  mengerjakan shalat. Duhai, andai kami dapat mengerjakannya walau hanya  satu raka’at saja, begitulah kata mereka. Jika dahulu di dunia mereka  adalah pemilik kekayaan yang melimpah, maka di sana, di alam kubur itu,  mereka berharap dapat bersedekah meski hanya serupiah dua rupiah. Yang  penting ada tambahan catatan kebajikan di sisi Allah. Yah, jika engkau  berada di tempat itu, seperti itulah angan-anganmu sepanjang waktu.</p>
<p>Ibn Qudamah rahimahullah meriwayatkan dalam Washiyat-nya (hal.13)  bahwa suatu ketika ada seorang laki-laki yang mengerjakan shalat dua  raka’at di samping sebuah kuburan. Setelah itu ia bersandar hingga  tertidur. Dan di dalam tidurnya ia bermimpi seperti melihat penghuni  kubur itu berkata padanya : “Menjauhlah dariku !! Engkau telah  menyakitiku. Demi Allah, sungguh dua raka’at yang engkau kerjakan itu  jika saja aku yang mengerjakannya, maka ia jauh lebih aku sukai daripada  dunia beserta isinya. Sungguh kalian yang masih hidup ini selalu  beramal tapi sama sekali tidak mengetahui hakikat kematian ini. Tapi  kami, kami telah mengetahuinya namun kami tidak dapat lagi mengerjakan  amalan apapun.”</p>
<p><strong>Maka, sahabatku…<br />
</strong>Sadarilah bahwa masa hidup kita sungguh terbatas. Nafas kita  hanya berbilang. Setiap tarikan dan hembusan nafas tak lebih dari sebuah  pertanda bahwa usia kita di dunia telah berkurang. Sungguh sangat  singkat usia duniawi kita ini. Karenanya, setiap penggalan bahkan setiap  bagian terkecilnya adalah permata yang tak ternilai dan tiada  bandingnya. Ingatlah, bahwa dengan kehidupan yang singkat ini akan  terjadi sebuah kehidupan yang abadi, abadi dalam kenikmatan atau abadi  dalam azab yang penuh pedih-perih.</p>
<p>Bila kita mencoba membandingkan kehidupan ini dengan kehidupan  akhirat, akan sadarlah kita bahwa setiap nafas itu berbanding lebih  besar daripada beribu-ribu tahun di akhirat ; entah itu dalam kenikmatan  yang tak berbatas atau sebaliknya.</p>
<p>Karenanya jangan sia-siakan permata umurmu tanpa melakukan suatu  amalan. Jangan engkau biarkan ia pergi tanpa mendapatkan balasan yang  setimpal. Bersungguh-sungguhlah agar setiap tarikan nafasmu tak pernah  kosong dari keshalehan dan taqarrub padaNya. Sebab jika engkau  kehilangan sebutir permata duniamu, betapa sedihnya hatimu…Tapi  bagaimana jika yang hilang adalah permata akhiratmu ? Bagaimana mungkin  engkau tega menyia-nyiakan dan membuang detik-detikmu begitu saja ?  Bagaimana mungkin engkau ‘tenang-tenang’ saja, padahal semakin banyak  jejak-jejak usiamu di dunia ini yang terhapus ?</p>
<p>Bayangkanlah jeritan penyesalan para penghuni kubur dan neraka itu.  Air mata darah sekalipun tak memberi mereka jalan untuk kembali ke  dunia. Sia-sia belaka. Sahabatku, kini, aku dan kau masih di sini. Yah,  masih di dunia fana ini. Tempat kita menyemai tanaman akhirat. Maka  segeralah beramal ! [Muhammad Ihsan Zainuddin]<br />
(Buletin Nasional Al Balagh Edisi 011/TH.I R.Tsani/16 April 2010)</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fsegeralah-beramal-dalam-detik-detikyang-tersisa-ini%2F&amp;title=Segeralah%20Beramal%20Dalam%20Detik-DetikYang%20Tersisa%20Ini%21" id="wpa2a_16"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/segeralah-beramal-dalam-detik-detikyang-tersisa-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>15 Langkah Efektif Untuk Menghafal Al Qur&#8217;an</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/15-langkah-efektif-untuk-menghafal-al-quran/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/15-langkah-efektif-untuk-menghafal-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 20:33:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[al Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[efektif]]></category>
		<category><![CDATA[imam]]></category>
		<category><![CDATA[langkah]]></category>
		<category><![CDATA[menghafal]]></category>
		<category><![CDATA[nawawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=579</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A Sesuatu yang paling berhak dihafal adalah Al Qur’an, karena Al Qur’an adalah Firman Allah, pedoman hidup umat Islam, sumber dari segala sumber hukum, dan bacaan yang paling sering dulang-ulang oleh manusia. Oleh Karenanya, seorang penuntut ilmu hendaknya meletakan hafalan Al Qur’an sebagai prioritas utamanya. Berkata Imam Nawawi : [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A</p>
<p>Sesuatu yang paling berhak dihafal adalah Al  Qur’an, karena Al Qur’an adalah Firman Allah, pedoman hidup umat Islam,  sumber dari segala sumber hukum, dan bacaan yang paling sering  dulang-ulang oleh manusia. Oleh Karenanya, seorang penuntut ilmu  hendaknya meletakan hafalan Al Qur’an sebagai prioritas utamanya.  Berkata Imam Nawawi : “ Hal Pertama ( yang harus diperhatikan oleh  seorang penuntut ilmu ) adalah menghafal Al Quran, karena dia adalah  ilmu yang terpenting, bahkan para ulama salaf tidak akan mengajarkan  hadits dan fiqh kecuali bagi siapa yang telah hafal Al Quran. Kalau  sudah hafal Al Quran jangan sekali- kali menyibukan diri dengan hadits  dan fikih atau materi lainnya, karena akan menyebabkan hilangnya  sebagian atau bahkan seluruh hafalan Al Quran. “()</p>
<p dir="ltr">( ) Imam Nawawi, Al Majmu’,( Beirut, Dar Al Fikri,  1996 ) Cet. Pertama, Juz : I, hal : 66</p>
<p dir="ltr">Di bawah ini  beberapa langkah efektif untuk menghafal Al Qur’an yang disebutkan para  ulama, diantaranya adalah sebagai berikut :</p>
<p dir="ltr">Langkah  Pertama : Pertama kali seseorang yang ingin menghafal Al Qur’am  hendaknya mengikhlaskan niatnya hanya karena Allah saja. Dengan niat  ikhlas, maka Allah akan membantu anda dan menjauhkan anda dari rasa  malas dan bosan. Suatu pekerjaan yang diniatkan ikhlas, biasanya akan  terus dan tidak berhenti. Berbeda kalau niatnya hanya untuk mengejar  materi ujian atau hanya ingin ikut perlombaan, atau karena yang lain.</p>
<p dir="ltr">Langkah Kedua : Hendaknya setelah itu, ia  melakukan Sholat Hajat dengan memohon kepada Allah agar dimudahkan di  dalam menghafal Al Qur’an. Waktu sholat hajat ini tidak ditentukan dan  doa’anyapun diserahkan kepada masing-masing pribadi. Hal ini sebagaimana  yang diriwayat Hudzaifah ra, yang berkata :</p>
<p dir="rtl">كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر صلى</p>
<p dir="ltr">“ Bahwasanya Rosulullah saw jika ditimpa suatu masalah beliau  langsung mengerjakan sholat. “()</p>
<p dir="ltr">Adapun riwayat yang  menyebutkan doa tertentu dalam sholat hajat adalah riwayat lemah, bahkan  riwayat yang mungkar dan tidak bisa dijadikan sandaran. ()</p>
<p dir="ltr">Begitu juga  hadist yang diriwayatkan Ibnu Abbas ra yang menjelaskan bahwa Rosulullah  saw mengajarkan Ali bin Abu Thalib sholat khusus untuk meghafal Al  Qur’an yang terdiri dari empat rekaat , rekaat pertama membaca Al  Fatihah dan surat Yasin, rekaat kedua membaca surat Al Fatihah dan Ad  Dukhan, rekaat ketiga membaca surat Al Fatihah dan Sajdah, dan rekaat  keempat membaca surat Al Fatihah dan Al Mulk, itu adalah hadist maudhu’  dan tidak boleh diamalkan. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa hadist  tersebut adalah hadits dhoif . ()</p>
<p dir="ltr">Langkah Ketiga : Memperbanyak do’a untuk  menghafal Al Qur’an. ()</p>
<p dir="ltr">Do’a ini memang tidak terdapat dalam hadits, akan tetapi  seorang muslim bisa berdo’a menurut kemampuan dan bahasanya  masing-masing. Mungkin anda bisa berdo’a seperti ini :</p>
<p dir="rtl">اللهم  وفقني لحفظ القرآن الكريم ورزقني تلاوته أناء الليل وأطراف النهار على  الوجه الذي يرضيك عنا يا أرحم الراحمين .</p>
<p dir="ltr">“ Ya Allah  berikanlah kepada saya taufik untuk bisa menghafal Al Qur’an, dan  berilah saya kekuatan untuk terus membacanya siang dan malam sesuai  dengan ridhal dan tuntunan-Mu , wahai Yang Maha Pengasih “.</p>
<p dir="ltr">Langkah Keempat : Menentukan salah satu metode untuk  menghafal Al Qur’an. Sebenarnya banyak sekali metode yang bisa digunakan  untuk menghafal Al Qur’an, Masing-masing orang akan mengambil metode  yang sesuai dengan dirinya. Akan tetapi di sini hanya akan disebutkan  dua metode yang sering dipakai oleh sebagian kalangan, dan terbukti  sangat efektif :<br />
Metode Pertama : Menghafal per satu halaman (  menggunakan Mushaf Madinah ). Kita membaca satu lembar yang mau kita  hafal sebanyak tiga atau lima kali secara benar, setelah itu kita baru  mulai menghafalnya. Setelah hafal satu lembar, baru kita pindah kepada  lembaran berikutnya dengan cara yang sama. Dan jangan sampai pindah ke  halaman berikutnya kecuali telah mengulangi halaman- halaman yang sudah  kita hafal sebelumnya. Sebagai contoh : jika kita sudah menghafal satu  lembar kemudian kita lanjutkan pada lembar ke-dua, maka sebelum  menghafal halaman ke-tiga, kita harus mengulangi dua halaman sebelumnya.  Kemudian sebelum menghafal halaman ke-empat, kita harus mengulangi tiga  halaman yang sudah kita hafal. Kemudian sebelum meghafal halaman  ke-lima, kita harus mengulangi empat halaman yang sudah kita hafal.  Jadi, tiap hari kita mengulangi lima halaman : satu yang baru, empat  yang lama. Jika kita ingin menghafal halaman ke-enam, maka kita harus  mengulangi dulu empat halaman sebelumnya, yaitu halaman dua, tiga, empat  dan lima. Untuk halaman satu kita tinggal dulu, karena sudah terulangi  lima kali. Jika kita ingin menghafal halaman ke-tujuh, maka kita harus  mengulangi dulu empat halaman sebelumnya, yaitu halaman tiga, empat,  lima, dan enam. Untuk halaman satu dan dua kita tinggal dulu, karena  sudah terulangi lima kali, dan begitu seterusnya.</p>
<p dir="ltr">Perlu  diperhatikan juga, setiap kita menghafal satu halaman sebaiknya  ditambah satu ayat di halaman berikutnya, agar kita bisa menyambungkan  hafalan antara satu halaman dengan halaman berikutnya.</p>
<p dir="ltr">Metode Kedua : Menghafal per- ayat , yaitu membaca  satu ayat yang mau kita hafal tiga atau lima kali secara benar, setelah  itu, kita baru menghafal ayat tersebut. Setelah selesai, kita pindah ke  ayat berikutnya dengan cara yang sama, dan begiu seterusnya sampai satu  halaman. Akan tetapi sebelum pindah ke ayat berikutnya kita harus  mengulangi apa yang sudah kita hafal dari ayat sebelumnya. Setelah satu  halaman, maka kita mengulanginya sebagaimana yang telah diterangkan pada  metode pertama . ()</p>
<p dir="ltr">Untuk memudahkan hafalan juga, kita bisa membagi Al Qur’an  menjadi tujuh hizb ( bagian ) :</p>
<ol>
<li>Surat Al Baqarah sampai  Surat      An Nisa’</li>
<li>Surat Al Maidah sampai Surat      At Taubah</li>
<li>Surat  Yunus sampai Surat An      Nahl</li>
<li>Surat Al Isra’ sampai Al       Furqan</li>
<li>Surat As Syuara’ sampai Surat      Yasin</li>
<li>Surat As  Shoffat sampai Surat      Al Hujurat</li>
<li>Surat Qaf sampai Surat An  Nas</li>
</ol>
<p dir="ltr">Boleh juga dimulai dari bagian  terakhir yaitu dari Surat Qaf sampai Surat An Nas, kemudian masuk pada  bagian ke-enam dan seterusnya.</p>
<p dir="ltr">Langkah Kelima :  Memperbaiki Bacaan.</p>
<p dir="ltr">Sebelum mulai menghafal, hendaknya  kita memperbaiki bacaan Al Qur’an agar sesuai dengan tajwid. Perbaikan  bacaan meliputi beberapa hal, diantaranya :</p>
<p dir="ltr">a/  Memperbaiki Makhroj Huruf. Seperti huruf ( dzal) jangan dibaca ( zal ),  atau huruf ( tsa) jangan dibaca ( sa’ ) sebagaimana contoh di bawah ini :</p>
<p dir="rtl">ثم —— &gt; سم / الذين —- &gt; الزين</p>
<p dir="ltr">b/  Memperbaiki Harakat Huruf . Seperti yang terdapat dalam ayat-ayat di  bawah ini :</p>
<p dir="rtl">1/ وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ  بِكَلِمات ( البقرة : 124 ) —- &gt; )إبراهيمُ ﴾</p>
<p dir="rtl">2/  وَكُنْت ُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي  كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ( المائدة : 116 )</p>
<p dir="rtl">وَكُنْت  ُ &lt; ——— &gt; كُنْتَ</p>
<p dir="rtl">3/ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى  الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يتَّبَعَ أَمْ مَنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ  يُهْدَى ( ونس : 35 ) —- &gt; أم من لا يَهْدِي</p>
<p dir="rtl">4/  رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ( فصلت  :29 ) —– &gt; الَّذِين</p>
<p dir="rtl">5/ فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا  أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ  الظَّالِمِينَ ﴾ الحشر: 17) —– &gt; خالدِين فيها</p>
<p dir="ltr">Langkah  Keenam : Untuk menunjang agar bacaan baik, hendaknya hafalan yang ada,  kita setorkan kepada orang lain, agar orang tersebut membenarkan jika  bacaan kita salah. Kadang, ketika menghafal sendiri sering terjadi  kesalahan dalam bacaan kita, karena kita tidak pernah menyetorkan  hafalan kita kepada orang lain, sehingga kesalahan itu terus terbawa  dalam hafalan kita, dan kita menghafalnya dengan bacaan tersebut  bertahun-tahun lamanya tanpa mengetahui bahwa itu salah, sampai orang  lain yang mendengarkannya akhirnya memberitahukan kesalahan tersebut.</p>
<p dir="ltr">Langkah Ketujuh : Faktor lain agar bacaan kita baik dan  tidak salah, adalah memperbanyak untuk mendengar kaset-kaset bacaan Al  Qur’an murattal dari syekh yang mapan dalam bacaannya. Kalu bisa, tidak  hanya sekedar mendengar sambil mengerjakan pekerjaan lain, akan tetapi  mendengar dengan serius dan secara teratur. Untuk diketahui, akhir-akhir  ini &#8211; alhamdulillah &#8211; banyak telivisi-telelivisi parabola yang  menyiarkan secara langsung pelajaran Al Qur’an murattal dari seorang  syekh yang mapan, diantaranya adalah acara di televisi Iqra’ . Tiap  pekan terdapat siaran langsung pelajaran Al Qur’an yang dipandu oleh  Syekh Aiman Ruysdi seorang qari’ yang mapan dan masyhur, kitapun bisa  menyetor bacaan kita kepada syekh ini lewat telpun. Rekaman dari acara  tersebut disiarkan ulang setiap pagi. Selain itu, terdapat juga di  channel ” Al Majd “, dan channel- channel televisi lainnya. Acara-acara  tersebut banyak membantu kita di dalam memperbaiki bacaan Al Qur’an.</p>
<p dir="ltr">Langkah Kedelapan : Untuk menguatkan hafalan, hendaknya  kita mengulangi halaman yang sudah kita hafal sesering mungkin, jangan  sampai kita sudah merasa hafal satu halaman, kemudian kita tinggal  hafalan tersebut dalam tempo yang lama, hal ini akan menyebabkan  hilangnya hafalan tersebut. Diriwayatkan bahwa Imam Ibnu Abi Hatim,  seorang ahli hadits yang hafalannya sangat terkenal dengan kuatnya  hafalannya. Pada suatu ketika, ia menghafal sebuah buku dan diulanginya  berkali-kali, mungkin sampai tujuh puluh kali. Kebetulan dalam rumah itu  ada nenek tua. Karena seringnya dia mengulang-ulang hafalannya, sampai  nenek tersebut bosan mendengarnya, kemudian nenek tersebut memanggil  Ibnu Abi Hatim dan bertanya kepadanya : Wahai anak, apa sih yang sedang  engkau kerjakan ? “ Saya sedang menghafal sebuah buku “ , jawabnya.  Berkata nenek tersebut : “ Nggak usah seperti itu, saya saja sudah hafal  buku tersebut hanya dengan mendengar hafalanmu.” . “ Kalau begitu, saya  ingin mendengar hafalanmu “ kata Ibnu Abi Hatim, lalu nenek tersebut  mulai mengeluarkan hafalannya. Setelah kejadian itu berlalu setahun  lamanya, Ibnu Abi Hatim datang kembali kepada nenek tersebut dan meminta  agar nenek tersebut menngulangi hafalan yang sudah dihafalnya setahun  yang lalu, ternyata nenek tersebut sudah tidak hafal sama sekali tentang  buku tersebut, dan sebaliknya Ibnu Abi Hatim, tidak ada satupun  hafalannya yang lupa. () Cerita  ini menunjukkan bahwa mengulang-ulang hafalan sangatlah penting.  Barangkali kalau sekedar menghafal banyak orang yang bisa melakukannya  dengan cepat, sebagaimana nenek tadi. Bahkan kita sering mendengar  seseorang bisa menghafal Al Qur’an dalam hitungan minggu atau hitungan  bulan, dan hal itu tidak terlalu sulit, akan tetapi yang sulit adalah  menjaga hafalan dan mengulanginya secara kontinu.</p>
<p dir="ltr">Langkah  Kesembilan : Faktor lain yang menguatkan hafalan adalah menggunakan  seluruh panca indra yang kita miliki. Maksudnya kita menghafal bukan  hanya dengan mata saja, akan tetapi dibarengi dengan membacanya dengan  mulut kita, dan kalau perlu kita lanjutkan dengan menulisnya ke dalam  buku atau papan tulis. Ini sangat membantu hafalan seseorang. Ada  beberapa teman dari Marokko yang menceritakan bahwa cara menghafal Al  Qur’an yang diterapkan di sebagian daerah di Marokko adalah dengan  menuliskan hafalannya di atas papan kecil yang dipegang oleh  masing-masing murid, setelah mereka bisa menghafalnya di luar kepala,  baru tulisan tersebut dicuci dengan air.</p>
<p dir="ltr">Langkah  Kesepuluh : Menghafal kepada seorang guru.</p>
<p dir="ltr">Menghafal Al  Qur’an kepada seorang guru yang ahli dan mapan dalam Al Qur’an adalah  sangat diperlukan agar seseorang bisa menghafal dengan baik dan benar.  Rosulullah saw sendiri menghafal Al Qur’an dengan Jibril as, dan  mengulanginya pada bulan Ramadlan sampai dua kali katam.</p>
<p dir="ltr">Langkah Kesebelas : Menggunakan satu jenis mushaf Al Qur’an  dan jangan sekali-kali pindah dari satu jenis mushaf kepada yang  lainnya. () Karena mata kita  akan ikut menghafal apa yang kita lihat. Jika kita melihat satu ayat  lebih dari satu posisi, jelas itu akan mengaburkan hafalan kita. Masalah  ini, sudah dihimbau oleh salah seorang penyair dalam tulisannya :</p>
<p dir="rtl">العين تحفظ قبل الأذن ما تبصر فاختر لنفسك مصحف عمرك الباقي .</p>
<p dir="ltr">“ Mata akan menghafal apa yang dilihatnya-  sebelum telinga- , maka pilihlah satu mushaf untuk anda selama hidupmu.  “()</p>
<p dir="ltr">Yang  dimaksud jenis mushaf di sini adalah model penulisan mushaf. Di sana ada  beberapa model penulisan mushaf, diantaranya adalah : Mushaf Madinah  atau terkenal dengan Al Qur’an pojok, satu juz dari mushaf ini terdiri  dari 10 lembar, 20 halaman, 8 hizb, dan setiap halaman dimulai dengan  ayat baru. Mushaf Madinah ( Mushaf Pojok ) ini paling banyak dipakai  oleh para pengahafal Al Qur’an, banyak dibagi-bagikan oleh pemerintah  Saudi kepada para jama’ah haji. Cetakan-cetakan Al Qur’an sekarang  merujuk kepada model mushaf seperti ini. Dan bentuk mushaf seperti ini  paling baik untuk dipakai menghafal Al Qur’an.</p>
<p dir="ltr">Disana  ada model lain, seperti mushaf Al Qur’an yang dipakai oleh sebagain  orang Mesir, ada juga mushaf yang dipakai oleh sebagain orang Pakistan  dan India, bahkan ada model mushaf yang dipakai oleh sebagian pondok  pesantren tahfidh Al Qur’an di Indonesia yang dicetak oleh Manar Qudus ,  Demak.</p>
<p dir="ltr">Langkah Keduabelas : Pilihlah waktu yang tepat  untuk menghafal, dan ini tergantung kepada pribadi masing-masing. Akan  tetapi dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra,  disebutkan bahwasanya Rosulullah saw bersabda :</p>
<p dir="rtl">إن  الدين يسر ، ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه ، فسددوا وقاربوا و أبشروا ،  واستعينوا بالغدوة والروحة وشئ من الدلجة</p>
<p dir="ltr">“ Sesungguhnya  agama ini mudah, dan tidak ada yang mempersulit diri dalam agama ini  kecuali dia akan capai sendiri, makanya amalkan agama ini dengan benar,  pelan-pelan, dan berilah kabar gembira, serta gunakan waktu pagi, siang  dan malam ( untuk mengerjakannya ) “ ( HR Bukhari )</p>
<p dir="ltr">Dalam  hadist di atas disebutkan waktu pagi ,siang dan malam, artinya kita  bisa menggunakan waktu-waktu tersebut untuk menghafal Al Qur’an. Sebagai  contoh : di pagi hari, sehabis sholat subuh sampai terbitnya matahari,  bisa kita gunakan untuk menghafal Al Qur’an atau untuk mengulangi  hafalan tersebut, waktu siang siang, habis sholat dluhur, waktu sore  habis sholat Ashar, waktu malam habis sholat Isya’ atau ketika melakukan  sholat tahajud dan seterusnya.</p>
<p dir="ltr">Langkah Ketigabelas :  Salah satu waktu yang sangat tepat untuk melakukan pengulangan hafalan  adalah waktu ketika sedang mengerjakan sholat –sholat sunnah, baik di  masjid maupun di rumah. Hal ini dikarenakan waktu sholat, seseorang  sedang konsentrasi menghadap Allah, dan konsentrasi inilah yang membantu  kita dalam mengulangi hafalan. Berbeda ketika di luar sholat, seseorang  cenderung untuk bosan berada dalam satu posisi, ia ingin selalu  bergerak, kadang matanya menengok kanan atau kiri, atau kepalanya akan  menengok ketika ada sesuatu yang menarik, atau bahkan kawannya akan  menghampirinya dan mengajaknya ngobrol . Berbeda kalau seseorang sedang  sholat, kawannya yang punya kepentingan kepadanya-pun terpaksa harus  menunggu selesainya sholat dan tidak berani mendekatinya, dan begitu  seterusnya.</p>
<p dir="ltr">Langkah Ketigabelas : Salah satu faktor  yang mendukung hafalan adalah memperhatikan ayat-ayat yang serupa (  mutasyabih ) . Biasanya seseorang yang tidak memperhatikan ayat-ayat  yang serupa ( mutasyabih ), hafalannya akan tumpang tindih antara satu  dengan lainnya. Ayat yang ada di juz lima umpamanya akan terbawa ke juz  sepuluh. Ayat yang mestinya ada di surat Surat Al-Maidah akan terbawa ke  surat Al-Baqarah, dan begitu seterusnya. Di bawah ini ada beberapa  contoh ayat-ayat serupa ( mutasyabihah ) yang seseorang sering melakukan  kesalahan ketika menghafalnya :</p>
<p dir="ltr">- ﴿  وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ﴾ البقرة 173 &lt; ———— &gt; ﴿ وَمَا  أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ) المائدة 3 ، والأنعام 145، و النحل 115</p>
<p dir="ltr">- ( ذلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ  بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّين بغير الحق ) البقرة : 61</p>
<p dir="ltr">( إن الذين يكفرون بآيات اللَّهِ  وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّين بغير حق ) آل عمران : 21</p>
<p dir="ltr">( ذلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ  وَيَقْتُلُونَ الأنبياء بغير حق ) آل عمرن : 112</p>
<p dir="ltr">Untuk  melihat ayat –ayat mutasyabihat seperti ini secara lebih lengkap bisa  dirujuk buku – buku berikut :</p>
<ul>
<li>Duurat At Tanzil wa Ghurrat       At Ta’wil fi Bayan Al Ayat Al Mutasyabihat min Kitabillahi Al Aziz ,  karya Al Khatib Al Kafi.</li>
<li>Asrar At Tikrar fi Al Qur’an, karya :  Mahmud bin Hamzah Al      Kirmany.</li>
<li>Mutasyabihat Al Qur’an, Abul  Husain bin Al Munady</li>
<li>‘Aunu Ar Rahman fi Hifdhi      Al Qur’an,  karya Abu Dzar Al Qalamuni</li>
</ul>
<p dir="ltr">Langkah Kelimabelas :  Setelah hafal Al Qur’an, jangan sampai ditinggal begitu saja. Banyak  dari teman-teman yang sudah menamatkan Al Qur’an di salah satu pondok  pesantren, setelah keluar dan sibuk dengan studinya yang lebih tinggi,  atau setelah menikah atau sudah sibuk pada suatu pekerjaan, dia tidak  lagi mempunyai program untuk menjaga hafalannya kembali, sehingga  Al-Qur’an yang sudah dihafalnya beberapa tahun di pesantren akhirnya  hanya tinggal kenangan saja. Setelah ditinggal lama dan sibuk dengan  urusannya, ia merasa berat untuk mengembalikan hafalannya lagi. Fenomena  seperti sangat banyak terjadi dan hal itu sangat disayangkan sekali.  Boleh jadi, ia mendapatkan ijazah sebagai seorang yang bergelar ” hafidh  ” atau ” hafidhah “, akan tetapi jika ditanya tentang hafalan Al-  Qur’an, maka jawabannya adalah nihil.</p>
<p dir="ltr">Yang paling  penting dalam hal ini bukanlah menghafal, karena banyak orang bisa  menghafal Al Qur’an dalam waktu yang sangat singkat, akan tetapi yang  paling penting adalah bagaimana kita menjaga hafalan tersebut agar tetap  terus ada dalam dada kita. Di sinilah letak perbedaan antara orang yang  benar-benar istiqamah dengan orang yang hanya rajin pada awalnya saja.  Karena, untuk menjaga hafalan Al Qur’an diperlukan kemauan yang kuat dan  istiqamah yang tinggi. Dia harus meluangkan waktunya setiap hari untuk  mengulangi hafalannya. Banyak cara untuk menjaga hafalan Al Qur’an,  masing-masing tentunya memilih yang terbaik untuknya. Diantara cara  untuk menjaga hafalan Al Qur’an adalah sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Mengulangi  hafalan menurut waktu sholat lima waktu. Seorang muslim tentunya tidak  pernah meninggalkan sholat lima waktu, hal ini hendaknya dimanfaatkan  untuk mengulangi hafalannya. Agar terasa lebih ringan, hendaknya setiap  sholat dibagi menjadi dua bagian, sebelum sholat dan sesudahnya. Sebelum  sholat umpamanya :i sebelum adzan, dan waktu antara adzan dan iqamah.  Apabila dia termasuk orang yang rajin ke masjid, sebaiknya pergi ke  masjid sebelum adzan agar waktu untuk mengulangi hafalannya lebih  panjang. Kemudian setelah sholat, yaitu setelah membaca dzikir ba’da  sholat atau dzikir pagi pada sholat shubuh dan setelah dzkir sore  setelah sholat Ashar. Seandainya saja, ia mampu mengulangi hafalannya  sebelum sholat sebanyak seperempat juz dan sesudah sholat seperempat juz  juga, maka dalam satu hari dia bisa mengulangi hafalannya sebanyak dua  juz setengah. Kalau bisa istiqamah seperti ini, maka dia bisa  menghatamkan hafalannya setiap dua belas hari, tanpa menyita waktunya  sama sekali. Kalau dia bisa menyempurnakan setengah juz setiap hari pada  sholat malam atau sholat-sholat sunnah lainnya, berarti dia bisa  menyelesaikan setiap harinya tiga juz, dan bisa menghatamkan Al Qur’an  pada setiap sepuluh hari sekali. Banyak para ulama dahulu yang  menghatamkan hafalannya setiap sepuluh hari sekali.</li>
<li>Ada  sebagian orang yang mengulangi hafalannya pada malam saja, yaitu ketika  ia mengerjakan sholat tahajud. Biasanya dia menghabiskan sholat  tahajudnya selama dua jam. Cuma kita tidak tahu, selama dua jam itu  berapa juz yang ia dapatkan. Menurut ukuran umum, kalau hafalannya  lancar, biasanya ia bisa menyelesaikan satu juz dalam waktu setengah  jam. Berarti, selama dua jam dia bisa menyelesaikan dua sampai tiga juz  dengan dikurangi waktu sujud dan ruku.</li>
<li>Ada juga sebagian teman  yang mengulangi hafalannya dengan cara masuk dalam halaqah para  penghafal Al Qur’an. Kalau halaqah tersebut berkumpul setiap tiga hari  sekali, dan setiap peserta wajib menyetor hafalannya kepada temannya  lima juz berarti masing-masing dari peserta mampu menghatamkan Al Qur’an  setiap lima belas hari sekali. Inipun hanya bisa terlaksana jika  masig-masing dari peserta mengulangi hafalannya sendiri-sendiri dahulu.</li>
</ul>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">( ) Hadist riwayat  Abu Daud ( no : 1319 ), dishohihkan oleh Syekh Al Bani dalam Shohih  Sunan Abu Daud , juz I, hal. 361</p>
<p dir="ltr">( ) Untuk mengetahui secara lebih lengkap tentang  derajat hadits tersebut bisa dirujuk : Abu Umar Abdullah bin Muhammad Al  Hamadi, Al Asinatu Al Musyri’atu fi At Tahdhir min As Solawat Al  Mubtadi’ah, ( Kairo, Maktabah At Tabi’in, 2002 ) Cet Pertama, hal. 97  -120</p>
<p dir="ltr">( ) Ibid,  hal.21-39</p>
<p dir="ltr">( ) Abu  Abdur Rahman Al Baz Taufiq, Ashal Nidham Li Hifdhi Al Qur’an, ( Kairo,  Maktabah Al Islamiyah, 2002 ) Cet. Ke-Tiga, Hal. 13</p>
<p dir="ltr">( ) Ali bin Umar Badhdah, Kaifa Tahfadu  Al Qur’an, hal. 6</p>
<p dir="ltr">( )  Ibid. hal 12</p>
<p dir="ltr">( )  Abu Dzar Al Qalamuni, ‘Aunu Ar Rahman fi Hifdhi Al Qur’an, ( Kairo, Dar  Ibnu Al Haitsam, 1998 ) Cet Pertama, hal.16</p>
<p dir="ltr">( ) Abu Abdur Rahman Al Baz Taufiq, Op.  Cit, Hal. 15</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">http://ahmadzain.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=136&amp;Itemid=70</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2F15-langkah-efektif-untuk-menghafal-al-quran%2F&amp;title=15%20Langkah%20Efektif%20Untuk%20Menghafal%20Al%20Qur%26%238217%3Ban" id="wpa2a_18"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/15-langkah-efektif-untuk-menghafal-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Ukhuwah Islamiyah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/kekuatan-ukhuwah-islamiyah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/kekuatan-ukhuwah-islamiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 20:27:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kekuatan]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[senjata]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=524</guid>
		<description><![CDATA[Ukhuwah Islamiah (persaudaraan Islam) adalah satu dari tiga unsur kekuatan yang menjadi karakteristik masyarakat Islam di zaman Rasulullah, yaitu pertama, kekuatan iman dan aqidah. Kedua, kekuatan ukhuwah dan ikatan hati. Dan ketiga, kekuatan kepemimpinan dan senjata. Dengan tiga kekuatan ini, Rasulullah Saw. membangun masyarakat ideal, memperluas Islam, mengangkat tinggi bendera tauhid, dan mengeksiskan umat Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ukhuwah Islamiah (persaudaraan Islam) adalah satu dari tiga unsur kekuatan yang menjadi karakteristik masyarakat Islam di zaman Rasulullah, yaitu pertama, kekuatan iman dan aqidah. Kedua, kekuatan ukhuwah dan ikatan hati. Dan ketiga, kekuatan kepemimpinan dan senjata.</p>
<p>Dengan tiga kekuatan ini, Rasulullah Saw. membangun masyarakat ideal, memperluas Islam, mengangkat tinggi bendera tauhid, dan mengeksiskan umat Islam atas muka dunia kurang dari setengah abad.</p>
<p>Pada abad ke-15 Hijriah ini, kita berusaha memperbaharui kekuatan ukhuwah ini, karena ukhuwah memiliki pengaruh kuat dan aktif dalam proses mengembalikan kejayaan umat Islam.</p>
<p><span id="more-524"></span></p>
<p><strong>Kedudukan Ukhuwah dalam Islam</strong></p>
<p>Ukhuwah Islamiah adalah nikmat Allah, anugerah suci, dan pancaran cahaya rabbani yang Allah persembahkan untuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan pilihan. Allahlah yang menciptakannya. Allah berfirman,</p>
<p>فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ  إِخْوَانًا</p>
<p><em>&#8220;&#8230;Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang  bersaudara&#8230;&#8221;</em> (QS: Ali Imran: 103).</p>
<p>Ukhuwah adalah pemberian Allah. Ia berfirman,</p>
<p>لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ  جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللهَ أَلَّفَ  بَيْنَهُمْ</p>
<p><em>&#8220;&#8230;Walaupun kamu membelanjakan semua (kakayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka&#8230;</em> (QS: Al-Anfal: 63)&#8221;</p>
<p>وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ  عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ</p>
<p><em>&#8220;&#8230;Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu.&#8221;</em> (QS: Ali Imran: 103).</p>
<p>Selain nikmat dan pemberian, ukhuwah juga kelembutan, cinta, dan  kasih sayang. Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<p>&#8220;مثل المؤمنين في توادِّهم  وتراحُمِهم، كمثل الجسدِ الواحدِ، إذا اشتكى منه عضوٌ، تداعى له سائرُ  الأعضاء بالسهر والحمى&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang, bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya.&#8221; </em>(HR. Imam Muslim).</p>
<p>Ukhuwah juga membangun umat yang kokoh. Ia adalah bangunan maknawi yang mampu menyatukan masyarakat manapun. Ia lebih kuat dari bangunan materi, yang suatu saat bisa saja hancur diterpa badai atau ditelan masa. Sedangkan bangunan ukhuwah Islamiah akat tetap kokoh. Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<p>&#8220;المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه  بعضًا&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Mukmin satu sama lainnya bagaikan bangunan yang sebagiannya  mengokohkan bagian lainnya.&#8221; </em>(HR. Imam Bukhari).</p>
<p>Ukhuwan tak bisa dibeli dengan uang atau sekedar kata-kata. Tapi ia diperoleh dari penyatuan antara jiwa dan jiwa, ikatan hati dan hati. Dan ukhuwah merupakan karakteristik istimewa dari seorang mukmin yang saleh. Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<p>&#8220;المؤمن إلف مألوف، ولا خير فيمن لا  يألف ولا يؤلف&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Seorang mukmin itu hidup rukun. Tak ada kebaikan bagi yang tidak  hidup rukun dan harmonis.&#8221; </em><br />
Dan ukhuwah Islamiah ini diikat oleh iman dan taqwa. Iman juga diikat  dengan ukhuwah. Allah berfirman,</p>
<p>إنما المؤمنون إخوة</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.</em> (QS:  Al-Hujurat: 10).&#8221;</p>
<p>Artinya, mukmin itu pasti bersaudara. Dan tidak ada persaudaraan kecuali dengan keimanan. Jika Anda melihat ada yang bersaudara bukan karena iman, maka ketahuilah itu adalah persaudaraan dusta. Tidak memiliki akar dan tidak memiliki buah. Jika Anda melihat iman tanpa persaudaraan, maka itu adalah iman yang tidak sempurna, belum mencapai derajat yang diinginkan, bahkan bisa berakhir dengan permusuhan. Allah berfirman,</p>
<p>الأَخِلاَّءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ  لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ</p>
<p><em>&#8220;Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh  sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.&#8221; </em>(QS:  Al-Zukhruf: 67).</p>
<p><strong><br />
Keutamaan Ukhuwah Islamiah</strong></p>
<p>Dari ukhuwah Islamiah lahir banyak keutamaan, pahala, berpengaruh positif pada masyarakat dalam menyatukan hati, menyamakan kata, dan merapatkan barisan. Orang-orang yang terikat dengan ukhuwah Islamiah memiliki banyak keutamaan, diantaranya:</p>
<p>1. Mereka merasakan manisnya iman. Sedangkan selain mereka, tidak  merasakannya. Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<p>&#8220;ثلاثة من كن فيه وجد بهن حلاوة  الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا الله، وأن يكره أن يعود إلى الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يُقذف في النار&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Ada tiga golongan yang dapat merasakan manisnya iman: orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari mencintai dirinya sendiri, mencintai seseorang karena Allah, dan ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci jika ia dicampakkan ke dalam api neraka.&#8221;</em> (HR. Imam Bukhari).</p>
<p>2. Mereka berada di bawah naungan cinta Allah, dilindungi Arasy  Al-Rahman. Di akhirat Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;أين المُتحابُّون بجلالي، اليومُ  أُظِلُّهم في ظلي يوم لا ظلَّ إلا ظِلي&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Di mana orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, maka hari ini aku akan menaungi mereka dengan naungan yang tidak ada naungan kecuali naunganku.&#8221; </em>(HR. Imam Muslim).</p>
<p>Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<p>&#8220;إن رجلاً زار أخًا له في قرية أخرى،  فأرصد الله تعالى على مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فلما أتى عليه، قال: أين تريد؟ قال: أريد أخًا لي في هذه القرية، قال: هل لك من نعمة تَرُبُّها عليه؟ قال: لا، غير أنني أحببته في الله تعالى، قال: فإني رسول الله إليك أخبرك بأن الله قد أحبَّك كما أحببْتَه فيه&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di sebuah desa. Di tengah perjalanan, Allah mengutus malaikat-Nya. Ketika berjumpa, malaikat bertanya, &#8220;Mau kemana?&#8221; Orang tersebut menjawab, &#8220;Saya mau mengunjungi saudara di desa ini.&#8221; Malaikat bertanya, &#8220;Apakah kau ingin mendapatkan sesuatu keuntungan darinya?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Tidak. Aku mengunjunginya hanya karena aku mencintainya karena Allah.&#8221; Malaikat pun berkata, &#8220;Sungguh utusan Allah yang diutus padamu memberi kabar untukmu, bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana kau mencintai saudaramu karena-Nya.&#8221; </em>(HR. Imam Muslim).</p>
<p>3. Mereka adalah ahli surga di akhirat kelak. Rasulullah Saw.  bersabda,</p>
<p>&#8220;من عاد مريضًا، أو زار أخًا له في  الله؛ ناداه منادٍ بأنْ طِبْتَ وطاب مَمْشاكَ، وتبوَّأتَ من الجنةِ  مَنْزِلاً&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru, &#8216;Berbahagialah kamu, berbahagialah dengan perjalananmu, dan kamu telah mendapatkan salah satu tempat di surga.&#8221; </em>(HR. Imam Al-Tirmizi).</p>
<p>Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<p>&#8220;إن حول العرشِ مَنابِرَ من نورٍ،  عليها قومٌ لِبَاسُهم نورٌ، ووجوهُهم نورٌ، ليسوا بأنبياءَ ولا شهداءَ، يَغبِطُهم النبيُّونَ والشهداءُ&#8221;. فقالوا: انعَتْهم لنا يا رسول الله. قال: &#8220;هم المتحابُّون في الله، والمتآخون في الله، والمُتزاوِرُون في الله&#8221; الحديث أخرجه الحافظ العراقي في تخريجه للإحياء وقال: رجاله ثقات (2/198) عن أبي هريرة رضي الله عنه.</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya di sekitar arasy Allah ada mimbar-mimbar dari cahaya. Di atasnya ada kaum yang berpakaian cahaya. Wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukanlah para nabi dan bukan juga para syuhada. Dan para nabi dan syuhada cemburu pada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah.&#8221; Para sahabat bertanya, &#8220;Beritahukanlah sifat mereka wahai Rasulallah. Maka Rasul bersabda, &#8220;Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, bersaudara karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah.&#8221;</em> (Hadis yang ditakhrij Al-Hafiz Al-Iraqi, ia  mengatakan, para perawinya tsiqat).</p>
<p>4. Bersaudara karena Allah adalah amal mulia dan mendekatkan hamba  dengan Allah.</p>
<p>وقد سُئل النبي صلى الله عليه وسلم عن  أفضل الإيمان، فقال: &#8220;أن تحب لله وتبغض لله&#8230;&#8221;. قيل: وماذا يا رسول الله؟ فقال: &#8220;وأن تحب للناس ما تحب لنفسك، وتكره لهم ما تكره لنفسك&#8221;</p>
<p><em>Rasul pernah ditanya tentang derajat iman yang paling tinggi, beliau bersabda, &#8220;&#8230;Hendaklah kamu mencinta dan membenci karena Allah&#8230;&#8221; Kemudian Rasul ditanya lagi, &#8220;Selain itu apa wahai Rasulullah?&#8221; Rasul menjawab, &#8220;Hendaklah kamu mencintai orang lain sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri, dan hendaklah kamu membenci bagi orang lain sebagaimana kamu membenci bagi dirimu sendiri.&#8221;</em> (HR. Imam Al-Munziri).</p>
<p>5. Diampunkan Dosa. Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<p>&#8220;إذا التقى المسلمان فتصافحا، غابت  ذنوبهم من بين أيديهما كما تَسَاقَطُ عن الشجرة</p>
<p><em>&#8220;Jika dua orang Muslim bertemu dan kemudian mereka saling berjabat tangan, maka dosa-dosa mereka hilang dari kedua tangan mereka, bagai berjatuhan dari pohon.&#8221; </em>(Hadis yang ditkhrij oleh Al-Imam  Al-Iraqi, sanadnya dha&#8217;if).</p>
<p><strong>Syarat dan Hak Ukhuwah</strong></p>
<p>1. Hendaknya bersaudara untuk mencari keridhaan Allah, bukan kepentingan atau berbagai tujuan duniawi. Tujuannya ridha Allah, mengokohkan internal umat Islam, berdiri tegar di hadapan konspirasi pemikiran dan militer yang menghujam agama dan akidah umat. Rasulullah Saw. bersabda, <em>&#8220;Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya&#8230;</em>&#8221;  (HR. Imam Bukhari).</p>
<p>2. Hendaknya saling tolong-menolong dalam keadaan suka dan duka,  senang atau tidak, mudah maupun susah. Rasul bersabda, <em>&#8220;Muslim adalah saudara muslim, ia tidak mendhaliminya dan tidak menghinanya&#8230; tidak boleh seorang muslim bermusuhan dengan saudaranya lebih dari tiga hari, di mana yang satu berpaling dari yang lain, dan yang lain juga berpaling darinya. Maka yang terbaik dari mereka adalah yang memulai mengucapkan salam.&#8221;</em> (HR. Imam Muslim).</p>
<p>3. Memenuhi hak umum dalam ukhuwah Islamiah. Rasul bersabda,</p>
<p>&#8220;حق المسلم على المسلم ست: إذا لقيه  سلَّم عليه، وإذا عطس أن يشمِّته، وإذا مرض أن يعُوده، وإذا مات أن يشيعه، وإذا أقسم عليه أن يبرَّه، وإذا دعاك فأجِبْه&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Hak muslim atas muslim lainnya ada enam, yaitu jika berjumpa ia memberi salam, jika bersin ia mendoakannya, jika sakit ia menjenguknya, jika meninggal ia mengikuti jenazahnya, jika bersumpah ia melaksanakannya.&#8221; </em>(HR. Imam Muslim).</p>
<p><strong>Contoh Penerapan Ukhuwah Islamiah</strong></p>
<p>1. Rasul mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, antara Aus dan Khazraj. Saat itu Rasul menggenggamkan tangan dua orang, seorang dari Muhajirin dan seorang lagi dari Anshar. Rasul berkata pada mereka, <em>&#8220;Bersaudaralah karena Allah dua-dua.&#8221;</em></p>
<p>Maka Rasulullah mempersaudarakan antara Sa&#8217;ad bin Rabi&#8217; dan Abdurrahman bin Auf. Saat itu, Sa&#8217;ad langsung menawarkan setengah hartanya kepada Abdurrahman, memberikan salah satu dari dua rumahnya. Bahkan ia siap menceraikan salah satu istrinya supaya bisa dinikahi oleh Abdurrahman.</p>
<p>Pemuliaan keimanan kaum Anshar ini diterima kaum Muhajirin dengan keimanan pula, sehingga Abdurrahman bin Auf berkata, &#8220;Biarkanlah harta, rumah, dan istrimu bersamamu. Tunjukkanlah aku pasar.&#8221; Maka Abdurrahman meminjam uang dari Sa&#8217;ad, sehingga Allah membukakan pintu-pintu rizki baginya, sehingga Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu sahabat Nabi yang sangat kaya.</p>
<p>Allah berfirman, &#8220;Bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madiah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah pada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang diperlihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.&#8221; (QS: Al-Hasyr: 8-9).</p>
<p>2. Setelah perang Badar, kaum Muslimin menawan 70 orang musyrikin. Salah seorang dari kaum musyrik itu bernama Aziz, saudara kandungnya sahabat Rasul bernama Mus&#8217;ab bin Umair.</p>
<p>Ketika Mus&#8217;ab melihat saudara kandungnya, ia berkata pada saudaranya yang muslim, &#8220;Kuatkanlah ikatannya. Mintalah uang darinya sesukamu, karena ibunya memiliki banyak uang.&#8221; Dengan terkejut Aziz berkata, &#8220;Apakah seperti ini wasiatmu atas saudaramu?&#8221; Mus&#8217;ab berkata, &#8220;Kamu bukan saudaraku, akan tetapi dia (sambil menunjuk seorang Muslim).&#8221; Ini menunjukkan bahwa ukhuwah atas dasar agama lebih kuat dari hubungan darah.</p>
<p>3. Pernah seorang sahabat Rasulullah memberikan segelas air kepada salah satu teman-temannya yang sedang mengembala kambing. Temannya tersebut memberikan air kepada teman kedua. Yang kedua memberikan kepada yang ketiga. Begitulah seterusnya, hingga air tersebut kembali pada yang memberikan air pertama kali, setelah tujuh kali air itu berpindahan tangan.</p>
<p>4. Salah seorang sahabat Rasul bernama Masruq memiliki hutang yang banyak. Namun karena saudaranya bernama Khaitsamah juga berhutang, maka Masruq membayar hutang Khaitsamah tanpa sepengetahuannya. Sedangkan Khaitsamah, mengetahui saudaranya masruq memiliki hutang yang banyak, ia pun membayarnya tanpa sepengetahuannya Masruq.</p>
<p><em>Semoga Allah menjadikan kita saling bersaudara karena-Nya. </em></p>
<p><em>(Oleh :</em> <strong>Prof. Dr. Ahmad Abdul Hadi Syahin/</strong><em>eramuslim.com)</em></p>
<p>http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/cetak/kekuatan-ukhuwah-islamiah</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fustadzridwan.com%2Fkekuatan-ukhuwah-islamiyah%2F&amp;title=Kekuatan%20Ukhuwah%20Islamiyah" id="wpa2a_20"><img src="http://ustadzridwan.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/kekuatan-ukhuwah-islamiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

