<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ustadz Ridwan Hamidi &#187; admin</title>
	<atom:link href="http://ustadzridwan.com/author/admin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzridwan.com</link>
	<description>رضوان حامدي الإندونيسي</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 08:21:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Tolerasi Nabi SAW Kepada Yahudi</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/tolerasi-nabi-saw-kepada-yahudi/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/tolerasi-nabi-saw-kepada-yahudi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 08:21:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2217</guid>
		<description><![CDATA[Jauh sebelum berbagai bangsa mengenal toleransi, di awal abad ke-7 Masehi, Nabi Muhammad saw telah memberi contoh toleransi beragama di Madinah. Termasuk terhadap kaum Yahudi.  Di tengah kondisi Madinah yang cukup akomodatif, Nabi Saw menetapkan perangkat-perangkat dasar untuk mewujudkan kehidupan yang harmoni bagi seluruh unsur masyarakat Madinah. Maka lahirlah Shahifah al-Madinah atau Piagam Madinah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jauh sebelum berbagai bangsa mengenal toleransi, di awal abad ke-7  Masehi, Nabi Muhammad saw telah memberi contoh toleransi beragama di  Madinah. Termasuk terhadap kaum Yahudi.  Di tengah kondisi Madinah yang  cukup akomodatif, Nabi Saw menetapkan perangkat-perangkat dasar untuk  mewujudkan kehidupan yang harmoni bagi seluruh unsur masyarakat Madinah.  Maka lahirlah Shahifah al-Madinah atau Piagam Madinah yang menurut Dr. M  Hamidullah merupakan konstitusi negara tertulis yang pertama di dunia (<em>the first written constitution in the world</em>).</p>
<p>Piagam  Madinah menjelaskan bentuk negara, mengatur hubungan antar kelompok  masyarakat, hak dan kewajibannya kepada negara, kehidupan beragama, asas  peradilan dan sumber hukum, dan lain sebagainya. Selain  mengejawantahkan konsep kenegaraan baru berupa <em>al-ummah al-muslimah</em> (umat muslim), isu kemajemukan juga menjadi sorotan utama Piagam  Madinah. Terkait kaum Yahudi, berdasarkan susunan Dr. Hamidullah, dari  47 pasal Piagam Madinah, terdapat sekitar 24 pasal yang menyebut kaum  Yuhudi. Pasal-pasal tersebut mencakup beragam isu, di antaranya status  kewarganegaraan, kebebasan beragama, tanggung jawab bersama dalam bidang  sosial, ekonomi dan keamanan, kebebasan berpendapat, dan keadilan.</p>
<p>Berdasarkan teks Piagam Madinah yang diriwayatkan Ibnu Ishaq dalam <em>as-Sirah an-Nabawiyyah</em>, jilid 2 hal. 94-96, Nabi Saw menyatakan, “<em>wa inna yahuda bani `auf ummatun ma`al mu’minin</em> (sesungguhnya Yahudi Bani `Auf adalah satu umat bersama kaum Mukmin).”  Dengan pengakuan ini, otomatis kaum Yahudi memperoleh hak-hak selayaknya  warga negara. Salah satu yang terpenting adalah hak kebebasan beragama,<em> “lil yahudi dinuhum wa lil muslimin dinuhum, mawalihim wa anfusuhum</em> (kaum Yahudi menjalankan agamanya sendiri, sebagaimana kaum Muslim juga  menjalankan agamanya sendiri. Ini berlaku bagi orang-orang yang terikat  hubungan dengan Yahudi dan diri Yahudi sendiri).”</p>
<p>Dengan adanya  jaminan konstitusi terhadap kebebasan beragama ini, kaum Yahudi di  Madinah dapat menjalankan kegiatan keagamaan dengan tenang di  lingkungannya. Begitu juga dalam bidang pendidikan, sekolah-sekolah  agama Yahudi yang disebut <em>Bayt al-Midras</em> beraktivitas  sebagaimana biasa, bahkan semakin giat dari sebelumnya karena terpacu  dengan kehadiran Islam di Madinah.  Ibnu Ishaq menyebutkan, Rasulullah  saw pernah berkunjung dan masuk ke sekolah Yahudi untuk berdialog dengan  para <em>Ahbar</em> (pemuka Yahudi). Begitu juga Abu Bakar r.a.,  dikabarkan pernah masuk kedalam Midras dan “mendapati banyak sekali  orang di sana.” (Jilid 2 hal. 129 dan 134).</p>
<p>Terkait dengan  keamanan kota Madinah, kaum Muslim dan Yahudi harus bahu membahu  mewujudkannya. Kaum Muslim tidak akan membiarkan Yahudi diserang musuh  dari luar, dan begitu juga sebaliknya. Dalam teks Piagam Madinah, Nabi  Saw menyatakan, “<em>wa inna baynahum an-nashr `ala man dahama Yatsrib</em> (kaum Muslim dan kaum Yahudi saling menolong dalam mempertahankan  Madinah dari serangan pihak luar).”  Karena itu, baik Muslim maupun  Yahudi sama-sama berkewajiban menanggung beban biaya perang untuk  mempertahankan Madinah dari serangan musuh, “<em>wa innal yahuda yunfiqun ma`al mu’minin ma damu muharabin</em> (sesunguhnya kaum Yahudi dan kaum Mukmin sama-sama menanggung biaya perang bila diserang musuh).”</p>
<p>Dari  penjelasan sebagian pasal Piagam Madinah yang menyangkut kaum Yahudi,  tampak sejak awal Rasulullah saw menghendaki terbangunnya tatanan  kehidupan masyarakat yang harmonis di Madinah. Pendekatan persuasif ini  tampak semakin jelas, ketika Nabi Saw menyebut kaum Yahudi (bersama  Nasrani) sebagai<em> Ahl al-Kitab</em>. Dengan sebutan ini, maka  dampaknya antara  lain, lelaki Muslim masih dibolehkan menikahi wanita  Yahudi dan daging hewan sembelihan Yahudi halal dimakan oleh Muslim.</p>
<p>Dalam  muamalat, jual beli dan pelbagai bentuk transaksi lainnya yang tidak  bertentangan dengan syari`at Islam, kaum Muslim juga dibolehkan  melakukannya dengan Yahudi. Faktanya, setelah kedatangan Nabi Saw ke  Madinah, kaum Muslim tetap melakukan transaksi di pasar Yahudi.  Abdurraman bin `Auf, seorang sahabat terkemuka, memulai peruntungannya  di hari-hari pertama keberadaannya di Madinah dengan berdagang di pasar  Bani Qainuqa`, milik Yahudi (<em>Shahih al-Bukhari</em>, no. 3780). Ali bin Abu Thalib, menantu Nabi Saw, sebagian persiapan walimahnya ditangani oleh seorang dari Bani Qainuqa` (<em>Shahih Muslim</em>,  no. 5242). Bahkan, Nabi Saw menggadaikan baju perangnya dengan 30 Sha`  gandum kepada seorang Yahudi Bani Zhafar bernama Abu Syahm (Ibnu Hajar, <em>Fathul Bari</em>, Jilid 7 h. 461).</p>
<p><strong>Batas toleransi Nabi</strong><br />
Jaminan  konstitusi dan pendekatan-pendekatan persuasif yang dilakukan Nabi saw  menunjukkan toleransi yang tinggi kepada kaum Yahudi. Tapi, seiring  perjalanan waktu, kaum Yahudi melihat masyarakat Muslim sebagai ancaman  bahkan musuh. Sejumlah inidividu Yahudi membuat kericuhan dan  menyebarkan permusuhan. Fanhash, seorang <em>Ahbar</em> (Rabbi) Yahudi,  menghina Allah dan al-Qur’an di hadapan Abu Bakar (Ibnu Ishaq, Jilid 2  hal. 134); Ka`ab bin al-Asyraf, pemuka Bani Nadhir, merusak kios-kios di  pasar baru milik kaum Muslim (as-Samhudi,<em> Wafa al-Wafa</em>, Jilid  1  hal. 539); Sallam bin Misykam, pemuka Bani Nadhir, sempat menjamu Abu  Sufyan di rumahnya dalam perang Sawiq dan memberi informasi penting  tentang kaum Muslim (Ibnu Ishaq, Jilid 3 hal. 4).</p>
<p>Sikap permusuhan  yang digalang para pemuka agama dan tokoh masyarakat Yahudi ini semakin  dipertajam oleh para penyair. `Ashma binti Marwan, Abu `Afak, dan Ka`ab  bin al-Asyraf adalah penyair-penyair terkemuka Yahudi yang hampir tidak  pernah berhenti menggunakan kekuatan lisannya untuk melontarkan  bait-bait yang menghina Islam dan sosok Nabi Saw.</p>
<p>Nabi Saw  menghadapi para penyair ini dengan sikap tegas, karena mereka  orang-orang berpengaruh di masyarakat. Nabi Saw memerintahkan mereka  dihukum mati. Terlebih Ka`ab bin al-Asyraf yang menyampaikan simpatinya  secara langsung dan terbuka kepada Quraisy setelah kekalahan mereka di  Badar. Bahkan, ia terus mengobarkan dendam agar segera bangkit dan  menyiapkan perang besar melawan Madinah. (Prof Dr Muhammad bin Faris, <em>an-Naby wa Yahud al-Madinah</em>, h. 101-120).</p>
<p>Permusuhan  Yahudi semakin meluas dan dilakukan berkelompok. Kasus pelecehan  terhadap seorang Muslimah di pasar Bani Qainuqa` berujung pada  terbunuhnya pemuda Muslim yang membelanya, Bani Qainuqa` menggalang  solidaritas dan menantang secara terbuka, “Hai Muhammad, jangan lekas  bangga hanya karena berhasil membunuh beberapa orang Quraisy. Mereka itu  hanyalah orang-orang liar yang tidak pandai berperang. Demi Allah, jika  kami yang engkau perangi, maka engkau akan merasakan kehebatan kami.  Engkau tidak akan pernah merasakan lawan sekuat kami!” (Ibnu Ishaq,  Jilid 2 hal. 129). Dalam kondisi seperti itu, Nabi saw pun bersikap  tegas. Tantangan Bani Qainuqa’ dijawab dengan tegas. Mereka diperangi.</p>
<p>Yahudi  Bani Quraizhah melakukan pengkhianatan terhadap negara. Klan terakhir  Yahudi ini berkhianat dengan mendukung pasukan musuh (<em>Ahzab</em>)  dalam perang Khandaq. Menghadapi permusuhan kolektif ini, Nabi Saw tidak  punya pilihan selain menghukum mereka secara kolektif. Bani Qainuqa`  dan Bani Nadhir diusir dari Madinah. Sedang Bani Quraizhah, semua  lelakinya yang sanggup berperang dieksekusi.<br />
Itulah toleransi Nabi Muhammad saw terhadap Yahudi. <em>Wallahu a’lam bil-sahawab</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://insistnet.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=293:tolerasi-nabi-saw-kepada-yahudi&#038;catid=21:sejarah&#038;Itemid=19</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/tolerasi-nabi-saw-kepada-yahudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>103 Tahun Mohammad Natsir: Kekuatan Ruhani Al-Ghazali</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/103-tahun-mohammad-natsir-kekuatan-ruhani-al-ghazali/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/103-tahun-mohammad-natsir-kekuatan-ruhani-al-ghazali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 05:43:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2215</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal  17 Juli 2011 sejatinya tercatat sebagai salah satu Hari Bersejarah bagi bangsa Indonesia, dan umat Islam khususnya.   Seratus tiga tahun lalu, 17 Juli 1908, lahirlah di bumi pertiwi ini, seorang cendekiawan pejuang yang kemudian dikenal dengan nama Mohammad Natsir.  Di kemudian hari, tahun 2008, pemerintah RI menganugerahinya gelar “Pahlawan Nasional”. Sudah begitu banyak karya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal  17 Juli 2011 sejatinya tercatat sebagai salah satu Hari  Bersejarah bagi bangsa Indonesia, dan umat Islam khususnya.   Seratus  tiga tahun lalu, 17 Juli 1908, lahirlah di bumi pertiwi ini, seorang  cendekiawan pejuang yang kemudian dikenal dengan nama Mohammad Natsir.   Di kemudian hari, tahun 2008, pemerintah RI menganugerahinya gelar  “Pahlawan Nasional”.</p>
<p>Sudah  begitu banyak karya ilmiah ditorehkan untuk mengenang kehidupan,  perjuangan, dan pemikiran Mohammad Natsir. Namun, ada saja sisi-sisi  kehidupan Natsir yang mengusik akal-pikiran untuk mencermatinya. Natsir  tidak pernah duduk di bangku kuliah. Apalagi sampai jenjang S-3 atau  bergelar professor.</p>
<p>Riwayat  pendidikan formalnya diawali  tahun 1916-1923, saat ia  memasuki HIS  (Hollands Inlandsche School) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di  Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (<em>Meer Uitgebreid Lager Onderwijs</em>) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (<em>Algemene Middelbare School</em>) di Bandung.<br />
Menilik  sejarah hidupnya, Natsir bisa dikatakan sebagai seorang yang haus ilmu.   Saat duduk di bangku AMS (setingkat SMA sekarang), Natsir terus  mendalami agama, disamping belajar sungguh-sungguh di sekolah umum.  Kegemarannya dalam membaca buku, mendorongnya menjadi anggota  perpustakaan dengan bayaran tiga rupiah sebulan. Setiap buku baru yang  datang, Natsir selalu mendapat kiriman dari perpustakaan. Ada tiga guru  yang mempengaruhi alam pikirannya, yaitu pemimpin Persis A. Hassan, Haji  Agus Salim, dan pendiri al-Irsyad Islamiyah Syech Akhmad Syoerkati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Al-Ghazali</strong><strong> </strong></p>
<p>Kuatnya hasrat keilmuan Natsir dapat dilihat pada karya-karya tulisnya, sejak usia muda. Pada  tahun  1930-an, dalam usia sekitar 30 tahun, Natsir telah aktif menulis  tentang berbagai persoalan keilmuan dan terlibat dalam perdebatan  ilmiah. Melalui tulisan-tulisannya, ketika itu, tampak Natsir sudah  membaca berbagai literatur tentang aqidah, sejarah, ilmu kalam, tasawuf,  filsafat, syariah, perbandingan agama, dan sebagainya.  Hampir  dalam setiap tulisannya, Natsir mampu meramu dengan baik, sumber-sumber  dari kalangan Muslim maupun karya-karya orientalis Barat. Ambillah satu  contoh sebuah artikel berjudul <em>”Muhammad al-Ghazali (450-505 H, 1058-1111)”, </em>yang dimuat di majalah <em>Pedoman Masyarakat, A</em>pril 1937.   <strong> </strong></p>
<p>Dalam  artikel ini, Natsir memaparkan keagungan pemikiran dan kiprah  al-Ghazali dibandingkan dengan prestasi ilmuwan-ilmuwan Barat. Kitab <em>Maqashidul Falasifah</em>-nya  al-Ghazali, misalnya, sudah diterjemahkan oleh Dominicus Gundisalvus ke  bahasa Latin pada abad ke-12 M. Di sini, Natsir juga menguraikan teori  kausalitas al-Ghazali yang mendahului teori David Hume (1711-1776) tujuh  ratus tahun sebelumnya. Natsir membantah bahwa David Hume lah sarjana  pertama yang mengungkap teori kausalitas (<em>causaliteitleer</em>).  Natsir tidak menolak jasa David Hume dalam soal ini. Tetapi, tulisnya,  ”jangan dilupakan, bahwa 700 tahun sebelum David Hume, telah pernah  seorang filosof Muslim di daerah Timur yang mengupas masalah ini dalam  Kitabnya, <em>Tahafutul Falasifah</em>.” <strong></strong></p>
<p>Setelah mengupas sedikit teori kausalitas al-Ghazali, Natsir mengingatkan: <em>”Aneh!  Hal ini rupanya tidak hendak diingat orang. Dan kalau kita ketahui  bahwa seorang filosof Barat sebagai Immanuel Kant mengakui, bahwa David  Hume-lah yang membukakan matanya, dapatlah kita mengira-ngirakan betapa  besar kadarnya kekuatan ruhani Ghazali dibandingkan dengan  filosof-filosof yang masyhur di Barat itu.” </em><strong></strong></p>
<p>Kemudian, secara khusus, Natsir memberi komentar terhadap pemikiran al-Ghazali:</p>
<p><em>”Kalau  Imam Ghazali oleh karena ini tidak dinamakan seorang filosof-’aqli,  maka itu tidak berarti bahwa akalnya kurang dipakai dibandingkan dengan  filosof yang lain-lain. Tak kurang Al-Ghazali mengupas falsafah  Socrates, Aristoteles dan memperbincangkan pelbagai masalah yang  sulit-sulit dengan cara yang halus dan tajam sekali dalam kitabnya yang  tersebut di atas. Tak kurang ia membentangkan ilmu mantik dan tak kurang  pula menyusun ilmu-ilmu yang tahan uji dibandingkan dengan  karangan-karangan filosof yang lain. Semua ini menunjukkan ketajaman  akalnya dan memakai akal itu sebagai salah satu nikmat yang dikurniakan  Allah kepada manusia. Tapi dalam pada itu ia tidak hendak lupa, bahwa  akal ini pun dapat bekerja hanya sampai kepada suatu batas yang tak  dapat dilampaui. Apabila filosof yang lain masih terus juga menurunkan  akal itu ke mana-mana, di bawa oleh akal itu sendiri, walaupun sudah  bukan medan pekerjaannya lagi, &#8212; serta menjadikan akal sebagai hakim  yang menghabiskan dalam semua hal &#8211;, pada saat yang demikian itu Imam  Ghazali tidak enggan berkata dengan khusyu’ ”wallahu a’lam!” – ”Allah  yang lebih mengetahui!” – dan kembali kepada Kitab (Al-Quran), Yang tak  syak lagi menjadi petunjuk bagu mereka yang takwa.” </em><em></em></p>
<p>Melalui artikel yang pendek tersebut, Natsir menguraikan jasa-jasa besar al-Ghazali bagi  umat  Islam, disamping juga kontroversi terhadap pemikirannya dan apresiasi  para ilmuwan Barat terhadapnya. Terhadap kontroversi terhadap pemikiran  al-Ghazali, Natsir menulis, bahwa itu:<em>”&#8230; ialah suatu hal yang  galib diterima oleh setiap orang yang berjalan di muka bumi merintis  jalan baru, yang mendengarkan suara keyakinan yang teguh yang berbisik  di dalam hati, dan tidak hendak turut-turut ke hilir ke udik, seperti  pucuk aru dihembus angin.” </em><em></em></p>
<p>Penguasaan  Natsir terhadap pemikiran-pemikiran para pemikir Muslim klasik bisa  dilihat dalam berbagai artikelnya yang mengupas sosok dan pemikiran Ibnu  Thufail, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Abu Nasr Al-Farabi, Ikhwan  as-Shafa, juga kupasannya tentang aliran Mu’tazilah dan Ahli Sunnah.  Melalui berbagai tulisannya yang mengupas keagungan sejarah peradaban  dan pemikir Muslim, Natsir menyampaikan pesan yang jelas kepada kaum  Muslim: ”Jangan merasa rendah diri melihat kehebatan peradaban Barat!”  <em></em></p>
<p>Berbagai  tulisan Natsir menjelaskan, bahwa melalui para ilmuwan Muslim-lah,  Barat mengenal pemikiran-pemikiran Yunani yang sebenarnya telah  terkubur. Sebuah tulisan Natsir yang berjudul ”<em>Jejak Islam dalam Kebudayaan</em>” (<em>Pandji Islam</em>, tahun 1937),  menjelaskan bagaimana pengaruh  Ibn Haitham pada abad ke-11 terhadap tulisan Leonardo da Vinci, Johan Kepler, Roger Bacon, dan lain-lain. <em></em></p>
<p>Karena  itu, Natsir mengajak umat Islam memahami warisan sejarah budayanya  dengan benar. Ia mencontohkan, bagaimana ketelitian dan kecermatan kaum  Muslimin dalam mengumpul, memilih dan menyaring hadits-hadits Nabi  Muhammad saw. Lalu, berangkat dari ilmu dan keyakinannya akan kebenaran  dan ketinggian ajaran Islam, Natsir menyerukan kepada kaum Muslimin: <em>”Agama  manakah, falsafah mazhab apakah dan kebudayaan aliran manakah, yang  telah mendidik pengikutnya kepada ruh intiqad yang sampai demikian  tinggi tingkatnya? Dalam hal ini, sudah pada tempatnya bilamana kita  kaum Muslimin menjawab dengan kontan dan tegas: Tak lain yang mendidik  kami sampai demikian adalah Agama kami,  yakni Agama Fitrah, Agama yang cocok dan selaras dengan fitrah kejadian manusia!”.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://insistnet.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=266:103-tahun-mohammad-natsir-kekuatan-ruhani-al-ghazali&#038;catid=16:sosok&#038;Itemid=14</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/103-tahun-mohammad-natsir-kekuatan-ruhani-al-ghazali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Meruqyah Orang Kafir Yang Sakit?</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/bolehkah-meruqyah-orang-kafir-yang-sakit/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/bolehkah-meruqyah-orang-kafir-yang-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 05:39:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2213</guid>
		<description><![CDATA[&#160; السؤال :هل يجوز أن نرقي كافر لغرض الدعوة ؟ فلو جاءت الرقية بنتيجة جيدة فربما يفكر هذا الكافر بالإسلام . بالطبع فسوف يتم إخبار هذا الكافر بأنه ليس هناك قوة في هذه الرقية نفسها وإنما تحصل بمشيئة الله تعالى . Bolehkah meruqyah orang kafir yang sakit untuk tujuan dakwah? Jika ruqyah itu membawa hasil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>السؤال :هل يجوز أن نرقي كافر لغرض الدعوة ؟ فلو جاءت الرقية بنتيجة جيدة فربما يفكر هذا الكافر بالإسلام .<br />
بالطبع فسوف يتم إخبار هذا الكافر بأنه ليس هناك قوة في هذه الرقية نفسها وإنما تحصل بمشيئة الله تعالى .</p>
<p>Bolehkah meruqyah orang kafir yang sakit untuk  tujuan dakwah?    Jika ruqyah itu membawa hasil yang baik barangkali si kafir itu akan  berpikir masuk Islam?    Biasanya dengan cara itu dapat disampaikan kepada si kafir tersebut  bahwa sebenarnya tidak ada kekuatan pada ruqyah ini, namun kesembuhan  hanya datang dengan kehendak Allah Ta&#8217;ala. Semoga Allah membalas Anda  dengan kebaikan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>الحمد لله</p>
<p>ليس هناك ما يمنع من هذا الفعل ، والقرآن  الكريم جعل الله فيه شفاء ، كما جعل في العسل أو الزيت وغيرها من الأشياء ،  فهذه أسباب للشفاء والله هو الشافي فلا بأس برقية هذا الشخص وبخاصة أنّك  تطمع في إسلام هذا الكافر.</p>
<p>وقد جاء في الحديث الصحيح ما قد يُفيد جواز  رقية الكافر : فعن أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ انْطَلَقَ  نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي  سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ  الْعَرَبِ ( وهؤلاء القوم إما أنهم كفار أو أهل بُخل ولؤم كما ذكر ابن  القيّم رحمه الله في المدارج ) فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ  يُضَيِّفُوهُمْ فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الْحَيِّ فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ  شَيْءٍ لا يَنْفَعُهُ شَيْءٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاءِ  الرَّهْطَ الَّذِينَ نَزَلُوا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ  شَيْءٌ فَأَتَوْهُمْ فَقَالُوا يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ إِنَّ سَيِّدَنَا  لُدِغَ وَسَعَيْنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لا يَنْفَعُهُ فَهَلْ عِنْدَ  أَحَدٍ مِنْكُمْ مِنْ شَيْءٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ نَعَمْ وَاللَّهِ إِنِّي  لَأَرْقِي وَلَكِنْ وَاللَّهِ لَقَدْ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ  تُضَيِّفُونَا فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا  فَصَالَحُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنْ الْغَنَمِ فَانْطَلَقَ يَتْفِلُ  عَلَيْهِ وَيَقْرَأُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ فَكَأَنَّمَا  نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ فَانْطَلَقَ يَمْشِي وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ قَالَ  فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمْ الَّذِي صَالَحُوهُمْ عَلَيْهِ فَقَالَ  بَعْضُهُمْ اقْسِمُوا فَقَالَ الَّذِي رَقَى لا تَفْعَلُوا حَتَّى نَأْتِيَ  النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِي  كَانَ فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا فَقَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى  اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوا لَهُ فَقَالَ وَمَا يُدْرِيكَ  أَنَّهَا رُقْيَةٌ ثُمَّ قَالَ قَدْ أَصَبْتُمْ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي  مَعَكُمْ سَهْمًا فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ . رواه البخاري ( 2276 ) ومسلم ( 2201 )</p>
<p>وفيما يلي مُقتطفات من شرح الحافظ ابن حجر رحمه الله للحديث مع شيء من فوائده .</p>
<p>قوله : ( فاستضافوهم ) أي طلبوا منهم الضيافة ,  وفي رواية الأعمش عند غير الترمذي &#8221; بعثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم  ثلاثين رجلا فنزلنا بقوم ليلا فسألناهم القري &#8221; .. والقري بكسر القاف مقصور  : الضيافة .</p>
<p>قوله : ( فلُدغ ) أي لدغته عقرب</p>
<p>قوله : ( فسعوا له بكل شيء ) أي مما جرت به العادة أن يتداوى به من لدغة العقرب , كذا للأكثر من السعي أي طلبوا له ما يداويه ,</p>
<p>قوله : ( فأتوهم ) .. زاد البزار في حديث جابر &#8221; فقالوا لهم قد بلغنا أن صاحبكم جاء بالنور والشفاء , قالوا نعم &#8221; .</p>
<p>( فهل عند أحد منكم من شيء ) زاد أبو داود في  روايته من هذا الوجه &#8221; ينفع صاحبنا &#8221; . قوله : ( فقال بعضهم ) في رواية أبي  داود &#8221; فقال رجل من القوم : نعم والله إني لأرقي &#8221; .. الذي قال ذلك هو أبو  سعيد راوي الخبر ولفظه &#8221; قلت نعم أنا . ولكن لا أرقيه حتى تعطونا غنما &#8221;</p>
<p>وقد وقع أيضا في رواية سليمان بن قتة بلفظ &#8221; فأتيته فرقيته بفاتحة الكتاب &#8221;</p>
<p>قوله : ( فصالحوهم ) أي وافقوهم . قوله : ( على قطيع من الغنم ) .. وقع في رواية الأعمش &#8221; فقالوا إنا نعطيكم ثلاثين شاة &#8221;</p>
<p>قوله : ( فانطلق يتفل ) : التَّفْل هو نفخ معه قليل بزاق</p>
<p>قال ابن أبي حمزة : محل التفل في الرقية يكون  بعد القراءة لتحصيل بركة القراءة في الجوارح التي يمر عليها الريق فتحصل  البركة في الريق الذي يتفله .</p>
<p>قوله : ( ويقرأ الحمد لله رب العالمين ) في رواية شعبة &#8221; فجعل يقرأ عليها بفاتحة الكتاب &#8221; .. في رواية الأعمش أنه سبع مرات</p>
<p>قوله : ( فكأنما نُِشط ) .. ومعنى نشط : أقيم بسرعة , ومنه قولهم رجل نشيط .</p>
<p>قوله : ( من عِقال ) .. هو الحبل الذي يشد به ذراع البهيمة .</p>
<p>قوله : ( وما به قَلَبَة ) .. أي عّلة , وقيل للعلة قلبة لأن الذي تصيبه يقلب من جنب إلى جنب ليعلم موضع الداء</p>
<p>قوله : ( وما يدريك أنها رقية ) قال الداودي :  معناه وما أدراك .. وفي رواية معبد بن سيرين &#8221; وما كان يدريه &#8221; وهي كلمة  تقال عند التعجب من الشيء وتستعمل في تعظيم الشيء أيضا وهو لائق هنا , زاد  شعبة في روايته &#8221; ولم يذكر منه نهيا &#8221; أي من النبي صلى الله عليه وسلم عن  ذلك , وزاد سليمان بن قتة في روايته بعد قوله وما يدريك أنها رقية &#8221; قلت  ألقي في رُوعي &#8221; ( أي أُلْهمته إلهاما )</p>
<p>قوله : ( واضربوا لي معكم سهما ) أي اجعلوا لي منه نصيبا , وكأنه أراد المبالغة في تأنيسهم</p>
<p>وفي الحديث جواز الرقية بكتاب الله , ويلتحق به  ما كان بالذكر والدعاء المأثور , وكذا غير المأثور مما لا يخالف ما في  المأثور .. وفيه مقابلة من امتنع من المكرمة بنظير صنيعه لما صنعه الصحابي  من الامتناع من الرقية في مقابلة امتناع أولئك من ضيافتهم</p>
<p>وفيه الاجتهاد عند فقد النص وعظمة القرآن في  صدور الصحابة خصوصا الفاتحة , وفيه أن الرزق المقسوم لا يستطيع من هو في  يده منعه ممن قسم له لأن أولئك منعوا الضيافة وكان الله قسم للصحابة في  مالهم نصيبا فمنعوهم فسبب لهم لدغ العقرب حتى سيق لهم ما قسم لهم . وفيه  الحكمة البالغة حيث اختص بالعقاب من كان رأسا في المنع , لأن من عادة الناس  الائتمار بأمر كبيرهم , فلما كان رأسهم في المنع اختصّ بالعقوبة دونهم  جزاء وفاقا ..</p>
<p>وفي الموسوعة الفقهية : &#8211; لا خِلافَ بَيْنَ  الْفُقَهَاءِ فِي جَوَازِ رُقْيَةِ الْمُسْلِمِ لِلْكَافِرِ .  وَاسْتَدَلُّوا بِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه الَّذِي  سَبَقَ ذِكْرُهُ وَوَجْهُ الاسْتِدْلالِ أَنَّ الْحَيَّ &#8211; الَّذِي  نَزَلُوا عَلَيْهِمْ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ &#8211;  كَانُوا كُفَّارًا ، وَلَمْ يُنْكِرْ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ذَلِكَ  عَلَيْهِ . والله تعالى أعلم .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alhamdulillah, tidak ada faktor yang melarang perbuatan tersebut. Allah telah      menjadikan Al-Qur&#8217;an Al-Karim sebagai obat segala penyakit, sebagaimana halnya      madu, minyak zaitun dan lainnya. Perkara-perkara tersebut merupakan faktor-faktor      penyembuh, sementara yang menyembuhkan adalah Allah. Boleh saja dilakukan      ruqyah terhadap orang kafir tersebut, apalagi Anda berusaha menariknya ke      dalam Islam.<br />
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan keterangan yang membolehkan meruqyah      orang kafir.<br />
Diriwayatkan dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudri Radhiyallahu &#8216;Anhu ia berkata:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya beberapa orang dari kalangan Sahabat Rasulullah Shalallahu      &#8216;Alaihi Wassalam sedang berada dalam perjalanan. Mereka pergi ke salah satu      kampung Arab dan mereka berharap agar boleh diterima sebagai tamu penduduk      kampung tersebut (tampaknya penduduk kampung itu adalah orang-orang kafir      atau orang-orang bakhil dan brengsek sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim      dalam buku Madarijus Salikin). Namun ternyata penduduk kampung itu tidak mau      menerima mereka. Kemudian ketua atau penghulu kampung kami disengat binatang      berbisa. Mereka sudah mengusahakan berbagai macam pengobatan namun tidak mujarab.      Salah seorang penduduk kampung itu berkata: &#8220;Bagaimana jika kalian temui      rombongan tadi, barangkali mereka memiliki sesuatu yang dapat menyembuhkan!?&#8221;      Penduduk kampung itupun datang menemui mereka lalu berkata: &#8220;Wahai rombongan      yang mulia, kepala kampung kami tersengat binatang berbisa, kami telah mengusahakan      berbagai macam pengobatan namun tidak manjur, apakah salah seorang dari kalian      ada yang memiliki sesuatu untuk menyembuhkannya?&#8221; Salah seorang dari      Sahabat menjawab: &#8220;Demi Allah saya mampu meruqyahnya, namun kami tadi      meminta kalian menerima kami sebagai tamu namun kalian menolaknya, kami tidak      akan melakukannya hingga kalian memberi sesuatu imbalan kepada kami!&#8221;.      Mereka pun sepakat memberi beberapa ekor kambing. Lalu iapun menemui ketua      kampung tersebut dan menjampinya dengan membacakan surat Al-Fatihah. Kemudian      ketua kampung tersebut sembuh dapat berjalan seperti sedia kala tanpa terasa      sakit lagi. Merekapun diberi beberapa ekor kambing sesuai dengan perjanjian.      Salah seorang anggota rombongan berkata: &#8220;Bagilah kambing-kambing itu!&#8221;      sahabat yang meruqyah tadi menimpali: &#8220;Jangan bagikan dulu sebelum kita      laporkan kepada Rasulullah, kita ceritakan apa yang telah terjadi dan kita      menunggu apa perintah beliau!&#8221; merekapun pulang menemui Rasulullah Shalallahu      &#8216;Alaihi Wassalam dan menceritakan pengalaman tersebut. Setelah mendengar kisah      mereka itu Rasulullah Shalallahu &#8216;Alaihi Wassalam bersabda: &#8220;Tahukah      engkau, bahwa Al-Fatihah itu memang merupakan ruqyah.&#8221; Kemudian baginda      bersabda lagi: &#8220;Tindakan kalian benar, bagilah pemberian mereka dan pastikan      aku mendapatkan bagian bersama kalian.&#8221;<br />
(H.R Al-Bukhari no:2276 dan Muslim no:2201)</p>
<p>Berikut ini akan kami bawakan cuplikan syarah hadits ini oleh Ibnu Hajar      Al-Asqalani serta beberapa faidahnya:<br />
Perkataan: &#8220;mereka (para sahabat) berharap agar boleh diterima sebagai      tamu penduduk kampung tersebut&#8221; yaitu meminta agar diterima sebagai tamu.      Dalam riwayat Al-A&#8217;masy yang dikeluarkan selain imam Tirmidzi disebutkan:      &#8220;Rasulullah Shalallahu &#8216;Alaihi Wassalam mengutus tiga puluh orang. Lalu      kami (rombongan tersebut) singgah di suatu kaum pada malam hari. Kami meminta      agar mereka menerima kami sebagai tamu. Kata Al-Qira maknanya adalah tetamu.&#8221;<br />
Perkataan: &#8220;Disengat binatang berbiasa&#8221; yakni kalajengking.<br />
Perkataan: &#8220;Mereka telah berusaha menyembuhkan kepala kampung itu dengan      segala cara.&#8221; Yaitu cara-cara pengobatan yang biasa mereka lakukan bila      seseorang tersengat kalajengking. Demikianlah penjelasan mayoritaas ulama,      yakni mereka telah meminta kepada setiap orang untuk menyembuhkannya.<br />
Perkataan: &#8220;Penduduk kampung itupun datang menemui mereka&#8221; AlBazzar      menambahkan: &#8220;Penduduk kampung itu berkata: &#8220;Telah sampai berita      kepada kami bahwa sahabat kalian (Rasulullah Shalallahu &#8216;Alaihi Wassalam )      telah datang dengan membawa cahaya dan penyembuhan.&#8221; Para sahabat menjawab:      &#8220;Benar!&#8221;<br />
Perkataan: &#8220;Apakah kalian memiliki sesuatu untuk menyembuhkannya?&#8221;      Dalam riwayatnya Abu Dawud menambahkan: &#8220;Penyembuhan yang dapat berguna      bagi kepala kampung kami?&#8221;<br />
Peraktaan: &#8220;Sebagian mereka berkata&#8221; Dalam riwayat Abu Dawud berbunyi:      &#8220;Salah satu anggota rombonga berkata: Benar, demi Allah saya bisa membacakan      ruqyah kepadanya.&#8221; Yang berkata demikian adalah Abu Sa&#8217;id Al-Khudri perawi      hadits ini. Lafalnya: Aku (Abu Sa&#8217;id) berkata: &#8220;Benar, aku bisa meruqyahnya.      Namun aku tidak akan melakukannya sehingga kalian memberikan beberapa ekor      kambing.&#8221;<br />
Dalam riwayat Sulaiman bin Qittah berbunyi: &#8220;Akupun menemuinya dan meruqyahnya      dengan membacakan surat Al-Fatihah.&#8221;<br />
Perkataan: &#8220;Merekapun sepakat&#8221; yakni mereka menyetujui.<br />
Perkataan: &#8220;Memberikan beberapa ekor kambing&#8221; dalam riwayat Al-A&#8217;masy      disebutkan: &#8220;Kami akan memberi kalian tiga puluh ekor kambing.&#8221;<br />
Perkataan: &#8220;Maka iapun maju dan menyemburkan&#8221; At-tafl adalah semburan      yang disertai dengan sedikit ludah.<br />
Ibnu Abi Hamzah berkata: semburan disertai ludah itu dilakukan setelah membaca      ayat Al-Qur&#8217;an agar mendapat keberkahan bacaan Al-Qur&#8217;an pada anggota tubuh      yang dikenai oleh semburan ludah tadi. Karena ludah yang disemburkan tadi      memiliki berkah.<br />
Perkataan: &#8220;Iapun membacakan surat Al-Fatihah&#8221; dalam riwayat Syu&#8217;bah:      &#8220;Membacakan Fatihatul Kitab. Dalam riwayat Al-A&#8217;masy disebutkan: Surat      Al-Fatihah itu dibacakannya sebanyak tujuh kali.&#8221;<br />
Perkataan: &#8220;Seolah-olah ia (kepala kamupung) kembali segar&#8221; makna      nasyatha adalah bangkit dengan segera.<br />
Perkataan: &#8220;dari tali kekang&#8221; &#8216;Iqal adalah tali yang diikatkan untuk      mengekang binatang ternak.<br />
Perkataan: &#8220;Seakan-akan tidak terasa sakit&#8221; yaitu seakan-akan tidak      berpenyakit. Kadang kala penyakit disebutkan juga al-qalabah (berbolak-balik),      karena orang yang sakit akan berguling-guling bolak-balik untuk mengetahui      tempat yang sakit.<br />
Sabda nabi: &#8220;Tahukah engkau, bahwa Al-Fatihah itu memang merupakan ruqyah.&#8221;      Ad-Dawudi berkata: &#8220;Maknanya adalah &#8220;Tahukah kamu?&#8221; Dalam riwayat      Mu&#8217;abbad bin Sirrin disebutkan: &#8220;Tahukah ia?&#8221; kalimat ini biasa      digunakan saat takjub kepada sesuatu dan digunakan juga untuk membesarkan      sesuatu perkara. Makna kedua inilah yang cocok di sini. Dalam riwayatnya Syu&#8217;bah      menambahkan &#8220;Beliau sama sekali tidak menyebutkan larangan&#8221; yaitu      Rasulullah Shalallahu &#8216;Alaihi Wassalamtidak melarang hal itu. Sulaiman bin      Qittah menambahkan dalam riwayatnya setelah sabda beliau: &#8220;Tahukah engkau      bahwa Al-Fatihah itu adalah ruqyah&#8221; aku berkata: &#8220;Lalu meresaplah      sesuatu ke dalam lubuk hatiku&#8221; yakni ilham.<br />
Sabda nabi: &#8220;Pastikan aku mendapatkan bagian bersama kalian&#8221;<br />
Yakni berikanlah aku bagian daripadanya. Sepertinya beliau ingin menegaskan      kebenaran tindakan mereka.<br />
Hadist ini merupakan dalil bolehnya meruqyah dengan membacakan Kitabullah,      demikian pula dzikir dan doa yang ma&#8217;tsur maupun doa-doa lain yang tidak bertentangan      doa yang ma&#8217;tsur. Dan hadits itu juga merupakan dalil bolehnya menahan kebaikan      kepada seseorang sebagai balasan perbuatannya. Para sahabat menolak melakukan      ruqyah sebagai balasan penolakan mereka.<br />
Dalam hadits tersebut juga terdapat dalil bolehnya berijtihad jika tidak didapati      nash Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah, dan menunjukkan agungnya kedudukan Al-Qur&#8217;an      di dalam jiwa para Sahabat, khususnya surat Al-Fatihah. Dalam hadits itu dijelaskan      bahwa rezeki yang berada ditangan seseorang dan akan Allah bagikan kepada      orang lain tidak dapat ditahan siempunya. Ketika penduduk kampung itu menolak      menerima mereka sebagai tamu -sementara Allah telah menetapkan bagi rombongan      sahabat tersebut bagian dari harta penduduk kampung itu-, meskipun mereka      menghalanginya namun Allah menjadikan sengatan kalajengking terhadap kepala      kampung itu sebagai sebab berpindahnya harta mereka itu kepada para sahabat.      Di dalamnya terdapat hikmah yang sangat tinggi, bahwa balasan akibat penolakan      mereka tersebut ditimpakan kepada orang yang paling keras penolakannya di      antara mereka, yakni kepala kampung. Sebab biasanya penduduk kampung akan      bermusyawarah terlebih dahulu dengan pemuka kampung mereka. Oleh karena kepala      kampung itu yang sangat keras penolakannya maka ialah yang merasakan balasannya      secara khusus sebagai balasan yang adil.<br />
Dalam kumpulan masalah-masalah fiqih disebutkan: &#8220;Tidak ada perbedaan      pendapat diantara ahli fiqih tentang bolehnya seorang muslim meruqyah orang      kafir. Mereka berdalil dengan hadits Abu Sa&#8217;id Al-Khudri Radhiyallahu &#8216;Anhu      yang telah disebutkan di atas. Bentuk pengambilan dalilnya: penduduk kampung      yang mereka singgahi dan menolak menerima mereka sebagai tamu itu Adalah kaum      kafir.</p>
<p>Dan Rasulullah Shalallahu &#8216;Alaihi Wassalam tidak melarang perbuatan para      sahabat tersebut. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://islamqa.com/ar/ref/6714</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/bolehkah-meruqyah-orang-kafir-yang-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biografi Ali bin Al Husen Zainal Abidin (wafat tahun 93H)</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/biografi-ali-bin-al-husen-zainal-abidin-wafat-tahun-93h/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/biografi-ali-bin-al-husen-zainal-abidin-wafat-tahun-93h/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 17:30:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2201</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Nama sebenarnya adalah Ali bin al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, neneknya adalah Fatimah az-zahra binti Rasulillah, terkadang ia disebut dengan Nama Abu Husein atau Abu Muhammad, sedangkan nama panggilannya adalah Zainal Abidin dan As-Sajad, karena banyak melakukan shalat di malam hari dan di siang hari. Perjalanan Hidupnya Diriwayatkan bahwa Ia menerima beberapa orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Nama sebenarnya adalah Ali bin al-Husein bin Ali bin  Abi Thalib, neneknya adalah Fatimah az-zahra binti Rasulillah, terkadang  ia disebut dengan Nama Abu Husein atau Abu Muhammad, sedangkan nama  panggilannya adalah Zainal Abidin dan As-Sajad, karena banyak melakukan  shalat di malam hari dan di siang hari.</p>
<p><strong>Perjalanan Hidupnya</strong></p>
<p>Diriwayatkan bahwa Ia menerima beberapa orang  tamu dari Irak, lalu membicarakan Abu Bakar, Umar dan Utsman tentang  sesuatu yang buruk terhadapnya, dan ketika mereka selesai bicara, maka  ia berkata,”Apakah kalian termasuk kaum muhajirin yang di dalam Alquran  surat al-Hasyr: 8 yang menegaskan ‘Mereka yang diusir dari kampung  halaman dan dipaksa meninggalkan harta benda mereka, hanya karena mereka  ingin memperoleh karunia Allah dan keridhaan-Nya?”’ Mereka menjawab,  ”Bukan…!”</p>
<p>”Apakah kalian termasuk kaum Anshar yang  dinyatakan dalam Alquran surat al-Hasyr 97 : ‘Mereka yang tinggal di  Madinah dan telah beriman kepada Allah sebelum kedatangan kaum  Muhajirin. Mereka itu mencintai dan bersikap kasih sayang kepada  orang-orang yang datang berhijrah kepada mereka, dan mereka tidak  mempunyai pamrih apa pun dalam memberikan bantuan kepada kaum Muhajirin.  Bahkan mereka lebih mengutamakan orang-orang yang hijrah daripada diri  mereka sendiri, kendatipun mereka berada dalam kesusahan?”’ ”Bukan…!”</p>
<p>Kalau begitu berati kalian menolak untuk  tidak termasuk ke dalam salah satu dari kedua golongan tersebut.  Selanjutnya ia berkata” Aku bersaksi bahwa kalian bukanlah orang yang  dimaksud dalam firman Allah Ta’ala, “<em>”Ya Tuhan kami, beri ampunlah  kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami,  dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap  orang-orang yang beriman.”</em> (Qs. Al Hasyr:10). Maka keluarlah kalian dari rumahku, niscaya Allah murka kepada kalian”.</p>
<p>Ali bin al Husein Zainal ‘Abidin dianggap  sebagai ulama yang paling masyhur di Madinah dan pemimpin ulama tabi’in  di sana. Hal ini keterangan yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah,  dan yang diriwayatkan Ibnu Abbas.</p>
<p>Kurang lebih 30 tahun Zainal Abidin bergiat  mengajar berbagai cabang ilmu agama Islam di Masjid Nabawi di Madinah.  Sikap tidak berpihak pada kelompok mana pun tersebut mengundang simpati  dari semua kelompok yang bertikai. Zainal Abidin disegani oleh segenap  kaum Muslimin baik kawan maupun lawan.</p>
<p>Pada zamannya, Zainal Abidin diakui  masyarakat Muslimin sebagai ulama puncak dan kharismatik. Ia sangat  dihormati, disegani, dan diindahkan nasihat-nasihatnya. Kenyataan itu  tidak hanya karena kedalaman ilmu pengetahuan agamanya, tidak pula  karena satu-satunya pria keturunan Rasulullah, tetapi juga karena  kemuliaan akhlak dan ketinggian budi pekertinya.</p>
<p>Salah seorang Putera ‘Amar bin Yasir  meriwayatkan bahwa: pada suatu hari Ali bin Husein kedatangan suatu  kaum, lalu beliau menyuruh pembantunya untuk membuatkan daging panggang,  Kemudian pembantu itu dengan terburu buru sehingga besi untuk membakar  daging terjatuh mengenai kepala anak Ali bin Husein yang masih kecil  sehingga anak tersebut meninggal. Maka Ali berkata kepada pembantunya,’  kamu kepanasan, sehingga besi itu jatuh’. Setelah itu beliau sendiri  mempersiapkan untuk memakamkan anaknya.”. Menunjukan kesabaran dan  kepasrahan beliau, dimana seorang pembantu telah menyebabkan kematian  anaknya. sehingga ia membalas kejelekan dengan suatu kebaikan.</p>
<p>Sebuah keterangan yang diriwayatkan oleh  Hisyam bin Abdul Malik ketika ia sedang menunaikan ibadah haji sebelum  diangkat menjadi Khalifah, ia berusaha untuk mencium hajar aswad tetapi  ia tidak mampu melakukannya, kemudian datang Ali bin Husein hendak  mencium hajar aswad juga sehingga orang orang disekitarnya menyingkir  dan berhenti lalu beliau menciumnya. Kemudian orang orang bertanya  kepada Hisyam siapa orang itu?, dia menjawab aku tidak mengenalnya. Maka  seseorang berkata” Aku mengenalnya, dia adalah Ali bin al Husein.</p>
<p>Para ulama sepakat bahwa Ali bin al Husein  ini anak paling kecil dari Husein yang selamat, sedangkan kakak-kakaknya  dan kedua orang tuanya terbunuh sebagai syuhada. Zainal Abidin kecil  selamat dari pembunuhan keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam, ketika itu ia sedang terlentang di atas tempat tidur karena  sakit, sehingga keadaanya luput dari pembunuhan, saat itu usianya 23  tahun. Allah melindungi dan menyelamatkannya.</p>
<p>Ia wafat pada tahun 74 H di Madinah dalam  usia 58 tahun dan dimakamkan di Baqi. Riwayat lain dikatakan ia wafat  pada tahun 93 H dalam usia 57 tahun.</p>
<p><strong>Sumber </strong>:  Biografi Ali bin Husein  dalam kitab Al ‘ilmu wa al Ulama Karya Abu Bakar al Jazairy. Penerbit  Daar al Kutub as Salafiyyah. Cairo. ditulis tanggal 5 Rab’ul Awal di  Madinah al Nabawiyah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihattokoh&#038;id=192</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/biografi-ali-bin-al-husen-zainal-abidin-wafat-tahun-93h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menagih Janji Kaum Syiah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/menagih-janji-kaum-syiah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/menagih-janji-kaum-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 17:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2204</guid>
		<description><![CDATA[Menagih Janji Kaum Syiah &#160; Pada hari Kamis, 19 Januari 2012, Jurnal Islamia-Republika, (hal. 23-26) – Jurnal Pemikiran Islam bulanan hasil kerjasama antara INSISTS dan Harian Republika &#8212; menurunkan kajian utama tentang Syiah di Indonesia. Artikel saya yang dimuat di Jurnal tersebut berjudul “Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah”.&#160; Esoknya, Jumat, 20 Januari 2012, Kajian Islamia-Republika itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Menagih Janji Kaum Syiah</h1>
<p>&nbsp;</p>
<div><span>Pada hari Kamis, 19 Januari 2012, <em>Jurnal Islamia-Republika, </em>(hal.   23-26) – Jurnal Pemikiran Islam bulanan hasil kerjasama antara INSISTS   dan Harian Republika &#8212; menurunkan kajian utama tentang Syiah di   Indonesia. Artikel saya yang dimuat di Jurnal tersebut berjudul “<em>Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah”.&nbsp;</p>
<p></em><em> </em>Esoknya, Jumat, 20 Januari 2012, <em>Kajian Islamia-Republika </em>itu   mendapatkan tanggapan dari Haidar Bagir, Dirut Penerbit Mizan – yang   dikenal sebagai salah satu penerbit buku Syiah di Indonesia. Artikel   Haidar di Harian Republika itu diberi judul “<em>Syiah dan Kerukunan Umat.” </em>Dalam artikelnya, Haidar Bagir menulis, bahwa dia setuju dengan solusi damai yang saya tawarkan:  <em>“Jika   kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya  mereka  menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah  Indonesia  menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa  berdampak buruk  bagi masa depan negeri Muslim ini…. Itulah jalan damai  untuk  Muslim  Sunni dan kelompok Syiah.</em>”</p>
<p>Menurut Haidar  Bagir, dia pernah  bertemu secara pribadi dengan Syaikh Ali Taskhiri,  seorang ulama  terkemuka di Iran, salah satu pembantu terdekat Wali  Faqih Ayatullah Ali  Khamenei, serta wakil <em>Dar al-Taqrib bayn al-Madzahib </em>(Perkumpulan Pendekatan antar-Mazhab), yang dengan tegas menyatakan: “<em>hendaknya kaum Syiah di Indonesia meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum muslim di Indonesia.”<br />
</em><br />
<span>Haidar Bagir juga menyampaikan imbauan di ujung artikelnya: “<em>Khusus   untuk orang-orang yang pandangannya didengar oleh para pengikut Syiah   di negeri ini, hendaknya mereka meyakinkan para pengikutnya untuk dapat   membawa diri dengan sebaik-baiknya serta mengutamakan persaudaraan dan   toleransi terhadap saudara-saudaranya yang merupakan mayoritas di  negeri  ini.”</em></span></p>
<p><em> </em><em> </em>Dalam soal sikap terhadap para sahabat Nabi  Muhammad  Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) &#8212; yang  menjadi  langganan caci-maki kaum Syiah, Hadiar Bagir juga menulis:<span><em>“Sementara  itu, banyak ulama Syiah  Imamiyah atau Itsna ’Asyariyah yang telah  merevisi pandangannya tentang  ini. Hasil konferensi Majma’ Ahl al-Bayt  di London pada 1995, mi sal  nya, dengan tegas menyatakan menerima  keabsahan kekhalifah an tiga  khalifah terdahulu sebelum Khalifah Ali.<br />
</em></span></p>
<p><em>Bahkan,  terkait dengan skandal  pengutukan sahabat besar dan sebagian istri  Nabi yang dilakukan oleh  oknum Syiah yang tinggal di Inggris, bernama  Yasir al-Habib, Ayatullah  Sayid Ali Khamenei sendiri mengeluarkan fatwa  yang dengan tegas melarang  penghinaan terhadap orang-orang yang  dihormati oleh para pemeluk </em><em>Ahlus Sunnah (fatwa ini tersebar dan dapat dengan mudah diakses dari berbagai sumber). Di antara isinya adalah, </em></p>
<p><em>“Diharamkan  menghina  figur-figur/tokoh-tokoh (yang diagungkan) saudara-saudara  seagama kita,  Ahlus-Sunnah, termasuk tuduhan terhadap istri Nabi  Shalallaahu &#8216;Alaihi  Wasallam (صلى الله عليه و سلم)dengan hal-hal yang  mencederai kehormatan  mereka &#8230;”</em></p>
<p><em> </em><em> </em></p>
<p>Benarkah?</p>
<p>Jadi,  sesuai artikel  Haidar Bagir di Republika tersebut,  ada dua hal pokok  yang harus  dilakukan oleh kaum Syiah untuk solusi damai bagi Ahlu  Sunnah dan Syiah  di Indonesia, yaitu (1) menghentikan caci maki  terhadap sahabat-sahabat  dan istri-istri  Nabi saw dan (2) menghentikan  ambisi untuk  meng-Syiahkan Indonesia, seperti ditegaskan oleh seorang  ulama Syiah  yang dijumpai Haidar Bagir: “hendaknya kaum Syiah di  Indonesia  meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum  muslim di  Indonesia.”</p>
<p>Apakah janji yang  disampaikan Haidar Bagir  tersebut bisa dipenuhi kaum Syiah? Tampaknya,  itu tidaklah mudah.  Seperti disebutkan dalam CAP-323 lalu, sejumlah  fakta di lapangan  menunjukkan banyaknya penerbitan Syiah di Indonesia  yang masih mengumbar  caci-maki dan fitnah terhadap para sahabat dan  istri-istri Nabi  Muhammad saw. Bahkan, salah satu buku terkenal yang  mencaci-maki dan  menfitnah sahabat dan istri Nabi Muhammad saw adalah  buku terbitan  Mizan, pimpinan Haidar Bagir sendiri, yang berjudul  <em>“Dialog Sunnah – Syiah” </em>karya  Syarafuddin al Musawi, (Bandung: Mizan (cetakan pertama, 1983).</p>
<p>Buku  ini diklaim penulisnya sebagai  kumpulan surat menyurat antara penulis  dengan Syaikh Salim al-Bisyri  al-Maliki, yang saat itu menjabat Rektor  al Azhar, Mesir. Di dalamnya  banyak berisi dialog yang menjelaskan  antara lain: Kewajiban berpegang  pada madzhab Ahlul Bait, adanya wasiat  Nabi saw untuk Ali bin Abi Thalib  r.a. sebagai penggantinya, para  sahabat tidak ma’shum (infallible) dari  dosa dan kesalahan yang  berimplikasi ketidakpercayaan periwayatan dari  mereka, dan bahasan lain  yang mendukung pemahaman Syiah.</p>
<p>Di buku  ini, juga ditulis berbagai tuduhan  bahwa Aisyah r.a. telah berbohong  karena menceritakan Nabi Muhammad saw  meninggal di pangkuannya,  sehingga didoakan oleh penulisnya,   mudah-mudahan Allah memberikan  ampunan untuk Aisyah r.a.</p>
<p><em>“Oh….,  semoga Allah  mengaruniakan ampunan-Nya bagi Ummul Mu’minin! Mengapa  ia, ketika  menggeser keutamaan ini dari Ali, tidak mengalihkannya  kepada pribadi  ayahnya saja! Bukankah yang demikian itu lebih utama dan  lebih layak  bagi kedudukan Nabi saw daripada apa yang didakwahkannya?  Namun sayang  ….., ayahnya – waktu itu – bertugas sebagai anggota  pasukan di bawah  pimpinan Usamah bin Zaid, yang persiapannya telah  diatur dan ditetapkan  sendiri oleh Rasulullah Shalallaahu &#8216;Alaihi  Wasallam (صلى الله عليه و  سلم) ; dan pada saat itu sedang berhenti dan  berkumpul di sebuah desa  bernama Juruf!” (hal. 353).</em></p>
<p><em> </em><em> </em></p>
<p>Di  buku ini juga dimuat cerita tentang  provokasi Aisyah terhadap khalayak  dengan  memerintahkan mereka agar  membunuh Utsman bin Affan: “<em>Bunuhlah Na’tsal, karena ia sudah menjadi kafir!” </em>(Catatan:   Na’tsal adalah orang tua yang pandir dan bodoh). (hal. 357). Di  halaman  yang sama, dimuat satu syair yang mengecam Aisyah r.a.:</p>
<p><em>“Engkau yang memulai, engkau yang merusak<br />
Angin dan hujan (kekacauan)<br />
Semuanya berasal darimu<br />
Engkau yang memerintahkan<br />
Pembunuhan atas diri sang Imam<br />
Engkau yang mengatakan<br />
Kini dia sudah kafir.”<br />
</em><br />
(NB.   Berbagai cercaan terhadap Aisyah r.a. tersebut saya kutip dari buku    Dialog Sunnah-Syiah, edisi Oktober 2008. Jadi, sejak 1983 buku ini terus   dicetak oleh Penerbit Mizan – yang Dirutnya adalah Haidar Bagir –   sampai tahun 2008. Saya tidak tahu, apakah masih ada edisi buku tersebut   setelah 2008).</p>
<p>Itulah sebagian isi buku <em>“Dialog Sunnah-Syiah” </em>terbitan Mizan. Pokok-pokok bahasan di dalam buku “<em>Dialog Sunnah-Syiah” </em>tersebut telah dijelaskan kekeliruannya oleh Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus dalam karyanya <em>Ensiklopedi Sunnah Syiah, Studi Perbandingan Aqidah dan Tafsir, </em>yang   diterbitkan Pustaka Al Kautsar (Jakarta, 1997). Buku ini diberi kata   pengantar oleh Dr. Hidayat Nurwahid, yang juga dikenal sebagai pakar   tentang Syiah lulusan  Universitas Islam Madinah. Dalam pengantarnya,   Hidayat Nurwahid memuji keseriusan Prof. as-Salus yang berhasil   menunjukkan, bahwa buku karya al-Musawi, yang aslinya berjudul   al-Muraja’at,  hanyalah karangan al-Musawi belaka. Alias, dialognya   adalah fiktif belaka.</p>
<p>Bahkan, Prof.  as-Salus menulis: “Tetapi  al-Musawi, seorang Syiah Rafidhah yang  terkutuk ini, tanpa rasa sungkan  dan malu ingin menjadikan seorang  Syaikh al-Azhar yang kapabel dan  kredibel sebagai murid kecil dan bodoh  yang menerima ilmu pertama kali  dari dia.” (hal. 249).</p>
<p>Kaum  Muslim yang mencintai Nabi Muhammad  Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى  الله عليه و سلم), para sahabat beliau  yang mulia, dan juga istri-istri  beliau yang herhormat, pasti tidak  ridho jika orang-orang yang mulia  tersebut dihina, difitnah dan  dilecehkan. Kita pun tidak rela jika  orang yang kita hormati dan sayangi  diperhinakan. Bagaimana jika yang  dihina dan difitnah adalah para  sahabat dan istri Nabi Muhammad  Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله  عليه و سلم)? Nabi Shalallaahu  &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  bersabda: <em>“Tidak beriman  salah seorang  diantara kalian, hingga  diriku lebih dicintainya  daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh  manusia.” </em>(HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Cerita  bahwa Aisyah r.a. memerintahkan  pembunuhan terhadap Utsman bin Affan  adalah tuduhan keji dan dusta.  Aisyah sendiri pernah dikonfirmasi  tentang adanya surat atas nama Aisyah  di Medir yang memerintahkan  pembunuhan terhadap Utsman bin Affan r.a.   Beliau bersumpah, bahwa  beliau tidak pernah menulis surat seperti itu.  Banyak riwayat dari  Aisyah r.a. yang sudah mengklarifikasi masalah ini.  Anehnya,  orang-orang Syiah tidak mau tahu, dan selalu mengutip  cerita-cerita  bohong tersebut. (Lihat, Tarikh Khalifah bin Khayyath,  hal. 176 &amp;  Tarikh al-Madinah, Ibn Syabbah 4:1224. Semuanya ada dalam  Tahqiq  Mawaqif al-Shahabah fil-Fitnah, karya Dr. Mahmud Umahzun, Dar  Thayba,  Riyadh, cet. I,  1994, vol.2/29-30. Data: Buku Fitnah Maqtal  Utsman,  karya Dr. Mhmmad al-Ghabban, Maktabah Obeikan, Riyadh, cet. I,  1999).</p>
<p>Jika  Aisyah dinistakan dan difitnah, kaum  Muslim tentu sangat tidak ridha.  Ummul mukminin, Aisyah r.a. sangat  dicintai kaum Muslimin. Beliau  adalah istri Nabi yang mulia. Nabi  Muhammad saw wafat di pangkuan  Aisyah dan dikuburkan di rumah Aisyah  pula. Aisyah r.a. adalah ulama  wanita yang meriwayatkan 2210 hadits.  Dari jumlah itu, 286 hadits  tercantum dalam shahih Bukhari dan Muslim.  Ada sekitar 150 ulama  Tabi’in yang menimba ilmu dari Aisyah. (Lihat,  K.H. Ubaidillah Saiful  Akhyar Lc, Aisyah, <em>The Inspiring Woman,</em> (Yogyakarta: Madania, 2010).</p>
<p>Kasus buku <em>Dialog Sunnah-Syiah </em>terbitan   Mizan ini menjadi bukti nyata, bahwa ajakan Haidar Bagir untuk   kerukunan Sunnah-Syiah masih perlu dipertanyakan. Bukankah buku yang   mencaci maki sahabat-sahabat dan istri Nabi tersebut sudah diterbitkan   oleh Penerbit Mizan selama hampir 30 tahun?</p>
<p>Jalan Damai: Mungkinkah?</p>
<p>Menyimak   berbagai penerbitan kaum Syiah – termasuk terbitan Mizan – patut   dipertanyakan, mungkinkah jalan damai Sunnah-Syiah itu bisa diwujudkan?   Mungkinkah kaum Syiah memenuhi imbauan dari sebagian tokoh mereka: agar   tidak berambisi men-Syiahkan Indonesia dan menghentikan caci maki   terhadap sahabat dan istri Nabi Muhammad Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam   (صلى الله عليه و سلم)?</p>
<p>Memang itu tidak  mudah. Sebab, tampak dalam  berbagai penerbitan mereka, kebencian  terhadap Abu Bakar, Umar, dan  Utsman, radhiyallaaahu ‘anhum, sudah  begitu mendarah daging.  Sikap  Syiah terhadap para sahabat Nabi itu  sangat berbeda dengan sikap kaum  Sunni yang menghormati semua sahabat,  apalagi KhulafaaurRasyidin,  termasuk Sayyidina Ali r.a.</p>
<p>Saya  mendapat satu brosur doa berjudul  “Ziarah Asyura”, terdiri atas enam  halaman. Disamping berisi doa-doa  untuk para Nabi Muhammad saw dan  keluarganya,  doa ini diwarnai dengan  kutukan dan laknat terhadap  berbagai orang. Misalnya, di halaman 5,  ditulis doa laknat:  “Allahummal-‘an awwala dhaalimin dhalama haqqa  Muhammadin wa-Aali  Muhammadin…”. (Ya Allah, laknatlah orang-orang zalim  yang awal-awal,  yang menzalimi hak Nabi Muhammad dan keluarganya…”).</p>
<p>Doa  ini diakhiri dengan kutipan perkataan  Imam Muhammad Al-Baqir as., yang  berkata kepada Alqamah: “Jika engkau  mampu berziarah kepada beliau  (Imam Husein as.) setiap hari dengan  membaca doa ziarah ini (<strong>ziarah Asyura</strong>) di rumahmu, maka lakukanlah itu dan engkau akan mendapatkan semua pahala (berziarah).”</p>
<p>Itulah petikan doa “<strong>Ziarah Asyuro</strong>”   yang diedarkan di Indonesia. Siapakah yang dimaksud dengan  “orang-orang  zalim”  yang disebutkan telah menzalimi hak Nabi dan  keluarga Nabi?   Apakah mereka Abu Bakar, Umar bi Khathab, Utsman bin  Affan, Aisyah r.a.,  dan sebagainya?  Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus,  dalam buku yang  disebutkan terdahulu, telah mengklarifikasi masalah  ini, dengan  menunjukkan adanya riwayat dari Imam Zaid bin Hasan bin Ali  bin Husain  Radhiyallaahu ‘anhum, bahwa dia membenarkan apa yang  dilakukan Abu Bakar  r.a. terhadap Fathimah dalam soal waris keluarga  Nabi.  <em>“Jika saya pada posisinya (Abu Bakar) niscaya saya akan menetapkan hukum seperti yang ditetapkannya,</em>”  kata Imam Zaid. Diriwayatkan juga dari saudara Imam Zaid, yaitu al-Baqir, bahwa dia pernah ditanya, “<em>Apakah   Abu Bakar dan Umar menzalimi sesuatu dari hak kalian?” Ia menjawab,   “Tidak, demi Dzat yang menurunkan al-Quran kepada hamba-Nya agar menjadi   peringatan bagi alam semesta, sungguh kami tidak dizalimi dari hak  kami  meskipun seberat biji sawi.” </em>(as-Salus, hal. 297).</p>
<p>Jika  dicermati, polemik Ahlu Sunnah dan  Syiah itu sudah berlangsung lebih  dari 1.000 tahun. Apakah hal seperti  ini yang diinginkan oleh kaum  Syiah di Indonesia, dengan terus-menerus  menebarkan kebencian kepada  Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin  Affan, Aisyah r.a.? Sampai  kapan caci-maki semacam ini akan diakhiri?  Karena itu, saya ingin  mengakhiri CAP ini dengan ungkapan sama seperti  dalam artikel di <em>Jurnal Islamia-Republika </em>(19/1/2012):<em> “Jika kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya   mereka menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah   Indonesia menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa   berdampak buruk bagi masa depan negeri Muslim ini. Masih banyak lahan   dakwah di muka bumi ini – jika hendak di-Syiahkan.  Itulah jalan damai   untuk  Muslim Sunni dan kelompok Syiah. Kecuali, jika kaum Syiah melihat   Muslim Sunni adalah aliran sesat yang wajib di-Syiahkan!<br />
</em></p>
<p>Kita  tunggu realisasi janji kaum Syiah  untuk tidak men-Syiahkan Indonesia  dan menghentikan caci-maki kepada  para sahabat dan istri-istri Nabi  Muhammad Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam  (صلى الله عليه و سلم)! (Walahu  a’lam bil-shawab).*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://insistnet.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=301%3Amenagih-janji-kaum-syiah&#038;catid=1%3Aadian-husaini&#038;Itemid=15</p>
<p>&nbsp;</p>
<p></span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/menagih-janji-kaum-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/solusi-damai-muslim-sunni-syiah/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/solusi-damai-muslim-sunni-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 16:04:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2207</guid>
		<description><![CDATA[Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah &#160; Pada 29 Desember 2011, terjadi peristiwa menggemparkan di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.  Sebuah mushala dan beberapa rumah warga Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang,  diserbu dan dibakar massa. Rumah dan mushalla itu adalah milik kelompok Syiah yang dipimpin oleh Tajul Muluk Ma’mun. Kasus Sampang Madura itu  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah</h1>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada 29 Desember 2011, terjadi peristiwa menggemparkan di Kabupaten  Sampang, Madura, Jawa Timur.  Sebuah mushala dan beberapa rumah warga  Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang,  diserbu  dan dibakar massa. Rumah dan mushalla itu adalah milik kelompok Syiah  yang dipimpin oleh Tajul Muluk Ma’mun.</p>
<p>Kasus Sampang Madura itu   mulai membuka mata banyak orang, bahwa ada masalah serius dalam soal  hubungan antara orang-orang Muslim Sunni dan kelompok Syiah  di  Indonesia. Sebelumnya, berbagai kasus serupa – dalam skala kecil – sudah  terjadi di berbagai tempat.  Benih-benih konflik itu seperti sudah  menyebar. Kasus Syiah Sampang itu, tentu saja, patut disesalkan, sebab  konflik semacam ini harusnya bisa diredam jauh-jauh sebelumnya. Banyak  pihak yang kemudian menuding bahwa kasus itu adalah cerminan buruknya  iklim kebebasan beragama di Indonesia.</p>
<p>Tetapi, analisis semacam  itu terlalu parsial dan liberal. Semua masalah hubungan antar atau  internal agama hanya dilihat dari satu aspek saja, yaitu aspek HAM dan  “kebebasan beragama”. Padahal, yang kadangkala diabaikan dalam analisis  soal keagamaan adalah soal “sensitivitas” yang sudah menyentuh aspek  keyakinan. Seperti dalam kasus hubungan Muslim Sunni dan kelompok Syiah.</p>
<p>Kasus Syiah Sampang, Madura, misalnya, sudah berlarut-larut selama  bertahun-tahun.  Pada 20 Februari 2006, lebih dari 50 orang ulama Madura  mengeluarkan pernyataan, bahwa aliran Syiah yang disebarkan oleh Tajul  Muluk Ma’mun di Madura tergolong Syi’ah Ghulah (<em>Rofidloh</em>).  Salah satu ajaran yang membuat hati kaum Muslim Sunni di Madura  tersakiti adalah ajaran yang melecehkan para sahabat Nabi saw.</p>
<p><strong>Akar masalah</strong><br />
Pernyataan  para ulama Madura itu membuktikan bahwa kasus Syiah di Sampang, adalah  laksana bara dalam sekam. Kasus ini tidak segera diselesaikan, sehingga  “bara” itu akhirnya meledak, dan mengagetkan banyak orang. Muncullah  opini seolah-olah kelompok Syiah di Indonesia tidak mendapatkan hak  kebebasan beragama dari kaum Muslim Indonesia; bahwa  mereka terzalimi.</p>
<p>Masalah  Sampang ini tentu memerlukan kajian dan penelitian yang serius. Yang  jelas di Indonesia, kelompok Syiah terbukti sangat agresif dalam  menyerang ajaran-ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas Muslim di  Indonesia. Ini sulit dipisahkan dari sejarah kelahiran kelompok Syiah  itu sendiri, yang menganggap hak kekhalifahan Ali r.a. dirampas oleh Abu  Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, dan Utsman bin Affan <em>radhiyallahu ‘anhum</em>. Tidak heran, jika ketiga sahabat utama Rasulullah saw itu sering menjadi bulan-bulanan caci maki.</p>
<p>Begitu pula <em>ummul mukminin</em>,  Aisyah r.a. yang sangat dicintai kaum Muslimin tak lepas dari berbagai  fitnah dan cemoohan kaum Syiah. Padahal, Aisyah adalah istri Nabi yang  mulia. Nabi Muhammad saw wafat di pangkuan Aisyah dan dikuburkan di  rumah Aisyah pula. Aisyah r.a. adalah ulama wanita yang meriwayatkan  2210 hadits. Dari jumlah itu, 286 hadits tercantum dalam shahih Bukhari  dan Muslim. Ada sekitar 150 ulama Tabi’in yang menimba ilmu dari Aisyah.  (Lihat, K.H. Ubaidillah Saiful Akhyar Lc, Aisyah, <em>The Inspiring Woman</em>, (Yogyakarta: Madania, 2010).</p>
<p>Jadi,  keutamaan Aisyah r.a. sudah begitu masyhur dan disampaikan sendiri oleh  Nabi Muhammad saw. Sangat wajar, jika kaum Muslim akan terluka hatinya  jika wanita yang sangat mulia dan agung ini dicaci-maki.</p>
<p>Masalahnya,  di Indonesia, berbagai penerbitan kaum Syiah terbukti sulit  menyembunyikan caci-maki terhadap para sahabat dan istri Nabi yang mulia  tersebut. Padahal, dalam buku-buku tersebut, kadangkala disebutkan,  bahwa penulis buku Syiah itu  mengaku ingin membangun persaudaraan  dengan kaum Muslim Sunni. Sebut satu contoh, buku berjudul <em>The Shia, Mazhab Syiah, Asasl-usul dan Perkembangannya karya Hashim al-Musawi</em> (Jakarta: Lentera, 2008). Secara halus, buku ini juga mendiskreditkan  Abu Bakar dan Umar r.a. Misalnya, dalam hal pencatatan sabda Nabi  Muhammad saw.</p>
<p>“Sumber-sumber historis mengindikasikan beragam  pendapat berbeda mengenai penulisan kata-kata Nabi. Para Imam Ahlulbait  Nabi yakin perlunya menulis atau mencatat kata-kata Nabi dan menjaganya  dari hilang atau didistorsi. Imam Ali beserta putranya, al-Hasan,  memerintahkan pencatatan sabda Nabi dan pendokumentasian  sumber-sumbernya. Menurut ad-Dailami, Imam Ali berkata: “Bila kamu  mencatat sebuah sabda, sebutkan juga sumbernya.” (Catatan kaki: Hasan  ash-Shadr,<em> asy-Syiah wa Finun al-Islam</em>). Imam Ali sendiri  mencatat sabda-sabda Nabi dalam sebuah surat gulungan, dan surat  gulungan ini diwarisi oleh para imam keturunan Imam Ali. Sementara itu,  Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar melarang pencatatan sabda Nabi, dan  para penguasa Umayah juga memberlakukan larangan ini sampai Umar bin  Abdul Aziz menjadi khalifah dan mengirim pesan berikut ini kepada warga  Madinah… (Catatan kaki: Ahmad bin Ali Ibn Hajar al-Asqalani, <em>Fath al-Bari be Syarh Shahih al-Bukhari</em>, Beirut: Dar al-Ihya at-Turats al-Arabi, ed. Ke-4, 1408 (1988)).<br />
<strong><br />
Salah paham<br />
</strong>Cara  kelompok Syiah dalam mengkritik Abu Bakar dan Umar bin Khatab dalam  soal pembakaran hadits Nabi itu tentu saja tidak fair dan tidak sesuai  dengan fakta. Masalah pencatatan hadits di kalangan sahabat Nabi juga  sudah dibahas dengan sangat mendalam oleh Dr. M. Musthafa al-A’zhami  dalam bukunya, “<em>Studies in Early Hadits Literature</em>” (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2000). Dalam buku yang merupakan disertasi doktornya di <em>Cambridge University</em> ini, al-A’zhami menunjukkan data adanya 50 sahabat Nabi yang melakukan  pencatatan hadits. Termasuk Abu Bakar dan Umar bin Khathab r.a. Berita  tentang Abu Bakar yang membakar kumpulan haditsnya diragukan  keabsahannya oleh adh-Dhahabi. Bukti lain yang meragukan riwayat  pembakaran hadits tersebut adalah bahwasanya, Abu Bakar sendiri mengirim  surat kepada ‘Amr bin al-Ash, yang memuat sejumlah ucapan Rasulullah  saw.  Surat senada yang mengandung hadits Nabi juga dikirim Abu Bakar  kepada Gubernur Anas bin Malik di Bahrain.</p>
<p>Riwayat tentang kasus  pembakaran hadits oleh Umar bin Khathab juga diragukan kebenarannya.  Al-A’zhami menelusuri tiga jalur riwayat berita tersebut, dan dia  menemukan, semuanya <em>mursal.</em> Artinya, rangkaian cerita itu  terputus, tidak sampai pada Umar bin Khathab. Juga, faktanya, Umar bin  Khathab mengirimkan Ibn Mas’ud dan Abu Darda’ sebagai guru ke Kufah,  padahal keduanya dilaporkan memiliki catatan hadits  sebanyak 848 dan  280 buah. Umar sendiri juga terbiasa mengutip hadits-hadits Nabi  dalam  surat-surat resminya sebagai kepala negara. (hal. 34-60).</p>
<p>Jadi,  tuduhan kelompok Syiah akan kejahatan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin  Khathab r.a. yang – katanya – menghalang-halangi pencatatan hadits Nabi  perlu dijernihkan. Tuduhan semacam itu sangatlah tidak bersahabat dan  membangun perdamaian.</p>
<p>Tahun 2009, sebuah kelompok penyebar Syiah di Indonesia  menerbitkan sebuah buku berjudul “<em>40 Masalah Syiah</em>”.   Buku ini ditulis dengan tujuan untuk: “tumbuhnya saling pengertian di  antara mazhab-mazhab dalam Islam.”  Itu tujuan yang tertulis dalam  sampul belakangnya. Tetapi, jika disimak isi bukunya, buku ini justru  mengejek dan melecehkan kaum Muslim Indonesia yang Sunni.</p>
<p>Betapa  tidak!  Lagi-lagi, buku semacam ini juga tak bisa lepas dari caci maki  terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman bin Affan. Padahal kaum Muslim  sangat menghormati Ali r.a. dan Ahlulbait. Fakta sejarahnya, Ali bin Abi  Thalib pun tidak mencerca Abu Bakar, Umar, Utsman, juga Aisyah r.a.   Dalam bab berjudul <em>“Syiah Melaknat Sahabat”</em> disebutkan, bahwa  Syiah tidak melaknat siapa pun kecuali yang dilaknat Allah dan  Rasul-Nya. Salah satu cara menggambarkan buruknya perilaku Utsman bin  Affan adalah penghormatannya kepada al- Hakam bin abi al-ash. Padahal,  orang ini sudah dilaknat Rasulullah saw. “Ketika Utsman menjadi  khalifah, ia menyambutnya dengan segala kemuliaan dan kehormatan. Utsman  memberinya hadiah 1000 dirham dan mengangkat anaknya sebagai orang  kepercayaannya.” (hal. 89).</p>
<p>Buku ini pun memaparkan bid’ah-bid’ah – versi Syiah &#8212; yang dibuat oleh Abu Bakar r.a. seperti: Menghapus hak <em>“muallafatu qulubuhum</em>”  dan melarang penulisan hadits dan membakarnya. Sedangkan bid’ah-bid’ah  yang dibuat oleh Umar bin Khathab antara lain: Menentang Rasulullah saw  untuk menuliskan wasiatnya dan melarang nikah mut’ah. (hal. 235).</p>
<p>Sebagaimana  dalam kasus pencatatan hadits, tuduhan-tuduhan kelompok Syiah terhadap  Utsman bin Affan juga sangat berlebihan. Kadangkala fakta ditafsirkan  lain, sehingga seolah-olah, Abu Bakar, Umar, dan Utsman r.a. telah  melakukan  persekongkolan jahat melawan Nabi. Ibnul Arabi, dalam  Kitabnya,<em> al-Awashim wal-Qawashim</em>,  menjelaskan, kasus al-Hakam  terkait dengan kesaksian Utsman r,a., bahwa Rasulullah saw telah  memberikan izin kepada al-Hakam untuk kembali ke Madinah. Tetapi, Abu  Bakar dan Umar tidak menerima saksi lain selain dari Utsman bin Affan,  sehingga permintaan Utsman ditolak. Tetapi tidak diberitakan, saat  menjadi Khalifah, Utsman menyambutnya dengan segala kemuliaan. Mengutip  Ibn Taymiyah dalam Minhaj al-Sunnah,  Dr. Muhammad al-Ghabban  menjelaskan melalui bukunya, <em>Kitab Fitnah Maqtal Utsman</em>,  bahwa semua riwayat tentang pengusiran Hakam adalah mursal, jadi sanadnya lemah.</p>
<p><strong>Jalan Damai<br />
</strong>Mungkin,  karena kebencian terhadap Abu Bhakar, Umar, dan Utsman, maka kelompok  Syiah – termasuk di Indonesia – tidak dapat menyembunyikan pikirannya  untuk mencerca para sahabat Nabi yang mulia tersebut.  Itulah fakta  ajaran Syiah yang disebarkan di Indonesia melalui berbagai penerbitan  mereka.  Jika manusia-manusia yang begitu mulia dan dihormati oleh kaum  Muslim – seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin  Affan, dan Aisyah r.a. &#8212; dicerca dan diperhinakan oleh kaum Syiah,  apakah umat Islam bisa terima?</p>
<p>Itu tentu berbeda dengan Muslim  Sunni yang menghormati semua sahabat Nabi saw. Ulama dan tokoh sufi  terkemuka, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, dalam kitabnya, <em>al-Ghunyah Lithaalibi Thariqil Haq</em>,  menguraikan kesesatan ajaran Syiah dan memberikan penjelasan terhadap  keabsahan kepemimpinan Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab,  Utsman  bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.  Mereka semua adalah pemimpin yang  mulia yang dikaruniai petunjuk Allah SWT <em>(al-khulafa al-rasyidun)</em>.  (Lihat, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, <em>Buku Pintar Akidah Ahlusunnah Waljamaah (Terj.)</em>, (Jakarta: Zaman, 2011).</p>
<p>Kaum  Muslim sangat mencintai Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya yang  mulia. Tidak sepatutnya, ada orang yang menyimpan dendam abadi kepada  manusia-manusia terbaik  yang dididik oleh Rasulullah sendiri. Bahkan,  Abu Bakar, Umar bin Khathab adalah mertua Rasulullah saw. Sementara  Utsman bin Affan adalah menantu Rasulullah saw.  Kaum Muslim yang masih  memiliki kesadaran keimanan, tentu tidak ridha jika para sahabat Nabi  yang mulia itu difitnah dan dicaci-maki.</p>
<p>Jika kaum Syiah mengakui  Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya mereka menghormati  Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah Indonesia menjadi Sunni.  Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa berdampak buruk bagi masa depan  negeri Muslim ini. Masih banyak lahan dakwah di muka bumi ini – jika  hendak di-Syiahkan.  Itulah jalan damai untuk  Muslim Sunni dan kelompok  Syiah.</p>
<p>Kecuali, jika kaum Syiah melihat Muslim Sunni adalah aliran sesat yang wajib di-Syiahkan! <em>Walahu a’lambil-shawab.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://insistnet.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=299%3Asolusi-damai-muslim-sunni-syiah&#038;catid=1%3Aadian-husaini&#038;Itemid=15</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/solusi-damai-muslim-sunni-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengurai Teori Batas Syahrur</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/mengurai-teori-batas-syahrur/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/mengurai-teori-batas-syahrur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 14:58:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2198</guid>
		<description><![CDATA[Mengurai Teori Batas Syahrur &#160; Muhamad Syahrur, seorang pemikir kelahiran Damaskus 1938 ini dikenal melalui &#8220;teori batas&#8221;nya dalam masalah aurat, waris, dsb. Beberapa karyanya, seperti Al-Kitab wa al-Qur’an (1990), Al-Dawlah wa al-Mujtama’ (1994, 375 hal), Al-Islam wa al-Iman (1996, 400 hal), Nahwa Ushul Jadidah lil Fiqhil-Islami (2000, 400 hal), serta Tajfif Manabi’ al-Irhab (2008, 300 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Mengurai Teori Batas Syahrur</h1>
<p>&nbsp;</p>
<p>Muhamad Syahrur, seorang pemikir kelahiran Damaskus 1938 ini  dikenal melalui &#8220;teori batas&#8221;nya dalam masalah aurat, waris, dsb.  Beberapa karyanya, seperti <em>Al-Kitab wa al-Qur’an</em> (1990), <em>Al-Dawlah wa al-Mujtama’</em> (1994, 375 hal), <em>Al-Islam wa al-Iman</em> (1996, 400 hal), <em>Nahwa Ushul Jadidah lil Fiqhil-Islami </em>(2000, 400 hal), serta <em>Tajfif Manabi’ al-Irhab</em> (2008, 300 hal) sangat dikagumi kalangan liberal cabang Indonesia.  Bahkan beberapa karyanya telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia  sebagai rujukan utama agenda liberalisasi studi Islam di Indonesia.</p>
<p>Syahrur  sebenarnya bukanlah seorang ulama maupun pakar di bidang ilmu tafsir,  fiqih maupun linguistik. Latar belakang studi tokoh liberal Syiria ini  adalah teknik sipil (<em>handasah madaniyah</em>) di Moskow (1964). Kemudian melanjutkan program master dan doktoralnya di bidang teknik pertanahan (<em>handasah al-turbah</em>)  dan bangunan di Irlandia (www.shahrour.org). Meskipun begitu, Syahrur  sering melibatkan dirinya dalam isu-isu liberalisasi syari&#8217;ah dan  dekonstruksi tafsir. Beberapa hukum Islam dan kaedah ilmu tafsir pun  dirombaknya dengan berbekal ilmu teknik dan mengandalkan asal-usul  &#8216;muka&#8217; Arabnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Batasan Aurat</strong></p>
<p>Kata aurat pada QS. 24:31. &#8220;<em>Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…</em>&#8220;,  oleh Syahrur disimpulkan bahwa aurat di situ berarti: &#8220;apa yang membuat  seseorang malu jika terlihat&#8221;. Dan aurat itu tidak ada kaitannya dengan  halal-haram, baik dilihat dari dekat maupun dari jauh. Maka secara  kebahasaan, aurat itu relatif. Kemudian Syahrur memberi contoh: &#8220;Apabila  seorang yang botak (<em>ashla&#8217;</em>) tidak suka botaknya terlihat orang  lain, dia akan memakai rambut palsu. Sebab dia menganggap bahwa botak  di kepalanya adalah aurat&#8221;. Relatifnya makna aurat ini, dia kuatkan  dengan mengutip Hadith Nabi: &#8220;Barang siapa menutupi <em>aurat</em> mukmin, niscaya Allah akan menutupi auratnya&#8221;. Menurutnya, bahwa  menutupi aurat mukmin dalam hadith itu, bukan berarti meletakkan baju  hingga tidak kelihatan.</p>
<p>Maka  Syahrur pun menegaskan bahwa: &#8220;Aurat itu datang dari rasa malu, yakni  ketidaksukaan seseorang dalam menampakkan sesuatu, baik dari tubuhnya  maupun perilakunya. Dan rasa malu ini relatif, bisa berubah sesuai dengan adat istiadat. Maka dada (<em>al-juyub</em>) adalah permanen, sedangkan aurat berubah-ubah menurut zaman dan tempat&#8221;. (<em>Nahwa Ushul Jadidah lil Fiqhil Islami</em>, 2000: 370)</p>
<p>Di samping itu, QS. Al-Ahzab:59, <em>Hai  Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan  isteri-isteri orang mukmin: &#8220;Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke  seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk  dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu</em>&#8220;,<em> </em>ditafsirkan Syahrur sebagai berikut: &#8220;Ayat ini didahului dengan lafadz &#8216;Hai Nabi&#8217; (<em>ya ayyuhan nabi</em>), yang berarti bahwa di satu sisi, ayat ini adalah ayat pengajaran (<em>ta&#8217;lim</em>) dan bukan untuk pemberlakuan syariat (<em>tasyri&#8217;</em>). Di sisi lain, ayat yang turun di Madinah ini harus dipahami dengan pemahaman temporal (<em>fahman marhaliyyan</em>),  karena terkait dengan tujuan keamanan dari gangguan orang-orang iseng,  yakni ketika para wanita sedang keluar rumah. Namun alasan keamanan dari  gangguan orang-orang iseng, sekarang ini sudah tidak ada lagi&#8221;. Karena  ayat di atas adalah ayat pengajaran yang bersifat anjuran, maka menurut  Syahrur, hendaknya bagi wanita mukminah, -dianjurkan bukan diwajibkan-,  untuk menutup bagian-bagian tubuhnya yang bila terlihat menyebabkannya  dapat gangguan. Dan gangguan itu ada dua jenis: gangguan alam dan  gangguan sosial.</p>
<p>Gangguan  alam terkait dengan cuaca seperti suhu panas dan dingin. Maka wanita  mukminah hendaknya berpakaian menurut standar cuaca, sehingga ia  terhindar dari gangguan alam. Sedangkan gangguan sosial terkait dengan  adat istiadat suatu masyarakat. Maka pakaian mukminah untuk keluar rumah  harus menyesuaikan kondisi lingkungan masyarakat, sehingga tidak  mengundang cemoohan dan gangguan mereka. (hal. 372-373) Pada akhirnya  Syahrur menyimpulkan bahwa batasan pakaian wanita dibagi dua: batasan  maksimal (<em>al-hadd al-a&#8217;la</em>) yang ditetapkan Rasulullah yang meliputi seluruh anggota tubuh selain wajah dan dua telapak tangan. Batasan minimal (<em>al-hadd al-adna</em>) yaitu batasan yang ditetapkan oleh Allah s.w.t., yang hanya menutup <em>juyub</em>.</p>
<p>Menurut Syahrur, <em>juyub</em> tidak hanya dada saja, tapi meliputi belahan dada, bagian tubuh di  bawah ketiak, kemaluan dan pantat. Sedangkan semua anggota tubuh selain <em>juyub</em>, boleh diperlihatkan sesuai dengan kultur masyarakat setempat, termasuk pusar (<em>surrah</em>).  Penutup kepala untuk laki-laki dan perempuan hanyalah kultur, tidak ada  hubungannya dengan iman dan Islam. (hal. 376-378). Sebagai kesimpulan  idenya, Syahrur memandang adanya kesalahan fatal yang jamak terjadi di  kalangan ulama Fiqih, karena mendudukkan Hadith Rasulullah s.a.w bahwa  semua anggota tubuh, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, sebagai  batasan aurat wanita.</p>
<p>Maka  dengan menggunakan teori batas Syahrur, apa yang disebut aurat bagi  wanita menjadi sangat fleksibel. Batasan minimal yang ditetapkan  Syahrur, akan mendorong wanita muslimah berbondong-bondong terjun ke  dunia hiburan yang permisif. Mereka pun tidak ragu lagi untuk berbikini  di pantai-pantai maupun di pusat perbelanjaan. Sebab pakaian bikini  bukan lagi hal yang terlarang dalam Islam, karena semuanya tergantung  pada kondisi cuaca dan kesepakatan masyarakat setempat. Jika minoritas  masyarakat ada yang mengusili wanita, maka negara bisa menugaskan polisi  &#8216;aurat&#8217; untuk memastikan bahwa kebebasan kaum wanita berekspresi di  ruang publik terlindungi dengan baik.</p>
<p>Sayangnya,  oleh banyak penggiat kesetaraan gender di tanah air, ide transnasional  yang menyesatkan ini dijadikan justifikasi untuk mengkampanyekan slogan  feminisme Barat bahwa organ tubuh perempuan adalah hak mutlak perempuan,  ia tidak boleh dikuasai surat atau diatur oleh undang-undang, termasuk  masalah aborsi. Demikianlah jika logika kemarahan menguasai paham  radikalisasi pemikiran keagamaan. Meskipun sering disuarakan di  forum-forum akademis, paham liberal radikal sejatinya bukanlah murni  diskursus intelektual, tetapi sebuah gerakan politis, makar dan aksi  teror terhadap paham keagamaan yang bersifat final dan universal. <em>Wallahu muwaffaq ila aqwam al-thariq</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: Henri Shalahuddin</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://insistnet.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=120:mengurai-teori-batas-syahrur&#038;catid=17:pemikiran-liberal&#038;Itemid=15</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/mengurai-teori-batas-syahrur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SHALAT DAPAT MENINGGALKAN PERBUATAN KEJI DAN MUNKAR</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/shalat-dapat-meninggalkan-kekejian-dan-kemungkaran/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/shalat-dapat-meninggalkan-kekejian-dan-kemungkaran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 02:28:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2192</guid>
		<description><![CDATA[SIAPAKAH YANG SHALATNYA DAPAT MENINGGALKAN KEKEJIAN DAN KEMUNGKARAN? &#160; السؤال: في القرآن الكريم نجد الآية الكريمة : ( إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ) العنكبوت/45، بينما أجد الكثير من المصلين من يملك أسوأ الأخلاق , نجده مرتشيا ، وحراميا، ولصا ، وكذابا ، وكل شيء من هذا القبيل , فاستغربت لهذا . أود منكم [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SIAPAKAH YANG SHALATNYA DAPAT MENINGGALKAN KEKEJIAN DAN KEMUNGKARAN?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>السؤال: في القرآن الكريم نجد الآية الكريمة : ( إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ  الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ) العنكبوت/45، بينما أجد الكثير من المصلين من  يملك أسوأ الأخلاق , نجده مرتشيا ، وحراميا، ولصا ، وكذابا ، وكل شيء من  هذا القبيل , فاستغربت لهذا .  أود منكم الإيضاح</p>
<p>Dalam Al-Qur’anul Karim Allahberfirman  ‘Sesungguhnya shalat itu dapat menahan dari perbuatan keji dan  kemungkaran’ (QS. Al-Ankabut: 45). Sementara saya dapatkan banyak  orang-orang yang shalat berakhlak buruk. Ada yang menyogok, mencuri,  membohong atau prilaku yang semacamnya. Saya merasakan keanehan dalam  hal ini. Saaya mohon kepada anda untuk dapat menjelaskannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jawabannya:</p>
<p>الحمد لله</p>
<p>لا  نجد داعيا لاستغرابك أخي السائل ، فالصلاة التي تنهى عن الفحشاء والمنكر هي الصلاة  الحقيقية التي يقبل صاحبها إليها بقلبه وروحه ونفسه ، يتذلل بها بين يدي الله ،  إظهارا للعبودية واعترافا بالفقر بين يديه ، وهو في ذلك راغب فيما عنده عز وجل ،  صادق التوبة والإنابة ، مخلص السريرة له سبحانه .</p>
<p>فمن  لم تقم في قلبه هذه المعاني حين يقف بين يدي الله للصلاة ، لم تثمر صلاته الثمار  الحقيقية المرجوة ، التي من أهمها التذكير بالله والنهي عن الفحشاء والمنكر ، ولم  يكتب له من أجرها إلا بقدر ما حققه من معانيها ومقاصدها .</p>
<p>يقول الله عز وجل فيها : ( اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ  الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ  اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ ) العنكبوت/45</p>
<p>وعن  أبي هريرة رضي الله عنه قال :</p>
<p>(  قَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! إِنَّ فُلَانَةَ &#8211; يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ  صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا &#8211; غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا  بِلِسَانِهَا ؟ قَالَ : هِيَ فِي النَّارِ .</p>
<p>قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! فَإِنَّ فُلَانَةَ &#8211; يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ  صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا &#8211; وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنْ  الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ قَالَ : هِيَ فِي الْجَنَّةِ )</p>
<p>رواه أحمد في &#8220;المسند&#8221; (2/440) وصححه المنذري في &#8220;الترغيب والترهيب&#8221; (3/321) ،  والشيخ الألباني في &#8220;السلسلة الصحيحة&#8221; (رقم/190)</p>
<p>قال  الإمام القرطبي رحمه الله :</p>
<p>&#8221;  في الآية تأويل ثالث ، وهو الذي ارتضاه المحققون ، وقال به المشيخة الصوفية ، وذكره  المفسرون ، فقيل المراد بـ ( أقم الصلاة ) : إدامتها ، والقيام بحدودها .</p>
<p>ثم  أخبر حكما منه بأن الصلاة تنهى صاحبها وممتثلها عن الفحشاء والمنكر ، وذلك لما فيها  من تلاوة القرآن المشتمل على الموعظة ، والصلاة تشغل كل بدن المصلي ، فإذا دخل  المصلي في محرابه ، وخشع ، وأخبت لربه ، وادكر أنه واقف بين يديه ، وأنه مطلع عليه  ويراه : صلحت لذلك نفسه ، وتذللت ، وخامرها ارتقاب الله تعالى ، وظهرت على جوارحه  هيبتها ، ولم يكد يفتر من ذلك حتى تظله صلاة أخرى يرجع بها إلى أفضل حالة .</p>
<p>فهذا معنى هذه الأخبار ؛ لأن صلاة المؤمن هكذا ينبغي أن تكون .</p>
<p>قلت  – أي القرطبي &#8211; : لا سيما وإن أشعر نفسه أن هذا ربما يكون آخر عمله ، وهذا أبلغ في  المقصود ، وأتم في المراد ، فإن الموت ليس له سن محدود ، ولا زمن مخصوص ، ولا مرض  معلوم ، وهذا مما لا خلاف فيه .</p>
<p>وروي عن بعض السلف أنه كان إذا قام إلى الصلاة ارتعد واصفر لونه ، فكُلم في ذلك  فقال : إني واقف بين يدي الله تعالى ، وحق لي هذا مع ملوك الدنيا ، فكيف مع ملك  الملوك ؟!</p>
<p>فهذه صلاة تنهى &#8211; ولا بد &#8211; عن الفحشاء والمنكر .</p>
<p>ومن  كانت صلاته دائرة حول الإجزاء ، لا خشوع فيها ، ولا تذكر ، ولا فضائل – كصلاتنا ،  وليتها تجزي &#8211; فتلك تترك صاحبها من منزلته حيث كان ، فإن كان على طريقة معاص تبعده  من الله تعالى : تركته الصلاة يتمادى على بعده ، وعلى هذا يخرج الحديث المروي عن  ابن مسعود وابن عباس والحسن والأعمش قولهم : ( من لم تنهه صلاته عن الفحشاء والمنكر  لم تزده من الله إلا بعدا ) &#8221; انتهى.</p>
<p>&#8221;  الجامع لأحكام القرآن &#8221; (13/348) .</p>
<p>والحديث المشار إليه في آخر كلامه : ضعفه الشيخ الألباني في السلسلة الضعيفة ، رقم  (2) .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله :</p>
<p>&#8221; الصلاة إذا أتى بها كما أمر نهته عن الفحشاء والمنكر ، وإذا لم تنهه : دل على  تضييعه لحقوقها وإن كان مطيعاً ، وقد قال تعالى : ( فخلف من بعدهم خلف أضاعوا  الصلاة ) مريم/59، وإضاعتها : التفريط في واجباتها وإن كان يصليها &#8221; انتهى.</p>
<p>&#8221;  مجموع الفتاوى &#8221; (22/6)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>وقال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله :</p>
<p>&#8221;  فإن قال قائل : كيف تكون الصلاة عوناً للإنسان ؟</p>
<p>فالجواب : تكون عوناً إذا أتى بها على وجه كامل ، وهي التي يكون فيها حضور القلب ،  والقيام بما يجب فيها .</p>
<p>أما  صلاة غالب الناس اليوم فهي صلاة جوارح لا صلاة قلب ؛ ولهذا تجد الإنسان من حين أن  يكبِّر ينفتح عليه أبواب واسعة عظيمة من الهواجس التي لا فائدة منها ؛ ولذلك من حين  أن يسلِّم تنجلي عنه وتذهب .</p>
<p>لكن  الصلاة الحقيقية التي يشعر الإنسان فيها أنه قائم بين يدي الله ، وأنها روضة فيها  من كل ثمرات العبادة : لا بد أن يَسلوَ بها عن كل همّ ؛ لأنه اتصل بالله عزّ وجلّ  الذي هو محبوبه ، وأحب شيء إليه ؛ ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم : ( جعلت قرة  عيني في الصلاة ).</p>
<p>أما  الإنسان الذي يصلي ليتسلى بها ، لكن قلبه مشغول بغيرها : فهذا لا تكون الصلاة عوناً  له ؛ لأنها صلاة ناقصة ؛ فيفوت من آثارها بقدر ما نقص فيها ، كما قال الله تعالى :  ( اتل ما أوحي إليك من الكتاب وأقم الصلاة إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر )  العنكبوت/45، وكثير من الناس يدخل في الصلاة ويخرج منها لا يجد أن قلبه تغير من حيث  الفحشاء والمنكر ، هو على ما هو عليه، ؛ لا لانَ قلبه لذكر ، ولا تحول إلى محبة  العبادة&#8221; انتهى.</p>
<p>&#8221;  تفسير سورة البقرة &#8221; ( 1 / 164 ، 165 ) .</p>
<p>وينظر : &#8221; اللقاء الشهري &#8221; ، للشيخ ابن عثيمين رحمه الله (1/سؤال رقم/17) .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ويقول الشيخ صالح الفوزان حفظه الله :</p>
<p>&#8221;  للصلاة الصحيحة تأثير في سلوك العبد وأعماله الأخرى ، قال تعالى : ( وَأَقِمِ  الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ  اللَّهِ أَكْبَرُ ) العنكبوت/45.</p>
<p>فالذي يصلي بحضور قلبه وخشوع واستحضار لعظمة الله ؛ هذا يخرج بصلاة مفيدة نافعة ،  تنهاه عن الفحشاء والمنكر ، ويحصل بها على الفلاح .</p>
<p>أما  الذي يصلي صلاة صورية ؛ من غير حضور قلب ، ومن غير خشوع ، قلبه في واد وجسمه في واد  آخر ؛ فهذا لا يحصل من صلاته على طائل &#8221; انتهى.</p>
<p>&#8221;  المنتقى من فتاوى الشيخ الفوزان &#8221; ( 3 / 53 ، 54 ) .</p>
<p>وينظر : فتاوى اللجنة الدائمة (26/86) .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>والله أعلم .</p>
<p>Alhamdulillah</p>
<p>Kami rasa anda, saudara penanya, tidak perlu      heran. Shalat yang dapat menahan dari perbuatan keji  dan munkar adalah      shalat yang benar. Dilaksanakan oleh pelakunya dengan hati, ruh dan jiwanya.      Menundukkan diri di hadapan Allah, menampakkan ubudiyah dan mengakui      kekurangan di hadapan-Nya. Kondisinya adalah mengharapkan apa yang ada      pada-Nya Azza Wajalla, jujur bertaubat dan kembali (kepadaNya) serta ikhlas      di hatinya hanya untukNya semata.  Barangsiapa yang hatinya tidak      melaksanakan hal tersebut ketika berdiri di hadapan Allah saat shalat, maka      shalatnya tidak akan berbuah seperti yang diharapkannya dimana yang      terpenting adalah mengingat Allah serta menahan dari (berbuat) keji dan      munkar. Pahala shalat sangat tergantung dengan  makna dan tujuan yang telah      direalisasikan dalam shalat.</p>
<p>Allah Azza Wajalla berfirman:</p>
<p>اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ      الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ      أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  (سورة العنكبوت:      45)</p>
<p>“Bacalah      apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah      shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji      dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar      (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang      kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45)</p>
<p>“Dari Abu Hurairah      radhiallahu’anhu berkata:</p>
<p>‘Seseorang bertanya, Wahai Rasulullah !      Seseungguhnya fulanah yang terkenal dengan disebutkan shalat, puasa dan      shodaqahnya dikenal pula suka menyakiti tetangganya dengan mulutnya?      (Rasulullah sallallahu’alaih wa sallam) bersabda: ‘Dia di dalam neraka.&#8217;      Lalu orang tersebut berkata lagi, &#8220;Wahai Rasulullah! seungguhnya fulanah      yang dikenal sedikti berpuasa, shodaqah dan shalat, namun dia bershadaqah      secuil dari keju dan tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya. (Beliau      sallallahu’alaihi wa sallam) bersabda: “Dia di surga.’</p>
<p>(HR. Ahmad di Musnad, 2/440. Dishahihkan oleh      Al-Munziri dalam kitab At-Targib wa At-Tarhib, 3/321. Dan syekh Al-Albany      dalam kitab As-Silsilah As-Shahihah, no.190)</p>
<p>Imam Al-Qurthuby rahimahullah berkata:</p>
<p>“Dalam ayat ada penafsiran yang ketiga, yang      disetujui oleh para peneliti, dan pendapat Syekh Sufi, disebutkan oleh para      ahli tafsir. Dikatakan maksud dengan ‘Aqimis sholah’ (tegakkan      shalat) adalah menjalankan dengan terus menerus dan menunaikan      batasan-batasannya.</p>
<p>Kemudian disebutkan latar belakang mengapa      shalat dikatakan dapat menahan pelakunya dari prilaku keji dan munkar. Hal      itu karena di dalamnya terdapat bacaan Al-Qur’an yang mengandung nasehat dan      karena shalat menyibukkan seluruh anggota badan. Jika seorang yang shalat      masuk ke tempat shalat di mihrabnya, lalu dengan khusyu dan tertunduk kepada      Tuhannya, dia teringat bahwa dirinya sedang  berdiri dihadapan-Nya dan bahwa      Dia memperhatikan serta melihatnya. Maka jiwanya akan baik, tunduk dan      senantiasa merasa diawasi oleh Allah. Maka seluruh tubuhnya akan melihat      kewibaan shalat. Hal  itu terus berlangsung sampai datang waktu shalat      berikutnya dan kembali dalam kondisi yang lebih baik lagi.</p>
<p>Ini maksud arti dari ayat tersebut, karena      shalat seorang mukmin seharusnya begitu.</p>
<p>Saya berkata –yakni Al-Qurthuby-  apalagi      kalau dirinya merasa ini adalah akhir dari amalannya. Dan ini yang lebih      mengena dalam maksud (shalat), lebih sempurna dari yang diinginkan. Karena      kematian tidak mempunyai umur tertentu, waktu khusus dan sakit diketahui.      Hal ini yang tidak ada perbedaannya.</p>
<p>Diriwayatkan dari sebagian ulama salaf,      ketika menunaikan shalat, dia gemetar dan berubah menjadi pucat pasi. Ketika      ditanyakan hal itu, beliau berkomentar: ‘Saya berdiri dihadapan Allah      Ta’ala, kalau saya dapat mengalami hal seperti ini di hadapan raja dunia,      bagaimana lagi kalau di hadapan Raja seluruh kerajaan.&#8217;  Tidak diragukan      lagi, shalat seperti inilah yang dapat menahan perbuatan kejia dan mungkar.</p>
<p>Barangsiapa yang shalatnya sebatas sahnya      saja, tidak khusu’, tidak mengingat dan tidak memenuhi  keutamaan-keutamaan      –seperti shalat kita-, maka dia akan ditinggalkan shalatnya dalam kondisinya      saat itu. Kalau jalan yang dia tempuh adalah kemaksiatan yang menjauhkan      dari Allah Ta’ala, maka shalatnya meninggalkannya semakin jauh. Inilah      penafsiran hadits yang diriwayatkan olah Ibnu Abbas, Hasan dan Al-Akmasy      dengan ungkapan “Barangsiapa shalatnya tidak mampu menahannya dari perbuatan      keji dan munkar. Maka tidak bertambah darinya kecuali semakin jauh kepada      Allah.”</p>
<p>Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, 13/348. Hadits      yang disebutkan terakhir tadi dilemahkan oleh Syekh Al-Albany dalam kitab      ‘As-Silsilah Ad-Dha&#8217;ifah, no. 2.</p>
<p>Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Jika      shalat dilakukan seperti yang diperintahkan, maka ia dapat mencegah      perbuatan keji dan mungkar. Kalau tidak dapat mencegah, maka hal itu      menunjukkan (bahwa shalatnya) telah lalai dalam menunaikan hak-haknya.</p>
<p>Allah Ta’ala telah berfirman, ‘Maka      datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat’      (QS. Maryam:  59)</p>
<p>Yang dimaksud      menyia-nyiakan adalah meremehkan kewajibannya meskipun dia menunaikan      (shalat). &#8221; Majmu Fatawa, 22/6.</p>
<p>Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:      “Kalau ada orang yang mengatakan, ‘Bagaimana shalat  menjadi penolong      seseorang?&#8217;</p>
<p>Maka jawabannya adalah akan menolong kalau      dia laksanakan dengan sesempurna mungkin. Yaitu dengan  menghadirkan hati      dan menunaikan apa yang seharusnya dilakukan (kewajiban). Sementara      kebanyakan shalat pada waktu sekarang, sekedar shalat gerakan tubuh bukan      shalat yang keluar dari hati. Oleh karena itu kita dapatkan, semenjak      seseorang bertakbir, maka dibukakan pintu yang luas sekali dari      lintasan-lintasan yang tidak ada faedahnya dan baru hilang ketika dia salam.      Akan tetapi shalat yang benar adalah bahwa seseorang merasakan berdiri di      hadapan Allah, bahwa ia seperti olah raga pada setiap hasil dari ibadah. Dan      ia merupakan hiburan saat galau, karena saat itu dia  berkomunikasi dengan      Allah Azza Wajalla yang dicintainya dan yang sangat dicintainya. Oleh karena      itu Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>جعلت قرة عيني في الصلاة</p>
<p>“Dan dijadikan shalat sebagai penyejuk      mataku.”</p>
<p>Sedangkan yang shalat untuk mendapatkan      hiburan, akan tetapi hatinya sibuk dengan lainnya, maka shalatnya tidak akan      menolong dirinya. Karena shalatnya kurang, maka dampaknya berkurang      sebanding dengan kekurangan yang ada pada (shalatnya).</p>
<p>Sebagaimana firman Allah Ta’ala, ‘Bacalah      apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah      shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji      dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)</p>
<p>Kebanyakan orang ketika      masuk dan keluar shalat, hatinya tidak berubah untuk mencegah perbuatan keji      dan munkar, tapi masih tetap pada kondisi semula. Hatinya tidak melunak      dengan zikir dan tidak berubah untuk cinta pada ibadah.’ Tafsir Surah      Al-Baqarah, 1/164, 165. Silahkan lihat ‘Al-Liqa As-Syahry karangan Syekh      Ibnu Utsaimin rahimahullah, 1/soal no. 17.</p>
<p>Syekh Shaleh Al-Fauzan      hafizahullah berkata:</p>
<p>“Shalat yang benar akan      berdampak pada prilaku seorang hamba dan amalan-amalan lainnya. Allah      berfirman ‘Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya      shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan munkar.”      (QS. Al-Ankabut: 45)</p>
<p>Orang yang shalat dengan      menghadirkan hati, khusyu dan menghadirkan keagungan Allah, akan keluar dari      shalatnya dengan mendapatkan faedah yang bermanfaat, menahan dari kekejian      dan kemunkaran serta mendapatkan kemenangan. Sedangkan orang yang shalatnya      asal-asalan tanpa menghadirkan hati, tanpa khusyu, hatinya di suatu tempat      dan jasadnya di tempat lain, maka shalatnya tidak mendapatkan keutamaan.’      (Al-Muntaqa Min Fatawa Syekh Al-Fauzan, 3/53, 54)</p>
<p>Silakan lihat Fatawa      Al-Lajnah Ad-Daimah, 26/86 .</p>
<p>Wallahu’alam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://islamqa.com/ar/ref/138805</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/shalat-dapat-meninggalkan-kekejian-dan-kemungkaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum donor darah</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/hukum-donor-darah-2/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/hukum-donor-darah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 01:45:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2188</guid>
		<description><![CDATA[السؤال : ما حكم نقل الدم ؟ Apa hukumnya donor darah? &#160; Jawabannya: الحمد لله أجاب الشيخ العلامة محمد بن إبراهيم آل الشيخ رحمه الله على سؤال بهذا الخصوص فقال : الجواب عن هذا السؤال يستدعي الكلام على ثلاثة أمور: الأول : من هو الشخص الذي يُنقل إليه الدم . الثاني : من هو الشخص [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>السؤال : ما حكم نقل الدم ؟</p>
<p>Apa hukumnya donor darah?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jawabannya:</p>
<div>الحمد لله<br />
أجاب الشيخ العلامة محمد بن إبراهيم آل الشيخ رحمه الله على سؤال بهذا الخصوص فقال :<br />
الجواب عن هذا السؤال يستدعي الكلام على ثلاثة أمور:<br />
الأول : من هو الشخص الذي يُنقل إليه الدم .<br />
الثاني : من هو الشخص الذي يُنقل منه الدم .<br />
الثالث : من هو الشخص الذي يعتمد على قوله في استدعاء نقل الدم .<br />
أما الأول : فهو الشخص الذي يُنقل إليه الدم وهو من توقفت حياته إذا كان مريضا أو جريحا على نقل الدم .<br />
الأصل في هذا قوله تعالى: ( إنما حرم عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما  أهل به لغير الله فمن اضطر غير باغ ولا عاد فلا إثم عليه) . وقال سبحانه في  آية أخرى: (فمن اضطر في مخمصة غير متجانف لإثم فإن الله غفور رحيم) . وقال  تعالى: (وقد فصل لكم ما حرم عليكم إلا ما ضطررتم إليه) .<br />
وجه الدلالة من هذه الآيات أنها أفادت أنه إذا توقف شفاء المريض أو الجريح  وإنقاذ حياته على نقل الدم إليه من ( شخص ) آخر بأن لا يوجد من ( الأغذية  والأدوية المباحة ) ما يقوم مقامه في شفائه وإنقاذ حياته جاز نقل الدم إليه  وهذا في الحقيقة من باب الغذاء لا من باب الدواء (واستعمال الغذاء المحرّم  عند الضرورة جائز كأكل الميتة للمضطر ) .<br />
أما الثاني : فالذي ينقل منه الدم هو الذي لا يترتب على نقله منه ضرر فاحش لعموم قوله صلى الله عليه وسلم : (لا ضرر ولا ضرار) .<br />
وأما الثالث : فهو أنّ الذي يُعتمد على قوله في استدعاء نقل الدم هو الطبيب  المسلم . وإذا تعذر فلا يظهر لنا مانع من الاعتماد على قول غير المسلم  يهوديا كان أو نصرانيا ( أو غيرهما ) إذا كان خبيرا بالطب ثقة عند الإنسان  والأصل في ذلك ما ثبت في الصحيح أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ استأجر رَجُلا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا وَهُوَ  عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ  والْخِرِّيتُ الْمَاهِرُ بِالْهِدَايَةِ  ومعرفة الطّرق . أخرجه البخاري 2104 . فتاوى الشيخ محمد بن إبراهيم .<br />
وفي الموضوع فتوى لهيئة كبار العلماء هذا نصّها :<br />
أولا: يجوز أن يتبرع الإنسان من دمه بما لا يضره عند الحاجة إلى ذلك لإسعاف من يحتاجه من المسلمين.<br />
الثاني : يجوز إنشاء بنك إسلامي لقبول ما يتبرع به الناس من دمائهم وحفظ  ذلك لإسعاف من يحتاج إليه من المسلمين على أن لا يأخذ البنك مقابلا ماليا  من المرضى وأولياء أمورهم عما يسعفهم به من الدماء ولا يتخذ ذلك وسيلة  تجارية للكسب المادي لما في ذلك من المصلحة العامة للمسلمين.</div>
<div>المرجع : كتاب الاضطرار إلى الأطعمة والأدوية المحرمة للطريقي ص 169</div>
<div>Alhamdulillah, Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Aali Syaikh rahimahullah      secara khusus menjawab pertanyaan di atas sebagai berikut:<br />
Ada tiga perkara yang harus dibicarakan untuk menjawab pertanyaan di atas:</div>
<div>
<p>Pertama: Siapakah orang yang menerima darah yang didonorkan itu?<br />
Kedua: Siapakah orang yang mendonorkan darahnya itu?<br />
Ketiga: Instruksi siapakah yang dipegang dalam pendonoran darah itu?</p>
<p>Masalah pertama: Yang boleh menerima darah yang didonorkan adalah      orang yang berada dalam keadaan kritis karena sakit ataupun terluka dan sangat      memerlukan tambahan darah. Dasarnya adalah firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p>Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi,      dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi      barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya      dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. (QS. 2:173)</p>
<p>Dalam ayat lain Allah berfirman:</p>
<p>Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,sesungguhnya      Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 5:3)</p>
<p>Dalam ayat lain Allah juga berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan sungguh telah dijelaskan kepadamu apa-apa yang diharamkan atasmu      kecuali yang terpaksa kamu memakannya.&#8221;</p>
<p>Bentuk pengambilan dalil dari ayat di atas bahwasanya jikalau keselamatan      jiwa pasien karena sakit atau luka sangat tergantung kepada darah yang didonorkan      oleh orang lain dan tidak ada zat makanan atau obat-obatan yang dapat menggantikannya      untuk menyelamatkan jiwanya maka dibolehkan mendonorkan darah kepadanya. Dan      hal itu dianggap sebagai pemberian zat makanan bagi si pasien bukan sebagai      pemberian obat. Dan memakan makanan yang haram dalam kondisi darurat boleh      hukumnya, seperti memakan bangkai bagi orang yang terpaksa memakannya.</p>
<p>Kedua: Boleh mendonorkan darah jika tidak menimbulkan bahaya dan      akibat buruk terhadap si pendonor darah, berdasarkan hadits Nabi Shalallahu      &#8216;Alaihi Wassalam :</p>
<p>&#8220;Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa dan tidak      boleh pula membahayakan orang lain.&#8221;</p>
<p>Ketiga: Instruksi yang dipegang dalam pendonoran darah itu adalah      instruksi seorang dokter muslim. Jika tidak ada, maka kelihatannya tidak ada      larangan mengikuti instruksi dokter non muslim, baik dokter itu Yahudi, Nasrani      ataupun selainnya. Dengan catatan ia adalah seorang yang ahli dalam bidang      kedokteran dan dipercaya banyak orang. Dasarnya adalah sebuah riwayat dalam      kitab Ash-Shahih bahwasanya Rasulullah menyewa seorang lelaki dari Bani Ad-Diel      sebagai khirrit sementara ia masih memeluk agama kaum kafir Quraisy. Khirrit      adalah penunjuk jalan (guide) yang mahir dan mengenal medan. (H.R Al-Bukhari      No:2104)<br />
Silakan lihat fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim.</p>
<p>Lembaga tertinggi Majelis Ulama juga mengeluarkan fatwa berkenaan dengan      masalah ini sebagai berikut:</p>
<p>Pertama: Boleh hukumnya mendonorkan darah selama tidak membahayakan      jiwanya dalam kondisi yang memang dibutuhkan untuk menolong kaum muslimin      yang benar-benar membutuhkannya.</p>
<p>Kedua: Boleh hukumnya mendirikan Bank donor darah Islami untuk menerima      orang-orang yang bersedia mendonorkan darahnya guna menolong kaum muslimin      yang membutuhkannya. Dan hendaknya bank tersebut tidak menerima imbalan harta      dari si sakit ataupun ahli waris dan walinya sebagai ganti darah yang di donorkan.      Dan tidak dibolehkan menjadikan hal itu sebagai lahan bisnis untuk mencari      keuntungan, karena hal itu berkaitan dengan kemaslahatan umum kaum muslimin.</p>
</div>
<div>Buku Al-Idhthirar Ilal Ath&#8217;imah Wal Adwiyah Al-Muharramah karangan Ath-Thariiqi hal 169.</div>
<div></div>
<div>http://islamqa.com/ar/ref/2320</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/hukum-donor-darah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hasil Penelitian: 20 Warga Yahudi Israel Masuk Islam Setiap Tahunnya</title>
		<link>http://ustadzridwan.com/hasil-penelitian-20-warga-yahudi-israel-masuk-islam-setiap-tahunnya/</link>
		<comments>http://ustadzridwan.com/hasil-penelitian-20-warga-yahudi-israel-masuk-islam-setiap-tahunnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 12:23:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhbaar]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzridwan.com/?p=2185</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Isaac Ritter &#8211; Profesor Pusat Studi Yerusalem &#8211; menyatakan bahwa setidaknya 20 warga Yahudi Israel memeluk Islam setiap tahunnya. &#8220;Semua Yahudi yang masuk Islam kebanyakan adalah wanita yang mengaku bahwa mereka masuk Islam untuk menikah dengan seorang pria Muslim,&#8221; Ritter mengatakan. Selasa, 27/12/2011 Menurut sebuah hasil penelitian yang diterbitkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Isaac Ritter &#8211; Profesor Pusat  Studi Yerusalem &#8211; menyatakan bahwa setidaknya 20 warga Yahudi Israel  memeluk Islam setiap tahunnya.</p>
<p>&#8220;Semua Yahudi yang masuk Islam kebanyakan adalah wanita yang mengaku  bahwa mereka masuk Islam untuk menikah dengan seorang pria Muslim,&#8221;  Ritter mengatakan.</p>
<p>Selasa, 27/12/2011</p>
<p>Menurut sebuah hasil penelitian yang diterbitkan oleh surat kabar  &#8220;Yediot Ahronot&#8221;, agama Islam dan dakwah Islam telah mulai menembus  jajaran orang-orang Yahudi, di mana pendakwah Islam di wilayah  pendudukan Israel berpenampilan ala Salafi, mendekati orang-orang Yahudi  dan mengundang mereka agar masuk Islam dengan menggunakan bahasa Ibrani  yang fasih, yang hal itu berkontribusi pada keberhasilan misi dakwah  mereka.</p>
<p>Surat kabar itu menunjukkan bahwa publikasi dari dakwah Islam di  kalangan orang Yahudi dipengaruhi oleh program-program Islam yang  disiarkan oleh saluran satelit di Timur Tengah, Eropa, forum dan  website.</p>
<p>Ritter sendiri menambahkan bahwa dakwah Islam terhadap orang Yahudi  Israel dalam bahasa Ibrani adalah yang pertama dari jenisnya lebih dari  30 tahun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.eramuslim.com/berita/dunia/hasil-penelitian-20-warga-yahudi-israel-masuk-islam-setiap-tahunnya.htm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzridwan.com/hasil-penelitian-20-warga-yahudi-israel-masuk-islam-setiap-tahunnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

