Home » Sejarah » Kisah Ulama » 103 Tahun Mohammad Natsir: Kekuatan Ruhani Al-Ghazali

103 Tahun Mohammad Natsir: Kekuatan Ruhani Al-Ghazali

Tanggal  17 Juli 2011 sejatinya tercatat sebagai salah satu Hari Bersejarah bagi bangsa Indonesia, dan umat Islam khususnya.   Seratus tiga tahun lalu, 17 Juli 1908, lahirlah di bumi pertiwi ini, seorang cendekiawan pejuang yang kemudian dikenal dengan nama Mohammad Natsir.  Di kemudian hari, tahun 2008, pemerintah RI menganugerahinya gelar “Pahlawan Nasional”.

Sudah begitu banyak karya ilmiah ditorehkan untuk mengenang kehidupan, perjuangan, dan pemikiran Mohammad Natsir. Namun, ada saja sisi-sisi kehidupan Natsir yang mengusik akal-pikiran untuk mencermatinya. Natsir tidak pernah duduk di bangku kuliah. Apalagi sampai jenjang S-3 atau bergelar professor.

Riwayat pendidikan formalnya diawali  tahun 1916-1923, saat ia  memasuki HIS (Hollands Inlandsche School) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung.
Menilik sejarah hidupnya, Natsir bisa dikatakan sebagai seorang yang haus ilmu.  Saat duduk di bangku AMS (setingkat SMA sekarang), Natsir terus mendalami agama, disamping belajar sungguh-sungguh di sekolah umum. Kegemarannya dalam membaca buku, mendorongnya menjadi anggota perpustakaan dengan bayaran tiga rupiah sebulan. Setiap buku baru yang datang, Natsir selalu mendapat kiriman dari perpustakaan. Ada tiga guru yang mempengaruhi alam pikirannya, yaitu pemimpin Persis A. Hassan, Haji Agus Salim, dan pendiri al-Irsyad Islamiyah Syech Akhmad Syoerkati.

 

Al-Ghazali

Kuatnya hasrat keilmuan Natsir dapat dilihat pada karya-karya tulisnya, sejak usia muda. Pada  tahun 1930-an, dalam usia sekitar 30 tahun, Natsir telah aktif menulis tentang berbagai persoalan keilmuan dan terlibat dalam perdebatan ilmiah. Melalui tulisan-tulisannya, ketika itu, tampak Natsir sudah membaca berbagai literatur tentang aqidah, sejarah, ilmu kalam, tasawuf, filsafat, syariah, perbandingan agama, dan sebagainya.  Hampir dalam setiap tulisannya, Natsir mampu meramu dengan baik, sumber-sumber dari kalangan Muslim maupun karya-karya orientalis Barat. Ambillah satu contoh sebuah artikel berjudul ”Muhammad al-Ghazali (450-505 H, 1058-1111)”, yang dimuat di majalah Pedoman Masyarakat, April 1937.  

Dalam artikel ini, Natsir memaparkan keagungan pemikiran dan kiprah al-Ghazali dibandingkan dengan prestasi ilmuwan-ilmuwan Barat. Kitab Maqashidul Falasifah-nya al-Ghazali, misalnya, sudah diterjemahkan oleh Dominicus Gundisalvus ke bahasa Latin pada abad ke-12 M. Di sini, Natsir juga menguraikan teori kausalitas al-Ghazali yang mendahului teori David Hume (1711-1776) tujuh ratus tahun sebelumnya. Natsir membantah bahwa David Hume lah sarjana pertama yang mengungkap teori kausalitas (causaliteitleer). Natsir tidak menolak jasa David Hume dalam soal ini. Tetapi, tulisnya, ”jangan dilupakan, bahwa 700 tahun sebelum David Hume, telah pernah seorang filosof Muslim di daerah Timur yang mengupas masalah ini dalam Kitabnya, Tahafutul Falasifah.”

Setelah mengupas sedikit teori kausalitas al-Ghazali, Natsir mengingatkan: ”Aneh! Hal ini rupanya tidak hendak diingat orang. Dan kalau kita ketahui bahwa seorang filosof Barat sebagai Immanuel Kant mengakui, bahwa David Hume-lah yang membukakan matanya, dapatlah kita mengira-ngirakan betapa besar kadarnya kekuatan ruhani Ghazali dibandingkan dengan filosof-filosof yang masyhur di Barat itu.”

Kemudian, secara khusus, Natsir memberi komentar terhadap pemikiran al-Ghazali:

”Kalau Imam Ghazali oleh karena ini tidak dinamakan seorang filosof-’aqli, maka itu tidak berarti bahwa akalnya kurang dipakai dibandingkan dengan filosof yang lain-lain. Tak kurang Al-Ghazali mengupas falsafah Socrates, Aristoteles dan memperbincangkan pelbagai masalah yang sulit-sulit dengan cara yang halus dan tajam sekali dalam kitabnya yang tersebut di atas. Tak kurang ia membentangkan ilmu mantik dan tak kurang pula menyusun ilmu-ilmu yang tahan uji dibandingkan dengan karangan-karangan filosof yang lain. Semua ini menunjukkan ketajaman akalnya dan memakai akal itu sebagai salah satu nikmat yang dikurniakan Allah kepada manusia. Tapi dalam pada itu ia tidak hendak lupa, bahwa akal ini pun dapat bekerja hanya sampai kepada suatu batas yang tak dapat dilampaui. Apabila filosof yang lain masih terus juga menurunkan akal itu ke mana-mana, di bawa oleh akal itu sendiri, walaupun sudah bukan medan pekerjaannya lagi, — serta menjadikan akal sebagai hakim yang menghabiskan dalam semua hal –, pada saat yang demikian itu Imam Ghazali tidak enggan berkata dengan khusyu’ ”wallahu a’lam!” – ”Allah yang lebih mengetahui!” – dan kembali kepada Kitab (Al-Quran), Yang tak syak lagi menjadi petunjuk bagu mereka yang takwa.”

Melalui artikel yang pendek tersebut, Natsir menguraikan jasa-jasa besar al-Ghazali bagi  umat Islam, disamping juga kontroversi terhadap pemikirannya dan apresiasi para ilmuwan Barat terhadapnya. Terhadap kontroversi terhadap pemikiran al-Ghazali, Natsir menulis, bahwa itu:”… ialah suatu hal yang galib diterima oleh setiap orang yang berjalan di muka bumi merintis jalan baru, yang mendengarkan suara keyakinan yang teguh yang berbisik di dalam hati, dan tidak hendak turut-turut ke hilir ke udik, seperti pucuk aru dihembus angin.”

Penguasaan Natsir terhadap pemikiran-pemikiran para pemikir Muslim klasik bisa dilihat dalam berbagai artikelnya yang mengupas sosok dan pemikiran Ibnu Thufail, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Abu Nasr Al-Farabi, Ikhwan as-Shafa, juga kupasannya tentang aliran Mu’tazilah dan Ahli Sunnah. Melalui berbagai tulisannya yang mengupas keagungan sejarah peradaban dan pemikir Muslim, Natsir menyampaikan pesan yang jelas kepada kaum Muslim: ”Jangan merasa rendah diri melihat kehebatan peradaban Barat!” 

Berbagai tulisan Natsir menjelaskan, bahwa melalui para ilmuwan Muslim-lah, Barat mengenal pemikiran-pemikiran Yunani yang sebenarnya telah terkubur. Sebuah tulisan Natsir yang berjudul ”Jejak Islam dalam Kebudayaan” (Pandji Islam, tahun 1937),  menjelaskan bagaimana pengaruh  Ibn Haitham pada abad ke-11 terhadap tulisan Leonardo da Vinci, Johan Kepler, Roger Bacon, dan lain-lain.

Karena itu, Natsir mengajak umat Islam memahami warisan sejarah budayanya dengan benar. Ia mencontohkan, bagaimana ketelitian dan kecermatan kaum Muslimin dalam mengumpul, memilih dan menyaring hadits-hadits Nabi Muhammad saw. Lalu, berangkat dari ilmu dan keyakinannya akan kebenaran dan ketinggian ajaran Islam, Natsir menyerukan kepada kaum Muslimin: ”Agama manakah, falsafah mazhab apakah dan kebudayaan aliran manakah, yang telah mendidik pengikutnya kepada ruh intiqad yang sampai demikian tinggi tingkatnya? Dalam hal ini, sudah pada tempatnya bilamana kita kaum Muslimin menjawab dengan kontan dan tegas: Tak lain yang mendidik kami sampai demikian adalah Agama kami,  yakni Agama Fitrah, Agama yang cocok dan selaras dengan fitrah kejadian manusia!”.

 

http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=266:103-tahun-mohammad-natsir-kekuatan-ruhani-al-ghazali&catid=16:sosok&Itemid=14

 

Check Also

Akhlak al-Ulama karya al Aajurri

Seorang ulama tak akan tergiur dengan nafsu duniawi. Fokus yang ada dihadapannya hanyalah rasa takut …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *